Minggu, 22 Agustus 2010

PRINSIP PENGAJARAN TUHAN YESUS MENURUT KITAB INJIL MATIUS 5 – 7

PRINSIP PENGAJARAN TUHAN YESUS MENURUT
KITAB INJIL MATIUS 5 – 7

Matius pasal 5-7 atau yang biasa disebut dengan ”khotbah Yesus” di bukit sebenarnya adalah suatu ”pengajaran”, lebih tepatnya sebagai sebuah pemberitaan dalam bentuk pengajaran.
Di kalangan orang-orang Yahudi, pengajaran bukan hal yang asing, mempelajari Taurat telah dilakukan sejak dari kanak-kanak demikian pula mendengarkan pengajaran dari guru Taurat merupakan hal yang sering dilakukan. Hal ini sejalan dengan hukum yang mengharuskan bagi orang-orang Yahudi khususnya kaum pria untuk melaksanakan ibadah di Bait Allah sejak dari mudanya. Akan tetapi kehadiran Yesus sebagai seorang pengajar memiliki arti yang lain, hal ini dapat dilihat dalam Matius 7:28 ...takjublah orang banyak mendengar pengajarannya, sebab Ia mengajar mereka sebagai seorang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.
Pengajaran Yesus memiliki nilai lebih bagi pendengarnya karena pengajarannya tidak seperti yang biasa dilakukan oleh para ahli-ahli Taurat Ia mengajar sebagai orang yang berkuasa (Matius 7:29).Yesus adalah seorang guru yang sempurna. J.M Prince mengungkapkan ” Yesus tepat sekali bagi pekerjaan mengajar. Tidak ada orang yang lebih tepat untuk tugas ini daripada Yesus. Yesus benar-benar seorang guru yang sempurna, baik dari sisi illahi ataupun insani.
Memang ia ”datang sebagai guru yang diutus Allah (Yohanes 3:2). WewenangNya meliputi pelbagai unsur-unsur insani ada pula unsur-unsur illahi”. Yesus adalah teladan bagi guru-guru Pendidikan Agama Kristen untuk segala masa. Cara pengajaranNya merupakan unsur insani yang dapat menjadi teladan bagi guru-guru masa kini.
Pada pembahasan bab ini penyusun akan membahas tentang Prinsip-prinsip pengajaran Tuhan Yesus khususnya pasal 5-7, meskipun pengajaran Tuhan Yesus bukan di dalam kelas yang formal, waktu dan tempat, serta sarana dan prasarana yang cukup, akan tetapi terdapat prinsip-prinsip yang diperhitungkan sebagai contoh atau model dalam melaksanakan pengajaran seperti halnya pengajaran Pendidikan Agama Kristen pada sekolah-sekolah formal seperti yang terjadi sekarang ini.
4.1. Prinsip-Prinsip Pengajaran Tuhan Yesus
Perjanjian Baru memuat banyak prinsip yang dipakai Tuhan Yesus dalam mendidik murid-murid-Nya. Semua prinsip Tuhan Yesus dalam pengajaranNya masih sangat cocok untuk diterapkan pada pendidikan Kristen untuk anak-anak didik zaman ini. Beberapa prinsip dalam pengjaran Tuhan Yesus, yaitu antara lain:
4.1.1 Tuhan Yesus mengajar melalui hidup dan perbuatan-Nya.
Segala kelakuan-Nya sesuai dengan kehendak Allah dan menyatakan kasih dan kebenaran Allah kepada murid-murid-Nya. Tiap orang yang datang kepada-Nya mendapat perhatian-Nya. Dengan penuh kasih Ia menolong yang memerlukan pertolongan-Nya. Dalam ayat sebelumnya, yaitu pasal 4, ditemukan bahwa Yesus mengajar dan menyembuhkan banyak orang dari berbagai penyakit (Matius 4:23-24), sehingga orang banyak berbondong-bondong mengikjuti Dia. Mereka datang dari Galelia dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yordan (Maitu 4: 25).
Ia tidak segan-segan untuk melawan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Misalnya, Ia memberitakan bertobatan: ”Bertobatlah, sebab kerajaan Sorga suah dekat” (Matiu 4:17). Contoh yang konkrit dalam hidup seorang guru selalu lebih mengesankan daripada segala kata yang diucapkannya.
Filsafat dunia yang berkata, bahwa nilai seseorang ditentukan oleh fungsi (jabatan atau pekerjaan) orang itu. Kalau ia mempunyai jabatan atau pekerjaan yang dianggap baik, maka ia dikatakan orang baik. Atau, kalau ia mempunyai jabatan atau keperjaan yang dianggap biasa saja atau kurang baik, maka ia dikatakan orang yang kurang baik. Kalau jabatan atau pekerjaan itu berubah, nilai kita juga bisa berubah. 1
Yesus, Anak Allah yang menjalankan misiNya di dalam dunia dengan cara mengajar (sebagai guru), Karakter Yesus yang nampak adalah sebagai berikut:
Pertama: Visioner. Jangkauan berfikirNya jauh ke depan. Hal ini nampak dalam berbicara maupun mengajar. Ia selalu menjelaskan tentang perseptif masa depan. Ia tidak sekedar menyampaikan visi, tetapi sekaligus mempersiapkan murid-muruidNya menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi sebagai akibat dari apa yang dilakukannya. Hal ini nampak dalam pengajarnNya, khususnya dalam hal kekuatiran (Matius 12: 22-34); kewaspadaan (Matius 12:43-51).
Kedua, Yesus mempunyai itegritasnya tinggi. Semua kata-kata Yesus selalu singkron atau selaras, sejalan dengan perbuatanNya. J.M Price, dalam Buku Yesus Guru Agung, mengatakan bahwa : “Syarat yang terpenting bagi seorang guru ialah

1. Tom Yeakley, Watak Pekerja Kristus (Bandung, Yayasan Kalam Hiudp, 1989) hal. 17


kepribadiannya sendiri. Semuah teladan lebih berharga daripada seratus kata nasehat. Perbuatan seseorang lebih berpengaruh daripada pertataannya”.2
Ketiga, Ia Kreatif dan Invonatif. Yesus dalam pengajaranNya selalu mencari dan menemukan cara dalam mengajar serta menghadapi situasi. Banyak alternatif yang diupayakan dalam rangka menyujudkan PelayananNya. Misalnya Ketika menghadapi orang-orang Farisi dan ahli-ahli taurat. Karena Yesus mengetahui isi hati mereka, Yesus berkata: ” Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihaknan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. LanjutNya, hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia yang juga menjadikan bagian dalam? (Luk. 11:37-46)
4.1.2. Tuhan Yesus memakai pengalaman pendengar-pendengar-Nya untuk
mengajar mereka.
Sebagai dasar untuk ajaran yang baru, Ia menyebut hal-hal yang lazim dialami tiap orang, peristiwa-peristiwa dari hidup sehari- hari yang pasti akan dimengerti oleh setiap pendengar-Nya. Umpamanya menanam benih (Matius13:1-9), memasang lampu (Matius 5:15-16), mencari sesuatu yang hilang (Lukas 15:1-10). Hal-hal seperti itu dapat dimengerti, dan juga akan mengingatkan mereka kepada ajaran itu tiap kali mereka melakukannya lagi.




2J.M, Prince, Yesus Guru Agung, (Bandung, Lembaga Literatur Baptis, ) Hal 5.
4.1.3. Tuhan Yesus terkadang menunjukkan obyek-obyek yang konkrit untuk dilihat.
Ia memakai mata uang (Matius 12:13-17), burung di udara dan bunga-bungaan di padang (Matius 6:25-34) yang kelihatan di mana- mana sehingga akan mengingatkan pendengar-Nya akan ajaran-Nya tiap kali mereka melihat barang itu kelak.
4.1.4. Tuhan Yesus memakai bahan/ materi/ media yang tepat dan sederhana untuk mengajar.
Pengajaran Yesus tersusun dalam sebuah rangkaian bahan pengajaran yang runtut. Materi-materi pengajarannya merupakan pokok-pokok yang telah dikenal oleh pendengarNya.
Pemakaian bahan-bahan oleh Yesus dalam pengajaran-Nya merupakan salah satu tahap yang sangat menarik dalam peninjauan kita tentang Yesus sebagai guru. Hal itu mungkin berguna bagi kita, kalau kita dapat menemukan dalam bahan-bahan yang dipakainya Yesus benar-benar yang dapat berguna untuk guru masa kini, bahan-bahan yang Tuhan Yesus memakai itu tidak sama sumbernya. Namun Yesus tidaklah menjadi budak atau bergantung bahan-bahan itu. Semua itu diolahnya terlebih dahulu dalam pikiran-Nya, diresapi-Nya untuk gagasan-gagasan yang membangun sehingga berubah menjadi milikNya sendiri.
Pertama sumber umum yang diambil oleh Tuhan Yesus dalam pengajaran-Nya semua sumber itu tubuh dari pendidikan dan pengalamanNya dari dijalaniNya . Kedua jelas sekali bahwa Yesus memakai Kitab Perjanjian Lama secara leluasa Yesus menyebut 38 kutipan langsung empat kali Kadang-kadang Ia membuat kutipan langsung seperti Injil Perjanjian Baru “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah” (Matius 4 :4; Ulangan 8:3).
Ada banyak kutipan seperti itu berhubungan dengan Yesus serta kegiatanNya. Kutipan itu menyatakan pribadi Yesus dan kebenaran perjanjian Lama. Dan Perjanjian Baru dalam beberapa hal Ia menyebut pernyataan-pernyataan terdapat dalam Matius 5:5. Kita membaca “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi”, dan juga terdapat dalam Mazmur 37:11 orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri” Pertanyaan sejajar seperti itu dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, nyatalah bahwa Dia telah mengolah pernyataan itu dan menyediakan sarinya. Menyebutkan peristiwa-peristiwa tertentu dalam perjanjian lama 50 kali, Ia memakai bahasa yang sejajar dengan kata-kata dalam Perjanjian Lama. Ia mengambil bahasa keterangan dari 21 buku perjanjian Lama. Mazmur dan ulangan nampaknya paling banyak dipakai oleh Yesus. PikiranNya penuh dilengkapi oleh gagasan-gagasan Perjanjian Lama.
Bahan pengajaran yang bersumber dari hukum Taurat. Hukum Taurat menjadi bahan utama yang diajarkannya, sebagai dasar pengajarannya dalam pemahaman yang baru. Hal ini dapat dilihat dalam susunan kothbahNya berikut ini : berkaitan dengan perintah Jangan membunuh, Matius 5:21-26; berkaitan dengan perintah Jangan berzinah Matius 5:27-30; berkaitan dengan hukum Perjanjian Lama mengenai Perceraian Matius 5:31-32; berkaitan dengan perintah jangan menjadi saksi dusta, Jangan bersumpah palsu Matius 5:33- 37; berkaitan dengan hukum kasih dalam Perjajian Lama, Mata ganti mata,gigi ganti gigi Matius 5:38-42; berkaitan dengan hal kasih, Kasihilah musuhmu Matius 5:42-48; berkaitan dengan sedekah: Matius 6:1-4, berkaitan dengan hal doa Matius 6:5-15 berkaitan dengan hal puasa 6:16-18; berkaitan dengan sikap terhadap harta Pengumpulan harta Matius 6:19-21; berdasarkan hukum Tuhan mengenai obyek penyembahan Jangan mengabdi kepada dua Tuhan Matius 6:22-24; Matius 6:25-34; Jangan menghakimi Matius 7:1-6; Pengabulan doa Matius 7:7-12; Pengajaran yang sesat Matius 7:15-23.
Cerita-cerita berupa perumpamaan dan perbandingan yang sangat mengesankan dipakai-Nya untuk memikat perhatian orang dan menekankan kebenaran. Bahan-bahan yang digunakan juga sederhana dan tepat untuk pendengarnya. Misalnya kepada orang-orang yang sederhana, Yesus memakai Garam dan Terang sebagai suatu model pembelajaranNya. Kepada ahli taurat, Yesus begitu keras menegur dan mengajarnya: ”Aklu bekata kepadamu; Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli Taurat dan orang Farisi, sesungguhnya kami tidak akan masuk ke dalam kerajan Sorga (Matiu 5: 20). Firman Tuhan sering dipakai-Nya untuk menjawab pertanyaan dan pendengar-Nya diajak berpikir sendiri mengenai maksud dan arti pengajaranNya (misalnya Matius 5:21- 48).
Model atau media yang mengesankan tak akan terlupakan, sehingga ajaran yang terdapat di dalamnya makin mendalam bagi pendengarnya, misalnya dalam hal kekuatiran Yesus mengajak pendengarNya untuk melihat burung-burung di langit; bunga bakung di ladang; Raja Salomo sebagai pembanding akan pemeliharaan Tuhan kepada setiap orang yang percaya kepadaNya. (Matius 6:25-34). 5:38-42; berkaitan dengan hal kasih, Kasihilah musuhmu Matius 5:42-48; berkaitan dengan sedekah: Matius 6:1-4, berkaitan dengan hal doa Matius 6:5-15 berkaitan dengan hal puasa 6:16-18; berkaitan dengan sikap terhadap harta Pengumpulan harta Matius 6:19-21; berdasarkan hukum Tuhan mengenai obyek penyembahan Jangan mengabdi kepada dua Tuhan Matius 6:22-24; Matius 6:25-34; Jangan menghakimi Matius 7:1-6; Pengabulan doa Matius 7:7-12; Pengajaran yang sesat Matius 7:15-23.
Yesus menggunakan obyek-obyek materi dari alam untuk menjabarkan pengajarannya agar lebih dipahami. Istilah-istilah yang digunakan oleh Tuhan Yesus adalah istilah kongkrit sehingga dapat dilihat. Ia memakai benda-benda alam, hewan-hewan, tanaman yang cukup dikenal oleh pendengarnya. Misalnya dalam Matius 5:13-16 tentang garam ”.. kamu adalah garam dunia.. ( 13); pelita dan gantang ”...orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkan dibawah gantang , Matius 6:25-34 ... pandanglah burung-burung diudara (26), ... Perhatikanlah bunga bakung di ladang...(28), Allah mendandani rumput di ladang (29).
4.1.5. Tuhan Yesus selalu memberikan kepada pendengar-Nya tanggung jawab untuk mengambil keputusan secara pribadi.
Dengan jelas Ia menunjukkan akibat dari pilihan yang tepat dan yang tidak tepat. Tanggung jawab untuk memilih diserahkan sepenuhnya pada tiap pendengar-Nya. Ia tidak menyuruh mereka menghafalkan apa yang dikatakan-Nya dan taat secara mutlak tanpa berpikir.
Sebaliknya, Ia mendorong mereka untuk berpikir sendiri dan mengambil keputusan dengan penuh kesadaran mengenai akibat pilihannya, yakin untuk mengikuti-Nya atau tidak. Dalam Matius 7: 24-27, Yesus memberi penegasan bahwa ketaatan yang dipaksakan atau dilakukan tanpa pikir bukanlah ketaatan sejati dan akan membawa kepada kehancuran, seperti orang membangun rumah di atas pasir. Keputusan yang sah ialah keputusan yang diambil dengan penuh pengertian dan kerelaan dengan melakukannya.
5.1 Yesus menetapkan tujuan mengajar
Tuhan Yesus memiliki keyakinan mengenai manfaat pengajaran yaitu bahwa terdapat kesempatan mulia untuk membina cita-cita, pandangan, dan kelakuan orang. Cita-cita ini adalah kekuatan yang maha hebat dalam hidup bagi pembinaan watak seseorang. Hal ini penyusun temukan di dalam diri ”Yesus sebagai Guru Agung”.
Sebab itu, amat wajarlah apabila Yesus berusaha membentuk cita-cita yang luhur.”Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu di surga adalah sempurna” Matius 5:48 dalam ayat tersebut, Ia berusaha memberi pengertian yang jelas tentang sifat Allah dan sikapNya terhadap manusia.
Pengajaran-pengajaranNya menunjukkan sikapnya dan perhatiannya terhadap jiwa manusia. Tujuan pengajarannya sejajar dengan tujuan kedatanganNya sebagai Juru selamat. Seperti dalam perumpamaan tentang mata uang yang hilang, domba yang hilang, dan anak yang hilang menyingkapkan perasaan hati Allah, yang berbelas kasihan kepada umatNya. Ia mengikhtisarkan dalam khotbah di bukit, khususnya dalam ucapan bahagia (Matius 3:3-12) semua sifat dan kelakuan yang seharusnya menjadi watak seorang warga Kerajaan Sorga dalam kehidupan pribadi dan hubungannya dengan masyarakat.
Yesus mengajar dengan tujuan agar pengajarannya dapat dipahami oleh para pendengarnya, namun juga mendorong pendengarnya untuk dapat melakukan apa yang diajarkanNya. Yesus mengajar dengan tujuan agar umatNya dapat mengenal kebenaran dan melaluiNya memperoleh keselamatan.
Seorang guru yang ingin mencapai keberhasilan dalam mengajar perlu menetapkan tujuan pengajarannya. Tanpa tujuan yang jelas maka pengajarannya tidak akan terarah pada sasaran yang tepat.

4.4. Yesus memiliki metode pengajaran
Yesus adalah seorang yang ahli menggunakan metode-metode dalam pekerjaanNya mengajar. Metode-metode itu rupanya hal biasa bagiNya, dan tumbuh dari keadaan dan kebutuhan, bukan hal yang sengaja di pelajari dan sengaja direncanakan. Dalam pasal ini kita akan memperhatikan metode-metode itu secara ringkas.
Metode-metode yang Tuhan Yesus pergunakan dalam pengajarannya dalam Matius 5-7, yaitu:
4.4.1 Metode ceramah
Metode ceramah sering digunakan oleh Tuhan Yesus khususnya pada permulaan pekerjaanNya ketika Ia berbicara dihadapan orang banyak. Salah satunya contoh metode ceramah yang dipakai oleh Tuhan Yesus dalam menyampaikan pengajarannya seperti yang terdapat di Kitab Matius pasal 5- pasal 7. CeramahNya kadang-kadang disampaikan kepada orang banyak kadang-kadang kelompok kecil. Ada kalanya murid-murid saja yang hadir, ada kalanya campuran orang banyak, dan murid-muridNya Mimbarnya adalah lereng sebuah bukit.
Khotbah Tuhan Yesus di bukit dalam (Matius pasal 5 – pasal 7 ) ini adalah salah satu ceramah dibentangkanNya, hal ini menunjukkan mengenai keunggulan pengajaranNya atas Torat dan nabi-nabi.
Ceramah-ceramahNya mendorong orang berpikir dan menyelidiki hatinya sendiri, bersifat praktis dan penting. Ceramah-ceramah itu meliputi banyak persoalan, dan menunjukkan ketelitian dan persiapan. Semua itu berlainan gaya dan metodenya. Ceramah-ceramah itu demikian menarik perhatian dan menimbulkan minat sampai banyak orang kagum terhadap Yesus. “Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya” (Matius 7:28 ). Bahkan para musuh takut menangkap Dia dan berkata, “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu” Yohanes 7:46.
4.4.2 Metode Tanya Jawab
Tuhan Yesus banyak memberi pertanyaan-pertanyaan kepada murid-muridNya dihadapan orang banyak. itu diungkapkan. “ Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? tidak ada lagi gunanya selain di buang dan diinjak orang” (Matius 5:13). Yesus memberi pertanyaan untuk menggugah pikiran pendengarnya mengenai garam dan fungsinya untuk dikaitkan dengan pokok pengajarannya perihal tugas murid-murid Yesus yang dipanggil untuk menjadi berkat ditengah-tengah dunia. Sama hal juga menemukan di dalam Matius 6:25-34 ; diunggapkan, Bukankah hidup lebih penting daripada makanan dan tubuh lebih penting daripada pakaian?” Pertanyaan yang Yesus ajukan memperkuat pernyataan yang ia tekankan mengenai pemeliharaan Allah bagi manusia. “Karena itu Aku berkata kepada kamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai
Metode Tanya jawab adalah salah satu metode yang tertua dan paling berpengaruh. Socrates yang terkenal karena metode itu . Metode ini di gunakan secara luas baik Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru.Tuhan Yesus dalam pengajaranNya mengunakan pertanyaan sebagai suatu bahan pemikiran salah satu contoh pengunakan semacam itu adalah pertanyaan,”Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok di buang ke dalam api, tidaklah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?” Pemikiran itu di mulai dengan hal yang kecil, lalu beralih kepada hal yang lebih besar. Untuk menyatakan maksudNya, Ia bahkan mengunakan pertanyaan yang mengadung pilihan.
Berikut adalah ciri-ciri ungkapan pendek sering jumpai dalam ucapan-ucapan Yesus seperti ,”Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan akan di ukurkan kepadamu “ ( Matius 4:24 ). Juga seperti pepatah ,”Yang seorang menabur dan yang lain menuai “(Yah. 4:3 7) dan “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada”( Matius 6:21 ). Hal ini berarti, bahwa manusia dapat menjadi warga KerajaanNya, kalau setiap orang menyerahkan diri ( hidup dan hati )setiap orang seluruhnya kepadaNya. Yusus tahu, ( hati manusia ) sering terombang-ambing antara
harta dengan Allah. Karena itu Ia mengingatkan semua orang, bahwa hal itu hanya dapat kita tiadakan, kalau harta yang memperoleh dari Dia.

4.3.3 Metode perumpamaan
Tuhan Yesus menggunakan metode perumpamaan-perumpamaan salah satu yang diungkapkan. Dalam Matius 5:13-16 Yaitu tentang pelita ”Mata adalah pelita tubuh, jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu. Artinya “mata yang baik mencerminkan hati yang baik” mata yang jahat mencerminkan hati yang cemburu dan kikir.
Dalam Matius 7: 3 menjelaskan:”Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” Hal ini berarti: satu-satunya jalan untuk merobah sifat ini ialah: meminta kepada Tuhan, supaya Ia mengeluarkan balok berarti (dosa, kesalahan) itu dari mata manusia, sehingga orang bisa dapat melihat lagi dengan terang, seperti Ia kehendaki.
4.5 Tuhan Yesus menyusun strategi pengajaran
Telah diurakan dalam bab 2 berkaitan dengan strategi pengajaran bahwa terdapat unsur-unsur yang perlu dipertimbangkan dalam kegiatan pembelajaran. Pengajaran Yesus dalam Matius pasal 5-7 memiliki unsur-unsur dalam strategi pembelajaran, seperti yang akan diuraikan berikut ini:
4.5.1 Pendahuluan atau kegiatan awal
Bagian permulaan dalam kegiatan pembelajaran adalah bagian penting yang perlu dipersiapkan dengan matang. Pendahuluan memiliki daya tarik yang dapat mengikat pendengar untuk terus mendengar dan memperhatikan.
Tuhan Yesus memiliki berbagai cara untuk mendahului pengajarannya. Dalam penguraian mengenai ucapan bahagia dalam Matius 5:3-12 Yesus mengawali dengan ungkapan menarik yang diucapkan berulang-ulang pada ayat 3,4,5,6,7,8,9,10 dan 11. Kata berbahagialah dirangkai dengan ungkapan yang sangat berbeda dengan kondisi pada umumnya. Kata miskin , berdukacita, lapar dan haus, dianiaya, dicela seharusnya menunjukkan kondisi yang tidak memungkinkan untuk berbahagia, namun justru dipakai Yesus untuk mendahului pengajarannya tentang makna kebahagiaan.
Pengajaran Yesus mengenai sikap yang benar sebagai anak-anak Allah, didahului dengan perumpamaan mengenai garam, dan pelita ( Matius 5:13,14).Pendahuluan dalam pengajaran mengenai Doa dan Puasa diawali dengan menyampaikan mengenai kebiasaan berdoa dan berpuasa yang telah dilakukan oleh orang-orang Yahudi pada umumnya. Hal ini menarik perhatian pendengarnya karena yang disampaikan Yesus adalah kebiasaan yang telah mereka kenal bahkan dilakukan setiap hari dalam hidup mereka.
4.4.2 Kegiatan Inti ( menyampaikan ajaran Inti )
Setelah pikiran murid diarahkan kepada pelajaran untuk hari itu, tugas guru masih belum selesai. Guru harus terus menjaga supaya perhatian murid tidak terganggu oleh hal-hal lain, demikian dan minatnya tepat hangat, ketiga Ia menyampaikan kebenaran dalam pelajaran itu. Guru harus menguraikan, menjelaskan, dan menanamkan pelajaran itu dalam diri muridnya.
Salah satu cara mengajar Tuhan Yesus, seperti dalam ucapan bahagia kemudian menyampaikan pelajaran dengan cara yang menarik, sehingga murid-murid dan orang-orang semua mengikuti dengan penuh perhatian, cara mengajar Tuhan Yesus yang benar meliputi usaha membina padangan hidup, Tuhan Yesus juga sering mengunakan pertanyaan-pertanyaan dan diskusi-diskusi.
Tuhan Yesus dalam khotbah di bukit, khususnya dalam ucapan bahagia (Matius 5:3-12), segala sifat dan kelakuan yang seharusnya menjadi watak seorang warga kerajaan sorga dalam kehidupan pribadi dan hubungan dengan masyarakat. Ia memperingatkan orang orang untuk waspada terhadap perasaan tinggi hati, ketamakan, amarah, dan pandangan yang bernafsu, terhadap seorang wanita. Yesus memaparkan suatu filsafat hidup yang akan menentukan tingkah laku manusia.
Orang-orang berduyun-duyun datang kepada Yesus, oleh sebab Ia memberi makan bagi hati mereka yang lapar akan kebenaran. Yesus menyampaikan pokok-pokok pengajaran penting yang berguna bagi hidup manusia baik yang berkaitan dengan moral maupun hubungan sosial antar manusia.
Pokok-pokok pengajaran tersebut antara lain : Ucapan bahagia Matius 5:1-12, Garam dan Terang Dunia dalam Matius 5:13-16, relasi Yesus dan Hukum Taurat dalam Matius 5:17-48, perihal memberi sedekah dalam Matius 6:1-4, hal berdoa dalam Matius 6:5-15, hal berpuasa dalam Matius 6:16-18, hal pengumpulan harta dalam Matius 6:19-24, hal kekuatiran dalam Matius 6:25-34, hal menghakimi dalam Matius 7:1-5, hal pengabulan doa dalam Matius 7:7-11, jalan yang benar dalam Matius 7:12-14, hal pengajaran sesat dalam Matius 15-23, dasar iman dalam Matius 7:24-27.
4.4.3. Penutup atau Kesimpulan
Tahap terakhir dalam sistematika pengajaran adalah kesimpulan, penutup atau penerapan. Suatu pengajaran belum dianggap selesai jika baru fakta-fakta pelajaran yang disampaikan. J.M. Price, menyatakan bahwa bentuk penutup pelajaran kebanyakan bergantung kepada metode yang dipakai.
Pengajaran yang Yesus sampaikan memiliki tujuan agar pendengarnya melakukan apa yang diajarkan, sehingga selalu disertai dengan petunjuk mengenai apa yang harus mereka lakukan. Seperti yang Yesus ungkapkan dalam Matius 7:24 yang menjadi bagian akhir dari pengajarannya.“Setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan melakukannya, ia sama dengan orang bijaksana, yang mendirikan rumahnya diatas batu“ Matius 7:24.
Maksud Yesus dengan pengajarannya ialah bukan saja supaya pengajarannya itu didengar oleh murid-muridnya atau pendengarnya, tetapi juga supaya mereka melakukannya. Sekalipun Ia secara ekspisit mengucapkan, tetapi jelas bahwa yang ia maksudkan dengan mendengar disini ialah mendengar secara benar: mendengar begitu rupa sehingga mengerti apa yag dimaksudkan. Mendengar yang demikian biasanya memimpin kepada melakukan apa yang didengar itu. Apa yang Yesus katakan dalam kiasan inisesuai dengan apa yang telah ia katakan sebelumnya, yaitu bahwa : yang paling penting adalah melakukan : kehendak Bapa Surgawi yang ia beritakan kepada mereka.
Sehubungan dengan perumpamaan tersebut dapat diungkapkan pentingnya menutup suatu pembelajaran dengan suatu kesimpulan yang mengesan dan bermakna bagi perubahan perilaku anak didik. Dengan demikian guru Pendidikan Agama Kristen hendaknya tidak mengabaikan kesimpulan dalam melaksanakan proses belajar mengajar.

3. 5.1. Hasil Pengajaran
Hasil yang dapat diamati dari penyampaian materi yang dilaksanakan Tuhan Yesus dapat diungkapkan dalam beberapa bagian. Sebagian besar pendengar dari materi yang disampaikan Tuhan Yesus dalam Matius 5 – 7 adalah para murid. Hal ini dapat diungkapkan dalam Matius 5:1-2 ”Ketiga Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya. Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka.
Pengajaran Yesus demikian menarik perhatian dan menimbulkan minat. Hal tersebut dapat dilihat pada reaksi para pendengar pengajaran Yesus “Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya” (Matius 7:28 ).
Pengajaran Yesus mampu menjawab setiap kebutuhan para pendengarNya. Karena cara Yesus mengajar tidak sama dengan para guru mereka sebelumnya atau dalam hal ini para ahli Taurat seperti dalam ungkapan Matius 7:29 Sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka. Keistimewaan Yesus dalam mengajar bukan hanya karena ia memiliki cara yag menarik dalam mengajar tetapi karena disertai dengan kuasa.
Seorang guru PAK adalah penyampaian kebenaran Firman Tuhan sehingga Ia harus memiliki kuasa Roh kudus dalam hidupnya. Hal ini yang memungkinkan pengajarannya mampu menjawab kebutuhan para pendengarnya. Karena itu pengajar dan pelajar PAK harus mengakui berharganya nilai kehidupan orang primbadi karena sesuai dengan citra Allah. Manusia lebih berharga dari pada banyak burung di udara dan kekayaan dunia. (Mat 6:26).

Dan setelah mengumumkan hukum baru kerajaan, Raja baru turun dari gunung untuk melanjutkan ministri rajaniNya. Hal pertama yang dilakukan- Nya adalah mentahirkan orang yang najis, menyembuhkan orang sakit, dan mengusir setan dari kerasukan agar mereka dapat menjandi umat kerajan sorga. (Mat 8:1).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar