Selasa, 23 Agustus 2011

PENGAJARAN TUHAN YESUS BERDASARKAN INJIL MATIUS 5-7




3.1. Mengenal Kitab Injil Matius
Tuhan Yesus tepat sekali bagi pekerjaan pembelajaran. Belum ada orang di dunia ini yang lebih tepat untuk tugas ini (mengajar) daripada Yesus, sehingga tidak berlebihan jika Yesus disebut sebagai Guru Agung. Dalam pembelajaranNya Yesus sebagai seorang Guru yang sempurna, baik dari segi ilahi ataupun isani. Matius memberi kesaksian bahwa; ”Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengjaranNya” (Matius 7:28). Dan setelah Ysus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia (Matius 8: 1). Yohanes memberi kesaksian bahwa memang Ia (Yesus) datang sebagai Guru yang diutus dari Allah (Yoh. 3:2).
Ada banyak kegiatan Yesus yang dapat menujukkan bahwa Dia adalah seorang
Guru sejati. Alkitab tidak pernah menyebutkan bahwa Yesus sendiri menyebutNya sebagai guru, melainkan murid-muridNya dan masyarakat Yahudi yang menyebut Yesus sebagai Guru. Penijauan tentang Pengajaran Tuhan Yesus, baik yang ada unsur insani maupun unsur –unsur ilahi, terutama dari sebagian pemberitaan dalam Injil Matius telah mengkategorikan pelayanan Yesus sebagai kegiatan ”mengajar” dan orang-orang yang mendengarNya disebut sebagai murid-muridNya.

Sebelum lebih lanjut kita memahami pengajaran Tuhan Yesus dalam Kitab Injil Matius secara lebih mendalam, baiklah kita memahami, tentang penulis Injil Matius, tujuan penulisan, pemberitaan, ciri-ciri khas, serta hal-hal lain yang seberhubungan dengan pemahaman Injil Matius.
3.1.1 Penulis Kitab Injil Matius
Injil ini di tulis oleh Matius sendiri. Dalam daftar ke dua belas murid Tuhan Yesus, Matius disebut dengan sebutan yang lebih luas dari pada murid-murid yang lain: ”Tuhan Yesus memanggil Matius yang memiliki latar belakang seorang pemungut cukai”. Apabila berbicara tentang kedua belas murid Yesus, maka dapat dibayangkan bahwa Matius, yang sebagai pemungut cukai terlatih dalam hal kerapihan administrasi. Bahkan dapat diungkapkan bahwa Matius merupakan seorang yang sangat fasih dan lancar dari pada murid-murid lain dalam hal membuat catatan-catatan.
Tentang tanggal penulisan belum di ketahui, namun beberapa tokoh teolog berpendapat bahwa Kitab Matius ditulis kurang lebih pada tahun 60-an. Bahkan para ahli Perjanjian Baru biasanya menduga, bahwa Injil Matius baru ditulis kira-kira tahun 80-an sesudah Masehi. Pada waktu itu Injil Matius dapat ditempatkan sebagai salah satu kitab Perjanjian Baru. Namun demikian ada dua alasan para teolog memberikan pandangan mereka tentang penulisan Kitab Injil Matius. Pertama Pada tahun 70 terjadi satu peristiwa yang penting. Pada tahun itu Bait Allah di Yerusalem di bakar habis oleh tentara Romawi. Kedua yaitu Perluasan Gereja Kristen pada zaman itu. Hal ini berdasarkan pandangan .E. Duyverman dalam bukunya ”Pembimbing dalam Perjanjian Baru. mengungkapkan bahwa Injil Matius dikarang antara tahun 72 dan 85. Tentang hal ini pun belum dapat dipastikan sampai sekarang.
Tanggal dan tempat Injil ini berasal tidak dapat dipastikan. Akan tetapi, ada alasan kuat untuk beranggapan bahwa Matius menulis sebelum tahun 70 M ketika berada di Palestina atau Antiokia di Siria. Beberapa sarjana Alkitab percaya bahwa Injil ini merupakan Injil yang pertama ditulis, sedangkan ahli yang lain beranggapan bahwa Injil yang ditulis pertama adalah Injil Markus.
3.1.2. Tujuan penulis
Tujuan penulisan Injil Matius menurut Wesley Adam dapat diungkapkan beberapa hal yaitu: Pertama: Untuk memberikan kepada sidang pembacanya kisah seorang saksi mata mengenai kehidupan Yesus. Kedua: Untuk menyakinkan pembacanya bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Mesias yang dinubuatkan nabi-nabi dalam Perjanjian Lama, yang sudah lama dinantikan. Ketiga: Untuk menujukkan bahwa kerajaan Allah dinyatakan di dalam dan melalui Yesus Kristus dalam cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Matius ingin sekali agar pembacanya memahami bahwa: Pertama, Hampir semua orang Israel menolak Yesus dan Kerajaannya. Mereka tidak mau percaya karena Ia datang sebagai Mesias yang rohani dan bukan sebagai Mesias yang politis. Kedua, Hanya pada akhir zaman Yesus datang dalam kemuliaan-Nya sebagai Raja segala raja untuk menghakimi dan memerintah semua bangsa.
3.1.3. Ciri-ciri Khas Kitab Matius
Membahas mengenai ciri khas kitab Injil Matius, maka melalui penyusunan skripsi ini dapat diungkapkan tujuh ciri utama yang menandai Injil Matius. Pertama, Kitab ini merupakan Injil yang mencolok sifat ke-Yahudiannya.
Kedua, Ajaran dan pelayanan Yesus di bidang penyembuhan dan pelepasan disajikan secara teratur. Karena hal ini, maka pada abad kedua gereja sudah mempergunakan Injil ini untuk membina orang yang baru bertobat.
Ketiga, Kelima ajaran utama berisi materi yang terluas di dalam keempat Injil yang mencatat pengajaran Yesus yaitu (a) selama pelayanan-Nya di Galilea dan (b) mengenai hal-hal terakhir (eskatologi).
Keempat, Injil ini secara khusus menyebutkan peristiwa dalam kehidupan Yesus sebagai penggenapan Perjanjian Lama jauh lebih banyak daripada kitab lain di Perjanjian Baru.
Kelima, Kerajaan Sorga/Kerajaan Allah disebutkan dua kali lebih banyak daripada kitab lain di Perjanjian Baru.
Keenam Matius menekankan beberapa hal yaitu; (a) standar-standar kebenaran dari Kerajaan Allah (pasal 5-7; Mat 5:1-7:29); (b) kuasa kerajaan itu atas dosa, penyakit, setan-setan, dan bahkan kematian; dan (c) kejayaan kerajaan itu di masa depan dalam kemenangan yang mutlak pada akhir zaman. Ketujuh hanya Injil ini yang menyebutkan atau menubuatkan gereja sebagai suatu wadah yang menjadi milik Yesus di kemudian hari (Mat 16:18; 18:17).
3.1.4. Survei Kitab Matius
Matius memperkenalkan Yesus sebagai penggenapan pengharapan Israel yang dinubuatkan. Yesus menggenapi nubuat Perjanjian Lama melalui kelahiran-Nya (Matius 1: 22-23) tempat lahir (psl 2:5-6), peristiwa kembali dari Mesir (2:15) dan tinggal di Nazaret (2:33); Ia juga memperkenalkan sebagai Oknum yang didahului oleh perintis jalan Sang Mesias(3:1-3); dalam hubungan dengan lokasi utama dari pelayanan-Nya di depan umum (psl 4:14-16),pelayanan penyembuhan-Nya (8:17), peranan-Nya hamba Allah(12:17-21), ajaran-Nya dalam bentuk perumpamaan (13:34-35), peristiwa memasuki Yerusalem dengan jaya (21:4-5),dan penangkapan-Nya 26:56). Matius pasal 5-25 mencacat lima ajaran utama yang disampaikan oleh Yesus dan lima kisah utama mengenai perbuatan-Nya yang besar sebagai Mesias. Lima ajaran utama yaitu adalah: Pertama: Khotbah di bukit (Ps.5-7). Kedua: Pengarahan bagi orang yang diutus untuk berkeliling memberitakan kerajaan itu (ps .10). Ketiga: Perumpamaan tentang kerajaan Allah (ps .13). Keempat: Sifat seorang murid sejati (ps.18).Kelima: Ajaran di bukit Zaitun mengenai akhir zaman (ps.24-25). Lima kisah utama dalam Injil ini adalah: pertama, Yesus mengerjakan tanda ajaib dan mujizat , yang menegaskan tentang realitas kerajaan itu(ps.8-9), kedua Yesus mempertunjukkan lebih lanjut adanya kerajaan (ps.11:12), ketiga, Pengumuman kerajaan menimbulkan bermacam-macam krisis (ps. 14-17); keempat Yesus berjalan ke Yerusalem dan tinggal disitu pada minggu terakhir (19:1-26::46) ; 5. Yesus ditangkap, dihakimi, disalibkan dan bangkit dari antara orang mati (26:47-28:20 ).Tiga ayat yang terakhir dari kitab Injil ini mencatat ”Amanat Agung ” Yesus.
3.2. Pokok Pengajaran Tuhan Yesus berdasarkan Matius 5 -7
Pasal 5-7 merupakan bagian pertama dari lima ajaran utama Yesus yang terdapat dalam kitab Matius. Pokok pengajaran Tuhan Yesus sebagai Guru Agung diawali dengan Ucapan-ucapan bahagia dalam Matius 5:3-12 Ucapan-ucapan Bahagia dalam Kitab Matius 5:3-12 dapat ditemukan di dalam Perjanjian Lama juga, khususnya dalam Kitab Mazmur (1:1-2;2:12;23:1-2;40:5;41:1;65:5;72:17;84:5-694:12;112:3;119:1-3dan 129:1-3). Dalam kitab Torah, yaitu hukum-hukum atau perintah-perintah, juga dikutip dan digunakan Tuhan Yesus dalam mengajar orang banyak.
3.2.1 Mengajar tentang Bahagia( Matius 5:3-12)
Ucapan berbahagia di dalam kitab (Matius 5:3-12 ) ini berkaitan dengan Injil (Lukas 6:20-23). Sehubungan dengan ucapan-ucapan bahagia ini dapat diungkapkan bahwa ucapan – ucapan bahagia yang diungkapkan Tuhan Yesus dalam Matius 5:3-10 bukan ucapan yang baru. Sehubungan dengan itu, maka dapat diungkapkan pula dalam Perjanjian Lama yaitu;Pertama:”Berbahagialah orang yang berjalan tidak menurut nasihat orang fasik.”(Mazmur1:1-2).Kedua:”berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang berjiwa penipu! Maz. 32:1-2).
Sehubungan dengan ucapan bahagia, maka pada pembahasan berikut penyusun akan membahas tentang pokok pengajaran Tuhan Yesus sehubungan dengan ucapan bahagia, yaitu antara lain, bahwa kata BERBAHAGIA dapat diterjemahkan diberkati dan berbahagialah. Pasim. Perkataan yang diucapkan oleh Yesus sebagai Raja baru merupakan undang-undang kerajaan surga, merupakan wahyu tentang kehidupan rohani dan prinsip-prinsip surgawi dari kerajaan surga, yang terdiri tujuh bagian: bagian pertama 5:3-12, menggambarkan sifat dasar umat kerajaan surga, yang berada di bawah sembilan berkat. Mereka adalah orang-orang 6ang miskin dalam roh, yang berduka atas keadaan saat ini, yang lemah lembut dalam menanggung tantangan, yang lapar dan haus akan bekenaran, yang bermurah hati kepada orang lain, yang murni hatinya, yang membawa damai, yang menderita aniaya karena kebnaran, dan yang dicela serta difitnah dengan jahat karena Tuhan.
Miskin dalam roh di sini bukan hanya rendah hati, melainkan juga dikosongkan dalam roh, dalam kedalaman diri kita, tidak berpegang pada hal-hal lama dari zaman yang lama, tetapi dibongkar untuk menerima hal-hal baru, hal-hal kerajaan surga.

3.2.2 Mengajar tentang Garam dan Terang ( Matius 5 : 13-16 ).
Melalui pengajaran dalam Matius 5:13-16, Tuhan Yesus sebagai Guru Agung menghendaki agar dalam hidupnya, orang-orang Yahudi menjadi garam dan terang. Tuhan Yesus menggunakan kata garam karena dalam kehidupan garam memiliki peranan penting. Garam berfungsi membersihkan makanan khususnya daging dari rupa-rupa kotoran.
Dalam Perjanjian Lama terdapat banyak kesaksian tentang hal ini. Salah satu diantaranya ialah ( Imamat 2 : 13 ). Dalam hal ini, maka diungkapkan bahwa garam bermanfaat bagi korban sajian. Karena semua korban sajian harus dibubuhi garam yang murni. Sebagaimana Garam dalam fungsinya, maka Tuhan Yesus menggunakan kata terang dalam pengajaranNya. Menurut kesaksian Alkitab terang adalah sumber terang bukan saja dalam arti kebahagiaan, kesejahteraan, kegembiraan dan karunia-karunia lain.
Perjanjian Lama juga membahas tentang terang yaitu dalam Mazmur 27; Yesaya 58:8; Amsal 5:20; Matius 4 :16 Lukas 1 : 27 ;2:32. Selain daripada arti kiasan di atas, dalam Perjanjian Lama terang juga dapat dijumpai dalam arti yang sebenarnya, seperti terang matahari , terang bulan, dan terang – terang lain seperti yang diciptakan manusia lampu, pelita dan lain-lain.
Di dalam Perjanjian Baru terang juga dipakai sebagai arti kiasan. Allah adalah terang menurut rasul Paulus ”telah membuat terangNya bercahaya di dalam manusia. Sehingga di dalam hidupnya, manusia tidak dikuasai oleh kegelapan ( 2 Korintus 4:4-6 ;Kolose 1:12)

3.2.3. Pengajaran tentang hubungan Yesus dan hukum Torat (Mat. 5:17- 20). Salah satu materi pengajaran Tuhan Yesus yaitu pengajaran tentang hubungan Yesus dengan hukum Torat. Materi ini dapat diungkapkan dalam Matius 5:13-16. Sehubungan dengan pengajaran tersebut dapat diungkapkan bahwa materi pengajaran Tuhan Yesus dimaksudkan agar orang Yahudi atau orang percaya tidak mengabaikan Perjanjian Lama dari Perjanjian Baru. Karena kedua kitab tersebut memiliki keterkaitan satu dengan lainnya.
3.2.5. Pengajaran tentang perintah untuk jangan membunuh (Matius 5:21-26).
Melalui Matius 5:21-26 menegaskan mengenai perintah” Jangan membunuh! ”ini adalah perintah yang keenam dari ”dekalog”. Dalam Firman yang kelima yang diperintahkan untuk menghomati Ayah dan Ibu dan Firman keenam juga demikian: ia memerintahkan untuk menghormati hidup manusia. Mengapa? Karena hidup manusia penting dan berharga. Sehingga manusia perlu dilindungi (Keluaran 19:2-32; Bilangan 35:10-34; Ulangan 19:1-13; Yohanes 20:1-9).
Istilah-istilah, yang biasa dipakai dalam Perjanjian Lama untuk membunuh ialah ”harag” dan ”hemit”. Firman yang keenam dalam kitab Keluaran 20:13 istilah yang digunakan untuk memaknai kata membunuh yaitu, ”rasah”. Ada ahli yang menduga bahwa kata ”rasah ”mungkin berarti ”membunuh dengan sengaja”. Tetapi yang menjadi kesulitan ialah, bahwa istilah ”rasah” juga dipakai untuk ”membunuh dengan tidak sengaja” (Ulangan 4:41-43; 19:1-13;Yosua 20:21). Penyelidikan mendalam menyatakan, bahwa kata ”rasah” dipakai untuk pembunuhan yang melawan (bertentangan dengan) hukum
3.2.6 Pengajaran untuk jangan bersumpah palsu (Matius 5:33-37)
Hal pengajaran tentang bersumpah palsu disini Yesus berkata: ”Kamu telah mendengar pula yang difirmankan (oleh Tuhan, dalam hukum Taurat ) kepada nenekmoyang: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu didepan Tuhan.” Sebagaimana diungkapkan dalam kebenaran Firman Tuhan dalam hukum Taurat Imamat 19:12:” Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu.”
Pada masa TuhanYesus, sudah menjadi suatu kebiasaan orang Yahudi untuk selalu mengucapkan kata-kata dengan sumpah. Sebab orang Yahudi takut untuk memakai nama Allah, maka mereka seringkali dalam sumpah mengganti nama Allah dengan kata lain, misalnya: demi Taurat, demi Yerusalem, demi kepalamu.
Dalam Matius 23:16 dapat dilihat bahwa orang Yahudi kadang-kadang membuat perbedaan-perbedaan aneh di antara sumpah yang mengikat (”demi Bait Suci”). Jadi Yesus menerangkan bahwa segala sumpah adalah sumpah demi Tuhan. Mungkin Tuhan Yesus di sini berbicara sumpah-sumpah yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari saja; kebiasaan Yahudi selalu bersumpah tidak boleh diikuti oleh pengikut-pengikut Kristus, tetapi harus diganti dengan kejujuran dengan besar.
3.2.7. Pegajaran tentang pembalasan dendam (Matius 5:38-42).
Tuhan Yesus dalam banyak kesempatan mengatakan hal-hal yang sangat kontroversial. Perhatikanlah pengajaran-Nya sangat terkenal, yaitu khotbah dibukit. Berikut ini sebagian dari pengajaran tersebut:”kamu telah mendengar firman: ”mata ganti mata dan gigi ganti gigi”. Tetapi Aku berkata kepadamu:Janganlah kamu orang yang melawan perbuatan jahat kepadamu,melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga pipi kirimu. Selajutnya Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”
Peraturan-peraturan ini bukan hal yang pebaruan lagi tapi Perjanjian Lama juga meungkapkan hal yang sama bermaksud untuk menjamin nyawa sesama manusia. Hukum ini terutama kita baca dalam Keluaran 21:12-36, Imamat 24:20 dan Ulangan 19:21. Di antara kecederungan manusia yang memberlakukan hukum pembalasan,tetapi Yesus mengajarkan hukum kasih. Hukum kasih merupakan cara untuk memutus mata rantai dendam yang tak berkesudahan. Membalas dendam bukan cara menyelesaikan masalah, demikian pula mempertahankan harga diri atau harta milik. Sebaliknya, mengasihi, sikap rendah hati, dan memberi dengan tulus, dapat melahirkan damai sejahtera. Beberapa hal di atas yang menunjukan bahwa Yesus merupakan pembaharu yang mengupayakan segala sesuatu berjalan dengan adil sesuai kebenaran Allah.
3.2.8. Pengajaran tentang kasih (Mataius 5:42-48).
Salah satu materi pengajaran Tuhan Yesus tentang Kasih. Di sini Tuhan Yesus mempergunakan kembali hukum Taurat sebagai titik tolak untuk pengajaranNya. Hal ini berkaitan dengan (Imamat 19:18): ”Kasihilah sesamamu manusia”. Oleh sebab itu Yesus mengatakan bahwa dalam hukum Taurat ada tertulis ”bencilah musuhmu”. Kasih adalah undang-undang dasar kerajaan Allah. Mengasihi setiap orang adalah ”hukum yang baru”yang dinyatakan oleh Yesus dengan cara lebih jelas daripada Perjanjian Lama. Betapa lega hati orang, apabila orang mengasihi musuh-musuh orang! Ketegangan dan kepahitan hilang dari hati orang, dan sikap orang menjadi ”sikap yang membangun.” Yesus mengatakan:”Berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Matius 5: 44).
3.2.9. Pengajaran tentang persembahan (Matius 6:1-4)
Kata ”sedekah” dalam kata Arab, di terjemahkan bahasa Iberani ”tsedaga”,yang berarti keadilan. Memberi sedekah berarti: melakukan keadilan. Bagian yang baru dari pengajaranNya Yesus mulai dengan:”Ingatlah, jangalah kamu melakukan keadilan (LAI: kewajiban agamamu) didepan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang disorga” (Matius 6 :1 ). Perkataan Yesus ini bukan saja berlaku bagi ”memberi sedekah”, tetapi juga bagi ”berdoa”dan ”berpuasa”(Matiua 6 : 2-18) Ia berkata kepada mereka:”Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi, akan membalasnya kepadamu”(Matius 6:4).
3.2.10. Pengajaran tentang doa (Matius 6:5-15).
Orang-orang Yahudi mengenal rupa-rupa doa atau bentuk doa, seperti doa puji-pujian (Mazmur 33 ); doa pengakuan dosa (Mazmur 51); doa permohonan (Mazmur 12), doa syafaat (Kejadian 18:16; Keluaran 32:11).
Pengajaran tentang doa bagi Tuhan Yesus penting untuk disampaikan karena Tuhan Yesus melihat orang Yahudi menganggap hal berdoa itu sebagai suatu ”kewajiban agama”yang sekurang-kurangnya sama pentingnya dengan hal memberi sedekah. Banyak orang Yahudi pada zaman Yesus dalam hal berdoa, dua atau tiga kali sehari, dan di tambah sebelum makan mereka berdoa juga. Untuk doa-doa itu dipergunakalah yang rumusan-rumusan tertentu (misalnya yang disebut ”syema” dan delapan belas doa”) Yesus menekankan bahwa dalam berdoa, seseorang hendaknya menunjukan sikap penghormatan kepada Allah.
3.2.11 Pengajaran tentang Puasa (Matius 6:16-18).
Salah satu materi Tuhan Yesus yaitu pengajaran tentang Puasa. Puasa adalah salah satu kewajiban keagamaan orang-orang Yahudi. Orang Israel berpuasa bila ada hubungan dengan kejadian-kejadian tertentu. Orang yang berpuasa sering mengambil sikap seperti orang yang berduka ( 1 Raja-raja 21:27; Ester 4:3;Yunus 3:5;).
Menurut Perjanjian Lama hanya satu puasa saja yang menurut hukum harus diwajibkan, yaitu puasa pada hari pendamaian. Pada hari itu orang Yahudi harus ”merendahkan diri dan berpuasa ”. Mereka tidak boleh melakukan apapun pada hari itu: mereka dan orang asing yang tinggal tengah-tengah mereka. Hari itu harus diadakan pendamian bagi mereka untuk mentahirkan mereka ( Imamat 16: 29;23:27; Bilangan 29:7). Lamanya puasa itu seperti lamanya larangan untuk bekerja ialah satu hari penuh. Siapa yang melanggar peraturan ini, dijatuhi hukuman mati.
Sedangkan Yesus berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam lamanya dipadang gurun Karena itu puasa bertentangan dengan segala bentuk ”tontonan” atau ”pameran” Pada hari Yesus berpuasa yang biasa dilakukan pada hari Senin dan Kamis menurut peraturan para rabi (Lukas 18:12), dianggap sebagai suatu perbuatan yang saleh. Karena itu makin lama makin cenderung untuk melakukannya secara demonstratif.”Mengubah air muka”.
Adapun Yesus maksudkan dengan ungkapan ini ialah cara yang orang pakai pada waktu itu,yaitu: menghitamkan sudut-sudut mulut dan bagian-bagian bawa dari mata dengan arang. Yesus memberikan cara yangbaru dalam melakukan puasa
3.2.12.Pengajaran tentang sikap terhadap harta (Matius 6:19-24)
Hal pengajaran Yesus tentang pengumpulan harta ini terdapat diayat 19: ”Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi! Di bumi ngaengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. 20. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga ! Di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. 21. Karena dimana hartamu berada, di situ juga hatimu berada”.
Pokok yang Yesus bicarakan dalam perikop ini, adalah suatu pokok yang baru, menurut Yesus dalam pengajaranNya harus dihindarkan oleh murid_muridNya (Jemaat). Mereka tidak boleh lupa, bahwa di dunia ini harta tidak aman. Apa yang Yesus maksudkan dengan ”mengumpulkan harta di bumi”, Konteksnya adalah bahwa yang Ia maksudkan dengan kiasan itu ialah memberi diri ( hidup, hati) dikuasai begitu rupa oleh harta,sehingga orang tidak mempunyai perhatihan lagi sahat berhadapan Allah dan terhadap sesamanya manusia. Hartanya menjadi pusat hidupnya.
Lebih dari pada itu: sadar atau tidak sadar ketetapan di anggap sebagai illah. Kata Yesus ” harta sorgawi” (dalam arti rohani) menentang ”harta duniawi” yang manusia miliki dalam dunia ini. Dari seluruh hidup dan pengajaran Yesus nyata, bahwa pernyataan itu tidak benar. Yesus tidak menentang harta, tetapi bukan harta sebagai ilah yang di sembah, yang Ia setujui harta berfungsi sebagai alat untuk melayani. Jadi harta sorgawi ialah perbuatan-perbuatan baik, seluruh hidup dan keselamatannya.
3.2.13. Pengajaran tentang perintah untuk tidak menghakimi (Matius 6 :22 –24) Dalam Matius 6:22-23 dan Matius 6:24 disebutkan Tuhan Yesus mulai dengan :”Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu. Jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu” (Matius 6:22-24). Ahli-ahli Taurat menganggap bahwa” Mata yang sehat ”sebagai mata yang baik, dan ”mata yang jahat” sebagai mata yang sakit mereka katakan ini mata manusia adalah ”pelita tubuh”karena mulai mata yang terang masuk kedalam manusia yang dimaksudkan disini dengan tubuhnya ialah manusia seluruhnya, (Matius 10:8).
Mata sakit ialah kehidupan orang-orang, mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Sehingga mereka tidak melihat karena harta yang mereka kumpulkan itu tidak tetap. Yesus mengajarkan tentang harta, bahwa harta duniawi ini tidak tetap, dan bahwa harta yang tetap ialah Kerajaan Allah. Dan karena itu mereka membuat Kerajaan Allah menjadi tujuan hidup mereka. Mata yang baik, berarti orang yang dengan gembira memberikan bantuan kepada orang lain.
3.2.14. Pengajaran tentang kekuatiran (Matius 6 :25 –34).
Salah satu pengajaran Tuhan Yesus adalah (Matius 6:25-34 ) ini terdapat juga dalam Lukas 12:22-31 disini keduanya sama ,tetapi bentuknya sedikit berbeda. Berarti Yesus melanjutkan pengajaranNya dengan:
”Karena itu Aku berkata kamu: janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum,dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian?”
( Matius 6:25 ).

Dalam ayat-ayat itu Yesus menasehatkan murid-muridNya atau (Jemaat), supaya ”harta atau bumi” jangan menjadi pusat dan tujuan hidup mereka. Sebab satu-satunya, yang dapat memberikan hidup dan keselamatan kepada mereka, ialah Allah. Sesuai dengan itu ia sekarang melanjutkan nasihatNya dengan: ”Aku berkata kepada kamu”.
Kekuatiran sangat berbahaya. ”Jangan kuatir akan hidupmu,dan seterusnya!” kata Yunani ”marimnate”, yang di pakai dalam ayat ini lebih kuat artinya dari pada ”jangan kuatir”. Yang Yesus maksudkan dengan nasehat atau laranganNya itu ialah: janganlah kamu terus-menerus saja berpikir tentang apa yang hendak kamu makan atau apa yang hendak kamu minum atau apa yang hendak kamu pakai! Janganlah kamu membiarkan diri kamu di kuasai oleh kekuatiranmu!, sehingga kamu terus-menerus gelisah dan tidak mempunyai harapan! Itu tidak boleh kamu buat!
Kebutuhan-kebutuhan pokok dibutuhkan manusia dapat membuat manusia kuatir, bimbang dan kehilangan tujuan hidupnya. ”Bukankah hidup lebih penting dari pada makanan dan tubuh lebih penting dari pada pakaian?”, kata Yesus kepada Murid-muridNya. Maksud pertanyaan ini ialah bahwa mereka dengan kekuatiran mereka tidak dapat berbuat untuk hidup mereka ( Lukas 12:20). Karena itu Yesus berkata agar mereka berjaga -jaga dan menyerahkan hal-hal itu kepada Allah.
3.2.15. Pengajaran tentang pengambulan doa (Matius 7:7-912)
Salah satu pengajaran Yesus tentang pengabulan doa,”(7) Mintalah maka akan diberikan kepadamu! Carilah, maka kamu akan mendapat,ketoklah, maka pintu akan dibukakan. (8). Karena setia orang yang meminta,menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang mengetok, baginya pintu dibukakan. (9).
Yesus mulai dengan kata ”berdoalah (LAI=Minta) dalam Matius 7:7 dan Lukas 11:9 hal ini berarti mengingatkan kepada peraturan-peraturan yang membangunkan anggota-anggota Jemaat dari persekutuan untuk mencari Allah dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa mereka. Ayat-ayat yang mengandung ajakan untuk mencari, memberikan beberapa contoh: Tuhan Yesus menekankan ayat 8 ini, separuh dari para ahli menunjuk kepada kenyataan hidup sehari-hari. Ia kata mereka merupakan pendahuluan yang Yesus berikan dalam ayat 9:10. yang mereka maksudkan ialah, bahwa untuk menerima sesuatu, orang harus memintah dahulu (kepada orang lain). untuk mendapat sesuatu, orang yang harus mencari dahulu (di sesuatu tempat). Hal yang sama demikian mereka harus juga di lakukan dalam hubungan manusia dengan Allah sebagai Bapa, yaitu dalam doa (permohonan) setiap orang.
3.2.16 Pengajaran tentang pilihan hidup (Matius 7:15-23)
Salah satu pengajaran Tuhan Yesus tentang nabi-nabi Palsu, di mulai dengan:” Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepada kamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas” (Mat. 7: 15 ).
Dalam kitab Torah dan kitab para nabi-nabi yang berulang-ulang Yesus kutip dalam khotbah di bukit banyak membaca peringatan-peringatan terhadap nabi-nabi palsu. Sama dengan ini kitab Perjanjian Lama juga menemukan dalam, Yeremia 14:14; 27:15 di samping kedua ayat ini seperti Ulangan 13:1-5;18:20-22; dll.
Sedangkan Gereja Purba ”nabi-nabi palsu” merupakan problema yang sangat sulit. Mereka seperti yang dikatakan oleh Matius ”menyamar seperti domba” dan menyesatkan adalah orang-orang percaya. Karena itu untuk dapat mengetahui mana nabi-nabi palsu dan mana nabi-nabi yang benar, ditentukan rupa-rupa kriteria, seperti: pengakuan akan Yesus sebagai Tuhan (1Korintus 12:1-3), Pelayanan kepada jemaat sebagai suatu keseluruhan (1Korintus 12:7), kepercayaan dan pengakuan,bahwa Yesus telah dilahirkan sebagai manusia (1 Yohanes 4:2 ), dan lain-lain. Selain dari pada nabi-nabi palsu terdapat juga nabi-nabi yang benar dalam jemaat ( Matius 5:12;10:41 dan terutama Matius 23:34).

3.3. Tempat Yesus Mengajar
Berdasarkan Matius 5:1 yang berbunyi : ... naiklah Ia ke atas bukit. Menunjukkan bahwa pengajaran yang disampaikan oleh Yesus dilakukan di atas sebuah bukit. Mengenai nama bukit tersebut tidak dijelaskan secara pasti karena penulis Injil Matius tidak menyebutkan, akan tetapi berdasarkan Matius 5:23 mungkin dapat disimpulkan letaknya di daerah Galilea. Kata bukit “bukit” , yang LAI pakai sebagai terjemahan dari kata Yunani “oros” tidak berarti bukit, tetapi gunung . Bagi orang-orang Yahudi kata gunung tanpa menyebut namanyapun selalu dikaitkan dengan gunung Sinai, yaitu gunung dimana Tuhan memberikan hukumNya kepada bangsa Israel pada zaman Musa.
Pemilihan tempat yang Yesus lakukan untuk mengajar adalah bukit. J.J De heer menuliskan mengenai pemilihan ini merupakan suatu hal yang sangat praktis dan pasti memiliki tujuan. Bukit ataupun gunung adalah tempat yang sunyi, dimana tidak ada ganguan dari orang yang mau lewat, dan adaikata ia duduk lebih tinggi di lereng bukit daripada pendengar-pendengarNya maka semua pendengar itu dengan gampang akan melihat Dia.
3.4. Penerima Pengajaran Yesus
Pengajaran Yesus yang disampaikan di atas bukit ditujukan kepada murid-murid, hal ini seerti yang dituliskan dalam Matius 5:1. Murid-murid dalam ayat tersebut tidak hanya terbatas kepada murid-murid yang berjumlah 12 orang. Hal ini dapat dilihat pada bagian sebelumnya dari kata Yesus ”melihat orang banyak itu”. Sehingga yang mendengar pengajarannya pada waktu itu bukan hanya terbatas pada murid-muridNya yaitu para rasul tetapi menunjuk pada pengikut-pengikut Yesus yang lain. Hal ini dibuktikan dengan konnteks sebelumnya pada Matius 4:25 ”Maka orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka ada yang datang dari Galilea, Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Judea, juga dari seberang sungai Yordan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar