Kamis, 18 April 2013

KEBAHAGIAAN KARENA IMAN



Kebahagiaan  adalah Iman
Oleh Vic. Timotius Sukarman, M.Th

Besar kecilnya kesuksesanmu ditentukan oleh besar kecilnya keyakinanmu”.  David J. Schwartz

Tuhan menciptakan manusia bukan untuk dibuat menderita, atau dibuat permainan agar menderita. Tuhan menghendaki agar manusia hidup berbahagia. Sebelum Allah menciptakan manusia, Ia terlebih dulu menciptakan langit dan bumi dengan segala isinya supaya manusia dapat hidup berbahagia diatasnya. Kebutuhannya telah disediakan disana. Manusia diperbolehkan mengolah alam menurut kebutuhan dan kepentingannya. Ia berkuasa atas ikan dilaut, burung-burung di udara dan segala binatang di darat. Allah juga memberikan kekuatan kepada manusia untuk melaksanakan tugas itu. Manusia diangkat menjadi penguasa dan wakil Allah atas segala cipataan-Nya. Ini berarti manusia diminta untuk melakukan tugas kebudayaan dan pembangunan. Manusia harus bertanggung jawab atas tugas yang diterima itu. Tanggung jawab yang diterimannya itu harus dinyatakan melalui hidupnya sehari-hari,  baru bisa bahagia.
Supaya kebahagiaan manusia dapat terwujud, Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan. Allah memberikan Hawa kepada manusia pertama Adam dan memberikan nama Hawa untuk manusia laki-laki, sebagia suami istri. Mereka saling menolong  didalam tugas yang diserahkan Tuhan. Manusia tidak dapat hidup sendiri, ia selalu berteman dengan sesamanya manusia. Menurut Kitab Kejadian 1:28-30, respon manusia supaya berbahagia adalah dengan: Beranak cuculah dan bertambah banyak; Memenuhi bumi dan menaklukkannya; dan  berkuasa atas segala binatang;Mengusahakan makanannya dari tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan pohon yang buahnya berbiji.
Sekali lagi untuk kebahagiaan manusia, disamping manusia diciptakan dengan istimewa, diciptakan pada hari keenam (setelah segala sesuatu diciptakan untuk kebutuhan hidupnya)  dan dengan tugas-tugasnya seperti tersebut diatas,  untuk kebaikan kebahagiaan manusia Allah juga:
1.      Mengingatkan manusia akan sesuatu yang dapat menyusahkannya, dengan dilarang makan buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat.
2.      Allah mengaruniakan kebebasan kepada manusia, namun kebebasan ini bertujuan untuk mempererat hubungan yang damai, hikmat, dan mesra.
Semua ciptaan Allah dari hari pertama sampai hari keenam sangat baik, indah, dan sempurna. Seperti yang dikatakan dalam Alkitab, bahwa Allah melihat segala ciptaan-Nya itu sunguh amat baik (Kej 1:30).  Setiap ciptaan Allah memiliki manfaat masing-masing. Allah telah mengatur semuanya secara rapi dan teratur, sesuai dengan manfaat dan kebutuhannya.  Misalnya, sebelum Allah menciptakan tumbuhan, Allah telah menyediakan terang, air dan tempat tumbuhan supaya  bisa hidup, yaitu daratan.
Sebelum Allah menciptakan burung pada hari kelima, supaya burung itu bisa hidup, maka Allah telah menyediakan tempatnya yaitu, langit, pohon-pohonan sebagai makanannya dan sebagainya. Begitu juga sebelum Allah menciptakan manusia, Allah telah menyediakan tempat dan segala kebutuhan hidupnya, sehingga manusia dapat hidup dan berbahagia.
Disamping Allah sanggup atau mampu untuk menciptakan  sesuatu kebahagiaan bagi manusia, Dia juga mempunyai mewenang atas sesuatu untuk menentukan, mengurus ciptaan-Nya itu. Sumber kebahagiaan hanya ada pada Tuhan. Dengan demikian, menghayati hidup yang bahagia, adalah menghadirkan Sumber Kebahagiaan itu ke dalam iman kita, ke dalam sanubari kita. Dengan demikian, Tuhanlah yang bekerja di dalam hidup kita untuk memberikan kebahagiaan dalam keadaan apapun.


Kebahagiaan Sejati
Dari apa yang  saya sampaikan sekilas tentang kemungkinan besar manusia dapat hidup bahagia, bahkan kebahagiaan di dalam Tuhan sebagai sumber kehidupan dan kebahagiaan sejati. Kebahagiaan sejati bukan lagi ditentukan oleh hal-hal yang berada di luar, tetapi ditentukan oleh yang di dalam, yaitu hati yang beriman kepada Tuhan. Hati yang sungguh bahagia tidak lagi ditentukan oleh gagal atau berhasil, untung atau rugi, menerima atau kehilangan, memiliki atau tidak memiliki. Kebahagiaan adalah soal hati yang tetap mengatakan “bahagia dalam keadaan apapun”.   Jadi kebahagiaan soal  keputusan karena iman, bukan karena akal atau pikiran kita, keadaan kita, apalagi materi yang  kita miliki. Perhatikan kata orang bijak ini: “Jika Anda mengejar materi, materi itu akan membuat Anda sengsara. Tetapi jika Anda mengejar kebahagiaan, materi akan mengikuti”.
Dengan demikian, kekuatan untuk dapat menghayati kebahagiaan, bukan berasal dari kekuatan kemanusiaan semata, akan tetapi, justru kekuatan Tuhanlah yang menjadi sumber kebahagiaan itu. Pada saat kita menerima keberuntungan, dengan kekuatan-Nya, kita bersyukur. Sebaliknya, pada saat menerima kemalangan, dengan kekuatan-Nya kita tetap teguh berdiri.  Kebahagiaan adalah soal persekutuan hati kita dengan Tuhan. Semakin dapat menghayati kasih Tuhan kepada diri kita, akan semakin merasakan kebahagiaan hidup yang sejati. Oleh karena itu, kebahagiaan tidak lagi ditentukan oleh pihak lain. Tidak lagi ditentukan oleh berhasil memiliki atau tidak. Memang, berhasil memiliki atau menguasai sesuatu yang kita inginkan merupakan kebahagiaan tersendiri. Akan tetapi, bukan berarti jika tidak berhasil memiliki, disebut tidak berbahagia.
Dalai Lama, dalam bukunya yang berjudul “Seni Hidup Bahagia”, menyatakan, “Yang lebih dapat diandalkan adalah tidak memiliki yang kita inginkan, tetapi menghargai yang kita miliki”; mensyukuri dan menikmati yang sudah diberikan Tuhan kepada kita. Bahkan ada seseorang yang berani mengatakan dengan iman, bahwa “aku bahagia, jika aku dapat membahagiakan orang lain” dan sebaliknya, dirinya akan merasa tidak bahagia, jika dalam hidupnya menyusahkan atau membuat orang menderita. Maka kebahagiaan akan terwujud dalam dirinya, apabila salah satunya dapat menyangkal  diri demi kepentingan orang lain. Mengesampingkan kebutuhan dan keinginan sendiri demi kebahagiaan orang lain.
Rasul Paulus sebagai contoh dalam memberi berkata kepada jemaat Korintus, akan lebih bahagia memberi dari pada menerima.Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul  20:35)


Kebenaran kepada Kebahagiaan
Memang tidak dapat dimungkiri, dunia ini menjadi sarana kebahagiaan hidup manusia. Akan tetapi, jika dilakukan dengan tidak benar, dunia ini akan menjadi sumber penderitaan atau malapeta bagi  manusia. Kenikmatan duniawi salah satu kebahagiaan manusia. Akan tetapi, jika kenikmatan itu dicari dengan tidak benar dan tidak baik, kenikmatan itu akan menjadi malapetaka.
Contoh dari orang-orang yang memilki jabatan, kesempatan, kebebasan dan harta yang banyak. Tetapi karena cara mendapatkannya dengan cara yang tidak benar, tidak baik dan menyalahi prosedur,  maka pada akhirnya, bukan kebahagiaan yang dirasakan, tetapi penderitaan demi penderitaan.  
Apapun juga, jalan kebenaran menjadi syarat utama kebahagiaan. Meskipun harus menerima penderitaan, jalan kebenaran tetap akan menjanjikan kebahagiaan. Harus menjadi keyakinan orang beriman, jika kita setia berjalan di jalan kebenaran; berjalan dalam jalan atau kehendak Tuhan; yang hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya (Mazmur 128:1), Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita. Jika kita tetap berpegang teguh kepada kebenaran, Tuhan akan senantiasa menguatkan dan memberikan kebahagiaan hidup tersendiri.
Persoalannya, sering kita tidak sabar, suka menggunakan jalan pintas, tidak peduli dengan kebenaran. Ketika melihat orang lain berhasil mendapatkan pekerjaan atau menduduki jabatan tertentu karena menyuap, mendapatkan harta banyak karena korupsi, karena manipulasi, kitapun kemudian tergoda untuk mengikuti jalan seperti itu. Kita tidak peduli, apakah itu benar atau salah, yang penting berhasil. Bahkan ada orang tua yang terang-terangan berkata kepada anaknya yang akan melamar pekerjaan, “Anakku, kamu tidak usah takut. Bapak punya koneksi, punya relasi atau hubungan yang  kuat, dan bapak sudah menyiapkan uang untuk itu. Bapak yakin, dengan koneksi dan uang yang cukup, kamu akan berhasil”.
Barangkali, kenyataan hidup di sekitar kita memang  demikian. Yang berhasil adalah yang punya uang dan punya koneksi atau hubungan yang dekat dengan orang-orang yang “hebat”. Akan tetapi, orang yang takut akan Tuhan, tidak boleh menyerah dan mengikuti arus seperti itu. Orang beriman harus yakin bahwa kebenaran, kejujuran, dan keadilan pasti akan menang. Orang beriman harus juga mempunyai pengharapan, ditengah-tengah “kegelapan”, pasti ada sinar terang, meskipun hanya sebuah lilin. Seperti yang dialami nabi Mikha. Dia tetap menunggu, berharap dan percaya bahwa Tuhan akan mendengarksan doanya. Bakhan dengan yakin ia katakan : “.....Sekalipun aku jatuh, aku akan bangun pula, sekalipun aku duduk dalam gelap, TUHAN akan menjadi terangku.(Mikha 7:7-8).
Jadi walaupun kelihatannya kita hidup dalam suasana muram, tetapi pasti ada sinar kebenaran. Orang beriman diberkati karena mengandalkan Tuhan dan menaruh harapan masa depan itu hanya kepada Dia. Perhatikan penyataan iman  Nabi Yeremia ini: “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah”.
Selanjutnya kepada orang yang tidak mengandalkan Tuhan, Yeremia berkata:”Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya." Seperti ayam hutan yang mengerami yang tidak ditelurkannya, demikianlah orang yang menggaruk kekayaan secara tidak halal, pada pertengahan usianya ia akan kehilangan semuanya, dan pada kesudahan usianya ia terkenal sebagai seorang bebal”. (Yeremia 17:7-11)
Semua orang menghendaki hidup bahagia. Kebahagiaan yang ditentukan oleh dunia ini hanya akan menjadikan manusia menjadi sengsara. Kebahagiaan sejati adalah “merdeka” dari rongrongan nafsu manusiawi. Kebahagiaan sejati adalah mendahulukan Tuhan, dalam hidup kita dengan pelayanan, berkarier dan keluarga dengan dasar kasih, kemudian taat dan mengikuti jalan kebenaran yang ditunjukkanNya. Mari kita prioritaskan yang utama, hadirkan  Tuhan di dalam kehidupan keluarga, pelayanan dan karier. Arahkan hidup keluarga kita mengikuti kebenaran Tuhan. Jika kita konsekuen terhadap kebenaran ini, dan mau mencobanya, kebahagiaan sejati akan menjadi milik kita, kini dan selama-lamanya.
Untuk mempersiapkan masa depan yang penuh harapan (kebahagiaan), perhatikan tiga nasehat Rasul Paulus dalam Efesus 5:15-16 dan Kolose 3:2, yaitu : pertama, perhatikan dengan sesaksama bagaimana kita hidup, kedua pergunakan waktu yang ada dan ketiga, pikirkanlah perkara  yang diatas, bukan yang dibumi. Dengan pelayanan terbih dahulu, karier atau bekerja dan berkeluarga, akan hidup sejahtera dan bermakna bagi sesama. Anonim berkata: “Saya belajar bahwa tidak ada cara instan di dunia ini, semua butuh proses dan metode, kecuali saya ingin kecewa”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar