Senin, 09 Agustus 2010

BUILDING LEARNING COMMITMENT

Bahan Ajar

BUILDING LEARNING COMMITMENT
(BLC)
DEPARTEMEN AGAMA
BALAI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEAGAMAAN
SEMARANG
2008










BAB I
PENDAHULUAN

Latar belakang masalah
Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah pekerja pada instansi Pemerintah yang terdiri dari berbagai unsur dan jenis sesuai dengan tugas dan fungsinya didalam bekerja akan membutuhkan kerjasama dengan pihak-pihak terkait, atau mereka butuh jaringan/jejaring kerja, yang pada umumnya disebut tim kerja. Mereka butuh bekerja dengan nyaman, butuh informasi, kerjjasama, pelanggan, prestasi, penghasilan, pengakuan, alat, tempat, dan sebainya. Sebagian cara untuk mencapai hal-hal tersebut adalah dengan membangun kerjasama tim, sebab dengan melakukan kerjasama akan dapat memberikan berbagai kemudahan dalam bekerja.
Dalam dunia kediklatan, peserta diklat pasti membutuhkan bantuan, informasi, pelanggan, kerjasama, pesanan, dan sebagainya dalam rangka mendukung pencapaian tujuan. Proses untuk mendapatkan semua itu hanya kan dapat dilakukan dengan berinteraksi dengan orang lain. Salah satu bentuk interaksi tersebut adalah dengan melakukan kerjasama. Kerjasama tersebut tidak akan berjalan dengan baik jika tidak dirintis melalui niat yang kuat dan proses yang benar.
Peserta diklat agar bekerja efektif membutuhkan lingkungan yang nyaman, menggunakan alat (teknologi) yang memadai dengan berbagai metode yang tepat. Lingkungan yang nyaman dapat terwujud jika komitmen kerjasama menjadi modal dasar pribadi anggotanya, dan merupakan hal selalu diingat. Membangun komitmen kerjasama dalam hal ini, merupakan suatu pekerjaan yang tidak boleh ditinggalkan, karena apabila terjadi pergeseran komitmen kerjasama akan berakibat yang sangat merugikan.

Deskripsi singkat
Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah Unsur Aparatur Negara, dan Abdi Masyarakat yang berperan melayani masayarakat.
Dalam rangka mengemban perannya tersebut Pegawai Negeri Sipil perlu memiliki kompetensi yang sesuai dengan persyaratan yang ditentukan. Salah satu kompensi tersebut adalah “ Kemampuan bekerjasama dalam kelompok melalui komunikasi yang saling menghargai “.

Manfaat bagi peserta
Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diklat diharapkan mampu memahami tentang pentingnya membangun komitmen dalam proses pembelajaran dalam tim. Selanjutnya perserta Diklat dapat mengerti bahwa bekerjasama dalam tim adalah merupakan ilmu pengetahuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang PNS, yang pada akhirnya akan merupakan modal dasar untuk melaksanakan pekerjaannya di instansinya.
Oleh karena itu peserta harus dapat memahami peran penting yang diembannya pada dinas masing-masing. Dalam lingkup kediklatan mereka harus mampu membantu dalam proses pembelajaran dengan cara menentukan pengetahuan, keterampilan dan sikap apa yang akan didapat dalam diklat tersebut. Proses pembelajaran yang dilakukan hendaknya dapat efektif dan dapat dilakukan evaluasi apakah pelajaran dapat diterima oleh peserta diklat.

Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti pembelajaran ini peaserta Diklat diharapkan akan mampu untuk bekerjasama dalam kelompok secara efektif dan efisien, sehingga dapat membangun tim belajar yang dinamis.

Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mempelajari modul ini peaserta Diklat diharapkan dapat:
Mendemonstrasikan strategi kerjasama dalam kelompok
Menerapkan kerjasama dalam membangun tim
Memecahkan masalah dengan win-win solutions.

Petunjuk belajar
1. Bacalah literatur atau bahan bacaan yang terkait dengan masalah membangun kerjasama tim atau bahan ajar yang tersedia
2. Pahami dari setiap rangkuman yang ada pada setiap bab.
3. Cobalah melakukan latihan sendiri dengan butir-butir kegiatan yang tertuang dalam modul/bahan ajar
4. Kembangkan kreativitas di bidang kompetensi dan pengetahuan sesuai bidang yang diajarkan.


BAB II
KONSEP DASAR PEMBELAJARAN

Makna belajar
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dngan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku.
Secara umum belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sengaja (proses usaha) oleh seseorang untuk memperoleh perubahan (pengetahuan) yang baru sehingga dapat meningkatkan kognitif, afektif, dan psikomotoriknya. Oleh karenanya belajar itu akan menyakut beberapa elemen seperti tersebut di bawah ini :
Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge)
Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan cara mempelajari secara keseluruhan dulu, kemudian memperhatikan detailnya.
Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), yaitu dengan cara menyusun (1) konsep sementara (hipotesis),(2) melakukan sharing kepada orang lain agar mendapat tanggapan (validasi) dan atas dasar tanggapan itu, dan (3) konsep tersebut direvisi dan dikembangkan
Mempraktekan pengetahuan dan pengalaman tersebut (appliying knowledge)
Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan.

Karena itu, pembelajaran memiliki tujuan sebagai berikut :
1. Melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikian, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsisten dan inkonsistensi.
2. Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba.
3. Mengembangkan kemampuan memecah kan masalah.
4. Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomuni kasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, grafik, peta, dan diagram.

Strategi pembelajaran
Dalam rangka mencapai kompetensi seperti yang diharapkan, guru perlu mempersiapkan dan mengatur strategi penyampaian materi kepada siswa. Hal ini dilakukan selain untuk mempersiapkan pedoman bagi guru dalam penyampaian materi, juga agar setiap langkah kegiatan pencapaian kompetensi untuk siswa dapat dilakukan secara bertahap, sehingga diperoleh hasil pembelajaran yang optimal. Strategi pembelajaran dikembangkan oleh guru dengan mengacu pada deskripsi pembelajaran dan komponen lainnya. Guru perlu memiliki kemampuan untuk mempersiapkan rancangan pembelajaran karena komponen-komponen dalam rancangan pembelajaran seperti: metode pembelajaran, organisasi kelas, metode penilaian, alat/ sumber belajar, dan alokasi waktu, yang digunakan tidak tercantum secara eksplisit dalam kurikulum. Hal ini akan memberikan peluang pada guru untuk mengelola kurikulum secara optimal dan benar-benar disesuaikan dengan sumber daya dan kebutuhan sekolah.

Ada tiga hal yang harus diperhatikan untuk mengembangkan rancangan pemebelajaran berbasis kompetensi, yaitu: apa yang akan diajarkan, bagaimana cara mengajarkannya, dan bagaimana cara mengetahui bahwa apa yang diajarkan dapat dipahami oleh siswa. Hal pertama berkaitan dengan tujuan dan materi apa yang akan diajarkan, dan yang kedua berkaitan dengan pendekatan, metode, dan media pembelajaran. Sedangkan yang ketiga berkaitan dengan sistem pengujian/evaluasi.
Proses pencapaian kompetensi dikembangkan melalui pemilihan strategi pembelajaran yang meliputi pembelajaran tatap muka dan pengalaman belajar. Pengalaman belajar merupakan kegiatan fisik maupun mental yang dilakukan siswa dalam berinteraksi dengan bahan ajar. Pengalaman belajar dilakukan oleh siswa untuk menguasai kompetensi yang telah ditentukan. Baik pembelajaran tatap muka maupun pengalaman belajar, dapat dilakukan di dalam maupun di luar kelas. Untuk itu, pembelajarannya dilakukan dengan metode yang bervariasi.

Selanjutnya, pengalaman belajar hendaknya juga memuat kecakapan hidup (life skill) yang harus dimiliki oleh siswa. Kecakapan hidup merupakan kecakapan yang dimiliki seseorang untuk berani menghadapi problem hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga mampu mengatasinya.
Isu yang mengemuka dewasa ini yakni adanya kesenjangan antara sekolah dengan kehidupan nyata di masyarakat. Apa yang dipelajari di sekolah merupakan hal lain yang terjadi di masyarakat sehingga disinyalir sekolah semakin menjauhkan peserta didik dengan dunia nyata dimana ia hidup dan bermasyarakat. Oleh karena itu agar peserta didik dapat mengenal dengan baik dunianya dan dapat hidup secara wajar di masyarakat, maka perlu dibekali kecakapan hidup. Kecakapan hidup sebagai hasil belajar terdiri dari kecakapan hidup yang bersifat umum (general life skill) dan kecakapan hidup yang bersifat khusus (spesific life skill).
Secara keseluruhan kecakapan hidup yang harus dimiliki peserta didik dapat dilihat dalam skema berikut :

Kecakapan Hidup :
1. Kecakapan hidup generik
a. Kecakapan Personal
a.1. Kesadaran diri
Sbg makhluk Tuhan
Sbg makhluk sosial
Sadar potensi diri
a.2. Kecakapan berpikir
Kec. menggali informasi
Kec mengolah informasi
Kec mengambil keputusan
Kec. pecahkan masalah
b. Kecakapan Sosial
b.1. Kecakapan komunikasi
Kec. mendengarkan
Kec. berbicara
Kec. membaca
Kec. menuliskan gagasan
b.2. Kecakapan kerjasama
Sebagai teman kerja
Sebagai pimpinan

2. Kecakapan hidup spesifik
a. Kecakapan Akademik
a.1. Kec. identifikasi variabel
a.2. Kec. merumuskan hipotesis
a.3. Kec. melaksanakan penelitian
b. Kecakapan Vokasional
b.1. Kec. vokasional dasar
b.2. Kec. vokasional khusus

Seluruh kecakapan tersebut merupakan tujuan yang tersirat dalam pendekatan keterampilan proses yang ada dalam kurikulum sebelumnya dan belum sempat dilaksanakan secara menyeluruh, maka pada kurikulum 2004 harus dilaksanakan secara konsekuen, terintegrasi dalam proses pembelajaran. Kecakapan hidup merupakan akhir dari proses pendidikan seluruh mata diklat khususnya mata diklat dalam kelompok adaptif yaitu yang berorientasi pada kemampuan beradaptasi dengan kemajuan pengetahuan dan teknologi.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran adalah :
1. Mengkondisikan siswa untuk menemukan kembali rumus, konsep, atau prinsip dalam melalui bimbingan guru agar siswa terbiasa melakukan penyelidikan dan menemukan sesuatu.
2. Dalam setiap pembelajaran, guru hendaknya memperhatikan penguasaan materi prasyarat yang diperlukan.
3. Pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran , yang mencakup masalah tertutup (mempunyai solusi tunggal), dan masalah terbuka (masalah dengan berbagai cara penyelesaian).

Model- model pembelajaran
Istilah model pembelajaran dibedakan dari istilah strategi, metode, atau prinsip pembelajaran. Istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada suatu strategi, metode, atau prosedur.

Model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dipunyai oleh strategi atau metode tertentu yaitu :
1. Rasional teoritik yang logis disusun oleh perancangnya,
2. Tujuan pembelajaran yang akan dicapai,
3. Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan secara berhasil dan
4. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.

Istilah model pembelajaran meliputi pendekatan suatu model pembelajaran yang luas dan menyeluruh. Contohnya pada model pembelajaran berdasarkan masalah, kelompok-kelompok kecil siswa bekerja sama memecahkan suatu masalah yang telah disepakati oleh siswa dan guru. Ketika guru sedang menerapkan model pembelajaran tersebut, seringkali siswa menggunakan bermacam-macam keterampilan, prosedur pemecahan masalah dan berpikir kritis. Model pembelajaran berdasarkan masalah dilandasi oleh teori belajar konstruktivis. Pada model ini pembelajaran dimulai dengan menyajikan permasalahan nyata yang penyelesaiannya membutuhkan kerjasama diantara siswa-siswa. Dalam model pembelajaran ini guru memandu siswa menguraikan rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan; guru memberi contoh mengenai penggunaan keterampilan dan strategi yang dibutuhkan supaya tugas-tugas tersebut dapat diselesaikan. Guru menciptakan suasana kelas yang fleksibel dan berorientasi pada upaya penyelidikan oleh siswa.

Model-model pembelajaran dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan pembelajarannya, sintaks (pola urutannya) dan sifat lingkungan belajarnya. Sebagai contoh pengklasifikasian berdasarkan tujuan adalah pembelajaran langsung, suatu model pembelajaran yang baik untuk membantu siswa mempelajari keterampilan dasar seperti tabel perkalian atau untuk topik-topik yang banyak berkaitan dengan penggunaan alat. Akan tetapi ini tidak sesuai bila digunakan untuk mengajarkan konsep-konsep tingkat tinggi.
Sintaks (pola urutan) dari suatu model pembelajaran adalah pola yang menggambarkan urutan alur tahap-tahap keseluruhan yang pada umumnya disertai dengan serangkaian kegiatan pembelajaran. Sintaks (pola urutan) dari suatu model pembelajaran tertentu menunjukkan dengan jelas kegiatan-kegiatan apa yang harus dilakukan oleh guru atau siswa. Sintaks (pola urutan) dari bermacam-macam model pembelajaran memiliki komponen-komponen yang sama. Contoh, setiap model pembelajaran diawali dengan upaya menarik perhatian siswa dan memotivasi siswa agar terlibat dalam proses pembelajaran. Setiap model pembelajaran diakhiri dengan tahap menutup pelajaran, didalamnya meliputi kegiatan merangkum pokok-pokok pelajaran yang dilakukan oleh siswa dengan bimbingan guru.
Tiap-tiap model pembelajaran membutuhkan sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang sedikit berbeda. Misalnya, model pembelajaran kooperatif memerlukan lingkungan belajar yang fleksibel seperti tersedia meja dan kursi yang mudah dipindahkan. Pada model pembelajaran diskusi para siswa duduk dibangku yang disusun secara melingkar atau seperti tapal kuda. Sedangkan model pembelajaran langsung siswa duduk berhadap-hadapan dengan guru.
Pada model pembelajaran kooperatif siswa perlu berkomunikasi satu sama lain, sedangkan pada model pembelajaran langsung siswa harus tenang dan memperhatikan guru.

Ragam model pembelajaran
1. Model Pembelajaran Langsung
Model pembelajaran langsung dirancang secara khusus untuk menunjang proses belajar siswa berkenaan dengan pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah.
Model pembelajaran langsung tidak sama dengan metode ceramah, tetapi ceramah dan resitasi (mengecek pemahaman dengan tanya jawab) berhubungan erat dengan model pembelajaran langsung.
Pembelajaran langsung memerlukan perencanaan dan pelaksanaan yang cukup rinci terutama pada analisis tugas. Pembelajaran langsung berpusat pada guru, tetapi harus tetap menjamin keterlibatan siswa. Jadi lingkungan belajar harus diciptakan yang berorientasi pada tugas-tugas yang diberikan kepada siswa.
Ciri-ciri pembelajaran langsung :
a. Adanya tujuan pembelajaran dan prosedur penilaian hasil belajar.
b. Sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran
c. Sistem pengelolaan dan lingkungan
belajar yang mendunkung berlangsung dan berhasilnya pembelajaran.

Pada model pembelajaran langsung terdapat fase-fase yang penting. Pada awal pembelajaran guru menjelaskan tujuan, latar belakang pembelajaran, dan juga menyiapkan siswa untuk memasuki materi baru dengan mengingatkan kembali pada hasil belajar yang telah dimiliki siswa yang relevan dengan materi yang akan dipelajari (apersepsi). Fase ini dilakukan untuk memberi motivasi pada siswa untuk berperan penuh pada proses pembelajaran.
Setelah itu dilanjutkan dengan presentasi materi ajar atau demonstrasi mengenai ketrampilan tertentu. Pada fase mendemonstrasikan pengetahuan, hendaknya guru memberikan informasi yang jelas dan spesifik kepada siswa, sehingga akan memberi dampak yang positif terhadap proses belajar siswa. Kemudian guru memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan latihan dan memberi umpan balik terhadap keberhasilan siswa. Pada fase ini siswa diberi kesempatan untuk menerapkan pengetahuan atau keterampilan yasng telah dipelajarinya dalam kehidupan nyata.
Seperti telah dijelaskan bahwa pembelajaran langsung akan terlaksana dengan baik jika dirancang dengan baik.
Ciri utama yang dapat terlihat pada saat melaksanakan pembelajaran langsung adalah sebagai berikut:
1). Tugas perencanaan
a. Merumuskan tujuan pembelajaran
b. Memilih isi/materi
Guru harus mempertimbangkan berapa banyak informasi yang akan diberikan kepada siswa dalam kurun waktu tertentu.
Guru harus selektif dalam memilih konsep yang akan diajarkan dengan model pembelajaran langsung
c. Melaksanakan analisa tugas
Dengan menganalisa tugas, akan membantu guru menentukan dengan tepat apa yang akan dilakukan siswa untuk melaksanakan keterampilan yang akan dipelajari. Namun demikian tidak berarti bahwa guru harus selalu melakukan analisa tugas, karena waktu yang tersedia terbatas.
d. Merencanakan waktu
Guru harus memperhatikan bahwa waktu yang tersedia sepadan dengan kemampuan, bakat siswa, dan motivasi siswa agar mereka melakukan tugas-tugasnya dengan perhatian yang optimal. Mengenal secara baik siswa-siswa yang akan diajar akan bermanfaat sekali dalam memperkirakan alokasi waktu yang diperlukan dalam pembelajaran.

2). Penilaian pada model pembelajaran
langsung.
Sistem penilaian menurut Gronlund (1982) meliputi 5 prinsip dasar yang dapat dipergunakan guru dalam merancang pembelajaran langsung dan sistem penilaiannya, yaitu :
a. sesuai dengan tujuan pembelajaran
b. mencakup semua tugas pembelajaran
c. menggunakan soal tes yang sesuai
d. buatlah soal yang valid dan reliabel
e. manfaatkan hasil tes untuk perbaikan proses pembelajaran berikutnya.

2. Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan suatu pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama, yakni kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Para siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuik mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan. Tujuan pembelajaran kooperatif adalah utnuk membangkitkan interaksi yang efektif diantara anggota kelompok melalui diskusi. Dalam hal ini sebagian besar aktifitas pembelajaran berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi pelajaran, berdiskusi untuk memecahkan masalah (tugas). Dengan interaksi yang efektif dimungkinkan semua kelompok dapat menguasai materi pada tingkat yang relatif sejajar.
Ciri-ciri pembelajaran kooperatif.
Menurut Stahl (1994) dalam bukunya Ismail (2003), ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah:
1). belajar dengan teman
2). tatap muka antar teman
3). mendengarkan antar anggota
4). belajar dari teman sendiri dalam kelompok
5). belajar dalam kelompok kecil
6). produktif berbicara atau mengemukakanpendapat/gagasan
7). Peserta didik membuat keputusan, dan
8). Peserta didik aktif

Sedangkan menurut Johnson (1984) belajar kooperatif mempunyai ciri-ciri:
1). saling ketergantungan yang positif
2). dapat dipertanggungjawabkan secara individu
3). heterogin
4). berbagi kepemimpinan
5). berbagi tanggungjawab
6). ditekankan pada tugas dan kebersamaan
7). mempunyai keterampilan dalam berhubungan sosial
8). guru mengamati, dan
9). efektivitas tergantung pada kelompok

Dengan demikian dapat diringkas bahwa pembelajaran kooperatif mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1). siswa belajar dalam kelompok, produktif mendengar, mengemukakan pendapat, dan membuat keputusan secara bersama
2). kelompok siswa terdiri dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan
tinggi, sedang, dan rendah
3). jika dalam kelas terdapat siswa-siswa yang terdiri dari berbagai ras, suku, agama, budaya, dan jenis kelamin yang berbeda, maka diupayakan agar dalam setiap kelompok pun terdapat terdapat ras, suku, agama, dan jenis kelamin yang berbeda pula.
4). penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok daripada kerja perorangan.

Proses pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif dimulai dengan membagi siswa menjadi kelompok-kelompok kecil (3 – 5 siswa per kelompok). Setiap siswa ditempatkan di dalam kelas sedemikian rupa sehingga antara anggota kelompok dapat belajar dan berdiskusi dengan baik tanpa mengganggu kelompok yang lain. Guru membagi materi pelajaran, baik berupa lembar kerja siswa, buku, atau penugasan. Selanjutnya guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan memberikan pengarahan tenatng materi yang harus dipelajari dan permasalahan-permasalahan yang harus diselesaikan. Siswa secara sindiri-sendiri mempelajari materi pelajaran, dan jika ada kesulitan mereka saling berdiskusi dengan teman-temannya dalam kelompok. Untuk menguasai materi pelajaran atau menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan, setiap siswa dalam kelompok ikut bertanggungjawab secara bersama, yakni dengan cara berdiskusi, saling tukar ide/gagasan, pengetahuan dan pengalaman, demi tercapainya tujuan pembelajaran secara bersama-bersama.

Evaluasi dilakukan berdasarkan pencapaian hasil belajar komulatif dalam kelompok. Kemampuan atau prestasi setiap anggota kelompok sangat menentukan hasil pencapaian belajar kelompok. Untuk itu penguasaan materi pelajaran setiap siswa sangat ditekankan dalam pembelajaran kooperatif.
Guru melakukan pemantauan terhadap kegiatan belajar siswa, mengarahkan keterampilan kerjasama, dan memberikan bantuan pada saat diperlukan.
Aktifitas belajar berpusat pada siswa, guru hanya berfungsi sebagai fasilitator dan dinamisator. Dengan model pembelajaran kooperatif diharapkan siswa dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal dengan cara berpikir aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran.

1). Tujuan Pembelajaran Kooperatif

Pengelolaan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif, paling tidak ada tiga tujuan yang ingin dicapai, yaitu :

a. Hasil belajar akademik
Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Banyak ahli berpendapat bahwa model pembelajaran kooperatif unggul dlam membantu siswa yang sulit.

b. Pengakuan adanya keragaman
Model pembelajaran kooperatif bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai macam perbedaan latar belakang. Perbedaan tersebut antara lain perbedaan ras, suku, agama, kemampuan akademik, dan tingkat sosial.
c. Pengembangan keterampilan sosial
Model Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Keterampilan sosial yang dimaksud dalam pembelajaran kooperatif antara lain adalah : berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, bekerja dalam kelompok, dan sebagainya.

Dalam model pembelajaran kooperatif terdapat enam langkah utama, yang dimulai dengan langkah guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar, hingga diakhiri dengan langkah memberikan penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu.

3. Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Ciri-ciri utama pembelajaran berdasarkan masalah adalah meliputi suatu pengajuan pertanyaan atau masalah, memusatkan keterkaitan antar disiplin. Penyelidikan autentik, kerjasama, dan menghasilkan karya dan peragaan. Pembelajaran berdasarkan masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa.

Pembelajaran berdasarkan masalah bertujuan :
1). Membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan pemecahan masalah
2). Belajar peranan orang dewasa yang autentik
3). Menjadi pemelajar yang mandiri

Pada model pembelajaran berdasarkan masalah terdapat lima tahap utama yang dimulai dengan tahap memperkenalkan siswa dengan suatu masalah dan diakhiri dengan tahap penyajian dan analisis hasil kerja siswa.




BAB III
MEMBANGUN TIM BELAJAR
Pengertian Tim
Kata Tim adalah berasal dari bhs Inggris : team
Kamus Inggris Indonesia Petter Salim :
Team adalah : regu / sekelompok orang yang melakukan kegiatan
Sebenarnya pengertian tim hampir sama dengan pengertian kelompok, hanya saja pengertian tim mengarah kepada bebutuhan tertentu.
Tim adalah suatu kelompok yang berintraksi secara positif dengan hubungan secara timbal balik sesuai fungsi dan tugas masing-masing individu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Jadi dapat diartikan bahwa kelompok belum tentu tim sedang tim pasti merupakan suatu kelompok. (Yuni Pranoto, 2003: 8)

Tipe-tipe Tim kerja :
Tim pada dasarnya dapat diklasifikasikan berdasarkan sasaran, yang meliputi :
Tim Pemecah masalah, yakni tim pada suatu departemen yang bertemu secara teratur untuk membahas cara-cara memperbaiki kualitas, efisiensi, dan lingkungan kerja.
Tim pengelola diri, adalah tim yang bertanggung jawab dari mantan penyelia mereka.
Tim fungsional-silang, adalah tim dari tingkat herarkis dengan bidang kerja yang berlainan yang bertugas menyelesaikan suatu tugas, atau tugas serupa dengan komite.

Apa manfaat membangun tim
Robert B Maddux, seperti yang dikutip oleh Wahyu Suprapti, mengatakan bahwa manfaat membangun Tim yang efektif adalah sebagai berikut :
Sasaran yang realistis dapat tercapai atas kerjasama yang benar
Karyawan dan pemimpin memiliki komitmen untuk saling mendukung
Jika terjadi kesulitan saling memahami
Komunikasi bersifat terbuka
Pemecahan masalah dikalukan bersama
Konflik diterima sebagai hal yang wajar
Anggota tim faham bahwa disiplin adalah salah satu modal keberhasilan
Anggota tim diberi kesempatan mengembangkan diri
Terjadi keseimbangan antara produktivitas dan kepuasan kerja
Belajar bekerja secara efektif dan efisien

Unsur-unsur tim yang dinamis
Unsur-unsur tim yang dinamis menurut Richard Y Chang adalah sebagai berikut:
Menyetakan secara jelas misi dan tujuan tim
Beroperasi secara kreatif
Memfokuskan pada hasil
Memperjelas peran dan tanggung jawab
Dioganisasikan dengan baik
Dibangun atas kekuatan individu
Saling mendukung kepemimpinan anggota yang lain
Mengembangkan iklim tim
Menyelesaikan ketidaksapakatan
Berkomunikasi secara terbuka
Membuat keputusan secara obyektif
Mengevaluasi efektifitasnya sendiri.

Tahapan pertumbuhan tim
Tim yang baik dalam suatu organisasi tidak akan terjadi dengan sendirinya, dalam waktu yang pendek, melainkan perlu upaya yang sungguh-sungguh, kebijakan dan program yang konsisten, berkesinambungan dan sistematis atau dapat dikatakan perlu proses dan waktu yang diusahakan dengan sungguh-sungguh. Adapun tahapan pertumbuhan Tim yang disasjikan para ahli adalah sebagai berikut :
Tingkat forming, yakni tingkat pengumpulan informasi yang dibutuhkan sebagai penetuan dasar tim.
Tingkat storming, yakni tingkat keraguan atas kepercayaan terhadap tugas dan metodologinya, sehingga pesimis dengan program yang ada.
Tingkat norming, yaitu tingkat dimana anggota mulai mau menerima perbedaan-perbedaan dan mengadakan rekonsiliasi tentang hal-hal yang tidak disetujuinya.
Tingkat performing, pada tingkat ini mulai matang, mengerti tentang apa yang diharapkan dirinya. Mereka mulai mebicarakan gagasan-gagasan penyempurnaan, mencari data, mendiagnosa, mengembangkan solusi dan mencoba melakukan perubahan perubahan.


Ciri-ciri ketidak berhasilan tim adalah :
Menurut Belbin : 1991, mengatakan bahwa ciri atau kondisi organisasi juga merupakan faktor dominan. Adapun ciri-ciri atau kondisi organisasi sebagai tim tidak akan berhasil, apabila :
Desain visi, misi dan strategi tidak jelas,
Moral atau semangat tim rendah,
Konflik antar personal merebak,
Kemampuan mental (inteligensi, kreativitas) rendah,
Seleksi yang kurang berhasil,
Kepribadian yang dominan egois,
Komposisi susunan tim tidak efektif,
Peran anggota tidak jelas,
Tertutup untuk evaluasi,
Pemberdayaan kurang efektif.

Ketua Tim harus menguasai fungsi manajemen, berarti harus mampu:
Merencanakan
Mengorganisasikan
Mengarahkan
Melakukan kegiatan
Mengevaluasi

Ketua Tim harus mampu menjadi perencana yang efektif.
Perencana dapat dikatakan efektif jika memulainya dengan proses sbb:
Mengenal dan membatasi masalah. Setiap menyusun perencanaan harus jelas masalah dan batasan masalahnya.
Mengumpulkan data, setelah masalah dan batasannya jelas dikumpulkan data yang sesuai dengan masalah tersebut yang nanti akan berguna untuk membantu memecahkan masalah.
Menganalisis data, data yang terkumpul dianalisis sesuai dengan kebutuhan.
Mengambil kesimpulan, setelah data dianalisis kemudian diambil dirumuskan beberapa alternatif tindakan.
Memilih alternatif, dari rumusan alternatif dapat dipilih alternatif yang paling baik untuk dijadikan konsep keputusan.
Mempersiapkan keputusan yang diambil guna diformulasikan menjadi rencana-rencana kegiatan.

Konflik.
Dalam setiap organisasi, agar berfungsi secara efektif, maka tiap-tiap individu dan kelompok harus membuat hubungan kerja yang baik han harmonis agar mudah meperoleh informasi, bantuan, tindakaan yang terkoordinasi, dan berbagai kemudahan yang lain. Namun dalam berinteraksi tersebut mungkin atau kadang-kadang terjadi ketidak samaan pendapat yang dapat menimbulkan konflik. Sebagian besar manusia menganggap bahwa konflik itu suatu hal yang merugikan dan harus dihindari, tetapi sebagian yang lain menyadari bahwa dalam berinteraksi dengan orang lain mungkin pada suatu saat akan terjadi konflik, dan itu dianggap sebagai hal yang wajar. Faham yang terakhir ini menganggap bahwa dengan adanya konflik justru dapat menambah wawasan dan informasi untuk kemajuan. Oleh karenanya konflik perlu diantisipasi dan dikelola dengan baik dan sistematis.

Konflik terjadi karena disebabkan:
Menurut Bulton, sumber-sumber konflik ditimbulkan dari beberapa hal sebagai berikut :
Menghalangi pencapaian sasaran seseorang.
Kehilangan status.
Kehilangan otonomi atau kekuasaan.
Kehilangan sumber-sumber.
Merasa diperlakukan tidak adil.
Mengancam nilai dan norma
Perbedaan persepsi, dsb.
Adapun menurut Robert B. Maddux, penyebab konflik adalah sebagai berikut:
Perbedaan kebutuhan, tujuan,dan nilai-nilai
Perbedaan cara pandang terhadap motif, ajaran, tindakan, dan situasi
Perbedaan harapan terhadap hasil suka >< tdk suka
Enggan untuk bekerjasama

Dampak konflik antar kelompok
Menurut Suwarta, dengan adanya konflik akan terjadi perubahan-perubahan dalam suatu kelompok, organisasi atau tim kerja. Perubahan tersebut meliputi perubahan di dalam kelompok itu sendiri maupun perubahan antar kelompok.
Adapun perubahan di dalam kelompok, yakni :
Meningkatnya kepaduan kelompok untuk menghadapi konflik ekstenal dengan mengesampingkan perbedaan individu.
Munculnya kepemimpinan yang otokratis, yakni dalam menghadapi kondisi yang kurang kondusif perlu adanya pemimpin yang kuat / otokratis.
Munculnya perhatian atas kegiatan, toleransi membuang-buang waktu menurun, kepuasan secara individu sementara terkesampingkan, semua perhatian tertuju pada konflik yang dihadapi.
Penekanan pada kesetiaan, dalam siatuasi konflik; interaksi dengan anggota diperkuat dan interaksi anggota dengan kelompok lain merupakan pelanggaran.
Perubahan diantara kelaompok :
Persepsi yang terganggu, merasa dirinya/kelompoknya lebih penting dari yang lain.
Stereotip negatif lebih menonjol, hal-hal negatif yang sudah terpendam dapat timbul kembali.
Menurunnya komunikasi. Akibat terjadinya konflik biasanya komunikasi antar kelompok menurun dratis atau justru malah hilang sama sekali, pengambilan keputusan sulit dilakukan (terganggu), para pelanggan atau fihak-fihak yang dilayani terganggu.

Konflik akan bertambah merebak jika :
Adanya tindakan bermusuhan, anggota tim memasuki permainan menang kalah, mereka lebih senang memenangkan kemenangan pribadi dari pada memecahkan masalah.
Memegang posisinya dengan kuat, tidak mau menerima masukan demi perbaikan dan pemecahan masalah.
Keterlibatan emosional atau mempertahankan posisinya secara emosional.

Teknik pemecahan masalah
Tenik pemecahan masalah yang ditawarkan oleh Richard Y Chang adalah:
Langkah 1: mengakui adanya konflik.
Langkah 2: identifikasi masalah
Langkah 3: dengarkan semua sudut pandang dan kumpulkan fakta, akibat, dan opini
Langkah 4: lakukan pengkajian penyelesaian masalah
Langkah 5: dapatkan kesepakatan untuk menemukan solusi
Langkah 6: jadwalkan sesi tindak lanjut untuk mengkaji.



BAB IV
PROSES MEMBANGUN KERJASAMA

Mengenal diri dan mengenal orang lain
Setelah kegiatan pembelajaran ini, peserta dapat mengenal diri dan mengenal orang lain dengan lebih baik.

A. Simulasi dan latihan
1. Pencairan Kelas
a. Judul PELEBURAN DIRI
Tujuan Mendorong terajadinya interaksi yang intensif, membuat peserta merasa rileks dan tidak kaku.
Waktu 15 – 20 menit
Sarana/Prasarana Ruangan yang cukup luas untuk bergerak sejumlah peserta
Proses Kegiatan :
- Mulailah kegiatan ini dengan meminta peserta untuk berdiri melingkar, kemudian berjalanlah pelan-pelan.
- Berpencarlah dan lihatlah ke lantai dengan penuh konsentrasi.
- Coba bayangkan bahwa sekarang Saudara adalah orang lanjut usia (kira-kira 70 tahun). Saudara boleh memandang ke segala arah dan jika Saudara bertemu dengan orang tua yang lain, saudara boleh memberi salam dengan menganggukkan kepala saja. Setelah beberapa lama (± 1 menit) peserta diminta berhenti dan memandang ke lantai.
- Sekarang lambat laun kalian menjadi lebih muda, berumur 60 tahun dan lebih segar dari yang tadi. Berkelilinglah dan bila bertemu dengan orang lain, berilah salam dengan berjabatan tangan. Berilah waktu lebih kurang satu menit. Kemudian berhenti dan memandang ke lantai.
- Sekarang Saudara menjadi lebih muda lagi, kira-kira berumur 50 tahun. Saudara bertemu dengan orang lain dan berilah salam kepada yang lain dengan melambaikan kedua tangan. Berilah waktu lebih kurang satu menit. Kemudian berhenti dan memandang ke lantai.
- Sekarang Saudara menjadi lebih muda, berumur 40 tahun yang penuh semangat dan segar bugar. Bila bertemu dengan teman-teman saudara, tepuk-tepuklah pundaknya. Bergeraklah selama lebih kurang satu menit. Setelah itu berhentilah dan menghadap ke lantai.
- Sekarang Saudara menjadi lebih muda, gesit dan segar, berumur sekitar 25 tahun. Berjalanlah dengan cepat ke segala arah, sentuhlah teman Saudara sekilas dan usahakan jangan sampai disentuh orang lain. Lakukan hal ini sekitar satu menit. Kemudian tiba-tiba Saudara menjadi belasan tahun, sehat dan kuat. Larilah semau kalian dengan cepat, ... cepat... dan semakin cepat. Hindari tabrakan dengan teman lain dan usahakan pegang pundaknya tapi kalian jangan sampai kepegang. Berilah aba-aba berhenti pada saat kecepatan lari sampai pada puncaknya. Selanjutnya proses simulasi tersebut ke arah tujuan pembelajaran. Tanyakan bagaimana perasaan mereka sekarang, dan pada usia berapa perasaannya paling senang.

b. Judul : NAMA PANGGILAN
Tujuan : Memecah kebekuan antara peserta dan widyaiswara dan sesama peserta.
Waktu : 15 – 20 menit
Sarana/Prasarana : Ruangan yang cukup luas untuk membuat barisan berbanjar.
Proses Kegiatan :
- Bagi peserta menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 8 – 10 orang setiap kelompok, dengan cara berhitung (sesuai jumlah kelompok yang akan dibentuk)
- Minta peserta berdiri sesuai urutan abjad awal nama panggilannya (misalnya Ali, Dedi, Endang, Ratih dstnya sampai dengan Zainuddin).
- Widyaiswara akan menyebut satu kata, misalnya bunga, binatang atau benda-benda alam, maka orang-orang yang huruf awal nama panggilannya ada dalam kata tersebut harus mengucapkan kata bermakna dimulai dengan huruf awal nama panggilannya. Contoh: Kalau Widyaiswara menyebutkan Mawar, maka orang-orang yang nama awalnya adalah A (Anti, Anto, Ali, Abidin, Ana dstnya) harus meneriakkan satu kata bermakna di belakang namanya, misalnya Anti-Angka, Anto-Anak, Ali-Alasan, dan seterusnya. Begitu juga dengan M (Mansur, Maman, Maria atau Maulana) harus meneriakkan satu kata bermakna misalnya Mansur-Mandat, Maman-malang, Maria-mawar, Maulana-mahkamah dan seterusnya.
- Widyaiswara bebas menunjuk kelompok mana yang dikehendaki terlebih dahulu untuk menyebutkan nama panggilannya. Penyebutan harus dilakukan dengan cepat. Bila kelompok tersebut menyebut nama tidak berurutan abjad, maka bagi kelompok yang salah mendapat tugas untuk menghibur temannya dengan bernyanyi, berjoget atau tugas lain yang disepakati. Begitu seterusnya sampai setiap orang mempunyai nama panggilan tambahan.
- Proses (refleksi) ke arah tujuan pembelajaran.

c. Judul LEMPAR BOLA
Tujuan Memecah kebekuan antar peserta dan antara peserta dengan widyaiswara.
Waktu 15-20 menit
Sarana/Prasarana Ruang yang cukup luas untuk membuat lingkaran dan bola plastik.
Proses Kegiatan:
- Buka acara dengan salam. Jelaskan pada peserta bahwa keberhasilan diklat sangat ditentukan oleh persamaan, peran serta dan spontanitas. Persamaan adalah arti bahwa semua orang (peserta, widyaiswara dan panitia penyelenggara) selama diklat memiliki kedudukan yang sama. Artinya tidak ada perbedaan status, usia, sosial, pendidikan dan latar belakang keluarga. Sebagai konsekuensinya adalah setiap orang harus mau memperlakukan dan diperlakukan sama sederajad. Peran serta, setiap peserta harus mau berperan aktif dalam proses pembelajaran. Keterlibatan bukan hanya dari aspek fisik tetapi juga dari aspek pikiran dan perasaan. Spontanitas adalah sikap dan perilaku yang menampilkan keberadaan diri sendiri menurut apa adanya (tidak dibuat-buat), tanggap, sigap, teliti, kritis dan terbuka (siap dan sedia memberi dan menerima umpan balik).
- Tanyakan pada peserta tentang kesediaannya dan adakan uji coba dengan cara:
· Ajak peserta berdiri melingkar bergandengan tangan satu sama lain. Widyaiswara melempar bola ke atas dan pada waktu bola diatas peserta mengayunkan gandengan tangannya sambil bergumam heeeem...
· Pada waktu bola sudah ditangkap kembali oleh widyaiswara peserta mengatakan “enak teenan”.
- Setelah beberapa kali hal tersebut di atas dilakukan, tanyakan pada peserta apakah mereka sudah saling mengenal? Bila sudah, cek sejauh mana mereka mengenal temannya, misalnya tanyakan apakah mereka sudah mengetahui tanggal lahir atau hobby salah seorang diantara mereka. Bila belum saling mengenal, maka kegiatan selanjutnya tawarkan pada mereka untuk saling mengenal lebih baik satu dengan lainnya. Untuk itu, silahkan memilih salah satu instrumen atau simulasi perkenalan.
- Akhirnya tanyakan perasaan mereka setelah melakukan kegiatan simulasi tadi.
2. Mengenal Diri
a. Judul : MENGGAMBAR WAJAH
Tujuan : Mengenal diri dengan lebih baik
Waktu : 25 – 30 menit
Sarana/Prasarana : Kertas ukuran folio/kuarto sejumlah peserta.
Proses Kegiatan :
- Bagikan kepada peserta selembar kertas (ukuran kuarto/folio). Lipat menjadi 2 (dua) bagian berdasarkan panjangnya.
- Pada salah satu bagian (atas) kertas diminta peserta menggambar wajahnya masing-masing. Pada lipatan bagian bawah buat garis tengah memanjang ke bawah. Pada masing-masing bagian tulislah perilaku-perilaku positif dan negatif dari diri Saudara.

Perilaku Positif (+) Perilaku Negatif (-)
1. Bertanggung jawab
2. Pandai
3. Terbuka
4. Mudah bergaul
5. Pekerja keras 1. Suka menundanunda kerja
2. Keras kepala
3. Cerewet
4. Boros
5. Malas Olahraga
- Setelah itu proses kearah tujuan pembelajaran. Kaitkan juga dengan manfaat mengenal diri, mengenal kelebihan-kelebihan diri agar dapat dioptimalkan dan mengenal kelemahan-kelemahan diri agar dapat diminimalisir.
b. Judul : BINTANG
Tujuan : Mengenal diri secara lebih baik.
Waktu : 30-45 menit
Sarana/Prasarana : Lembar kerja-1 (bintang) sebanyak peserta dan krayon
Proses Kegiatan :
- Bagikan masing-masing peserta lembar kerja-1 (bintang). Tulislah nama panggilan saudara pada kotak yang ada di tengah-tengah bintang.
- Berikutnya pada masing-masing sudut bintang tersebut, tulislah secara berturut mulai sudut pertama sampai dengan sudut ke lima: 2 tokoh idola saya (boleh tokoh nasional, internasional atau keluarga terdekat kita seperti ayah atau ibu), dua keberhasilan saya belum lama ini, dua kegagalan saya belum lama ini, tiga kata yang menggambarkan diri saya dan dua cita-cita saya.
- Setelah selesai, beri kesempatan peserta memberi warna pada bintang mereka masing-masing (gunakan crayon).
Proses ke arah tujuan pembelajaran. Tanyakan apakah muda bagi mereka untuk mengisi lembar kerja-1 tersebut. Kalau sulit itu merupakan indikator bahwa mereka belum mengenal diri mereka secara lebih baik.
- Peserta dikelompokkan 3 s.d 4 kelompok dengan anggota maksimal 10 orang (mempertimbangkan waktu yang tersedia)
Selanjutnya gambar tersebut ditempelkan dan diungkapkan maknanya pada peserta lain. Peserta lain menyimak dan tidak boleh membantah, hanya boleh minta klarifikasi.

3. Mengenal Orang Lain
a. Judul Menyusun Peribahasa/ Couplet
Tujuan Peserta saling mengenal dengan lebih baik, sehingga terjadi interaksi yang intensif, komunikasi dan kerjasama yang efektif.
Waktu 45-60 menit
Sarana Kartu-kartu berisi potongan peribahasa. Ukuran kartu 5x6 cm dari kertas manila.
Proses Kegiatan :
- Mulailah kegiatan ini dengan menjelaskan apa yang akan dilakukan peserta. Peserta dibagikan masing-masing selembar kartu yang berisi sepotong peribahasa (bisa peribahasa dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggeris).
- Peserta diminta mencari potongan lain dari peribahasa tersebut sehingga membentuk satu peribahasa yang lengkap dan bermakna.
- Selanjutnya masing-masing pasangan saling berkenalan. Setelah pasangan tersebut berkenalan secara lebih intensif, pasangan tersebut diminta melanjutkan perkenalan secara berkelompok dengan pasangan-pasangan lain yang terdiri dari 3 atau 4 pasangan. Dalam perkenalan tersebut dapat dikemukakan mengenai nama, latar belakang pendidikan, status, hobby dan lain-lain yang dianggap perlu. Dari perkenalan dalam kelompok tersebut, mereka diminta untuk menunjuk salah seorang perwakilan yang akan memperkenalkan mereka dikelompok besar (pleno). Kalau pesertanya tidak terlalu banyak, masing-masing pasangan langsung saja memperkenalkan pasangannya dikelas besar (pleno).
- Setelah kegiatan tersebut selesai dapat dilanjutkan dengan simulasi “Zip-Zap” agar lebih mengingat nama-nama orang yang telah memperkenalkan diri atau dapat saja setiap peserta diminta menyebut 3 atau 4 orang nama teman disebelah kiri atau sebelah kanannya.
Proses atau refleksi kegiatan tersebut dengan menggunakan ELC.

b. Judul Bulan Kelahiran
Tujuan Mendorong terjadinya inteaksi yang intensif, membuat peserta rileks.
Waktu 45-60 menit
Sarana Ruangan yang cukup lebar untuk dapat berpindah atau bergerak.
Proses Kegiatan :
- Minta kepada peserta untuk berkeliling menemukan orang yang bulan kelahirannya sama. Setelah itu buatlah kelompok bulan Januari, Pebruari s.d bulan Desember.
- Dalam kelompok minta peserta untuk saling mengenal nama, latar belakang pendidikan, hobby, kelebihan dan kekurangan masing-masing.
- Setelah kegiatan tersebut selesai, salah seorang anggota mewakili kelompok menyampaikan hasilnya pada kelompok besar (pleno).
- Untuk lebih mengingat nama-nama peserta yang lain, boleh dilanjutkan dengan melakukan simulasi “Zip-Zap” atau menyebut nama 3-4 orang teman di sebelahnya.
- Proses atau refleksi kegiatan ini ke arah tujuan pembelajaran.

c. Judul Siapa Dia
Tujuan Mendorong terjadinya interaksi yang intensif, membuat peserta rileks, terbuka dalam berkomunikasi.
Waktu 45-60 menit
Sarana/Prasarana Ruang kelas yang cukup besar
Proses Kegiatan :
- Mulailah kegiatan ini dengan meminta peserta untuk berdiri dan mencari peserta lain untuk diajak ngobrol. Berusahalah mendapatkan informasi tentang orang yang diajak ngobrol tersebut dan juga membuka diri tentang siapa dirinya sebenarnya terhadap peserta lain yang menanyakah hal tersebut. Setiap peserta diberi waktu 5 menit untuk menyampaikan atau menanyakan mengenai peserta lain.
- Setelah 5 menit berlalu, widyaiswara memberi aba-aba tanda waktu ngobrol dengan orang tersebut habis dan segera cari orang lain. Setelah 30 menit berlalu, Widyaiswara meminta masing-masing orang menyebutkan secara sekilas nama teman yang berhasil dikenalnya dan sampaikan kepada pleno. Kalau dapat diungkapkan juga mengenai hal-hal menonjol (kelebihan atau kekurangan) yang dimiliki orang bersangkutan.
- Akhiri sesi ini dengan merefleksi ke arah tujuan pembelajaran.
Variasi: Pada saat peserta mencari peserta lain, bisa menggunakan potongan gambar hewan atau tanaman. (potongan sesuai dengan jumlah peserta yang ditemukan oleh setiap peserta.

Daftar pustaka
Clegg, Brian dan Brich, Paul (2001). Team Work. Erlangga. Jakarta
Edie West; (1997) 201 Ice Breakers (Group Mixers, Warm-up, Energizers and Playful Activities, The McGraw-Hill Companies, Inc, USA.
Hildegard Wenzler-Cremer, Maria Fischer-Siregar; (1993) Permainan dan Latihan Dinamika Kelompok. Prose Pengembangan Diri, PT. Gramsedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.
Juni Pranoto, dan Wahyu Suprapti (2003). Membangun kerjasma tim (Team building). Jakarta : LAN
M. Entang, Prof. Dr. MA; (1995). Panduan Pembelajaran Bagi Widyaiswara, Diklat Propinsi Pemda DKI, Jakarta.
Maddux, Robert B (2001). Team Building. Erlangga, Jakarta
Manajemen Pendidikan (2002) oleh TIM FKIP-UMS. Surakarta: Muhammadiyah University Press
Roem Topatimasang, dkk.; (1986), Belajar Dari Pengalaman, Panduan Latihan Pemandu Pendidikan Orang Dewasa untuk Pengembangan Masyarakat; P3M, Jakarta.
Santosa, Slamet; (1992), Dinamika Kelompok, Bumi Aksara, Jakarta.
Sri Mudini, Dra, MPA, Hj-Sri Ratna, Ir, MM; (2001), Dinamika Kelompok (Bahan Ajar Diklat Prajabatan Golongan III), LAN-RI, Jakarta.
Suwarto, FX. (1999). Perilaku keorganisasian. Yogyakarta: Atma Jaya
Yayasan Indonesia Sejahtera; (1990), Bermain, Menghayati dan Belajar, Solo, PPSDM.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar