Kamis, 18 April 2013

KEBAHAGIAAN KARENA IMAN



Kebahagiaan  adalah Iman
Oleh Vic. Timotius Sukarman, M.Th

“Besar kecilnya kesuksesanmu ditentukan oleh besar kecilnya keyakinanmu”.  David J. Schwartz

Tuhan menciptakan manusia bukan untuk dibuat menderita, atau dibuat permainan agar menderita. Tuhan menghendaki agar manusia hidup berbahagia. Sebelum Allah menciptakan manusia, Ia terlebih dulu menciptakan langit dan bumi dengan segala isinya supaya manusia dapat hidup berbahagia diatasnya. Kebutuhannya telah disediakan disana. Manusia diperbolehkan mengolah alam menurut kebutuhan dan kepentingannya. Ia berkuasa atas ikan dilaut, burung-burung di udara dan segala binatang di darat. Allah juga memberikan kekuatan kepada manusia untuk melaksanakan tugas itu. Manusia diangkat menjadi penguasa dan wakil Allah atas segala cipataan-Nya. Ini berarti manusia diminta untuk melakukan tugas kebudayaan dan pembangunan. Manusia harus bertanggung jawab atas tugas yang diterima itu. Tanggung jawab yang diterimannya itu harus dinyatakan melalui hidupnya sehari-hari,  baru bisa bahagia.
Supaya kebahagiaan manusia dapat terwujud, Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan. Allah memberikan Hawa kepada manusia pertama Adam dan memberikan nama Hawa untuk manusia laki-laki, sebagia suami istri. Mereka saling menolong  didalam tugas yang diserahkan Tuhan. Manusia tidak dapat hidup sendiri, ia selalu berteman dengan sesamanya manusia. Menurut Kitab Kejadian 1:28-30, respon manusia supaya berbahagia adalah dengan: Beranak cuculah dan bertambah banyak; Memenuhi bumi dan menaklukkannya; dan  berkuasa atas segala binatang;Mengusahakan makanannya dari tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan pohon yang buahnya berbiji.
Sekali lagi untuk kebahagiaan manusia, disamping manusia diciptakan dengan istimewa, diciptakan pada hari keenam (setelah segala sesuatu diciptakan untuk kebutuhan hidupnya)  dan dengan tugas-tugasnya seperti tersebut diatas,  untuk kebaikan kebahagiaan manusia Allah juga:
1.      Mengingatkan manusia akan sesuatu yang dapat menyusahkannya, dengan dilarang makan buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat.
2.      Allah mengaruniakan kebebasan kepada manusia, namun kebebasan ini bertujuan untuk mempererat hubungan yang damai, hikmat, dan mesra.
Semua ciptaan Allah dari hari pertama sampai hari keenam sangat baik, indah, dan sempurna. Seperti yang dikatakan dalam Alkitab, bahwa Allah melihat segala ciptaan-Nya itu sunguh amat baik (Kej 1:30).  Setiap ciptaan Allah memiliki manfaat masing-masing. Allah telah mengatur semuanya secara rapi dan teratur, sesuai dengan manfaat dan kebutuhannya.  Misalnya, sebelum Allah menciptakan tumbuhan, Allah telah menyediakan terang, air dan tempat tumbuhan supaya  bisa hidup, yaitu daratan.
Sebelum Allah menciptakan burung pada hari kelima, supaya burung itu bisa hidup, maka Allah telah menyediakan tempatnya yaitu, langit, pohon-pohonan sebagai makanannya dan sebagainya. Begitu juga sebelum Allah menciptakan manusia, Allah telah menyediakan tempat dan segala kebutuhan hidupnya, sehingga manusia dapat hidup dan berbahagia.
Disamping Allah sanggup atau mampu untuk menciptakan  sesuatu kebahagiaan bagi manusia, Dia juga mempunyai mewenang atas sesuatu untuk menentukan, mengurus ciptaan-Nya itu. Sumber kebahagiaan hanya ada pada Tuhan. Dengan demikian, menghayati hidup yang bahagia, adalah menghadirkan Sumber Kebahagiaan itu ke dalam iman kita, ke dalam sanubari kita. Dengan demikian, Tuhanlah yang bekerja di dalam hidup kita untuk memberikan kebahagiaan dalam keadaan apapun.


Kebahagiaan Sejati
Dari apa yang  saya sampaikan sekilas tentang kemungkinan besar manusia dapat hidup bahagia, bahkan kebahagiaan di dalam Tuhan sebagai sumber kehidupan dan kebahagiaan sejati. Kebahagiaan sejati bukan lagi ditentukan oleh hal-hal yang berada di luar, tetapi ditentukan oleh yang di dalam, yaitu hati yang beriman kepada Tuhan. Hati yang sungguh bahagia tidak lagi ditentukan oleh gagal atau berhasil, untung atau rugi, menerima atau kehilangan, memiliki atau tidak memiliki. Kebahagiaan adalah soal hati yang tetap mengatakan “bahagia dalam keadaan apapun”.   Jadi kebahagiaan soal  keputusan karena iman, bukan karena akal atau pikiran kita, keadaan kita, apalagi materi yang  kita miliki. Perhatikan kata orang bijak ini: “Jika Anda mengejar materi, materi itu akan membuat Anda sengsara. Tetapi jika Anda mengejar kebahagiaan, materi akan mengikuti”.
Dengan demikian, kekuatan untuk dapat menghayati kebahagiaan, bukan berasal dari kekuatan kemanusiaan semata, akan tetapi, justru kekuatan Tuhanlah yang menjadi sumber kebahagiaan itu. Pada saat kita menerima keberuntungan, dengan kekuatan-Nya, kita bersyukur. Sebaliknya, pada saat menerima kemalangan, dengan kekuatan-Nya kita tetap teguh berdiri.  Kebahagiaan adalah soal persekutuan hati kita dengan Tuhan. Semakin dapat menghayati kasih Tuhan kepada diri kita, akan semakin merasakan kebahagiaan hidup yang sejati. Oleh karena itu, kebahagiaan tidak lagi ditentukan oleh pihak lain. Tidak lagi ditentukan oleh berhasil memiliki atau tidak. Memang, berhasil memiliki atau menguasai sesuatu yang kita inginkan merupakan kebahagiaan tersendiri. Akan tetapi, bukan berarti jika tidak berhasil memiliki, disebut tidak berbahagia.
Dalai Lama, dalam bukunya yang berjudul “Seni Hidup Bahagia”, menyatakan, “Yang lebih dapat diandalkan adalah tidak memiliki yang kita inginkan, tetapi menghargai yang kita miliki”; mensyukuri dan menikmati yang sudah diberikan Tuhan kepada kita. Bahkan ada seseorang yang berani mengatakan dengan iman, bahwa “aku bahagia, jika aku dapat membahagiakan orang lain” dan sebaliknya, dirinya akan merasa tidak bahagia, jika dalam hidupnya menyusahkan atau membuat orang menderita. Maka kebahagiaan akan terwujud dalam dirinya, apabila salah satunya dapat menyangkal  diri demi kepentingan orang lain. Mengesampingkan kebutuhan dan keinginan sendiri demi kebahagiaan orang lain.
Rasul Paulus sebagai contoh dalam memberi berkata kepada jemaat Korintus, akan lebih bahagia memberi dari pada menerima. “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul  20:35)


Kebenaran kepada Kebahagiaan
Memang tidak dapat dimungkiri, dunia ini menjadi sarana kebahagiaan hidup manusia. Akan tetapi, jika dilakukan dengan tidak benar, dunia ini akan menjadi sumber penderitaan atau malapeta bagi  manusia. Kenikmatan duniawi salah satu kebahagiaan manusia. Akan tetapi, jika kenikmatan itu dicari dengan tidak benar dan tidak baik, kenikmatan itu akan menjadi malapetaka.
Contoh dari orang-orang yang memilki jabatan, kesempatan, kebebasan dan harta yang banyak. Tetapi karena cara mendapatkannya dengan cara yang tidak benar, tidak baik dan menyalahi prosedur,  maka pada akhirnya, bukan kebahagiaan yang dirasakan, tetapi penderitaan demi penderitaan.  
Apapun juga, jalan kebenaran menjadi syarat utama kebahagiaan. Meskipun harus menerima penderitaan, jalan kebenaran tetap akan menjanjikan kebahagiaan. Harus menjadi keyakinan orang beriman, jika kita setia berjalan di jalan kebenaran; berjalan dalam jalan atau kehendak Tuhan; yang hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya (Mazmur 128:1), Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita. Jika kita tetap berpegang teguh kepada kebenaran, Tuhan akan senantiasa menguatkan dan memberikan kebahagiaan hidup tersendiri.
Persoalannya, sering kita tidak sabar, suka menggunakan jalan pintas, tidak peduli dengan kebenaran. Ketika melihat orang lain berhasil mendapatkan pekerjaan atau menduduki jabatan tertentu karena menyuap, mendapatkan harta banyak karena korupsi, karena manipulasi, kitapun kemudian tergoda untuk mengikuti jalan seperti itu. Kita tidak peduli, apakah itu benar atau salah, yang penting berhasil. Bahkan ada orang tua yang terang-terangan berkata kepada anaknya yang akan melamar pekerjaan, “Anakku, kamu tidak usah takut. Bapak punya koneksi, punya relasi atau hubungan yang  kuat, dan bapak sudah menyiapkan uang untuk itu. Bapak yakin, dengan koneksi dan uang yang cukup, kamu akan berhasil”.
Barangkali, kenyataan hidup di sekitar kita memang  demikian. Yang berhasil adalah yang punya uang dan punya koneksi atau hubungan yang dekat dengan orang-orang yang “hebat”. Akan tetapi, orang yang takut akan Tuhan, tidak boleh menyerah dan mengikuti arus seperti itu. Orang beriman harus yakin bahwa kebenaran, kejujuran, dan keadilan pasti akan menang. Orang beriman harus juga mempunyai pengharapan, ditengah-tengah “kegelapan”, pasti ada sinar terang, meskipun hanya sebuah lilin. Seperti yang dialami nabi Mikha. Dia tetap menunggu, berharap dan percaya bahwa Tuhan akan mendengarksan doanya. Bakhan dengan yakin ia katakan : “.....Sekalipun aku jatuh, aku akan bangun pula, sekalipun aku duduk dalam gelap, TUHAN akan menjadi terangku.(Mikha 7:7-8).
Jadi walaupun kelihatannya kita hidup dalam suasana muram, tetapi pasti ada sinar kebenaran. Orang beriman diberkati karena mengandalkan Tuhan dan menaruh harapan masa depan itu hanya kepada Dia. Perhatikan penyataan iman  Nabi Yeremia ini: “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah”.
Selanjutnya kepada orang yang tidak mengandalkan Tuhan, Yeremia berkata:”Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya." Seperti ayam hutan yang mengerami yang tidak ditelurkannya, demikianlah orang yang menggaruk kekayaan secara tidak halal, pada pertengahan usianya ia akan kehilangan semuanya, dan pada kesudahan usianya ia terkenal sebagai seorang bebal”. (Yeremia 17:7-11)
Semua orang menghendaki hidup bahagia. Kebahagiaan yang ditentukan oleh dunia ini hanya akan menjadikan manusia menjadi sengsara. Kebahagiaan sejati adalah “merdeka” dari rongrongan nafsu manusiawi. Kebahagiaan sejati adalah mendahulukan Tuhan, dalam hidup kita dengan pelayanan, berkarier dan keluarga dengan dasar kasih, kemudian taat dan mengikuti jalan kebenaran yang ditunjukkanNya. Mari kita prioritaskan yang utama, hadirkan  Tuhan di dalam kehidupan keluarga, pelayanan dan karier. Arahkan hidup keluarga kita mengikuti kebenaran Tuhan. Jika kita konsekuen terhadap kebenaran ini, dan mau mencobanya, kebahagiaan sejati akan menjadi milik kita, kini dan selama-lamanya.
Untuk mempersiapkan masa depan yang penuh harapan (kebahagiaan), perhatikan tiga nasehat Rasul Paulus dalam Efesus 5:15-16 dan Kolose 3:2, yaitu : pertama, perhatikan dengan sesaksama bagaimana kita hidup, kedua pergunakan waktu yang ada dan ketiga, pikirkanlah perkara  yang diatas, bukan yang dibumi. Dengan pelayanan terbih dahulu, karier atau bekerja dan berkeluarga, akan hidup sejahtera dan bermakna bagi sesama. Anonim berkata: “Saya belajar bahwa tidak ada cara instan di dunia ini, semua butuh proses dan metode, kecuali saya ingin kecewa”.



Kebahagiaan  adalah Iman
Oleh Vic. Timotius Sukarman, M.Th

“Besar kecilnya kesuksesanmu ditentukan oleh besar kecilnya keyakinanmu”.  David J. Schwartz

Tuhan menciptakan manusia bukan untuk dibuat menderita, atau dibuat permainan agar menderita. Tuhan menghendaki agar manusia hidup berbahagia. Sebelum Allah menciptakan manusia, Ia terlebih dulu menciptakan langit dan bumi dengan segala isinya supaya manusia dapat hidup berbahagia diatasnya. Kebutuhannya telah disediakan disana. Manusia diperbolehkan mengolah alam menurut kebutuhan dan kepentingannya. Ia berkuasa atas ikan dilaut, burung-burung di udara dan segala binatang di darat. Allah juga memberikan kekuatan kepada manusia untuk melaksanakan tugas itu. Manusia diangkat menjadi penguasa dan wakil Allah atas segala cipataan-Nya. Ini berarti manusia diminta untuk melakukan tugas kebudayaan dan pembangunan. Manusia harus bertanggung jawab atas tugas yang diterima itu. Tanggung jawab yang diterimannya itu harus dinyatakan melalui hidupnya sehari-hari,  baru bisa bahagia.
Supaya kebahagiaan manusia dapat terwujud, Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan. Allah memberikan Hawa kepada manusia pertama Adam dan memberikan nama Hawa untuk manusia laki-laki, sebagia suami istri. Mereka saling menolong  didalam tugas yang diserahkan Tuhan. Manusia tidak dapat hidup sendiri, ia selalu berteman dengan sesamanya manusia. Menurut Kitab Kejadian 1:28-30, respon manusia supaya berbahagia adalah dengan: Beranak cuculah dan bertambah banyak; Memenuhi bumi dan menaklukkannya; dan  berkuasa atas segala binatang;Mengusahakan makanannya dari tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan pohon yang buahnya berbiji.
Sekali lagi untuk kebahagiaan manusia, disamping manusia diciptakan dengan istimewa, diciptakan pada hari keenam (setelah segala sesuatu diciptakan untuk kebutuhan hidupnya)  dan dengan tugas-tugasnya seperti tersebut diatas,  untuk kebaikan kebahagiaan manusia Allah juga:
1.      Mengingatkan manusia akan sesuatu yang dapat menyusahkannya, dengan dilarang makan buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat.
2.      Allah mengaruniakan kebebasan kepada manusia, namun kebebasan ini bertujuan untuk mempererat hubungan yang damai, hikmat, dan mesra.
Semua ciptaan Allah dari hari pertama sampai hari keenam sangat baik, indah, dan sempurna. Seperti yang dikatakan dalam Alkitab, bahwa Allah melihat segala ciptaan-Nya itu sunguh amat baik (Kej 1:30).  Setiap ciptaan Allah memiliki manfaat masing-masing. Allah telah mengatur semuanya secara rapi dan teratur, sesuai dengan manfaat dan kebutuhannya.  Misalnya, sebelum Allah menciptakan tumbuhan, Allah telah menyediakan terang, air dan tempat tumbuhan supaya  bisa hidup, yaitu daratan.
Sebelum Allah menciptakan burung pada hari kelima, supaya burung itu bisa hidup, maka Allah telah menyediakan tempatnya yaitu, langit, pohon-pohonan sebagai makanannya dan sebagainya. Begitu juga sebelum Allah menciptakan manusia, Allah telah menyediakan tempat dan segala kebutuhan hidupnya, sehingga manusia dapat hidup dan berbahagia.
Disamping Allah sanggup atau mampu untuk menciptakan  sesuatu kebahagiaan bagi manusia, Dia juga mempunyai mewenang atas sesuatu untuk menentukan, mengurus ciptaan-Nya itu. Sumber kebahagiaan hanya ada pada Tuhan. Dengan demikian, menghayati hidup yang bahagia, adalah menghadirkan Sumber Kebahagiaan itu ke dalam iman kita, ke dalam sanubari kita. Dengan demikian, Tuhanlah yang bekerja di dalam hidup kita untuk memberikan kebahagiaan dalam keadaan apapun.


Kebahagiaan Sejati
Dari apa yang  saya sampaikan sekilas tentang kemungkinan besar manusia dapat hidup bahagia, bahkan kebahagiaan di dalam Tuhan sebagai sumber kehidupan dan kebahagiaan sejati. Kebahagiaan sejati bukan lagi ditentukan oleh hal-hal yang berada di luar, tetapi ditentukan oleh yang di dalam, yaitu hati yang beriman kepada Tuhan. Hati yang sungguh bahagia tidak lagi ditentukan oleh gagal atau berhasil, untung atau rugi, menerima atau kehilangan, memiliki atau tidak memiliki. Kebahagiaan adalah soal hati yang tetap mengatakan “bahagia dalam keadaan apapun”.   Jadi kebahagiaan soal  keputusan karena iman, bukan karena akal atau pikiran kita, keadaan kita, apalagi materi yang  kita miliki. Perhatikan kata orang bijak ini: “Jika Anda mengejar materi, materi itu akan membuat Anda sengsara. Tetapi jika Anda mengejar kebahagiaan, materi akan mengikuti”.
Dengan demikian, kekuatan untuk dapat menghayati kebahagiaan, bukan berasal dari kekuatan kemanusiaan semata, akan tetapi, justru kekuatan Tuhanlah yang menjadi sumber kebahagiaan itu. Pada saat kita menerima keberuntungan, dengan kekuatan-Nya, kita bersyukur. Sebaliknya, pada saat menerima kemalangan, dengan kekuatan-Nya kita tetap teguh berdiri.  Kebahagiaan adalah soal persekutuan hati kita dengan Tuhan. Semakin dapat menghayati kasih Tuhan kepada diri kita, akan semakin merasakan kebahagiaan hidup yang sejati. Oleh karena itu, kebahagiaan tidak lagi ditentukan oleh pihak lain. Tidak lagi ditentukan oleh berhasil memiliki atau tidak. Memang, berhasil memiliki atau menguasai sesuatu yang kita inginkan merupakan kebahagiaan tersendiri. Akan tetapi, bukan berarti jika tidak berhasil memiliki, disebut tidak berbahagia.
Dalai Lama, dalam bukunya yang berjudul “Seni Hidup Bahagia”, menyatakan, “Yang lebih dapat diandalkan adalah tidak memiliki yang kita inginkan, tetapi menghargai yang kita miliki”; mensyukuri dan menikmati yang sudah diberikan Tuhan kepada kita. Bahkan ada seseorang yang berani mengatakan dengan iman, bahwa “aku bahagia, jika aku dapat membahagiakan orang lain” dan sebaliknya, dirinya akan merasa tidak bahagia, jika dalam hidupnya menyusahkan atau membuat orang menderita. Maka kebahagiaan akan terwujud dalam dirinya, apabila salah satunya dapat menyangkal  diri demi kepentingan orang lain. Mengesampingkan kebutuhan dan keinginan sendiri demi kebahagiaan orang lain.
Rasul Paulus sebagai contoh dalam memberi berkata kepada jemaat Korintus, akan lebih bahagia memberi dari pada menerima. “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul  20:35)


Kebenaran kepada Kebahagiaan
Memang tidak dapat dimungkiri, dunia ini menjadi sarana kebahagiaan hidup manusia. Akan tetapi, jika dilakukan dengan tidak benar, dunia ini akan menjadi sumber penderitaan atau malapeta bagi  manusia. Kenikmatan duniawi salah satu kebahagiaan manusia. Akan tetapi, jika kenikmatan itu dicari dengan tidak benar dan tidak baik, kenikmatan itu akan menjadi malapetaka.
Contoh dari orang-orang yang memilki jabatan, kesempatan, kebebasan dan harta yang banyak. Tetapi karena cara mendapatkannya dengan cara yang tidak benar, tidak baik dan menyalahi prosedur,  maka pada akhirnya, bukan kebahagiaan yang dirasakan, tetapi penderitaan demi penderitaan.  
Apapun juga, jalan kebenaran menjadi syarat utama kebahagiaan. Meskipun harus menerima penderitaan, jalan kebenaran tetap akan menjanjikan kebahagiaan. Harus menjadi keyakinan orang beriman, jika kita setia berjalan di jalan kebenaran; berjalan dalam jalan atau kehendak Tuhan; yang hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya (Mazmur 128:1), Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita. Jika kita tetap berpegang teguh kepada kebenaran, Tuhan akan senantiasa menguatkan dan memberikan kebahagiaan hidup tersendiri.
Persoalannya, sering kita tidak sabar, suka menggunakan jalan pintas, tidak peduli dengan kebenaran. Ketika melihat orang lain berhasil mendapatkan pekerjaan atau menduduki jabatan tertentu karena menyuap, mendapatkan harta banyak karena korupsi, karena manipulasi, kitapun kemudian tergoda untuk mengikuti jalan seperti itu. Kita tidak peduli, apakah itu benar atau salah, yang penting berhasil. Bahkan ada orang tua yang terang-terangan berkata kepada anaknya yang akan melamar pekerjaan, “Anakku, kamu tidak usah takut. Bapak punya koneksi, punya relasi atau hubungan yang  kuat, dan bapak sudah menyiapkan uang untuk itu. Bapak yakin, dengan koneksi dan uang yang cukup, kamu akan berhasil”.
Barangkali, kenyataan hidup di sekitar kita memang  demikian. Yang berhasil adalah yang punya uang dan punya koneksi atau hubungan yang dekat dengan orang-orang yang “hebat”. Akan tetapi, orang yang takut akan Tuhan, tidak boleh menyerah dan mengikuti arus seperti itu. Orang beriman harus yakin bahwa kebenaran, kejujuran, dan keadilan pasti akan menang. Orang beriman harus juga mempunyai pengharapan, ditengah-tengah “kegelapan”, pasti ada sinar terang, meskipun hanya sebuah lilin. Seperti yang dialami nabi Mikha. Dia tetap menunggu, berharap dan percaya bahwa Tuhan akan mendengarksan doanya. Bakhan dengan yakin ia katakan : “.....Sekalipun aku jatuh, aku akan bangun pula, sekalipun aku duduk dalam gelap, TUHAN akan menjadi terangku.(Mikha 7:7-8).
Jadi walaupun kelihatannya kita hidup dalam suasana muram, tetapi pasti ada sinar kebenaran. Orang beriman diberkati karena mengandalkan Tuhan dan menaruh harapan masa depan itu hanya kepada Dia. Perhatikan penyataan iman  Nabi Yeremia ini: “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah”.
Selanjutnya kepada orang yang tidak mengandalkan Tuhan, Yeremia berkata:”Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya." Seperti ayam hutan yang mengerami yang tidak ditelurkannya, demikianlah orang yang menggaruk kekayaan secara tidak halal, pada pertengahan usianya ia akan kehilangan semuanya, dan pada kesudahan usianya ia terkenal sebagai seorang bebal”. (Yeremia 17:7-11)
Semua orang menghendaki hidup bahagia. Kebahagiaan yang ditentukan oleh dunia ini hanya akan menjadikan manusia menjadi sengsara. Kebahagiaan sejati adalah “merdeka” dari rongrongan nafsu manusiawi. Kebahagiaan sejati adalah mendahulukan Tuhan, dalam hidup kita dengan pelayanan, berkarier dan keluarga dengan dasar kasih, kemudian taat dan mengikuti jalan kebenaran yang ditunjukkanNya. Mari kita prioritaskan yang utama, hadirkan  Tuhan di dalam kehidupan keluarga, pelayanan dan karier. Arahkan hidup keluarga kita mengikuti kebenaran Tuhan. Jika kita konsekuen terhadap kebenaran ini, dan mau mencobanya, kebahagiaan sejati akan menjadi milik kita, kini dan selama-lamanya.
Untuk mempersiapkan masa depan yang penuh harapan (kebahagiaan), perhatikan tiga nasehat Rasul Paulus dalam Efesus 5:15-16 dan Kolose 3:2, yaitu : pertama, perhatikan dengan sesaksama bagaimana kita hidup, kedua pergunakan waktu yang ada dan ketiga, pikirkanlah perkara  yang diatas, bukan yang dibumi. Dengan pelayanan terbih dahulu, karier atau bekerja dan berkeluarga, akan hidup sejahtera dan bermakna bagi sesama. Anonim berkata: “Saya belajar bahwa tidak ada cara instan di dunia ini, semua butuh proses dan metode, kecuali saya ingin kecewa”.

Rumah Kebun Organik



RUMAH KEBUN ORGANIK  

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiLtKR5WWfX-BCtKtXlECCPHKhFt69C4BmoSqSZ9x7-GvvkYboQcQ_bMLtrnf-2Rhb16aaIvUHWdTnPw77fP0w2z31o64_Q1t2kQK1_A1Y1TP1C7uJllrhtVizXcu_SLHCFNVpQT4bfh4E/s320/Picture1.jpg

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhnQTVwQDODB6GANARzBgJEgWICOgBYAoXO0Ni_LQUmJRIM2CjveeUOzKzh3foEyBKT1cfU0qDwgk5K3_cXRc6cQxJNU-fziBON9de9ym9xXGvZspsOng9O3ewKtqzk6VXx8scTAjtIyGQ/s320/Picture2.png


RUMAH KEBUN “Karang Kitri” Organik bisa jadi menjadi pilihan pemilik setiap  rumah tangga. Mereka  akan lebih  senang ketika pulang kerja atau  menikmati hari libur di rumah.  Suasana akan nyaman, segar dengan teras dan halaman yang  didominasi tanaman sayuran, pohon buah-buahan   yang tidak terlalu rindang.
Konsep rumah kebun  pada umumnya bangunan rumah dibuat lebih kecil, dibanding dengan luas tanahnya, bagus  dan mahal. Barang dan  tanaman pun yang mahal-mahal dan lokasinya di kota besar seperti di Bandung dan Bogor.  Namun menurut saya, untuk kota Salatiga, Ambarawa, Kopeng, Magelang   dan sekitarnya Rumah Kebun masih menjadi impian setiap pemilik rumah, apalagi jika sisa tanah yang  dibangun rumah masih cukup, dengan udara yang masih sejuk dan kesediaan air yang cukup.  Tak ayal, dengan lahan hijau yang tidak terlalu  luas, kualitas hidup pun lebih terjamin.
Konsep rumah kebun sebenarnya merupakan pemanfaatan lahan yang ada di sekitar rumah tempat tinggal dimaksimalkan supaya mendapatkan nilai lebih. Tren rumah kebun pun sebenarnya sudah ada sejak dulu, namun hanya sebagian kecil yang memulainya. Kalau dulu ada istilah, “tanaman obat keluarga”,  nanum sekarang kebun bukan hanya untuk tamanan obat, tetapi menjadi kebun sayuran dan bahkan buah-buahan. Penghuni rumah juga dapat menanam berbagai jenis tanaman lain berikut dengan elemen pelengkapnya. Tak jarang, sejumlah orang mengaplikasikan gazebo di kebun tersebut. Lokasi rumah kebun biasanya terdapat di Kota besar seperti Bandung, Bogor  atau kawasan berhawa sejuk, namum seiring perkembangan zaman, saat ini rumah kebun dapat diaplikasikan di kota-kota kecil seperti di Salatiga, Ambarawa, Magelang dan sekotarnya   yang udaranya tidak jauh berbeda dengan udara di Bandung dan Bogor.

Apakah Manfaat Rumah Kebun?
Pemanfaatan rumah kebun tidak hanya berfungsi sebagai penyalur sirkulasi udara yang baik untuk rumah dan penghuninya. Bagi sejumlah pemilik rumah kebun, banyak yang menjadikan area kebunnya sebagai mata pencaharian baru. Misalnya, pohon-pohon produktif pembibitan buah dan sayuran,  kebun  sayuran yang   hasilnya dapat dijual. Bagi Anda yang gemar memelihara ikan, diantara tanaman buah atau sayuran dapat di buah kolam dengan media plastik atau terpal. Tanah galian kolam diangkat untuk media dalam pot. Saat  panen hasilnya bisa dijual pada pedagang ikan atau ke konsumen langsung dengan harga lebih tinggi. Pemanfaatan lain, area kebun dapat juga sebagai sarana santai di rumah dan pembelajaran bagi anak-anak kita di kemudian hari.

Yang Harus Dipersiapkan!
Sebelum mengaplikasikan rumah kebun, ada beberapa pertimbangan yang patut Anda perhatikan, yang pertama adalah lahan, kedua  air dan kelembaban udara, serta tanaman yang cocok untuk daerah tersebut. Lahan menjadi penting sekalipun sebetulnya rumah kebun tidak harus membutuhkan lahan yang luas. Unsur pendukungnya pun tidak hanya berkaitan dengan tanaman-tanaman yang mahal, tetapi tanaman biasa saja.  Dalam hal ini si pemilik dapat memilih jenis tanaman yang dapat menghasilkan, seperti jenis tanaman sayuran, tanaman buah dalam pot, anggrek, stroberry. Tanaman-tanaman tersebut dapat diperbanyak sehingga jadi seperti kebun anggrek, kebun stroberry dan kebun sayuran. Unsur pelengkap lain bisa ditambahkan kolam ikan dan gazabo untuk pengunjung dan jika perlu atau patung. Tapi dengan catatan, penataannya harus ideal, sesuaikan dengan luas tanah dan jenis tanaman.
Hal penting kedua adalah iklim yang ada di wilayah tersebut. Sebab berhubungan dengan jenis tanaman apa yang tepat diletakkan di kebun tersebut.  “Karakter tanaman tentu berbeda-beda, ada yang cocok di iklim dingin ada juga yang tidak”. Pada umumnya  udara di Salatiga dan sekit5arnya masih sejuk,  dibandingkan dengan kota-kota lainnya. Salatiga terletak pada dataran tinggi ( 600 meter  di atas permukaan laut), dengan udara yang sejuk. Dikelilingi dengan beberapa gunung (Gunung Merbabu, Telomoyo dan Gunung Gajah Mungkur). Disetiap pinggir kota masih banyak kebun dengan tanaman keras dan hamparan sawah dengan aliran irigasinya maupun tadah hujan. 
Yang terakhir adalah kesediaan air. Air bagi tanaman adalah  kebutuhan pokok. Jika lahan sudah tersedia air, berarti rumah kebun telah  ideal bagi tanaman yang ada di kebun tersebut. Bisa jadi dengan kesediaan air yang cukup, iklim atau udara disekitar kebun dapat diabaikan, karena dengan tersedianya air, bisa dengan Green House, Need house, tabula pot mulsa  plastik yang lebih presentatif. Jika curah hujan kurang,  penyiraman tanaman pun bisa maksimal.
Hal penting yang harus didahulukan sebelum memulai membuka rumah kebun adalah apakah anggota  dalam satu rumah, ada satu atau lebih mempunyai hobby  berkebun,  misalnya sang nyonya rumah atau salah satu anaknya. Jika tidak ada,  jangan melangkah satu langkah pun untuk memulai apalagi bermimpi punya kebun diantara rumah Anda.
Rumah kebun juga bisa dilengkapi dengan binatang biaraan, binatang ternak  seperti kambing, kelinci,  dan ayam kate, ayam petelur dengan sekala keluarga (kurang dari 100 ekor). Dengan demikian Rumah Kebun Organik yang selama ini kita idam-idamkan niscaya akan terwujud.  Binatang ternak bisa makan sisa-sisa hasil tanaman yang tidak terjual dan ternak dapat menghasilkan kompos (pupuk kandang), untuk penyubur  tanaman.  Air ikan dalam kolam dan ikan busuk serta  pepaya yang sudah tidak layak dikonsumsi bisa diprementasi dengan gula aren atau gula jawa dan tetes tebu akan  menjadi pupuk yang dapat menyuburkan hampir semua tanaman.
Sedangkan pengendalian hama tanaman, misalnya ulat, semut dan jamur  dapat cegah atau dibasmi secara sederhana dengan air sirih,  dan sabun deterjen, dengan cara disemprotkan pada tanaman satu minggu satu kali. Tunggu apa lagi?
Permasalahan yang terjadi pada umumnya adalah pemilik rumah kurang memahami tata cara berkebun buah dan sayuran dan malas dalam menggunakan waktu senggang. Sehingga banyak  lahan kosong yang  tidak dimaanafaatkan secara maksimal. Tak ayal,  jika ada tanaman pun tumbuh tidak bagus, seperti rumah tidak ada penghuninya.  Alasan tidak ada waktu merupakan aplikasi dari kemalasan yang tanpa alasan, karena Tuhan kasih waktu yang sama dan cukup untuk kita.  Jika hanya kurang memahami tata cara bertanam, banyak buku-buku penuntun dan pengalaman orang lain menjadi guru dan teladan. Kami juga siap untuk mengadakan pelatihan tanaman sayuran organik, serta pembuatan pupuk kompos, penyubur  dan pengendalian tanaman. Yang penting ada kemauan. Namun jika tidak ada kemauan,  parti tidak ada jalan. 
Kepada para pembaca yang tertarik ingin memanfaatkan lahan pekarangan disekitar rumah secara maksimal menjadi rumah kebun, ada tanaman buah-buahan dan sayuran dapat kunjungi Google : ketik Rumah Kebun  atau langsung ke kebun kami, niscaya kebutuhan tanaman buah maupun sayur-sayuran pada kebun  Anda ada pada kami.   Jika Anda berkunjung ke salatiga, mampir di Warung Organik di jalan Sukowati, sebelah timur Lapangan Pancasila atau Depan Kantor Wali Kota Salatiga.
Picture 075Apabila lokasi atau tempat tinggal Anda kesulitan air bersih, saya akan membantu mencarikan sumber atau aliran air bawah tanah, sehingga rumah kebun Anda tidak ada masalah ketika menghadapi musim kemarau panjang.  Tanaman akan tetap tumbuh dengan subur dan panen setiap saat. Semoga bermanfaat.  Selamat Mencoba!





Oleh: Ev. Timotius Sukarman, S.PAK, M.Th
Alamat Lengkap:
Bancaan  RT 01 RW 05, Sidorejo Lor,  Salatiga.
Hp. 085229616816