Minggu, 09 Agustus 2009

Skripsi : Pertumbuhan perkembangan gereja melaluio pelayanan siswa terpadu

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pertumbuhan dan perkembangan Gereja baik secara kwantitas (jumlah) maupun kwalitas (mutu) orang-orang percaya adalah menjadi dambaan, harapan dan cita-cita bagi setiap orang percaya, terlebih bagi hamba-hamba Tuhan dan para aktifis di setiap gereja.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh atau metode yang dipakai dalam menumbuhkembangkan Gereja, antara gereja yang satu dengan gereja yang lainnya sangat beragam. Hal itu sangat bergantung kepada Hamba Tuhan yang melayani dalam jemaat atau gereja tersebut khususnya dalam memprioritaskan program pelayanannya dalam kurun waktu tertentu atau dalam satu periode pelayanan serta dalam meningkatkan pelayanan dengan mengikut sertakan Mejelis, para aktifis Gereja dan kaum awam atau jemaat pada umumnya dalam menumbuhkembangkan gereja serta penginjilan.
Berbicara tentang pertumbuhan dan perkembangan gereja serta penginjilan, seperti tak ada habis-habisnya walaupun selalu dibahas dalam setiap persekutuan-persekutuan Kristen baik yang dilakukan secara formal dalam acara lokakarya, seminar pembinaan dan dalam acara-acara retreat, maupun yang dilakukan secara non formal, yaitu dalam pembicaraan-pembicaraan antar hamba-hamba Tuhan dengan hamba Tuhan maupun hamba Tuhan dengan para Aktivis Gereja dalam pertemuan-pertemuan atau dalam persekutuan.
Oleh karena pertumbuhan dan perkembangan gereja pada umumnya menjadi salah satu “target” dalam pelayanan gereja atau jemaat, maka dalam setiap persekutuan , ibadah maupun dalam rapat-rapat majelis atau rapat para aktifis, secara tidak langsung kadang-kadang hamba Tuhan mengajak menghimbau supaya jemaatnya dapat bertumbuh dan berkembang secara maksimal dengan daya, dana dan sarana yang tersedia. Khusus kepada para majelis atau para aktifis gereja, diharapkan supaya terus meningkatkan pelayanannya sesuai dengan tugas panggilannya masing-masing.
Sedangkan mengenai “penginjilan”, hampir dalam setiap seminar, lokakarya maupun Retreat baik yang diselenggarakan oleh gereja, lembaga atau yayasan Kristiani maupun misi luar negeri, materi pokok atau tema utamanya adalah tentang menejemen pertumbuhan dan perkembangan gereja serta penginjilan.
Namun apakah hamba-hamba Tuhan, para pemimpin rohani, para aktifis gereja atau jemaat pada umumnya telah mengetahui apa sebenarnya pertumbuhan dan perkembangan gereja serta penginjilan ?. Apakah telah mengetahui bagaimana suatu gereja dapat bertumbuh dan berkembangan, baik secara kwantitas terlebih secara kwalitas.
Memang ada beberapa cara atau metode yang dikenal, diketahui dan bahkan telah dipraktekkan oleh hamba-hamba, para aktifis gereja serta orang-orang percaya dalam setiap pelayanannya, misalnya : mengadakan kebaktian kebangunan rohani, pembinaan para majelis atau para aktifis gereja, seminar, lokakarya pengijilan pribadi dan lain sebagainya. Sedangkan mengenai hasil dari semua itu sangat tergantung kepada kemampuan Gereja masing-masing. Ada sebagian gereja yang telah puas dengan peningkatan pelayanan, yaitu dengan banyaknya jemaat yang ibadah atau kebaktian, ada gereja yang sudah senang jika beberapa jemaat telah ikut ambil bagian dalam pelayanan, ada pula yang merasa sangat beruntung, jika jemaat yang telah dilayani selama bertahun-tahun tidak ada yang keluar atau pindah Agama, asalkan saja dalam setiap ibadah atau persekutuan-persekutuan jumlahnya tetap seperti semula.
Namun ada gereja yang hamba Tuhannya belum merasa berhasil, apabila jemaat yang dilayani dalam kurun waktu tertentu bertambahnya jumlah jemaat hanya sedikit, dibandingkan dengan gereja tetangga yang dalam waktu yang relatif singkat pertumbuhan jemaatnya pesat.
Apakah yang menjadi masalah dari semuanya itu ?. Apakah karena sumber daya manusia atau SDM-nya yang masih kurang, sehingga mutu dari pelayanan kurang ?. Apakah karena kurangnya peran serta dari jemaat dalam pelayanan, dalam penginjilan ?. Apakah sasaran pelayanan gereja atau jemaat belum mengenai sasaran ?. Ataukah lingkungan yang kurang konduktif dan kurang produktif, sehingga setiap pelayanan yang dilaksanakan tidak pernah menumbuhkan jemaat apalagi berbuah.
Pada sisi lain, ada salah satu pelayanan yang semestinya dimiliki oleh setiap gereja atau jemaat, terutama bagi Hamba Tuhan, majelis yaitu pelayanan terhadap kaum remaja atau kaum muda khususnya yang masih di bangku sekolah, dalam bentuk “Pelayanan Siswa Terpadu”. Memahami, menjangkau dan melayani siswa yang masih labil, dalam masa pancaroba atau pubertas, masa pencarian identitas diri juga masa dimana ia akan mengambil suatu keputusan penting untuk masa sekarang maupun yang akan datang.
Memahami kaum remaja-pemuda atau siswa yang demikian, apakah pelayanan terhadap siswa secara terpadu sudah menjadi salah satu prioritas dalam pelayanan Gereja atau jemaat, terlebih dalam rangka pertumbuhan, perkembangan gereja serta penginjilan ?. Dalam tulisan ini akan diuraikan bagaimana pelayanan terhadap siswa yang dilakukan secara terpadu menjadi salah satu cara yang efektif dalam pertumbuhan, perkembangan gereja serta penginjilan.







B. Rumusan Masalah
Berpangkal pada latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah-masalah pertumbuhan gereja dan penginjilan, yaitu dengan beberapa pertanyaan berikut :
1. Sejauh mana Gereja, hamba-hamba Tuhan, majelis dan para aktifis gereja dalam menyikapi pelayanan gereja yang akhir-akhir ini sangat terasa kemundurannya, terutama pelayanan dalam persekutuan remaja, pemuda ?. Dan bagaimana dengan penginjilan terhadap remaja dan pemuda ?.
2. Apakah prioritas pelayanan gereja, hamba Tuhan dan para aktifis gereja sudah tepat, yaitu mengenai sasaran, sehingga dapat diharapkan hasilnya ?.
3. Sejauh mana peran gereja, hamba Tuhan, majelis dan para aktifis secara langsung maupun tidak langsung terhadap pelayanan siswa di Sekolah Negeri maupun Sekolah Swasta Kristen dan Swasta non konfensional (Sekolah Swasta yang didirikan tidak berdasarkan salah satu agama) ?.
4. Bagaimana beban Pengurus atau Pemimpin-pemimpin Lembaga Pendidikan Kristen, kepala-kepala sekolah di sekolah-sekolah Kristen, Guru-guru Agama, anggota gereja terhadap kebutuhan rohani anak-anak yang Tuhan Yesus sudah percayakan untuk dididik dalam ajaran Tuhan (Ulangan 6:1-9), melalui lembaga formal yang mempunyai “otoritas” sesuai dengan misi sekolah tersebut dibangun atau didirikan ?.
5. Bagaimana pelayanan Guru-guru Agama Kristen dalam menyampaikan kebenaran Firman Tuhan yang telah dirumuskan dalam Garis-garis Besar Program Pengajaran (GGBP) Pendidikan Agama Kristen telah secara maksimal, atau dipaksa untuk diselesaikan seperti yang dituntut dalam kurikulum, sehingga Pendidikan Agama Kristen telah kehilangan makna dan hakekat yang sebenarnya ?.

6. Apakah pemimpin rohani, hamba-hamba Tuhan, pimpinan lembaga pendidikan Kristen, kepala-kepala Sekolah dan terlebih Guru-guru Agama Kristen telah menjadi contoh atau teladan dalam segala hal bagi rekan guru, murid (siswa) dan orang tua murid ?.

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk menjelaskan korelasi atau hubungan antara pelayanan terhadap siswa secara terpadu yang dilaksanakan oleh Guru-guru Agama, hamba Tuhan, majelis dan para aktifis gereja dengan pertumbuhan, perkembangan gereja dan penginjilan.

D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Manfaat atau kegunaan penelitian yang lakukan adalah untuk menyatukan pendapat, menyamakan persepsi dan pembuktian suatu fakta yang sementara ini masih menjadi “rumor” atau kesimpulan yang dibuat-buat untuk tujuan tertentu, sehingga pada akhirnya gereja, hamba-hamba Tuhan, majelis dan semua orang percaya, akhirnya menyadari pentingnya pelayanan terhadap siswa secara terpadu khususnya dalam rangka pertumbuhan, perkembangan gereja dan penginjilan.
Ada beberapa tujuan yang hendak Penulis capai dalam penelitian. Pertama bagi Penulis sendiri. Dengan terselesainya skripsi ini, Penulis mengharapkan tulisan ini dapat memperkaya wawasan khususnya dalam pelayanan dalam rangka pertumbuhan dan perkembangan gereja seperti yang diidam-idamkan oleh orang-orang Kristen, menjadi bahan acuan ke depan apabila kelak diperkenankan, dipercaya Tuhan Yesus untuk melayani atau bekerja diladang-Nya. Dengan demikian dapat menjadi hamba Tuhan yang lebih berguna untuk perluasan Kerajaan Allah di muka bumi ini. Selanjutnya dapat mengembangkan pelayanan kepada siswa menjadi semakin luas, sehingga dapat menjangkau siswa-siswa yang belum percaya kepada Tuhan Yesus.
Kedua, selain bagi, harapan Penulis melalui skripsi ini agar setiap pembaca (secara khusus bagi para aktivis gereja, Guru-guru yang percaya kepada Tuhan Yesus) mendapat berkat, baik kesaksian, pengetahuan maupun pengalaman pelayanan kepada para siswa sebagai salah satu upaya Gereja (orang-orang percaya) dalam menumbuhkembangkan gereja serta penginjilan.
Penulis berharap, setelah pembaca mengetahui pentingnya pelayanan kepada para siswa, tergerak hatinya dan mengambil langkah awal, yaitu melayani mereka yang ada di gereja dan di sekolah masing-masing, sehingga jiwa-jiwa baru dapat dimenangkan untuk Tuhan Yesus dan gerejaNya.
Ketiga, melalui tulisan ini Penulis berharap para Pembaca (khususnya Guru Agama Kristen) supaya mengetahui dan menyadari betapa pentingnya pelayanan bagi Siswa atau anak-anak, mulai dari tingkat SD (Sekolah Dasar) sampai dengan tingkat SLTA (SMU dan SMK), bahkan sampai ke-Perguruan Tinggi (PT), sehingga dalam setiap aktivitas pelayanan atau pengajaran baik di Sekolah (di kelas) maupun di luar Sekolah (Sebagai Pembina Agama) dapat dipertanggung jawabkan kepada gereja dan terlebih kepada Tuhan yang memberikan tugas pelayanan tersebut.
Guru-guru Agama Kristen dapat melayani siswa dengan lebih baik lagi, serta mengembangkan pelayanan, menjadi pelayanan Siswa secara terpadu, tepat pada sasaran dan berjalan berkesinambungan. Dengan demikian Gereja-gereja Tuhan (tanpa menitik beratkan pada salah satu denominasi) dapat semakin bertumbuh dan berkembang baik secara kwalitas maupun kwantitas, yaitu dengan dibukanya pos-pos P.I (Pekabaran Injil) atau gereja baru.
Yang berikut, Penulis berharap melalui tulisan ini para hamba Tuhan dan pemimpin lembaga-lembaga pendidikan Kristen mendapat masukan yang sangat berarti bagi pertumbuhan dan perkembangan gereja atau lembaganya, sehingga dapat mengambil langkah-langkah konkrit, lebih bijaksana dalam memanfaatkan peluang emas bagi pertumbuhan dan perkembangan gereja serta penginjilan pada lembaga pendidikan Kristen yang dipimpinnya, tanpa mengurangi pelayanan akademis dalam rangka mencerdaskan kehidupan Bangsa.
Dengan demikian para pemimpin lembaga pendidikan Kristiani, gereja, dapat bekerjasama dengan para guru. Guru-guru Pendidikan Agama Kristen dalam rangka mewujudkan Amanat Agung Tuhan Yesus, yaitu pergi dan menjadikan semua Bangsa murid-Nya (Matius 28:19-20).

E. Hipotesa
Ada korelasi atau hubungan yang segnifikan antara pelayanan terhadap siswa yang dilakukan secara terpadu, terus menerus dan berkesinambungan dengan pertumbuhan, perkembangan gereja dan penginjilan.

F. Ruang Lingkup Pembahasan
Pembahasan dalam Skripsi adalah pertumbuhan, pertumbuhan gereja penginjilan melalui pelayanan siswa terpadu. Perkembangan gereja yang Penulis maksudkan adalah pertumbuhan, perkembangan gereja sebagai hasil atau buah dari pelayanan gereja atau orang-orang percaya dalam ini adalah guru-guru agama Kristen, yaitu melalui pelayanan siswa secara terpadu.
Pertumbuhan, perkembangan gereja meliputi pertumbuhan secara kwantitas, yaitu pertumbuhan dalam segi jumlah (warga gereja atau jemaat bertambah) maupun pertumbuhan, perkembangan gereja secara kwalitas, yaitu mutu iman dari orang-orang yang telah diselamatkan oleh Tuhan Yesus, seperti yang dimaksud Rasul Paulus dalam Surat Efesus 4 :13-15, yaitu : “Sampai kita semua mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa pengajaran, oleh permainan palsu menusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi teguh berperang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus yang adalah Kepala”.
Sedangkan yang Penulis maksudkan dengan pelayanan siswa terpadu, yaitu pelayanan kepada siswa (murid) secara utuh, sesuai dengan kebutuhan perkembangan jiwa, terlebih kebutuhan rohani, dilakukan terus-menerus secara berkesinambungan, sesuai dengan pengertian dan pemahaman serta kemampuan dari Guru-guru Agama Kristen, Sekolah dan gereja.
Untuk mewujudkan gereja bertumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat, bangsa, serta menjadi berkat bagi orang-orang yang belum percaya (belum diselamatkan), dibutuhkan cara atau metode, serta langkah-langkah nyata. Gereja sebagai “bapak” dalam pelayanan kepada siswa harus proaktif dalam menyikapi langkah-langkah yang diambil oleh para guru agama, hamba-hamba Tuhan, serta memberi dorongan yang maksimal. Jemaat yang mempunyai potensi besar dalam melayani siswa (murid), Remaja dan Pemuda perlu dilibatkan secara langsung, mengingat keterbatasan pelayan (pekerja) atau guru-guru yang mengajar (melayani) siswa di sekolah-sekolah dan yang melayani Remaja, Pemuda di Gereja.

G. Metode dan Prosedur Penelitian
Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih lengkap dan dapat dipercaya kebenarannya, tulisan ini, maka disamping Penulis membaca Literatur juga mengadakan survey terhadap hasil pelayanan terhadap siswa secara terpadu pada Sekolah-sekolah Negeri, Sekolah Swasta dan gereja dimana siswa tersebut telah bergereja.
Penulis juga mengadakan wawancara dengan beberapa hamba Tuhan (Pendeta) penginjil atau guru Injil dan para missionari yang masih aktif di dalam pelayanan di Bandar Lampung. Untuk mengetahui sampai sejauh mana keberhasilan pelayanan terhadap siswa, baik dalam penyampaian materi pelajaran Agama Kristen maupun pelayanan lainnya, Penulis juga mengadakan wawancara dengan beberapa siswa non Kristen dan siswa Kristen yang pernah mendapat pelayanan dari Guru Agama Kristen. Pengalaman Penulis selama melayani (mengajar) Pendidikan Agama Kristen di sekolah dan pelayanan kepada remaja, pemuda di gereja serta hasil Analisis data siswa dan remaja, pemuda gereja akan mewarnai tulisan ini.

H. Sistimatika Penulisan
Penulis tidak akan membahas panjang lebar mengenai pertumbuhan dan perkembangan gereja serta penginjilan. Penulis hanya akan memfokuskan pada cara atau metode pertumbuhan dan perkembangan gereja, dan dalam skripsi ini, Penulis akan membatasi pada pertumbuhan, perkembangan gereja dan penginjilan di sekolah, yaitu melalui pelayanan siswa secara terpadu.
Penulis akan membuat tahapan-tahapan sebagai berikut :
- Pada Bab Satu, terlebih dahulu Penulis memberikan Pendahuluan, yang mencakup : latar belakang masalah, rumusan-rumusan masalah, tujuan penulisan, tujuan dan kegunaan penelitian, hipotesa, ruang lingkup pembahasan, metode dan prosedur penelitian dan sistimatika penulisan.
- Pada Bab Dua, Penulis menguraikan pertumbuhan, perkembangan gereja serta penginjilan, yang Penulis dahului dengan menguraikan sedikit tentang pengertian Gereja, ciri-ciri Gereja dan Tritugas Gereja di tengah-tengah masyarakat. Kemudian masuk kepada pembahasan pertumbuhan gereja, Perkembangan gereja serta pengertian penginjilan, terutama penginjilan di Sekolah.
- Pada Bab tiga, Penulis akan melengkapi pembahasan ini dengan menguraikan siapa siswa, hakekat Pendidikan Agama Kristen, serta pelayanan siswa terpadu. Dalam Bab ini Penulis akan menekankan satu bentuk pelayanan, yaitu pelayanan siswa secara terpadu, yang merupakan salah satu bentuk pelayanan gereja atau orang-orang percaya terhadap anak-anak, terutama anak-anak jemaat.
Supaya aktivitas pelayanan terhadap siswa tersebut tidak sia-sia, tetapi benar-benar menjadi berkat bagi para siswa, bagi pertumbuhan dan perkembangan gereja serta penginjilan, maka dalam bab ini Penulis sertakan prinsip-prinsip pelayanan terhadap siswa dan langkah-langkah pelayanan terhadap siswa tersebut.
- Pada Bab empat, Penulis akan mengungkapkan suatu fakta, yaitu menguraikan bahwa setiap orang Kristen atau gereja, bahkan semua organisasi mempunyai satu tekat, yaitu bertumbuh. Dalam Bab ini diuraikan pentingnya suatu prioritas, pelayanan siswa terpadu sebagai penopang pertumbuhan gereja, bentuk-bentuk pelayanan dalam rangka pertumbuhan dan perkembangan gereja, yaitu antara lain pelayanan Pengajaran Agama Kristen, Persekutuan Siswa, Pembinaan Iman Kristen dan Kunjungan. Dampak dari pelayanan siswa yang dilakukan secara terpadu khususnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan gereja pun perlu dibanggakan. Oleh sebab itu dalam bab ini pula Penulis paparkan beberapa dampak bagi pertumbuhan dan perkembangan gereja, baik yang berupa perubahan sikap hidup, peningkatan jumlah pelayan pemuda, dibukanya ladang-ladang penginjilan serta pertumbuhan gereja itu sendiri yang menjadi tujuan dari sejak semula. Namun mengingat dalam pelaksanaan untuk mencapai tujuan tersebut ada banyak sekali hambatan dan rintangan, baik dari dalam maupun dari luar, maka dalam bab ini penulis akan sedikit gambarkan rintangan dan hambatan-hambatan, terutama yang Penulis alami, dan sekaligus jalan keluar atau solusi yang Penulis ambil, sehingga hasil dari semuanya itu dapat melengkapi Skripsi ini.
- Pada Bab lima, Penulis akan membuat kesimpulan secara menyeluruh dari apa yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, serta memberi saran bagi para guru-guru Agama Kristen, hamba-hamba Tuhan, para aktivis gereja dan pemimpin suatu lembaga pendidikan (Sekolah-Sekolah Kristen), supaya memanfaatkan peluang yang Tuhan berikan bagi pertumbuhan, perkembangan gereja dan penginjilan. Memenangkan jiwa-jiwa baru bagi Tuhan Yesus dan bagi gereja-Nya.










BAB II
PERTUMBUHAN GEREJA DAN PENGINJILAN

A. GEREJA
Berbicara tentang gereja tidak terlepas dari mempelajari pengertian gereja atau jemaat Kristen dalam hubungannya dengan kuasa-kuasa dunia dan orang-orang Kristen, seperti dikatakan oleh Daiton, “ Dalam Buku Gereja Milik Siapa “. 1 Untuk mengawali pembahasan mengenai gereja, perlu mengetahui istilah-istilah yang dipakai untuk menjelaskan arti gereja.
1. Arti Kata Gereja
Kata “ Gereja “ dalam Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Portugis IGREYA, yang artinya “ sekawanan domba “ yang dipimpin oleh seorang gembala. Dalam bahasa Yunani ada dua kata yang sering digunakan untuk menjelaskan arti kata gereja, yaitu :
a. EKLESIA : EK berarti keluar dan kata kerja “ Kaleo” berarti memanggil. Jadi gereja menurut kata Yunani Eklesia, adalah orang-orang yang dipanggil keluar oleh Tuhan dari dunia untuk menjadi saksi Nya. Sebagaimana Abraham, dipanggil keluar dari dunianya atau negerinya (kejadian 12:1). Gereja juga dipanggil dari dunia bangsa-bangsa “keluar” dari dalam gelap masuk kedalam terang dan ajaib. 2
b. KURIAKE : artinya orang-orang yang menjadi milik Kristus (Kurios), untuk memuliakan namaNya. Hal ini berarti gereja bukanlah organisasi orang-orang yang mendirikan suatu perkumpulan untuk tujuan kelompok atau golongan, tetapi orang-orang yang telah dipanggil berkumpul oleh Tuhan sendiri (Roma 8:24; Efesus 4:12).

1. Martin B. Dainton, Gereja Milik Siapa, Jakarta : YKMK, 1994. Hlm.9
2. I Petrus 2 : 9; Kolose 1 : 13 – 20

2. ARTI KATA GEREJA MENURUT ALKITAB
Sangat penting, tetapi tidak mudah untuk mendapatkan pengertian kata “ GEREJA “ dalam Alkitab. Disamping didalam Alkitab tidak pernah menyebut kata “ Gereja “ , dalam memberi arti atau menyebut orang-orang percaya (Gereja), yang sebenarnya pun hanya dengan menggunakan beberapa kiasan saja.
Paul Minear misalnya, menyebutkan images atau beberapa gambaran tentang citra gereja. Satu diantaranya yang paling terkenal adalah citra sebagai TUBUH KRISTUS, sebagai UMAT TUHAN. Gambaran inilah yang sering digunakan Alkitab, baik kitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. 1
Gereja Tuhan disebut sebagai Tubuh Kritus, berarti antara anggota gereja yang satu dengan anggota gereja yang lain saling berhubunghan satu dengan yang lain. Rasul Paulus menyebut gereja yang banyak itu sebagai tubuh yang memiliki banyak anggota, sebagaimana dikatakan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus. 2
Uskup Agung Donald Robinson menulis bahwa dalam Perjanjian Baru Gereja berarti suatu jemaat Kristen setempat. 3 Sedangkan Alan Stibbs mengatakan : “ kalau jemaat-jemaat Kristen setempat tidak disebut dalam Kitab Perjanjian Baru, secara kolektif mereka tidak disebut “gereja”. Mereka tidak dianggap sebagai unsur-unsur pokok dari sebuah lembaga dunia. Malah eksplisit dan mengejutkan mereka disebut, dalam kata jamak “gereja”. 4


1). Donald Dean Smeeton, Gereja Tuhan Dalam Dunia, LKTI, Malang 1978
2). I Korintus 12 : 12
3). Michael Griffiths, Gereja Dan Panggilan Dewasa ini, BPK Gunung Mulia, Jakarta , 1995
4). Alan Stibbs, Gods Churh )IVH, 1959) Hlm.66

Dalam Buku Dasar Yang Teguh, I Wesly Brill, gereja diartikan sebagai jemaat Kristus, yaitu perhimpunan orang-orang yang telah bertobat dari dosa-dosa mereka dan telah percaya kepada Yesus Kristus, telah dilahirkan kembali oleh pekerjaan Roh Kudus, serta dipersatukan dengan Kristus dan Kristus adalah kepala. 1
Sepertinya kurang lengkap dalam memahami arti gereja sebelum melihatnya dalam kontek Kitab Perjanjian Lama. Sekalipun dalam kitab PL tidak ada istilah gereja, dalam menjelaskan umat Allah atau jemaat, namun dalam Kisah 7 : 38, Stefanus mempergunakan kata “Eklesia” untuk jemaat dipadang gurun. Ini berarti bahwa Allah sudah bertindak untuk menghadirkan atau membentuk “seorang pengikut-Nya” sejak zaman Abraham dan kemudian jaman Nabi Musa.
Dalam Kitab Perjanjian Lama umat Allah dipanggil berkumpul oleh para pemimpinnya untuk menyembah Allah dan untuk memberi perintah. Micahel Griffiths, dalam bukunya melukiskan arti gereja dalam Kitab Perjanjian Lama sebagai “mobil”, bahkan sekelompok “mobil”, yang bergerak kesuatu tujuan (walaupun mereka kehilangan jejak di padang gurun dan berkeliling selama hampir empat puluh tahun ). 2 Sedangkan Leslie Newbigin menggambarkan gereja dalam Perjanjian Lama sebagai berikut : “Gereja adalah umat Allah yang berziarah”. Gereja itu bergerak, bergerak keujung dunia ini untuk berseru kepada seluruh umat manusia untuk berdamai dengan Tuhan, bergerak menyongsong akhir zaman untuk bertemu dengan Tuhannya yang akan mempersatukan semua manusia “. 3



1. I. Wesly Briil, Dasar Yang Teguh, Yayasana Kalam Hidu, Bandung, 1994, Hlm 4.
2. Michael Grffiths, Gereja dan Panggilan Dewasa Ini, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1995
3. Leslie Newbigin, The Househehold of God (SCM, 1953) Hlm, 25

dalam I Petrus 2:9 – 10 , Rasul Petrus menggunakan gambaran – gambaran umat Allah didalam Perjanjian Lama untuk menggambarkan gereja. Ada kesinambungan antara pemahaman gereja dalam Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Karena itu Rasul Paulus dalam 1 Kor.10 mengatakan, bahwa pengalaman umat Israel di padang gurun merupakan suatu modal buat gereja – gereja, bahwa mereka bisa belajar dari contoh – contoh bangsa Israel.
3. Gereja Yang Sebenarnya.
Pada umumnya gambaran tentang gereja selama ini memang hanya terfokus pada gedung yang digunakan oleh orang – orang Kristen untuk kegiatan – kegiatan keagamaan, yang fungsinya sama dengan Masjid dalam Agama Islam dan Wihara dalam Agama Budha. Untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai Gereja, harus banyak belajar dari kesaksian Alkitab serta dari tokoh – tokoh Gereja terdahulu.
Dari uraian arti kata Gereja dalam Alkitab, baik yang digali dari Kitab PL maupun kitab PB, siapapun orangnya pasti pusing tujuh keliling, sebab didalamnya TIDAK pernah menyebut, memakai kata gereja dalam menjelaskan atau menggambarkan orang-orang percaya atau umat Allah. Didalam Kitab Perjanjian Baru misalnya, kelompok Kristen tidak disebut sebagai gereja, melainkan jemaat. Sedangkan dalam Perjanjian Lama gereja yang dimaksud diartikan sebagai Umat Allah, seperti yang dikutir oleh Rasul Petrus dalam (1 Petrus 2 : 9 – 10). 1
Adapun kata Indonesia untuk menjelaskan arti gereja, secara khusus menunjuk kepada kelompok orang yang berkumpul untuk beribadah, dan tidak menekankan gedung


1. Martin . Daiton, Gereja Milik Siapa, cempaka Putih, Jakrta, 1994, Hlm. 10
dimana mereka berkumpul, melainkan kepada kegiatan ibadat orang-orang yang berkumpul itu.
Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi kedua (1995), jemaat atau jemaah adalah kumpulan orang banyak, kumpulan orang beribadat ; sehimpunan orang kristen. Sedangkan umat berarti : para penganut suatu agama “. 1
Dengan demikian gereja sebagai umat Allah, sehimpunan orang-orang Kristen (orang percaya) mempunyai ciri, sifat dan tugas panggilan di tengah-tengah masyarakat sebagai berikut :
a. Ciri-ciri Gereja
1. Gereja atau persekutuan orang-orang yang percaya kepada tuhan Yesus yang mengumpulkan, membentuk adalah Tuhan sendiri melalui pekerjaan Roh Kudus, melalui para pemimpin. Pertama kali gereja terbentuk pada Hari Pentakosta (Hari yang kelima puluh) setelah Tuhan Yesus bangkit dari kematian (kisah 2 : 1 – 13)
2. Gereja atau orang-orang Kristen adalah sebagai hamba atau pelayan (Huperitis), Pelayan Tuhan untuk kemuliaan namaNya
3. Gereja atau orang-orang yang percaya dari segala jaman selalu dipelihara oleh Tuhan sendiri yaitu melalui Pelayanan Firman, Sakramen, dan kuasa Roh Kudus yang telah dijanjikan-Nya
b. Sifat-sifat Gereja
1. Gereja adalah Kudus
Pertama, gereja atau orang percaya bersifat kudus. Kata Kudus disini harus



1. Balai Pustaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Edisi kedua, 1995
dihubungkan dengan Karya Penyelamatan Kristus yang menyucikan dosa-dosa manusia sehingga tidak mempunyai arti bahwa anggota gereja (orang-orang Kristen) adalah orang-orang yang tanpa dosa. Sebab pada hakekatnya Gereja adalah terdiri dari orang-orang berdosa yang percaya dan mempecayakan dirinya Kepada Tuhan Yesus Kristus. Jadi kata kudus yang dimaksud adalah dikuduskan menjadi Milik Kristus.
Umat Allah adalah “Bangsa yang Kudus” (I Petrus 2:9) artinya Gereja adalah kudus, begitu juga setiap orang Kristen adalah kudus, berdasarkan persekutuan dengan Kristus. Gereja dihadapan Allah tak ternoda dan tak bercacat secara moral. Bruce Milne (1996), dalam buku mengenali kebenaran, mengatakan:
“ Persekutuan dengan Kristus juga menyangkut kehidupan kudus secara nyata. Hubungan gereja dengan Kristus sebagai kepalanya akan nyata dari sifat moralnya dan kwalitas kehidupannya sehari-hari. Gereja yang tidak mengenal kekudusan, tidak mengenal Kristus. Ketika Kristus berbicara kepada ketujuh jemaat di Asia Kecil, ia dengan menjelaskan mengharapkan perbedaan dalam sikap moral itu apabila hal ini tidak didapatiNya, ia sangat keras dalam penghakiman (wahyu 2 – 3). 1

Sekalipun dalam kenyataan belum ada gereja didunia ini seperti dimaksud diatas, namun demikian, mau tidak mau gereja atau orang-orang percaya yang sejak pasti akan menunjukan beberapa tanda kekudusan dan kemajuan menuju kekudusan yang lebih sempurna. Tom Yeakley (1989) berkata : “ Kekudusan dalam hidup adalah Suatu proses yang terus-menerus berjalan sampai kita meninggal “. 2


1. Bruce Milne, mengenali kebenaran, PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1996 Hlm. 300
2. Tom Yeakley, Watak Pekerja Kristus, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1989, Hlm. 42
2. Am
Kata “AM” (atau katolik) berarti menyangkut keseluruhan. Istilah ini pada awalnya menunjuk pada gereja Am untuk membedakan dari gereja setempat. Gereja atau orang-orang percaya adalah persekutuan rohani antara orang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, yang berasal dari berbagai tempat, berbagai Bangsa, dan waktu atau masa. Satu Gereja berarti satu keluarga besar yang saling mengakui bahwa Yesus Kristus adalah sebagai kepala gereja. Satu baptisan, satu Iman dan satu Injil, dimana mereka dapat berdiri kokoh diatas dasar yang teguh, yaitu Kristus Juru Selamat Dunia.
Gereja sejati tidak memberi tempat bagi diskriminasi ras, warna kulit, status sosial, kecakapan intelektual atau moral, asal saja ada bukti pertobatan. Gereja yang AM bukan menunjuk pada suatu perkumpulan, atau pertemuan, melainkan kepada orang-orang yang termasuk dalam perkumpulan itu (kisah 8:1 – 3). Donald Dean Smeeton (1978) berkata :
“ Jadi kita melihat bahwa gereja Tuhan tidak terdiri dari orang-orang dari suku bangsa saja, melainkan dari semua suku bangsa. Gereja Tuhan tidak terdiri dari dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah hamba satu di dalam Kristus Yesus” 1


3. Esa
Sifat gereja yang ketiga adalah Esa atau satu. Walaupun didunia terdapat macam-macam denominasi geraja atau jemaat, namun pada hakekatnya adalah satu. Gereja adalah merupakan tubuh Kristus yang mempunyai banyak anggota (I Kor. 12:27). Karena Kristus hanya satu dan tidak terbagi – bagi, maka gereja
1. Donald Dean Smeeton, Gereja Tuhan Dalam Dunia, Lembaga Kursus, Tertulis Internasional Malang, 1978.
Hlm 41.42
(orang – orang percaya) sekalipun banyak tetapi pada hakekatnya hanya satu. Keesaan gereja tercipta karena dialaskan pada satu Allah (Efesus 4:1 – 6 ). Semua orang yang benar – benar termasuk kedalam gereja merupakan satu umat dan karena itu gereja yang benar akan nyata dari kesatuan. 1
Kitab Perjanjian Baru menunjukan ajaran mengenai kesatuan kepada kelompok – kelompok tertentu, sehingga dampaknya dirasakan langsung terhadap hubungan nyata jemaat (Efesus 2:15; 4:4 Kol. 3:15). Tuhan Yesus berdoa untuk kesatuan yang akan membawa dunia kepada iman (Yoh. 17:23).
Tuhan Yesus Kristus telah mengajarkan keselamatan manusia dengan sempurna. Ia telah menebus manusia dari segala dosanya dan menjadi pendamai antara Tuhan dengan manusia. Sebagai manusia tebusan Tuhan, gereja atau orang-orang percaya diminta untuk menyampaikan kabar keselamatan keseluruh dunia. Ini berarti tugas gereja di dunia ini, adalah untuk misi, soteriologi atau tugas penyelamatan umat manusia.
Dari penjelasan diatas dapat dimengerti bahwa gereja sebagai buah pekerjaan Roh Kudus, harus mempunyai misi, yaitu mengabarkan Injil kepada manusia keseluruh dunia (Matius 28:19 – 20);( Markus 16:15; Kisah 1:8).
Didalam kehidupan jemaat pertama, misi atau tugas gereja ini nampak jelas. Mereka giat memberikan kesaksian akan Injil keselamatan Kristus kepada semua orang (Kisah 2:1 – 40), mereka juga tekun didalam persekutuan pengajaran dan pelayanan (Kis. 2:41 – 47; 4:32 – 47).


1. Tom Yeakley, Watak Pekerja Kristus, Yayasan Kalam Hidup, Bandung 1989, Hal 298
Tentang misi George Barna, dalam buku The Power Of Vicion, mengatakan : “Misi merupakan pernyataan umum dari tujuan pelayanan bersifat filosofis” lebih lanjut ia mengatakan, pernyataan misi merupakan pernyataan yang luas, pernyataan umum mengenai orang yang akan anda jangkau dan apa yang gereja harapkan untuk diselesaikan “. 1
Gereja atau orang-orang percaya ingat bahwa tanpa bantuan dan bimbingan Roh Kudus, gereja hanya terdiri atas orang-orang yang lemah dan mudah tersesat kedalam nafsu duniawi. Untuk itulah Tuhan mengutus Roh Kudus supaya gereja dapat menjalankan Tri Tugas gereja ditengah-tengah dunia yaitu : bersaksi, bersekutu dan melayani.

1. BERSAKSI (MARTURIA)
Tugas gereja atau tugas orang-orang percaya didasarkan atas perintah-perintah Yesus sendiri, yang merupakan amanat Agung sebelum Tuhan Yesus naik kesurga, ia berkata kepada murid-Murid Nya: ” Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku,…” (Matius 28:29).
Dengan perintah Tuhan Yesus ini berarti keselamatan diperuntukkan bagi semua orang, tanpa kecuali. Tugas bersaksi ini bukanlah tugas yang mudah melainkan menuntut banyak pengorbanan. H. Eddie Fox dan George E Morris, dalam bukunya “ Faith Sharing” mari bersaksi, menjelaskan atas pertanyaan-pertanyaan rekannya mengenai kesulitan dalam bersaksi. Dia berkata “




1. George Barna, The Power Of Vision, Yayasan Media Buana Indonesia Metanoia, Jakarta 1992, Hlm. 34,35
“Apakah ada Harimau disana ?” “Oh ya, ada banyak harimau disana ! saya ingat waktu pertama kali saya bermalam dihutan, digubuk yang terbuat dari bambu. Saya mendengar suara berisik. Saya bertanya-tanya pada petunjuk jalan saya, “apa itu ?” dia menjawab, ‘ Oh itu suara harimau; kembalilah tidur “, jawabnya. Apakah anda akan pergi tidur bila yang datang itu hanya seekor harimau!” 1

Dalam mengemban Amanat Tuhan Yesus, banyak orang-orang pecaya (Kristen) yang ,menjadi MARTIR (orang yang mau mati karena kesaksiannya) untuk mempertahankan iman dan kesetiannya pada Tuhan.
Ada bermacam-macam cara orang Kristen untuk bersaksi. Dapat melalui perkataan maupun perbuatan sehari-hari. Kesaksian hidup sehari-hari disebut kesaksian nonverbal sedangkan kesaksian melalui pemberitaan lisan atau dengan perkataan disebut kesaksian Verbal. 2
Dalam hal bersaksi, gereja harus konsisten, artinya searah antara perkataan (verbal) dan perbuatan (nonverbal). Bila hanya perkataan saja yang benar, orang akan mencemooh gereja (orang-orag percaya) sebagai “Munafik”. Salah satu contoh dalam Alkitab, Simon Petrus murid Tuhan Yesus, ketika Tuhan memberitakan kematianNya, Petrus dengan gagah perkasa menyatakan keyakinannya bahwa imannya tidak akan terguncang ( Band.Mat. 26:33,35). Tetapi didepan seorang hamba perempuan, yang terjadi justru sebaliknya ia menyangkal atau tidak mengakui Tuhan Yesus (Mat. 26: 69 – 75).
Sebagai orang yang percaya, (gereja) harus bersaksi melalui perkataan, perbuatan dan kasih. Rasul Yohanes mengatakan : “ Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” ( Yoh, 3 : 18).

1. H. Eddie Fox George E. Morris, Faith Sharring, DR, 1997, Hlm. 1,2
2. H. Venema, Injil Untuk Semua Orang, YKBK, Jakarta, 1997, Hlm. 102
Apa hubungannya bersaksi dengan pertumbuhan gereja ? David Baker (1993) berkata sebagai berikut :
…… Kita bukan berdosa dalam melakukan hal-hal yang tidak bermoral, tetapi dalam tidak mentaati Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus. Dosa membungkam dan tidak bersaksi ini menyebabkan kehidupan Kristen dan gereja lemah dan tidak bertumbuh. Banyak alasan membuat kita tidak bersaksi. Malu, takut, merasa tidak sanggup, tidak tahu caranya dan banyak lagi. Melalui pemahaman Alkitab dari kisah para Rasul ini, saudara tidak saja akan belajar tentang prinsip-prinsip menjadi saksi Kristus, tetapi tumbuh dalam persekutuan yang saling membangun dan mendorong, saudara akan termotivasi dan terdorong untuk berani bersaksi bagi Kristus dengan isi dan cara yang tepat. 1


2. BERSEKUTU
Istilah Persekutuan, dalam Bahasa asli Alkitab (Bahasa Yunani) adalah KOINONIA. Kata koinonia berarti “persekutuan” atau jalinan hubungan yang baik dengan pihak lain. Dalam budaya Yunani istilah ini tersebut mempunyai makna bermacam-macam. Antara lain, kongsi, kongsi dagang (kerjasama dalam urusan dagang atau pekerjaan); pernikahan (persekutuan antara dua orang manusia yang berbeda kelamin); persahabatan ( hubungan karab diantara dua orang teman).
Dalam “Septuaginta’ (Kitab Perjanjian Lama dalam Bahasa Ibrani) “Koinonia” berarti “ Persekutuan diantara dua teman”, dan tidak pernah dipakai untuk menyatakan persekutuan diantara Allah dengan manusia. Hal ini disebabkan Allah (dalamPerjanjian Lama) dipandang “JAUH” dari umat-Nya. Tetapi dalam Perjanjian Baru, istilah “KOINONIA” mengalami perkembangan. Istilah ini bukan sekedar menunjuk pada hubungan diantara manusia, melainkan juga menyatakan persekutuan diantara Allah dengan manuisa. Istilah ini dipakai dalam Surat Filipi 1:7, “Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuan-Mu (koinonia) sampai sekarang ini”. Bahkan dalam I Yoh

1. David L Becker dkk, Menjadi Saksi Kristus, PPA, Jakarta 1993
1:7; Rasul Yohanes mengatakan, bahwa persekutuan manusia dengan Allah mendasari persekutuan manusia dengan sesamanya.
Dalam hal ini gereja sebagai tubuh Kristus merupakan persekutuan orang percaya. Orang-orang yang telah dipanggil keluar (eklesia) dari kegelapan menuju kepada terang yang ajaib. Kepada jemaat Roma, Rasul Paulus menjelaskan bahwa koinonia (persekutuan) diantara orang percaya sebagai tubuh Kristus, mempunyai konsekuensi memperhatikan orang lain yang membutuhkan uluran tangan.
Tugas bersekutu adalah perintah Tuhan Yesus sendiri bagi murid-muridNya. Dengan bersekutu anggota jemaat memiliki peluang berkomunikasi, sehingga mereka saling mengetahui kebutuhan saudara-saudaranya. Dasar koinonia itu adalah bahwa persekutuan ini haruslah didalam Tuhan, artinya meskipun orang-orang Kristen berkumpul, membina kerukunan, namun jika tanpa mempersilahkan Tuhan untuk ikut serta didalamnya maka sia-sialah koinonia itu, karena Tuhan Yesus tidak hadir. Kalau orang Kristen hidup bersama dalam persekutuan sejati, Allah dimegahkan. 1
Tuhan Yesus mempersatukan semua orang kedalam tubuhNya. Ia juga meminta kepada umatnya untuk menegaskan persekutuan ini dengan berbagai karunia yang dimiliki (I Kor, 12 : 1 – 12), sehingga gereja dapat tumbuh dan berkembang didalamNya. Dalam hal bersekutu orang percaya khususnya di Indonesia perlu Belajar banyak tentang kekristenan di Negeri Cina. “Kekuatan penting mereka adalah semangat persekutuan, tanpa membesar-besarkan perbedaan yang ada”. 2
Menurut cerita mereka, ketika itu rasa persaudaraan dan solidaritas tidak hanya terjadi antara orang-orang Kristen yang berbeda gereja asal, tetapi bahkan dengan saudara

1. Bruce Mine, Mengenali Kebenaran, PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1996, Hlm. 308
2. Fil 12: 13 –14
-saudara dari agama lain seperti Islam, Hindu dan Budha. Perasaaan sepenanggungan muncul sesama orang beragama yang sedang mengalami tekanan dari pemerintah komunis pada masa yang dikenal dengan nama Revolusi kebudayaan. Mereka bersama-sama menjalani kerja paksa dan saling menghormati keberadaan masing-masing, sehingga kerukunan atara umat beragama malah semakin membaik ketika berlangsungnya Revolusi Kebudayaan.
Sekarang ketika keadaan telah memungkinkan tumbuh berkembangnya agama-agama secara terbuka, rasa persekutuan dan hormat-menghormati masih menjadi ikatan yang mempersatukan mereka. Tentu, mereka tetap sadar bahwa ada perbedaan-perbedaan diantara mereka.
Memang tidak mungkin orang percaya mengharapkan orang lain untuk bertingkahlaku persis seperti apa yang orang percaya tersebut kehendaki. Latar belakang setiap orang, lingkungan dan struktur fisologis - biologis membuat berbeda satu sama lain. Tak seorangpun yang dapat sama persis, bahkan orang yang kembar identik (satu telur) sekalipun memiliki perbedaan satu sama lain. Teladan yang tidak membeda-bedakan satu dengan yang lain adalah yang dicatat dalam Kitab Kejadian 1 : 26. Oleh sebab itu orang-orang percaya ( Orang Kristen ) harus menyadari kekurangannya sendiri dan kekurangan orang lain dan mau menerima kekurangan orang lain sebagai umat Allah yang diciptakan dengan keistimewaan masing-masing.
Dalam hal ini Bruce Milne (1996) mengatakan :
Persekutuan (Yunani KOINONIA) berhubungan erat dengan gereja yang memuliakan Allah: “ Terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah “ (Roma 15:17). koinonia pada dasarnya berarti bersama-sama menerima bagian dalam sesuatu : penekanannya agak berbeda dengan pengertian persekutuan akhir-akhir ini, yakni saling bersahabat, namun kedua hal ini pada akhirnya tidak terpisah artinya, karena saling berpartisipasi yang meliputi saling bersahabat” 1

Dalam diri manusia selalu ada kelebihan, dan juga ada kekuarangannya. Hendaknya kelebihan yang ada pada diri seseorang dapat menutupi kekurangan yang ada pada diri orang lain. Itulah pentingnya persekutuan. Rasul Paulus menganjurkan jemaat di Roma supaya tidak meninggalkan persekutuan dengan Tuhan dan sesama
Untuk mengetahui lebih dalam mengenai tugas gereja atau orang-orang yang percaya khususnya dalam hal melayani ditengah-tengah masyarakat, terlebih dahulu mengetahui apa sebenarnya tugas pelayanan atau diakonia, dan apakah pekerjaannya atau tugasnya. Sridadi Artiyanto ( 1984 ) berkata : “ setiap anggota gereja seharusnya tahu tentang diakon, yaitu salah satu jabatan yang penting dalam gereja “. 2
Kata diakon sebenarnya adalah kata pinjaman dari Bahasa Yunani. Sadangkan kata asalnya adalah DIAKONOS, artinya adalah Pelayan. Dibawah ini akan dibahas arti pelayan atau diakonia dalam budaya atau pola pikir Yahudi. Dalam Budaya Yahudi, diakonia atau pelayan digolongkan sebagai berikut :
a. Huperitis
Hamba atau pelayan yang dalam pengertian memiliki tugas yang spesifik (khusus) misalnya : para tawanan yang mendayung kapal, para tawanan tersebut dalam mendayung kapal, sesuai dengan perintah komandan. Demikian pula pelayan atau Huperitis Tuhan, artinya melakukan apa yang diperintah Tuhan Yesus sebagai “komandan” dalam hidup orang-orang percaya.



1. Bruce Mine, Mengenali Kebenaran, PT BPK gunung Mulia, Jakarta, 1996, Hlm. 308
2. Sridadi Artiyanto, Sekelumit Tentang Diakon, Lembaga Literatur Bapptis, bandung, 1994, Hlm. 5
b. Oiketes (Oikomene)
Hamba dalam pengertian memiliki ruang lingkup kerja (Oikos:rumah). Misalnya, Yusuf pelayan rumah Potifar. Artinya Yusuf mempunyai tugas pelayan dirumah Potifar. Gereja dalam tugas penggilannya didunia ini juga mempunyai pelayanannya.
c. Diakonos
Hamba dalam pengertian memberikan pertanggungjawaban. Ada struktur yang diberi pertanggungjawaban. Misalnya, para prajurit kepada komandannya. Gereja diberi tanggungjawab, dan gereja juga memberi pertanggungjawaban kepada sang “komandan” yaitu Yesus Kristus.
d. Doulos
Hamba dalam pengertian status atau hakekatnya, hak hidup doulos sudah menjadi milik tuan yang telah membeli dan harganya telah lunas dibayar (I Kor, 6:19 -20). Kehidupan seorang doulos sudah menjadi milik yang mengeluarkan, memerdekakan (Roma 1:1;Yak 1:1;II Petrus 1 :1; Yudas 1:1). Orang-orang percaya adalah doulos-Nya Kristus.
Dari pengertian diakonia atau pelayan diatas dapat disimpulkan bahwa tugas melayani atau memberi pelayanan adalah perintah Tuhan Yesus. Hal ini nampak didalam pola hidup Tuhan Yesus. Tuhan Yesus tidak hanya berkhotbah dan mengajak, tetapi juga memberi tauladan yang baik dan benar kepada murid-muridnya. Ia adalah raja yang rela mejadi pelayan bagi manusia yang berdosa dan rela menyerahkan nyawa-Nya bagi keselamatan manusia. Ia berkenan menyembuhkan orang sakit, memberi makan kepada orang yang kelaparan dan menghibur orang miskin. Injil keselamatan disampaikan bukan hanya berisi hal-hal rohani saja, tetapi juga mencakup seluruh kebutuhan hidup manusia.
Gereja pun wajib memberikan pertolongan kepada setiap orang yang membutuhkan uluran tangan. Oleh karena itu, gereja membentuk komisi-komisi untuk mewujudkan tri tugas gereja, misalnya penatalayanan.
Maksud dari penatalayanan adalah mengatur sebaik-baiknya, melipatgandakan, menggunakan dengan benar apa yang dipunyainya untuk melayani masyarakat disekelilingnya dengan apa yang ada padanya. 1 Orang-orang yang percaya harus insaf bahwa segala sesuatu yang ada padanya berasal dari Tuhan.
Tugas orang-orang percaya adalah menjadi orang yang bijak harus turut bertanggungjawab terhadap kesejahteraan bersama (sesama). Dengan percaya dan mempunyai kasih yang sungguh kepada Tuhan, maka persoalan yang sulit dan rumit dalam hidup ini dapat diatasi. Dan akan menjadi berkat bagi orang lain.
Melalui perumpamaan sepuluh anak dara (mat. 25 – 13), Tuhan Yesus memberi gambaran betapa pentingnya menggunakan kesempatan yang ada. Mereka yang bijak boleh mempersiapkan diri dan memanfaatkan waktu, sehingga segala sesuatu yang diperlukan dalam pelayanan telah tersedia dan mereka dapat melayani dengan baik.
Dalam perumpamaan tentang Talenta, Tuhan Yesus memberikan peringatan kepada muridNya ( manusia) agar menggunakan waktu dan anugerah Tuhan dengan baik sebab jika tidak, mereka akan menerima hukuman. Apa yang ada padanya akan diambil dan diberikannya kepada yang telah mempunyai. 2

1. T. sukarman, Pendidikan Agama Kristen, PKMI, Immanuel B. Lampung, 1997
2. Lukas 19 : 12 – 27
Orang Kristen tidak boleh masa bodoh, karena semua orang Kristen mempertanggungjawabkan secara spiritual sebagai orang yang telah memiliki kasih Allah yang harus dibagi-bagikan kepada sesama. Untuk dapat melaksanakan penatalayanan dengan baik maka diperlukan kejujuran, ketabahan, inisiatif, efesiensi kerja dan kerajinan.
Semua pelayan tersebut diatas dapat terlaksana dengan baik bila dalam kehidupan sehari-hari orang Kristen menunaikan tugasnya masing-masing dengan sepenuh hati dan yakin bahwa pekerjaan itu untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. 1
Dari segala persyaratan yang diperlukan dalam pelayanan, maka kasih harus mendasari semua aktivitas pelayanan orang-orang percaya atau gereja.


B. PERTUMBUHAN GEREJA
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi kedua, kata TUMBUH mempunyai arti yaitu : Timbul (hidup). 2 Bruce Milne (1997 :29 – 30), mengatakan :
“ seharusnya Gereja lebih merupakan organisme daripada organisasi, artinya gereja dalah sesuatu yang hidup dan bertumbuh. Pertumbuhan itu menyangkut baik kuantitas (menambah anggota melalui pekabaran Injil) maupun kualitas (memperdalam dan mematangkan kehidupan dan imanya ). Gereja yang sehat dan bertumbuh akan diberkati baik dengan penambahan orang yang baru bertobat maupun yang menjadi semakin serupa Kristus. Allah telah menyediakan sarana tertentu untuk mencapai pertumbuhan itu. 3

Gereja mula—mula telah tumbuh (timbul) atau muncul, yakni sejak hari Pentakosta atau hari turun-Nya Roh Kudus (Kisah 2 : 1 – 13). Tuhanlah yang bertindak pada hari Pentakusta, sehingga gereja mula-mula lahir. Gereja lahir oleh karena pekerjaan Roh Kudus.
Menurut Kisah Para Rasul 1 : 14-15, modal utama gereja adalah 120 orang.


1. Fil 12 : 13 – 14
2. Balai Pustaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta 1995
3. C. Peter Wagner, Gereja Saudara Dapat Bertumbuh, Gandum Emas, Malang, 1997, Hlm 29 - 30
Kemudian pada hari pentakosta (Kisah 2:41) bertambah 3000 orang, sehingga jumlah orang-orang percaya menjadi 3120 orang. Itulah gereja yang mula-mula.
Dalam pertumbuhan selanjutnya, gereja tidak terlepas dari peranan Roh Kudus dan cara hidup umat itu sendiri. Ketika jemaat mempraktekan hidup kekristenan, hidup sehati sepikir, tekun dalam doa dan pengajaran Rasul-rasul serta ada kepedulian sosial yang tinggi, mereka akan disenangi orang banyak dan tiap-tiap hari Tuhan menambahkan jumlah mereka dengan orang-orang yang diselamatkan. Ketika jemaat mempraktekan hidup kekristenan sehati sepikir, tekun dalam doa dan pelajaran Rosul serta ada kepedulian sosial yang tinggi, mereka akan disenangi orang banyak dan tiap-tiap harti tuhan akan menambahkan jumlah mereka dengan orang-orang yang diselamatkan. (kisah 2:47). Teladan hidup yang demikian diikuti oleh orang lain, seperti Yusuf, yang disebut Barnabas ( Kisah 4: 36 ).
Namun ketika salah seorang mempunyai motivitasi atau tujuan yang tidak benar dalam mempersembahkan persembahan; tujuannya bukan untuk kemuliaan bagi nama Tuhan, melainkan supaya orang lain memuji dan menghormati, maka pertumbuhan jemaat atau gerejapun terhambat. Bukan hanya untuk bertambah (muncul) jemaat baru, tetapi tragisnya justru jemaat menjadi berkurang ( Ananias dan Safira Mati). 1
Dalam pertumbuhannya gereja mengalami tekanan dan aniaya, namun sejarah membuktikan, bahwa ketika gereja mengalami aniaya dan tekanan, justru gereja mengalami pertumbuhan yang pesat. Kematian Stefanus tidak membuat mundur dalam memberitakan Injil yang diamanatkan Tuhan Yesus (Martius 2: 19 – 20). Mereka yang teraniaya tersebar


1. Kisah 5:1 – 11
Keseluruh Yerussalem sambil memberitakan (memelihara) supaya tumbuh besar, banyak dan sempurna, sekalipun banyak rintanagan, hambatan dan bahkan penganiayaan, orang-orang percaya (Kristen mula-mula) tidak menjadi kecewa.
Pada awalnya pembahasan ini, dikatakan bahwa pertumbuhan Gereja adalah dambaan setiap orang kristen, gereja dan terlebih bagi hamba-hamba Tuhan. Namun kenyataannya ada beberapa Gereja yang justru mengalami beberapa kemunduran, bahkan ada yang tidak ada tanda-tanda pertumbuhan sehingga harus ditutup. Dengan demikian Sumber Daya Manusia (SDM), Metode dan Daya atau kemampuan yang tidak selamanya membuat gereja dapat bertumbuh dan berkembang seperti yang ditargetkan dalam program kerjanya.
Mungkin seperti seorang membidik atau mengarahkan senjata api kearah “mangsa” atau sasaran. Cara memegang dan menggunakan senjata cukup pandai dan tidak perlu diragukan, karena memang sudah profesinya. Dan kapan isi sejata itu harus “dilepaskan” kepada sasaran sudah tahu persis, karena sudah biasa melakukannya. Disini kemampuan intelek dan pengalaman memungkinkan untuk dapat menghasilkan hasil yang maksimal. Namun kenyataan lain, hasil yang dicapai kadang-kadang tidak sebanding atau seimbang dengan tenaga, kemampuan dan sarana yang dikeluarkan. Bahkan kadang-kadang tak ubahnya seperti “ menjaring angin”, yang tidak menghasilkan apa –apa.
Rupanya kebanyakan hamba-hamba Tuhan kurang mengetahui siapa yang sebenarnya sedang dibidik. Tidak mengetahui siapa sebenarnya sedang menjadi obyek pelayanannya. Hal ini akan sangat berbahaya, jika gereja dalam rangka pertumbuhan, perkembangan gereja dan penginjilan hanya mengetahui strategi dan kurang mengetahui sasaran yang harus mendapat prioritas dalam setiap program pelayanan.
C. Peter Wagner dalam menyikapi seorang pimpinan Gereja, yang dapat dikenal dan dapat dijadikan contoh dalam menumbuhkembangkan Gereja-gereja Tuhan antara lain : sasaran-sasaran ditetapkan dengan jelas. Untuk itu ia berkata :
“ para Pemimpin Gereja harus dimotivasi oleh keyakinan bahwa mereka telah mengerti kehendak ALlah yang dinyatakan untuk penginjilan dunia dan mereka bahwa sudah terbiasa dengan apa yang Allah harapkan dapat diselesaikan melalui mereka. Dengan demikian mereka tidak ragu-ragu menetapkan sasaran –sasaran yang dapat dijangkau dan membiarkan keberhasilan untuk itu dia mereka dievaluasi berdasarkan sasaran-sasaran ini, meskipun cara ni mungkin kelihatan mengandung resiko bagi mereka yang tidak mengenal sasaran-sasaran pertumbuhan gereja “ 1

Sesuatu dapat berkembang karena dalam kondisi tumbuh (hidup). Tumbuh menghasilkan perkembangan. Pertumbuhan yang baik akan menghasilkan perkembangan yang baik pula. Dan sebaliknya pertumbuhan yang kurang baik akan mengakibatkan tidak ada perkembangan, dan pada akhirnya akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan itu sendiri.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kedua, kata BERKEMBANG ditempatkan pada bagian kedua setelah pertumbuhan atau bertumbuh. Apakah hal ini dimaksudkan sesuai dengan proses perkembangan itu sendiri, yang tidak lepas dari pertumbuhan ? namun lebih jelasnya demikian : Kata berkembang yang menjelaskan kata tumbuh bagian yang kedua, artinya menjadi besar, sempurna, bertambah-tambah. Sedangkan kata aktifnya, yaitu memperkembangkan, yaitu memelihara supaya tumbuh (artinya besar dan sempurna).
Secara umum kata BERKEMBANG, mengikuti kata BERTUMBUH. Gereja yang berkembang seperti yang didambakan oleh orang-orang percaya, adalah : Pertama, berkembang berarti membentang, menjadi besar (luas dan banyak), berkembang juga


1. C. Peter Wagner, Gereja Saudara Dapat Bertumbuh, Gandum Mas, Malang, 1997 Hlm. 29 – 30
mempunyai arti bertambah sempurna dan arti yang terakhir, berkembang berarti menjadi banyak (merata, meluas). 1
Dari pengertian diatas apabila dihubungkan dengan pembahasan gereja, pertama-pertama berkembang dalam jumlah (kuantitas), yaitu usaha mengembangkan gereja menjadi atau membentang, menjadi besar (luas dan banyak). Gereja menjadi banyak yaitu : merata dan meluas, ada dimana-mana.
Kedua, berkembang menjadi sempurna (kualitas) Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus berkata :
“ Sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan benar tentang Anak Allah. Kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran didalam kasih kita bertumbuh didalam segala hal kearah dia, Kristus yang adalah Kepala” 2

Prioritas yang tepat sangatlah penting bagi setiap rencana untuk berkembang dalam perkejaan Allah. Banyak gereja yang tidak berkembang karena mereka bingung menentukan pekerjaan Gereja itu. Mereka memberikan waktu, tenaga dan perhatiannya kepada banyak hal yang baik tetapi seringkali lalai untuk mengutamakan yang terpenting.
Dalam injil Matius 28:19 – 20. Tuhan Yesus Kristus menyatakan prioritasNya : “karena itu pergilah, jadikanlah semua Bangsa muridku dan Baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Anak dan Roh Kudus dan ajarkanlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, aku menyertai kamu senantiasa sampai pada akhir zaman”.
Dari amanat Tuhan Yesus yang terdapat dalam Matius 28: 19 – 20, memang perlu diakui bahwa ada banyak perkara baik yang dapat dikerjakan Gereja, tetapi penjangkauan
1. Balai Pustaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta 1995
2. Efesus 4: 13 – 15
orang sesat (pengabaran Injil keluar) harus merupakan nomor satu dalam prioritas, terlebih kepada kawula muda, tunas dan tulang punggung Gereja.
Prioritas ini tentu bukan hanya satu minggu atau dalam satu waktu tertentu yang sudah dijadwalkan, tetapi untuk sepanjang tahun, secara berkesinambungan dan terpadu.
Harry M. Piland, mengemukakan salah satu faktor penting yang berhubungan pembentukan prioritas, yaitu menjangkau orang. Lebih lanjut ia mengatakan :
“ Menjangkau orang, ini berarti harus mempunyai pendirian dan jalan pemikiran yang mapan. Itu berarti bahwa keseluruhan tujuan hidup dan pelayanan gereja haruslah menjangkau orang. Para Pemimpin Gereja harus merencanakan dan memperluas pekerjaan Allah dengan dasar menjangkau orang yang lebih banyak bagi Kristus dan GerejaNya” 1

Jika Gereja atau orang Kristen menerima dan menetapkan hal ini menjadi falsafah, maka perkembangan menjadi falsafah atau mode hidup Gereja dan anak Tuhan. Gereja akan menanamkan kepada setiap pekerja, dan anggota Gereja akan kepentingan menjangkau orang dengan melengkapi orang-orang kudus dalam pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh kristus (Efesus 4: 12 – 13), seperti Rasul Paulus dan penjangkauan dan pemuridan.
Dalam rangka pertumbuhan dan perkembangan Gereja, para pemimpin Gereja akan merencanakan persiapan dalam rangka perkembangan Gereja. Gereja akan merencanakan suatu langkah-langkah nyata terhadap satu prioritas yang ditentukan. Gereja akan mencari dan menetapkan metode-metode dalam pelayanannya, serta mengidentifikasikan setiap kendala yang bakal dihadapai serta menjadi solusi yan terbaik demi tercapaianya tekad bulat untuk berkembang.



1. Harry M. Piland, Perkembangan Gereja dan Penginjilan melalui sekolah Minggu, Lembaga Literatur Baptis Bandung, 1994, Hlm. 14,15
C. PENGINJILAN
1. Arti Kata Penginjilan
KATA “ Penginjilan” berasal dari suku kata “ Injil” yang berasal dari Bahasa Yunani “ Euanggelion” yang artinya kabar gembira atau kabar baik. Menurut kamus Umum, Bahasa Indonesia , penginjilan adalah suatu proses perbuatan, cara menginjili. Sedangkan MENGINJIL, yaitu menyebarkan ajaran Injil atau menyebarkan Kitab Suci (Kabar Baik) bahwa Allah telah datang ke dunia dalam diri Yesus Kristus dan menyelamatkan manusia. Orang yang menyebarkan ajaran Injil, guru Injil disebut Penginjil 1.
Dalam prakteknya, penginjilan atau menyebarkan (memberitakan) Injil sering digunakan kata mengabarkan (memberitakan) Injil (M I) atau Pekabaran Injil (P I) maksud kedua kata tersebut itu sama yaitu penginjilan.
2. Tujuan Penginjilan
Tuhan Yesus memberikan perintah kepada murid-muridnya supaya pergi memberitakan Injil Kristus kepada semua bangsa didunia. Perintah tersebut dikenal dengan sebutan Amanat Agung Tuhan Yesus yang terdapat pada Injil Matius 28:19-29; Mark 16 Amanat Agung tersebut bukan hanya ditujukan bagi murid-murid-Nya saja, tetapi juga untuk dilaksanakan oleh setiap orang-orang percaya (gereja). Baik untuk memenangkan (menyelamatkan) jiwa yang tersesat, maupun dalam rangka pertumbuhan dan perkembangan gereja dan peginjilan itu sendiri.
Win Arn juga mengatakan :
“ Misi Yesus adalah “Anak manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” Gereja yang mewujudkan tujuan Kristus dan Amanat AgungNya.


1. Purwodarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia,
konsep seperti ini telah dituangkan dalam surat Roma pasal satu sampai dengan pasal tiga. Dalam bagian ini Paulus memberitahukan serta menekankan bahwa semua manusia tanpa kecuali telah berdosa 1.
Langkah kedua, Penekanan Paulus dalam langkah kedua ialah bahwa manusia berdosa memiliki kesempatan untuk memperoleh keselamatan, namun bukan karena usaha atau hasil perbuatan manusia, melainkan semata-mata karena anugerah melalui percaya kepada Kristus yang telah mati dan telah bangkit pada hari ketiga.
Oleh karena dosa telah memisahkan antara manusia dengan Allah, seperti yang terjadi ditaman Eden. Allah mengusir manusia, hubungan manusia dengan Allah telah terputus. Namun kerena kasihNya yang begitu besar kepada manusia yang telah jatuh kedalam dosa. Allah terus mencarinya supaya kembali kepadanya. Untuk membawa manusia kembali kepada penciptaNYa diperlukan seorang juru selamat. Petrus Octavianus mengatakan :
“ Jelas bahwa kebudayaan tidak dapat memperdamaikan kembali manusia dengan Allah. Untuk bersekutu kembali denganNya, manusia memerlukan seorang juru selamat. Alkitab mengatakan bahwa hanya ada satu juru selamat yang bisa menghubungkan kembali persekutuan Allah dengan manusia, yaitu Yesus Kristus, (Yoh. 14:6)” 2

Langkah ketiga. Pada bagian ini Paulus menggungkapkan ada dua sikap atau respon manusia atas berita baik itu. Pertama, sikap menolak. Tidak mustahil sekalipun sudah bertahun-tahun menerima pengajaran Kristen atau berita Injil, mereka menolak dengan gigih. Mungkin anggapan mereka perkara pembenaran dari Allah hanya atas “percaya” itu terlalu sederhana dan tidak masuk akal. Namun ada satu hal yang perlu diketahui, bahwa konsekuensi penolakan terhadap berita baik ini adalah “Upah dosa adalah maut”. 3

1. (Roma 8:1-2).
2. Pet8rus Octavianus, Identitas kebudayaan Asia Dalam Terang Firma Allah, Malang YPPII, 1985. 12
3. Roma 6:23
“ Jadikanlah semua bangsa murid-Ku,” perlu memprioritaskan pertumbuhan dan Penginjilan.”1
Sebelum membahas lebih lanjut mengenai Penginjilan, tugas dan tangung jawab serta metode, dua persoalan yang harus dibahas terlebih dahulu yaitu, pertama Injil itu sendiri dan kedua, pola pemberitaannya.
Kedua persoalan ini harus dipahami bersama, sebab gereja (orang percaya) telah menerima Amanat Agung dari Tuhan Yesus. Sebelum ia naik ke surga dan meninggalkan dunia ini, dia mengatakan “ karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku (Matius 28:19). Dengan kata lain orang-orang percaya mengemban suatu tugas yang mulia, yaitu pergi memberitakan Injil.
3. Pemberitaan Injil Rasul Paulus
Rasul Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus memberitakan dengan jelas dan ringkas, tentang apakah Injil itu. “sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci”. 2
Jadi memberitakan Injil tidak lain adalah memberitakan tentang Kristus yang telah mati ganti semua orang, karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosanya. Ia dikuburkan dan pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati.
Langkah pertama pemberitaan harus dimulai dengan konsep dasar bahwa manusia berdosa, ia tidak berdaya dan perlu pertolongan dari pihak lain. Hal ini berlaku sampai sekarang dan kepada siapa saja, termasuk kepada siswa di Sekolah.



1. Win Arn, Rasio Pertumbuhan Gereja, Malang; Yayasan Gandum Mas, 1992. Hlm. 46
2. I Kor 15:3-4
Kedua, sikap menerima dan percaya. Bagi mereka yang menyambut berita baik ini, maka Firman “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus. Roh yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukuman dosa dan hukuman maut”. 1
4. Pemberitaan Injil di Sekolah
Siapakah yang bertanggung jawab menyebarkan Injil di Sekolah ? Para Pendeta ? Majelis ? Guru Agama Kristen ? Pada umunya orang Kristen menganggap bahwa kewajiban mengabarkan Injil adalah tanggung jawab para Guru Injil atau Guru Agama Kristen di sekolah tersebut.
Alkitab tidak membenarkan anggapan ini. Alkitab menegaskan bahwa, tugas P.I adalah tugas semua orang percaya (Mat. 5:13-16; 2Kor. 5:20; Mat. 28:19-20). Dari ayat-ayat ini jelas bahwa, kewajiban mengabarkan Injil adalah tanggung jawab setiap orang yang telah menerima Kristus menjadi Tuhan dan Juru selamat. Setiap orang percaya wajib mengabarkan Injil sesuai kemampuan dan talenta yang dianugrahkan Roh Kudus kepadanya.
Lebih lanjut harus dipahami bahwa, mengabarkan Injil adalah bagian dari tanggung jawab melayani Kristus. Motivasi ini memacu dan mendorong orang-orang percaya untuk mengabarkan Injil. Jadi mengabarkan Injil bukanlah memulai kewajiban kepada Kristus yang mengutus orang-orang percaya, tetapi juga kewajiban terhadap Injil itu sendiri, yang upaya pengkomunikasiannya telah dipercaya kepada setiap orang percaya.
Mengasihi sesama manusia dengan sungguh-sungguh dan dengan segenap hati, juga berarti telah menyampaikan Injil kepada mereka, sebab kasih adalah pelayanan, dan
1. Roma 8:1-3
bukan perasaan (Galatia 5:13). Mengasihi berarti mencari dan melayani seseorang demi kebaikan bagi orang itu. Ini berarti juga telah memuliakan nama Tuhan. 1
Dan yang terakhir, mengabarkan Injil mendapatkan “harta kekal Sorga”. Tuhan Yesus “Carilah dahulu Kerajaan Sorga dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33). Sementara orang percaya mencari, mensyukuri dan menyatakan Kerajaan Allah dan kebenarannya, antara lain memberitakan Injil, Tuhan Yesus dengan tegas berkata : “dan tidak akan meninggalkan engkau”.
Kesempatan untuk mengabarkan Injil sangat terbatas (Yoh. 9:4), Masalah pokok adalah apakah kesempatan ini akan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk pertumbuhan dan perkembangan gereja di muka bumi bagi kemuliaan Tuhan.
a. Sasaran Penginjilan
Sasaran dari Penginjilan di Sekolah yaitu membawa kembali manusia (Siswa) yang telah lari jauh dari hadapan Tuhan karena telah jatuh ke dalam dosa. Sasaran utama yaitu ditujukan kepada siswa secara pribadi maupun secara kelompok dalam kelas satu kelas yang sama maupun dalam satu kelas yang berbeda tingkat atau jenjang. Pada siswa di Sekolah-sekolah Negeri maupun di Sekolah Swasta. Di Kota maupun di Kabupaten dan di Desa.
Menurut data yang ada di Forum Guru PAK atau Yayasan Pelayanan Pendidikan Kristiani Bandar Lampung, yang merupakan satu-satunya Propinsi di Indonesia yang menangani masalah pelayanan Siswa di Sekolah, dalam pengadaan Guru maupun membantu dalam pelayanan Pengajaran Agama Kristen di Sekolah Negeri maupun Swasta.


1. D.W. Ellis, Metode Penginjilan, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF Jakarta, 1993. Hlm 13
Untuk menjangkau anak-anak di setiap sekolah yang terabaikan tersebut diperlukan suatu kerjasama antara Gereja-gereja dengan Lembaga-lembaga Kristiani, untuk saling mendukung, menopang dan melengkapi dalam mengemban misi Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus, dalam rangka pertumbuhan dan perkembangan Gereja serta Penginjilan.
Kerjasama diantara Gereja-gereja dengan Lembaga-lembaga Kristiani, khususnya yang menangani masalah Pendidikan Kristiani dapat berupa :
“Kemitraan antara gereja dengan Lembaga yang dipercaya untuk mengutus Guru dan mengelola pendidikan Kristriani khususnya dalam pengajaran Agama Kristen di Sekolah dan dalam pengadaan Guru Agama Kristen di sekolah, sehingga anak-anak (siswa) yang dapat terjangkau, terlayani pun terus semakin banyak. Beberapa gereja di Bandar Lampung telah mengadopsi beberapa Guru Pendidikan Agama Kristen (YPPK). Sebuah Persekutuan orang-orang percaya dari Korea yang di Cilegon, mendukung pelayanan Guru-guru Agama Kristen dengan dana rutin setiap bulannya yang juga dipercayakan kepada YPPK”.

b. Potensi Guru Agama Kristen dalam Penginjilan
Berbicara tentang potensi, maka Guru Agama Kristen mempunyai potensi yang sangat besar dalam penginjilan di Sekolah, apalagi dalam rangka pertumbuhan dan perkembangan gereja di masa yang akan datang.
Potensi-potensi Guru Agama Kristen seperti mengajar Agama kristen, pengetahuan akan Alkitab, pemuridan, mengadakan Pendalaman Alkitab (P.A), Pembinaan Iman Kristen, Retreat dan lain sebagainya. Guru-guru Agama yang telah belajar Alkitab baik melalui pendidikan Formal (belajar di Perguruan Tinggi), maupun yang mendapat penataran, pembinaan maupun kursus-kursus tertulis merupakan potensi yang sangat besar dalam membantu gereja dalam memberitakan Injil dan dalam pertumbuhan, perkembangan gereja.
Dari data-data tersebut memang sebagian besar siswa sudah percaya kepada Tuhan Yesus, akan tetapi masih banyak yang belum sepenuhnya percaya atau masih ikut-ikutan teman-temannya, bahkan masih banyak yang belum percaya kepada Tuhan Yesus. Sebagian besar yang belum percaya kepada Tuhan Yesus adalah dari Agama Budha, Hindu dan sedikit sekali dari Muslim. Hal ini dapat kita jumpai di Sekolah-sekolah favorit (sekolah unggulan) dan sekolah-sekolah Swasta Kristen dan sekolah Katolik. Berikut ini keadaan murid sesuai dengan Agama yang dianut oleh Siswa, di SLTP “Immanuel” Bandar Lampung pada tahun Pelajaran 2000 / 2001. ( Lampiran halaman 129, 130 ).

Tuhan Yesus menuntut Gereja, Sekolah-sekolah Kristen dan Lembaga-lembaga Kristiani untuk melaksanakan misi Penginjilan kepada anak-anak (siswa) yang terabaikan, seperti yang dilakukan oleh murid-muridNya ketika Tuhan Yesus melayani di tengah-tengah mereka. Tuhan Yesus berkata : ”Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu : Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga”1






1. Matius 18:10

Yayasan pelayanan Pendidikan kristiani (YPPK) Bandar Lampung, 83% Guru Agama Kristen yang mengajar di SD, SLTP, SMU dan SKM adalah Guru Sukarela. Dua belas persen PNS (Pegawai negeri Sipil) dan 5% adalah Guru Tetap Yayasan (GTY). Berikut daftar Guru Agama Kristen menurut status kepegawaian (Lampiran 131).

Potensi Guru Agama Kristen memang sangat besar bagi Penginjilan dan pertumbuhan gereja, namun apabila tidak disertai dengan dukungan dari gereja, niscaya potensi ini dapat memberi kontribusi bagi gereja dan bagi Penginjilan. Berikut ini persoalan pokok yang diangkat untuk dilaksanakan oleh gereja, yaitu :
“Tanggung jawab PAK adalah tanggung jawab gereja. Pelayanan itu mencakup kebutuhan Guru dan isi PAK-PAK di sekolah Kristen, tanggung jawab itu pada umumnya telah didelegasikan kepada Yayasan atau Badan Pendidikan Kristen. Di sekolah-sekolah Negeri, PAK langsung menjadi tanggung jawab gereja. Dalam kenyataannya, tanggung jawab itu masih belum nampak dalam pelaksanaan PAK di sekolah” 1





1. -- Strategi Pendidikan Kristen di Indonesia, BPK Gunung Mulia, Jakarta 1989, Hlm. 150
BAB III
PELAYAN SISWA TERPADU


Bentuk pelayanan yang satu ini secara sepintas kelihatan agak unik, sebab dalam sejarah pelayanan gereja atau orang-orang percaya rasa-rasanya baru kali ini muncul dan dibahas secara khusus. Mengapa pelayanan kepada siswa (murid), dan mengapa pelayanan siswa tersebut harus dilakukan secara terpadu, terus menerus, terencana dan berkesinambungan ?. Apakah hubungannya dengan pertumbuhan, perkembangan gereja serta penginjilan ?. Wayne Rice (1999) mengatakan :
“ Adanya banyak orang, termasuk para pengerja kaum muda yang takut terhadap siswa SLTP. Saya menyebut mereka eardolescaphobiacs. Mereka berani menghadapi anak-anak di bawah sepuluh tahun, atau siswa SMU dan Mahasiswa, namun mereka takut, sehingga mereka berusaha menghidari siswa yang berusia diantara sebelas sampai empat belas tahun., (masa praremaja). Akibatnya, mungkin kelompok yang paling kurang dilayani di dalam gereja (atau dalam masyarakat), adalah kelompok siswa SLTP ” 1

Tidak dapat disangkal kenyataan ini, namun sebagai orang-orang percaya (gereja), jangan pernah mengabaikan para siswa dalam usia ini. Mengapa ? Sebelum membahas pertanyaan-pertanyaan diatas, satu hal yang harus dijelaskan adalah batasan siswa yang akan dibahas dalam bab ini, kemudian alasan-alasan mendasar mengapa pelayanan bagi siswa itu sangat penting, sehingga harus dilakukan secara terpadu terus-menerus, terarah, terencana dan berkesinambungan.

A. Definisi dan Pengertian Tentang Siswa
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi kedua, yang dimaksud siswa adalah murid yang masih belajar di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan SLTP, sedangkan siswa (murid)


1. Wayne Rice, Pedoman Lengkap Untuk Pelayanan Kaum Muda, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, jilid 2, Hlm 389
pada tingkat SLTA (SMU-SMK) adalah pelajar. Pemakaian istilah tersebut tidak perlu dibedakan baik bagi siswa (murid) yang masih duduk di tingkat SD, SLTP maupun SMU-SMK. Sebab dalam pemahaman secara umum, yang dimaksud dengan siswa adalah anak-anak yang sedang belajar atau sekolah. 1
Namun mengingat tujuan utama dalam pembahasan ini, maka siswa yang khusus menjadi fokus perhatian adalah siswa yang duduk di bangku SLTP. Walaupun demikian bukan berarti siswa yang lain yang dibawah SLTP maupun di atasnya tidak diperhatikan dan disinggung dalam pembahasan ini.
Mengapa siswa, khususnya hal ini murid SLTP menjadi sasaran utama dalam pelayanannya, bahkan pelayanan yang dimaksud adalah pelayanan secara terpadu ?. Mengapa Pelayanan bagi siswa itu sangat penting ?. Apakah hubungannya dengan pertumbuhan, perkembangan gereja dan penginjilan ?. Kemudian langkah-langkah apa saja yang akan diambil dalam rangka pertumbuhan, perkembangan Gereja dan penginjilan tersebut ?. Werren Benson (1999) mengatakan :
“ Tidak diragukan, bahwa setiap tahap kehidupan ini memiliki kepentingannya sendiri, namun ada beberapa realitas yang menjadikan suatu masa itu penting, misalnya masa remaja atau masa dimana anak-anak dalam usia sekolah (sebagai siswa) ” 2

Untuk lebih jelasnya, satu-persatu hal-hal yang sedang dialami oleh siswa yang menjadi begitu penting untuk diperhatikan dan ditindak lanjuti akan di uraikan berikut ini.

B. Siswa dan Masa Pancaroba
Masa Pancaroba atau masa pubertas adalah masa remaja yang perlu dipahami bilamana mereka ingin dicapai oleh Injil, diubah hidupnya oleh Tuhan dan dimenangkan bagi


1. Balai Pusataka, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, edisi kedua, 1995
2. Warren S. Benson, Mark H. Sunter III, Pedoman Lengkap Untuk pelayanan kaum Muda, Yayasan Kolom Hidup.
Bandung 1999, jilid 2, Hlm 390
Kerajaan Allah.
Biasanya pada umur berapakah seorang siswa atau kaum muda mengalami masa pancaroba atau pubertas ?. Pada umumnya orang membatasi masa pancaroba antara 12 sampai dengan 18 tahun. Namun hal ini tidak dapat sebagai patokan secara umum, sebab kebudayaan dan cara-cara hidup satu daerah disatu wilayah dapat berlainan. Kehidupan di Desa atau di pegunungan berlainan dengan kehidupan di Kota. Dengan demikian hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan siswa atau kaum muda pada masa pancaroba sangat dipengaruhi faktor-faktor tersebut.
Masa Pancaroba adalah tingkat perkembangan yang terakhir dalam perkembangan anak menjadi dewasa. Oleh sebab itu bagi para pemerhati kaum muda atau siswa, inilah masa “Emas” yang tidak boleh diabaikan. 1
Dalam masa pancaroba siswa atau kaum muda menjadi matang untuk memahami sedalam-dalamnya berbagai nilai kehidupan. Ia menjadi matang untuk menyelami apa yang dimaksud dengan bermacam-macam norma. Ia dapat menghayati apa sesungguhnya tujuan dari berbagai peraturan, norma-norma, nilai-nilai kehidupan itu ?. Ini sangat tergantung kepada pembinaan, pelayanan terhadap siswa atau kaum muda tersebut, disamping sikapnya sendiri dan lingkungan di sekitarnya.
Pada masa Pancaroba, siswa atau kaum muda sudah mulai aktif dan sanggup mencari lingkungan yang dianggap sejalan atau selaras dengan keinginannya. Sampai batas tertentu ia telah berhasil memilih sendiri. Misalnya : memilih teman, guru, buku-buku yang dibaca dan baju-baju yang ia inginkan. Dalam hal ini peranan dan pengaruh orang tua sudah semakin berkurang. Pembentukan jiwa dan kepribadian pada masa pancaroba sebagian besar

1. Warren S. Benson dan Mark H, Sunter III, Pedoman Lengkap Untuk Pelayanan Kaum Muda, Yayasan Kalam
Hidup. Bandung , 1999.
tergantung pembentukan oleh lingkungan hidup mereka.
Namun hal ini bukan berarti bahwa siswa atau kaum muda yang berumur dua belas tahun sudah mengetahui apa yang baik dan apa yang tidak baik. Dalam masa pancaroba tersebut, pemahaman siswa tentang yang baik dan yang tidak baik tergantung kepada lingkungan di sekitarnya, sebab apa yang dikatakan baik oleh orang tua, belum tentu baik bagi dirinya, apabila lingkungan tidak atau kurang mendukung dalam pembentukan nilai-nilai, norma-norma dan peraturan yang diberlakukan dalam keluarga tersebut.

C. Siswa dan Masa Pencarian Identitas
Dalam masa pancaroba, siswa menemukan akunya. Ia mulai mempelajari bahwa ia mempunyai keinginan yang bebas, bahwa ialah yang melakukan bermacam-macam kegiatan, bahwa dia sendirilah yang dapat menentukan sikapnya terhadap salah satu soal. Namun pada masa ini sikap dan pengambilan keputusannya sangat dipengaruhi oleh lingkungan pergaulan, terutama teman-teman sebaya. Prof. DR. Soerjono Soekanto, SH,MA, (1989) mengatakan :
“ Ini bukan berarti apa yang harus diambilnya sebagai konsentrasi studi, atau apa yang harus diambilnya sebagai hobby yang baik dan lain sebagainya. Ini lebih banyak berarti bagaimana jiwanya seharusnya berkembang, bagaimana pendapat sanak saudara terhadapnya, bagaimana pandangan kawan-kawan terhadapnya, dan yang penting adalah bagaimana pandangan dia tentang dirinya sendiri “ 1

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah memang demikian pada masa pancaroba ?. Jika ya, maka masalah pubertas atau pancaroba begitu sukar. Walaupun demikian, mudah-mudahan para pelayan kaum muda berhasil memperoleh bayangan dari persoalan kaum muda yang dianggap terpenting dalam masa perkembangan menjadi orang dewasa.
DR. Billy Graham dalam bukunya “Jawab Saya”, menjawab atas permasalahan yang dihadapi seorang anak remaja atau kaum muda, yang oleh orang tua diperlakukan seperti

1. Soerjono Soekanto, Remaja dan Masalah-masalahnya, PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta 1989, Hlm. 74.
anak kecil. Beliau mengatakan : “Pertumbuhan (maksudnya masa pubertas) itu memang sulit, tetapi ingatlah bahwa segala pertumbuhan dibarengi penderitaan. Janganlah lupa bahwa terhadap perkembangan hidupmu sekarang, juga sulit bagi orang tuamu. Tidak mudah bagi mereka untuk menyadari bahwa kau sedang dewasa, dan mereka pun harus merubah sikap” 1
Satu kenyataan, ada sebagian anak muda yang mengingini hak sebagai seorang dewasa, namun tidak mau menerima tanggung jawab yang lebih besar dari pada tanggung jawab seorang anak-anak. Inilah yang menjadi titik tolak konflik antara orang tua dengan anak. Ada diantara mereka meninggalkan rumah, sehingga orang tua kesulitan untuk mencarinya. Sebetulnya masalah pokok yang dihadapi para remaja adalah masalah identitas. Mereka pasti akan mengakuinya, walaupun mereka tidak atau belum dapat merumuskan apa yang dimaksudkannya dengan identitas tersebut.
Hal senada seperti hal yang “wajar” tersebut diatas mau tidak mau diperhadapkan pada para pemerhati kaum muda atau siswa. Dan inilah bagian dari tanggung jawabnya sehari-hari. Usaha untuk pemecahan masalah terhadap masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa atau kaum muda selama ini tampaknya seperti membidikkan senjata kearah sasaran yang senantiasa bergerak. Jika mau jujur, berapa yang dapat dibidik dan mengenai sasaran ?.
Prof. DR. Soerjono Soekanto, SH, MA, berkaitan dengan masalah remaja yang sedang mencari identitas dan sedang dalam krisis identitas, mereka sedang mencari jalan keluar dari kehidupan yang serba materialistis ke kehidupan spirituil yang didasarkan pada gotong royong serta cinta kasih. 2





1. Billy Graham, Jawab Saya, Badan Penerbit Kristen, Jakarta 1971
2. Soerjono Soekanto, Remaja dan Masalah-masalahnya, PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1989, Hlm. 75.
D. Masa Transisi
Para siswa atau kaum remaja mendapat prioritas dalam pelayanan karena para siswa atau remaja ada pada masa transisi. Pada periode inilah ia beralih dari masa kanak-kanak menjadi orang dewasa. Warren S. Benson dan Mark H. Sinter III, dalam Buku Pedoman lengkap untuk Pelayanan Kaum Muda, mengatakan :
“ Hal ini hanya terjadi sekali saja selama kehidupan orang itu, dan bagi kebanyakan orang terjadi ketika orang itu dalam usia SLTP. Sama seperti sebuah kepompong, demikian pula keadaan manusia yang mengalami perubahan yang berbeda dengan keadaan sebelumnya dan menjadi manusia dewasa. Sebelum itu ia berada pada tahap anak-anak, setelah itu mereka mampu melahirkan anak-anak. Perubahan ini lebih dari sekedar perubahan Jasmani “ 1


E. Masa Keterbukaan dan Mudah Dipengaruhi
Yang terakhir yang menjadi titik tolak mengapa pelayanan kepada siswa SLTP begitu penting, siswa SLTP merupakan periode keterbukaan atau masa keterbukaan.
Oleh karena siswa SLTP itu sedang bergerak meninggalkan masa kanak-kanak mereka dan beralih kepada masa kedewasaan, masuk ke suatu “dunia” yang sedang terbentang luas dihadapan mereka. Dengan mata yang terbuka lebar dan antusiasme yang menggebu-gebu, mereka ingin mencoba segala sesuatu. Itulah sebabnya siswa-siswa SLTP pada masa ini dipandang sebagai “sasaran empuk” dari para penjaja barang dan mereka yang berkecimpung dalam bidang periklanan.
Para siswa dalam masa ini sulit untuk mengendalikan diri atau memilih mana yang baik. Maka tidak heran, apabila sering terdengar sana-sini, kasus-kasus yang terjadi sebagian
besar adalah yang berhubungan dengan kaum muda, atau pemuda sebagai pelaku utama. Hal demikian memang dapat diterima dengan akal sehat, sebab memang demikian pada masa

1. Warren S. Benson dan Mark H, Pedoman Lengkap Untuk Pelayanan Kaum Muda, Yayasan Kalam Hidup,
Bandung, 1993, jilid 2, Hlm. 389.
keterbukaan dan masa mudah dipengaruhi.
“Membaca” situasi yang sedang dihadapi oleh siswa atau kaum muda seperti tersebut di atas, ironisnya justru mereka diabaikan atau kurang mendapat prioritas dalam pelayanan Gereja pada umumnya. Dalam hal ini Wynne Rice “Menyindir” gereja-gereja atau orang Kristen pada umumnya. Ia mengatakan : “Namun dalam kenyataan, gereja atau orang-orang percaya kurang memahami hal itu. Mungkin kelompok yang kurang dilayani gereja (atau masyarakat) adalah kelompok siswa SLTP” 1

F. Dasar dan Tujuan Pelayanan Siswa
Pelayanan Siswa merupakan wadah dalam pelayanan Jemaat atau Gereja, dimana siswa atau siswi sejak 6 tahun sampai dengan 17 tahun dibina dalam Iman Kristen secara teratur dan terarah. Nama maupun bentuk pelayanan siswa tersebut tergantung siapa yang melayani. Namun wadah itu lazimnya disebut Pengajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) atau Komisi pendidikan Agama Kristen (KPAK) yang mencakup selain Pelayanan pendidikan Agama Kristen di Sekolah, dan di Perguruan Tinggi (PT), juga di dalam gereja yang membawahi Persekutuan-persekutuan, misalnya Persekutuan Sekolah Minggu, Remaja-Pemuda, Persekutuan Kaum Bapak, Persekutuan Kaum Ibu dan Persekutuan Lanjut Usia (Lansia).
Maksud pelayanan siswa, khususnya Pelayanan Pengajaran Pendidikan Agama Kristen adalah karena PAK adalah satu bidang pelayanan gereja atau orang-orang percaya, dan merupakan tanggung jawab Gereja. Homrighausen dan LH. Enklaar (1994) mengatakan :




1. Wynne Rice, Pedoman Lengkap Untuk Pelayanan Kaum Muda, Yayasan Kalam Hidup, bandung, 1993,
jilid 2, Hlm. 389.
“Pendidikan Agama Kristen adalah salah satu dari tugas-tugas Gereja yang banyak itu, jadi bukan satu-satunya tugas Gereja, melainkan satu diantara yang lain. Sudah tentu kita menganggap PAK itu sebagai suatu tugas Gereja yang sangat penting, tetapi tempatnya terdapat di samping tugas-tugas gereja lainnya. Justru sebab PAK itu merupakan suatu fungsi gereja yang amat penting, perlulah kita menitik beratkan bahwa PAK itu adalah Pendidikan yang seharusnya ditanggung dan dilaksanakan oleh Gereja sendiri“ 1

Maksud pelayanan siswa dalam pengajaran Agama Kristen yang merupakan salah satu bidang pelayanan Gereja dan pembinaan warga Jemaat atau gereja atau orang-orang percaya, sehingga terwujud kemandirian dan kedewasaan Iman. O.E.C.H. Wuwungan, (1997) mengatakan :
“Sikap mandiri dan dewasa mengandung makna tanggung jawab sebagai pribadi, namun pula tidak terlepas dari kebersamaan Gerejawi. Seseorang yang punya sikap seperti itu tidak akan cenderung ikut-ikutan, pada pihak lain ia pun sadar bahwa ia terpanggil memenuhi amanat Tuhan, baik seorang diri maupun dalam persekutuan gereja“ 2

Kedewasaan Iman sebagai harapan gereja dan orang-orang percaya pernah menjadi fokus Rasul Paulus dalam suratnya yang ditujukan kepada Jemaat di Efesus yaitu :
“ Sampai kita semua telah mencapai kesatuan Iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak yang diombang-ambingkan oleh angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan " 3

Tuhan Yesus sendiri sebagai Guru Agung telah memberi amanat kepada Gereja (Orang-orang Percaya) supaya mengajar. Homrighausen dan I.H. Enklaar (1994), menegaskan sebagai berikut :



1. Homrighausen, I.H. Enklaar, Pendidikan Agama Kristen, PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1994, Hlm. 32.
2. O.E.C.H. Wuwungan, Bina Warga Gereja, PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1997, Hlm. 132.
3. Efesus 4:13,14)

“P.A.K itu tak lain dan tak bukan hanyalah suatu pemberian dan amanat Tuhan sendiri kepada jemaatNya. Dalam Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus, kita membaca (Efesus 4:11), bahwa Tuhan telah memanggil dan mengangkat dari antara anggota Gereja, baik rasul-rasul maupun pengajar-pengajar. Pelbagai tugas diletakkan Tuhan atas bahu Jemaat, beberapa pelayanan dipercayakanNya kepada GerejaNya di bumi ini, diantaranya termasuk pula tugas mengajar dan mendidik orang ke dalam Agama Kristen“ 1


G. Sikap Gereja atau Orang-orang Percaya ?
Gereja harus mengakui bahwa sikap hamba Tuhan, Majelis dan Para aktifis kurang peduli terhadap masalah demikian, padahal dalam upaya untuk pemecahan yang berarti Gereja harus menyadari bahwa kenyataan yang diobservasi hanyalah sebagian kecil dari masalah yang sebenarnya.
Di sisi lain Guru atau para Pendidik di sekolah telah memikul tanggung jawab yang cukup berat dalam melaksanakan proses belajar, sesuai dengan tuntutan kurikulum. Program catur wulan, program tahunan maupun mempersiapkan Satuan Pelajaran (SP) atau persiapan mengajar, sangat menyita waktu. Belum lagi ditambah dengan memberi Ulangan Harian, Test Sub Sumatif, test Sumatif dan mengoreksi serta merekap nilai untuk dilaporkan kepada orang tua atau wali murid.
Bagi guru-guru yang mengajar bidang studi yang di Ebtanaskan, dituntut untuk memberi waktu yang lebih untuk murid, yaitu memberi pelajaran tambahan. Belum tanggungan keluarga yang semakin hari semakin berat, sementara penghasilan guru hanya pas-pasan saja. Sementara semua menuntut untuk dipenuhi. Lalu bagaimana Misi dari sekolah itu sendiri ?.
Guru Agama Kristen sendiri pada Sekolah tersebut telah terjebak dengan rutinitas, sehingga pelayanan PAK (Pendidikan Agama Kristen) di sekolah hanya dipahami sebagai

1. Homrighausen, I.H. Enklaar, Pendidikan Agama Kristen, PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1994, Hlm. 32.
“Pendidikan”. Sebagai “Pendidikan” artinya suatu usaha sadar dan bersahaja untuk membimbing dan memperlengkapi individu dan kelompok menuju ke arah kedewasaan, khususnya dalam cara berfikir. Sedangkan dalam konferensi Kurikulum I PAK, tanggal 12 s/d 14 Juli 1963 di Sukabumi telah dirumuskan mengenai tujuan PAK sebagai berikut
“Mengajak, membantu, menghantar seseorang untuk mengenal akan kasih Allah yang nyata dalam Yesus Kristus, sehingga dengan pimpinan Roh Kudus ia datang ke dalam satu persekutuan hidup pribadi dengan Tuhan. Hal ini dinyatakan dalam kasihnya kepada Allah dan sesamanya manusia yang dihayatinya dalam hidupnya sehari-hari, baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan selaku anggota Tubuh Kristus” 1


H. Hakekat PAK di Sekolah
Pendidikan Agama Kristen di Sekolah-sekolah harus berkedudukan sebagai PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN AGAMA atau tepatnya IMAN KRISTEN. Landasan, cara kerja dan misinya harus berakar dari nilai-nilai Iman Kristen, sebagaimana diajarkan dalam Alkitab dan Tradisi Gereja.
Lebih lanjut PAK di Sekolah di samping sebagai “Pendidikan” dan berkedudukan sebagai PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN Agama, Iman Kristen. PAK harus meneladani pola kehidupan Yesus Sang Guru. Dengan demikian PAK turut terpanggil mewujudkan prinsip “Inkarnasi”. Maksudnya, disamping PAK harus peka terhadap pergumulan kebutuhan dan kerangka pikir di dalam konteks budaya yang ada, PAK harus menjadi “seperti” murid, yaitu hadir dalam pribadi murid swa), bergaul menjadi bahagian dari mereka.
Di sini ditemukan dua aliran pikiran, berhubungan dengan dua aspek yang terdapat pada PAK itu. Aliran yang satu mengutamakan aspek pengajaran, dan aliran yang lain mengutamakan pengalaman keagamaan. Separuh ahli PAK mementingkan aspek pengajaran. Sebab pengajaran atau pendidikan itu hendak membangun kepercayaan Kristen dalam diri

1. Strategi Pendidikan Kristen di Indonesia, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1989
para murid atau siswa itu dengan jalan menyampaikan pengetahuan. 1
Inilah jalan yang dikehendaki Tuhan, supaya Firman-Nya yang mendatangkan keselamatan itu turun-temurun diserahkan dan disampaikan kepada generasi yang berikutnya. Ini berarti PAK itu pertama-tama berfungsi sebagai penyampaian kebenaran yang dinyatakan dalam Alkitab. Yang terpenting bagi anak-anak supaya mengetahui dan mengakui pokok-pokok kepercayaan Agama Kristen. Mereka harus mengenal seluruh isi Alkitab, dan harus menjadi mahir dalam segala hal soal mengenai Iman Kristen itu. Tegasnya aliran ini mau memberi pengajaran yang mendalam dan semata-mata berpusatkan Alkitab.
Sedangkan aliran kedua ini timbul karena reaksi terhadap kekakuan dan ketidaksukaan yang memang sering diperlihatkan oleh aliran yang pertama itu. Aliran pertama itu selalu “dipersalahkan”, karena hanya kebenaran dan iman yang murni saja yang dipentingkan dengan melupakan hidup rohani perseorangan dan tingkah laku orang Kristen dalam praktek pergaulan sehari-hari.
Berdasarkan pemahaman yang demikian terhadap kedudukan dan fungsi PAK di Sekolah, maka alangkah baik dan harmonisnya apabila mencoba gambaran sekilas tentang pelayanan siswa secara terpadu. Di satu sisi supaya materi PAK yang disampaikan selama ini, tetap menyampaikan pengetahuan Alkitab sebagai dasar fundamental hidup kerohanian, di sisi lain, tanpa meninggalkan ketentuan yang telah ditetapkan, juga berorientasi pada pengalaman rohani serta perkembangan pribadi murid, sesuai dengan tingkat umur dan kebutuhan rohani murid atau siswa.
Dr. E.G. Homrighausen dan Dr. I.H. Enklaar, dalam menyikapi dua aliran Hakekat PAK mengatakan :


1. Dr. E.G. Momrighausen, Dr. IH. Enklaar, Pendidikan Agama Kriten, BPK Gunung Mulia, Jakarta 1994, Hlm. 35
“Akan tetapi, memang benar juga bahwa pengetahuan akal dan pengakuan iman yang murni belum mencukupi. Pendidikan Agama Kristen (PAK) bukan saja mengenai hal-hal yang lampau, tetapi juga ingin menghidupkan iman sehingga berbuah dengan indahnya, baik di dalam hidup perseorangan, maupun dalam persekutuan Jemaat seanteronya dan di dalam masyarakat umum. Bukankah kita semua mengiakan bahwa Agama Kristen bukan saja perkara ajaran dan pengakuan secara teori, tetapi juga suatu kuasa Ilahi yang seharusnya mempengaruhi dan menguasai seluruh alam perasaan, kehendak dan tingkah laku manusia” 1

Dengan demikian tidak perlu dipaksakan supaya memilih antara kedua aliran atau pandangan dan maksud PAK tersebut. Sebaiknya kedua aliran tersebut dipadukan atau digabungkan dengan mempergunakan unsur-unsur yang baik dan benar untuk kedua-duanya, yaitu pelayanan Siswa secara terpadu. Tanpa mengabaikan aliran atau pandangan yang pertama dan juga “mengkonsumsi” aliran atau pandangan yang kedua, dengan tetap mengindahkan peraturan perundang-undangan, dan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional.
Berikut ini dibahas mengenai Pelayanan Siswa Terpadu, Prinsip, Langkah-langkah serta bentuk Pelayanan.

I. Pelayanan Siswa Terpadu
Menghadapi dilema, manusia dan berbagai tantangan dinamis di masa depan, Allah tetap memanggil para pekerja atau hamba-hamba Tuhan dan para pendidik (Guru) untuk terus berkarya. Pendidikan tidak boleh menyerah di dalam perjuangannya. Sebab Allah pun tak henti-hentinya menopang mereka untuk memiliki komitmen terhadap tugas yang mulia ini. Ia siap memperlengkapi mereka secara terus-menerus, dengan kuasa dan hikmat dari Roh-Nya yang Maha Kudus. Sekalipun demikian, tentu Allah menuntut satu perkara penting yang muncul dari dalam diri para Pekerja Gereja dan Pengajar (Pendidik) itu secara ikhlas, yaitu tekad bulat : “Saya siap untuk mengembangkan Gereja, untuk kemuliaan Allah”.


1. Dr. E.G. Homrighausen dan Dr. I.H. Enklaar, Pendidikan Agama Kristen, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1994 .
Statemen demikian pada dasarnya merupakan pernyataan kebulatan tekad yang pernah di ungkapkan oleh Umat Allah di dalam Perjanjian Lama, di bawah pimpinan Nehemia, yaitu ketika mereka kembali membangun tembok Yerusalem yang telah hancur (Nehemia 2:18-20). Tekad yang bulat serta kesiapan menjadi modal dasar penting bagi semua orang untuk bekerja sama dan sekaligus untuk berfikir strategis dalam menghadapi setiap bentuk tantangan.
Tekad di atas juga tetap relevan bagi para pekerja atau Pendidik Kristiani dewasa ini, khususnya dalam menghadapi tugas-tugas pelayanan di kemudian hari. Para pendidik perlu memiliki beban dan visi pelayanan. Untuk itu, mereka harus senantiasa bertanya kepada Tuhan Yang Empunya tuaian, tentang apa yang patut mereka kerjakan, serta bagaimana pekerjaan itu harus di kelola dengan baik. Perkara ini penting mengingat pekerjaan membangun Gereja (Tubuh Kristus) secara kwalitas maupun kwantitas pada dasarnya merupakan program kerja Allah sendiri.
1. Prinsip Pelayanan Siswa Terpadu
Sebelum membahas lebih lanjut mengenai pelayanan Siswa secara terpadu, prinsip dalam pelayanan harus menjadi bagian dalam setiap pelayanan, terutama kepada Siswa (murid) yang masih dalam pencarian identitas, masa pancaroba dan masa transisi yang telah dikemukakan di atas.
Dalam Pelayanan kepada siswa, perlu suatu konsep yang menyatakan, bahwa Allah memanggil orang tertentu ke dalam pelayanan di kalangan Remaja-Pemuda di Gereja lokal sepanjang hidupnya. Dan apakah yang dituntut untuk orang seperti itu ?.
Prinsip yang pertama, adalah kasih yang berkobar-kobar. Kasih yang berkobar-kobar terhadap Yesus Kristus. Segala dorongan yang kurang atau tidak mencapai kasih sepenuhnya terhadap Yesus Krisrus menyebabkan para pelayan remaja-pemuda mundur dari pelayanannya.
Ada banyak hamba Tuhan, yang akhirnya mundur sebelum berjuang, atau mencoba dengan sekuat tenaga, tetapi putus di tengah jalan. Penyebabnya kasih kepada Kristus yang merupakan dasar dan prinsip dari pelayanan kurang menjadi bagian dalam hidup dan pelayanannya.
Prinsip yang kedua adalah kasih terhadap Firman Tuhan. Tak ada sumber lain yang tertinggi bagi hikmat para pelayan atau pekerja di ladang Tuhan. Tak ada kitab lain baik menyangkut psikologi, sosiologi, atau sejarah, dimana Pelayan Tuhan harus menyerahkan diri. Hamba Tuhan atau para pelayan tidak memiliki pesan lain untuk disampaikan pesan dari Firman Allah yang dipelajari dengan seksama, disiapkan, dan disampaikan dengan baik dapat digunakan oleh Roh Kudus untuk menawan pikiran-pikiran kaum muda terhadap media lain yang mereka kenal.
Ketiga, harus pula memiliki kasih terhadap Gereja Yesus Kristus. Setelah kurang lebih sepuluh tahun berkecimpung dalam pelayanan, mendukung Gereja lokal, sangat terasa sekali bahwa apabila pelayanan terhadap siswa yang telah terjangkau, sering tidak nampak buah yang tetap seperti yang Tuhan Yesus kehendaki (Yoh. 15:16).
Apabila ada orang yang mengatakan bahwa ia akan menyerahkan dirinya bagi Injil Kristus dalam pelayanan terhadap siswa, namun ia tidak memiliki komitmen yang kuat terhadap gereja lokal, dalam persekutuan, kesaksian dan pelayanan, maka sebenarnya ia telah menipu dirinya sendiri. Kaum muda yang telah dilayani dengan baik perlu disediakan rumah yang nyaman dan sistim pendukung kehidupan dan pertumbuhannya. Kasih terhadap Gereja Kristus akan muncul bilamana dilibatkan atau melibatkan diri dalam pelayan gereja.
Keempat, sifat melayani. Tom Yeakley (1989) berkaitan dengan watak pekerja Kristus, mengatakan :
“Tujuan pertumbuhan rohani orang Kristen adalah menjadi serupa dengan Kristus. Seperti halnya dalam sifat-sifat yang lain, kita juga harus bertumbuh dalam sifat melayani. Tetapi kita harus mengakui bahwa sering kita lebih senang dilayani daripada melayani. Walaupun ada orang yang mempunyai karunia khusus untuk melayani (Roma 12:7), namun semua orang Kristen harus rela melayani orang lain”. Sifat melayani adalah dasar yang penting kalau kita ingin membimbing orang lain sesama anggota tubuh Kristus. 1

Kelima, seseorang yang ingin bekerja, melayani siswa secara terpadu, harus mengasihi mereka dan orang tua. Mungkin hal ini seolah-olah merupakan pengulangan. Ada banyak orang Kristen yang terjun ke dalam pelayanan kaum muda dengan alasan-alasan yang keliru. Sebagian ingin mempertahankan keremajaan mereka dan sebagian menganggap bahwa dengan terjun ke dalam pelayanan kaum muda membuat mereka tetap kelihatan aktif. Bahkan yang lain memandangnya sebagai pemuasan ego mereka. Motivasi-motivasi seperti ini tidak akan bertahan dalam pelayanan kaum muda. Seorang pelayan harus mengasihi para siswa, meskipun mereka masih duduk di SD atau SLTP. Sangat disesalkan karena sikap kasih ini hanya merupakan satu-satunya belas kasihnya yang pernah diterima atau dirasakan oleh sebagian remaja, sebaliknya ada yang mengasihi siswa namun tidak mengasihi orang tuanya. Orang tua dianggapnya sebagai musuh.
Melihat yang demikian, seperti melihat pertandinmgan antara orang tua dengan pelayan kaum muda, sedangkan anak atau kaum remaja berdiri di tengah-tengah untuk diperebutkan. Kasih terhadap kaum muda harus pula menjadi kasih terhadap orang tua mereka, sebab semasa anak bersama-sama orang tua, mereka “menerima” apa yang menjadi perintah atau mentaati peraturan yang ditentukan orang tua.
Berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh Merton dan Irene Strommen terhadap orang tua dan remaja, mengemukakan, bahwa para remaja :


1. Tom Yeakley, Watak Pekerja Kristus, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1989, Hlm. 37,38.
“Menerima keyakinan pribadi orang tua mereka terhadap pentingnya agama. Sebagian besar remaja mengatakan bahwa itu merupakan hal yang terpenting atau salah satu pengaruh yang paling penting dalam kehidupan mereka …… . Namun hal yang membingungkan adalah walaupun agama diakui sebagai hal yang penting, baik oleh remaja maupun orang tua, hal itu hampir menjadi pokok yang tabu untuk dibicarakan di rumah. 1

Michael Rutter mengatakan bahwa orang muda “cenderung menerima tata nilai orang tua mereka terhadap pokok-pokok utama kehidupan dan juga menerima petunjuk mereka dalam kebanyakan masalah yang mereka hadapi”. 2
Dari dua pandangan mengenai hubungan orang tua dan anak, khususnya dalam iman dan kehidupan sebagai keluarga, menjadi suatu sumber inspirasi bagi para guru (Pendidik) maupun para pelayan kaum muda, dalam menentukan sikap pelayanan, sehingga tidak terjadi “bentrok” kepentingan , dan semata-mata hanya ingin memenangkan kaum muda untuk Tuhan Yesus dan Gereja-Nya.

2. Langkah – langkah Pelayanan Siswa Terpadu
Langkah-langkah apa yang harus di tempuh dalam Pelayanan siswa terpadu dalam rangka menumbuhkembangkan Gereja dan Penginjilan ?.
a. Pembentukan Tim Pelayanan Siswa.
Pembentukan Tim Pelayanan siswa tergantung kebutuhan, dan tempat di mana pelayanan itu dilangsungkan. Misalnya : pelayanan siswa terpadu di sekolah. Tim ini akan menjadi sangat permanen, sebab PAK di sekolah kedudukannya sama dengan mata pelajaran-pelajaran yang lain. Dengan demikian di butuhkan tim yang tetap, misalnya tim tersebut menjadi suatu lembaga atau forum,

1. Merton P dan A, Irene Strommen, Five Cries of Parent (San Fransisco : Harper & Row, 1985), Hlm. 133.
2. Warren S. Benson, Mark H. Senter III, Pedoman Lengkap Untuk Pelayanan Kaum Muda, Yayasan Kalam Hidup,
Bandung 1999, Hlm. 21.
misalnya Forum Guru Agama Kristen, Forum Pelayanan Siswa dan lain-lain.
Karena lingkup pelayanannya lebih luas dan harus ditangani secara profesional, maka orang-orang yang melayani juga orang-orang yang profesional. Oleh sebab itu bentuk suatu yayasan atau lembaga yang berbadan hukum, untuk menangani masalah Pendidikan Kristen di sekolah. Karena pengaruh dari pelayanan PAK di sekolah yang ditangani secara profesional dan penuh tanggung jawab sangat besar kontribusinya bagi pertumbuhan dan perkembangan gereja. Selanjutnya gereja atau lembaga Kristiani dapat mempersiapkan para pekerja gereja, aktivis atau guru-guru Agama Kristen untuk melayani siswa atau kaum muda.
Baik pembentukan Tim pelayanan yang sangat sederhana, maupun pembentukan forum, yayasan serta kesiapan gereja dalam melayani siswa atau kaum muda adalah satu mata rantai yang saling melengkapi dalam tugas pekerjaan, pelayanannya masing-masing, sampai semuanya telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus seperti dimaksudkan oleh Rasul Paulus. 1
Tim pelayanan siswa dalam satu sekolah dapat terdiri dari : Ketua, Koordinator Kelas I, Koordinator Kelas II, dan Koordinator Kelas III, (dalam pendataan dan administrasi lainnya melibatkan Sekolah atau Tata Usaha). Sedangkan Tim pelayanan siswa untuk dua atau tiga Sekolah Negeri, misalnya : Ketua, Sekretaris, Koordinator setiap sekolah, (Guru Agama Kristen pada sekolah tsb), sedangkan Tim untuk beberapa Sekolah Negeri maupun Swasta harus mewakili semua unsur dalam pelayanan PAK. Misalnya :

1. Efesus 4:12 – 13 .
Ketua Penjangkau
Wakil Ketua : Urusan kurikulum PAK, Evaluasi dll.
Sekretaris I : (Urusan Administrasi)
Sekretaris II :Membantu wakil ketua dalam urusan kurikulum, evaluasi dll
Koordinator untuk jenjang setiap : SD, SLTP, SMU, SMK,
Bendahara : I dan II
Seksi : Kegiatan atau Kerohanian
Seksi : Humas
Semua anggota Tim harus mengakui serta menerima tugas sesuai dengan jabatan dalam Tim tersebut.
b. Pendataan siswa
Ibarat seorang ingin pergi memancing, setelah lengkap personel maupun umpan serta tempat untuk menampung hasil tangkapan, satu hal yang tidak boleh terlupakan, yaitu tempat dimana banyak ikan. Baik ikan yang mudah diberi umpan, maupun ikan-ikan yang sudah kebal dengan umpan apapun. Ikan yang mudah maupun yang ikan sukar tangkap dengan kemampuan dan umpan apapun, sehingga harus dipersiapkan waktu, tenaga, kwalitas dari “umpan” maupun cara yang lain. Inilah pentingnya sebuah database. Alkitab terjemahan Living Bible menterjemahkan Amsal 18:13, seperti ini : “Adalah sesuatu yang memalukan. Ya, betapa bodohnya ! Memutuskan sebelum mengetahui fakta-fakta”. 1
Demikian pula dalam menjangkau atau melayani para siswa yang tersebar disetiap sekolah. Sasaran pelayanan adalah semua orang tanpa kecuali, supaya

1. Majalah Bulanan “ESOK”, Yayasan Doulos, Edisi XXIV 1999, Hlm. 24.
setiap orang percaya diselamatkan. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16).
Sebelum Tuhan Yesus naik ke surga, Ia memberi tugas kepada murid-muridNya untuk memberikan Injil kepada seluruh bangsa. “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku…” (Mat 28:19-20)
Pengetahuan tentang “PETA” musuh atau peta “mangsa” akan sangat efektif di bandingkan hanya “serampangan” saja. Keberhasilan dari suatu program pelayanan juga dapat di evaluasi, dan untuk ditindak lanjuti sehingga hasil “tangkapan” dapat di muridkan dan pada akhirnya akan menjadi pekerja atau pelayan bagi Kristus dan Gereja-Nya.
Sebelum melaksanakan pelayanan, khususnya pelayanan siswa terpadu yang harus diketahui adalah data siswa secara akurat. Minimal latar belakang Agama, orang tua dan lingkungan dimana anak-anak tersebut tinggal.
Kapan sebaiknya calon peserta itu di daftarkan ?. Ini pertanyaan yang cukup penting. Pertama daftarkan siswa tersebut pada kesempatan pertama, misalnya pada awal tahun ajaran baru atau setelah naik kelas. Jangan tunggu mereka datang ke persekutuan atau kebaktian yang diadakan di Sekolah, supaya mereka meresa diperhatikan.
Kedua, daftarkan pada waktu kunjungan. Dalam kunjungan di rumah orang tua murid atau wali murid, sebaiknya menanyakan apakah dia atau keluarganya sudah ikut dalam kegiatan sekolah minggu atau kegiatan Gereja. Jika mereka belum mengikuti kegiatan tsb, kita minta izin untuk mendaftarkan mereka ke persekutuan siswa atau P.A yang diadakan di Sekolah. Jika mereka menolak, karena mereka bukan orang Kristen, atau karena kesibukan anak, misalnya lest, atau kegiatan lain, Guru dapat menawarkan, untuk dapat melayani di rumah. Waktu disesuaikan dengan kegiatan anak atau siswa, dan tidak mengganggu acara keluarga tersebut. Bahkan jika mereka mau dapat mengajak siswa atau anak lain yang tinggal berdekatan dengan rumah tersebut. Akan lebih hidup dan efektif apabila dalam persekutuan atau dalam P.A tersebut ada anak-anak yang telah percaya kepada Tuhan dan memiliki kesaksian hidup yang baik.
Ketiga, daftarkan pada waktu acara atau kegiatan kerohanian yang diadakan oleh sekolah tersebut, misalnya pembinaan iman Kristen, Rekreat yang diadakan pada waktu libur catur wulan.
Keempat, daftarkan melalui Sekolah Injil Liburan (SIL). Pelajarilah pendaftaran SIL untuk menemukan anak-anak yang belum terdaftar pada bagian pertama sampai dengan ketiga. Pada waktu SIL selesai, mintalah ijin kepada orang tua anak-anak ini untuk mendaftarkan mereka ke sekolah minggu atau persekutuan siswa. Baik yang diadakan oleh sekolah maupun gereja pada setiap hari Minggu. Pimpinlah para pekerja di bagian anak-anak untuk mengadakan tindak lanjut bagi anak-anak yang baru ini.
Harry M. Piland (1984) mengatakan, ada beberapa gereja yang mendapatkan (anggota) dari Sekolah Injil Liburan (SIL). 1
Yang terakhir, daftarkan siswa pada saat akan menentukan sasaran. Misalnya mencari anggota persekutuan. Berilah penghargaan atau pujian kepada setiap anggota atau kelas jika sasaran itu telah tercapai.


1. Harry M. Pilaand, Perkembangan Gereja dan Penginjilan Melalui Sekolah Minggu, LLB, Bandung 1984, Hlm.
c. Pembagian Kelompok.
Yang dimaksud dengan pembagian kelompok di sini adalah menempatkan atau mendaftar siswa sesuai dengan : Kelas, Umur, Tempat Tinggal, atau latar belakang siswa tersebut. Tujuan dari pengelompokan supaya sasaran yang akan di capai dapat tercapai secara maksimal. Hal ini juga akan mempermudah dalam pelayanan, mempermudah menempatkan para pekerja atau guru dan dalam menyusun jadwal, serta menentukan atau memilih materi yang harus disampaikan.
d. Pembentukan Kelompok Inti.
Setelah siswa dibagi-bagi sesuai dengan kelompok, misalnya tempat tinggal yang berdekatan, kelas atau umur yang sama, maka langkah berikutnya supaya kelompok tersebut benar-benar berfungsi secara maksimal, maka mulailah dengan membentuk kelompok inti, yaitu suatu kelompok yang diambil dari berbagai kelompok untuk menjadi pemimpin atau pelayanan dalam kelompok-kelompok yang telah dibentuk sebelumnya. Hal ini diharapkan melalui kelompok inti tersebut, tugas dan fungsi sekolah, gereja atau setiap orang percaya akan semakin terealisasi. “Sebab melalui kelompok inti, fokus utama adalah pemuridan dan penginjilan”. Pemuridan jawaban atas pertanyaan tentang pertumbuhan gereja. 1
Kelompok inti adalah bagian dari gereja, bukan P.A atau persekutuan doa. Memang anggota P.A yang berpotensi harus berkomitmen menjadi bagian dari kelompok inti, sekolah dan akhirnya gereja, walaupun kendalanya adalah mungkin karena mereka telah senang dengan pengajaran P.A, karena teman dekat, atau karena jarak rumah dengan tempat pertemuan kelompok inti tersebut jauh dari tempat


1. Majalah Bulanan “ESOK”, Yayasan Doulos, Edisi XXIV 1999, Hlm. 21.
tinggal. Sedangkan keuntungan dari pembentukan kelompok inti, dapat kontak terus menerus, pelayanan atau gembala menjadi kenal, kemudian jadi rekan pelayanan, dan informasi dari gereja atau sekolah cepat diinformasikan kepada semua anggota kelompok.
Ada 5 cara menarik untuk mengembangkan kelompok inti yang sehat dan mengenai sasaran serta cara-cara yang aktual dan tidak terikat pada suatu cara atau metode.
1. Menarik anggota-anggota kelompok inti.
Cara menarik anggota-anggota kelompok inti, yaitu bermukim di daerah pemukiman yang berasal dari gereja induk, dan memulai persekutuan.
2. Pemahaman Alkitab Rumah.
Pemahaman Alkitab di rumah tangga atau di rumah tempat tinggal siswa yang berdekatan, dapat dilakukan seminggu sekali pada malam hari untuk membentuk kelompok inti, yaitu dengan P.A, doa, penginjilan, persekutuan dan penggembalaan.
3. Dari rumah ke rumah.
Pembentukan kelompok inti berdasarkan metode ini berubah-rubah sesuai dengan keberhasilan dan kegagalan pelayanan tersebut. Sebab faktor utama adalah pribadi pelayan, kesesuaian pelayan dengan orang-orang atau murid-murid yang dituju serta iklim sosial di lingkungan (misalnya, tidak suka diganggu orang lain).
4. Persekutuan atau Doa dari rumah ke rumah.
Pertemuan atau doa dari rumah ke rumah dapat dilakukan di beberapa lingkungan di dalam kota. Anggota dari kelompok inti ditanya kebutuhan doa, untuk dapat didoakan bersama-sama didalam persekutuan pada malam hari, di rumah A atau B. Kemudian minggu berikutnya berkunjung ke keluarga siswa atau anggota kelompok inti yang mau didoakan.
Nama, alamat dan Nomor telepon harus dicatat, supaya sebelum doa malam ada tim yang mengunjungi keluarga-keluarga tersebut, apa yang mau didoakan.
5. Acara anak-anak.
Acara anak-anak harus dirancang khusus, supaya dapat menjangkau orang tua. Misalnya kebaktian anak-anak selama liburan setiap hari di lingkungan tertentu, atau pada hari terakhir libur sekolah, orang tua diundang. Adakan karnatal, perlombaan musik dan makanan kecil yang menyenangkan. Berilah nama yang menarik dan mengundang banyak perhatian dari siswa dan bagi orang tua murid, misalnya : “PESTA ROHANI ANAK”
Untuk mewujudkan Sekolah Kristen, sekolah negeri sebagai ladang misi yang akhirnya dapat memberi kontribusi bagi pertumbuhan dan perkembangan gereja dan penginjilan maka seluruh aktivitas sekolah, terutama sekolah Kristen harus bernuansa Kristen tanpa mengurangi tujuan dari pendidikan itu sendiri, yaitu mencerdaskan kehidupan Bangsa.
Adapun bentuk-bentuk aktivitas Sekolah Kristen maupun Sekolah Negeri, selain mengajarkan beberapa mata pelajaran yang di tetapkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Dinas Pendidikan dan Perpustakaan), selain mengajarkan Pengajaran Agama Kristen kepada Siswa Kristen di Sekolah Negeri dan semua Sekolah Swasta Kristen, ada beberapa kegiatan yang dapat dilakukan antara lain :
a. Persekutuan Siswa
b. Kebaktian Biston (sebelum dan sesudah Evaluasi atau ujian)
c. Pembinaan Iman Kristen
d. Retreat
e. Seminar
f. Pemahaman Alkitab (P.A)
g. Kunjungan
Sedangkan bagi guru dan karyawan, diadakan Kebaktian setiap Minggu sekali dan diadakan pembinaan (minimal 1 tahun satu kali). Bagi Guru-guru Agama di Sekolah Negeri maupun di Sekolah Swasta non kontensional diadakan pembinaan Guru PAK, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Agama Kristen maupun pelatihan P.I.
Untuk merealisasi hal tersebut diatas diharapkan ada Tim, yang tugas khususnya adalah merencanakan program, melaksanakan, evaluasi serta mengontrol, sampai sejauh mana aktivitas sekolah, terutama sekolah Kristen telah berfungsikan sebagai LADANG MISI secara maksimal, bagi pertumbuhan, perkembangan gereja dan penginjilan.
Dukungan dari Gereja, Yayasan, Lembaga Kristiani dan Missioner, serta kerja sama dengan kepala-kepala Sekolah, Guru dan Karyawan akan sangat membantu keberhasilan pelayanan Siswa terpadu sebagai “tangan” atau “kaki” bagi Tuhan Yesus dan bagi pertumbuhan dan perkembangan GerejaNya.





BAB IV
PELAYAN SISWA DAN PERTUMBUHAN GEREJA

Gereja memang harus terus bertumbuh. Itulah kehendak Tuhan Yesus sendiri : “ Pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapak dan Anak dan Roh Kudus”! Dan pertumbuhan Gereja itu senantiasa memuat dua dimensi dasar. Satu sisi, ia mengerti sebagai perluasan wilayah atau penambahan jumlah pengikut. Sisi lain pertumbuhan di dalam soal semakin intensnya penghayatan Iman. Yang pertama menunjuk aspek kwantitatif, sedangkan yang kedua kepada aspek kwalitatif.
Banyak model dan strategi pertumbuhan telah digelar sepanjang sejarah gereja, namun dalam tulisan ini hanya akan dibahas pola atau model yang cocok dengan pelayanan terhadap siswa atau murid di Sekolah dan ini pun sangat tergantung kepada panggilannya masing-masing, yaitu sebagai guru atau pengajar, pemberita Injil maupun sebagai gembala.
Panggilan bagi setiap orang percaya adalah KOINONIA (Bersekutu), DIAKONIA (Melayani), MARTURIA (Bersaksi). Karena itu seluruh aktivitas Kristiani adalah upaya untuk menempatkan kesempurnaan panggilan tersebut. Bertumpu pada panggilan imaniah dari Tuhan Yesus tersebut, hamba-hamba Tuhan, Guru Agama Kristen, para pelayan Tuhan memandang perlu untuk mewujudkan seluruh aktivitas pelayanan dalam rangka memenuhi panggilan tersebut, yaitu pergi …… dan menjadikan murid-murid Tuhan Yesus (Matius 28:19-20).
Dengan demikian pelayanan (Diakonia) mengajar Siswa harus dilengkapi dengan aktivitas Koinonia (Bersekutu) dan terus-menerus berupaya untuk meningkatkan (Bersaksi) melalui berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh Sekolah, Gereja maupun lembaga-lembaga keagamaan kristen lainnya.
Berangkat dari kesadaran seperti tersebut diatas, dirasa perlu untuk memulai suatu program pelayanan khususnya ditengah-tengah dunia pendidikan, untuk kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus. Melalui program pelayanan Siswa terpadu diharapkan dapat memberi kontribusi bagi pertumbuhan dan perkembangan gereja lokal, dan penginjilan.
Sekolah-sekolah Kristen yang didirikan oleh jemaat (Gereja), serta pelayanan pengajaran Pendidikan Agama Kristen di sekolah-sekolah Negeri di harapkan dapat berfungsi secara maksimal dalam pertumbuhan, perkembangan gereja dan penginjilan, memenangkan jiwa-jiwa baru bagi Kristus dan Gerejanya.

A. Tekad Untuk Bertumbuh
Mengapa setiap gereja harus bertumbuh ?. Dan bagaimana caranya ?. C. Peter Wagner mengatakan : :”Sebagaimana orang yang sehat, maka gereja yang sehat akan memperlihatkan tanda-tanda vital tertentu” 1
Gereja sebagai persekutuan orang-orang percaya adalah organisasi yang sangat penting dalam menjangkau, melayani orang-orang yang sesat bagi Kristus dalam mengembangkan gereja-Nya di muka bumi ini. Gereja dapat bertumbuh bilamana fungsi dan tanggung jawab yang sebenarnya dari Gereja dan setiap hamba Tuhan, guru-guru Agama Kristen serta tanggung jawabnya terhadap siswa di sekolah, terutama dalam pelayanan Pendidikan Agama Kristen dilakukan dengan benar.
Pelayanan kepada Siswa, baik melalui pengajaran Agama Kristen, Persekutuan Siswa, Retreat, Pembinaan Iman Kristen dan sebagainya begitu penting dalam pertumbuhan dan perkembangan Gereja, sebab : Pertama, dengan bertambahnya jumlah penduduk, bertambah pula anak-anak usia sekolah. Dengan demikian akan semakin banyak anak yang belajar di

1. C. Wagner, Gereja Saudara dapat Bertumbuh, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1997
sekolah, yang dapat dijangkau, atau dilayani.
Kedua, kebanyakan anak anggota jemaat, khususnya yang belajar di sekolah Negeri tidak dilayani Pendidikan Agama Kristen dengan baik. Bahkan ada sebagian besar yang selama belajar dibangku sekolah tidak pernah mendapatkan pelajaran Agama Kristen. Ketiga, pada umumnya aggota jemaaat yang kurang mampu menyekolahkan anak-anaknya disekolah Negeri. Demikian juga dengan sebagian besar penduduk menengah kebawah, karena faktor ekonomi menyekolahkan anak-anaknya disekolah negeri. Keempat, hampir pada sekolah ada jiwa-jiwa yang masih ada “dipersimpangan jalan " (belum menentukan pilihan ), sehingga mereka begitu senang mengikuti pelajaran Agama Kristen disekolahnya 40 sampai 50%. Kelima, usaha untuk menjangkau orang-orang yang sesat dengan Injil menuntut pertumbuhan gereja dalam jumlah anggota, kwalitas rohani, perhatian yang mendalam terhadap orang lain (siswa). Semua ini dapat ditingkatkan melalui Pelayanan Siswa terpadu.
Yang terakhir, seperti yang dikatakan oleh Johni Hardori (2000:15), pemuda perlu pembinaan. Lebih lanjut ia mengatakan :
“ Gereja sebagai tubuh Kristus merupakan wadah dari berbagai golongan usia, gereja tidak hanya berpatokan pada satu usia saja, gereja tidak hanya berpatokan pada satu sisi saja, misalnya hanya memperhatikan ibadah umum dan mengabaikan ibadah yang terbagi menurut usia (seperti sekolah minggu, ibadah pemuda, ibadah kaum wanita dan sebagainya). Keberhasilan dari pelayanan gereja bila tiap kegiatan yang ada dapat berkolaburasi dan menghasilkan jemaat yang taat akan Firman Tuhan ” 1

Hal lain oleh karena perhatian gereja terhadap generasi muda, terutama yang masih duduk dibangku sekolah (sebagai siswa) sangat kurang, seperti yang diakatakan oleh Johni Hardori, bahwa pada prakteknya seringkali gereja mengabaikan tugasnya yang terbagi dari beberapa kelompok umur (anak-anak, remaja-pemuda, dewasa). Gereja ini lebih serius mengurusi jemaat umum.

1. Johni Hardori, Mingguan Berita Umum “JJEMAAT”Indonesia, PT. Suara Jemaat Indonesia, No. 88 tahun, 2000
Hlm. 15
B. Prioritas Amanat Agung dalam Pertumbuhan Gereja
Prioritas yang tepat sangatlah penting bagi tiap rencana untuk kemajuan dalam pekerjaan Allah. Banyak gereja yang tidak berkembang , karena mereka bingung menentukan kegiatan gereja itu. Banyak gereja atau orang-orang percaya memberikan waktu, tenaga dan perhatiannya kepada banyak hal yang baik, tetapi seringkali untuk mengutamakan atau memprioritaskan yang penting.
Apakah yang terpenting ? mungkin terlalu berlebihan dan subyektif, apabila yang terpenting itu adalah dengan konsentrasi pada perkembangan gereja, sampai pada pokok Amanat Agung Kristus, yang digarisbesarkan pada Matius 28:19 – 20. Dalam PelayanNya Tuhan Yesus berkata “ Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridku dan batiskanlah mereka dalam nama Bapa, dan anak dan roh kudus, dan ajarkanlah mereka melakukan segala sesuatu yang kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah aku akan menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman.”
Perlu diakui bahwa terhadap Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus tersebut diatas, ada banyak perkara yang baik yang dapat dilakukan gereja atau orang-orang percaya, tetapi penjangkauan orang-orang sesat, pergi mengabarkan Injil keluar harus mendapat prioritas nomor satu, terlebih kepada kaum muda, adalah tunas dan tulang punggung gereja.
Prioritas ini tentunya bukan hanya utnuk satu minggu, satu bulan atau satu tahun, atau sewaktu tertentu yang sudah dijadwalkan, tetapi untuk sepanjang tahun, secara terus menerus, berkesinambungan dan secara terpadu.
Menjangkau orang-orang itu berarti orang percaya harus mempunyai pendirian dan jalan pemikiran yang mapan. Itu berarti bahawa keseluruhan tujuan hidup dan pelayanan orang percaya tersebut haruslah menjangkau orang lain; harus merencanakan dan memperluas tersebut pekerjaan Allah dengan dasar menjangkau orang yang lebih banyak lagi bagi Kristus dan GerejaNya. Harry M. Piland mengatakan :
“ Jika anda menerima falsafah ini, perkembangan menjadi gaya hidup gereja anda. Anda akan menanamkan pada setiap pekerja dan anggota gereja akan kepentingan menjangkau orang. Anda akan membuat kalender gereja, memberi prioritas paling tinggi kepada kegiatan dan proyek yang direncakanan untuk menjangkau orang. Anda akan merencanakan anggaran belanja sesuai dengan keperluan itu. Anda akan mengevaluasi setiap acara gereja sesuai dengan kepentingannya dalam menjangkau lebih banyak jiwa bagi Kristus, menolong anggota gereja berkembang dan berisi pelajaran Alkitab “ 1

Setelah gereja atau orang-orang percaya menentukan prioritas dalam kegiatan gereja, membuat kalender gereja, maka langkah berikutnya adalah mencari dan menerapkan metode-metode dalam pelayanannya, serta mengidentifikasi setiap kendala atau hambatan yang bakal dihadapi oleh gereja demi tercapainya tekad yang bulat untuk bekembang.


C. Pelayanan Siswa Terpadu Sebagai Penopang Pertumbuhan Gereja
Pelayanan terhadap siswa dalam rangka pengembangan gereja dan penginjilan dapat dilakukan secara terpadu, artinya segala bentuk pelayanan pengajaran Agama Kristen, persekutuan siswa, pemahaman Alkitab maupun pelayanan lainnya harus dilakukan secara berkesinambungan dan terus menerus, logis dan berstruktur. Semua bentuk pelayanan, metode maupun bahan utuk materi yang disampaikan disesuaikan dengan tingkat umur dan kebutuhan rohani siswa.











1. Harry M. Piland, Perkembangan Gereja dan Penginjilan Melalui Sekolah Minggu, Lembaga Literatur Baptis, Bandung, 1984, hlm. 15
Mengingat pelayanan siswa bersifat formal dan lebih permanen dibandingkan dengan pelayanan pada persekutuan-persekutuan lainnya, maka semua itu dapat diprogramkan terlebih dahulu. Untuk menumbuhkembangkan gereja dan penginjilan secara luar biasa, pelayanan kepada siswa baik melalui jalur pendidikan formal (pengajaran Agama Kristen), persekutuan siswa, seminar, pembinaan spritual maupun “perkunjungan” perlu ditingkatkan dan dilakukan terus-menerus secara terpadu.
Bagi gereja pelayanan kepada anak (siswa) sangat penting. Alkitab memberi pengajaran bahwa pelayanan spirituil bagi anak sangatlah penting. Umat Allah dalam Perjanjian Lama diperintahkan oleh Tuhan untuk Mendengarkan : “Dengarkanlah agar bersungguh-sungguh mengenal “Syahadat” khusus yang berbunyi : Hai umat Israel, Tuhan itu Allah kita, TUHAN itu Esa, kasihilah TUHAN Allahmu, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan segenap kekuatanmu”. 1
Kitab Asmal juga menegaskan agar mereka yang telah “dewasa” berupaya mendidik orang muda sedemikian rupa, sehingga pada masa tuanya pun ia tidak menyimpang dari pada jalan yang benar (Amsal 22:6). Dengan kata lain, pelayanan kepada anak (siswa) akan membawa hasil yang nyata dalam kehidupan anak. Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketentraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu (Amsal 19:17). Sejalan dengan itu, anak-anak dinasehati agar berpegang kepada pendidikan, karena perkara itu memberikan hidup (Amsal 4:13). Sebaliknya didikan itu harus benar-benar diperhatikan oleh anak-anak supaya kelak mereka menjadi bijak (Amsal 8:33).
Samuel yang didoakan semenjak didalam kandungan, bahkan didoakan jauh sebelum dia ada, (I Samuel 1:27) dididik dengan benar sejak kecil, diserahkan kepada Tuhan



1. Ulangan 6:4 – 9
(I Samuel 1:28) dan terus-menerus diperhatikan pendidikan dan kehidupannya, sekalipun dalam pengawasan Iman Eli, sehingga Samuel yang muda itu semakin besar dan semakin disukai baik diahadapan TUHAN maupun dihadapan manusia. 1
Menurut Tuhan Yesus Sang Guru Agung, anak-anak juga sangat memerlukan perhatian dan pembinaan yang serius atau sungguh-sungguh. Ia menegaskan bahwa Allah disorga sangat mencintai anak-anak seperti yang dikemukanNya didepan murid-muridNya “ Biarkanlah anak-anak itu, jangan menghalang-halangi mereka datang kepada Ku, sebab orang-orang itulah yang empunya Sorga (Matius 19:14)
Kepada jemaat di Efesus, Rasul paulus menegaskan agar orang tua mendidik anak-anak mereka didalam ajaran dan nasehat Tuhan (Efesus 6:4). Orang tua didesak untuk mengembangkan watak dan kepribadian yang sehat dari anak-anaknya (Kolose 3:21). Rasul Yohanes didalam suratnya yang pertama mengatakan, bahwa anak-anakpun merupakan kasih dan rahmat Allah. Dosa mereka diampuni Tuhan Yesus (I Yoh 2:12). Selain itu berharap agar anak-anak dibina orang tuanya untuk hidup didalam kebenaran.
Akhirnya dapat disimpulkan bahwa anak-anak sangatlah berharga dihadapan Allah. Oleh sebab itulah mereka yang telah “dewasa " (orang tua, guru, Guru Agama Kristen dan Pendeta) berkewajiban untuk mendidik anak-anak didalam jalan dan ajaran Tuhan. Didikan itu tidak saja bertujuan supaya anak mempunyai pengetahuan tentang Allah, melainkan juga secara pribadi memiliki hubungan yang indah dengan Yesus Kristus.

D. Bentuk Pelayanan Siswa Terpadu
Bentuk-bentuk pelayanan kepada siswa, dalam rangka melengkapi orang-orang kudus, bagi pekerjaan pelayanan bagi pembangunan Tubuh Kristus, sampai semua telah mencapai

1. I Samuel 2:26
kesatuan iman dan pengetahuan yang benar –benar tentang anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, seperti Rasul Paulus maksudkan dalam Efesus 4:12 – 13 dan dalam rangka pertumbuhan gereja dan penginjilan adalah antara lain sebagai berikut :
1. Pengajaran Pendidikan Agama Kristen
Kerangka Filosofi dalam memahami pengajaran atau Pendidikan Agama Kristen terhadap anak-anak dapat dianalogikan dengan kerangka filosofi Pendidikan atau Pengajaran Umum. Sesuai dengan rumusan GBHN bahwa tujuan Pendidikan Nasional ialah menghasilkan manusia seutuhnya dalam arti manusia yang secara kognitif (aspek intelek), afektif (aspek emosi) dan psikomotor (aspek tingkah laku) telah berkembang secara maksimal. Dalam upaya pencapaian tujuan tersebut, perlu diselenggarakan program pendidikan berjenjang atau bertahap mulai dari TK (Taman Kanak-kanak) sampai P.T. ( Perguruan tinggi) diselenggarakan terus menerus, berkesinambungan dan terpadu.
Pada hakekatnya, pendidikan adalah upaya terencana dalam rangka proses belajar mengajar yang bertujuan untuk menggali serta mengembangkan segala potensi anak didik agar menjadi SDM (Sumber Daya Manusia) berkwalitas. SDM berkwalitas ialah manusia yang berpengetahuan, berkarakter baik atau berbudi luhur dan terampil.1
Senada dengan analogi ini, pendidikan Agama Kristen kepada anak-anak (siswa) dapat dipahami menurut kerangka filosofis diatas, pendidikan Kristen terhadap anak-anak diselenggarakan untuk mencapai tujuan akhir, yang mana tujuan akhir ini merupakan tujuan fundamental dari karya penyelamatan Yesus. Melalui suatu proses pengajaran atau pendidikan Kristen yang terus-menerus, maka seorang anak akan tumbuh
1. Reva Natigor, PENDIDIKAN KRISTEN, Bandar Lampung, 2000, Ceramah
terus hinga menjadi dewasa , bahkan akan menjadi sempurna seperti Allah Bapa (Efesus 4:13; Mat 5:48).
Adapun peranan dari pendidikan Agama Kristen sangat tergantung kepada pendidik atau lazim disebut guru. Reva natigor S, dalam ceramahnya tentang Pendidikan Kristiani, mengatakan :
Guru adalah Determinant (unsur penentu) dalam kegiatan merubah seseorang. Guru bisa mempengaruhi pembaharuan watak, perilaku dan tujuan hidup. Karena itu bisa dimengerti aku TuhanYesus Kristus juga memilih peran guru untuk melaksanakan karya-Nya. Peran guru dalam penyelenggaraan kehidupan, ditengah-tengah jemaat dan masyarakat luas, memang penting dan strategis. Guru adalah Key faktor dalam seluruh aktivitas merubah watak dan pandangan manusia, membaharui sikap dan layanan bagi sesama, dan menopang jemaat serta masyarakat yang menyelenggarakan kehidupan yang manusiawi dan relegius, sebab itu, kita bisa memahami mengapa Allah menetapkan pengajar, bersama nabi dan Rosul, sebagai unsur-unsur yang harus hadir di jemaat dan dalam upaya pengembangan layanan bagi sesama” (I Kor. 12:28). 1

Tentang definisi konkrit atau deskripsi yang jelas mengenai anak atau murid (orang Kristen) yang DEWASA seperti dimaksud diatas, yaitu orang Kristen yang dapat menunjukkan ciri-ciri sebagaimana yang ditulis dalam Alkitab, antara lain : Pertama, memiliki pengetahuan yang benar tentang anak Allah; Kedua, berperang teguh pada kebenaran sehingga tidak diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran (Efesus 4:13-15); Ketiga, memiliki pancaindera yang terlatih dalam membedakan yang baik dan yang jahat (Ibrani 5:14); Keempat, berkwalitas menjadi pengajar (Ibrani 5:12); dan Kelima, melayani orang lain (Markus 10:43-45; Yohanes 13:13-15).
Pengajaran Agama Kristen kepada siswa diharapkan dapat memenangkan jiwa yang hilang dan mengembangkan yang diselamatkan. Melayani Pendidikan Agama Kristen di sekolah, di sekolah negeri maupun sekolah swasta, seperti mencari yang hilang dan


1. Reva Natigor, PENDIDIKAN KRISTEN , Bandar Lampung, 2000, Ceramah.
menyelamatkannya, seperti yang dilakukan Tuhan Yesus : “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Lukas 19:10).
Dalam tiga perumpamaan Tuhan Yesus yang ditulis dalam Injil Lukas 15 menunjukkan bahwa Allah sebagai Bapa yang penuh kasih, mencari mereka yang hilang, Kata-Nya : “Domba yang sesat memerlukan gembala, dirham yang hilang perlu ditemukan, seorang anak memerlukan Bapa, demikian juga orang-orang berdosa memerlukan Allah”. 1
Mengajar Pendidikan Agama Kristen adalah melakukan amanat Tuhan Yesus yang terdapat dalam Injil Matius 28:19-20, yaitu menjadikan murid, membaptis dan mengajar. Yesus berkata : “…… dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu, dan ketahuilah aku menyertai kami senantiasa sampai kepada akhir jaman”.
Tugas Gereja atau orang-orang percaya adalah : menjadikan murid, membaptis dan mengajar seperti yang diamanatkan Tuhan Yesus. Gereja harus bergerak dalam pengajaran Firman Tuhan, dalam pengajaran Pendidikan Agama Kristen.
Tujuan utama Gereja atau Yayasan-yayasan Kristen membangun Sekolah-sekolah adalah menolong anak (siswa) untuk menyadari adanya Allah dalam Yesus Kristus, menerima Dia dengan Iman secara pribadi, menyerahkan diri kepada Yesus. Dengan kata lain menjadikan siswa sebagai murid Yesus, mengenal pimpinan dan kuasa Roh Kudus dan bertumbuh menuju kedewasaan di dalam Kristus.
Perhatikan kata-kata kerja kunci dalam pernyataan di atas, misalnya : Menyadari,





1. Ev. Dr. Tan Giok lie, Pentingnya Pembinaan Jemaat, Buletin Evangelion, Edisi50,tahun 1998
menerima, menyerahkan, menjadikan, mengenal dan bertumbuh. Semua itu berdasarkan pengetahuan Wahyu Alkitabiah. Allah dikenal dalam Yesus Kristus, tetapi sebagian besar orang tidak mengetahui apa-apa tentang Yesus, kecuali yang dicatat dalam Alkitab. Tidak seorang pun dapat menyerahkan dirinya tanpa mengerti kepada siapa orang tersebut harus menyerahkan diri, dan ini pun diilhamkan dalam Alkitab.
Dalam Injil Matius 18:19 – 20, Yesus menegaskan apa yang menjadi tugas gereja orang-orang percaya dunia ini. Yesus memberi mandat agar gereja (orang-orang percaya). Tugas imperaktif ini duwujudkan oleh gereja atau orang-orang percaya dengan melaksanakan “penginjilan”, “pembaptisan” (peneguhan iman) dan “pengajaran”. Ketiganya sama penting dalam rangka pemuridan itu.
Mengajar merupakan Kegiatan Tuhan Yesus yang khas selama pelayanan-Nya di muka bumi. Ia memberitakan Kerajaan Allah, mendorong orang untuk bertobat, dan mengundang mereka untuk dapat kepadaNya melalui Iman. Ia lebih sering mengajar karena itu merupakan sarana atau alat untuk memproklamirkan Injil kerajaan Allah. Pada umumnya Pengajaran Tuhan Yesus bersifat mengembangkan pelayanan murid-muridNya, juga mengandung pengarahan Injil, sebab tujuannya adalah untuk membawa manusia secara pribadi dalam Kerajaan Allah.
Murid-murid Tuhan Yesus yang mula-mula mengetahui teladanNya, yaitu menjadikan pengajaran sebagai alat utama dalam Penginjilan. Salah satu contoh yang paling jelas akan kebenaran ini adalah peristiwa pertobatan Sida-sida dari Etiopia. 1
Untuk mencapai tujuan akhir ini, para pemimpin gereja, ketua-ketua lembaga keagamaan Kristen, guru-guru Agama Kristen, dan guru-guru yang beragama Kristen di


1. Kisah 18:1-8)
sekolah harus menyelenggarakan program pembinaan, pendidikan yang terpadu, terarah dan terencana dalam suatu kesinambungan yang harmonis, mulai tingkat paling dasar bagi anak-anak sampai tingkat lanjutan bagi orang-orang dewasa.
Apa yang terjadi di kereta orang sida-sida dari etiopia itu dapat diuraikan dengan baik sebagai pengajaran yang bersifat penginjilan. Inilah Penginjilan Pribadi. Minat sida-sida itu dirangsang. Ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memahami apa yang ditulis oleh seorang Nabi dalam Perjanjian Lama. Tetapi ia menjadi bingung, ia memerlukan pembimbing untuk menjelaskan arti kebenaran yang sedang diselidikinya (Kisah 8:30-31). Maka Filipus duduk disisinya dalam kereta dan membimbingnya dalam pelajaran Alkitab. Pengajaran itu menghasilkan suatu pengalaman pertobatan yang luar biasa.
Paulus, seorang rasul dan penginjilan teladan, menjalankan tugas penginjilan di Korintus selama satu tahun enam bulan dan ia mengajarkan Firman tuhan di tengah-tengah mereka (Kisah 18;11). Hasilnya, Kripus kepala rumah ibadah itu menjadi percaya kepada Tuhan. Demikian juga seisi rumah Kripus dan banyak dari orang-orang Korintus yang mendengarkan pemberitaan Paulus menjadi percaya dan memberi diri mereka dibaptis.
Pengajaran Agama Kristen di sekolah negeri maupun swasta harus mempunyai tujuan yaitu memenangkan jiwa bagi Kristus. Pengalaman selama sebelas tahun sebagai Guru Agama Kristen pada sekolah-sekolah negeri maupun sekolah swasta, dalam mengajar di kelas maupun dalam kelompok-kelompok kecil, tak pernah meninggalkan tujuan utamanya, yaitu membawa anak atau siswa kepada Kristus dengan tanpa mengabaikan Kurikulum yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Dalam setiap kesempatan, kapan saja dan dimana saja Injil harus diberitakan baik atau tidak baik waktunya. 1
2. Pengajaran Pendidikan Agama kristen dan Penginjilan
Mengapa Pengajaran Agama Kristen merupakan alat yang efektif bagi perkembangan gereja dan penginjilan ?. Pengajaran PAK tidak hanya menjadi alat atau sarana yang sangat efektif bagi penginjilan, tetapi juga mempunyai kontribusi yang cukup besar bagi pertumbuhan dan perkembangan gereja di masa yang akan datang. Di bawah ini dikemukakan beberapa alasan, antara lain sebagai berikut :
Pertama, pengajaran Pendidikan Agama Kristen mempertemukan kehidupan manusia dalam hal ini anak-anak dengan Firman Tuhan atau dengan Tuhan Yesus sendiri, yang adalah Firman Yonahes 1:1, “Pada mulanya adalah Firman dan firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah”. Dalam Injil Yohanes 1:14, dikatakan bahwa : “Firman itu telah menjadi manusia dan diam diantara dan kita telah melihat kemulianNya”
Karena perjumpaannya dengan Yesus, Sang Firman yang hidup, melalui pelajaran Agama Kristen di sekolah, banyak siswa yang pada akhirnya percaya kepada Tuhan Yesus, dan tidak sedikit orang tua yang dahulu menolak Tuhan Yesus secara terang-terangan, akhirnya mengakui dan memberi diri dibaptis. Penulis Ibrani mengatakan “Sebab firman Allah hidup dan kuat, lebih tajam daripada pedang bermata dua manapun; Ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita” 2


1. II Timoitus 4: 2
2. Ibrani 4 : 12
Apabila Firman Tuhan diajarkan dengan setia, penuh tanggung jawab, dan dengan

teladan, Allah akan memakainya untuk mempengaruhi pikiran dan hati orang yang

memerlukan Yesus.

Kedua, Pengajaran Agama Kristen menghasilkan suasana pribadi antar sesama. Pengajaran Agama Kristen yang dilaksanakan di Sekolah dalam satu kelas, secara formal dan tertata rapi, menghasilkan suasana pribadi antara sesama rekan sekelas yang akhirnya dapat membimbing kepada keputusan untuk menerima Kristus.
Mavis L. Anderson, (1993) dalam hubungannya dengan mendidik atau mengajar, mengatakan :
“ Kata mendidik berarti “memimpin atau membimbing pembentukan kebiasaan-kebiasaan yang menuju kepada kecakapan”, pada jalan yang harus ditempuhnya, mempunyai arti yang lebih luas daripada hanya memberikan pengetahuan teori sebanyak-banyaknya ke dalam hati murid-murid yang belum bersedia dengan satu pengharapan bahwa kelak pada akhir perjalanan yang jauh ini, murid akan tiba pada tujuan yang benar. Hal ini berarti membimbing dan melatih kehidupan itu dibawah pemeliharaan Roh Allah, sehingga langkah demi langkah, ia dipimpin kepada saat dimana ia menerima Dia yang adalah “jalan dan kebenaran dan Hidup” (Yohanes 14:6)” 1

Penulis Kitab Perjanjian Baru menyebutkan “KOINONIA” yang berarti persekutuan Kristen yang terbaik. Koinonia itu meliputi keramahan, dan sekali-kali makan bersama. Semua itu memberikan kesan yang lebih mendalam daripada bersekutu saja. Secara harafiah kata itu berarti “kebersamaan”. Anak-anak Tuhan yang terlibat dalam pelajaran agama Kristen dapat saling membagi pengalaman hidup, memperhatikan yang susah, turut senang dengan mereka yang mendapatkan berkat, menguatkan yang putus asa, dan saling mendoakan. Persekutuan semacam ini sering menjadi saluran berkat, anugrah Allah bekerja melalui hati mereka yang belum percaya kepada Tuhan Yesus Kristus secara 1. 1. 1. Mavis L. Anderson, Pola Mengajar Sekolah Minggu, Yayasan Kalam hidup, Bandung, 1993, Hlm. 89,90
pribadi.
Ketiga, Pengajaran Agama Kristen menyediakan struktur logis untuk Penginjilan. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal, di setiap kelas terdiri dari siswa yang umurnya tidak jauh berbeda satu dengan yang lainnya. Oleh sebab itu program pengajaran Agama Kristen tersusun sesuai dengan tingkat umur dan kemampuan siswa. Dalam penyampaian materipun disesuaikan dengan kondisi setempat. Dengan demikian gereja dan sekolah dapat membuat program yang dapat memberikan tugas penginjilan secara logis dan efektif.
Keempat, Pengajaran Agama Kristen mengembangkan tujuan yang paling utama dari semua pelayanan Pengajaran Kristen, yaitu membimbing orang (siswa) kedalam hubungan yang benar dengan Allah, melalui iman kepada Yesus Kristus.
Tujuan Penulis injil yang keempat , yaitu Yohanes, mengatakan : Supaya kami percaya bahwa Yesuslah Messias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam namaNya (Yohanes 20:31).
Memang tak seorangpun dapat menjamin hasil seperti ini. Bahkan Tuhan Yesus sendiri kadang-kadang melihat bahwa maksudNya terhalang (Mark 10:20). Dari sekian banyak atau lamanya Pengajaran Agama Kristen pasti ada semacam pengajaran yang menambah kemungkinan, bahwa siswa atau orang-orang percaya yang sesat atau hilang akan ditemukan dan diselamatkan. Dan orang-orang atau siswa yang sudah diselamatkan oleh karena percaya kepada Tuhan Yesus (Yoh 3:16), akan bertumbuh sebagai hasil dari pengalamannya ketika mengikuti Pelajaran Agama Kristen, menuju kedewasaan Kristus dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Dalam hal ini Mavis L.

Anderson (1993), menegaskan “perjalanan itu baru dimulai dan pendidikan harus dilanjutkan untuk membimbing murid-murid kepada kepenuhan di dalam Kristus”. 1
Untuk melengkapi tujuan Pengajaran Agama Kristen dan Penginjilan di sekolah, yang merupakan usaha “Pemuridan” dan sekaligus “Penginjilan”, obyek Pendidikan Agama Kristen disekolah sebagaimana ditulis oleh Dr. E.G Homringhausen dan Dr. I.H Enklaar, di bawah ini akan menambah wacana dalam memahami tujuan Pengajaran Agama Kristen di sekolah tersebut, yaitu : 2
1. Pendidikan Agama Kristen menjadikan murid-murid menghargai dirinya sendiri.
2. Pengajaran Agama Kristen membuat mereka menjadi warga negara yang bertanggung jawab.
3. Melalui Pengajaran Agama Kristen, diharapkan mereka dapat belajar menghargai dunia ini.
4. Pengajaran Agama Kristen supaya mereka dapat membedakan nilai-nilai yang baik dan yang jahat.
5. Pengajaran Agama Kristen supaya mereka dapat menghubungkan pengalaman-pengalaman mereka sendiri dengan filsafat hidup Kristen.
6. Supaya mereka dapat menjadi orang yang dapat dipercaya.
7. Supaya mereka belajar bekerja sama dan tolong menolong.
8. Supaya mereka selalu mengajar kebenaran.
9. Supaya mereka bersikap positif terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekelilingnya, dan terhadap perkembangan-perkembangan sejarah umum.
10. Dengan pelajaran Agama Kristen, supaya mereka suka turut merayakan hari-hari raya Kristen dalam persekutuan Kristen.

Ada beberapa sifat yang ditunjukkan dalam pengajaran Agama Kristen, sehingga sangat efektif dalam mencapai tujuan akhir dari Pendidikan atau Pengajaran Kristen, seperti yang dikemukakan oleh Harry M. Piland, yaitu : 3
Pertama, pengajaran yang “dijelmakan”. Dijelmakan adalah istilah theologia abstrak, tetapi istilah itu mengatakan apa yang perlu dikatakan mengenai pengajaran Alkitab atau Pengajaran Agama kristen. Arti sebenarnya adalah bahwa firman itu menjadi

1. Mavis L. Anderson, Pola mengajar Sekolah Minggu, Yayasan kalam hidup, Bandung, 1993, Hlm. 90
2. Dr.E.G Homrighausen, Dr.I.H Enklaar, Pendidikan Agama Kristen, BPK Gunung Mulia, Jakarta, Hlm. 48,49
3. Harry M. Piland, Perkembangan Gereja dan Penginjilan Melalui Sekolah Minggu, LLB, Bandung 1984, Hlm. 164

daging dalam kehidupan guru-guru Agama Kristen dan dalam kehidupan anggota-anggota dalam kelas.
Kedua, mengajar dengan teladan. Sebagai guru Agung, sebagian besar apa yang diajarkan kepada murid-muridNya, diajarkan-Nya melalui contoh atau teladan. Ia merupakan teladan yang hidup mengenai apa yang ia inginkan agar dipelajari pengikutNya. Satu contoh, ketika Tuhan Yesus mengajar mengenai kepemimpinan, Ia mulai pelayananNya dengan mempersiapkan sebuah kain, seember air dan kemudian mencuci kaki murid-murid yang memanggilNya “Guru”. Dengan kata lain di dalam Yesus mengajar, Ia selalu memberi contoh atau teladan terlebih dahulu.
Dalam Kitab Ulangan 6:1-9, adalah suatu keharusan mengajar dengan disertai teladan atau contoh.1 Pengajarannya harus “dipraktekan” dalam kehidupan konkret, yang dapat dilihat, “dibaca’ dan ditiru atau dicontoh. “Haruslah engkau juga mengikatkannya sebagai tanda pada TANGANMU dan haruslah itu menjadi lambang DIDAHIMU, dan haruslah engkau menuliskannya pada TIANG PINTU RUMAHMU dan pada PINTU GERBANGMU (ulangan 6:8-10).
Perhatikan empat kata kunci dalam Pengajaran Kristen. Semua menunjuk kepada realitas, kenyataan yang dapat dilihat dan dirasakan yang harus diajarkan atau disampaikan kepada orang lain. Dalam Pengajaran, teladan lebih berharga dari sekedar perkataan.
Ketiga, pengajaran yang berpusat pada kehidupan. Dalam hal ini Iris V. Cully, (1995) mengemukakan :
“Metode-metode pengajaran kristen harus berpusat pada kehidupan. Istilah “berpusat pada kehidupan” sama halnya dengan “berpusat pada pengalaman”. Pengalaman


1. Yuliana, Alam Semesta dan Sejarah, Buletin Evangelion, Edisi 50, tahun 1998
masa kini. Hasilnya adalah suatu minat yang kuat tentang saat ini dan rencana-rencana yang jelas bagi masa depan, namun hanya memiliki pandangan yang terpecah-pecah mengenai masa lampau. Kini pandangan “pandangan berpusat pada kehidupan” memperoleh makna yang lebih dalam melalui pemahaman-pemahaman para ahli dan filsafat teologi eksistensialis. Eksistensi-lah, dan bukan keberadaan yang abstrak, yang dianggap penting. Eksistensi terdiri dari suatu totalitas, bukan dari dalam keberadaannya sendiri, melainkan dari hubungan dengan orang lain, benda-benda” 1


E. Persekutuan Siswa
Mengacu teori perkembangan iman anak-anak yang dikembangkan oleh James Flower, Jhon Westerhoff, dan Bruce power, dalam buku Pedoman lengkap untuk pelayanan kaum muda, bahwa siswa SLTP dan SMU-SMUK ada pada posisi pertama sampai ketiga, yaitu pada umumnya masih berfikir konkrit, dan egoisentris dalam pergaulan mereka. Sedangkan sedikit lebih dari itu, yaitu pada saat memasuki kelas III SLTP sampai dengan kelas II SMU mereka telah banyak dipengaruhi oleh pandangan-pandangan orang lain, guru dan teman-teman sebaya. Bahkan hubungan dengan teman sebaya menjadi semakin penting. Yang sangat menarik pada posisi ini adalah pandangan baru tentang kepercayaan diri yang muncul, sehingga mempengaruhi hubungan mereka dengan Allah. Allah bagi mereka sekarang dianggap sebagai sahabat yang ingin bekerja sama. 2
Adapun dalam posisi ketiga, yaitu ketika siswa sudah kelas II dan III SMU, pandangan mereka terhadap Alah sudah semakin besar dan benar, yaitu pada umumnya mereka memandang Allah sebagai sumber penilaian dan prinsip. Perhatian terhadap orang lain semakin besar, dan disertai minat untuk memenuhi potensi-potensi kehidupan. Pada posisi ini sifat kasih yang muncul dan dikembangkannya lebih responsif terhadap Allah daripada dalam posisi sebelumnya.
1. Iris V. Cully, Dinamika Pendidikan Kristen, BPK Gunung Mulia, Jakarta 1995, Hlm. 109
2. Fowler, John Westerhoff, dan Bruce Power, buku Pedoman lengkap untuk kaum Muda, yayasan Kalam Hidup,
Bandung , 1999, Hlm. 56-60
Mengacu Teori perkembangan Iman siswa SLTP dan SMU yang diatas, maka bentuk pelayanan positif bagi siswa tersebut, dalam rangka pertumbuhan, perkembangan gereja dan penginjilan adalah PERSEKUTUAN SISWA. Baik persekutuan siswa yang diadakan oleh sekolah di sekolah secara rutin, maupun yang diadakan oleh sekolah dilaksanakan di rumah-rumah siswa, yang dilaksanakan oleh gereja, Pelayan kaum Muda, di sekolah maupun di gereja.
Untuk menyikapi terhadap teori perkembangan Iman bagi Siswa SLTP dan SMU, maka persekutuan siswa harus diisi dengan acara-acara yang menarik, dalam rangka pembentukan Iman berdasarkan Firman Tuhan, misalnya : rekreasi, diskusi, pemecahan masalah, pemahaman Alkitab, bahkan sekali waktu makan bersama. Sekali-kali persekutuan-persekutuan siswa yang telah ada dapat digabungkan menjadi satu dengan acara yang khas atau khusus, misalnya haiking, atau kemping (kemah bersama). Semua anggota dari setiap persekutuan diundang dalam “Pesta Rohani” kawula muda.
Penulis Kitab Perjanjian Baru menyebut “KOINONIA” yang berarti persekutuan Kristen yang terbaik, Koinonia ini meliputi keramahan dan sekali-kali makan bersama. Semua itu memberikan kesan yang lebih mendalam daripada bersekutu saja. Secara harafiah kata itu berarti “kebersamaan”.
Gereja sangat yakin, bahwa apabila acara dalam setiap persekutuan itu menarik, sesuai dengan “darah muda” yang mengalir dalam masa muda, dan selalu mengindahkan prinsip-prinsip kekristenan dalam menangani atau menanggapi segala bentuk masalah yang dihadapi kaum muda. Maka persekutuan siswa ini akan menjadi wadah atau alat untuk memenangkan jiwa bagi kristus dan gerejaNya. Sebab siswa SLTP dan SMU-SMUK yang dalam posisi pertama sampai dengan ketiga, mempunyai kelebihan-kelebihan, yang tidak pernah didapati pada manusia pada umumnya di dunia ini, selain kepada yang masih tergolong siswa (SLTP dan SMU-SMU).
Beberapa hal yang mereka memiliki dan harus dikembangkan dalam atau melalui persekutuan adalah sebagai berikut : 1

KELAS PADA POSISI RESPON / TANGGAPAN TERHADAP SECARA UMUM
ALLAH SESAMA
1-3 SLTP


3 SLTP – 2 SMU



2-3 SMU I

II




III
Allah jauh, tidak memperdulikan mereka

Allah adalah sahabat yang ingin bekerja sama


Allah sumber Penilaian dan Prinsip Penerimaan dari sesama menjadi kebanggaan

Pandangan orang lain sangat menentukan
Teman adalah segala-galanya

Perhatian terhadap sesama besar
Kasih kepada teman telah konkrit
* Berfikir konkrit
* Egosentris

* Labil




* Sudah Stabil dan telah matang dalam mengambil keputusan

F. Kelompok Sel
Sebagai awal dari pembahasan tentang Kelompok Sel di sekolah dalam rangka pertumbuhan, perkembangan gereja dan penginjilan, satu hal yang harus dijawab terlebih dahulu adalah : “Mengapa kelompok sel ?”.
Siswa atau murid-murid di sekolah bukan hanya membutuhkan interaksi sosial, psykologis, intelektual, namun juga interaksi spiritual. Persekutuan yang produktif dan dinamis terealisasi secara maksimal dalam jumlah anggota dalam satu kelompok tidak terlalu banyak. David L. Baker, Batara Sihombing dkk (1993), menyinggung tentang jumlah kelompok P.A, atau kelompok sel sebagai berikut :
1. Warren S. Benson, Mark H. Senter III, Pedoman lengkap Untuk Pelayanan kaum Muda, Yayasan Kalam Hidup, bandung 1999, Hlm. 56,57
“Sebaiknya jumlah peserta kelompok P.A tidak terlalu banyak, supaya setiap peserta mendapat kesempatan untuk berpartisipasi. Apabila jumlah peserta lebih dari 10 orang, kami mengusulkan agar PEMBUKAAN dan PENUTUP diadakan acara bersama dan kelompok dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil, masing-masing terdiri dari 5-7 orang, untuk acara diskusi (Pemahaman dan Penerapan)” 1

Dalam pembahasan pada bab II, disinggung sedikit tentang pembentukan kelompok, namun bukan kelompok inti atau lebih jelas kelompok sel.
Di tinjau dari sisi sosial, dinamika kelompok dalam suatu organisasi, terlebih dalam organisasi religius, kelompok sel adalah semakin besar jumlah organisme orang percaya dalam sebuah komonitas (lembaga, sekolah), maka semakin terbatas pula interaksi, dan ikatan sosial, saling mengenal, saling mendoakan, apalagi pengenalan mendalam.
Interaksi yang baik memungkinkan satu sama lain saling mengenal. Dan dalam pertumbuhan rohani pun hanya tercipta bila relasi antara pribadi didasarkan kesamaan dan kebersamaan sebagai anggota tubuh Kristus yang saling mendukung dan mendoakan.
Bagi guru-guru Agama, pelayan pemuda dan pelayan kelompok sel lebih memiliki nilai strategis, pelayanan, pembinaan, konseling dan perhatian terhadap anggota persekutuan kecil daripada kelompok besar. Melayani kelompok kecil akan lebih mendalam, sebab semua itu dilakukan oleh pelayan sel yang juga menjadi Guru Agama.
Kelompok sel membuka peluang keleluasaan dinamika pertumbuhan, baik kuantitatif maupun kwalitatif. Contoh Gereja Bethel Betany di Indonesia dan Gereja-gereja di Korea yang menunjukkan tingkat pertumbuhan yang begitu pesat, karena mempraktekkan kelompok sel.2 Oleh sebab itu persekutuan atau kelompok sel harus dipahami dari dua sisi penting, sebagai metode strategis, dan sebagai prinsip pertumbuhan gereja dan Penginjilan. Sebagai strategis, memang kelompok kecil menumbuhkan kasih dan kepedulian yang lebih
1. David L. Baker, batara Sihombing dkk, Menjadi Saksi Kristus, Persekutuan Pembaca Alkitab, Jakarta 1993
Hlm. 8
2. Majalah Bulanan, ESOK, Yayasan Doulos, Bandung, disi XXIV, Maret 1999 Hlm. 16
mendalam antar sesama anggota kelompok. Sesama anggota saling mengenal, juga “gembala” dapat lebih mengenal domba gembalanya. Dengan demikian baik Gembala maupun domba gembalanya saling mendoakan dan tolong menolong.
Dalam menggembalakan jemaat-Nya, Paul Yonggi Cho menerapkan prinsip gereja sel. Lebih lanjut ia mengatakan :
“Dan karena jumlah anggotanya sedikit untuk setiap kelompok, maka mudah bagi mereka untuk saling membantu dalam kehidupan dan pelayanannya. Karena jumlahnya sedikit jemaat termotivasi untuk maju dan berdoa untuk perkembangan jemaat. Kalau jumlahnya semakin besar, kelompok itu dibagi dalam kelompok yang lebih kecil sebagaimana sebelumnya”

Dalam kurun waktu 25-30 tahun kemudian pelayanan Yonggi Cho mengalami pertumbuhan yang fantastik. 1
Jika hal ini terjadi dalam setiap Sekolah, terutama Sekolah Kristen, maka niscaya akan terjadi pelipat gandaan orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus dan gereja Tuhan tentu berkembang dengan pesat. Tuhan Yesus dipermuliakan.

G. Pembinaan Iman Kristen
Panggilan bagi setiap orang percaya adalah Koinonia (bersekutu), DIAKONIA (Melayani) dan MATURIA (Bersaksi). Oleh sebab itu segala aktifitas Kristiani adalah upaya untuk menempatkan pemenuhan panggilan tersebut. Bertumpu pada panggilan imaniah dari Tuhan Yesus tersebut, gereja maupun sekolah-sekolah misi dapat memfungsikan secara maksimal keberadaannya di tengah-tengah dunia ini, yaitu supaya mereka semua mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Oleh sebab itu pembinaan adalah salah satu cara yang efektif untuk pertumbuhan iman Kristiani. Pembinaan Iman Kristen dapat

1. Majalah Bulanan ESOK, Yayasan Doulos, Bandung, Edisi XXIV, Maret 1999, Hlm. 17
dilakukan melalui : Seminar, Bible Camp (kemah), Pesta Rohani, P.A, Ceramah-ceramah keagamaan dan pemutaran film rohani. Pembinaan Iman Kristen dapat dilakukan 1 tahun sekali pada saat libur sekolah.

H. Kunjungan
Bentuk pelayanan yang satu ini mungkin yang paling jarang dilakukan oleh siapa saja, termasuk orang-orang percaya, hamba Tuhan dan guru-guru pendidikan agama Kristen. Mengapa ?. Disamping pelayanan ini membutuhkan persiapan yang matang, khususnya mengenai materi atau bahan yang akan dibicarakan, juga butuh telanta (kemampuan) khusus, dan waktu yang panjang.
Singkatnya tidak semua orang-orang percaya, dan hamba Tuhan yang bisa melakukan tugas pelayanan ini dengan baik, efektif dan menjadi berkat bagi yang dikunjungi. Padahal jika ditinjau dari segi efektifitas, kunjunganlah yang paling efektif, efisien dan “sempurna” dari pelayanan-pelayanan yang lainnya. 1
Peribahasa yang sangat kental dengan efektifitas dan efisiensi suatu usaha, termasuk dalam kegiatan kunjungan adalah : “Sambil menyelam minum air”, dan “sekali mendayung satu, dua pulau terlampaui”
Menyikapi begitu pentingnya kunjungan terutama dalam “Penggembalaan”, pembinaan dan dalam pertumbuhan, perkembangan gereja dan penginjilan, maka Harry M. Piland, mengatakan :
“Kunjungan merupakan satu-satunya kegiatan yang akan menopang perkembangan Sekolah Minggu maupun gereja. Tak ada hal lain yang dapat menggantikan kunjungan itu. Tak ada hal lain yang lebih penting. Gereja yang sungguh ingin berkembang harus betul-betul memperhatikan kunjungan” 2

1. Efesus 4:12-13
2. Harry M. Piland, Perkembangan Gereja dan Penginjilan Melalui Sekolah Minggu, LLB, Bandung, 1984,
Hlm.130,131.
Dari apa yang dikatakan oleh Harry M. Piland maupun makna dari peribahasa di atas dapat ditarik kesimpulan, yaitu bahwa kunjungan akan menghasilkan dua, bahkan tiga kali lipat dari pelayanan lainnya, karena dalam kunjungan sekalipun yang menjadi sasaran atau prioritas adalah anak atau siswa, namun tidak menutup kemungkinan adalah adik, kakak dan bahkan kedua orang tuanya ikut dalam suasana kekristenan. Disitu Firman Tuhan, kesaksian disampaikan atau diberitakan.
Beberapa ayat Alkitab di bawah ini menjadi dasar mengapa berkunjung atau melakukan suatu kunjungan, yaitu antara lain :
a. Yohanes 15:16 : Kunjungan akan menghasilkan buah yang tetap.
b. Lukas 14:23 : Kunjungan adalah merupakan rencana semula untuk menjangkau
orang.

c. Matius 28:19 : Kunjungan adalah prinsip dasar dari Amanat Agung.
d. Markus 16:15 : Kunjungan adalah cara dasar dalam penginjilan.
e. Matius 25:35-36 : Kunjungan merupakan bukti kehidupan Kristen yang sejati.
Oleh sebab itu Harry M. Piland mengemukakan beberapa langkah penting dalam kunjungan, yaitu : menentukan hari yang paling baik, waktu yang paling berhasil, dan tempat yang paling cocok.
Sebelum melakukan kunjungan, ia memberi beberapa tahapan-tahapan, yaitu :
a. Mengatur suatu Tim Kunjungan yang efektif.
b. Menyediakan latihan kunjungan yang khusus.
c. Memusatkan perhatian kepada calon.
d. Mengadakan segala macam kunjungan.
e. Merangsang motivasi para pengunjung.
Tujuan dari semua kegiatan kunjungan adalah memberitakan Injil Kristus kepada Siswa, orang tua dan kepada anggota keluarga (kakak dan adik) dalam keluarga tersebut. Ada beberapa hal yang perlu diingat oleh hamba Tuhan, guru Agama dan gereja pada umumnya, bahwa kunjungan adalah alat penghubung yang terbaik antara gereja dengan orang yang belum percaya, belum diselamatkan.

I. Dampak Pelayanan Siswa Terpadu
Melalui Pelayanan Siswa terpadu yang dilakukan oleh gereja, lembaga-lembaga Kristiani, Guru-guru Agama Kristen, Guru Kristen di Sekolah Negeri, Sekolah Swasta Kristen maupun Swasta non Konvensional (Sekolah Swasta yang didirikan tidak berdasarkan salah satu agama), diharapkan memberi kontribusi terhadap pertumbuhan dan perkembangan gereja, serta adanya perubahan di segala aspek kehidupan anak-anak Tuhan, khususnya bagi siswa itu sendiri.
Pertumbuhan dan perkembangan gereja yang diharapkan adalah bukan hanya dalam hal jumlah, tetapi juga mutu kehidupan anak-anak Tuhan, yang terus menerus mengalami perubahan. Perubahan dalam kehidupan sehari-hari dalam persekutuan, kesaksian maupun dalam pelayanan di tengah-tengah masyarakat.
Dampak positif dari pelayanan siswa terpadu yang diharapkan tersebut akan dibahas berikut ini :
1. Perubahan Sikap Hidup
Melalui pelayanan yang terus menerus, berkesinambungan, secara terpadu diharapkan adanya perubahan perilaku siswa itu sendiri. Adapun perubahan perilaku yang diharapkan yaitu tata cara kehidupan yang lama kepada cara kehidupan yang baru. Sebagaimana Rasul Paulus maksud, “Siapa yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu yang baru telah terbit” (2 Kor 5:17).
Perubahan-perubahan yang diharapkan yaitu seperti kebiasaan membolos sekolah, bermain tidak mengenal waktu, merokok, berkelahi, berubah atau diganti dengan kegiatan-kegiatan yang positif, yang membangun dan berguna untuk masa depannya.
Para guru diharapkan dapat membimbing dan mendorong siswa mereka supaya lebih bertanggung jawab dalam menggunakan waktu, lebih giat belajar dan jangan sampai melalaikan ibadah setiap hari Minggu.
Dengan adanya pelayanan terhadap siswa secara terpadu, penginjilan di sekolah tersebut diharapkan siswa dapat menambah pengetahuan lebih dalam tentang Firman Tuhan. Dengan demikian para siswa dapat di bina, dimuridkan sehingga menjadi seorang aktifis dan bahkan penginjil di lingkungan sekolah, gereja dan lingkungan masyarakat.
2. Peningkatan Jumlah Pelayan Pemuda
Pelayanan siswa terpadu diharapkan bukan hanya memberitakan, mengajar pendidikan Agama Kristen dan memberitakan Injil Yesus Kristus saja, tetapi juga dapat membantu mempersiapkan dan melengkapi mereka dalam melayani Tuhan di gerejanya masing-masing.
Dampak positif pelayanan siswa terpadu yang secara dilakukan oleh guru-guru agama Kristen diharapkan dapat meningkatkan jumlah para pemuda yang membantu pelayan gereja.
Walaupun siswa yang belajar di Sekolah Negeri maupun Swasta sebagian besar telah menjadi orang Kristen sejak kecil, bahkan sejak lahir, namun kebiasaan lama mereka seperti, malas pergi ke gereja setiap hari Minggu, malas ikut persekutuan remaja atau pemuda, malas ikut ambil bagian dalam pelayanan gereja dan membantu kegiatan-kegiatan gereja lainnya.
Di sinilah peran para Guru Agama Kristen untuk memberi bimbingan saran dan penyuluhan serta mengarahkan mereka kepada hal-hal yang bersifat positif. (Les Christe, 1990:137) berkata :
“Sasaran terakhir dari pelayanan kaum muda ialah menuntun pemuda dan pemudi menuju kedewasaan dalam Kristus, menyiapkan, memuridkan, melatih mereka untuk melayani Allah. Salah satu metode yang paling efektif dalam mencapai sasaran itu ialah memberi tanggung jawab yang nyata adalah tugas –tugas yang mengembangkan mereka secara fisik, sosial, mental dan yang terpenting secara rohani, sehingga mereka akan memiliki cita-cita dan melihat visi tentang apa yang dapat dilakukan Allah melalui kehidupan mereka” 1

3. Membuka Ladang Penginjilan
Melalui Pelayanan Siswa secara terpadu berarti terbukalah kesempatan untuk memulai penginjilan pada kelompok-kelompok belajar yang sesuai dengan tingkat umur dan pendidikan mereka, seperti kelompok P.A tingkat SMU, tingkat SLTP dan tingkat SD, dengan jadwal yang berbeda-beda pada sore atau malam hari. Jam persekutuan kelompok P.A ini perlu disesuaikan supaya tidak mengganggu dalam mereka belajar dan membantu orang tuanya bekerja.
Melalui kelompok belajar, kelompok P.A tersebut salah satu cara pendekatan yang sangat baik untuk menjalin persahabatan dengan mereka. Setelah persahabatan terjalin dengan baik, maka langkah berikutnya yang pasti dengan “jurus mautnya” yaitu memperkenalkan Injil Kristus kepada mereka. Melalui kelompok belajar, yang akhirnya menjadi kelompok P.A ini, salah satu cara untuk menarik jiwa-jiwa baru datang kepada Kristus.

1. Warren S. Benson, dan Mark H. senter III, Pedoman Lengkap untuk Pelayanan kaum Muda, Jilid I Yayasan kalam Hidup, Bandung, 1999, Hlm 243
Fridolin Ukur dalam “Makalah Pertumbuhan Gereja” tentang pendidikan kepada jemaat mengatakan :
“Yang paling umum dilakukan adalah usaha di bidang pendidikan sesuai dengan pandangan misiologis zaman itu, maka pendidikan dilihat sebagai alat pemberitaan Injil, yang kadang-kadang dikiaskan sebagai bajak yang membongkar tanah keras sebelum ditanam. Dapat dikatakan bahwa semua lembaga pemberitaan Injil yang bekerja di Indonesia memberikan tempat utama bagi pendidikan, yang dilaksanakan melalui sekolah-sekolah Kristen” 1

4. Pertumbuhan Gereja
Dampak positif dari pelayanan Siswa terpadu yang dilakukan oleh gereja, guru-guru agama Kristen dan Guru Kristen baik di sekolah negeri maupun di sekolah swasta yaitu adanya pertumbuhan gereja. Pertumbuhan gereja yang diharapkan dari pelayanan terhadap Siswa secara terpadu tersebut, yaitu pertumbuhan gereja secara kuantitas atau jumlah maupun pertumbuhan secara kwalitas atau mutu.
Pertumbuhan secara jumlah dari jiwa-jiwa yang baru bertobat. Dengan adanya jiwa-jiwa yang baru bertobat tersebut menyebabkan jumlah orang percaya kepada Tuhan Yesus di g.ereja-gereja lokal tersebut terus bertambah. Pertambahan secara jumlah ini perlu terus dipertahankan dan ditinggalkan. Untuk mempertahankan pertumbuhan jumlah agar tetap stabil perlu adanya pembinaan yang terus menerus.
Supaya dalam suatu gereja ada pertumbuhan jumlah orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, Pemimpin gereja harus bekerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan, Guru-guru Agama Kristen, menggerakkan jemaat untuk mengadakan penginjilan dan minta Roh Kudus untuk melembutkan dan membuka hati orang-orang yang akan diInjili.
Sedangkan pertumbuhan secara kwalitas atau mutu merupakan suatu hal yang terutama dalam kehidupan orang Kristen atau Gereja. Dalam kehidupan bergereja, bukan
1. Fridolin Ukur, Buku makalah Seminar Pertumbuhan Gereja (Jakarta Panitia Seminar Pertumbuhan Gereja. 1989), Hlm. 8
hanya mengutamakan jumlah jemaat saja tetapi yang lebih utama yaitu iman percaya jemaat bertumbuh kepada Kristus. Jemaat mempunyai hubungan yang sangat baik dan harmonis dengan Tuhan yang di sorga.
Menyinggung mengenai pertumbuhan gereja khususnya secara kwalitas atau mutu, Peter Wagner (1996 Hal. 102) mengatakan, bahwa : “yang dimaksud adalah peningkatan kualitas suatu gereja. Orang Kristen dapat bertumbuh dalam penyembahan, pemahaman Firman Allah, kasih terhadap satu sama lain, buah roh, kehidupan doa dan dalam hal-hal lainnya”. 1
Pertumbuhan secara kuantitas atau mutu juga seperti yang dimaksud oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus, yaitu :
“sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman, dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka menyesatkan”. 2

J. Hambatan Pelayanan Siswa Terpadu
Hambatan, tidak seorangpun yang tidak pernah mengalaminya, hambatan harus diidentifikasikan dan dicari jalan keluarnya. Demikian juga usaha gereja atau orang-orang percaya dalam melayani siswa, remaja, pemuda, khususnya dalam memenangkan mereka bagi kristus dan gereja-Nya.
Berbicara tentang hambatan-hambatan yang dihadapi oleh orang-orang percaya, hamba Tuhan dan guru-guru agama dalam melayani siswa disekolah negeri maupun swasta, tidak lepas dari peranan gereja, atau orang-orang percaya, hamba tuhan, guru-guru agama Kristen maupun lembaga pendidikan dan lembaga agama lainnya. Sehingga dapat
1. C. Peter Wagner, Strategi Perkembangan Gereja, malang, Yayasan Gandum Mas, 1996 Hlm. 102
2. Efesus 4:12-13.
diidentifikasikan menjadi dua sumber, yaitu hambatan yang datang dari dalam, yaitu Gereja, hamba Tuhan, termasuk dari pimpinan Lembaga Pendidikan Kristen, dan hambatan dari luar yaitu dari kebijakan pemerintah dalam hal ini Kepala Sekolah, Dinas Pendidikan maupun Kanwil Departemen Agama, serta dari siswa itu sendiri.
Hambatan pelayanan siswa terpadu, dalam rangka pertumbuhan, perkembangan gereja dan penginjilan akan dibahas berikut ini :
1. Hambatan Dari dalam
Hambatan-hambatan yang dihadapi gereja atau orang-orang percaya, guru-guru Agama Kristen pelayanan terhadap siswa secara terpadu, khususnya yang muncul dari dalam, yaitu antara lain kurang terbebannya gereja, ketua-ketua lembaga Keagamaan Kristen, Kepala Sekolah, Guru-guru yang bergama Kristen dan siswa Kristen sendiri.
Kurang adanya suatu beban atau tanggung jawab moral spiritual terhadap siswa (kaum remaja – pemuda ), baik siswa yang telah percaya terhadap Tuhan Yesus maupun kepada siswa yang belum percaya kepada Tuhan Yesus antara lain dengan sengaja atau tidak sengaja menghambat, mengagalkan atau tidak merespon terhadap program-program Guru Agama, maupun siswa Kristen pada sekolah tersebut yang sarat dengan upaya untuk pembinaan Iman Kristen dan usaha untuk menenangkan jiwa baru bagi Kristus dan Gerejanya.
Hal-hal yang demikian kadang-kadang justru muncul dari Guru Kristen. Kepala Sekolah dan bahkan Pimpinan Yayasan itu sendiri. Bahkan hambatan terbesar justru datang dari sesama rekan mengajar (atau Guru) dalam satu lembaga atau organisasi tersebut. Sehingga dapat dikatakan :“ Ada Api, tentu ada yang menyalakannya “, dan pasti ada asap yang ditimbulkannya, demikian dengan terhambatnya pelayanan terhadap siswa, yang berakibat tidak berfungsinya gereja, sekolah dan guru Agama Kristen secara maksimal, sehingga tidak atau kurang memberi kontribusi terhadap pertumbuhan, perkembangan gereja dan penginjilan.
Satu hambatan dari dalam yang terbesar dan pengaruhnya cukup signifikan adalah visi dan misi yang tidak jelas. Disinilah pentingnya suatu visi, dan misi yang pada akhirnya akan mempengaruhi seluruh aktifitas pelayanan.
Apakah visi dan misi ? Alkitab King James version dari Amsal 29:18 mengatakan :
“Dimana tidak ada visi, orang-orang binasa”. Sedangkan Alkitab terjemahan New International Version agak berbeda dalam artikan visi, namun dampaknya sama-sama penuh kuasa. Tentang visi dikatakan demikian : “ dimana tidak ada wahyu orang-orang tidak bertahan“. 1
George Barna, (1992) dalam bukunya : The Power Of Vision, kekuatan sebuah visi, memberi definisi sebagai berikut :
“ Visi Pelayanan adalah suatu gambaran mental yang jelas menganai masa depan yang lebih baik yang ditanamkan oleh Allah kepada hamba pilihannya dan didasarkan kepada pemahaman yang akurat tentang Allah, diri sendiri dan situasi yang ada “. visi pelayanan adalah suatu refleksi dari apa yang ingin dikerjakan oleh Allah melalui anda dalam membangun Kerajaannya “ 2

Sedangkan arti kata “Misi” berasal dari kata “Mision” dalam Bahasa Yunani atau “Mision” dalam Bahasa Inggris, yang berarti “ Utusan ”. Peter Wagner (1996) mengatakan : kata Missionaris berasal dari sebuah akar kata bahasa Latin yang berarti “ MENGUTUS” 3 Mengutus adalah suatu perintah Tuhan Yesus yang dikenal dengan amanat Agung Tuhan Yesus Kepada murid-muridnya, yaitu : “ Setiap gereja, orang-orang


1. George Barna, The Power Of Vision, Kekuatan Sebuah Visi, Yayasan Media Buana Indonesia Metanoin
Publishing, Jakarta, 1992, Hlm. 9,10
2. Ibid.
3 Peter Wagner, DI atas Puncak Gelombang, Varvest Publication House, 1996 Hl. 121
percaya” harus mempunyai tugas dan kewajiban, melaksanakan misi penginjilan dalam dunia ini.
Orang-orang percaya, hamba Tuhan dan Guru Agama sebagian besar tidak atau kurang memiliki visi Kristen seperti dikatakan oleh George Barna : “ hanya sedikit yang memiliki visi Kristen “ 1
Oleh karena visi yang kurang jelas bagi guru, Kepala Sekolah maupun pimpinan yayasan, maka kadang rencana kerja, yang merupakan penjabaran dari visi, bukan merupakan prioritas, misalnya setelah proposal diajukan Kepala Sekolah atau pimpinan, kurang direspon atau kurang ditanggapi dengan baik, sehingga akhirnya guru Agama tersebut merasa bahwa program atau rencana yang telah dibuat hanya sia-sia. demikian juga dengan kegiatan atau program lainya. karena visi dan misi kurang jelas maka tidak ada kekompakan atau kebersamaan dalam satu tim pelayanan. Para pelayan (disini guru-guru) dalam satu organisasi kurang ada beban untuk melayani siswa secara terpadu para guru disekolah kurang menyadari panggilan pelayanan yang sebenarnya, sehingga yang dikejar hanya kebutuhan materi untuk kebutuhan keluarga. Hal serupa yang terjadi disekolah Kristen.
Sedangkan guru agama Kristen disekolah pun telah terjebak dengan rutinitas, jam mengajar padat, sehingga PAK disekolah hanya dipahami sebagai pendidikan dan kurang menyentuh kepada jiwa atau hati para siswa dengan seperti pengajaran Tuhan Yesus. yang lebih memprihatinkan adalah Guru Agama tidak ada waktu lagi untuk memikirkan jauh kedepan tentang apa yang menajadi kebutuhan menjadi vital bagi anak-anak didiknya. Kurang ada pendekatan kepada siswa secara pribadi, mengunjungi siswa yang

1. George Barna, The Power Of Vision, Kekuatan Sebuah Visi, Yayasan Media Buana Indonesia Metanoin Publishing, Jakarta, 1992, Hlm. 10
sakit maupun yang sedang bermasalah tidak ada waktu untuk membimbing siswa dalam kelompok kecil, persekutuan Doa maupun PA.
2. Hambatan Dari Luar
Yang dimaksud hambatan dari luar adalah segala seuatu yang menghambat atau menggagalkan suatu rencana, yang sebenarnya terjadi diluar pemikiran sebelumnya berhubungan dengan keputusan dari Ka-kanwil Dep. Agama, Dikbud (Sekarang Dinas Pendidikan dan Perpustakaan), Pemerintah Daerah, pertimbangan-pertimbangan. Keamanan dan ketentraman lingkungan dimanna kegiatan atau acara keagamaan akan diadakan.
Kendala dari luar pada umumnya hanya masalah waktu. Waktu yang kadang-kadang begitu singkat dan padat dengan kegiatan akademik dalam pencapaian kurikulum sekolah. Jika ada kegiatan-kegiatan yang berbau rohani, kata seorang pakar dan pengamat Pendidikan Kristen, Bpk, Pdt. Reva Natigor S. adalah hanya merupakan “Kebiasaan” artinya kegiatan tersebut dilakukan dengan tidak ada rasa takut kepada Tuhan dan dilakukan dengan tidak sungguh-sungguh, atau lebih tepatnya hanya “main-main”
Disamping kendala dari dalam dan dari luar, sebenarnya ada hal yang lebih penting yang membuat Pelayanan terhadap siswa dalam rangka pertumbuhan, perkembangan gereja dan penginjilan kurang berjalan secara maksimal, yaitu kurangnya Sumber Daya Manusia. Bayangkan, untuk menangani siswa yang jumlahnya ratusan, hanya satu guru Agama Kristen. Untuk mengajar dikelas-kelas saja sudah cukup memakan banyak waktu, apalagi ditambah dengan kegiatan-kegiatan diluar jam wajib.
Pada umumnya Pendidikan Formal Guru Agama Kristen masih sangat kurang, contohnya di Propinsi Lampung, 58 – 75 % Guru Agama Kristen hanya tamat SLTA dan sekolah Alkitab. Sedangkan yang mempunyai ijazah Diploma I sampai dengan Diploma III Teologi maupun Pendidikan Agama Kristen dapat dihitung dengan jari. Bahkan untuk Sarjana Teologi dan sarjana PAK hanya 9 atau 2.3 % dari 240 Guru PAK.
Untuk tahun pelajaran 2000 / 2001 bukan lagi masalah kekurangan Guru atau para pelayan siswa, tetapi Status Guru Agama yang lemah, baik dari segi hukum, maupun kemampuan finansial dalam menopang pelayanan atau pengajaran Agama Kristen.
Data jumlah guru di Propinsi Lampung, dari 240 Guru Agama Kristen 23 atau 5 % yang berstatus Pegawai Negeri Sipil, 12 Guru tetap Yayasan dan sisanya adalah Guru Sukarela (tanpa mendapat honor dari Sekolahan Gereja ). Pelayanan para siswa khususnya dalam pelayanan siswa secara terpadu untuk pertumbuhan, Perkembangan gereja dan peginjilan.
a. Mengadakan Pertemuan Misi
Pertemuan misi yang dimaksud adalah pertemuan diantara rekan-rekan guru PAK secara rutin, yaitu melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Agama Kristen, pertemuan dimaksud agar supaya satu sama lain menyampaikan visinya masing-masing. Yang kemudian menetapkan misi sebagai realisasi terhadap visi kristen, sehingga sekolah menjadi ladang misi bagi pertumbuhan, perkembangan gereja dan penginjilan serta membicarakan pelayanan secara konkrit, yaitu mempersiapkan suatu program pelayanan.
b. Menyusun dan Merealisasikan Program
Langkah berikutnya yaitu merealisasikan program pelayanan tersebut kepada tersebut kepada seluruh Kepala Sekolah, guru dan karyawan. Mengikutsertakan kepala sekolah dalam setiap membicarakan program dan merealisasikan program tersebut. Bahkan dalam melaksanakan program tersebut kepala-kepala sekolah diikutsertakan untuk menjadi panitia.
Mengusulkan proposal yang telah disepakati oleh semua kepala-kepala sekolah kepada yayasan untuk mendapatkan dukungan moril maupun sprituil, sehingga program tersebut berjalan dengan baik.
Sedangkan mengenai kebijakan dari Pemerintah Daerah atau Kanwil dan Kandep Dinas, tentu hal tersebut haru diantisipasi jauh hari atau tenggang waktu dengan cara yang menyangkut akademik diperpanjang (diberi waktu yang sedikit banyak) dari yang kita akan pakai untuk kegiatan tersebut. Kalender pendidikan menjadi acuan dalam merencanakan suatu kegiatan selama satu tahun.
c. Kerjasama dengan Gereja dan Departemen Agama
Untuk pelayanan Pendidikan Agama Kristen disekolah Negeri dan Sekolah Swasta non konfensional (sekolah yang didikrikan tidak berdasarkan suatu agama ) harus bekerja sama dengan gereja-gereja dan Departemen Agama atau Bimas (Kristen) Protestan, serta Guru Agama Yang ada untuk membentuk suatu lembaga gerejawi, Forum PAK, atau Yayasan yang menangani masalah Pendidikan Kristen.
Dengan demikian masalah yang dihadapi oleh orang tua murid, Gereja dan sekolah Negeri maupun Swasta non konvensional, dapat diatasi dengan baik. Khususnya dalam pengadaan Guru untuk mengisi sekolah-sekolah Negeri mapun Swasta non Konfensional, bekerja sama dengan Depag atau Bimas (Kristen) Protestan, untuk terus berupaya mencari calon guru-guru Agama, yaitu melalui kunjungan ke Gereja-gereja, ke daerah-daerah, melalui pelatihan, seminar dan retreat.
Selanjutnya calon guru diusulkan kepada pembinas (Kristen) Protestan untuk diberi surat tugas mengajar (sebagai guru Sukarela) pada sekolah yang dimaksud. Tidak berhenti disini, oleh karena PAK adalah tugas gereja, sementara Guru yang mengajar di sekolah Negeri sebagian besar adalah Guru Sukarela (89%), maka dukungan dari gereja harus lebih konkrit lagi.
Oleh sebab itu gereja (orang-orang) percaya untuk terus berupaya mendapatkan Guru-guru Agama Kristen, dan mendukung dalam pendanaan, supaya anak-anak jemaat yang belajar di sekolah negeri dapat mendapat pelajaran Agama, serta banyak jiwa-jiwa baru dimenangkan bagi kemuliaan Tuhan Yesus dan bagi perkembangan Gereja-Nya.
Melalui apa yang dibahas di atas diharapkan sebagai solusi atau jalan keluar dari hambatan atau rintangan yang dihadapi oleh Gereja, jemaat maupun sekolah. Semua ini disampaikan bukan untuk maksud-maksud lain, tetapi semua ini hanya semata-mata karena panggilan. Dan apa yang telah dikerjakan bersama-sama rekan sekerja baik dalam ikatan suatu Organisai maupun ikatan batin, yaitu karena sama-sama hamba (pelayan) Tuhan, jauh dari standar minimal, jauh dari yang diharapkan oleh Gereja (orang-orang percaya), sekolah maupun masyarakat Kristiani pada umumnya.
Bagi guru-guru Agama Kristen Sukarela, merupakan satu kehormatan yang besar serta istimewa, karena perhatiannya Gereja, Lembaga atau Yayasan terhadap mereka, sekalipun yang mereka mendapatkan jauh dari apa yang telah mereka persembahkan (korbankan) dalam pelayanan kepada anak-anak di sekolah.
Motivasi mereka adalah pelayanan, penginjilan kepada anak-anak yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus maupun anak-anak yang belum percaya, supaya mereka mendengar, percaya dan memperoleh keselamatan (hidup yang kekal) (Roma 10:17; Yoh 3:16).
Adapun kebijakan Pemerintah Daerah yang menyangkut ketertiban umum, keamanan dan ketentraman lingkungan, sebagai orang percaya tentu harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Artinya harus pandai-pandai memanfaatkan kesempatan, tanpa merugikan pihak-pihak lain.

Untuk mengoptimalkan Sekolah Kristen sebagai ladang misi tentu tergantung sumber daya manusia yang ada. Terutama untuk guru-guru Agama Kristen. Inilah tugas Gembala Sidang, Majelis gereja dan pimpinan lembaga pendidikan untuk melengkapi orang-orang kudus, yaitu para pelayan (Guru-guru Agama) dengan pengetahuan baik melalui jalur pendidikan formal mengutus guru untuk tugas belajar) maupun non formal, yaitu mengutus atau menugaskan guru Agama Kristen untuk mengikuti seminar-seminar, penataran maupun MGMP (musyawarah guru mata pelajaran) Agama Kristen yang diadakan oleh Forum maupun lembaga pendidikan Kristen.
Supaya Sekolah-sekolah Kristen benar-benar memenangkan jiwa bagi Kristus dan Gereja-Nya, disarankan supaya kepala Sekolah, Guru Agama Kristen maupun Pimpinan Sekolah serta hamba Tuhan untuk bersama-sama menetapkan skala prioritas dalam pertumbuhan, perkembangan Gereja, tanpa mengurangi jam wajib belajar bagi siswa dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membawa nama baik sekolah.
Kepada siswa, baik yang telah percaya kepada Tuhan Yesus (Siswa Kristen) maupun siswa yang belum percaya kepada Tuhan Yesus, dalam rangka penginjilan dan pertumbuhan, perkembangan gereja lokal, diharapkan supaya siswa mengikuti kegiatan keagamaan baik yang diadakan oleh sekolah, gereja maupun persekutuan-persekutuan Kristen, yaitu dengan cara membagikan BUKU AKTIVITAS KEAGAMAAN SISWA, supaya diisi pada saat siswa mengikuti kegiatan keagamaan, kemudian Guru Agama memantau dan memberi nilai setiap bulan sekali. Disekolah yang dilayani, setiap awal tahun pelajaran baru selalu membagikan BUKU AKTIVITAS KEAGAMAAN kepada semua siswa, tanpa kecuali.






















BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Setelah mengkaji tentang PERTUMBUHAN, PERKEMBANGAN GEREJA DAN PENGINJILAN MELALUI PELAYANAN SISWA TERPADU, pada sekolah-sekolah Negeri maupun Swasta di Bandar Lampung, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan dan saran-saran Kepada para Hamba Tuhan, guru-guru disekolah swasta Kristen dan Guru-guru Agama Kristen di sekolah swasta maupun Negeri di Seluruh Indonesia yang tercinta.

A. KESIMPULAN
1. Pertumbuhan Gereja adalah dambaan dan harapan bagi setiap Hamba Tuhan, Gereja bahkan dambaan setiap orang pecaya (Kristen). “ setiap gereja harus berkembang “ sekolah , dalam hal ini sekolah swasta Kristen maupun sekolah Negeri adalah lembaga atau organisasi yang sangat penting dan potensi dalam menjangkau orang-orang yang sesat, anak-anak muda bagi Kristus dan sarana mengembangkan Gereja baik secara kuantitas maupun kualitas iman.
Supaya Gereja bertumbuh dan berkembang, yaitu menjadi semakin besar sempurna bertambah banyak, maka para Hamba Tuhan, Pemimpin Rohani harus terus berusaha untuk menumbuhkembangkannya, yaitu dengan memelihara supaya tumbuh, yaitu menjadi besar dan ada dimana-mana.
2. Dalam rangka pertumbuhan gereja dan penginjilan, Hamba Tuhan, Gereja (orang percaya) yang pada umunya hanya mengetahui strategi dan kurang mengetahui, memahami sasaran (obyek), kurang mengetahui prioritas utama dalam setiap program pelayanannya, maka dalam hal ini disampaikan gambaran dan pandangan umum, bahwa untuk pertumbuhan gereja dan penginjilan secara maksimal, maka prioritas pelayanan gereja atau orang-orang percaya adalah kepada kaum muda (siswa) di sekolah-sekolah Negeri maupun Swasta, yaitu dengan menyampaikan kebenaran Firman Tuhan, kesaksian dan keteladanan.
3. Sekolah-sekolah Kristen merupakan ladang misi, dan ladang penginjilan bagi gereja, sudah kehilangan arah. Bukan lagi bertujuan untuk pelayanan, tetapi telah mengarah ke bisnis. Bahkan ada sekolah Kristen yang tidak mau memakai nama yang berbau Kristen, dan tidak mengajarkan Pendidikan Agama Kristen. Pendidikan Agama Kristen diganti dengan Pendidikan Budi Pekerti. Ironisnya beberapa sekolah Kristen dipulau Jawa tidak mempunyai otoritas kekristenan seperti cita-cita para pendiri terdahulu. Bahkan di beberapa sekolah Kristen, anak-anak yang beragama non Kristen, diajarkan sesuai pendidikan agama yang dianut, dan ditempatkan Guru Agama, berdasarkan agama siswa. Padahal sebelum anak masuk kesekolah Kristen tersebut, baik anak maupun orang tua telah membuat surat pernyataan bahwa, baik anak yang bersangkutan maupun orang tua tidak berkeberatan apabila meeka diajarkan Agama Kristen, sekalipun mereka bukan orang Kristen. Dalam hal ini gereja atu orang-orang Kristen telah kalah dalam menempatkan skala prioritas. Bukan mencari Tuhan dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu, seperti yang Tuhan Yesus kehendaki (Matius 6:33), tetapi mencari apa yang sebenarnya adalah tambahan, pelengkap, yaitu antara lain berupa uang, papan dan sandang. Jangan takut, satu-satunya pekerjaan atau pelayanan satu-satunya yang dikawal Tuhan Yesus adalah PENGINJILAN, MEMENANGKAN JIWA BAGI KRISTUS DAN GERAJANYA, Tuhan Yesus berkata : “ Pergilah, jadikanlah semua bangsa muridku,…Ajarla Aku akan menyertai kamu sampai kesudahan zaman (Matius 28:19 –20).
4. Sementara di sekolah-sekolah Kristen yang masih eksis dalam visi dan misinya, pelajaran Agama Kristen yang merupakan salah satu pengaruh terbesar dalam pembentukan watak, mental dan kepribadian siswa, bahkan sampai membawa siswa kepada pengenalan akan Tuhan, menjadi orang percaya dan memperoleh keselamatan, telah pudar, dan berjalan hanya sekedar memenuhi kurikulum saja. Kegiatan kerohanian yang dilakukan oleh guru maupun murid disekolah Kristen khususnya dalam ibadah ataupun kebaktian hanya menambah dosa, karena dilakukan secara sembarang, tidak ada kesetiaan, kesungguhan dan rasa takut pada Tuhan.
Adapun pendidikan Agama Kristen yang seharusnya berkedudukan sebagai Pendidikan dan pengajaran atau Iman Kristen, landasan dan cara kerja serta misinya harus berakar dari nilai-nilai kekristenan, kini nampak hanyalah sebatas pendidikan, Pengetahuan Agama, Pengetahuan Agama Kristen. Asalkan siswa yang diajari tidak nakal dan dapat mengikuti pelajaran Agama dengan baik, itu sudah cukup. Apalagi nilai rata-rata siswa dikelas cukup bagus.
Walaupun demikian tentu masih ada sebagian Sekolah Kristen terus berupaya secara khusus membicarakan, bagaimana memulihkan visi dan misi sekolah Kristen untuk menjadi “tangan kanan gereja” dalam memenangkan banyak jiwa bagi Kristus dan bagi pertumbuhan dan perkembangan gereja dan penginjilan dimuka bumi ini.
Adapun subyek yang sangat menentukan berfungsinya sekolah Kristen dalam pertumbuhan gereja dan penginjilan adalah gereja. Oleh sebab itu gereja harus menata pelayanan yang telah ada untuk difungsikan secara maksimal, yaitu dengan bekerjasama dengan guru Kristen pada sekolah Kristen, badan, lembaga atau yayasan yang sama-sama terpanggil untuk pemuridan atau penginjilan. Gereja harus mau menjadi pelopor dalam misioner, mengutus dan membiayai pelayanan pendidikan
Kristiani, yaitu membantu uang transport atau honor Guru Agama menyediakan Alkitab
dan buku-buku Pelajaran yang dibutuhkan oleh guru maupun murid.

5. Hambatan atau kendala yang terjadi dalam usaha untuk menumbuhkembangkan gereja dan penginjilan
melalui pelayanan siswa terpadu adalah masih banyaknya Pgereja, guru Agama Kristen belum menyadari pentingnya pelayanan kepada kaum muda (siswa), yang dilakukan secara terpadu, serta belum mempunyai pengetahuan serta visi tentang penginjilan melalui pelayanan siswa. Untuk memecahkan masalah tersebut setiap hamba Tuhan, Guru-guru Kristen dan guru agama Kristen harus bersama-sama berkumpul, menyatukan visi dan misi, serta mengklasifikasi, mengidentifikasi masalah yang dihadapi serta mengambil langkah konkrit dalam pertumbuhan, perkembangan gereja dan penginjilan. Mengadakan seminar tentang peranan PAK di sekolah dan digereja dan pelayanan siswa di sekolah. Dengan demikian mereka semua bersama-sama melaksanakan Amanat Agung Tuhan Yesus, yang terdapat dalam Injil Matius 28:19-20.
6. Tugas Gereja, sekolah Kristen dan Yayasan Kristiani sangat besar dalam misi khusus di Propinsi Lampung. Gereja di Lampung adalah salah satu gereja yang perkembangannya sangat pesat. Sekalipun jumlah muslim dilampung paling besar diseluruh warga negara Indonesia, namun suku thionghoa keturunan Cina yang sebagian besar masih beragama Hindu dan Budha serta kepercayaan, mereka menyekolahkan anak-anaknya pada sekolah Kristen. Sesuai hasil penelitian (Angket) dari 120 keturunan cina yang bersekolah disekolah Kristen 87 % telah mengambil keputusan untuk menjadi orang Kristen, sedangkan bagi anak-anak keturunan cina yang bersekolah disekolah negeri yang mendapat pelayanan, mendapat pendidikan Agama Kristen sejak dibangku SD (Sekolah Dasar) sampai Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) 72 % menjadi orang Kristen. Sedangkan orang tua, yang anak-anaknya menjadi orang Kristen karena Pendidikan dan pelayanan diperoleh selama pendidikan, hanya 45 % yang percaya baik disekolah negeri maupun swasta Kristen, hanya 45 % yang mau percaya dan bertobat. selebihnya masih dalam kepercayaan lama dan simpatisan.
Adapun yang sangat mengejutkan dari hasil angket anak-anak yang telah percaya kepada Tuhan Yesus pengaruhnya terhadap keluarga terutama kepada adik maupun kakak kandung sendiri sangat besar. Terhadap adik, 83% adiknya mengikuti jejak kakaknya yang terlebih dahulu “ditangkap”, menjadi milik tuhan melalui pelayan pendidikan Agama Kristen di sekolah.


























Nama : (boleh tidak ditulis)

1. Sekarang ini anda :
a. Masih Sekolah b. Sedang Kuliah c. Bekerja d. Lain-lain
2. Ketika anda sekolah atau sekarang msih sekolah, sekolah di
a. Negeri b. Swasta Kristen c. Swasta Katolik d. Swasta lainnya
3. Ketika anda sekolah anda belajar Agama :
a. Kristen b. Islam c. Hindu/Budha d. Tidak belajar Agama
4. Pelajaran agama disekolah disampaikan dengan
a. Baik sekali b. baik c. biasa saja d. kurang baik
5. Disamping anda belajar Agama disekolah, anda mengikuti kegiatan ……
a. Kebaktian b. P.A c. Retreat/ Pembinaan d. Semua pernah ikut
6. Menurut pendapat anda, peljarana agama kristen yang pernah anda pelajari
a. sangat baik untuk masa depan
b. dapat merubah sikap dan cara hidup seseorang
c. kurang begitu mendukung masa depan
d. seperti pelajaran yang lain
7. Terhadap pelajaran agama kristen disekolah anda ….
a. Senang b. Biasa saja c. kurang seneng d. bosan
8. Materi pelajaran agama kristen yang diajarkan disekolah …
a. cocok dengan kebutuhan kerohanian
b. cocok dengan keadaan zaman sekarang
c. kurang relevan dengan kebutuhan kerohanian remaja/pemuda
d. kurang relevan dengan keadaan zaman sekarang
9. Materi pelajaran disampaikan dengan
a. Menarik b. Kurang menarik c. biasa saja d. membosankan
10. Materi pelajaran disampaikan dengan contoh-contoh atau ilustrasi
a. Ya b. Tidak selalu c. tidak sama sekali
11. Guru agama kristen anda (bila ada) saat itu :
a. Baik sekali b. Baik c. Biasa saja d. sama seperti guru lainnya
12. Disamping mendapat pelajaran agama kristen dikelas, anda juga…….(boleh menjawab 2)
a. mendapat perhatian, perlakuan yang sangat baik dari guru agama
b. mendapat bimbingan rohani dari guru agama
c. mendapatkan/pernah dikunjungi oleh guru agama
d. mandapat pelajaran P.A disekolah maupun dirumah
13. Pada saat anda mendapat pelajaran Agama Kristen, Anda :
a. Agama Islam b. Budha/Hindu c. Kristen/ Khatolik d. belum memilih salah satu
Agama
14. Pada saat anda mendapatkan Pelajaran Agama Kristen, Orang tua anda :
a. Agama Islam b. Budha/Hindu c. Kristen Khatolik d. Kepercayaan lama
15. Pada saat anda mengikuti/mendapatkan Pelajaran Agama Kristen, kakak maupun adik anda beragama :
a. Agama Islam b. Budha/Hindu c. Kristen/Khatolik d. Belum memilih agama

lihat halaman…………2.
16. Bagaimana dengan adik-adik anda saat ini, setelah anda percaya terhadap tuhan (bila ada)…
a. Agama Islam b. Budha/hindu c. Kristen/Khatolik d. Belum memilih Agama
17. Bagamimana dengan kakak-kakak anda saat ini, setelah anda menjadi orang kristen (bila ada)
a. Agama Islam b. Budha/Hindu c. Kristen/Khatolik d. Belum memilih agama
18. Bagaimana orang tua anda dengan kehidupan anda sebagai orang kristen ?
a. Sangat Senang b. senang c. Biasa saja d. Tidak/ Kurang senang
19. Agama Orang tua anda sekarang
a. Agama Islam b. Budha/Hindu c. Kristen/Khatolik d. Kepercayaan
20. Anda telah menjadi anggota salah satu Gereja, apakah anda sudah baptis ?
a. Sudah b. Belum c. Akan minta di baptis
21. Dalam gereja anda selain ibadah remaja/ pemuda anda juga….
a. Ibadah Umum b. Ikut persetujuan c. Ikut melayani d. Hanya ibadah remaja
22. Selain ibadah, acara-acara gereja yang anda senang ikuti untuk pertumbuahn iman…
a. Persekutuan b. P.A c. Melayani d. Tidak ikut apa-apa
23. Apabila anda sekarang ikut melayani gereja , bidang pelayanan anda …
a. Main musik b. Singers/Liturgis c. Kunjungan d. Lain-lain
24. Disampin anda rajin ibadah, ikut melayani sebgai Pengurus Persekutuan, yaitu sebagai…
a. Ketua,Sekretais b. bendahara c. Seksi kerohanian d. Seksi lainnya
25. Apakah saran anda terhadap guru Agama kristen sekarang ini, supaya gereja-gereja tuhan dapat bertumbuh dan berkembang melalui pelayanan Guru-guru Agama Kristen ?




26. Apakah saran anda terhadap meteri Pelajaran Agama Kristen, supaya dapat mengubah cara hidup remaja pemuda dan membawanya kepada Pertobatan kepada Kristus ?


Terima kasih Atas segala kerjasamanya Tuhan Yesus Memberkati












Setelah memeriksa dan meneliti secara seksama serta mengetahui seluruh proses penelitian dan cara penyusunan skripsi yang dilakukan oleh TIMOTIUS SUKARMAN yang berjudul PERTUMBUHAN GEREJA DAN PENGINJILAN MELALUI PELAYANAN SISWA TERPADU maka dengan ini dinyatakan bahwa skripsi ini diterima dan disahkan sebagai bagian dari persyaratan untuk mendapatkan gelar SARJANA TEOLOGI dari SEKOLAH TINGGI TEOLOGI LINTAS BUDAYA JAKARTA



Diterima dan disahkan pada tanggal
Juni 2001




Ketua Sekolah Tinggi Teologi Lintas Budaya Jakarta





Pdt. Prof. Dr. S. J. Sutjiono













Dosen Pembimbing telah menerima hasil penelitian yang berjudul PERTUMBUHAN GEREJA DAN PENGINJILAN MELALUI PELAYANAN SISWA TERPADU yang telah disiapkan dan diserahkan oleh TIMOTIUS SUKARMAN untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai gelar SARJANA TEOLOGI dari SEKOLAH TINGGI TEOLOGI LINTAS BUDAYA JAKARTA.



Disetujui pada tanggal
Juni 2001





Dosen Pembimbing





Pdt. Andreas Suparman, M. Div.








PERTUMBUHAN GEREJA DAN PENGINJILAN
MELALUI
PELAYANAN SISWA TERPADU









Skripsi ini
Diajukan kepada
Sekolah Tinggi Teologi Lintas Budaya Jakarta




Untuk memenuhi
Sebagian dari persyaratan
Guna mencapai gelar Sarjana Teologi







Oleh :
TIMOTIUS SUKARMAN
NIM. 020298007

Juni 2001




Kata Pengantar

Allah itu Mahakasih, Allah itu baik. Kebaikan dan kasih-Nya tak berkesudahan. Didalam kasih dan kuasa-Nya jualah penulis dapat bertahan didalam perjuangan menyelesaikan Study di Sekolah Tinggi Teologi Lintas Budaya (STTLB) Jakarta. Penulis menyadari, bahwa tanpa kasih dan kuasa, serta pertolongan-Nya, penulis tidak akan mampu dan sanggup menyelesaikan semua ini. Oleh sebab itu benar, ya dan amin Firman Tuhan ini :
“Sebab Segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia; bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Roma 11:36)
Oleh sebab itu sudah sepantasnyalah Penulis kembalikan segala puji, hormat dan Syukur kepada Dia atas segala-galanya, termasuk kekuatan dan kesehatan yang Ia anugrahkan, sehingga kini Penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
Selain dari pada itu Penulis juga menyadari bahwa tanpa adanya dukungan, dorongan dan pertolongan dari pihak sesama, Penulis juga tidak mungkin dapat menyelesaikan study di STTLB, Jakarta, terlebih dalam menyelesaikan skripsi ini. Namun Penulis mengakui, bahwa dalam penulisan dan penyajian data dalam skripsi ini masih banyak kekurangan dan kelemahannya, oleh sebab itu kritik dan saran yang membangun dari para Dosen, hamba-hamba Tuhan dan dari rekan sekerja sangat penulis harapkan. Kritik dan saran dari semua pihak akan sangat berguna bagi Penulis untuk masa-masa yang akan datang, terutama dalam menyajikan tulisan.




Pada kesempatan ini Penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1. Pdt. Prof. Dr. S. J. Sutjiono, selaku Ketua Sekolah Tinggi Teologi Lintas Budaya, yang telah banyak memberikan dorongan, semangat, motivasi kepada mahasiswa, terutama kepada Mahasiswa S1 PPSDPG, yang usianya rata-rata diatas 37 tahun, untuk dapat membagi waktu, antara tugas kampus, pelayanan dan keluarga, sehingga semua dapat berjalan dengan baik, dan dapat menyelsaikan pendidikan yang sedang diikutinya.
2. Pdt. Andreas Suparman M.Div, Bidang Kemahasiswaan dan Dosen, serta dalam hal ini khusus selaku dosen Pembimbing dalam penyusunan skripsi, yang banyak mencetuskan ide-ide cemerlang sebagai masukan Penulis dalam penulisan skripsi ini, kesabaran dan ketelitian sehingga penulisan skripsi ini dapat diselsaikan dengan baik.
3. Michael Bunyamin, L. selaku bapak rohani, dan rekan sekerja dalam pelayanan di pedesaaan, yang bukan hanya memberikan dorongan, semangat dan motivasi untuk dapat menyelesaikan study di STTLB Jakarta, yang juga dipakai Tuhan untuk menyalurkan berkat Tuhan kepada Penulis, sehingga Penulis dapat menyelesaikan study Teologi dan dapat menyusun skripsi dengan baik.
4. Rekan-rekan Guru Agama Kristen di Propinsi Lampung, dan rekan-rekan mahasiswa Sekolah Tinggi Teologia Lintas Budaya, yang telah banyak memberi dorongan dan semangat serta masukan kepada Penulis, khususnya dalam Penulis menyelesaikan Skripsi ini, sehingga skripsi ini dapat selesai tepat pada waktunya.
5. Gembala Sidang, majelis, serta hamba-hamba Tuhan Gereja-gereja di Kota Bandar Lampung, yang telah berkenan memberi izin kepada Penulis untuk mengadakan Penelitian (menyebarkan angket) kepada remaja – pemuda, di gereja masing-masing, sehingga penulis mendapat Data Base yang sangat akurat dalam melengkapi penyusunan skripsi ini.

6. Kepala Sekolah, tata usaha SLTP “ Immanuel” Bandar Lampung yang telah banyak membantu penulis khususnya dalam pengumpulan data siswa dalam penelitian, sehingga dapat memperlancar penelitian Penulis, dan penyusunan skripsi ini.
7. Pimpinan Perguruan Kristen Methodist Indonesia “Immanuel”, Kepala Sekolah, serta rekan-rekan guru di SLTP “Immanuel” Bandar Lampung yang telah memberi izin kepada Penulis untuk menyelesaikan study Teologi di Sekolah Tinggi Teologi Lintas Budaya Jakarta.
8. Penulis mengucapkan syukur dan berterima kasih kepada Tuhan Yesus, karena Tuhan telah memberikan seorang teman hidup yang sepadan, yaitu Friscila Kundarti Swasananingsih, SPd. yang telah banyak mendorong, memberi semangat dan membantu Penulis dalam mengoreksi tulisan serta merekapitulasi hasil penelitian, sehingga skripsi ini dapat selesai dengan baik.

Kepada para donatur yang telah memberi beasiswa, yang penulis tidak sebut namanya satu persatu, Penulis, Istri (F. Kundarti Swasananingsih), dan kedua anak (Ivana Lia SoliDeo dan Eksa Agustinus SoliDeo) mengucapkan terima kasih. Dan kepada mereka semua, penulis megucapkan terima kasih, Tuhan Yesus yang memberkati, Amin.

Jakarta, Juni 2001

Timotius Sukarman

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar