Minggu, 22 Agustus 2010

Bahan Kotbah : Ucapan Syukur Mendatangkan Berkat

UCAPAN SYUKUR MENDATANGKAN BERKAT

Bacaan : 2 Taw. 7: 11-22

Pendahuluan

Maka saya mengangkat tema : Ucapan Syukur. (karena banyak yang harus disyukuri) diucapkan. Syukur. Namun berdasarkan pengalaman yang dilakukan Raja Salomo, ketika dia tidak hanya mengucapkan, tetapi melakukan atau dengan tindakan nyata ( 2 Taw. 7 : 5; dan ayat 8) kemudian Pasal 9: 22 Raja Salomo melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat) dalam ucapan syukur tersebut, maka Tema itu menjadi lengkap, yaitu:
Mengucap Syukur mendapatkan Berkat.

Dimana rahasianya kalau ucapan syukur itu bisa mendatangkan berkat. Bakkan berkat yang melimbah dan juga hikmat.

Mengucap syukur mendapatkan berkat.
Apakah yang dilakukan Raja Salomo dalam ucapan syukurnya?
Apakah Usaha Salomo, sehingga ucapan syukur itu dapat mendatangkan berkat?
Apakah berkat yang diterima Raja Salomo?

Ucapan Syukur dapat mendapatkan berkat, yaitu apabila:
Disertai dengan Pengorbanan atau persembahan
Disertai dengan Ibadah atau perayaan
Disertai dengan usaha.
TetaP tinggal.

Untuk mendapatkan berkat dalam pengucapan syukur, Salomo memberikan persembahan:
Ayat 5 = 20 ribu Ekor Lembu sapi 8jt X 20 = 160.000.000.000.-
120 ribu ekor kambing domba 1 rb X 120 =
120.000.000.000,-
280.000.000.000,-
Setiap hari, setiap hari sabat dan raya tertentu. Selalu ada korban persembahan. Ayat 13 pasal 8

kedua : menurut ayat 8, dan pada waktu itu juga salomo mengadakan perayaan Pondok daun selama 7 Hari.

Dan ketika menurut pasal 8, memperkuat kota-kota, dan satu hal yang salomo lalukan, yaitu tidak memeperalat orang Israel. Ayat 9: Tetapi orang Israel tidak ada yang dijadikan budak oleh Salomo untuk pekerjaannya.
(Yeremia 29 : 7): Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah ksejahteraanmu”

Apakah berkat yang diterima Salomo?
ayat 66 – Berkusacita dan bergembira
ayat 2 Tuhan menampakan diri
120 talenta emas
sangat banyak remah-remah
Batu permata yang mahal-mahal
Pasal 9: 1 dalam 1 tahun 666 talenta emas.
Dan dalam 2 s/d 28 adalah daftar kekayaan Salomo, yang diringkat menjadi 1 kalimat, yaitu :

Pasal 9: 22 Raja Salomo melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat).
Kekayaan dan Hikmat.

Kesaksian Jemaat GSJA.

Bapak-ibu jemaat yang berbahagia dan telah bersyukur. Yang perlu kita renungkan adalah ucapan syukur yang bagaimana yang sudah kita lakukan? Sehingga benar-benar mendatangkan berkat. Sudahkan dengan berkorban, dengan memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Mengucap syukur, tentu bukan hanya mengucap, tetapi Allah menghendaki disertai dengan tindakan nyata.

Prinsip Alkitab : Berilah maka kamu akan diberi,
Carilah, maka kamu akan mendapat
Dan dalam Tuhan, jerih payahmu tidak sia-sia.
Matius 6:33: mendahulukan Tuhan diatas segala-galanya, semuanya akan ditambahkan kepadamu.

Masilah dalam kita mengucap syukur, kita barengi dengan korban atau persembahan.Bukan hanya tubuh sebagai persembahan yang hiduip, yang kudus dan yang berknan kepada Tuhan, tetapi rupiah-rupiah yang Tuhan percyakan kepada kita semua.

Pelayanan menbutuhkan persmbahan saudara. Untuk memperkuat jemaat/ gereja. Uluran tangan saudara sangat berarti.




































Pesan Natal

MEMBERKATI UNTUK MENERIMA BERKAT

Bacaan: I Pet. 3:8-9
Nat. : Mazm. 126: 5-6
” Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan
menuai dengan bersorai-sorai. Orang yang berjalan maju dengan
menangis sambil menabur, pasti pulang sambil membawa berkas-
berkatnya”

Pendahuluan

Penulis I Petrus adalah Petrus, Rasul Yesus Kristus (1 Pet.1:1). Yang menarik dan perlu ditekankan adalah tentang nama Petrus. Nama ini (Petrus ini) begitu penting dalam surat I dan I Petrus). Dalam Surat II Petrus ( II Pet. 1:1) ditulis demikian: ”Dari Simon, Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus”.

Bapak Ibu Saudaraku Mahasiswa yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus.
Nama ”Simon” adalah nama lama Petrus, yang mengacu kepada manusia lama dan ”Petrus” menyatakan manusia Petrus yang sudah dilahirkan kembali dan rohani, tidak seperti nama kefas atau simon, yang menyatakan manusia alamiah berdasarkan kelahirannya ( Yoh 1:42; Mat. 16:17-18). Sedangkan HAMBA, hamba Yesus Kristus, yang hanya ditulis dalam II Pet. 1:1, menyatakan bahwa Petrus adalah rasul Yesus Kristus yang setia. Hamba hanya menjalankan apa yang ditugaskan atau dikehendaki oleh tuanya. Dan Rasul Petrus mendapatkan sebutan itu didepan nama barunya, Simon petrus hamba dan rasul Yesus Kristus.

Yang kedua, yang tidak kalah penting untuk kita ketahui adalah penulisan 1 dan 2 Petrus. Ini sangat penting karena akan lebih memaknai dan menjadi begitu berarti ketika kita diperhadapkan dengan tema NATAL tahun ini yaitu : MEMBERKATI untuk MENERIMA BERKAT ( 1 Petr, 3:8-9).


Bapak, Ibu dan saudaraku Mahasiswa, yang dikasihi Tuhan Yesus.
Surat 1 Petrus ditulis tahun 64 SM yaitu 5 tahun sebelum surat II Petrus atau 5 tahun sebelum Petrus mati sahit karena kesetiaan sebagai seroang rasul Yesus Kristus. Boleh jadi pesan : I Petrus 3:8-9, merupakan kata terakhir atau kata perpisahan, sebagai suatu pesan yang harus dilakukan orang setiap orang percaya pada saat itu. Lihat.............” Dan Akhirnya, Hendaklah kamu semua...” dan Hendaklah kamu memberkati. Dan terjemahan asli Bahasa Yunani ”Hendaklah kamu memberkati” merupakan petunjuk waktu dalam, Bahasa Yunaninya berarti: selalu memberkati. Artinya dalam keadaan apapun, temasuk pada saat resesi, kekuarangan dan masalah Orang Kristen harus selalu memberkati, selalu menabur, selalu memberi pertolongan kepada siapapun dan kapanpun.

Bapak, Ibu dan saudaraku mahasiswa yang saya kasihi di alam Tuhan Yesus Kristus!!!

Memberkati dengan apa, atau memberi dengan apa? Itu yang selalu dan selalu menjadi alasan untuk kita tidak dapat memberkati oang lain.
Tertolong karena Menolong, Diberkati karena Memberkati
Dua orang pendaki gunung berjalan pulang dari puncak gunung karena cuaca sangat buruk dan dingin. Di tengah jalan, ketika mereka hampir tidak dapat lagi bertahan, tiba-tiba mereka menemukan seorang pria lain yang tergeletak sendirian—hampir mati kedinginan.
Pria yang satu terus berjalan karena ia berpikir bahwa tidak mungkin ia menghabiskan sisa tenaganya untuk menolong orang tersebut. Ia sendiri saja sudah hampir mati.
Sebaliknya, pria yang satunya lagi dengan susah payah meggendong orang tersebut di punggungnya. Tentu saja hal itu membuatnya tertinggal jauh di belakang temannya yang berjalan tanpa beban.
Setelah beberapa jam terus berjalan, pria yang menggendong itu menemukan temannya telah lebih dahulu berjalan turun gunung tanpa beban. Apa yang terjadi? Temannya itu telah mati kedinginan. Frostbite.
Pria kedua yang menolong orang tersebut justru bertahan dengan selamat sampai ke kaki gunung. Mengapa? Kok bisa?
Karena sesungguhnya pertolongan yang diberikannyalah yang membuatnya selamat. Dengan menggendong pria sekarat itu di punggungnya, ia mendapatkan panas tubuh dari pria yang digendongnya itu. Ia tertolong karena menolong.
Upah Memberkati.
Apakah upahnya orang yang memberi atau yang memberkati?
Contoh Janda Di Sarfat (dipelihara sampai musin hujan tiba (3,5 tahun)
Contoh Ishak (mendapat 100 X lipat)

Kesaksian.

Benarlah perkataan ini : ”Orang dunia boleh resesi, namun anak-anak Tuhan resepsi”. Sementara bisnis-binsis dunia menciut, bahkan banyak yang tumbang, karena gelombang krisis finansial yang terjadi di Amerika, tetapi Tuhan sedang mempersiapkan kita untuk mengalami perluasan di tahun 2009, tahun samekh teth ini.

Bapak, Ibu Sdrku Mahasiswa yang dikasihi Tuhan Yesus.
Tuhan sanggup melimpahkan segala kasih karunia dan hikmat supaya kita senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu, sehingga kita berkelimpahan dalam perbagai perbuatan baik. Krisis ekonomi global dampaknya banyak orang yang di PHK, sehingga jumlah pengangguran meningkat dan orang miskin bertambah. Inilah kesempaan yang Tuhan berikan bagi kita untuk mempraktekkan kebajikan atau perbuatan baik itu dengan memberikan atau memberkati orang lain.

Tidak hanya melepaskan berkat dalam perkataan dan perbuatan baik, tetapi juga memberkati dalam hal keuangan. Secara mata jasmani, terasa berat apalagi di masa resesi sekarang ini, namun justru saat yang sulit seperti ini adalah pintu yang terbuka lebar untuk menabur.
Lihat Ishak, pendaki Gunung, Janda Disarfat. Justru saat-saat mereka tidak mampu secara fisik, ekonomi, ketika mereka harus bergumul untuk hidupnya, antara hidup dan mati (bahkan hampir mati). mereka ditantang untuk memberkati, memberi pertolongan. Dan ketika mereka melakukannya..........apa yang mereka dapatkan. Diberkati dengan luar biasa.

Aplikasi:
Bapak, Ibu Sdr. Benar Nats Firman Tuhan ini ” ....................(Maz. 126: 5-6)

Inilah janji pemulihan yang Tuhan berikan bagi saudara dan saya di tahun yang baru 2009. Namun janji ini menyatakan kepada kita, bahwa kita perlu menabur terbelih dahulu, sekalipun disertai dengan cucuran air mata. sebab pada akhirnya kita akan menuai dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkatnya.

Bapak, Ibu Sdrku Mahasiswa,
Tahun 2009 adalah tahun Samekh Teth, dalam kalender Yahudi tahun 5769, memiliki arti profetis sebagai waktu umat Tuhan berbuah-buah. Teth berarti rahim, artinya inilah waktunya untuk kita menerima sukacita besar setelah menderita mengandung. Apa yang tidak pernah didengar, yang tidak pernah dilihat, yang tidak pernah timbul dalam hati akan dilahirkan oleh orang-orang yang mengasihi Tuhan. Sama seperti seorang ibu yang sedang dalam proses melahirkan. Mereka merasa kesakitan yang sangat amat, namun setelah anak yang dikandungnya dilahirkan, maka lenyaplah seluruh kesakitannya dan sukacita yang tidak terkatakan akan meliputi, memenuhi hatinya.

Demikian juga sewaktu kita melahirkan berkat Tuhan, melepaskan berkat yang Tuhan sudah berikan bagi kita, maka masa-masa sulit saat dimana kita menabur sebelumnya tergantikan dengan sukacita yang melimpah dalam hati kita.

Bapak, Ibu Saudraku Mahasiswa, persiapkanlah diri kita untuk memasuki tahun yang baru 2009, dengan meresponi dengan baik Firman Tuhan pada perayaan Natal kita hari ini. Bukan hanya menjadi pedengar, namun menjadi pelaku Firman. Marilah kita memberkati dan menyenangkan hati Tuhan Yesus yang sudah menyelamatkan nyawa kita, yaitu dengan perkataan, perbuatan dan juga dengan pemberian yang berupa harta yang kita punyai, bagi sesama dan bagi Tuhan Yesus.

Sebab kita tidak membawa apa-apa ke dalam dunia. Dan pada akhirnya akan kita tingal semua. Oleh sebab itu harus kita katakan: Inilah yang kupunya, hati sbagai hamba, yang mau taat dan setia padamu Bapa. Kemana kan kubawa hati yang menyembah, Tuhan Yesus memberkati. Amin.


Salatiga, 8 Desember 2009





















Natal Tanpa Yesus (Christmas without Christ)
Bacaan : Lukas 12: 1-5
Nast : Lukas 12: 5:
“ Aku akan menunjukkan kepadamu siapa yang harus kamu takuti”

Pendahuluan
Peringatan khusus bagi murid-murid!!!
Apa yang sebenarnya terjadi?
Dalam ayat 5, Yesus mengatakan Aku. ”Aku akan menunjukkan kepadamu siapa kamu harus takuti”.

Bapa, Ibu Sdr yang dikasihi Tuhan Yesus!!
Allah adalah satu-satunya yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh manusia di Gehana. Perkataan ini menyiratkan bahwa rasul yang diutus oleh Tuhan tidak tahan menderita penganiayaan. Mereka akan didisiplin oleh Allah. Dididiplin ini akan terjadi pada zaman yang akan datang, setelah penghakiman pada tahta pengadilan Kristus, ketika kaum beriman menerima pahala atau penghukuman (2 Kor. 5: 10 dan Wahyu 22:12)

Natal Tanpa Yesus
Bapak, Ibu Sdr. Ini terjadi!!!
Sebuah survey yang diadakan pada tahun 2002 menemukan sebuah fakta yang ironis mengenai perayaan natal dalam media televisi pada masa modern ini. National Religious Broadcasters (Lembaga Penyiaran Tayangan Religius Nasional) di Amerika menganalisa 48.000 jam program seputar natal pada Desember 2002 lalu. Hasilnya adalah bahwa 90% tayangan seputar natal tersebut sama sekali tidak memiliki sangkut paut dengan hal kerohanian. Ada juga sekitar 7% tayangan bernuansa rohani, tetapi sama sekali tidak menyinggung langsung mengenai Tuhan Yesus yang lahir. Sisanya menunjukkan bahwa hanya 3% program televisi bertema natal yang memfokuskan tema pada Tuhan Yesus. Hanya 3%! Betapa ironis. Lalu, dimanakah Tuhan Yesus dalam 97% tayangan bertema natal lainnya? Entahlah.
Mengapa demikian?
Yang jelas, telah sangat nyata bahwa sesungguhnya banyak orang merayakan natal hanya sebagai sebuah perayaan, kesenangan, momen nostalgia, masa liburan yang menyenangkan. Natal dilewatkan sebagai sebuah masa bersenang-senang. Banyak orang menikmati natal tanpa Tuhan Yesus. Tanpa merasa perlu tahu atau merenungkan kembali kelahiran bayi natal. Natal tanpa Tuhan Yesus, itulah ironisnya yang banyak terjadi dewasa ini. Ada ketakutan yang mendalam, kalau mereka terlalu menyolok. Takut kehilangan pamor, keuntungan secara Finansialnya menurun dan takut tidak mengikuti perkembangan zaman. Maka apa yang terjadi?
Ironis!! Amerika:
Yerusalem Kecil
Kota musik dan Kota Alkitab
Perintah yang besar.
dll yang bagus-bagu dan hebat-hebat dari Amerika.
Tetapi ini kenyataan.
Organisasi Gallup yang terpandang ini telah mengumpulkan pendapat umum orang Amerika mengenai ribuan topik selama puluhan tahun. Dalam bidang Agama, jejak pendapat menunjukkan bahwa orang Amerika pada umumnya menggambarkan diri mereka sebagai orang yang beragama, dan mayoritas mengidentifikasikan dirinya sebagai orang Kristen.

Tetapi pendapat umum itu juga memperlihatkan bahwa orang-orang (termasuk mereka yang mengganggap dirinya orang Kristen) herannya tidak mengindahkan Alkitab, tidak mengenal tokoh-tokoh penting dan pengajaran Alkitab.

Perbedaan ini menjadi jelas dalam pengumpulan pendapat selama puluhan tahun. Ya, orang Amerika itu (atau mengaku) beragama. Tidak, mereka tidak tahu banyak tentang Alkitab.

Apa yang terjadi dengan mereka saat ini? Apa kata Alkitab?
Pahala atau penghukuman yang mereka terima?

Bagaimana dengan kita yang akan mempersiapkan Natal?

Dimanakah Yesus akan kita tempatkan? Itu yang akan membuat NATAL itu menjadi berkat bagi kita dan semua. Amin.

































































Berani Bermimpi
Apa yang bisa dilakukan seorang pemuda untuk mendapatkan sebuah rumah tanpa memiliki pekerjaan yang baik dan keuangan yang buruk?
Kyle MacDonald, seorang pemuda dengan kondisi seperti itu, suatu hari sampai pada sebuah rencana yang tidak pernah dipikirkan oleh siapapun sebelumnya. Ide gilanya adalah mengubah satu klip kertas berwarna merah menjadi sebuah rumah permanen bagi dirinya. Mungkinkah? Mungkin, sebab ia berhasil melakukannya.
Pertama ia memasukkan foto klip kertas merahnya dan mulai mencari orang yang ingin bertukar barang dengannya. Pertama sekali, ia berhasil menukar klip kertas merahnya dengan sebuah pena berbentuk ikan. Kemudian, ia menukar pena bentuk ikan itu dengan sebuah gagang pintu. Gagang pintu kemudian ditukar dengan sebuah perapian sederhana. Perapian itu ditukarnya dengan generator elektrik. Generator itu ditukarnya lagi dengan tanda minuman alkohol Budweiser dan sedrum bir—yang kemudian ditukarnya dengan mobil salju. Dan tepat setahun dan 14 pertukaran via internet kemudian, ia menukar sebuah peran pembantu di sebuah film Hollywood dengan sebuah rumah di Kanada.
Kisah nyata Kyle ini dituliskannya dalam sebuah buku berjudul, “One Red Paperclip”. Bukunya sekarang sedang dibuat menjadi film. Ketenaran, banyak uang, sebuah buku, sebuah film dan sebuah rumah—semua Kyle dapatkan hanya dengan modal sebuah klip kertas merah dan “iman”-nya.
Sungguh sulit dipercaya memang. Terdengar terlalu berlebihan mungkin. Tetapi saya percaya iman percaya kita akan sebuah kebangunan dan perubahan adalah serupa dengan klip kertas merah tersebut. Tuhan Yesus berkata jika kita memiliki iman sebesar biji sesawi, maka kita akan mampu memindahkan gunung (Mat. 17:20). Biji sesawi sangat kecil, masih lebih kecil dari klip kertas merah tersebut. Tetapi Tuhan Yesus berkata jika saja kita memiliki iman dan berani bermimpi sebesar apapun bagi Tuhan, “Tidak ada yang mustahil bagimu!”.



































Bersukacita adalah Sebuah Pilihan
14 Mei 1988, semua koran lokal di Kentucky memberitakan mengenai sebuah kecelakaan bus yang hebat dimana 24 anak-anak dan 3 orang dewasa meninggal dunia. Kecelakaan itu disebut sebagai “kecelakaan terburuk akibat pengemudi mabuk di dalam sejarah Kentucky”. Yang menyedihkan lagi adalah kenyataan bahwa bus itu membawa sekelompok anak-anak muda dari Gereja Sidang Jemaat Allah setempat.
Seorang saksi yang selamat dari kecelakaan itu mengisahkan tentang apa yang terjadi dalam kecelakaan yang mengerikan itu. Seorang korban bernama Chuck Kytta adalah seorang pengerja gereja dalam pelayanan kaum muda. Chuck duduk persis di belakang supir ketika kecelakaan terjadi, tepat di atas tangki bahan bakar. Tidak heran jika hanya dalam hitungan sepersekian detik ketika tabrakan terjadi, sekujur tubuh Chuck langsung menyala terbakar api. Api itu begitu hebat melalap dirinya yang tidak langsung meninggal seketika.
Yang luar biasa adalah, saksi itu berkata, ketika Chuck tersadar bahwa pakaian dan tubuhnya sudah dilalap api, Chuck memandang ke langit-langit dan berkata dengan nyaring, “Jesus, I’m coming home!” (Tuhan Yesus, aku pulang!). Beberapa anak lain yang selamat bahkan bersaksi bahwa Chuck tersenyum ketika api itu perlahan melahap tubuhnya.
Bayangkan kejadian itu. Chuck yang tubuhnya sudah menyala dilalap api, begitu menderita dan begitu sakit panas pastinya, namun justru begitu terfokus pada Tuhan. Begitu nampak bersukacita. Ia tersenyum. Ia sudah memilih untuk bersukacita pada akhir hidupnya yang tragis.
Ninie Hammon adalah seorang eksekutif editor harian The Southeast Outlook di Louisville, Kentucky; namun pada 1988, ia hanyalah wartawan di sebuah perusahaan koran kecil. Ninie Hammon yang menuliskan kesaksian itu begitu sulit percaya. Bertahun-tahun kemudian Ninie menulis, “Saya bukanlah seorang Kristen pada tahun 1988 itu, karena itu saya sama sekali tidak habis pikir apa yang sesungguhnya Chuck lakukan. Ia seorang pemuda biasa yang sering dipanggil “Banana (pisang)”—berdiri dengan tubuh dilahap api menjelang kematiannya, tetapi dia tersenyum?”
Bagaimanapun Ninie mencoba, ia tidak dapat menghapuskan bayangan peristiwa itu dari benaknya. Dua tahun mencari penjelasan, pada akhirnya Ia bertobat dan menjadi Kristen, setelah Ia menemukan bahwa Tuhan Yesuslah satu-satunya alasan dimana kesukacitaan semustahil itu bisa terjadi.
Sukacita adalah pilihan untuk dilakukan. Bukan rasa yang harus dicari.












Hati Memberi
Pada tahun 1884, seorang gadis kecil bernama Hattie May Wiatt berdiri dan menangis di luar pintu gereja baptis kecil di Philadelphia, Pennsylvania. Ia berusia 8 tahun dan ingin ikut Sekolah Minggu, tetapi gerejanya kecil dan penuh sesak. Ia menangis dan terpaksa berjalan pulang ke rumah tanpa dapat masuk ke gereja itu.
Ketika itu Russell Conwell, seorang pendeta perang sipil datang dan menggendong Hattie yang masih menangis dan mendudukannya di sudut ruangan yang gelap. Sejak itu, setiap kali Russell melihat Hattie, Ia berjanji akan membuat ruang SM yang lebih besar supaya teman-teman Hattie juga beroleh tempat dan kesempatan untuk mendengar tentang Tuhan Yesus.
Dua tahun kemudian, Hattie meninggal dunia. Seseorang mengangkat tubuhnya yang kurus dari tempat tidur dan menemukan sebuah dompet yang kusut. Di dalam dompetnya terselip uang 57 sen dan sebuah kertas catatan bertuliskan, “Uang ini untuk membangun gereja menjadi lebih besar supaya anak-anak dapat datang ke Sekolah Minggu.” Dengan menangis sambil membaca catatan itu, Russell berdiri di hadapan jemaatnya dan menantang mereka untuk memberi agar dapat membangun gedung SM yang besar.
Respon yang luar biasa terjadi, jemaat mulai tergerak untuk memberi karena begitu tersentuh dengan hati Hattie yang begitu tulus dan memberi bagi Tuhan. Begitu dimulai pengumpulan dana tersebut, segera dalam waktu singkat terkumpullah uang dengan berlimpah—sampai akhirnya mereka tidak hanya dapat membangun sebuah gedung Sekolah Minggu yang besar, tetapi juga gedung gereja yang baru yang lebih besar, klinik kesehatan masyarakat, ruang kursus dan ruang penggembalaan.
Tahun 1912, Russell Conwell berkhotbah tentang berkat Allah yang terus melimpah karena uang 57 sen pemberian Hattie. Nama gereja diubah menjadi Temple Baptist Church. Kliniknya terus bertumbuh dan saat ini menjadi rumah sakit terbesar di Philadelphia yang melayani ribuan pasien setiap tahun. Ruang kursusnya berubah menjadi Temple University yang juga kini menjadi universitas terbesar di Pennsylvania.
















Selalu Bersyukur
Suatu kali ada seorang raja yang senang sekali berburu jauh dari kerajaannya. Dalam setiap perjalanan berburu, ia selalu didampingi oleh penasihat dan pengawalnya. Suatu hari dalam sebuah perburuan, entah bagaimana, sang raja mengalami kecelakaan yang mengakibatkan jari kelingking kirinya terputus karena anak panah. Sang raja merasa begitu sakit dan jengkel luar biasa walaupun hal itu terjadi karena kelalaiannya sendiri. Untuk menenangkan hati sang raja, si penasihat berkata pelan kepadanya, “Sudahlah Raja, tentu ada maksud yang baik dari segala peristiwa buruk. Bersyukurlah setidaknya Raja tidak mengalami bencana yang mengancam nyawa Raja.” Mendengar hal itu, bukannya tenang, sang raja justru begitu marah dan memerintahkan si penasihat untuk di penjara. “Lihatlah, apa yang baik bagimu jika engkau dipenjara.”
Maka raja pun kemudian mendapatkan seorang penasihat baru untuk mendampinginya. Setelah lewat beberapa masa, raja pun kemudian berangkat berburu lagi dengan didampingi oleh penasihat baru dan para pengawalnya. Kali itu pun terjadi hal yang mengerikan. Sang raja dan rombongannya tanpa sadar memasuki sebuah wilayah perkampungan suku asing. Dalam pertempuran, seluruh pengawal terbunuh sehingga raja dan penasihat pun tertangkap.
Tak disangka, suku asing itu memiliki ritual kepercayaan mempersembahkan orang-orang asing bagi dewa yang mereka sembah dengan cara dibakar hidup-hidup. Maka disiapkanlah sebuah upacara untuk mempersembahkan sang raja dan si penasihat. Begitu ketakutanlah sang raja dan penasihatnya mengetahui hal itu. Namun, ketika segala sesuatunya sudah siap, seluruh anggota suku sudah siap, pembakaran sudah siap; beberapa orang suku asing itu mengetahui bahwa salah satu dari orang yang akan mereka persembahkan tidak memiliki jari yang lengkap. Lalu mereka pun melepaskan sang raja, dan hanya membakar si penasihat.
Singkat cerita, sang raja sampai pulang ke kerajaannya dengan begitu bersyukur. Ia teringat dengan perkataan penasihatnya yang dipenjara, dan menyuruhnya dilepaskan. Raja bahkan memberikan jabatan penasihat itu kembali padanya. Sang raja tersenyum dan berkata, “Benar apa yang kau katakan. Dulu aku begitu marah kehilangan satu jariku, namun sekarang aku tahu bahwa sepatutnya bersyukur untuk hal itu. Jika saja aku tidak kehilangan jariku, aku pasti sudah mati.” Si penasihat menjawab, “Terima kasih Baginda telah memenjarakan hamba selama ini.” Raja kaget dan bertanya, “Apa maksudmu?” “Jika saja Baginda tidak memenjarakan hamba, maka pastilah hamba yang sudah mati dibakar oleh suku asing itu.”





















Tertolong karena Menolong, Diberkati karena Memberkati
Dua orang pendaki gunung berjalan pulang dari puncak gunung karena cuaca sangat buruk dan dingin. Di tengah jalan, ketika mereka hampir tidak dapat lagi bertahan, tiba-tiba mereka menemukan seorang pria lain yang tergeletak sendirian—hampir mati kedinginan.
Pria yang satu terus berjalan karena ia berpikir bahwa tidak mungkin ia menghabiskan sisa tenaganya untuk menolong orang tersebut. Ia sendiri saja sudah hampir mati.
Sebaliknya, pria yang satunya lagi dengan susah payah meggendong orang tersebut di punggungnya. Tentu saja hal itu membuatnya tertinggal jauh di belakang temannya yang berjalan tanpa beban.
Setelah beberapa jam terus berjalan, pria yang menggendong itu menemukan temannya telah lebih dahulu berjalan turun gunung tanpa beban. Apa yang terjadi? Temannya itu telah mati kedinginan. Frostbite.
Pria kedua yang menolong orang tersebut justru bertahan dengan selamat sampai ke kaki gunung. Mengapa? Kok bisa?
Karena sesungguhnya pertolongan yang diberikannyalah yang membuatnya selamat. Dengan menggendong pria sekarat itu di punggungnya, ia mendapatkan panas tubuh dari pria yang digendongnya itu. Ia tertolong karena menolong.
























Merindukan Perubahan
Majalah Time Asia edisi 5 Agustus 2002 merupakan edisi yang sangat menarik. Topik utama edisi itu tertulis sangat menonjol pada covernya, “Changing Faces”, dengan foto seorang wajah seorang wanita yang dikelilingi oleh bermacam peralatan bedah—gunting, pisau kecil, pisau iris, dsb. “Changing Faces” atau Mengubah Wajah, itulah topik utama edisi itu—mengulas secara detil mengenai tren operasi plastik atau operasi kecantikan di Asia. 
Hasil penyelidikan Time menunjukkan betapa banyaknya orang—baik pria maupun wanita—yang berkonsultasi kepada dokter atau ahli kecantikan untuk memperbaiki penampilan fisiknya. Operasi kecantikan di Asia menjadi booming pada tahun-tahun belakangan ini.
· Di Taiwan saja ada sekitar satu juta prosedur operasi kecantikan yang dilakukan pada tahun 2001.
· Di Korea, para ahli bedah memperkirakan sedikitnya satu dari sepuluh orang dewasa menerima operasi perbaikan penampilan fisik
· Masyarakat Jepang menghabiskan sedikitnya 100 juta dolar US setahun untuk memperbaiki penampilan
· Indonesia (pada tahun 2002) hanya memiliki 43 ahli bedah plastik yang berlisensi atau yang diakui, namun di ibukota Jakarta saja sedikitnya terjadi 400 prosedur operasi ilegal untuk memperbaiki penampilan dengan menggunakan silikon.
· Yang lebih hebat lagi… Thailand. Pemerintah Thailand saat ini mendukung adanya tur bagi kaum wisatawan untuk melihat dan mencoba operasi plastik. Ada tur khusus untuk itu!
Satu kalimat dalam artikel itu sangat menarik perhatian. “What we won’t do for beauty”—apa yang tidak akan kita lakukan demi kecantikan?  Di Asia dan di seluruh dunia semua orang berupaya untuk mendapatkan penampilan terbaiknya.
Setiap kita selalu berusaha membeli baju yang bagus untuk kita kenakan, kita menggunakan shampo ini, sabun itu, odol pemutih gigi ini, parfum itu, lipstik ini, bedak itu, dst… hanya dengan satu tujuan.. menutupi “kekurangan” atau “kejelekan” kita. Kita ingin menjadi “manusia baru” yang lebih cantik, lebih gagah, lebih tampan, lebih menarik; namun sesungguhnya tidak ada yang dapat kita lakukan untuk mengubah “diri” kita dalam natur dan keberadaan dasarnya. Kita hanya menutupi permukaan luar diri kita saja. Tidak lebih.






























MENDENGAR DAN BERDIAM DIRI
TERLETAK KEKUATAN, PERTOLONGAN DAN BERKAT

Bacaan : Yesaya 41: 1-7
Nats. : Yesaya 51: 3:
“Sebab Tuhan menghibur Sion, menghibur segala reruntuhannya. Ia membuat padang gurunnya menjadi taman eden, dan padang belantaranya menjadi taman Tuhan. Disitu terdapat kegirangan dan sukacita, nyanyian syukur dan lagu yang merdu”

Mengapa,
Apakah Allah tidak mendengar? Apakah Allah salah?

I. Pendahuluan
Ilustrasi :Tuhankah yang Salah?
Pada suatu hari dengan wajah cemas seorang suami berkunjung ke dokter keluarga dan berkata, “Pak Dokter, saya kuatir istri saya mulai tuli pendengarannya.” Dokter bertanya bagaimana ia mengetahui bahwa istrinya mulai tuli, jawabnya, “Akhir-akhir ini jika saya panggil atau berbicara kepadanya ia sering tidak menyahut.”
Lalu si dokter pun menasehatinya, “Coba anda pulang dan test apakah ia benar-benar tuli. Caranya berbicaralah kepadanya dari jarak 5 meter, 3 meter, 2 meter hingga berdiri di sampingnya. Setelah itu kita akan mengetahui hasilnya.”
Si suami lalu pulang ke rumah, menemukan istrinya sedang memasak di dapur. Dari jarak 5 meter ia bertanya, “Bu, malam ini kita masak apa?” Tidak ada jawaban. Lalu ia mendekat dan bertanya lagi, “Bu, malam ini kita makan apa?” Tidak ada jawaban. Ia makin mendekat sekitar 2 meter, bertanya lagi dan masih tidak respon. Ia melangkah lagi mendekat, tinggal berjarak satu meter, “Bu, malam ini kita makan apa?” Ia begitu sedih merasa istrinya sama sekali tidak mendengarkannya. Akhir ia berdiri tepat di samping istrinya dan berteriak, “Bu, malam ini kita makan apa?”
Sang istri berbalik, menatapnya sebentar dengan muka aneh, lalu berkata lantang sekali, “Untuk kelima kalinya kukatakan kepadamu! Nanti kita makan ayam goreng!”
Dalam hidup ini kita mungkin mudah berpikir bahwa Tuhan Allah itu tidak mendengarkan kita, tidak terlalu peduli pada kita, hanya menuntut dan menuntut kita mengerjakan kehendakNya.
Dalam bacaan kita tadi, setelah bangsa Israel mendengar Firman Allah dan berdiam diri untuk berdoa, maka ada 5 bahkan lebih berkat Allah yang diberikan: Mari kita liat sama-sama, dan saya rindu, berkat Allah itu juga menjadi bagian kita. Yaitu apabila kita mau.......
II. Pembahasan.
” Mendengar dan berdiam diri” Ayat 3, ayat 1:
Dengan mendengar dan berdiam diri bangsa Israel:
ayat 1 Mendapat kekuatan baru
ayat 2 Mendapat kemenangan yang luar biasa:
- Pedangnya membuat musuhnya seperti debu
- Panahnya membuat mrk seperti jerami yg tertiup
Ayat 3 membuat berhasil, walaupun jalan iku belum pernah dilaluinya.
Seperti pohon yang ditanam ditepi aliran air, Yeremia 17:7-8, Oleh Pemazmur, semua yang dilakukannya berhasil. (Maz. 1:3)
Ayat 4 Tuhan tetap menjadi Tuhan mereka. Yosua 24: 20, Berbalik dari Tuhan, Tuhan akan melakukan yang tidak baik.
ayat 6 dan 7 Menjadi berkat bagi orang lain.
- Yang seorang menolong yang lain,
- Tukang besi menguatkan hati tukang emas.

III. Kesimpulan,

Dalam hidup ini kita mungkin mudah berpikir bahwa Tuhan Allah itu tidak mendengarkan kita, tidak terlalu peduli pada kita, hanya menuntut dan menuntut kita mengerjakan kehendakNya. Padahal kita merasa Tuhan tidak memberikan kepada kita kekuatan. Kita pikir Tuhanlah yang salah karena tidak memberikan kita kekuatan. Padahal, sesungguhnya kitalah yang terlalu jauh dari Tuhan. Telinga rohani kitalah yang bermasalah. Mata rohani kitalah yang dibutakan oleh dosa.
Oleh sebab itu, dengarkanlah FirmanNya, dan berdiam diri untuk berdoa, maka kekuatan , dan berkat akan mengalir dalam kehidupan kita, walaupun kelihatannya mustahil. Bagaimana bisa tukang besi, bisa menasehati hati tukang emas, kalau bukan karena berkat Allah yang memampukan mereka, karena mendengar dan berdiam diri untuk berdoa.
Bagaimana jalan yang belum dilalui bisa membawanya berhasil? Karena Tangan Tuhan yang terulur.
Masilah kita mendengar, dan berdiam diri. Kita menyerahkan segala beban dan persoalan hidup ini kepada Tuhan .
IV. Penguatan:
Yesaya 51: 3:
“Sebab Tuhan menghibur Sion, menghibur segala reruntuhannya. Ia membuat padang gurunnya menjadi taman eden, dan padang belantaranya menjadi taman Tuhan. Disitu terdapat kegirangan dan sukacita, nyanyian syukur dan lagu yang merdu”






































Renungan:

CERDIK SEPERTI ULAR
DAN
TULUS SEPERTI MERPATI

Bacaan : Matius 10:16-20
Nast. : Matius 11:28
”Marilah kepadaKu semua yang letih lesu dan
berbenan berat, Aku akan membri kelegaan kepadamu”

Pendahuluan
Banyak orang tahu pepatah Alkitab ini ”Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati”. Bahkan kadang kita menggunakan pepatah ini sebagai alasan untuk membenarkan suatu tindakan yang kita lakukan.

CERDIK SEPERTI ULAR DAN TULUS SEPERTI MERPATI
Apa artinya semua ini?
Apa yang ada dibalik pepatah itu?
Apakah nilai dari pepatah itu? dan
Bagaimana pepatah itu dapat membekali seseorang, khususnya dalam setiap pelayanannya?

Pembahasan:
Cerdik seperti ular......
Ular menurut Kej. 3:1, adalah binatang yang paling cerdik dari segala binatang darat yang dijadikan Tuhan Allah. Maka saya yakin, Tuhan Yesus tidak salah. Dia Tuhan. Tuhan Yesus memakai ular sebagai referensi, contoh dalam hal kecerdikan, kecerdasan, kepandaian untuk memenangkan suatu kejahatan, karana kecerdikan ular:
Mampu berganti kulit secara periodik.. Menghilangkan pengaruh-pengaruh buruk yang memempel ditubuhnya dan diganti dengan yang baru dari dalam didinya, sehingga tetap sehat luar dan dalam (Jasmania dan rohaninya) Ular dipakai sbg lambang kesehatan
Kemapuan untuk mendeteksi mangsa dengan penglihatan infra merah dan penciuman yang sangat tajam. Ular peka terhadap segala kemungkina yang akan mengancam keselamatan dirinya tahu kelemahan-kelemahan musuh.
Ular tahu tempat-tempat yang aman
.
Tulus seperti Merpati
Merpati atau burung dara tulus:
Anatomi, merpati tidak mempunyai empedu.
(Dalam hatinya tidak memiliki sumber atau akar kepahitan. Hatinya murni.). Tidak ada kepalsuan sedikitpun. Tidak menyimpan benih-benih kepahitan.
Mampu terbang berkilao-kilaometer jauhnya, tetapi kembali
keempat asalnya dibesarkan. Sebagai lambang PT
Pos, karena dapat diamdalkan dlm tugasnya.
Merpati bertanggung jawab. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, bukan hanya untuk kesenangannya sendiri, tetapi mau memabagi. Lambang kedamaian. Merpati juga sebagai lambang kehadiran Roh Kudus.

Dalam kehidupan kekristenan, khususnya ketika diperhadapkan dengan masalah-masalah dalam pelayanan, Pepatah ini harus diterapkan, bahkan Tuhan Yesus tekankan : “Hendaklah......:
Hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Dalam menghadapi permasalahan kita harus memilki hati yang tulus, murni (seperti merpati) Tidak memiliki akar kepahitan dalam hati kita. Dan harus cerdik, cerdas, pandai (seperti ular) dapat menguasai keadaan dan memenangkannya dengan intelektual, talenta , kemulian, dan Kuasa Roh Kudus.

Rasanya dengan hal-hal yang saya sampaikan di atas tidak salah, jika Yesus menghendaki kita cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati dalam segala hal. Dalam bahasa kerennya. ”pake hikmat” dalam segala hal. Ingat berkat dari hikmat dalam Amsal 3: 16. Tangan kanan: umur panjang, tangan kiri kekayaan dan kehormatan.
Sampai disini mungkin belum cukup. Kenyataan yang kita hadapi di tempat pelayanan, ada perbagai masalah. Dan banyak masalah, yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan kecerdikan dan ketulusan hati. malah semakin banyak. Tetapi ini kesempatan. Sebagai suatu kesempatan untuk bersaksi (Lukas 21:13).

Aplikasi:
Terus bagaimana? Akan menyerah atau mengadakan pembelaan, dengan perlawanan?

Apakah artinya cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati, dalam kontek Yesus Sebagai Gembala yang mengutus kita sebagai domba ke tengah srigala (Matius 10: 16).

Sedikitnya tiga hal yang harus kita pahami dan kita percaya:
Pertama, Domba tidak diutus sendirian, tetapi berjalan bersama Gembala (Matius 28: 19-20) .........”Aku akan menyertai kamu sampai kesudahan jaman”. Sebelum Tuhan Yesus meninggalkan murid-muridNya, Ia berkata: “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku akan datang kemali kepadamu (Yoh. 14: 18) Dan Ia mengutus Peniolong yang lain, yaitu Roh Kudusyang dicurahkan pada hari pentakusta.
Kedua, Ketika srigala datang mengancam kita. Sebagai domba harus cerdik seperti ular, berlindung pada Sang Gembala. Mencari tempat yang aman. Balas kejahatan dengan kebaikan. Kita tidak membalas dengan kejahatan.
Ketiga, datanglah kepada Tuhan Yesus dengan ketulusan hati seperti merpati yang tahu jalan kembali kepada asalnya, yaitu Tuhan, Gembala kita yang Agung. Seperti ular yang tahu tempat-tempat yang aman.

Penutup:
Kita datang kepada Tuhan Yesus dengan percaya sepenuhnya, bahwa hanya Dia yang sanggup melindungi kita dari segala kejahatan. Dan kita akan mendapat ketenangan. Tuhan Yesus berkata:
” Marilah kepadaKu semua yang letih lesu dan berbenan berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikulahkuk yang Kupasang, dan belajarlah kepadaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati, dan jiwamu akan mendapatkan ketenangan”.(Matius 11: 28-29).

Semarang, 19-22 Oktober 2009
Diklat Guru PAK SD TK Lanjut
Teriring Salam dan Doa
T.SKM
Sumber:
Alkitab
Mana Surgawi Juli 2009, No. 136 thn XII, Minggu 5 Juli 2009
Mana Surgawi September 2009 No. 139, Thn XII, Rabu, 30 September 2009
Internet; http// Forumkristen.com/komonitas/index php?topic=1509.0, Mey 05, 2008.
Konkordansi Alkitab , BPK-Kanisius 1978
Lingkungan social dan Pengalaman.
Kompetensi Penulis.






KETAATAN YANG MEMBAWA BERKAT

Bacaan : Lukas 5:1-11
Nats. Luk. 5: 5

“ ……….Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa. Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga “Ketaatan yang seperti apa yang mendatangkan atau membawa berkat:

Ayat 3:
Mau memberi, walaupun, merkipun. Biarpun.
Mau berkorban tanpa pamrih sedikitpun.
Taat Ayat 5:
Mengapa simon melakukan apa yang dikatakan Yesus?

Di dalam alkitab kita tidak menemukan jawaban, tetapi jawaban petrus ayat 5, mengadung beberapa pengertian yang sangat dalam. Mungkin kita setuju: Mungkin karena keputusasaan......Sepanjang malam kami bekerja keras. Kami, tetapi karena engkau...... Aku (SIMON) yang ambil sikap/ keputusan.
Dalam buku Guncangan Ekonomi Dahsyat: Kita temukan beberapa kebenaran yang sebenarnya. Siapapun tidak akan melakukan tindakan sekonyol simon.
Nama simon, dalam bahasa Ibrani nama simon bermakna : mendengarkan dan akar katanya berarti mendengarkan dengan penuh perhatian. Seorang pendengar yang baik. Bahkan Sinom bukan hanya seorang pendengar yang baik, tetapi pelaku Firman (Yak. 1:25)
Prinsip yang lain, perkataan harus disertai perbuatan. Ikan-ikan dalam jumlah yang banyak tidak muncul begitu saja dalam perahu. Sbg tanggapan Petrus, harus mendayung perahu ketengah, melempar jala, dan menarik jala yang berat.
Ukuran Danau sekitar 166 kilometer persegi dan dalamnya 46 meter, panjang (Utara selatan) 23 kilometer, sedangkan lebar (timur barat )11 Kilometer. Waktu yang sangat tidak tepat. Disaat lelah, dan tertekan, harus mendayung 10 kilometer
Penentu waktu yang salah, tempat yang salah dan penasehat yang salah.
Waktu = pagi, bahkan sudah mau siang
Tempat = Tengah danau (Disiang hari ikan berada di tepi atau pinggir Danau. Mencari tempat yang hangat dan makanan.
Orang = Tukang kayu.
Hasilnya?
Ketika Simon merelakan apa yang dia punya, walaupun dalam kesusahan, kekurangan dan keputusasaan. Apa yang dia berikan? Perahunya untuk dipakai Yesus mengajar. Sisa tenaganya, mendayung perahu lagi walaupun hanya dekat.
Tuhan Yesus mengetahui pergumulan petrus, Ia peduli terhadap masalah yang dihadapi Simon..........
Ketaatan Simon membawa berkat yang luar biasa. Bukan hanya berkat jasmani (ikan) , tetapi terlebih Dia dipercaya untuk menjadi salah satu ”Penjalan manusia”. Hamba Tuhan. Dan hanya Simon yang diberi kedudukan khusus dalam pelayanan, yaitu menggembalakan kawanan Domba. Tuhan Yesus berkata, karena Petrus mengasihi Allah, ” Gembalakanlah domba-dombaKu”
Petrus memilih yang tepat, Ia meninggalkan jalanya dan mengikut Dia. Panggilan yang paling mulia, menjadi saksi Kristus. Menjadi pelayan Allah.
Bapak, Ibu saudara ingin diberkati Tuhan? Langkah awal........Berilah. Tuhan Yesus berkata Berilah, maka kamu akan diberi.. kedua, Taat, bukan karena, sebab, ataupun supaya. Tetapi taat walaupun, meskipun, biarpun.......
Memasuki bulan Desember, Allah menguji iman kita. Pendengaran kita. Apakah kita mau menjadi pendengar yang baik. Pendengar yang penuh perhatian, yang pada akhirnya mau memberi, walaupun, meskipun, biarpun..... hasilnya kita belum tahu. Seperti kepada Simon, hal yang sama akan terjadi kepada kita. Ia mengerti, Ia peduli dan Dia pasti memberkati. ”Sebab kamu tahu, bhawa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia. Amin.

Teguran Tuhan

Ayub 5: 17-18
Sesungguhnya berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolakddikan yang Mahakuasa. Jkarena Dialah yang melukai, tetapi juga yang membebat; dia yang memukuli, tetapi yang tanganNya menyembuhkan pula.

Ibrani 11: 11
Memang tiaptiap ganjaran pada waktu dibewrikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita, Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebnaran yang memberikan damai kepada ereka yang dilatihnya.

I Raja-raja 19: 9-10 ; Apakah kerjamu di sini hai Elia?

SATU MENIT YANG MENGUBAH HIDUP

Bacaan : Matius 9: 35-38
Nast. : Amsal 27: 22-24
Kenallah baik-baik keadaan kambing dombamu, perhatikan kawanan hewanmu!! Karena harta benda tidaklah abadi, Apakah mahkota akan turun-temurun?

Pendahuluan
Ilustrasi /crita :Satu menit yang merubah hidup
Mengapa satu menit bisa mengubah hidup?

Pembahasan:
Firman Tuhan berkata: Amsal 27 :22-24:
Kalau mengenali permasalahan yang dihadapi
” Sekalipun engkau menumbuk orang bodoh dalam lesung, dengan alu bersama-sama gandum, kebodohannya tidak akan lenyap daripadanya. Oleh sebab itu ayat 23; Kenalilah baik-baik, mengetahui permasalahan yan dihadapi dan baru semua jurus dipakai.
Kalau mempunyai satu keyakinan atau satu cara pandang yang baru, yaitu :
a. Harta benda tidak abadi
b. Hahkota/ jabatan, kekuasaan/ kesuksesan dll itu tidakm turun temurun.
Menciptakan suatu hubungan yang baik.

Bapak, ibu yang dikasihi Tuhan Yesus. Bagaimana caranya supaya bisa mempunyai hubungan yang baik dengan orang lain, mengenal permasalahan yang mereka hadapi dan lebih-lebih dapat memiliki pandangan atau pikiran dan keyakinan, bahwa harta benda, tidak abadi dan jabatan atau kekuataan itu turun-temurun atau bisa diwariskan?

Mari kita lihat, Injil Matius 9: 23-38.
Apa yang dilakukan Yesus?
Berkeliling ke semua kota dan desa
Mengajar dan
Memberitakan Injil
Melenyakpan kelelahan (jemu, bosa, putus asa, tidak berdaya secara rohani, juga ekonomi) banyaknya masalah yang dihadapi, menjadi sangat lelah baik tubuh dan jiwa/ roh)

Kesimpulan:
Berkeliling ke semua kota dan desa, bisa mendapatkan atua tahu pemasalahan jemaat atau domba-dombanya yang sebenarnya:
Dalam ayat 36, setelah Yesus berkeliling: Melihat orang banyak itu tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan kepada meeka. Mengapa? Karena lelah dan terlancar seperti domba yang tidak bergembala.

Inilah tugas Bapak, Ibu dan saya. Untuk mengajar dan memberitakan Injil, diperlukan tindakan, yaitu berkelilin, melihat langsung, men jadi hubungan yang baik, mengenali mereka dan kita harus yakin bahwa harta benda tidak abadi dan mahkiota atau jabatan tidak bisa kita turunkan atawariskan.

Warisan yang paling berharga adalah iman. Melalui mengajaran dan pemberitaan Injil, iman akan muncul. Seperti tertulis dalam Roma 10: 17, Iman timbul dari perdengaran dan pendengaran oleh Firman Kristus. Supaya mereka medengar maka harus ada yang mau dipanggil dan diutus. Siapa?

Sekali lagi. Bukan orang yang diluar sana, Pendeta, Guru Injil. Tetapi kita semua. Kita harus mewariskan Iman kepada siapapun.
Tuhan Yesus berkata,, apa artinya memiliki semua, kalau jiwanya binasa? Karena tidak percaya tidak mempunyai iman?
Yohanes 3: 16, .........Barang siapa percaya kepadaNya, tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.

Mereka bisa dirubah....... kalau ada hubungan yang baik dengan mereka, kita mengenali mereka dan mereka sudah tahu jika harta benda tidak abadi (tidak dibawa mati) dan Mahkota, jabatan, kekuasaan tidak dapat diturunkan atau wariskan.
Bukan satu tahun, satu bulan, satu hari, satu jam........tetapi bisa jadi hanya satu menit. Mengapa tidak?







































































PELAYANAN MERUPAKAN SETAPAK MENUJU MAKNA YANG SEBENARNYA


Bacaan : II Tim 1 : 6- 14
Nats.` : II Tim 1:9 : „Dialah yang menyelamatkan kita dan
memangil kita dengan panggilan kudus, .......“

Pendahuluan
Surat II Tim. ditulis dari penjara di Roma pada masa tahanan yang ke-2, yaitu pada tahun 65. Kali ini keadaan di tempat tahanan lebih berat dibandingkan masa tahanan yang pertama tahun 60-62, karena pada masa itu ia diperkenankan tinggal dirumah kontrakannya sendiri (sbg tanahan luar). Tetapi pada masa tahanan ke-2 ia benar-benar berada dalam penjara (1:8), bahkan Ia dibelenggu (1:16) dan diperlakukan sebagai seorang penjahat (2:9).Paulus sudah menjalani persidangan pertama, dan Paulus menduga akan dihukum mati dalam waktu dekat (4:6). Semua teman-temannya sudah meninggalkan Paulus, kecuali Lukas.

Bapak, Ibu Sdr yang dikasihi Tuhan Yesus....
Dalam masa kesepian dan firasat kematian, Paulus amat merindukan kedatangan Timotius pada saat-saat terakhir hidupnya. Kerinduan akan Timotius serta anjuran kepadanya untuk setia dalam pelayanannya merupakan motif-motif utama dari penulisan II Tim.
(Paulus tidak jadi hukum mati. Sekali lagi ia dbebaskan, lalu ia pergi ke Spanyol (th 66). Ketika masih di Spanyol atau sekembalinya di Roma, Paulus dihukum mati (tahun 66/67).

Diselamatkan, dipanggil dan diperintahkan untuk melayani!!!!
Bapak, Ibu sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,
Pelayanan merupakan setapak atau selangkah menuju makna yang sebenarnya,................
Alkitab bercerita tentang 4 Pengemis buta (2 Raja-raja 7).

Mengapa melayani?
Diselamatkan untuk melayani Allah (2 Tim 1:9)
Alkitab mengatakan: ” Dialah yang menyelamatkan kita dan memilih kita untuk pekerrjaanNya yang kudus, bukan karena kita layak, melainkan karena itulah yang telah dikaruniakanNya”

Allah menebus kita, supaya kita bisa melakukan ”pekerjaan kudusNya”. Kita tidak diselamatkan oleh pelayanan, tetapi Kita diselematkan untuk untuk pelayanan.

Bapak, Ibu sdr yang dikasihi Tuhan Yesus, Dalam Kerajaan Allah,kita memiliki sebuah tempat, sebuah tujuan, sebuah peran, sebuah fungsi untukdilaksanakan. Ini memberi arti dan nilai yang luar biasa kpada hidup kita.

Yesus harus mengorbankan nyawaNya sendiri untuk membeli keselamatan kita. Alkitab mengingatkan kita: “Allah telah membeli kamu dengan harga yang sangat mahal. Kaena itu muliakanlah Allah dengan tubuhMu” (I Kor. 6:20). Lebih lanjut Rasul Paulus mengatakan kepada jemaat di Roma, supaya mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan....”

Bapak, Ibu, Sdr yang dikasihi Tuhan Yesus, ....
Istilah lain dalam bahasa Inggris untuk “melayani Allah” yang salah dimengerti oleh banyak orang adalah kata MINISTRI (Pelayanan sbg pendeta). Tetapi Allah berkata setiap anggota keluarga-Nya merupakan seorang pelayan (Ministri). Di dalam Alkitab, kata hamta (Servant) dan pelayan (Ministri) adalah sinonim, seperti hanya service dan ministry.

Jika kita seorang Kristen, kita merupakan seorang pelayan (ministry) dan kita melayani (service atau pun Ministry).
Contoh : Ibu Mertua Petrus.....Bangun dan mulai melayani Yesus....



Dipanggil untuk melayani
Alkitab mengatakan: Allah menyelamatkan kita dan memanggil kita supaya menjadi umatNyaa sendiri, Ia melakukan itu bukan berdasarkan apa yang ktia kerjakan, melainkan berasarkan rencanaNya sendiri ..(Fil.3: 14), dan Rasul petrus menambahkan...kamu dipilih untuk memberitakan sifat-sifat mulia Allah, yang memanggilmu...(I Pertus 2: 9).

Diperintahkan Untuk melayani (Mat. 20:28)
Bagi orang Kristen, Pelayanan bukan pilihan, sesuatu untuk dimaksukan ke dalam jadwal kita jika bisa menyediakan waktu. Pelayanan adalah inti kehidupan Kristen. Yesus datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk “melayani” dan “memberi”.

Bapak, Ibu Sdr yang dikasihi Tuhan Yesus....
Melayani dan memberi, dua kata kerja tersebut seharusnya menjadi ciri kehidupan kita. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kedewasaan rohani sendiri tidak pernah merupakan tujuan. Kedewasaan adalah untuk pelayanan!!! Kita bertumbuh untuk memberi. Tidak cukup kita hanya belajar dan belajar saja. Kita harus bertindak berdasarkan apa yang kta tahu dan menjalankan apa yang kita katakan , kita percaya. Belajar tanpa pelayanan menyebabkan kebekuan rohani.

Bapak, Ibu Sdr....yang dikasihi Tuhan Yesus...
Perbandingan lama. Antara Laut Gelelia dan laut mati masih berlaku.

Kesimpulan
Bapak, Ibu Sdr yang dikasihi Tuhan Yesus...
Pada akhri hidup kita di bumi akan berdiri dihadapan Allah dan Dia akan mengewaluasi seberapa baik kita melayani orang lain dengan kehidupan Kita. Alkitab berkata : “ Demikian setiap orang diantara kita akan memberi pertanggungjawaban tenang dirinya sendiri kepada Allah (Roma 14:12).

Bapak, Ibu Sdr.....
Suatu hari Allah akan membandingkan berapa banyak waktu dan tenaga yang kita gunakan untuk diri kita sendiri dangan apa yang kita berikan untuk melayani orang lain. Pada saat tersebut semua alasan kita untuk keegoisan kita akan terdegar hampa: ..........(apa kira-kira yang akan kita katakans ebagai alasan untuk tidak melayani orang lain?.....

Untuk semua alasan....Allah akan menjawab: “maaf, jawaban Saudara keliru..... Aku menyelamatkan, memanggilmu dan memerintahkanmu untuk menjalani kehidupan pelayanan.

Baak, Ibu Sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,
Alkitab memperingatkan orang-orang yang tidak percaya, : ‘Dia akan menumpahkan amarah dan murkaNya atas mereka yang hidup bagi dirinya mereka sendiri (Roma 2:8). Tetapi bagi orang Kristen itu akan berarti kehilangan upah kekal.

Kita hanya sepenuhnya hidup, bila kita menolong orang lain. Tuhan Yesus berkata:”Jika kamu mempertahankan nawanya, kamu akan kehilanga nyawanya. Jika kalian kehilangan nyawa demi Aku dan demi berita kesukaan, kalian akan dapat menikmati hidup. (Markus 8:35).

Bapak, Ibu Sdr.... kebenaran ini begitu penting,sehigga diulangi sampai 5 kali dalam Kitab-kita Injil. Jika kita tidak melayani, keberadaan Saudara tidak berarti. Pelayanan merupakan jalan setapak untuk makna selanjutnya. Karena kehidupan dimaksudkan untuk pelayanan. Amin. Tuhan Yesus memberkati Pelayanankita.

Untuk kaum Aktivis
GBI Ebenheser – Maranata, 26 Juni 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar