Senin, 09 Agustus 2010

Skripsi Media

SKRIPSI MANFAAT MEDIA
DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN BAGI SISWA SEKOLAH DASAR
(Dosen Pembimbing: Ev. Timotius Sukarman, S.PAK, M.Th)


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Kurikulum pengajaran di Indonesia mengalami kemajuan tahap demi tahap yang pada awalnya pengajaran berfokus pada guru kemudian siswa mulai dilibatkan, pada prinsipnya menggunakan sistem CBSA ( Cara Belajar Siswa Aktif ), pada tahap ini pengajaran dititik beratkan pada siswa yang aktif, kemudian berkembang lagi pada penggunaaan dengan bermacam -macam metode pembelajaran misalnya : metode ceramah, metode diskusi, metode tanya jawab, metode kerja kelompok dan lain - lain.
Selanjutnya untuk mencapai hasil yang lebih baik bagi siswa, pendidik dalam hal ini guru dianjurkan atau diharapkan menggunakan media pembelajaran. Dengan media pembelajaran penerimaan siswa terhadap pengajaran lebih efektif, siswa lebih aktif, pengajaran lebih menarik.
Media pembelajaran adalah salah satu alat bantu mengajar bagi guru untuk meningkatkan kreatifitas dan perhatian siswa dalam proses pembelajaran. Dengan media siswa akan lebih termotivasi, imajinasi siswa dirangsang, perasaan disentuh dan kesan yang dalam diperoleh siswa.
Perhatian siswa terhadap materi pembelajaran meningkat sehingga dapat mempengaruhi hasil belajar siswa.1
Demikian juga dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen bagi siswa Sekolah Dasar. Media pembelajaran sangat berpengaruh dalam pencapaian tujuan pembelajaran, karena secara umum manfaat media pembelajaran dalam kegiatan mengajar antara lain; dapat menarik dan memperbesar perhatian siswa terhadap materi pengajaran yang disajikan, dapat mengatasi perbedaan pengalaman belajar berdasarkan latar belakang sosial ekonomi dan dapat membantu siswa dalam memberikan pengalaman belajarnya.
Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran. Pemanfaatan media seharusnya merupakan bagian yang harus mendapat perhatian guru sebagai fasilitator dalam setiap kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu tiap - tiap pendidik perlu mempelajari bagaimana menetapkan media pembelajaran agar dapat mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar. Pada kenyataannya media pembelajaran masih sering terabaikan dengan berbagai alasan diantaranya: terbatasnya waktu untuk membuat persiapan mengajar bagi guru sebagai pendidik, kesulitan untuk mencari model dan jenis media yang tepat, ketiadaan biaya dan lain - lain.
Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika setiap pendidik telah mempunyai pengetahuan, pemahaman tentang media dan ketrampilan mengenai media pembelajaran.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan memberikan peluang kepada tiap – tiap satuan pendidikan terutama pendidik yang dalam hal ini merupakan satu komponen yang langsung berperan dalam proses pembelajaran. Telah banyak perubahan paradigma dalam proses pendidikan khususnya proses pembelajaran. Proses pembelajaran menjadi lebih mementingkan peran peserta didik dan karakteristik sumber daya yang ada pada tiap – tiap satuan pendidikan. Pembelajaran berpusat pada siswa, oleh karenanya siswalah yang diharapkan dapat berperan aktif dalam mengeksplorasi dan menginterpretasikan pengetahuan dan permasalahan baru yang dibandingkan, dikombinasi, dan dianalisa dengan pengetahuan dasar yang telah dimiliki oleh peserta didik.
Penggunaan media pembelajaran dalam setiap proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen khususnya untuk Sekolah Dasar sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pembelajaran, yaitu tercapainya kompetensi siswa. Apalagi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) merupakan kurikulum operasional, yang disusun dan dilaksanakan oleh masing - masing satuan pendidikan. Penyusunan dan pengembangan kurikulum disesuaikan dengan keadaan pendidikan, kekhasan dan kondisi sosial budaya daerah setempat. 2 Untuk memenuhi tuntutan KTSP adalah dengan pembelajaran aktif kreatif dan menyenangkan. Salah satunya dengan menggunakan alat peraga sebagai media pembelajaran.



_________________________

2 Dien Sumiyatiningsih, Tuhan Penolongku 6 PAK , Referensi KTSP Dengan Kecerdasan Majemuk, ( Yogyakarta : CV ANdi Offset , 2007 ), hal. 9

Dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen, pemanfaatan media pembelajaran sebenarnya bukan hal yang baru. Pada masa Perjanjian Lama, umat Israel dalam pengajaran kepada Umat Allah sudah memakai media atau alat peraga, sekalipun masih dalam bentuk yang sangat sederhana. Seperti dalam Kitab Ulangan 11 : 18 - 21 “ Tetapi kamu harus menaruh perkataanku ini dalam hatimu dan dalam jiwamu ; kamu harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu….” yang selanjutnya juga menjadi perhatian orang - orang bijak.
Dalam Perjanjian Baru sebagai guru, Tuhan Yesus selalu mencari dan menemukan berbagai cara dalam mengajar serta dalam menghadapi berbagai situasi pendengar - Nya, yaitu dengan media atau alat peraga untuk menyampaikan pesan atau maksud pengajaran – Nya, sehingga lebih menarik dan dapat diterima dengan baik. Pengajaran - Nya menimbulkan kesan yang mendalam bagi pendengar - Nya. Mereka takjub dan mempunyai keinginan untuk belajar lebih dalam lagi, karena disamping Dia mengajar dengan berbagai metode dan media alat peraga. Tuhan Yesus juga mengajar dengan kuasa - Nya, seperti disaksikan oleh Matius dalam Injil Matius 7 : 28 – 29 ” Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaranNya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, ……”
Untuk mengetahui latar belakang sejarah pemanfaatan media pembelajaran marilah kita ikuti perkembangan konsep media pembelajaran yaitu bermula dengan lahirnya konsepsi pengajaran visual atau alat bantu visual sekitar tahun 1923. Yang dimaksud dengan alat bantu visual dalam konsepsi pengajaran visual ini adalah setiap gambar, model, benda atau alat yang dapat memberikan pengalaman visual yang nyata kepada pembelajar. Kemudian konsep pengajaran visual ini berkembang menjadi “audio visual instruction” atau “audio visual education” yaitu sekitar tahun 1940. Sekitar tahun 1945 timbul beberapa variasi nama seperti “audio visual materials”, “audio visual methods”, dan “audio visual devices”.
Inti dari kosepsi ini adalah digunakannya berbagai alat atau bahan oleh guru untuk memindahkan gagasan dan pengalaman pebelajar melalui mata dan telinga.3
Pemanfaatan konsepsi audio visual ini dapat dilihat dalam “Kerucut Pengalaman” dari Edgar Dale. Perkembangan besar berikutnya adalah munculnya gerakan yang disebut “audio visual communication” pada tahun 1950 an. Dengan diterapkannya konsep komunikasi dalam pembelajaran, penekanan tidak lagi diletakkan pada benda atau bahan yang berupa bahan audio visual untuk pembelajaran, tetapi dipusatkan pada keseluruhan proses komunikasi informasi atau pesan dari sumber ( guru, materi atau bahan ) kepada penerima ( pembelajar ). Gerakan komunikasi audio visual memberikan penekanan kepada proses komunikasi yang lengkap dengan menggunakan sistem pembelajaran yang utuh.4
______________________
3 Green L , Creatives Silde, ( Colorade : Libraries Unlimited, Inc Littleton, 1996 ), hal. 146
4 H.Asnawir, Media Pembelajaran, ( Jakarta : Delia Citra Utama 2002 ) hal 156
Berdasarkan hal - hal tersebut di atas, maka penyusun memilih judul skripsi ini : “STUDI TENTANG MANFAAT MEDIA PEMBELAJARAN BAGI SISWA SEKOLAH DASAR DALAM PENGAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN”
1.2 Alasan Pemilihan Judul
1.2.1. Media alat peraga dapat meningkatkan kreatifitas dan perhatian siswa Sekolah Dasar dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen, sebab media pembelajaran dapat merangsang imajinasi, pikiran, perasaan dan kemauan ( kehendak ) siswa sehingga termotivasi untuk belajar lebih giat lagi.
1.2.2. Manfaat Media pembelajaran dapat membantu tercapainya keberhasilan belajar, yaitu tercapainya kompetensi pada diri siswa, sebagaimana fokus dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) yang sudah dilaksanakan mulai tahun 2006 / 2007. Manfaat media pembelajaran dapat memotivasi siswa untuk lebih giat belajar. Jika motivasi belajar siswa dapat ditingkatkan, maka diharapkan prestasi belajar Pendidikan Agama Kristen juga akan meningkat.
1.3Definisi Istilah
Agar pembaca memahami dan menghindari adanya perbedaan penafsiran dalam istilah yang digunakan oleh penyusun dalam penelitian ini perlu disampaikan definisi istilah sebagai berikut :
1.3.1 Studi
Studi adalah penelitian ilmiah5
1.3.2 Manfaat
Manfaat adalah guna, faedah6
1.3.3 Media Pembelajaran
Media Pembelajaran adalah semua alat atau benda yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar, dengan maksud untuk menyampaikan pesan. Pada umumnya keberadaan media muncul karena keterbatasan kata – kata, waktu, ruang, dan ukuran. Ditambahkan juga bahwa media pembelajaran berfungsi sebagai sarana yang mampu menyampaikan pesan sekaligus mempermudah penerima pesan dalam memahami isi pesan.7
1.3.4 Siswa Sekolah Dasar
Siswa Sekolah Dasar adalah anak usia 6 – 12 tahun yang sudah memasuki masa sekolah.8
1.3.5 Pengajaran Pendidikan Agama Kristen
Pengajaran Pendidikan Agama Kristen yaitu pengajaran pokok – pokok iman Kristen berdasarkan Alkitab.9
_______________________

5 Kamus Besar Bahasa Indonesia, ( Jakarta : PT Gramedia, 2008 ), hal. 1342
6 Kamus Besar Bahasa Indonesia, ( Jakarta : PT Gramedia, 2008 ), hal. 873
7 Ruth Lautfer, Pedoman Pelayanan Anak, ( Malang : Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia, 1993 ), hal. 135
8 Kartini Kartono, Psikologi Anak, ( Bandung : PT Alumni, 1986 ), hal. 136
9 Dien Sumiyatiningsih,G.D, Mengajar Dengan Kreatif dan Menari ( Yogyakarta : Andi Offset, 2006 ), hal. 124
Jadi yang dimaksud dengan judul skripsi STUDI TENTANG MANFAAT MEDIA PEMBELAJARAN BAGI SISWA SEKOLAH DASAR DALAM PENGAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN adalah Penelitian Ilmiah tentang penggunaan melalui suatu alat, bahan ataupun berbagai macam komponen yang digunakan dalam kegiatan belajar untuk menyampaikan pesan dari pemberi pesan kepada penerima pesan menerima suatu konsep bagi siswa Sekolah Dasar dalam pengajaran pokok – pokok iman Kristen berdasarkan Alkitab.

1.4Perumusan masalah
Berdasarkan pada latar belakang di atas, untuk memudahkan pembahasan maka rumusan masalah adalah :
Apa saja manfaat media pembelajaran dalam pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Dasar ?

1.5Batasan masalah
Penyusun membatasi masalah penelitian mengenai media pembelajaran hanya pada media alat peraga untuk siswa tingkat Sekolah Dasar.

1.6Hipotesa
Manfaat Media pembelajaran alat peraga dapat memotivasi siswa Sekolah Dasar dalam belajar Pendidikan Agama Kristen sehingga perhatian siswa terhadap materi pelajaran dapat meningkat.
1.7Tujuan Penelitian
1.7.1. Untuk menjelaskan, arti, fungsi dan manfaat media alat peraga dalam pengajaran Pendidikan Agama Kristen bagi siswa Sekolah Dasar.
1.7.2.Untuk memberikan kontribusi bagi guru Pendidikan Agama
Kristen tingkat Sekolah Dasar dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen sehingga dalam setiap proses pembelajaran dapat memanfaatkan alat peraga sebagai salah satu media pembelajaran.

1.8Metode Penelitian
Dalam penyusunan skripsi ini penyusun menggunakan penelitian kepustakaan dengan memakai buku – buku pustaka sebagai sumber data.

1.9Sistimatika Penulisan
Supaya mudah memahami alur pikiran dalam penelitian ini penyusun akan menyajikan sistematika penulisan skripsi sebagai berikut :
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang Masalah
1.2Alasan Pemilihan Judul
1.3Definisi Istilah
1.4Perumusan Masalah
1.5Batasan Masalah
1.6Hipotesis
1.7Tujuan Penelitian
1.8Metodologi Penelitian
1.9Sistematika Penulisan

BAB 2 PEMAHAMAN TENTANG MEDIA PEMBELAJARAN DALAM PENGAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN
2.1 Arti Dan Hakekat Pendidikan Agama Kristen
2.1.1 Diskripsi Pendidikan Agama Kristen
2.1.2 Aspek Fungsional Pendidikan Agama Kristen
2.1.3 Aspek Filosofi Pendidikan agama Kristen
2.2 Media pembelajaran dalam Alkitab
2.2.1 Pengajaran Dengan Media Pembelajaran Dalam Pejanjian Lama
2.2.1.1 Pengajaran Nabi Yeremia Dengan Media
( Yeremia 18 : 1 – 6 )
2.2.1.2 Pengajaran Nabi Yeremia Dengan Media ( Yeremia 27 : 2 – 3 , 28 : 1 – 17 )
2.2.2 Pengajaran Dengan Media Pembelajaran Dalam Perjanjian Baru
2.2.2.1 Yesus menjelaskan hal kekuatiran dalam kitab Matius 6 : 2 – 28
2.2.2.2 Yesus mengajar sikap hati yang patuh dalam kitab Matius 18 : 2
2.2.2.3 Pengajaran Rasul Paulus di Atena ( Kisah Para Rasul 17 : 22 – 23 )

BAB 3 PEMAHAMAN TENTANG MEDIA PEMBELAJARAN
3.1 Pengertian Media Pembelajaran
3.2 Fungsi Media Pembelajaran
3.2.1 Media Pembelajaran Sebagai Alat Bantu Dalam Pengajaran
3.2.2 Media Pembelajaran Sebagai Sumber Belajar

3.3 Jenis - Jenis Media Pembelajaran
3.3.1 Alat Bantu Lihat ( Visual ) Yang Tidak Diproyeksikan
3.3.2 Alat Bantu Lihat ( Visual ) Yang Diproyeksikan
3.3.3 Alat Bantu Dengar ( Audio ) Yang Diproyeksikan
3.3.4 Alat Bantu Lihat Dengar ( Audio Visual ) Diproyeksikan

BAB 4 MANFAAT MEDIA PEMBELAJARAN DALAM PENGAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN BAGI SISWA SEKOLAH DASAR
4.1 Tugas Guru Pendidikan Agama Kristen Dalam Memanfaatkan Media Pembelajaran
4.1.1 Guru Harus Memperhatikan Perkembangan Siswa Secara Fisik, Mental Dan Spiritual Bagi Siswa Usia Sekolah Dasar
4.1.1.1 Perkembangan Pemikiran Siswa Secara Fisik, Mental Dan Spiritual Masa Usia 6 – 8 Tahun
4.1.1.2 Perkembangan Pemikiran Siswa Secara Fisik, Mental Dan Spiritual Masa Usia 9 – 11 Tahun
4.1.2 Guru Mampu Memilih Tujuan Pembelajaran Yang Akan Dicapai
4.1.2.1 Alat Peraga Yang Dipilih Harus Bisa Menolong Anak Mencapai Tujuan Pembelajaran
4.1.2.2 Alat Peraga Yang Dipilih Harus Tepat Bagi Golongan Usia Yang Diajar
4.1.2.3 Alat Peraga Yang Dipilih Sebaiknya Mudah Didapat Dan Terjangkau Secara Ekonomis
4.1.3 Guru Harus Memiliki Ketrampilan Menggunakan Media Pembelajaran Bagi Siswa Sekolah Dasar
4.1.4 Guru Harus Memiliki Ketrampilan Memilih Metode Yang Tepat Dalam Pengajaran
4.2 Manfaat Media Pembelajaran Dalam Proses Pengajaran
4.2.1 Penyampaian Materi Pembelajaran Dalam Pengamatan Dan Persepsi Siswa Dapat Diseragamkan
4.2.2 Efisiensi Dalam Waktu Dan Tenaga
4.2.3 Proses Pembelajaran Menjadi Lebih Interaktif Atau Menarik
4.2.4 Membantu Siswa Untuk Mempertahankan Konsentrasi
4.2.5 Mengubah Guru Kearah Yang Lebih Positif
4.2.6 Meningkatkan Kualitas Hasil Belajar Siswa

BAB 5 PENUTUP
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran

LAMPIRAN












BAB 2
PEMAHAMAN TENTANG PENGAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DENGAN MEDIA
Pengajaran dan Media Pembelajaran merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah kehidupan manusia. Secara sederhana, pengajaran dapat diartikan sebagai sebuah proses belajar mengajar yang memberikan dan menghasilkan pengetahuan dan keahlian. Sementara itu Samuel Sidjabat mengutip definisi dari Eksiklopedi Pendidikan mengatakan bahwa pendidikan dapat diartikan “semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuannya, pengalamannya, kecakapannya, serta ketrampilannya kepada generasi muda sebagai usaha menyiapkannya agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmaniah maupun rohaniah.1 Sedangkan proses pengajaran sendiri di dalamnya ada satu komponen penting yang tidak dapat ditinggalkan, yaitu media alat peraga untuk mencapai suatu tujuan dalam pengajaran.
Dengan pemahaman diatas, maka setiap orang pasti terlibat di dalam pengajaran baik itu formal maupun informal. Itulah sebabnya, Pengajaran Pendidikan Agama Kristen dengan Media Pembelajaran alat peraga untuk siswa Sekolah Dasar menjadi topik yang sangat penting untuk dibahas.
_________________________
1 Homrighausen, Pendidikan Agama Kristen, ( Jakarta : BPK Gunung Mulia , 2000 ) hal 8

Dalam bab ini sebelumnya membahas pandangan Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru mengenai pemahaman manfaat media pembelajaran alat peraga, dalam Pengajaran Pendidikan Agama Kristen, baiklah penyusun mengemukakan secara sepintas Arti dan Hakekat Pendidikan Agama Kristen.
Sementara mengenai Pendidikan Agama Kristen dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Penyusun juga merasa perlu membatasi pembahasan karena dalam pembahasan pengajaran Pendidikan Agama Kristen penyusun akan memfokuskan pada pandangan Alkitab ( Perjanjian Lama ) tentang pentingnya manfaat media alat peraga dalam proses pengajaran diantaranya dalam Perjanjian Baru yaitu pengajaran Tuhan Yesus kepada murid – muridNya yang banyak memanfaatan alat peraga sebagai media pengajaran - Nya.
2.1 Arti dan Hakekat Pendidikan Agama Kristen
Arti dan Hakekat Pendidikan Agama Kristen seperti yang dirumuskan dari hasil lokakarya Strategi Pendidikan Agama Kristen di Indonesia tahun 1999, yaitu “Usaha yang dilakukan secara terencana dan kontinu dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Tuhan Allah dalam Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari - hari, baik terhadap sesama maupun lingkungan hidupnya” Dengan demikian setiap orang yang terlibat dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen memiliki keterpanggilan untuk mewujudkan tanda - tanda Kerajaan Allah dalam kehidupan pribadi maupun sebagian dari komunitas.
Untuk melengkapi pemahaman Arti dan Hakekat Pendidikan Agama Kristen, baiklah kita simak apa yang disampaikan Warner C. Graedorf, sebagai berikut:
Pendidikan Agama Kristen adalah proses pengajaran dan pembelajaran yang berdasarkan Alkitab, berpusat pada Kristus, dan bergantung kepada Roh Kudus, yang membimbing setiap pribadi pada semua tingkat pertumbuhan melalui pengajaran masa kini ke arah pengenalan dan pengalaman rencana dan kehendak Allah melalui Kristus dalam setiap aspek kehidupan, dan melengkapi mereka bagi pelayanan yang efektif, yang berpusat pada Kristus sang Guru Agung dan perintah yang mendewasakan pada murid. 2
Dari definisi Warner, menurut Paulus Lilik Kristianto, dalam Buku Prinsip dan Praktik Pendidikan Agama Kristen, Penuntun bagi Mahasiswa Teologi dan PAK, Pelayanan Gereja, Guru Agama dan Keluarga Kristen, terdapat tiga aspek utama PAK, yakni :
2.1.1Diskripsi Pendidikan Agama Kristen
Pendidikan Agama Kristen merupakan proses pengajaran dan pembelajaran berdasarkan Alkitab, berpusatkan Kristus, dan bergantung pada kuasa Roh Kudus. Pembelajaran berarti pembangunan pribadi menuju kedewasaan sedangkan pengajaran berarti dorongan bagi pembelajaran yang efektif.
2.1.2Aspek fungsional Pendidikan Agama Kristen
PAK berusaha membimbing setiap pribadi ke semua tingkat pertumbuhan melalui pengajaran masa kini ke arah pengenalan dan
___________________
2 Warner C Graedorf, Prinsip dan Praktek PAK,( Yogyakarta : Andi Offset, 2006 ), hal. 4 – 5, disunting oleh Paulus Lilik Kristanto
pengalaman tentang rencana dan kehendak Allah melalui Kristus dalam setiap aspek kehidupan dan untuk memperlengkapi mereka bagi pelayanan efektif. Proses PAK ditujukan kepada setiap pribadi seperti pelayanan Kristus saat memilih Filipus ( Yohanes 1 : 43 ).
PAK berfungsi sebagai penyedia, pendorong, dan fasilitator dalam pembimbingan.
2.1.3Aspek Filosofi Pendidikan Agama Kristen
PAK merupakan proses pembelajaran dan pengajaran yang berpusatkan Kristus, sang Guru Agung dan perintah untuk mendewasakan para murid. Kesimpulannya PAK yang Alkitabiah harus mendasarkan diri pada Alkitab sebagai firman Allah dan menjadikan Kristus sebagai pusat beritanya dan harus bermuara pada hasilnya, yaitu mendewasakan murid. Seperti Firman Tuhan dalam Kolose 2 : 6 – 7 ” Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu telah didalam Dia. . . . . ” 3
2.2Media Pembelajaran Dalam Alkitab
Media pembelajaran pada kenyataannya tidak hanya dimanfatkan oleh pelajaran - pelajaran yang bersifat umum saja, namun pembelajaran dalam Alkitabpun juga memanfaatkannya.
2.2.1Pengajaran Dengan Media Pembelajaran Dalam Perjanjian Lama
___________________
3 Ibid, hal. 15
Pengajaran dengan media pembelajaran dalam Alkitab sebenarnya bukan hal yang baru, sebab pada masa Perjanjian Lama, saat para Nabi memberikan pengajaran kepada Bangsa Israel, sebenarnya dalam pengajarannya juga sudah memanfaatkan media pembelajaran meskipun masih sangat sederhana.
2.2.1.1 Pengajaran Nabi Yeremia Dengan Media (Yeremia 18 : 1 – 6)
Pemeliharaan, pemulihan Allah bagi bangsa Israel yang berbuat dosa ( Yeremia 18 : 1 – 6 ) dinyatakan Tuhan melalui Nabi Yeremia, yaitu melalui tukang periuk. “Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat ditangannya itu rusak, maka tukang periuk itu akan mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya”. Maka lebih lanjut untuk menjelaskan maksud dari media pembelajaran yang dipakainya : “ bejana ” yang telah pecah, Tuhan menyatakan melalui Nabi Yeremia: “Masakah Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel ; Sungguh seperti tanah liat ditangan tukang periuk, demikianlah kamu ditanganKu, hai kaum Israel. Allah menggunakan tanah liat dan tukang periuk sebagai suatu pelajaran peraga. Pelajaran peraga ini, masih berlaku sampai sekarang, Allah berharap agar manusia menyadari bahwa hidupnya adalah bagaikan tanah liat ditangan

Tuhan, sehingga mau membiarkan Tuhan membentuk hidupnya menurut kehendakNya.4
2.2.1.2 Pengajaran Nabi Yeremia dengan media Yeremia 27 : 2 – 3 28 : 1 – 17
Allah berfirman kepada Yeremia “ Buatlah tali pengikat dan gandar , lalu pasanglah itu pada tengkuk mu, ......“ Yeremia bertindak lagi waktu utusan – utusan Tirus dan kawan - kawannya datang ke Yerusalem ( Yeremia 27 : 3 ) – Gandar pada tengkuknya – Kepada rakyat ; yang tidak mau menundukkan tengkuknya di bawah gandar Raja Babel , akan dihukum oleh Tuhan ( Yeremia 27 : 2 : 11 ) – Kepada raja ; jangan mendengarkan nabi – nabi palsu, melainkan taklukkanlah dirimu kepada Babel ( Yeremia 27 : 12 – 25 ) – Kepada imam – imam ; jika kamu tidak mau mendengar, maka barang – barang perbendaharaan Bait Suci yang masih tinggal akan dibawa ke Babel ( Yeremia 27 : 16 – 22 ). Hananya, seorang nabi palsu , membantah nubuat Yeremia, dan gandar Yeremia dipatahkannya – Yeremia datang lagi dengan gandar besi (Yeremia 28 : 1 – 17). Nabi palsu Hananya meninggal karena tidak taat pada Allah.5
Allah menyuruh Yeremia untuk membuat gandar ( Yeremia 27 : 2 ) sebagai media alat peraga dalam pengajarannya kepada bangsa – bangsa yang datang ke Yerusalem hal ini dilakukan untuk menunjukkan pemberitahuan kehancuran bait suci dan
________________________

4 Chris Marantika , Kepercayaan Dan Kehidupan Kristen ( Yogyakarta : Sekolah Tinggi Theologia Injili Indonesia, 1996 ), hal. 218

5 N Titus , Sejarah Suci ( Jakarta : PT BPK Gunung Mulia, 1995 ) hal 221 – 222
penganiyaan nabi – nabi palsu. Nabi Hananya seorang nabi palsu yang di hukum Allah mati karena ketidaktaatannya kepada Allah.

2.2.2 Pengajaran Dengan Media Pembelajaran Dalam Perjanjian Baru
Dalam Kitab Perjanjian Baru, Tuhan Yesus sebagai Guru Agung, dalam setiap pengajaran - Nya juga sering memakai media atau alat peraga. Misalnya, Yesus menggunakan mata uang untuk mengajar tentang apa yang layak diberikan kepada Tuhan ( Matius 22 : 19 – 20 ) ; Dia memakai seorang anak kecil untuk mengajar tentang sikap hati yang patuh ( Matius 18 : 2 ) Dia juga menggunakan pohon ara untuk mengajarkan pelajaran tentang iman ( Matius 21 : 19 ), dan masih banyak lagi contoh Tuhan Yesus dalam memanfaatkan media alat peraga dalam pengajaran - Nya. Sebagai Guru, Tuhan Yesus selalu mencari dan menemukan berbagai cara dalam mengajar, serta dalam menghadapi berbagai situasi pendengar - Nya dengan media atau alat peraga untuk menyampaikan pesan atau maksud pengajaran - Nya, sehingga pengajaran - Nya lebih menarik dan dapat diterima dengan baik.
Pengajaran - Nya menimbulkan kesan yang mendalam bagi pendengar - Nya. Mereka takjub dan mempunyai keinginan untuk belajar lebih dalam lagi. Disamping Dia mengajar dengan berbagai metode dan media alat peraga, Tuhan Yesus juga mengajar dengan kuasa - Nya, seperti disaksikan oleh Matius dalam Injil Matius 7 : 28 -29” Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaranNya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa,..
Di dalam pengajarannya Yesus menggunakan media visual sehingga orang – orang mampu memahaminya dan mudah mengingatnya. Berikut adalah contoh pengajaran Yesus dengan media visual :
2.2.2.1 Yesus menjelaskan akan hal kekuatiran dalam Kitab Matius 6 : 2 – 28
Pada saat Yesus berkata : " Lihatlah burung di udara," perintah - Nya, dengan menunjuk burung - burung yang terbang di atas kepala dan juga pada saat Yesus berkata : " Perhatikanlah bunga - bunga bakung yang tumbuh di padang, " tambah - Nya untuk menekankan konsep yang sama, yaitu bahwa kecemasan adalah sia - sia karena manusia lebih berharga dari burung - burung di udara dan bunga bakung di padang yang kehidupannya terpelihara, apalagi manusia yang lebih berharga di mata Tuhan.
2.2.2.2 Yesus mengajarkan sikap hati yang patuh melalui alat peraga seorang anak kecil ( Matius 18 : 2 )
Yesus berkata : ” Sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, maka kamu tidak akan masuk ke dalam kerajaan surga.” Yesus menggunakan media anak kecil untuk menjelaskan kepada murid - muridNya sikap hati yang patuh yang dimiliki dalam pribadi seorang anak kecil, dengan media alat peraga anak kecil ini Tuhan ingin menjelaskan sikap hati yang patuh tidak ada kepura - puraan dan kemunafikan, seperti sifat apa yang dimiliki seorang anak kecil.
2.2.2.3 Pengajaran Rasul Paulus (Kisah Para Rasul 17 : 22 – 23)
Kemanapun Paulus pergi, dia selalu menggunakan kesempatan untuk mengajar. Baik kepada orang Yahudi, kaum kafir maupun orang Yunani. Paulus berkhotbah dihadapan imam - imam dan rabi - rabi Yahudi, dan dihadapan rakyat jelata. Disetiap kota dan desa yang dikunjunginya. Ia mengajar raja – raja, wali - wali negeri, orang cendekiawan dan kaum budak, orang laki – laki, kaum wanita, orang Asia, orang Yunani dan orang Romawi. Ia mengajar dari segala golongan manusia yang ditemuinya.6 Di dalam menyampaikan pengajarannya kepada orang – orang yang ditemuinya Rasul Paulus sering juga menggunakan alat peraga berupa benda visual dan alat peraga berupa anggota tubuh.
Paulus berhadap – hadapan dengan pengajaran Epikuros dan Stoa. Ia diminta menerangkan ajarannya, Ke Areopagus –
__________________

6 Dr. E. G. Homrighausen dan Dr. I. H. Enklaar , Pendidikan Agama Kristen ( Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1993 ), hal. 19

Khotbahnya Kis. 17 : 22 – 31.7
Dalam peristiwa tersebut Rasul Paulus mengunakan media dengan menunjuk barang - barang pujaan mereka yaitu patung. Hal ini dilakukan agar pengajarannya lebih jelas dipahami oleh mereka, yaitu orang - orang Atena yang saat itu bersamanya. Paulus yakin bahwa pengajarannya dapat menguatkan dan meneguhkan iman mereka.
Demikian sebagian kecil pengunaan media alat peraga dalam setiap proses pengajaran dalam Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, yang menjadi dasar Pengajaran melalui media alat peraga terhadap pengajaran pendidikan Agama Kristen sampai saat ini. Penggunaan alat peraga sebagai media pembelajaran sangat membantu pencapaian keberhasilan belajar, terutama dalam hal peningkatan minat dan perhatian siswa dalam mengikuti pelajaran Pendidikan Agama Kristen.






__________________

7 N Titus Sejarah Suci ( Jakarta : PT BPK Gunung Mulia, 1995 ), hal. 360



BAB 3
PEMAHAMAN TENTANG MEDIA PEMBELAJARAN

Media mengarah pada sesuatu yang mengantar / meneruskan informasi antara sumber / pemberi pesan dan penerima pesan. Media adalah segala bentuk alat atau model yang dapat digunakan dalam suatu proses penyajian informasi. Robert Heinich mengemukakan definisi media sebagai sesuatu yang membawa informasi antara sumber dan penerima informasi. Peran media dalam proses komunikasi adalah sebagai alat pengirim yang mentransmisikan pesan dari pengirim kepada penerima pesan atau informasi. Istilah media disini dilihat dari segi penggunaan, serta faedah dan fungsi khusus dalam kegiatan / proses belajar mengajar, maka yang digunakan adalah media pembelajaran.
Media pembelajaran adalah semua alat atau benda yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar, dengan maksud untuk menyampaikan pesan. Pada umumnya keberadaan media muncul karena keterbatasan kata - kata, waktu, ruang, dan ukuran. Ditambahkan juga bahwa media pembelajaran berfungsi sebagai sarana yang mampu menyampaikan pesan sekaligus mempermudah penerima pesan dalam memahami isi pesan.1
Dari beberapa diskripsi media pembelajaran di atas, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah suatu alat, bahan ataupun berbagai macam komponen yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar untuk
__________________________________
1 Ruth Lautfer, Pedoman Pelayanan Anak ( Malang : Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia, 1993 ), hal. 135

menyampaikan pesan dari pemberi pesan kepada penerima pesan untuk memudahkan penerima pesan  menerima suatu konsep.
Media pembelajaran yang paling dikenal bagi anak Sekolah Dasar sering disebut dengan istilah alat peraga. Media alat peraga dan benda sering disebut sebagai alat modern karena kesadaran mengenai pentingnya memakai media mengajar dalam pelayanan anak masih baru. Melalui pemakaian alat peraga dan benda imajinasi anak dirangsang, perasaannya disentuh dan kesan yang dalam diperoleh. Melalui media alat peraga anak akan belajar lebih bermangat dan dapat mengingat dengan lebih baik.2
3.1 Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa latin medio. Dalam bahasa Latin media dimaknai sebagai antara. Media merupakan bentuk jamak dari medium yang secara harfiah berarti pengantara atau pengantar. Secara khusus kata tersebut dapat diartikan sebagai alat komunikasi yang digunakan untuk membawa informasi dari satu sumber kepada penerima. Dikaitkan dengan pembelajaran media dimaknai sebagai alat komunikasi yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk membawa informasi berupa materi ajar dari pengajar kepada peserta didik sehingga peserta didik menjadi lebih tertarik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.
Melalui media alat peraga yang digunakan dalam mengajar panca indera dan seluruh kesanggupan seorang perlu dirangsang, digunakan dan
_____________________
2 J. Reginald Hill , Penuntun Sekolah Minggu, ( Jakarta : Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1993 ), hal. 180
dilibatkan sehingga ia tak hanya mengetahui, melainkan dapat memakai dan melakukan apa yang dipelajari. Panca indera yang paling umum dipakai dalam mengajar adalah mendengar. Melalui mendengar anak mengikuti peristiwa demi peristiwa dan ikut merasakan seolah – olah telinga mendapat mata.
Dari penelitian pakar pendidikan ( Kerucut Pembelajaran Dale ) terbukti bahwa kalau orang belajar hanya dengan membaca, maka yang diingat hanya 10%. Kalau hanya mendengarkan yang diingatkan 20%. Kalau mendengar dan melihat bisa mencapai 30%. Kalau anak didik terlibat dalam pembicaraan dan diskusi, maka yang diingat 50%. Kalau peserta didik mengungkapkan atau mempresentasikan yang diketahuinya akan diingat 70%. Kalau dia melakukan simulasi atau langsung mengerjakan akan diingat 90%. Maka pendidikan lewat pelatihan – pelatihan ( learn by doing ) memang sangat efektif.3

3.2 Fungsi Media Pembelajaran
Ada dua fungsi media utama media pembelajaran yang perlu kita ketahui. Fungsi pertama media adalah sebagai alat bantu pembelajaran, dan fungsi kedua adalah sebagai media sumber belajar.
Kedua fungsi utama tersebut dapat ditelaah dalam ulasan di bawah ini.
Diagram Cone of learning dari Edgar Dale yang secara jelas memberi penekanan terhadap pentingnya media dalam pendidikan. ( dalam terjemahan Bahasa Indonesia )

____________________
3 Jonse Belandia Non – Serrano, Pedoman Untuk Guru PAK SD – SMA Dalam Melaksanakan Kurikulum Baru, ( Bandung : Bina Media Informasi, 2006 ), hal. 23

Dari Diagram di atas secara umum media mempunyai kegunaan atau manfaat sebagai berikut:
Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis.
Mengatasi keterbatasan ruang, waktu tenaga dan daya indra.
Menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara murid dengan sumber belajar.
Memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori & kinestetiknya.
Memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman menimbulkan persepsi yang sama.4
3.2.1 Media pembelajaran sebagai alat bantu dalam pengajaran
Setiap materi ajar memiliki tingkat kesukaran yang bervariasi. Pada satu sisi ada materi ajar yang tidak memerlukan alat bantu, tetapi dilain pihak ada materi ajar yang sangat memerlukan alat bantu, yaitu berupa media pembelajaran. Media pembelajaran yang di maksud antara lain berupa globe, grafik, gambar, dan sebagainya. Materi ajar dengan tingkat kesukaran yang tinggi apabila dalam penyajiannya tidak dibantu dengan media pembelajaran, tentu sukar dicerna dan dipahami oleh siswa.
Itu berarti, kegiatan belajar siswa dengan bantuan media akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih baik daripada tanpa bantuan media.
3.2.2 Media Pembelajaran sebagai sumber belajar
Dalam pembahasan media sebagai sumber belajar ini, yang dimaksud sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat bahan pembelajaran peserta didik tersebut berasal.
Sumber belajar dapat dikelompokkan menjadi lima kategori yaitu manusia, buku perpustakaan, media massa, alam lingkungan, dan media pendidikan.
___________________
4 Jonse Belandia Non – Serrano, Pedoman Untuk Guru PAK SD – SMA Dalam Melaksanakan Kurikulum Baru, ( Bandung : Bina Media Informasi, 2006 ), hal. 22 – 23

Sedangkan ciri – ciri umum dari media pendidikan adalah sebagai berikut :
Media pendidikan identik artinya dengan pengertian keperagaan yang berasal dari kata ” raga ”, artinya suatu benda yang dapat diraba, dilihat, didengar dan yang dapat diamati melalui panca indera kita.
Tekanan utama terletak pada benda atau hal – hal yang bisa dilihat dan didengar.
Media pendidikan digunakan dalam rangka hubungan ( komunikasi ) dalam pengajaran, antara guru dan siswa.
Media pendidikan adalah semacam alat bantu belajar mengajar, baik dalam kelas maupun diluar kelas.5

3.3 Jenis – Jenis Media Pembelajaran
Media pembelajaran merupakan “ segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.”
Pemahaman terhadap karakteristik media pembelajaran merupakan kemampuan mendasar yang harus dimiliki oleh guru dalam kaitannya dengan keterampilan pemilihan dan penggunaan media pembelajaran.
__________________
5 Oemar Hamalik, Media Pendidikan, ( Bandung : Offset Alumni, 1982 ), hal. 22 – 23


Disamping itu, untuk memberikan kemungkinan kepada guru untuk menggunakan berbagai jenis media pembelajaran, maka guru dihadapkan kepada kesulitan dalam pemilihan dan penggunaan media pembelajaran.
Tiap – tiap media mempunyai karakteristik yang perlu dipahami oleh pemakainya. Dalam memilih media, orang perlu memperhatikan tiga hal, yaitu :
Kejelasan maksud dan tujuan pemilihan media tersebut
Sifat dan ciri – ciri media yang akan dipilih
Adanya sejumlah media yang dapat dibandingkan karena pemilihan media pada dasarnya adalah proses pengambilan keputusan akan adanya alternatif – alternatif pemecahan yang akan dituntut.
Secara umum media pembelajaran merupakan suatu hal yang digunakan untuk menyampaikan sesuatu pesan tertentu. Agar proses tranformasi pesan tersebut maka diperlukan kesesuaian jenis media yang akan digunakan. Beberapa klasifikasi mengenai media menurut beberapa ahli sangat beragam, hal ini dapat dilihat dari sudut pandang mana jenis – jenis media ini dikelompokkan :





3.3.1Alat bantu lihat ( visual yang tidak dapat diproyeksikan ) diantaranya :
Gambar
Gambar adalah suatu bentuk alat peraga yang nampaknya sering dipakai karena gambar disenangi oleh anak berbagai umur, diperoleh dalam keadaan siap pakai, dan tidak menyita waktu. Persiapan yang digunakan harus diketahui dulu cara pemakaiannya jika akan digunakan untuk mengulang cerita minggu lalu, gambar harus dipasang sebelum anak datang bila gambar akan digunakan pada saat bercerita, tempelkan gambar pada saat peritiwa yang dilukis dalam gambar disampaikan. Kalau gambar digunakan untuk memperdalam cerita, pasanglah di dinding sesudah bercerita, sehingga anak lebih memahami cerita yang disampaikan.
Peta
Agar murid – murid tahu baik tentang ilmu bumi dan sejarah Alkitab sebaiknya menggunakan alat bantu yang bermanfaat. Peta bisa menolong siswa untuk mempelajari bentuk dan letak negara – negara dan kota – kota yang disebutkan di dalam Alkitab. Satu hal yang harus diperhatikan, penggunaan peta sebagai alat peraga hanya cocok untuk Anak Besar / Kelas Besar. Cara pemakaiannya adalah peta dipasang pada dinding sebelum anak masuk ke kelas sehingga guru dengan bebas menunjukkan tempat yang disebut pada waktu menyampaikan cerita. Selain peta dapat ditempel pada dinding, peta juga dapat dilihat dalam Alkitab.
Papan Tulis
Peranan papan tulis tidak kalah pentingnya sebagai sarana mengajar. Papan tulis dapat diterima dimana – mana sebagai alat peraga yang sangat efektif tidak perlu menjadi seorang seniman untuk memakai papan tulis. Kita dapat menuliskan sebuah kalimat ataupun menggambar. Contohnya : membuat kalimat pendek, beberapa gambaran orang yang sangat sederhana sekali, sebuah lingkaran, atau empat persegi panjang dapat menggambarkan orang, kota atau kejadian. Yang perlu diperhatikan dalam memakai papan tulis adalah hindarkan detil yang terlalu banyak, jangan menghalangi pemandangan, bicaralah sambil menulis tapi jangan berbicara kepada papan tulis, dan pakailah bagan atau grafik bilamana mungkin.
Boks Pasir
Anak Kelas Kecil dan Kelas Tengah sangat menggemari peragaan yang menggunakan boks pasir. Boks pasir dapat dipakai untuk menciptakan ” peta ” bagi mereka khususnya bagi Kelas Tengah karena pada umur tersebut mereka sudah mengetahui jarak dari desa ke desa. Melalui boks pasir dapat dibentuk gunung dan lembah danau ( memakai kaca ), sungai yang mengalir ( dari kain atau kertas biru ), orang – orangan ( dibuat dari kertas manila ), pohon dan tumbuhan ( gunakan daun atau tumbuhan kecil ), sehingga anak dapat aktif dan kreatif.
Surat Kabar Dan Majalah
Surat kabar / koran bekas dapat dimanfaatkan untuk membuat berbagai macam bentuk kegiatan sebagai contoh ” topi ” , seperti topi bajak laut, topi koki, topi pesawat, topi minang, mahkota raja dan sebagainya. Selain itu dapat juga dibuat baju, jubah, sarung dan sebagainya. Topi dan baju dari koran ini dapat dikombinasikan dan digunakan saat anda ingin memerankan tokoh tertentu dalam cerita yang akan anda sampaikan, misalnya : Raja Herodes, Penggembala, Petani, Nabi, dan sebagainya menurut jalan ceritanya.
Gambar Flanel
Gambar Flanel adalah rangkaian gambar – gambar yang dapat dilekatkan pada sebidang papan atau kain flanel. Ketika menceritakan sebuah peristiwa, guru melakukannya sambil menempelkan gambar yang sesuai isi cerita, sehingga anak memahami cerita tersebut.7
Kelebihan : Biaya lebih murah, peralatan dapat digunakan disegala ruang, siswa menjadi lebih aktif dan kreatif.
Kekurangan : Banyak waktu yang diperlukan untuk persiapan, juga perlu kesediaan berkorban secara materil.
3.3.2Alat bantu lihat ( visual yang dapat diproyeksikan )
Transparansi OHP merupakan alat bantu mengajar tatap muka sejati, sebab tata letak ruang tetap seperti biasa, guru dapat bertatap muka dengan siswa ( tanpa harus membelakangi siswa ). Perangkat media transparansi meliputi perangkat lunak ( Overhead Transparancy / OHT ) dan perangkat keras ( Overhead Projector / OHP ). Teknik pembuatan media transparansi, yaitu : Mengambil dari bahan cetak dengan teknik tertentu, Membuat sendiri secara manual.
Film Bingkai / Slide adalah film transparan yang umumnya berukuran 35 mm dan diberi bingkai 2 X 2 inci. Dalam satu paket berisi beberapa film bingkai yang terpisah atau sama lain. Manfaat film bingkai hampir sama dengan transparansi OHP, hanya kualitas visual yang dihasilkan lebih bagus.
Sedangkan kelemahannya adalah biaya produksi dan peralatan lebih mahal serta kurang praktis. Untuk menyajikannya dibutuhkan proyektor slide.
____________________

7 J. Reginald Hill, Penuntun Sekolah Minggu, ( Jakarta : Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1993 ), hal. 69
3.3.3Alat Bantu Dengar ( Audio ) yang dapat diproyeksikan
Radio merupakan perlengkapan elektronik yang dapat digunakan untuk mendengarkan berita yang bagus dan aktual, dapat mengetahui beberapa kejadian dan peristiwa – peristiwa penting dan baru, masalah – masalah kehidupan dan sebagainya. Radio dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang cukup efektif.
Kaset Audio yang dibahas disini khusus kaset audio yang sering digunakan di Sekolah. Keuntungannya yaitu media ini merupakan media yang ekonomis karena biaya pengadaan dan perawatan murah.
Kelebihan : Menghemat suara, Suasana kelas dapat hening karena siswa butuh konsentrasi untuk mendengar.
Kekurangan : Biaya lebih mahal, hanya dapat digunakan dalam ruangan yang ada aliran listrik, siswa pasif.
3.3.4Alat Bantu Lihat Dengar ( Audio Visual ) yang dapat diproyeksikan
Media Video merupakan salah satu jenis media audio visual selain film. Yang banyak dikembangkan untuk keperluan pembelajaran, biasa dikemas dalam bentuk VCD.
Media Komputer ini memiliki semua kelebihan yang dimiliki oleh media lain. Selain mampu menampilkan teks, gerak, suara, dan gambar, komputer juga dapat digunakan secara interaktif bukan hanya searah.
Media televisi dan video cassette, alat – alat bantu pendidikan ini lebih dikenal dengan Audio Visual Aids ( AVA ). Alat bantu lihat dengar yang complicated ( rumit ) misalnya : film, film strip, slide, dan sebagainya yang memerlukan listrik dan proyektor.10
Kelebihan : Memiliki semua kemampuan yang dimiliki media audio visual maupun film, dapat merangkum beberapa jenis media dalam satu progam.
Kekurangan : Tidak berdiri sendiri melainkan merupakan bagian dari rangkaian kegiatan produk elektronik, memerlukan kecakapan khusus dalam pengoperasiannya, memerlukan peralatan kompleks ( kurang praktis ) dan biaya mahal.
Jadi setelah melihat kelebihan dan kekurangan dari masing - masing media pembelajaran, maka seorang guru harus mempunyai kemampuan untuk memilih media yang tepat bagi siswanya sesuai dengan sarana prasarana yang ada di Sekolah masing - masing.
____________________
10 Ruth Lautfer, Pedoman Pelayanan Anak, ( Malang : Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia, 1993 ), hal. 134 – 135





BAB 4
MANFAAT MEDIA PEMBELAJARAN DALAM
PENGAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN BAGI SISWA SEKOLAH DASAR

Setelah penyusun memaparkan landasan teoritis mengenai media pembelajaran, arti, fungsi, macam, karakteristik sebuah media dan peranan dalam pembelajaran, serta pengajaran Pendidikan Agama Kristen secara sepintas, maka pada bab ini akan dibahas sejauh mana peran atau manfaat media pembelajaran / alat peraga tersebut dalam proses pembelajaran PAK ( Pendidikan Agama Kristen ) bagi siswa Sekolah Dasar.
Untuk mengetahui manfaat media pembelajaran / alat peraga dalam pembelajaran pendidikan Agama Kristen Sekolah Dasar, pertama - tama kita harus melihat tugas guru Pendidikan Agama Kristen, khususnya dalam kaitannya dengan pemanfaatan Media Pembelajaran dalam seluruh proses pembelajaran / proses belajar mengajar. Walaupun secanggih atau semodern apa pun bentuk, model dan macam, media / alat peraga tersebut, namun tanpa campur tangan Guru sebagai fasilitator, perancang dan pelaksana dari proses pembelajaran maka sebuah media pembelajaran / alat peraga tersebut tidak bermanfaat / berfungsi dalam kegiatan belajar mengajar di lingkungan Sekolahnya.
Oleh sebab itu untuk mengawali bab ini, yang secara khusus membahas mengenai manfaat media pembelajaran dalam Pengajaran Pendidikan Agama Kristen bagi siswa Sekolah Dasar yang disebut Alat Peraga, maka pertama yang perlu diketahui tugas guru Pendidikan Agama Kristen, Kompetensi Guru dalam memilih media pembelajaran, khususnya dalam pemanfaatan media pembelajaran bagi siswa Sekolah Dasar.
4.1 Tugas Guru Pendidikan Agama Kristen Dalam Memilih Media Pembelajaran Bagi Siswa Sekolah Dasar
Dalam memilih media dan metode mengajar seorang guru terlebih dahulu harus mengenal / memahami karakter siswanya dengan baik melalui 2 tipe karakteristik yaitu karakteristik umum dan karakteristik khusus.
Karakteistik umum meliputi umur, jenis kelamin, tingkat kelas, tingkat kecerdasan, kebudayaan ataupun faktor sosial ekonomi dan Karakteristik khusus meliputi pengetahuan, kemampuan, serta sikap mengenai topik atau materi yang disampaikan / diajarkan. Hal ini penting karena langsung berpengaruh dalam hal pengambilan keputusan untuk memilih media dan metode mengajar.1
Beberapa pedoman yang dapat digunakan untuk memilih Media Pembelajaran adalah :
Media yang dipilih harus sesuai dengan tujuan dan materi pelajaran, metode mengajar yang digunakan serta karakteristik siswa yang belajar ( tingkat pengetahuan siswa, bahasa siswa, dan jumlah siswa yang belajar ).
Pemilihan media harus berorientasi pada siswa yang belajar,
____________________
1 H. Asnawir, Media Pembelajaran, ( Jakarta : Delia Citra Utama, 2002 ), hal. 130
artinya pemilihan media untuk meningkatkan efektivitas belajar siswa.
Pemilihan media harus mempertimbangkan biaya pengadaan, ketersediaan bahan, mutu, dan lingkungan fisik tempat siswa belajar.
4.1.1Guru Harus Memperhatikan Perkembangan Siswa Secara Fisik, Mental Dan Spiritual Bagi Siswa Usia Sekolah Dasar
Masa siswa Sekolah Dasar merupakan periode yang berbeda dibandingkan kehidupan orang dewasa, Jean Piaget mengemukakan tahap perkembangan otak atau pemikiran siswa Sekolah Dasar termasuk dalam periode concrete operations dimulai usia 7 – 11 tahun ( siswa dapat mendefinisikan, membandingkan sesuatu yang berlawanan melalui logika ). Namun, hal tersebut sifatnya masih konkret, dan periode Formal Operations dimulai siswa usia 11 – 12 tahun ( dapat berpikir dan menangkap hal – hal yang abstrak ) simbol – simbol keagamaan mulai mempunyai arti.
4.1.1.1Perkembangan Pemikiran Siswa Secara Fisik, Mental Dan Spiritual Masa Usia 6 – 8 Tahun
Perkembangan Secara Fisik
Secara fisik, pada saat siswa mulai masuk Sekolah Dasar, siswa mulai bertumbuh dengan cepat. Siswa mempunyai banyak energi sehingga mereka selalu ingin aktif untuk melakukan sesuatu yang baru.

Perkembangan Secara Mental
Secara Mental, siswa adalah pengamat yang peduli terhadap lingkungan. Mereka mulai berpikir secara verbal dan mengungkapkan diri lebih lancar. Perkembangan siswa dalam kosa kata, baca tulis, dan berhitung sangat cepat. Guru perlu melakukan apa saja yang bisa untuk mendorong dan membangun siswa dalam konsep diri yang utuh.
Perkembangan Secara Spiritual
Secara spiritual, Guru dapat menjelaskan dengan cara yang sederhana dalam pengajaran Pendidikan Agama Kristen sehingga siswa mengerti tentang konsep keselamatan. Dalam hal ini, guru dapat berperan sebagai model pada saat melakukan kegiatan / aktivitas dengan siswa yang sesuai dengan materi yang diajarkan oleh guru. Siswa sangat membutuhkan bimbingan orang tua dan guru karena dengan bimbingan tersebut mereka dapat bertumbuh bahkan bersaksi bagi Tuhan.


4.1.1.2Perkembangan Pemikiran Siswa Secara Fisik, Mental Dan Spiritual Masa Usia 9 – 11 Tahun
Perkembangan Secara Fisik
Masa usia 9 – 11 tahun siswa memasuki kelas 4 – 6 Sekolah Dasar, dalam usia ini siswa memiliki banyak energi sehingga siswa menjadi aktif dan tidak pernah merasa lelah. Siswa lebih senang melakukan kegiatan berpetualang menemukan hal – hal yang baru, sehingga mereka lebih kreatif.
Perkembangan Secara Mental
Secara mental siswa lebih berpikir tajam dan kritis. Siswa sering mengajukan pertanyaan – pertanyaan yang membuat mereka kritis dalam berpikir, dan menyiratkan bahwa mereka dapat berpikir dan berpendapat secara logis. Pertumbuhan konsep siswa mengenai waktu, ruang dan angka sangat cepat. Siswa kini memiliki pandangan dunia dan dapat menemukan letak negara – negara lain dengan mempelajari peta geografi. Siswa mulai dapat memahami simbolisme ( lambang ) dan hal – hal yang abstrak. Pada usia ini ingatan siswa dikatakan berada pada ” tahun emas ”, karena siswa dapat mengingat dengan cepat dan mudah. Tetapi siswa juga memiliki keterbatasan dalam proses berpikir karena mereka masih berpikir secara literal.
Perkembangan Secara Spiritual
Secara spiritual, siswa lebih siap diajari keselamatan dengan lebih lengkap. Dengan bimbingan yang benar, siswa mampu menyelidiki dan mencari sendiri kebenaran – kebenaran yang dinyatakan didalam Alkitab. Siswa dapat membedakan antara yang benar dengan yang salah dan siswa memiliki nurani yang lembut. Siswa dapat mengambil keputusan dengan tepat menerima Tuhan Yesus Kristus dan mempersembahkan diri mereka untuk melayani Tuhan Yesus.2

4.1.2Guru Harus Mampu Memilih Media Pembelajaran Bagi Siswa Sekolah Dasar
Kemampuan seorang guru didalam memilih media pembelajaran bagi siswa Sekolah Dasar yang sering disebut dengan istilah alat peraga sangat penting bagi guru terutama dalam menyesuaikan penyampaian materi yang akan diajarkan kepada siswa, oleh karena itu :
____________________

2 Paulus Lilik Kristanto, Prinsip Dan Praktek PAK, ( Yogyakarta : Andi Offset, 2006 ), hal. 92 – 93



4.1.2.1Alat peraga yang dipilih harus bisa menolong anak mencapai tujuan pembelajaran
Sebagai contoh media pembelajaran gambar, pada saat guru akan menjelaskan tentang jumlah murid Tuhan Yesus dari bahan alkitab Matius 10 : 1 – 4, guru membacakan nama kedua belas rasul Yesus : Pertama Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedius dan Yohanes saudaranya, Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan
Matius pemungut cukai, Yakobus anak Altfeus, dan Tadeus Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia. Setelah guru menunjukkan gambar murid - murid Yesus yang berjumlah 12 orang dan menjelaskan nama - nama ke 12 murid tersebut, lalu guru memberi pertanyaan kepada siswanya :
Siapa saja murid - murid Tuhan Yesus? Dan berapa banyak jumlah murid Tuhan Yesus?
Tujuan pembelajaran tersebut akan tercapai apabila siswa dapat menjawab pertanyaan guru dengan benar.

4.1.2.2 Alat peraga yang dipilih harus tepat bagi golongan usia yang diajar
Sebagai contoh :
- Masa usia 6 – 8 tahun menggunakan alat peraga ; gambar, gambar flanel, surat kabar dan majalah untuk dibuat ketrampilan.
- Masa usia 9 – 11 tahun menggunakan alat peraga ; gambar, papan tulis, boks pasir, peta.

4.1.2.3Alat peraga yang dipilih sebaiknya mudah didapat dan terjangkau secara ekonomis
Sebagai contoh alat peraga : Gambar, Papan Tulis, Peta, Surat kabar bekas, Boks pasir. Alat – alat peraga tersebut tentunya mudah kita dapatkan dan harganya pun ekonomis. Dengan alat peraga yang telah dipilihnya seperti contoh tersebut diatas diharapkan Guru dapat menguasai alat peraga tersebut, sehingga penyampaian materi pelajaran dapat diterima siswa dengan baik.

4.1.3 Guru Harus Memiliki Ketrampilan Menggunakan Media Pembelajaran Bagi Siswa Sekolah Dasar
Guru yang mengajar dengan alat peraga haruslah memiliki keterampilan dalam menggunakan alat peraga yang akan dipakai sehingga tujuan yang akan disampaikan dapat tercapai, karena sebaik, sebagus dan secanggih apapun alat peraga tanpa ketrampilan guru menggunakannya maka tidak bermanfaat alat peraga tersebut. Di dalam Alkitab alat peraga sering dipakai dalam berbagai bentuk, dengan tujuan agar berita yang hendak disampaikan menjadi jelas, dimengerti lebih baik dan dapat diingat lebih mudah.
Sebagai contoh : Dalam pengajaran Tuhan Yesus, pada saat Yesus melukiskan kata - kata dipasir dalam hal ini Tuhan Yesus terampil menggunakan atau memanfaatkan alat peraga yang ada disekitarnya. Dengan kata lain alat peraga tidak harus sesuatu yang diciptakan, tetapi bisa juga apa yang ada di sekelilingnya, sehingga dibutuhkan ketrampilan guru dalam memanfaatkan alat peraga yang ada di sekitarnya.3

4.1.3Harus Memiliki Ketrampilan Memilih Metode Yang Tepat
Dalam Pengajaran
Seorang guru harus bisa mencari cara mengajar yang paling sesuai dari sekian banyak metode yang ada sering kali ia akan memakai beberapa metode dalam satu mata pelajaran. Pilihan tersebut tergantung pada kecakapan guru, sifat dan kebutuhan para murid, bahan ajaran, peralatan, dan fasilitas yang tersedia. Banyak faktor terlibat dalam menentukan metode – metode yang akan dipakai, terutama isi pelajaran yang akan disajikan di kelas. Seorang guru yang baik akan mengubah – ubah metodenya agar
_______________________

3 Ruth S Kardarmanto, Tuntunlah Ke jalan Yang Benar, ( Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2003 ) hal 119 – 120
bisa memberikan pelajaran dengan efektif.
Ada beberapa contoh metode mengajar untuk menolong guru dalam mengajar dengan suasana yang lebih menyegarkan dan efektif, sebagaimana yang tertera dibawah ini :
Metode Tanya Jawab – Question And Answer
Bentuk tanya jawab yang bersifat mencari informasi, tertutup dalam arti tanya jawab dengan benar atau salah, menuntut pemikiran yaitu fakta, sebab arti dan perasaan serta terbuka.
Metode Diskusi – Discussion
Guru mengajukan pertanyaan yang bersifat merangsang, yang dapat membangkitkan minat murid untuk berpartisipasi dalam diskusi yang positif.

Metode Drama
Metode yang penyajiannnya bersifat dramatis melalui pantomim, peragaan gambar, maupun monolog.
Metode Ceramah
Melalui metode ceramah, guru menyampaikan satu pokok pelajaran kepada murid secara teratur dan sistematis dalam bentuk pidato.
Metode Cerita
Cara ini paling digemari untuk dipergunakan bagi semua tingkatan umur. Yesus adalah seorang pencerita ulung dengan memakai tindakan dan kata – kataNya, Ia melukiskan watak manusia dalam cerita – ceritaNya.
Metode Role Play
Role Play adalah bersifat materi faktual ketrampilan, pemahaman
pendalaman dan aplikasi, siswa aktif memiliki kesempatan berekspresi.5
Jika guru sudah memahami psikologi perkembangan siswa dan memiliki kemampuan memilih media, terampil menggunakan metode, maka guru tentunya akan mudah pula didalam membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) yang sesuai dengan keadaan pendidikan, kekhasan dan kondisi sosial budaya daerah setempat.

4.2 Manfaat Media Pembelajaran Dalam Proses Pengajaran PAK
Secara umum manfaat media alat peraga adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran lebih efektif dan efisien. Sedangkan secara lebih khusus manfaat media alat peraga bagi guru dan siswa dalam perkembangan siswa antara lain sebagai berikut :
4.2.1Penyampaian materi pembelajaran dalam pengamatan dan persepsi siswa dapat diseragamkan
______________________
5 Jonse Belandia Non – Serrano, Profesionalisme Guru & Bingkai Materi, ( Jakarta : Bina Media Informasi, 2005 ), hal. 41 – 43

Dengan bantuan media pembelajaran, penafsiran yang berbeda antara guru dan siswa dapat dihindari dan dapat mengurangi terjadinya kesenjangan informasi. Pada saat guru menyampaikan materi pelajaran, dengan menggunakan media alat peraga dalam pengamatan dan persepsi siswa dapat diseragamkan, sebagai contoh :
Manfaat Media Alat Peraga Gambar Dalam Pengajaran Pendidikan Agama Kristen
Gambar adalah alat peraga yang cocok bagi segala usia, alat peraga gambar digunakan dalam bentuk siap pakai, pada saat guru menyampaikan cerita dalam alkitab sebaiknya sambil menunjukkan gambar yang sesuai dengan isi cerita. Sebagai contoh saat guru menyampaikan cerita mengenai “ Pengharapan Dalam Rumah Tuhan “ dari bahan Alkitab Hagai 1 : 1 – 14 dan Matius 6 : 33, inti cerita ; manusia seringkali terjebak pada rutinitas hidup yang dijalani. Hari demi hari berlalu serasa sia - sia dan tanpa pengharapan. Kehidupan semacam itu bisa terjadi karena manusia cenderung memperhatikan diri sendiri dan tidak mengutamakan Tuhan dalam hidupnya. Bangsa Israel juga merasakan hidup yang sia – sia karena tidak mengutamakan Tuhan dalam pembangunan rumah Tuhan. Bangsa Israel malah mengupayakan membangun rumahnya sendiri dan melupakan pembangunan rumah Tuhan. Hagai meminta mereka untuk membangun rumah Tuhan terlebih dahulu supaya kehidupan mereka terjaga dan relasi dengan Tuhan menjadi baik. Dengan demikian hidup akan menjadi lebih bermakna dan berpengharapan.
Nabi Hagai telah mengingatkan bangsa Israel untuk segera membangun rumah ibadah. Umat Israel pun segera sadar dan mau melakukannya, mereka segera membangun rumah Tuhan untuk beribadah, agar kehidupannya menjadi bermakna (guru memperlihatkan gambar Bait Allah yang baru milik bangsa Israel). Melalui gambar tersebut tentunya pengamatan dan persepsi siswa mengenai rumah Ibadah bangsa Israel dapat diseragamkan. ( gambar 1 terlampir )
Manfaat Alat Peraga Papan Tulis Dalam Pengajaran Pendidikan Agama Kristen
Papan tulis juga dapat bermanfaat dalam penyampaian materi pembelajaran persepsi bagi siswa dapat diseragamkan. Peran papan tulis tidak kalah pentingnya sebagai sarana mengajar, papan tulis diterima dimana saja sebagai alat peraga yang sangat efektif contohnya dalam pengajaran Pendidikan Agama Kristen.
Materi pokok kelas 5 mengenai konsep keselamatan perihal Kristus adalah satu – satunya jalan keselamatan, dalam Yohanes 14 : 6 kata Yesus kepadanya : “ Akulah jalan dan kebenaran dan hidup tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku “, bila seorang guru menggambar salib yang ada diantara jurang pemisah di papan tulis, sambil bercerita menjelaskan bahwa ; Allah telah menjembatani jurang pemisah antara manusia dengan diriNya dengan mengirimkan AnakNya yaitu Yesus Kristus untuk mati dikayu salib menggantikan kita.6
Melalui media alat peraga papan tulis guru menggambar jurang pemisah yang dijembatani dengan salib Yesus, maka pemahaman siswa dapat diseragamkan bahwa Yesus satu – satunya jalan keselamatan.

4.2.2Efisiensi Dalam Waktu Dan Tenaga
Dengan media alat peraga diantaranya menggunakan gambar dan papan tulis tujuan belajar akan lebih mudah tercapai secara maksimal dengan waktu dan tenaga seminimal mungkin.
Guru tidak harus menjelaskan materi ajar secara berulang – ulang, sebab dengan sekali sajian menggunakan alat peraga gambar dan papan tulis seperti contoh uraian tersebut diatas, maka siswa akan lebih mudah memahami pelajaran. Mengajar dengan media akan lebih Cepat. Waktu untuk menyampaikan pelajaran sering kali sangat terbatas. Bila pelajaran hanya disampaikan dengan kata-kata saja mungkin dapat disalahpahami oleh pendengarnya, belum lagi waktu yang dipakai juga panjang. Namun dengan bantuan alat-alat peraga, guru bukan saja dapat menjelaskan banyak hal dalam waktu yang lebih singkat, juga dapat mencapai hasil
______________________

6 Agus B Lay, Pusat Latihan Hidup Baru, ( Jakarta : Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia, 1997 ) hal 47

mengajar dengan lebih cepat.
Penelitian di University of Pennsilvania's Wharton School of Business menunjukkan waktu yang dibutuhkan untuk menyampaikan maksud tertentu dapat dikurangi hingga 40 persen ketika alat peraga digunakan bersama presentasi kita. 7 Dengan kata lain, penggunaan alat peraga juga dapat menghemat waktu.

4.2.3Proses Pembelajaran Menjadi Lebih Interaktif Atau Menarik
Dengan media alat peraga diantaranya gambar flanel, surat kabar dan majalah bekas akan terjadi komunikasi dua arah secara aktif, sedangkan tanpa media guru hanya berbicara satu arah.
Manfaat Media Alat Peraga Gambar Flanel
Gambar flanel adalah rangkaian gambar – gambar yang dapat dilekatkan pada sebidang papan atau kain flanel. Ketika menceritakan sebuah peristiwa, guru melakukannya sambil menempelkan gambar yang sesuai isi cerita. Untuk memperdalam cerita, biasanya guru memberi tugas kepada siswa untuk mengulangi menempelkan potongan gambar ke kain flanel, dengan tujuan agar siswa dapat memahami materi pelajaran.
Sebagai contoh saat guru menjelaskan materi pokok kelas I siswa usia 6- tahun mengenai materi “ Tuhan Penciptaku “ (Alkitab Kej.2 : 7 ).
______________________

7.Dianna Booher dalam The Confindent Communicator (Wheaton: Victor Book, 1990)


Betapa ajaib dan indahnya ciptaan Tuhan dan hal itu terlihat dalam diri an menciptakan manusia dengan seluruh anggota tubuh dan dengan ciri khas masing – masing misalnya seorang laki – laki atau perempuan. Betapa mulia dan berkuasaNya Tuhan Allah sang pencipta.8
Agar tujuan belajar tercapai maka guru menggunakan alat peraga gambar flanel yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu sebelum memulai pelajaran. Guru sudah menyiapkan potongan gambar anggota tubuh laki – laki dan perempuan, juga kain flanelnya. Sambil bercerita guru menempelkan potongan anggota tubuh ke kain flanel menjadi bagian tubuh yang utuh. Untuk memperdalam cerita, guru melepas satu persatu susunan gambar dari kain flanel, kemudian guru mengulangi cerita tersebut dan memberi tugas kepada siswa untuk menempelkan gambar anggota tubuh secara utuh ke kain flanel ( gambar 3 terlampir ). Dengan alat peraga tersebut, guru bukan saja dapat menjelaskan banyak hal dalam waktu yang lebih singkat namun guru juga dapat memperoleh hasil yang memuaskan, sebab siswa diikut sertakan dalam kegiatan belajar mengajar.

_____________________

8 Jonse B Non - Serrano, Pendidikan Agama Kristen Untuk Kelas I, ( Bandung : Bina Media Informasi, 2009 ), hal. 16, 19



Manfaat Media Alat Peraga Surat Kabar dan Majalah
Surat kabar dan majalah ( bekas ) dapat dimanfaatkan untuk membuat berbagai macam bentuk kegiatan dalam pengajaran, dengan media alat peraga surat kabar bekas dapat membantu siswa menyerap materi pelajaran, bila dengan mendengar informasi verbal dari guru saja siswa kurang memahami pelajaran tetapi juga diperkaya dengan kegiatan melihat, menyentuh, merasakan, dan mengalami sendiri, melalui media alat peraga surat kabar dan majalah ( bekas ) yang dapat dimanfaatkan untuk ketrampilan maka pemahaman siswa akan lebih baik. Sebagai contoh saat guru menjelaskan mengenai materi pokok kelas II usia 7 – 8 tahun “ Yesus Menyembuhkan Hamba Seorang Perwira ” bahan alkitab Matius 8 : 5 – 13. Ketika Yesus sampai di Kapernaum, seorang perwira datang dan memohon agar Tuhan Yesus menyembuhkan hambanya yang sakit Tuhan Yesus lalu berkata, bahwa Ia akan datang ke rumah perwira itu. Tetapi sang perwira itu berkata, bahwa ia tidak layak menerima kedatangan Tuhan Yesus di rumahnya. Cukup Tuhan Yesus berkata satu patah kata saja, maka ia yakin bahwa hambanya itu akan sembuh. Dengan iman percaya dan sikapnya yang rendah hati dari pribadi sang perwira tersebut, maka hambanya yang sakit menjadi sembuh. Untuk memperdalam cerita tersebut diatas guru memberikan kegiatan kepada siswa dengan menggunakan media alat peraga surat kabar dan majalah ( bekas ) dibuat “ Topi Perwira ” agar siswa selalu ingat akan peristiwa cerita yang disampaikan oleh guru. Dalam pelaksanaan kegiatan siswa mengikuti petunjuk - petunjuk yang diberikan oleh guru.9
4.2.4 Membantu Siswa Untuk Mempertahankan Konsentrasi
Dalam membantu siswa mempertahankan konsentrasi bukan pekerjaan mudah semakin muda usia seseorang ( anak ) kemampuanya untuk mencurahkan perhatianpun semakin kurang. Jika guru hanya bercerita secara lisan apalagi caranya bercerita juga monoton, maka kurang dari 15 menit perhatian siswa sudah ke hal lain. Untuk menyiasati hal ini, maka guru dapat memanfaatkan macam - macam alat peraga, diantaranya alat peraga gambar flannel. Sebagai contoh, pada saat guru menjelaskan kepada siswa mengenai Tema “ Tanah liat Tukang Periuk “ dari bahan Alkitab Yeremia 18 : 1 - 6. Tentunya guru akan menceritakan dulu mengenai siapa nabi Yeremia, mengapa dia diutus Tuhan ke rumah Tukan Periuk yang sedang bekerja. Agar siswa memiliki minat didalam mengikuti pelajaran maka sebaiknya guru menggunakan alat peraga gambar flanel. Dengan mengawali mengajukan pertanyaan kepada siswa : Siapa yang pernah melihat tukang periuk saat dia bekerja? ( guru menunjukkan gambar 1 orang yang sedang membuat periuk, dan menunjuk salah satu siswa untuk
_______________________
9 Hari gunawan, Pendidikan Agama Kristen SD II, ( Bandung : jurnal Info media, 2009 ), hal. 29

menempelkan gambar tersebut ke kain flanel ) guru membaca Firman Tuhan Yeremia 18 : 1 – 6.Firman Tuhan tersebut berisi pernyataan Allah kepada Yeremia bahwa umat Yehuda itu seperti tanah liat dalam tangan tukang periuk, bagaimana jika periuk itu rusak? ( guru menunjukkan gambar ke 2 gambar periuk yang retak dan menunjuk salah satu siswa untuk menempelkan gambar tersebut ke kain flanel ) tentunya tukang periuk itu akan meleburnya kembali ( guru menunjukkan gambar ke 3 gambar periuk yang sedang dileburnya dan menyuruh salah satu siswa untuk menempelkanya ke kain flanel ) setelah dilebur kembali periuk tersebut dibuat lagi menjadi periuk yang bagus ( guru menunjukkan gambar ke 4 yaitu gambar periuk yang bagus dan menempelkannya ke kain flanel ) Allah menggunakan tanah liat dan tukang periuk sebagai suatu pelajaran peraga. Pelajaran peraga ini masih berlaku sampai saat ini. Melalui alat peraga gambar flanel siswa dapat mempertahankan konsentrasi sebab siswa dilibatkan dalam kegiatan pembelajaran. 10

4.2.5 Mengubah Peran Guru Ke Arah Yang Lebih Positif

Guru dapat berbagi peran dengan media sehingga banyak memiliki waktu untuk memberi perhatian. Seperti membantu kesulitan
________________________
9 Guru Madya, Berbagai Pesan Dari Para Nabi, ( Malang : Gandum Mas, tth ) hal 25

belajar siswa, memberi motivasi belajar dan lain – lain, diantaranya alat peraga yang dipilih Peta dan Boks Pasir.

Manfaat Media Alat Peraga PETA
Peta dapat menolong siswa untuk mempelajari bentuk dan letak Negara- negara dan kota - kota yang disebutkan didalam Alkitab, dengan PETA siswa menjadi tahu ilmu bumi dan sejarah Alkitab. Sebagai contoh saat guru menjelaskan materi pokok kelas IV mengenai “ Pertolongan Allah pada Bangsa Israel ketika di Padang Gurun “ bahan Alkitab Keluaran 13 : 17 – 22. Media alat peraga yang digunakan guru diantaranya PETA yang ada di dalam Allkitab, dengan alat peraga PETA guru memberi tugas kepada siswa untuk menunjukkan letak Laut Teberau dalam peta, dimana dalam Keluaran 13 : 8 “ Tetapi Allah menuntun bangsa Israel berputar dari Mesir ke Kanaan melalui padang gurun menuju ke Laut Teberau.” Sehingga siswa banyak memiliki waktu untuk belajar dan siswa memiliki wawasan yang luas. ( gambar 6 terlampir )
Manfaat Media Alat Peraga Boks Pasir
Boks Pasir dapat dipakai untuk membentuk Gunung, Lembah dan Sungai yang mengalir dan sebagainya, sehingga siswa menjadi aktif dan kreatif. Penggunaan alat peraga Boks Pasir biasanya di lakukan setelah selesai guru bercerita tentang firman Tuhan, sedangkan tujuan alat peraga tersebut diberikan untuk memperdalam cerita. Sebagai contoh dalam penggunaan Boks Pasir, setelah guru selesai membawakan cerita tentang Paskah dari bahan alkitab Matius 28 : 1 - 10, untuk memperdalam cerita yang disampaikan, maka guru mengajak siswa ke lokasi Boks Pasir yang sudah dipersiapkan juga peralatan lain yang digunakan sesuai dengan isi cerita. Cara pemakaian alat peraga tersebut, guru memasukkan peralatan lain yang sudah dipersiapkan ke dalam Boks Pasir, dan siswa mengulangi cerita Paskah melalui alat peraga tersebut, melalui alat peraga Boks Pasir siswa dapat berimajinasi, dengan memerankan isi cerita yang telah disampaikan oleh guru. ( gambar 7 terlampir )
Dengan menggunakan media alat peraga diantaranya Peta dan Boks Pasir, maka guru dapat berbagi peran dengan media alat peraga tersebut, sehingga guru banyak memiliki waktu memberikan perhatian dan motivasi kepada siswa dalam pembelajaran.

4.2.6 Meningkatkan Kualitas Hasil Belajar Siswa
Manfaat media alat peraga boks pasir dan peta bukan hanya dapat mengubah peran guru kearah yang lebih positif. Namun juga dapat meningkatkan kualitas hasil belajar siswa, sebab alat peraga boks pasir dan peta dapat membantu siswa menyerap materi belajar lebih mendalam. Bila dengan mendengar informasi verbal dari guru saja, siswa kurang memahami pelajaran. Tetapi jika diperkaya dengan kegiatan melihat, menyentuh, merasakan dan mengalami sendiri melalui media alat peraga diantaranya boks

pasir dan peta seperti contoh uraian tersebut diatas, tentunya pemahaman siswa akan lebih baik.10
Dari penjelasan dan paparan mengenai manfaat media alat peraga yang sudah penulis sampaikan dari berbagai sumber yang penulis dapatkan maka penulis dapat simpulkan bahwa media alat peraga diantaranya : gambar, papan tulis, gambar flanel, boks pasir dan peta, sangatlah membantu dalam proses belajar mengajar terutama dalam pengajaran Agama Kristen bahkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran, sebab dengan media alat peraga imajinasi anak dirangsang, perasaannya disentuh dan kesan yang dalam diperoleh, dan melalui media alat peraga siswa akan belajar lebih bersemangat dan dapat mengingat dengan lebih baik. Sehingga pelajaran apapun, terutama pelajaran Agama Kristen menjadi pelajaran yang menarik karena adanya alat peraga yang disertai dengan kemampuan guru dalam menggunakan dan mengembangkan fungsi alat peraga dalam proses belajar mengajar.
Selain bermanfaat bagi guru dan siswa seperti tersebut diatas, menurut Bianna Boorher(1990) media alat peraga dapat meningkatkan daya ingat anak terhadap sebuah pelajaran. 11Lebih lanjut Dianna menyebutkan manfaat media alat peraga dalam pembelajaran sebagai berikut:

_______________________

10 Ruth Lautfer, Pedoman Pelayanan Anak, ( Malang : Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia, 1993 ), hal. 136
11Dianna Booher dalam The Confindent Communicator (Wheaton: Victor Book, 1990)



Mempertahankan Konsentrasi
Di zaman modern ini, ada banyak sekali hal yang dapat mengalihkan perhatian anak dari pelajaran Sekolah Minggu. Misalnya, suara musik penjual es krim, gangguan teman sebaya yang bosan, temannya yang menangis. Semua itu dapat
mengganggu konsentrasi anak dalam mendengarkan cerita anak. Belum lagi ada banyak media hiburan yang lebih menarik, seperti televisi, DVD, Playstation, mainan anak.Mendapat pesaing-pesaing yang sedemikian berat ini, mau-tak-mau, para Guru Sekolah Minggu harus mencari cara yang dapat mempertahankan konsentrasi anak-anak. Ini bukan pekerjaan mudah, karena semakin muda seseorang, kemampuannya untuk mencurahkan perhatian pun semakin pendek. Jika GSM hanya bercerita secara lisan (apalagi caranya bercerita juga monoton), maka kurang dari 5 menit, perhatian anak—anak sudah berpindah ke hal lain. Untuk menyiasati hal ini, maka GSM dapat memanfaatkan alat peraga.

Mengatasi Masalah Keterbatasan Waktu
Waktu yang sudah berlalu tidak akan pernah kembali. Bagaimana mungkin kita bisa mengulang kembali peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau? Dengan alat-alat peraga, kita dapat menampilkan kembali peristiwa-peristiwa sejarah dalam bentuk alat-alat peraga tertentu. Dengan demikian masalah keterbatasan waktu dapat teratasi.

Mengatasi Masalah Keterbatasan Tempat
Hampir semua kejadian yang ditulis dalam Alkitab terjadi di wilayah Palestina. Jaraknya ribuan kilometer dari Indonesia. Kita hampir tidak mungkin mengajak anak-anak mengunjungi langsung ke sana. Kendala ini dapat disiasati dengan penggunaan alat peraga. Misalnya dengan menunjukkan peta atau foto wilayahPalestina. Keterpisahan wilayah ini juga disertai dengan perbedaan kebudayaan. Perbedaan kebudayaan ini juga dapat menimbulkan pemahaman yang salah. Misalnya, bangsa Indonesia memiliki tradisi menguburkan mayat dalam tanah. Sementara pada zaman Yesus, jenazah orang mati dimasukkan ke dalam gua. Penggunaan alat peraga mampu mengatasi kesalahpahaman dan kekeliruan semacam itu.

Mengatasi Masalah Keterbatasan Bahasa
Kemampuan anak-anak untuk mengerti bahasa sangat terbatas. Pengalaman hidup yang pendek dan dangkal juga menyebabkan mereka tidak dapat mengerti istilah-istilah tertentu. Misalnya: mereka mungkin tidak mengerti arti "kerja sama", namun bila dijelaskan dengan sebuah gambar tentang anak yang bekerja bersama-sama, mereka pasti dapat mengerti maksud kata tersebut. Bagi orang dewasa bahasa juga mempunyai batasan tertentu. Sebab itu, ensiklopedia dan buku-buku ilmu pengetahuan lain, membutuhkan gambar-gambar untuk mengatasi keterbatasan dalam bahasa.

Membangkitkan Emosi Manusia
Ada pepatah: "sebuah gambar mewakili ribuan kata-kata." Menyampaikan suatu berita dengan gambar-gambar akan lebih berhasil dibandingkan dengan hanya melalui kata-kata. Apalagi bila ada suara hidupnya tentu akan lebih mudah menyampaikan berita tertentu dibandingkan dengan melalui kata-kata. Alat peraga juga dapat membangkitkan emosi manusia.

Menyampaikan Suatu Konsep dengan Bentuk yang Baru
Alat peraga yang berbentuk gambar sketsa, bagan dan lain-lain, memudahkan penerimaan suatu konsep yang jelas dengan segera, dapat merangsang pikiran, juga dapat memberikan penerangan dan penjelasan yang baru dan nyata.

Menambah Daya Pengertian
Jika nilai-nilai penggunaan yang telah disebutkan tadi disimpulkan, jelas bahwa alat peraga dapat membantu murid mengerti lebih baik. Melalui indera penglihatan dan pendengaran, murid dapat mengerti pelajaran dengan memahami perbedaan arti, perbedaan warna serta bentuk besar dan kecil. Dengan demikian hal itu akan menambah daya pengertian mereka.



Menambah Kesegaran dalam Mengajar
Cara mengajar yang monoton membuat orang merasa bosan, tetapi bila disampaikan dengan bentuk yang berbeda-beda akan memberikan kesegaran pada murid, menambah suasana belajar yang menyenang, dan mampu membangkitkan motivasi belajar. Penggunaan alat peraga harus bervariasi, supaya di tengah suasana yang segar dan menyenangkan murid dapat mempelajari kebenaran dengan lebih efektif.



















BAB 5
PENUTUP

Media pembelajaran sangat bermanfaat dalam meningkatkan kualitas pendidikan, termasuk untuk meningkatkan kualitas pengajaran Pendidikan Agama Kristen. Beberapa media pendidikan yang sering digunakan dalam pembelajaran Sekolah Dasar disebut alat peraga. Media alat peraga adalah alat, bahan ataupun berbagai komponen yang dilakukan dalam kegiatan belajar mengajar untuk menyampaikan pesan dari pemberi pesan dalam hal ini guru kepada penerima pesan untuk mempermudah penyampaian pesan atau konsep.
Dalam Kitab Perjanjian Lama kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama yang telah dilakukan oleh para Nabi, dan dalam Perjanjian Baru oleh Tuhan Yesus dan Para Rasul dalam pengajarannya juga telah memanfaatkan alat peraga sebagai media pembelajaran, walaupun bentuknya masih sangat sederhana.
Dalam setiap proses belajar mengajar pada masa sekarang, alat peraga sangat menolong guru dalam menyampaikan pesan atau konsep kepada siswa. Dan alat peraga sangat menolong siswa untuk menerima, memahami dan mengingat pesan atau konsep yang disampaikan oleh guru. Untuk mengoptimalkan pemanfaatan media alat peraga dalam proses belajar mengajar, dibutuhkan kemampuan atau kompetensi dari guru sebagai pendidik dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran. Oleh sebab itu seorang guru harus memahami karakteristik suatu media, diantaranya bentuk, macam, kelemahan dan kelebihan suatu media. Supaya penggunaan media alat peraga dapat memotivasi siswa dalam belajar, menambah daya penegertian, mempertahankan konsentrasi, dan membangkitkan emosi siswa, maka dibutuhkan pula metode serta persiapan - persiapan yang cukup dalam pengajarannya. Seorang Guru tidak hanya menguasai materi yang akan disampaikan, tetapi juga harus memahami perkembangan pemikiran siswanya dengan baik; dapat memilih media dan metode yang sesuai, agar dalam setiap pengajarannya dapat mencapai tujuan pembelajaran seperti yang diharapkan.
Media alat peraga seperti gambar, peta, papan tulis, boks pasir, dan lain - lain, dalam proses pembelajaran, dapat membangkitkan minat dan perhatian siswa dalam belajar. Minat adalah modal dasar yang besar terhadap belajar, dengan adanya minat seseorang akan melakukan sesuatu, sebaliknya tanpa ada minat atau kemauan tidak mungkin siswaq akan melakukan sesuatu. Media alat peraga yang digunakan dalam setiap pembelajaran juga dapat menghasilkan kesan yang dalam bagi siswa. Menurut ilmu Pendidikan, media dapat menolong siswa untuk mengingat dengan baik, yaitu dapat mengingat sampai 50% dari apa yang didengar dan dilihat. Demikian digambarkan dalam diagram Cone of learning dari Edgar Dale yang secara jelas memberi penekanan terhadap pentingnya media dalam pendidikan.

5.1KESIMPULAN
Media adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi. Sedangkan pembelajaran adalah usaha guru untuk menjadikan siswa melakukan kegiatan belajar. Dengan demikian media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan informasi dari guru ke siswa sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa dan pada akhirnya dapat menjadikan siswa melakukan kegiatan belajar. Manfaat media pembelajaran tersebut adalah : penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan, proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik, proses pembelajaran menjadi lebih interaktif, efisiensi dalam waktu dan tenaga, meningkatkan kualitas hasil belajar siswa, memungkinkan proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja, menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar serta mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif.
Berdasarkan pembahasan tentang peranan media dalam proses pembelajaran pendidikan agama Kristen untuk Sekolah Dasar, maka dapat penulis simpulkan sebagi berikut :
Pertama : Dalam setiap proses pembelajaran PAK, media pembelajaran sangat menolong guru dalam menyampaikan pesan atau suatu konsep abstrak kepada Siswa Sekolah Dasar.
Kedua : Bagi siswa tingkat Sekolah Dasar, media alat peraga sangat menolong dalam menerima, memahami dan mengingat lebih dari pesan atau konsep yang disampaikan oleh guru. Dengan alat peraga perhatian siswa terhadap materi pembelajaran dapat meningkat, sehingga dapat mempengaruhi hasil belajar siswa, yang pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
Ketiga : Media alat peraga merupakan salah satu peralatan yang efektif dan efisien dalam membantu tercapainya proses belajar mengajar yang efektif, sehingga dengan media alat peraga, pengajaran Pendidikan Agama Kristen dapat lebih menarik, menyenangkan dan menambah kesegaran dalam mengajar.
.
Keempat : Para Nabi dalam Perjanjian Lama juga telah memulai memanfaatkan alat peraga sebagai media dalam pengajarannya, walaupun bentuknya dan pengunaannya masih sangat terbatas. Demikian juga Tuhan Yesus Dalam Perjanjian Baru. Sebagai Guru Agung, Dia juga menggunakan alat peraga sebagai media dalam menyampaikan suatu pesan atau konsep pengajaran - Nya, sehingga pengajaran - Nya dapat berhasil. Salah keberhasilan Tuhan Yesus dalam mengajar disaksikan oleh Matius: ”Dan setelah......takjublah orang banyak itu mendengar pengajaranNya” lalu mereka mengikuti Dia.( Matius 7 : 28 - 29 ).

5.2SARAN
Berdasarkan hasil penelitian mengenai pemanfaatan media pembelajaran dari berbagai sumber, seperti yang telah penulis simpulkan, maka supaya dalam proses pengajaran Pendidikan Agama Kristen bagi siswa Sekolah Dasar dapat berjalan secara efektif dan efisien, maka sebagai akhir dari skripsi ini Penulis akan memberikan saran sebagai berikut :
Pertama : Mengingat media pembelajaran sangat membantu dalam penyampaian materi atau konsep kepada siswa Sekolah Dasar maka, guru sebagai faktor utama dalam keberhasilan dalam proses pembelajaran harus memahami media alat peraga yang meliputi macam, bentuk maupun karakteristik media sehingga dapat memilih dan menggunakannya dengan baik dalam setiap proses pembelajaran.
Kedua : Kepada Pimpinan Lembaga Pendidikan, khususnya kepada kepala Sekolah di Sekolah Dasar, supaya memfasilitasi pembelajaran dengan menyediakan alat peraga sebagai media dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen.





















SARIPATI

Media Pembelajaran adalah salah satu alat bantu mengajar bagi guru untuk meningkatkan kreatifitas dan perhatian siswa dalam proses pembelajaran. Dengan media siswa akan lebih termotivasi, imajinasi siswa dirangsang, perasaannya disentuh dan kesan yang mendalam diperoleh siswa.
Penggunaan media pembelajaran dapat meningkatkan perhatian siswa terhadap materi pelajaran, sehingga mempengaruhi hasil belajar siswa menjadi lebih baik. Itulah sebabnya, pengajaran Pendidikan Agama Kristen dengan media pembelajaran alat peraga bagi siswa Sekolah Dasar menjadi topik yang sangat penting untuk dibahas.
Dalam pengajaran Pendidikan Agama Kristen, pemanfaatan media pembelajaran sebenarnya bukan hal yang baru, pada masa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sudah memakai media alat peraga sekalipun masih sangat terbatas. Tuhan Yesus sebagai guru Agung dan teladan dalam pengajaran Pendidikan Agama Kristen selalu mencari dan menemukan berbagai cara dalam menghadapi situasi pendengar–Nya yaitu dengan media alat peraga untuk menyampaikan pesan atgau maksud pengajaran – Nya, sehingga pengajaran-Nya lebih menarik dan dapat diterima dengan baik.
Pada umumnya keberadaan media muncul karena keterbatasan kata – kata, waktu, ruang, dan tenaga. Namun karena manfaat media dalam pembelajaran seperti dapat dilihat dalam kerucut pengalaman dari Edgar Dale dalam diagram Cone Of Learning, bahwa secara umum media pembelajaran memiliki fungsi atau manfaat antara lain: memperjelas pesan, menguasai keterbatasan ruang, waktu, dan panca indera, menimbulkan gairah belajar pada siswa maka sebagai guru harus mengetahui dan memahami media alat peraga dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Dasar. Guru juga harus dapat memilih dan menggunakan media, serta memahami peserta didik, khususnya dalam perkembangan mental, emosi dan spiritualnya. Sebab secanggih atau semodern apa pun bentuk, model dan macam, media alat peraga, namun tanpa kompetensi dari seorang Guru PAK yang cukup khususnya dalam memilih dan menggunakan media alat peraga, maka sebuah media pembelajaran alat peraga tersebut tidak akan bermanfaat atau berfungsi secara optimal dalam kegiatan pengajaran Pendidikan Agama Kristen bagi siswa Sekolah Dasar.






















DAFTAR PUSTAKA

Alkitab ( Jakarta : Lembaga Alkitab Indonesia, 2006 )
Agus B Lay, Pusat Latihan Hidup Baru, ( Jakarta : Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia, 1997 ) hal 47
Chris Marantika, Kepercayaan Dan Kehidupan Kristen, ( Yogyakarta : STT II , 1996) hal 218
Dien Sumiyatiningsih, Tuhan Penolongku 6 PAK,Referensi KTSP Dengan Kecerdasan Majemuk, ( Yogyakarta : CV ANDI Offset, 2007 ) hal 19
Dien Sumiyatiningsih, Mengajar Dengan Kreatif Dan Menarik, ( Yogyakarta : ANDI Offset, 2006 ) hal 124
Pedoman Guru II, ( Semarang : Gereja Isa Almasih, tth ) hal 45
Green L, Creatives Silde, ( Colorado : Libraries Unlimited, Inc Littleton, 1996 )
Guru Madya, Berbagai Pesan Dari Para Nabi, ( Malang : Gandum Mas, tth ) hal 25

Hari Gunawan, Pendidikan Agama Kristen SD II, ( Bandung : Jurnal Info Media, 2009 ) hal 29
Homrighausen, Pendidikan Agama Kristen, ( Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2000 ) hal 8
H. Asnawir, Media Pembelajaran, ( Jakarta : Delia Citra Utama, 2002 ) hal 156
Jonse Belandia Non – Serrano, Pedoman Untuk Guru PAK SD – SMA Dalam Melaksanakan Kurikulum Baru, ( Bandung : Bina Media Informasi ) hal 23
Jonse Belandia Non – Serrano, Pendidikan Agama Kristen Untuk Kelas I, ( Bandung : Bina Media Informasi, 2009 ) hal 16, 19
Jonse Belandia Non – Serrano, Pendidikan Agama Kristen Untuk Kelas II, ( Bandung : Bina Media Informasi, 2009 ) hal 29, 31
Jonse Belandia Non - Serrano, Profesionalisme Guru Dan Bingkai Materi, ( Jakarta : Bina Media Informasi, 2005 ) hal 41 – 43
J.Reginald Hill, Penuntun Sekolah Minggu, ( Jakarta : Yayasan Bina Kasih )
hal 180
Kamus Besar Bahasa Indonesia, ( Jakarta : PT Gramedia, 2008 ) hal 1342
Kartini Kartono, Psikologi Anak, ( Bandung : PT Alumni, 1986 ) hal 136
N. Titus, Sejarah Suci, ( Jakarta : PT BPK Gunung Mulia, 1995 ) hal 221 – 222
Oemar Hamalik, Media Pendidikan, ( Bandung : Offset Alumni, 1982 ) hal 22 – 23
Paulus Lilik Kristanto, Prinsip Dan Praktek PAK, ( Yogyakarta : ANDI Offset,2006 ) hal 92 – 93
Ruth Lautfer, Pedoman Pelayanan Anak, ( Malang : Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil indonesia, 1993 ) hal 135
Ruth S Kadarmanto, Tuntunlah Ke Jalan Yang Benar, ( Jakarta : PT BPK Gunung Mulia, 2003 ) hal 119 – 120
Yusuf Syamsul, Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja, ( Bandung : Remaja Rosdakarya, 2001 )
Warner C Braedorf, Prinsip Dan Praktek PAK, ( Yogyakarta : Andi Offset, 2006 ) hal 4 – 5 disunting oleh Paulus Lilik Kristanto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar