Bagaimanakah kita, khususnya di dalam gereja, dapat memberi dukungan kepada para pemimpin yang kita perlukan di kelas-kelas anak-anak, pemuda, dewasa dan bagi keseluruhan pelayanan pendidikan Kristen? Dua kunci utamanya adalah orientasi yang efektif, dukungan, dan pelatihan yang terus-menerus.
ORIENTASI
Luangkan waktu bersama-sama dengan para pemimpin yang terpilih sebagai pemimpin bidang pendidikan, koordinator masing-masing kelas, pemimpin sekolah minggu, dan koordinator pelayanan kelompok kecil untuk mendiskusikan tanggung jawab, misi, tujuan-tujuan, dan rencana-rencana.
Berikan sebuah buku kepada para guru untuk dibaca, kemudian undanglah mereka untuk mengajukan pertanyaan dan mendiskusikan isi dari buku itu dalam sebuah pertemuan.
Rencanakan untuk mengadakan suatu pertemuan orientasi untuk para guru baru. Gunakan waktu ini untuk mengenal mereka dengan lebih baik, kemukakan misi dan tujuan-tujuan pendidikan kristen, memahami ciri-ciri tiap tahap usia dan membuat kesepakatan waktu untuk menyusun rencana dan ruangan. Masukkan pula ibadah di dalamnya. Sebagai bagian dari program orientasi, pertimbangkan hal-hal berikut ini.
1. Buatlah kesepakatan yang akan membantu para guru dan pemimpin pendidikan lainnya untuk memahami harapan yang ingin dicapai dan apa yang diharapkan dari mereka.
2. Sediakan buku pegangan yang berisi informasi mengenai prosedur, jadwal, sumber-sumber, rencana, sifat-sifat murid, penyusunan kelas, dan masalah-masalah lain. Anda bisa juga memasukkan ke dalamnya kartu-kartu ucapan selamat ulang tahun "Semoga cepat sembuh" dan "Kami merindukanmu" yang dapat digunakan guru di kelas mereka.
3. Undanglah tim guru untuk mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul, ditambah jadwal dan tanggung jawab dalam menyiapkan minggu pertama. Ini adalah waktu yang tepat untuk pembentukan tim!
4. Undanglah seorang guru untuk melihat kelas, bekerja sama dengan guru yang sudah berpengalaman dan menghadiri suatu seminar atau mengunjungi laboratorium sekolah.
DUKUNGAN DAN PELATIHAN YANG TERUS-MENERUS
Berikan kesempatan pelatihan dan dukungan untuk memenuhi kebutuhan para guru dan pemimpin pendidikan. Satu ukuran tidak sesuai untuk semuanya! Berikut beberapa ide yang bisa digunakan.
1. Buatlah rencana untuk memberikan penyegaran rohani bagi para guru. Mereka mungkin terlibat dalam kelompok pemuridan, persekutuan, atau persekutuan-persekutuan lainnya. Mulailah dengan kelompok pemahaman Alkitab dengan mendiskusikan ayat-ayat yang digunakan dalam kurikulum.
2. Sediakan sumber-sumber bahan yang bagus, misalnya "Dick Murray`s Teaching the Bible to Adults and Youth" (Abingdon Press, 1993), "Skill Abilities Books for Youth Leaders" (Abingdon Press, 1998), majalah-majalah, misalnya "Children`s Teacher" dan "Leader in Christian Education Ministries", dan sumber-sumber tersambung (online), misalnya "YouthNet".
3. Ajaklah para guru untuk mengikuti kursus pelatihan online (lihat Reporter Interactive, Jan. 26). Informasi lebih lengkap, kunjungi www.cokesbury.com.
4. Adakan seminar bagi para guru di gereja Anda. Beberapa gereja merencanakan pertemuan semancam ini pada hari Minggu pagi pada saat jam sekolah minggu, dengan mengganti atau mengadakan acara khusus untuk kelas-kelas di sekolah minggu.
5. Buatlah sumber bahan bagi para guru di perpustakaan gereja Anda dengan bahan-bahan yang dapat memerkaya para guru dan pengajaran mereka.
Jadikan pengembangan guru dan pemimpin yang baik sebagai prioritas dalam gereja Anda. Dalam semua kegiatan, komunikasi yang baik adalah kuncinya. Beberapa gereja lebih senang menggunakan surat elektronik (e-mail), yang lebih mudah dan cepat, sedangkan gereja lain lebih senang menggunakan telepon atau kartu pos.
*) Jean Foster adalah seorang pemimpin yang berijazah dalam bidang pendidikan dan pelayanan diakonia di Nashville. Artikel ini didasarkan pada artikel yang diterbitkan di majalah kepemimpinan. (t/Ratri)
Sumber:
· Sunday School It`s for Life!, http://sundayschool.cokesbury.com/content.aspx?dyn=377, Artikel Equipping Teachers and Leaders for Sunday School Classes oleh Jean Foster.
Minggu, 22 Agustus 2010
Krisis Perkembangan
Krisis perkembangan berkenaandengan suatu tuntutan hidup yang sukar dan berbahaya, yang lazim dialami oleh kebanyakan orang dalam budaya tertentu pada saat tertentu dalam perkembangan hidupnya. Hal itu dapat juga dikatakan sebagai perasaan tidak berdaya dalam menjalankan tuntutan-tuntutan perkembangan yang seharusnya diselesaikan pada tingkat hidup tertentu sebelum orang dapat berhasil menjalankan tuntutan perkembangan berikutnya. Krisis ini biasa, dalam arti krisis itu terjadi sebagai bagian integral dari suatu proses pertumbuhan. Contoh situasi yang dapat menimbulkan krisis jenis ini ialah : kelahiran, disapih (lepas susu ibu), latihan ke kamar kecil, kompleks odepus, ke sekolah, masa remaja, memilih pekerjaan, meninggalkan rumah, meninggalkan sekolah, pertunangan, penyesuaian diri dalam pernikahan, kehamilan, menjadi orang tua, usia tengah baya, kehilangan orang tua, mati haid (menopause), pensiun, kematian teman hidup, kematian teman-teman, kematiannya sendiri. Pengalaman-pengalaman itu adalah saat krisis bagi orang sejauh hal itu menimbulkan masalah yang tak dapat ditanggulangi secara memuaskan dengan cara-cara yang pernah digunakan.
Collins (1980, hal. 50) menyebut jenis krisis yang ketiga, yaitu krisis eksistensial (keberadaan). Krisis ini bertumpang tindih dengan dua jenis krisis sebelumnya, dan datang ketika menghadapi kenyataan yang mengganggu karena mengaburkan makna (tujuan dan kelayakan) hidup seseorang, seperti kesadaran bahwa : saya gagal, saya terlalu tua untuk mencapai tujuan hidup saya, saya telah kehilangan kesempatan, saya sekarang janda/ duda, hidup saya tanpa tujuan, pernikahan saya telah berakhir dengan perceraian, penyakit saya tak tersembuhkan, tidak ada lagi yang dapat saya percaya, rumah dan harta saya musnah karena kebakaran, saya telah pensiun, saya telah ditolak karena suku saya. Dapat dikatakan bahwa dalam hal ini orang tidak berdaya menghadapi kemungkinan terjadinya hal-hal yang bila benar-benar terjadi akan merusak integritasnya, keutuhannya, dan identitasnya. Atau bila orang tidak mampu mencegah kehilangan hal-hal yang memberinya makna hidup, yaitu segala sesuatu yang telah banyak diinventasikannya secara emosional.
Dalam tahap perkembangan krisis di atas jelas terlihat adanya kejadian pemicu timbulnya krisis. Kejadian ini tidak boleh dicampuradukkan dengan krisis itu sendiri sebab krisis adalah reaksi batin terhadap kejadian yang merupakan bahaya dari luar orang.
Dalam diagram berikut Stone menggambarkan pemisahan itu dan menyebutkan suatu tahap yang tidak tegas-tegas dinyatakan dalam pendapat Caplan. Menurut Stone perkembangan krisis ialah :
Diagram 1 – Perkembangan Krisis
Menurut diagram itu, dalam suatu perkembangan krisis, pertama-tama harus ada perangsang atau kejadian pemicu (faktor pencetus). Kejadian itu berbahaya dan membangkitkan emosi, misalnya : kematian, kehilangan pekerjaan, dan sebagainya. Tahap kedua ialah tafsiran seseorang atas situasi itu. Di sini orang itu “mengolah” kejadian tersebut dan memahaminya sebagai ancaman yang berat. Di sini bukan hanya meliputi pengetahuan dan kepercayaan, gagasan dan harapan orang itu, melainkan juga persepsinya yang unik atas unsur-unsur khusus dari situasi itu. Di sini setiap orang mempunyai cara sendiri-sendiri untuk memandang kejadian tertentu.
Pada tahap berikutnya, cara penanggulangan orang itu dan sumber daya pribadinya (yaitu sumber daya dari luar – misalnya : teman, relasi, pendeta, dokter, dan sumber daya dari dalam – misalnya : kemampuan menanggulangi dan menghadapi situasi, masalah, dan perasaan-perasaan baru), dipakai untuk melakukan sesuatu atas pemahamannya mengenai kejadian itu.
Di sini kelayakan sumber daya dan cara penanggulangan yang tersedia mempengaruhi sampai sejauh mana kejadian yang dialami itu menjadi krisis. Jika orang menganggap suatu motif atau nilainya yang penting terancam, maka kegiatan penanggulangan digerakkan atas dasar ancaman itu, dan atas dasar pemahaman bahwa hidupnya, kesehatannya, kekayaannya, atau hubungan sosial yang disenanginya dalam bahaya. Jadi, tujuan penanggulangan adalah penyingkiran ancaman itu. Sampai pada tahap ini tampak bahwa dua variabel, yaitu sumber daya penanggulangan dan tafsiran atas situasi itu berperan besar dalam proses perkembangan krisis.
Akhirnya orang itu masuk ke dalam krisis itu sendiri, yaitu memberikan reaksi secara batin atas bahaya yang datang. Kunci perkembangannya ialah bahwa proses penafsiran orang itu (pemahamannya) dalam menganggap kejadian itu sebagai ancaman gawat dan proses penanggulangan tidak segera menyelesaikan situasi tersebut. Reaksi itu berlangsung cukup lama. Krisis yang berat dapat berakhir dalam empat sampai enam minggu, walaupun akibatnya mungkin bertahun-tahun, khususnya dalam perkabungan.
Jadi berbicara mengenai krisis menurut pendapat di atas bukan berbicara mengenai kejadian di luar diri seseorang, walaupun kejadian seperti itu ada yang menjadi pemicu krisis.
Berdasarkan dua pendapat di atas kita dapat memahami perkembangan krisis secara lebih lengkap dan rinci seperti tergambar pada Diagram 2.
Dalam diagram itu terlihat bahwa perkembangan krisis sejak sebelum terjadi sampai kemungkinan-kemungkinan akibatnya, yaitu :
Pada suatu saat di perjalanan hidupnya, seseorang menyadari terjadinya atau akan terjadinya suatu peristiwa. Peristiwa itu mungkin peristiwa yang benar-benar terjadi atau hanya khayalan belaka, mungkin sudah terjadi, mungkin juga dianggap akan terjadi, mungkin sudah dapat diduga sebelumnya, atau tiba-tiba saja terjadi. Peristiwa yang jelas yang berpotensi menimbulkan krisis itu adalah peristiwa yang menuntut perubahan persepsi dan hubungan-hubungan, atau yang menuntut perubahan gaya hidup.
Pada tahap kedua, orang itu memandang peristiwa itu, baik secara rasional atau tidak rasional, sebagai peristiwa yang membahayakan atau tidak membahayakan. Jika ia memandangnya tidak membahayakan, maka tidak terjadi masalah. Tetapi, jika ia memandangnya sebagai peristiwa yang membahayakan, maka ia menyadari akan adanya masalah. Ia mengalami ketidakseimbangan jiwa karena terancam oleh kemungkinan hilangnya hal-hal yang selama ini memenuhi kebutuhannya dan menyenangkannya. Ia menyadari adanya ancaman terhadap keutuhannya sebagai pribadi.
Selanjutnya, orang itu lalu mengerahkan segala daya dan cara yang telah dimilikinya untuk menanggulangi ketidakseimbangan itu. Jika ia berhasil dan cara itu sehat, maka berlalulah masalah itu dan ia kembali dalam keadaan seimbang.
Tetapi, jika hal itu tidak berhasil, maka timbullah krisis itu, yaitu suatu perasaan tak berdaya dalam menanggulangi ancaman yang datang. Jika cara itu tidak sehat, untuk sementara krisis tidak terjadi, tetapi lama-kelamaan akan timbul juga. Bisa juga orang itu belum atau tidak berusaha menanggulangi ancaman dan langsung menyerah, dan krisis itu segera terjadi.
Dengan adanya krisis itu orang mengerahkan daya dan cara yang baru untuk menghadapinya. Jika cara yang baru itu sehat dan berhasil mengatasi krisis, maka pulihlah keseimbangannya. Krisis itu bukan saja berlalu, melainkan ia juga mengalami pertumbuhan sebab bertambahnya perbendaharaan cara dan daya yang dimilinya untuk menghadapi masalah dalam hidupnya. Melaui rasa tidak aman, gangguan, keterasingan, bahaya, kesepian, kebingungan, kepedihan hati, dan penderitaan, ia mengalami pertumbuhan pribadi.
Jika ia tidak dapat memecahkan masalah itu dengan segala daya dan upayanya, maka keadaan bisa menjadi makin parah. Orang itu mungkin menjadi sakit jiwa atau bunuh diri karena menurutnya itulah satu-satunya cara untuk lari dari krisis sampai tidak terkejar. Mungkin juga ia menggunakan cara yang tidak sehat untuk menghadapi krisis. Dengan demikian kelihatannya ia berhasil, tetapi sesungguhnya hanya meredakan situasi untuk sementara. Lambat atau cepat krisis akan muncul kembali dan terasa semakin parah. Jika pada akhirnya, situasinya masih juga tidak dapat diatasi, akibatnya ialah sakit jiwa atau bunuh diri.
Apakah perubahan hidup akan menjadi krisis atau tidak dan apakah krisis itu terselesaikan atau tidak ditentukan juga oleh kondisi orang yang mengalaminya. Menurut Wright, orang yang mudah kena krisis dan sulit menghadapi krisis memiliki delapan ciri. Yang pertama, mereka kewalahan terhadap krisis karena sebelum krisis memang emosinya lemah; daya psikologis tidak cukup kuat untuk menghadapi kesulitan-kesulitan hidup secara tegar sehingga mudah bingung, khawatir, takut, menyerah, dan putus asa. Yang kedua, mereka yang keadaan fisiknya lemah/ sakit-sakitan. Ini berkaitan dengan keadaan psikologis yang lemah. Fisik yang lemah dapat menimbulkan kelemahan psikologis dapat menyebabkan kelemahan fisik.
Ciri yang ketiga ialah, mereka yang menyangkal realitas atau kenyataan. Realitas atau kenyataan pemicu krisis itu ada yang tidak dapat diatasi dan semuanya pasti tidak dapat langsung diatasi. Jadi diperlukan penerimaan sementara atau bahkan selamanya agar tidak terjadi krisis. Makin sulit orang menerima kenyataan, makin rentan orang terhadap krisis. Dan yang keempat, mereka yang suka tergesa-gesa atau sebaliknya, mengulur-ulur waktu. Yang suka tergesa-gesa, berhubungan dengan ciri butir tiga. Ia tidak sabar untuk menerima kenyataan itu sementara dan akan mempermudah terjadinya krisis. Yang suka mengulur-ulur pun dapat mempermudah krisis, yaitu karena ia menunda-nunda menyelesaikan masalah atau mencari pertolongan. Berupaya sendiri menyelesaikan masalah memang baik, tetapi akan menjadi buruk bila ia tidak mampu dan terlambat mendapat bantuan.
Berikutnya ialah mereka yang bergumul dengan rasa bersalah secara berlebihan. Bila peristiwa pemicu krisis itu menimbulkan rasa bersalah yang berlebihan dan sulit dihilangkan, maka ia akan mudah mengalami krisis. Di sini penyebabnya adalah rasa bersalah itu. Ciri yang keenam, mereka yang suka menyalahkan orang lain. Ia kurang mampu bertanggung jawab atas peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya sehingga selalu mencari penyebabnya pada orang lain sehingga ia tidak bisa proaktif menanggulangi peristiwa-peristiwa pemicu krisis. Akibatnya kemampuan baru untuk menghadapi peristiwa itu terhambat munculnya dan krisis mudah dialami.
Dua ciri yang terakhir, ialah mereka yang cenderung terlalu bergantung pada orang lain atau terlalu mandiri. Mereka yang terlalu bergantung kepada orang lain, selalu ingin orang lain menghadapi masalahnya sehingga tidak akan punya kemampuan baru untuk menghadapi peristiwa pemicu krisis. Sebaliknya, orang yang terlalu mandiri tidak merasa perlu pertolongan sementara atau dukungan untuk menghadapi peristiwa pemicu krisis. Dengan kedua kecenderungan ini orang mudah terkena krisis. Dan akhirnya, mereka yang kurang percaya akan kedaulatan dan pemeliharaan Allah. Orang yang tidak percaya bahwa Allah selalu baik dan selalu punya maksud-maksud baik terhadapnya, setia, tidak pernah berkhianat akan mudah memiliki penafsiran negatif terhadap peristiwa-peristiwa buruk yang dialaminya. Padanya mudah timbul perasaan-perasaan krisis. Sebaliknya; orang yang berkepercayaan teguh bahwa Allah yang selalu baik itu berdaulat atas segala peristiwa dan memelihara anak-anakNya melewati segala peristiwa akan dapat menghadapi peristiwa buruk dalam kehidupannya.
Di samping itu ada pula faktor-faktor yang ikut mempengaruhi krisis. Yang pertama, adalah daya pemahaman. Orang yang cukup punya daya pemahaman akan dapat melihat akibat-akibat suatu peristiwa secara wajar, tidak akan menerima suatu peristiwa sebagai sesuatu yang nyata bila tidak benar-benar terjadi, dan mudah menerima kenyataan. Ia akan dapat memanfaatkan perbendaharaan kecakapannya dengan baik bahkan dapat lebih mudah memunculkan kecakapan baru dalam menghadapi peristiwa yang berpotensi memicu krisis.
Di samping daya pemahaman, yang tak kalah pentingnya ialah jaringan penopang, yaitu orang-orang yang mempunyai hubungan yang erat dengan dia, misalnya : keluarga, tetangga, teman segereja, rekan seprofesi, dan tentunya penolong profesional. Oran gyang punya jaringan penopang yang luas, akan tidak mudah mengalami krisis. Jaringan penopang itu akanmembantunya menghadapi peristiwa-peristiwa kehidupan sehingga itu tidak sempat memicu krisis.
Faktor ketiga yang ikut mempengaruhi krisis ialah mekanisme penanggulangan. Mekanisme penanggulangan yang realistis (tidak menyangkal adanya peristiwa dan tidak lari dari peristiwa) dan konstruktif (tidak menimbulkan akibat sampingan yang merusak) akan mencegah timbulnya krisis.
Di samping ketiga faktor di atas, ada juga pengaruh waktu, yaitu saat terjadinya peristiwa pemicu krisis. Bila peristiwa itu terjadi ketika keadaan orang itu sedang lemah, maka krisis dapat mudah terjadi. Waktu dapat juga berarti lamanya peristiwa. Peristiwa yang berkepanjangan dapat lebih menimbulkan krisis daripada peristiwa yang sesaat, walaupun tidak selalu demikian.
Dan faktor yang terakhir adalah kerentanan. Hal ini berhubungan dengan waktu terjadinya peristiwa sebagaimana dijelaskan di atas. Ketika orang dalam keadaan rentan, misalnya : ketika sakit, tidak siap, atau baru mengalami kesulitan, ia akan mudah mengalami krisis.
Berbicara mengenai perubahan hidup yang dialami sebagai krisis, krisis itu sendiri terjadi dalam beberapa tahap, dan pada setiap tahap orang yang memerlukan pertolongan tertentu. Menurut Wright, tahap-tahap itu pertama adalah : Tahap terkena. Pada tahap ini, orang menanggapi krisis dengan melarikan diri atau melawan, kehilangan kesadaran, dan kehilangan arah; ia mencari “mutiara” yang hilang dan mengenangnya. Pada tahap ini ia memerlukan penerimaan perasaan.
Tahap berikutnya adalah tahap pengunduran diri dan kebingungan. Pada tahap ini orang merasa jengkel, bercampur takut dan rasa bersalah, dan gusar. Ia merasa tidak pasti dan gamang, belum sepenuhnya terlepas dari apa yang hilang, menarik diri, dan dengan kebingungan mengamat-amati keadaan. Pertolongan yang diperlukan adalah pengarahan berhubungan dengan tugas.
Bila tahap kedua sudah berlalu, tahap berikutnya adalah tahap penyesuaian. Pada tahap ini orang mulai memiliki pemikiran positif dan berupaya menyelesaikan masalah, mencari “mutiara baru” dan mulai melakukan penjajagan dengan penuh perhatian. Pertolongan yang diperlukan adalah dukungan dan wawasan rohani.
Dan tahap yang terakhir adalah tahap pembangunan kembali dan pendamaian. Ada harapan, konsolidasi untuk pemecahan masalah, hubungan kembali, dan pengujian realitas. Pertolongan yang diperlukan adalah terobosan penguatan harapan.
Collins (1980, hal. 50) menyebut jenis krisis yang ketiga, yaitu krisis eksistensial (keberadaan). Krisis ini bertumpang tindih dengan dua jenis krisis sebelumnya, dan datang ketika menghadapi kenyataan yang mengganggu karena mengaburkan makna (tujuan dan kelayakan) hidup seseorang, seperti kesadaran bahwa : saya gagal, saya terlalu tua untuk mencapai tujuan hidup saya, saya telah kehilangan kesempatan, saya sekarang janda/ duda, hidup saya tanpa tujuan, pernikahan saya telah berakhir dengan perceraian, penyakit saya tak tersembuhkan, tidak ada lagi yang dapat saya percaya, rumah dan harta saya musnah karena kebakaran, saya telah pensiun, saya telah ditolak karena suku saya. Dapat dikatakan bahwa dalam hal ini orang tidak berdaya menghadapi kemungkinan terjadinya hal-hal yang bila benar-benar terjadi akan merusak integritasnya, keutuhannya, dan identitasnya. Atau bila orang tidak mampu mencegah kehilangan hal-hal yang memberinya makna hidup, yaitu segala sesuatu yang telah banyak diinventasikannya secara emosional.
Dalam tahap perkembangan krisis di atas jelas terlihat adanya kejadian pemicu timbulnya krisis. Kejadian ini tidak boleh dicampuradukkan dengan krisis itu sendiri sebab krisis adalah reaksi batin terhadap kejadian yang merupakan bahaya dari luar orang.
Dalam diagram berikut Stone menggambarkan pemisahan itu dan menyebutkan suatu tahap yang tidak tegas-tegas dinyatakan dalam pendapat Caplan. Menurut Stone perkembangan krisis ialah :
Diagram 1 – Perkembangan Krisis
Menurut diagram itu, dalam suatu perkembangan krisis, pertama-tama harus ada perangsang atau kejadian pemicu (faktor pencetus). Kejadian itu berbahaya dan membangkitkan emosi, misalnya : kematian, kehilangan pekerjaan, dan sebagainya. Tahap kedua ialah tafsiran seseorang atas situasi itu. Di sini orang itu “mengolah” kejadian tersebut dan memahaminya sebagai ancaman yang berat. Di sini bukan hanya meliputi pengetahuan dan kepercayaan, gagasan dan harapan orang itu, melainkan juga persepsinya yang unik atas unsur-unsur khusus dari situasi itu. Di sini setiap orang mempunyai cara sendiri-sendiri untuk memandang kejadian tertentu.
Pada tahap berikutnya, cara penanggulangan orang itu dan sumber daya pribadinya (yaitu sumber daya dari luar – misalnya : teman, relasi, pendeta, dokter, dan sumber daya dari dalam – misalnya : kemampuan menanggulangi dan menghadapi situasi, masalah, dan perasaan-perasaan baru), dipakai untuk melakukan sesuatu atas pemahamannya mengenai kejadian itu.
Di sini kelayakan sumber daya dan cara penanggulangan yang tersedia mempengaruhi sampai sejauh mana kejadian yang dialami itu menjadi krisis. Jika orang menganggap suatu motif atau nilainya yang penting terancam, maka kegiatan penanggulangan digerakkan atas dasar ancaman itu, dan atas dasar pemahaman bahwa hidupnya, kesehatannya, kekayaannya, atau hubungan sosial yang disenanginya dalam bahaya. Jadi, tujuan penanggulangan adalah penyingkiran ancaman itu. Sampai pada tahap ini tampak bahwa dua variabel, yaitu sumber daya penanggulangan dan tafsiran atas situasi itu berperan besar dalam proses perkembangan krisis.
Akhirnya orang itu masuk ke dalam krisis itu sendiri, yaitu memberikan reaksi secara batin atas bahaya yang datang. Kunci perkembangannya ialah bahwa proses penafsiran orang itu (pemahamannya) dalam menganggap kejadian itu sebagai ancaman gawat dan proses penanggulangan tidak segera menyelesaikan situasi tersebut. Reaksi itu berlangsung cukup lama. Krisis yang berat dapat berakhir dalam empat sampai enam minggu, walaupun akibatnya mungkin bertahun-tahun, khususnya dalam perkabungan.
Jadi berbicara mengenai krisis menurut pendapat di atas bukan berbicara mengenai kejadian di luar diri seseorang, walaupun kejadian seperti itu ada yang menjadi pemicu krisis.
Berdasarkan dua pendapat di atas kita dapat memahami perkembangan krisis secara lebih lengkap dan rinci seperti tergambar pada Diagram 2.
Dalam diagram itu terlihat bahwa perkembangan krisis sejak sebelum terjadi sampai kemungkinan-kemungkinan akibatnya, yaitu :
Pada suatu saat di perjalanan hidupnya, seseorang menyadari terjadinya atau akan terjadinya suatu peristiwa. Peristiwa itu mungkin peristiwa yang benar-benar terjadi atau hanya khayalan belaka, mungkin sudah terjadi, mungkin juga dianggap akan terjadi, mungkin sudah dapat diduga sebelumnya, atau tiba-tiba saja terjadi. Peristiwa yang jelas yang berpotensi menimbulkan krisis itu adalah peristiwa yang menuntut perubahan persepsi dan hubungan-hubungan, atau yang menuntut perubahan gaya hidup.
Pada tahap kedua, orang itu memandang peristiwa itu, baik secara rasional atau tidak rasional, sebagai peristiwa yang membahayakan atau tidak membahayakan. Jika ia memandangnya tidak membahayakan, maka tidak terjadi masalah. Tetapi, jika ia memandangnya sebagai peristiwa yang membahayakan, maka ia menyadari akan adanya masalah. Ia mengalami ketidakseimbangan jiwa karena terancam oleh kemungkinan hilangnya hal-hal yang selama ini memenuhi kebutuhannya dan menyenangkannya. Ia menyadari adanya ancaman terhadap keutuhannya sebagai pribadi.
Selanjutnya, orang itu lalu mengerahkan segala daya dan cara yang telah dimilikinya untuk menanggulangi ketidakseimbangan itu. Jika ia berhasil dan cara itu sehat, maka berlalulah masalah itu dan ia kembali dalam keadaan seimbang.
Tetapi, jika hal itu tidak berhasil, maka timbullah krisis itu, yaitu suatu perasaan tak berdaya dalam menanggulangi ancaman yang datang. Jika cara itu tidak sehat, untuk sementara krisis tidak terjadi, tetapi lama-kelamaan akan timbul juga. Bisa juga orang itu belum atau tidak berusaha menanggulangi ancaman dan langsung menyerah, dan krisis itu segera terjadi.
Dengan adanya krisis itu orang mengerahkan daya dan cara yang baru untuk menghadapinya. Jika cara yang baru itu sehat dan berhasil mengatasi krisis, maka pulihlah keseimbangannya. Krisis itu bukan saja berlalu, melainkan ia juga mengalami pertumbuhan sebab bertambahnya perbendaharaan cara dan daya yang dimilinya untuk menghadapi masalah dalam hidupnya. Melaui rasa tidak aman, gangguan, keterasingan, bahaya, kesepian, kebingungan, kepedihan hati, dan penderitaan, ia mengalami pertumbuhan pribadi.
Jika ia tidak dapat memecahkan masalah itu dengan segala daya dan upayanya, maka keadaan bisa menjadi makin parah. Orang itu mungkin menjadi sakit jiwa atau bunuh diri karena menurutnya itulah satu-satunya cara untuk lari dari krisis sampai tidak terkejar. Mungkin juga ia menggunakan cara yang tidak sehat untuk menghadapi krisis. Dengan demikian kelihatannya ia berhasil, tetapi sesungguhnya hanya meredakan situasi untuk sementara. Lambat atau cepat krisis akan muncul kembali dan terasa semakin parah. Jika pada akhirnya, situasinya masih juga tidak dapat diatasi, akibatnya ialah sakit jiwa atau bunuh diri.
Apakah perubahan hidup akan menjadi krisis atau tidak dan apakah krisis itu terselesaikan atau tidak ditentukan juga oleh kondisi orang yang mengalaminya. Menurut Wright, orang yang mudah kena krisis dan sulit menghadapi krisis memiliki delapan ciri. Yang pertama, mereka kewalahan terhadap krisis karena sebelum krisis memang emosinya lemah; daya psikologis tidak cukup kuat untuk menghadapi kesulitan-kesulitan hidup secara tegar sehingga mudah bingung, khawatir, takut, menyerah, dan putus asa. Yang kedua, mereka yang keadaan fisiknya lemah/ sakit-sakitan. Ini berkaitan dengan keadaan psikologis yang lemah. Fisik yang lemah dapat menimbulkan kelemahan psikologis dapat menyebabkan kelemahan fisik.
Ciri yang ketiga ialah, mereka yang menyangkal realitas atau kenyataan. Realitas atau kenyataan pemicu krisis itu ada yang tidak dapat diatasi dan semuanya pasti tidak dapat langsung diatasi. Jadi diperlukan penerimaan sementara atau bahkan selamanya agar tidak terjadi krisis. Makin sulit orang menerima kenyataan, makin rentan orang terhadap krisis. Dan yang keempat, mereka yang suka tergesa-gesa atau sebaliknya, mengulur-ulur waktu. Yang suka tergesa-gesa, berhubungan dengan ciri butir tiga. Ia tidak sabar untuk menerima kenyataan itu sementara dan akan mempermudah terjadinya krisis. Yang suka mengulur-ulur pun dapat mempermudah krisis, yaitu karena ia menunda-nunda menyelesaikan masalah atau mencari pertolongan. Berupaya sendiri menyelesaikan masalah memang baik, tetapi akan menjadi buruk bila ia tidak mampu dan terlambat mendapat bantuan.
Berikutnya ialah mereka yang bergumul dengan rasa bersalah secara berlebihan. Bila peristiwa pemicu krisis itu menimbulkan rasa bersalah yang berlebihan dan sulit dihilangkan, maka ia akan mudah mengalami krisis. Di sini penyebabnya adalah rasa bersalah itu. Ciri yang keenam, mereka yang suka menyalahkan orang lain. Ia kurang mampu bertanggung jawab atas peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya sehingga selalu mencari penyebabnya pada orang lain sehingga ia tidak bisa proaktif menanggulangi peristiwa-peristiwa pemicu krisis. Akibatnya kemampuan baru untuk menghadapi peristiwa itu terhambat munculnya dan krisis mudah dialami.
Dua ciri yang terakhir, ialah mereka yang cenderung terlalu bergantung pada orang lain atau terlalu mandiri. Mereka yang terlalu bergantung kepada orang lain, selalu ingin orang lain menghadapi masalahnya sehingga tidak akan punya kemampuan baru untuk menghadapi peristiwa pemicu krisis. Sebaliknya, orang yang terlalu mandiri tidak merasa perlu pertolongan sementara atau dukungan untuk menghadapi peristiwa pemicu krisis. Dengan kedua kecenderungan ini orang mudah terkena krisis. Dan akhirnya, mereka yang kurang percaya akan kedaulatan dan pemeliharaan Allah. Orang yang tidak percaya bahwa Allah selalu baik dan selalu punya maksud-maksud baik terhadapnya, setia, tidak pernah berkhianat akan mudah memiliki penafsiran negatif terhadap peristiwa-peristiwa buruk yang dialaminya. Padanya mudah timbul perasaan-perasaan krisis. Sebaliknya; orang yang berkepercayaan teguh bahwa Allah yang selalu baik itu berdaulat atas segala peristiwa dan memelihara anak-anakNya melewati segala peristiwa akan dapat menghadapi peristiwa buruk dalam kehidupannya.
Di samping itu ada pula faktor-faktor yang ikut mempengaruhi krisis. Yang pertama, adalah daya pemahaman. Orang yang cukup punya daya pemahaman akan dapat melihat akibat-akibat suatu peristiwa secara wajar, tidak akan menerima suatu peristiwa sebagai sesuatu yang nyata bila tidak benar-benar terjadi, dan mudah menerima kenyataan. Ia akan dapat memanfaatkan perbendaharaan kecakapannya dengan baik bahkan dapat lebih mudah memunculkan kecakapan baru dalam menghadapi peristiwa yang berpotensi memicu krisis.
Di samping daya pemahaman, yang tak kalah pentingnya ialah jaringan penopang, yaitu orang-orang yang mempunyai hubungan yang erat dengan dia, misalnya : keluarga, tetangga, teman segereja, rekan seprofesi, dan tentunya penolong profesional. Oran gyang punya jaringan penopang yang luas, akan tidak mudah mengalami krisis. Jaringan penopang itu akanmembantunya menghadapi peristiwa-peristiwa kehidupan sehingga itu tidak sempat memicu krisis.
Faktor ketiga yang ikut mempengaruhi krisis ialah mekanisme penanggulangan. Mekanisme penanggulangan yang realistis (tidak menyangkal adanya peristiwa dan tidak lari dari peristiwa) dan konstruktif (tidak menimbulkan akibat sampingan yang merusak) akan mencegah timbulnya krisis.
Di samping ketiga faktor di atas, ada juga pengaruh waktu, yaitu saat terjadinya peristiwa pemicu krisis. Bila peristiwa itu terjadi ketika keadaan orang itu sedang lemah, maka krisis dapat mudah terjadi. Waktu dapat juga berarti lamanya peristiwa. Peristiwa yang berkepanjangan dapat lebih menimbulkan krisis daripada peristiwa yang sesaat, walaupun tidak selalu demikian.
Dan faktor yang terakhir adalah kerentanan. Hal ini berhubungan dengan waktu terjadinya peristiwa sebagaimana dijelaskan di atas. Ketika orang dalam keadaan rentan, misalnya : ketika sakit, tidak siap, atau baru mengalami kesulitan, ia akan mudah mengalami krisis.
Berbicara mengenai perubahan hidup yang dialami sebagai krisis, krisis itu sendiri terjadi dalam beberapa tahap, dan pada setiap tahap orang yang memerlukan pertolongan tertentu. Menurut Wright, tahap-tahap itu pertama adalah : Tahap terkena. Pada tahap ini, orang menanggapi krisis dengan melarikan diri atau melawan, kehilangan kesadaran, dan kehilangan arah; ia mencari “mutiara” yang hilang dan mengenangnya. Pada tahap ini ia memerlukan penerimaan perasaan.
Tahap berikutnya adalah tahap pengunduran diri dan kebingungan. Pada tahap ini orang merasa jengkel, bercampur takut dan rasa bersalah, dan gusar. Ia merasa tidak pasti dan gamang, belum sepenuhnya terlepas dari apa yang hilang, menarik diri, dan dengan kebingungan mengamat-amati keadaan. Pertolongan yang diperlukan adalah pengarahan berhubungan dengan tugas.
Bila tahap kedua sudah berlalu, tahap berikutnya adalah tahap penyesuaian. Pada tahap ini orang mulai memiliki pemikiran positif dan berupaya menyelesaikan masalah, mencari “mutiara baru” dan mulai melakukan penjajagan dengan penuh perhatian. Pertolongan yang diperlukan adalah dukungan dan wawasan rohani.
Dan tahap yang terakhir adalah tahap pembangunan kembali dan pendamaian. Ada harapan, konsolidasi untuk pemecahan masalah, hubungan kembali, dan pengujian realitas. Pertolongan yang diperlukan adalah terobosan penguatan harapan.
ELEMEN-ELEMEN IMAN KRISTEN
ELEMEN-ELEMEN IMAN KRISTEN
Oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.
Nats : Efesus 1: 15-23
Seorang Kristen sejati bukan seorang yang statis dan juga bukan orang yang sempurna. Seorang Kristen sejati adalah seorang yang terus berproses. Dari realita menuju ideal yang Tuhan inginkan. Memahami proses antara realita di sini dengan ideal di sana kita perlu mengerti elemen-elemen pertumbuhan. Hal ini dibicarakan oleh Paulus dalam Ef 1:15-23. Di dalam Ef 1:15-23 ini, kita menemukan enam elemen yang menjadi dasar pertumbuhan. Keenam elemen ini ialah: pertama Iman di dalam Kristus (ay. 15); kedua, Kasih terhadap semua orang kudus (ay. 15); ketiga Roh hikmat (ay. 17); keempat Wahyu (ay. 17); kelima Pengharapan di dalam panggilan Kristus (ay. 18); keenam Kuasa Kebangkitan Kristus (ay. 19).
Keenam hal ini harus berproses di dalam hidup kita. Jika keenam elemen ini bertumbuh dengan baik, itu membuktikan Gereja tersebut sukses. Penilaian Allah tentang kriteria kesuksesan Kristen berbeda dengan penilaian manusia. Kesuksesan Gereja menurut pandangan manusia seringkali diukur secara mekanis dengan kriteria yang bisa diukur dan secara fenomena. Ini terjadi karena kita seringkali dibentuk oleh format dunia. Contoh, ketika Saul ditolak oleh Tuhan, maka Tuhan mengutus Samuel kerumah Isai untuk mengurapi salah satu anak Isai menjadi raja. Ketika Samuel melihat anak-anak Isai, kita melihat justru apa yang dinilai oleh Samuel berbeda dengan penilaian Tuhan. Samuel melihat apa yang kelihatan sedangkan Tuhan melihat hati manusia.
Bagi Samuel Daud tidak cocok menjadi raja tetapi itulah yang Tuhan pilih. Jadi prinsip kesuksesan Kristen adalah kembalinya seseorang di dalam proses yang Tuhan kehendaki. Kesuksesan Kristen tergantung pada proses pertumbuhan dari keenam elemen yang Paulus bicarakan dalam Ef 1:15-23. Bertumbuh dalam iman, kasih, hikmat, wahyu, pengharapan, dan di dalam kuasa kebangkitan. Keenam elemen ini harus bertumbuh di dalam hati kita. Inilah tanda dari seorang Kristen sejati. Oleh sebab itu Gereja wajib melakukan semua daya agar keenam elemen ini bisa bertumbuh. Hanya dengan demikian orang-orang Kristen bisa menjadi contoh ditengah dunia. Sekarang mari kita telusuri mulai dari poin pertama. Di dalam bagian pertama yang Paulus soroti adalah iman di dalam Kristus. Hal ini penting karena prinsip pertumbuhan Kristen di mulai dari iman kepada Kristus. Ini tidak bisa diganggu gugat.
Iman merupakan basis dari semua cara berpikir kita dan kehidupan kita. Di dalam bidang apapun kita memulainya dengan iman. Misalnya, seorang ilmuwan sejati dimulai dengan iman bukan rasio. Ketika kita mempelajari baik ilmu pengetahuan maupun filsafat kita akan mulai dengan paradigma. Paradigma di sini istilah lain untuk iman. Pengertian paradigma adalah satu set kepercayaan yang dipegang pertama menjadi hipotesa untuk melakukan segala sesuatu. Hipotesa ini sendiri belum dibuktikan kebenarannya. Tidak ada satu ilmu pengetahuan yang tidak mulai dengan iman. Fakta membuktikan kita memulai sesuatu dengan iman. Sejak dibangku sekolah kita mulai dengan iman, misalnya 2 + 2 = 4 kita percaya tanpa ragu. Apa yang guru kita katakan kita percaya tanpa kita menguji dan membuktikan kebenarannya. Celakanya ditengah dunia ini kita berdiri di atas iman yang diterpa oleh filsafat postmodern yang bersifat relatif. Apa yang aku percaya dengan yang kamu percaya, dua hal yang berbeda. Iman ini bersifat subyektif. Celakanya kondisi ini bukan hanya dialami oleh orang-orang diluar Kekristenan.
Hal ini terjadi juga di dalam Kekristenan. Itu sebabnya kita perlu mengerti iman dengan benar. Di dalam Ef 1:15, Paulus membicarakan konsep iman yang menyeluruh. Hari ini kita akan menelusuri sedikit demi sedikit dalam kitab Efesus ini. Pertama, Paulus mengatakan, "iman sejati adalah iman yang harus terkait dengan Kristus (ay. 15). Jika kita bandingkan dengan Ef 4:13, maka tujuan hidup kita adalah sampai kita semua telah mencapai kepenuhan iman. Iman di sini merupakan satu proses dari titik awal hingga titik akhir. Di sini Paulus menuntut kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah. Kaitan antara iman dengan pengertian yang benar tentang Kristus merupakan dua hal yang tidak bisa dilepaskan. Pengertian iman jika tidak kembali kepada Kristus yang sejati berarti bukan iman Kristen. Di dalam Roma 1, membicarakan bahwa hidup Kristen dimulai dari iman menuju kepada iman (Rm 1:16-17). Di sini prinsip kebenaran Allah dimulai dari iman menuju kepada iman. Di dalam Why. 2, jemaat Efesus dipuji karena mereka tidak sembarangan mempermainkan dan menjual iman mereka ketika rasul-rasul palsu mencoba mempengaruhi mereka. Hanya sayang kasih mereka kemudian luntur. Kedua, iman bukan sekedar iman yang kembali kepada Kristus dan pengenalan yang sejati kepada Kristus. Yang kedua, iman harus mencapai integritas iman. Iman yang sejati haruslah iman yang mempengaruhi seluruh pikiran dan hidup kita. Ketika kita mendengar firman Tuhan seringkali timbul benturan. Benturan ini merupakan benturan iman. Kita hanya melihat fenomena terbenturnya konsep tetapi sebenarnya terbenturnya akar. Ketika hal ini terjadi kita mengalami konflik. Akibatnya Iman menjadi iman yang tidak bersatu.
Iman hanya bersifat permukaan dan iman tidak menggarap persatuan yang sejati. Padahal dalam ayat ini, Yesus menuntut kesatuan iman. Iman sejati harus terimplementasi secara integritas dan inilah yang dituntut dari kita setiap orang Kristen. Kita hidup ditengah-tengah situasi relatif dan subyektif. Dan ini sangat berpengaruh di dalam Kekristenan sendiri. Jika imanku dengan imanmu berbeda, lalu bagaimana? Tidak usah ribut-ribut yang penting kita bersatu. Disini terjadi penggabungan namun bukan integrasi yang sejati. Di sini kelihatannya bersatu namun belum mencapai kesatuan iman yang sesungguhnya. Belum kembali kepada pengenalan Kristus yang sejati. Paulus tegas sekali dalam hal ini. Pengetahuan iman tentang Kristus harus dibereskan. Masalahnya, siapa yang melakukan? Di dalam Ef 4:11-12 jawabannya jelas bahwa setiap orang Kristen harus menggarap imannya. Pendeta, penginjil, pengajar, semua Tuhan berikan untuk memperlengkapi jemaat Tuhan. Gereja yang sejati adalah Gereja yang mendidik setiap jemaat untuk belajar firman Tuhan dengan baik. Gereja yang tidak mendidik setiap jemaat untuk belajar firman dengan baik berarti Gereja itu lumpuh. Tugas mengerti firman Tuhan dengan baik adalah tugas jemaat. Gereja Reformed Injili berdiri menegakkan firman Tuhan dan kita tidak main-main. Tuhan menugaskan kita untuk memperlengkapi diri supaya kita bisa menjadi alat Tuhan di dalam pembangunan tubuh Kristus. Setiap orang Kristen harus mencapai kesatuan iman. Setiap orang Kristen harus mendapatkan pengetahuan yang benar tentang anak Allah. Setiap orang Kristen harus mencapai kedewasaan penuh dan mencapai kepenuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Ini yang dituntut dalam Efesus 4. Ketiga, Iman sejati bukan sekedar diintegrasikan tetapi iman sejati harus bertahan di dalam penderitaan dan kesengsaraan. Ditengah-tengah berbagai macam terpaan badai dan berbagai iming-iming kemanisan dunia yang berdosa.
Disinilah Kekristenan diuji dalam dua hal. (1) Dengan penderitaan dan kerelaan kita untuk berkorban demi Kristus. Ini membuktikan seberapa jauh kita mengenal Kristus (bnd II tim 1:12). Iman kita kepada Dia menyebabkan kita berani untuk menderita semuanya ini. II Tim 3:12 mengatakan, "Memang setiap orang yang mau beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya. "Ajaran mengenai penderitaan ini berulang kali diajarkan dalam PB. (2) Barang siapa mempunyai pengetahuan iman yang sejati di dalam Kristus, dia tidak mudah dijatuhkan di dalam berbagai- bagai pencobaan dan iming-iming dunia ini. Hari ini banyak orang Kristen dijatuhkan oleh berbagai iming-iming dunia, misalnya oleh materialisme. Seberapa jauh pengenalan kita kepada Kristus sejauh itu jugalah kita bisa melatih dan mendidik iman kita untuk tetap bertahan dan tidak mudah dipancing dengan berbagai macam pancingan dunia ini. Iman yang sejati adalah iman yang terbentuk menjadi satu keutuhan yang saling mengikat satu sama lain. Dan ini dibuktikan di dalam praktika hidup kita ditengah pencobaan dan tipuan dunia baik melalui kekerasan maupun melalui pancingan manis. Jika ini terjadi berarti iman kita sedang bertumbuh menuju kesempurnaan yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman. Orang benar akan hidup oleh iman.?
Pengertian Iman
Dalam pengertian umum, iman memang diartikan percaya. Tapi tidak semua percaya bisa dikatakan iman. Alkitab sudah memberikan pengertian yang cukup jelas, tentang percaya yang bagaimana yang disebut iman.
Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. (Roma 10:17)
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. (Ibrani 11:1)
Dari kedua ayat ini kita bisa memerincikan pengertian tentang iman, sebagai berikut:
· Kita mendapatkan iman karena Allah berbicara kepada kita melalui Firman-Nya.
· Iman mengandung unsur berharap, meskipun tidak semua harapan itu iman.
· Kita berharap berdasarkan Firman Tuhan, bukan berdasarkan hasil analisa atau perhitungan manusia. Kalau Allah berbicara kepada kita, meskipun tidak ada dasar untuk berharap, tapi kita tetap berharap dan percaya, inilah yang disebut iman. Misalnya, seorang siswa yang yakin bahwa dia akan lulus ujian karena memang selama ini dia juara kelas terus, ini bukanlah iman. Itu memang wajar demikian. Juga, seorang yang yakin bahwa tahun depan dia akan bisa membeli sebuah mobil, karena setiap bulan dia menabung uang yang cukup, inipun juga bukan iman.
· Yang kita harapkan tersebut belum terjadi atau tidak kelihatan (Roma 8:24-25). Bukan juga karena mendapat info lebih awal.
Inti Iman Kristen
Dari semua kebenaran firman Tuhan yang kita imani, ada kebenaran yang merupakan inti dari iman seorang Kristen. Inti dari kebenaran ini ada di I Korintus 15:3-4, ialah:
· bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,
· bahwa Ia telah dikuburkan,
· dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;
Ini merupakan inti dari iman seorang Kristen, tanpa iman akan hal ini maka iman terhadap hal-hal yang lain tidaklah ada gunanya.
Contoh iman dari Abraham
Abraham disebut oleh Alkitab sebagai Bapak orang beriman. Kita perlu mempelajari bagaimana dia bisa disebut demikian, dan bagaimana kita bisa menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Abraham mendapatkan janji dari Tuhan bahwa dia akan mempunyai keturunan yang banyak dan mendapatkan tanah yaitu Kanaan (Kejadian 12:1-3). Saat itu Abraham berumur 75 tahun dan istrinya berumur 74 tahun.
Abraham percaya kepada janji Allah itu. Dia meninggalkan tanah leluhurnya di Urkasdim dan menuju tanah Kanaan. Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? "Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." (Roma 4:3) Mengapa Abraham percaya? Apakah karena ada dasar untuk berharap? Tidak! Saat itu Abraham sudah tua dan rahim dari istrinyapun sudah tertutup. Tapi Alkitab mencatat:
Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah nanti banyak keturunanmu." Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia tidak mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya, sebagai kebenaran. (Roma 4:18- 22)
Iman Abraham terbukti dari tindakan dan ketekunannya. Abraham bertindak dengan meninggalkan tanah leluhurnya dan menuju tanah yang dijanjikan Allah. Abraham mendapatkan anak saat ia berumur 100 tahun. Selama 25 tahun dia menantikan janji Allah dengan tekun.
Namun Alkitab juga mencatat tindakan Abraham yang tidak berkenan kepada Allah. Selama menunggu janji Allah tersebut, Abraham sempat meragukan kemampuan Allah. Dia tahu bahwa Allah menjanjikan anak kepada dia. Tapi istri dia (Sarah) rahimnya sudah tertutup, secara akal sudah tidak bisa mempunyai anak lagi. Dari pemikiran inilah dia berusaha untuk "menolong" Allah. Atas nasihat istrinya, Abraham mengawini hambanya, yaitu Hagar. Dan mempunyai seorang anak yaitu Ismael. Dari tindakan inilah Abraham berpikir dia bisa "menyelamatkan" rencana Allah. Padahal rencana Allah tetap bahwa anak perjanjian itu haruslah berasal dari Sarah. Tindakan Abraham yang berusaha "menyelamatkan" rencana Allah ini, justru mengakibatkan bencana di kemudian hari.
Bagaimana iman bisa bertumbuh?
Kalau kita baca Alkitab, ada empat hal yang merupakan kehidupan dasar seorang Kristen. Keempat hal tersebut yaitu: doa, firman, bersekutu dan bersaksi. Keempat kegiatan ini harus dilakukan dengan seimbang. Tidak boleh ada salah satu jari yang tidak ada atau kurang. Sampai kapanpun kita tetap harus melakukan ke-empat kehidupan dasar kekristenan ini. Meskipun kerohanian kita sudah matang dan jabatan kerohanian kita sudah tinggi, ke-empat hal ini tetaplah harus kita jalankan sebagai kehidupan sehari-hari. Akan terjadi kepincangan dalam hidup kalau ada yang tidak seimbang dari keempat kegiatan ini. (Untuk pembahasan lebih jauh, bacalah buku "Pelayanan dalam Gereja" bab "Kewajiban orang Kristen dan Karunia Roh.")
Mempraktekkan iman kita
Kita memang perlu bertumbuh dalam kemampuan berpikir, merencanakan dan memanajemen. Tapi sebagai orang Kristen, harus ada sesuatu yang lain dari hanya sekedar kemampuan otak saja. Kita harus mempraktekkan iman kita dalam kehidupan sehari-hari. Justru iman kita butuhkan karena ada hal-hal yang tidak bisa dicapai secara akal. Saat inilah kita membutuhkan iman. Kita perlu untuk melakukan hal-hal yang di luar kemampuan kita, tapi yang Allah suruhkan untuk kita lakukan. Itulah fungsinya iman. Kalau kita hanya melakukan sesuatu di batas kemampuan kita saja, yah, kita tidaklah membutuhkan iman.
Salah satu hal utama yang membuat iman kita tidak bertumbuh yaitu: "Kita memilih untuk tinggal dalam posisi aman." Kalau kita mau melatih iman kita, kita harus berani untuk melakukan tindakan beresiko tapi yang diperintahkan Tuhan. Kalau kita bertindak dengan iman, memang akan ada resiko untuk malu, dicemooh, dikucilkan, dikata-katai orang lain dsb.
Salah satu hal yang banyak dicatat dalam Alkitab, yaitu kita perlu untuk mengatakan iman kita sebelum hal itu terjadi. Ini memang mengandung resiko, tapi itulah latihan beriman. Kalau kita "beriman" setelah peristiwa itu sudah terjadi, itu bukanlah iman yang sebenarnya. Justru untuk melatih iman kita, kita harus berani mengucapkan iman yang Tuhan berikan kepada kita, sebelum hal itu terjadi.
Kata Pengantar
Bagi orang-orang Kristen yang tinggal di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia, Alkitab merupakan sesuatu yang mudah dan murah untuk dimiliki. Namun, kenyataan tersebut tidak berlaku di semua tempat di Indonesia. Di beberapa daerah di Indonesia, masih banyak arang Kristen yang kesulitan memperoleh Alkitab. Kalaupun ada, mahal harganya.
Sekalipun orang-orang Kristen di kota-kota besar telah dibekali dan membekali diri dengan Alkitab, tidak semuanya telah sungguh-sungguh membaca Alkitabnya. Padahal kesempatan ia memiliki Alkitab sendiri sangatlah besar, dibandingkan saudara-saudaranya di daerah yang lain.
Ada banyak faktor penyebab mengapa orang-orang Kristen di kota-kota besar tidak membaca Alkitabnya secara rutin. Ada faktor kemalasan. Ada yang beralasan sibuk dengan kegiatan sehari-hari. Ada juga yang beralasan tidak tahu cara membaca Alkitab dengan benar. Ada juga yang mengalami kesulitan dalam memahami berita Alkitab dari masa lalu untuk diterapkan pada masa kini. Dan sejumlah alasan lainnya.
Pada kesempntan kali ini, Buletin Pembinaan akan membahas tentang Saat Teduh. Topik ini sengaja dipilih untuk membekali warga jemaat dengan pengetahuan praktis untuk melakukan saat teduh, baik secara pribadi maupun berkelompok. Selain itu, diharapkan warga jemaat termotivasi untuk melakukan saat teduh secara rutin.
Pengertian dasar saat teduh
Jika ditinjau dari segi makna kata, maka istilah "saat teduh" menunjuk pada segi waktu dan juga suasana atau keadaan. Saat teduh adalah masa di mana suasana/keadaan yang terjadi bersifat teduh dan tenang. Dengan pengertian tersebut, tentu ada banyak saat teduh dalam hidup kita. Misalnya: sebelum tidur di malam hari, sewaktu bangun pagi-pagi sekali, sewaktu sendirian di rumah peristirahatan, setelah mendengarkan kotbah dalam kebaktian Minggu dsb.
Pada perkembangan selanjutnya, istilah "saat teduh" itu dipakai untuk menunjuk pada waktu di mana orang Kristen menenangkan diri dalam masa yang teduh dan tenang untuk membaca Alkitab dan merenungkannya. Beberapa puluh tahun yang lalu, banyak orang Kristen yang memakai buku renungan berjudul "Saat Teduh" sebagai alat bantu merenungkan Firman Tuhan. Oleh karena itu, banyak orang yang kini menyebut Saat Teduh terhadap tindakan membaca, merenungkan isi Alkitab dan berdoa.
Jadi, dapat dikatakan bahwa Saat Teduh itu adalah kegiatan orang percaya dalam membaca, merenungkan Firman Tuhan don berdoa yang dilakukan dalam masa yang suasananya teduh dan tenang.
Mengapa bersaat teduh?
Barangkali ada yang bertanya,"Mengapa saya harus bersaat teduh?" Sekilas; mungkin pertanyaan itu terdengar bodoh. Tetapi, pertanyaan itu baik untuk ditanyakan dan dipertanyakan. Mengapa? Karena banyak orang yang saat ini masih membeo. Melakukan apa yang disuruhkan orang kepadanya tanpa bersikap kritis dan yang parah adalah ketika ia tidak tahu untuk apa ia melakukannya.
Pertanyaan itu baik, karena mendorong kita untuk mencari tahu alasan mengapa orang Kristen harus bersaat teduh. Alasan pertama adalah bahwa kita harus bersyukur kalau sampai dengan saat ini, kita masih memiliki kesempatan untuk memiliki Alkitab sendiri. Ada banyak orang Kristen yang tidak bisa membeli Alkitab. Bahkan ada juga banyak orang Kristen yang harus sembunyi-semburryi dalam mencari dan membaca Alkitab (mis: orang Kristen di Republik Rakyat China).
Alasan kedua, kita harus bersyukur bahwa Alkitab pada masa kini ditulis dalam bahasa yang kita mengerti. Bahkan, kini tersedia banyak terjemnhan Alkitab ke dalam berbagai bahasa yang dapat kita manfaatkan untuk memperkaya pembacaan kita terhadap Firman Tuhan. Bukan berarti sejak dulunya sudah begitu. Dulu, Alkitab hanya boleh dibaca oleh para pastor dan ditulis dalam Bahasa Latin, yang tidak populer di kalangan umat kebanyakan.
Martin Luther, seorang tokoh reformator, menilai situasi tersebut tidaklah sehat. Oleh karera itu, ia coba menerjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Jerman, sehingga Firman Tuhan itu bisa dibaca, dikenal dan juga dilakukan oleh umat. Upayanya itu diikuti oleh yang Iainnya, sehingga kini muncul Alkitab dalam berbagai bahasn. Alkitab menjadi dekat dengan manusia, karena ia ditulis dalam bahasa yang bisa kita mengerti. Bukankah itu adalah anugerah?
Alasan ketiga, karena Alkitab itu memiliki banyak fungsi yang baik untuk membekali kehidupan orang percaya, terutama ketika saat ini problematika kehidupnn yang kita hadapi bertambah luas dan kompleks. Dalam 2 Tim. 3:16, diungkapkan beberapa fungsi dari Alkitab, yaitu:
o Mengajar. Apa yang diajarkan oleh Alkitab? Tentu saja kita dapat belajar tentnng Allah yang menyatakan diri, karya dan kehendak-Nya sampai saat ini kepada umat manusia. Kita pun dapat belajar tentang respon manusia, baik yang positif maupun negatif, terhadap Allahnya.
o Menyatakan kesalahan Di dalam Alkitab terdapat kebenaran yang sifatnya universal dan kekal. Oleh karena itu, dengan membaca yang benar (Alkitab), maka kita dapat tahu apa yang salah.
o Memperbaiki kelakuan. Dengan mengetahui apa yang salah, maka kita diajak untuk memperbaiki kelakuan kita Tidak hanya kelakuan bahkan, tetapi juga pola pikir dan tutur kata kita juga.
o Mendidik orang dalam kebenaran. Ini adalah fungsi yang tidak kalah pentingnya. Sebagai orang percaya, kita diharapkan untuk setia pada kebenaran dan karenanya berupaya untuk hidup dalam kebenaran itu. Alkitab dapat menolong kita untuk mengenal kebenaran dan mendidik kita untuk setia pada kebenaran.
Saat teduh pribadi dan kelompok
Berdasarkan pengertian di atas, maka saat teduh pada dasarnyan dapat kita lakukan secara pribadi ataupun berkelompok. Tentu saja itu dilakukan berdasarkan kebutuhan. Bagi mereka yang belum berkeluarga, tentu bersaat teduh dilakukan secara pribadi. Kalaupun dilakukan secara berkelompok, ia dapat melakukannya bersama orang tua atau teman-temannya.
Ada juga orang yang bersaat teduh secara berkelompok, misalnya: bersama keluarga, kelompok tumbuh bersama, teman-teman sekantor, dsb. Bersaat teduh secara berkelompok memiliki nilai lebih dibandingkan saat teduh pribadi, karena di dalamnya, kita bisa saling berbagi tentang Firman Tuhan, pengalaman hidup dsb., sehingga hal itu dapat saling memperkaya. Bukan berarti saat teduh pribadi itu nilainya kurang. Tidak. la tetap berharga untuk dilakukan.
Bagi mereka yang telah berkeluarga, sangatlah baik jika saat teduh dilakukan secara berkelompok. Selain nilai lebih di atas, saat teduh keluarga juga dapat mempererat ikatan kekeluargaan dan kebersamaan di antara sesama anggota keluarga. Di situlah wadah dan kesempatan kita dapat saling berkomunikasi, menguatkan dan juga bertumbuh.
Waktu dalam bersaat teduh
Sebenarnya tidak ade waktu yang paling baik dalam bersaat teduh, karena pada dasarnya kita dapat membaca dan merenungkan Firman Tuhan kapan saja. Sekalipun demikian, pemilihan waktu yang tepat akan sangat menentukan proses saat teduh yang kita lakukan.
Kalau begitu, kapan waktu yang tepat itu? Tentu itu tergantung dari diri kita masing-masing. Yang penting, ada suasana teduh dan tenang saat kita bersaat teduh. Suasana yang demikian akan sangat menolong kita untuk berkonsentrasi dan mendapat sesuatu dari Firman yang kita baca (bnd. Mat. 6:6).
Dalam Mrk. 1:35, dikisahkan tentang Tuhan Yesus yang berdoa pada pagi-pagi sekali sewaktu hari masih gelap. Tempat yang dipilih pun adalah tempat yang tenang. Di situlah Ia dapat berkonsentrasi dalam bersaat teduh untuk mendapatkan kekuatan spiritual guna melanjutkan karya-Nya di dunia.
Bukan berarti bahwa kita harus bersaat teduh pada pagi-pagi sekali, sama seperti Tuhan Yesus. Bagaimana dengan mereka yang harus pergi ke kantor pagi-pngi sekali? Kapan waktu mereka bersaat teduh? Lagipula, Tuhan Yesus juga biasa berdoa pada malam hari, saat suasananya mendukung (lih. Mat. 14:23).
Oleh karena itu, yang penting bukan kapannya, tetapi waktu yang tepat; tepat karena ada suasana teduh dan tenang, tepat karena kita bisa dengan sungguh-sungguh membaca Alkitab untuk mencari tahu apa kehendak-Nya bagi kita, tepat karena kondisi fisik kita masih memungkinkan untuk berdoa kepada-Nya.
Kalau waktu yang tepat itu adalah pagi hari, ya... lakukanlah pada pagi hari. Kalau waktu yang tepat itu adalah malam hari, sebelum tidur, ya... lakukanlah pada malam hari. Yang penting, kita tetap melakukan saat teduh di waktu yang tepat.
Tempat bersaat teduh
Sejalan dengan pembahasan di atas tentang waktu dalam bersaat teduh, maka tidak ada tempat yang paling baik dalam bersaat teduh. Dalam Alkitab, Tuhan Yesus berkali-kali berdoa di sebuah bukit, di tempat yang sunyi (bnd. Mat. 14:23; Mrk. b:46; Luk. 6:12). Mengapa bukit menjadi tempat favorit-Nya? Yang pasti, bukit dipilih bukan karena tempat itu lebih tinggi dan karenanya lebih dekat ke sorga atau dengan kata lain doanya lebih cepat didengar oleh Allah Bapa.
Tempat itu dipilih karena menyediakan suasana yang teduh dan tenang. Suasana itu adalah prasyarat bagi saat teduh yang baik dan berkualitas.
Lagipula, dalam kesempatan yang lain, Tuhan Yesus menyuruh para pendengar-Nya untuk berdoa di kamar yang terkunci (Mat. 6:6). Di balik pengajaran itu, sebenarnya terkandung pemahaman bahwa saat teduh itu harus dilakukan dalam suasana yang teduh, tenang, serta bukan dalam semangat untuk memamerkan kepada orang lain bahwa diri kita adalah orang yang saleh, yang ditun jukkan dengan seringnya berdoa (bersaat teduh).
Jadi, dapat dikatakan bahwa tempat yang baik dalam bersaat teduh adalah tempat yang menyediakan suasana teduh dan tenang. Oleh karena itu, kita tidak terikat pada kamar di rumah kita. Kita juga bisa bersaat teduh di villa saat retreat pribadi misalnya. Hal yang penting adalah bahwa tempat itu haruslah mendukung kita bersoat teduh secara berkualitas.
Langkah-langkah praktis dalam bersaat teduh
Sebenarnya, ada sejumlah langkah praktis untuk melakukan saat teduh, misalnya: diawali dan diakhiri dengan nyanyian. Tetapi secara umum, bersaat teduh dapat dilakukan dengan langkah demikian:
a. Berdoalah. Sebelum kita membaca dan merenungkan Firman Tuhan, diharapkan kita berdoa terlebih dahulu. Kita berdoa supaya Roh Kudus memberi penerangan kepada kita, sehingga bagian Alkitab yang kita baca sungguh-sungguh memberi arti dan makna bagi hidup kita. Kita pun dimampukan untuk memahami berita Alkitab dari masa lalu untuk diterapkan pada masa kini. Jadi, untuk memahami isi Alkitab diperlukan bantuan Allah sendiri, tidak bisa dan tidak boleh bergantung pada pengertian diri sendiri.
b. Bacalah. Ada baiknya, kita memiliki daftar bacaan harian. Saat ini, ada daftar bacaan harian yang diterbitkan oleh LAI selama setahun (biasanya juga dicantumkan dalam warta jemaat mingguan). Atau, kalau kita tidak mempunyainya, kita dapat memanfaatkan daftar bacaan yang tertera dalam buku renungan yang biasa kita pakai (spt: Saat Teduh, Renungan Harian, Santapan Harian, dsb.). Jika kita sudah tahu bagian Alkitab mana yang harus kita baca, maka kita dapat segera membacanya. Dalam membaca Aikitab, tentu kita tidak boleh tergesa-gesa, sehingga kita tidak bisa menangkap maknanya. Membaca Alkitab tidak sama seperti membaca buku komik, yang dapat dibaca sekilas saja.
c. Renungkanlah. Seusai kita membaca Alkitab, ada baiknya kita merenungkan terlebih dahulu hal-hal di bawah ini. Ada baiknya kita tidak langsung membaca buku renungan yang kita punyai. Buku itu hanya menolong kita saja. Oleh karena itu, yang penting adalah proses pemaknaan secara pribadi terhadsp teks Alkitab yang kita baca. Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dapat menolong kita untuk merenungkan teks Alkitab itu secara pribadi, yaitu:
o Apa saja yang kubaca. ada peristiwa apa? Hal apa yang menarik? Siapa yang menjadi tokoh atau pusat berita? Adakah kaitan dengan ayat atau perikop sebelumnya?
o Apa pesan yang Allah sampaikan kepadaku melalui nas tadi. adakah janji terungkap di sana? Apakah Allah memberi peringatan dalam ayat itu? Adakah teladan yang bisa kita pelajari? Dst.
o Apa responku adakah hal-hal spesifik dalam hidupku kini yang disoroti oleh pesan Firman Tuhan tsb.? Apa responku terhadap firman itu agar menjadi bagian dari hidupku?
d. Bandingkanlah hasil perenungan pribadi kita dengan buku renungan yang kita miliki. Kalau ternyata hasilnya berbeda, jangan kecil hati. Bukan berarti kita salah dalam memahami pesan Firman Tuhan. Perbedaan itu justru memperkaya pemahaman yang bisa kita dapat dari teks Alkitab yang dibaca. Lagipula, setiap orang dewasa harus memiliki perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan melalui Alkitab yang ia baca. Dan pengalaman perjumpaannya itu adalah sahih.
e. Berdoalah kembali di akhir perenungan kita. Kita berdoa supaya pesan Firman Tuhan itu dapat terus kita ingat dan lakukan. Kita pun boleh mendoakan berbagai hal lainnya, spt: kegiatan di sepanjang hari yang akan kita lalui (kalau saat teduh dilakukan pagi hari); kegiatan yang sudah kita lakukan (pada malam hari); keluarga yang kita kasihi dsb.
f. Periksalah apakah kita sudah melakukan pesan Firman Tuhan itu dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita bersaat teduh di pagi hari, maka kita dapat memeriksa diri kita pada malam harinya. Jika kita bersaat teduh di malam hari, maka kita dapat memeriksa diri pada keesokan malamnya saat kita bersaat teduh kembali. Langkah ini menjadi penting, sebagai proses evaluasi diri dan juga mengingatkan kita untuk terus termotivasi melakukan dan memberlakukan Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Catatan penutup
Bersaat teduh bukanlah sebuah tindakan yang sekali jadi, yang dengannya kita dapat langsung mengerti apa kehendak Tuhan bagi kita. Ia adalah proses yang harus kita lakukan secara berkesinambungan. Oleh karena itu, bersaat teduh sebaiknya dilakukan secara kontinyu, sehingga dengan demikian kita semakin akrab dengan Alkitab dan yang lebih penting adalah kita menjadi peka akan apa yang menjadi kehendak-Nya untuk kita lakukan dan berlakukan. Soli Deo Gloria (= segala kemuliaan hanya bagi Allah)
ELEMEN-ELEMEN IMAN KRISTEN
Oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.
Nats : Efesus 1: 15-23
Seorang Kristen sejati bukan seorang yang statis dan juga bukan orang yang sempurna. Seorang Kristen sejati adalah seorang yang terus berproses. Dari realita menuju ideal yang Tuhan inginkan. Memahami proses antara realita di sini dengan ideal di sana kita perlu mengerti elemen-elemen pertumbuhan. Hal ini dibicarakan oleh Paulus dalam Ef 1:15-23. Di dalam Ef 1:15-23 ini, kita menemukan enam elemen yang menjadi dasar pertumbuhan. Keenam elemen ini ialah: pertama Iman di dalam Kristus (ay. 15); kedua, Kasih terhadap semua orang kudus (ay. 15); ketiga Roh hikmat (ay. 17); keempat Wahyu (ay. 17); kelima Pengharapan di dalam panggilan Kristus (ay. 18); keenam Kuasa Kebangkitan Kristus (ay. 19).
Keenam hal ini harus berproses di dalam hidup kita. Jika keenam elemen ini bertumbuh dengan baik, itu membuktikan Gereja tersebut sukses. Penilaian Allah tentang kriteria kesuksesan Kristen berbeda dengan penilaian manusia. Kesuksesan Gereja menurut pandangan manusia seringkali diukur secara mekanis dengan kriteria yang bisa diukur dan secara fenomena. Ini terjadi karena kita seringkali dibentuk oleh format dunia. Contoh, ketika Saul ditolak oleh Tuhan, maka Tuhan mengutus Samuel kerumah Isai untuk mengurapi salah satu anak Isai menjadi raja. Ketika Samuel melihat anak-anak Isai, kita melihat justru apa yang dinilai oleh Samuel berbeda dengan penilaian Tuhan. Samuel melihat apa yang kelihatan sedangkan Tuhan melihat hati manusia.
Bagi Samuel Daud tidak cocok menjadi raja tetapi itulah yang Tuhan pilih. Jadi prinsip kesuksesan Kristen adalah kembalinya seseorang di dalam proses yang Tuhan kehendaki. Kesuksesan Kristen tergantung pada proses pertumbuhan dari keenam elemen yang Paulus bicarakan dalam Ef 1:15-23. Bertumbuh dalam iman, kasih, hikmat, wahyu, pengharapan, dan di dalam kuasa kebangkitan. Keenam elemen ini harus bertumbuh di dalam hati kita. Inilah tanda dari seorang Kristen sejati. Oleh sebab itu Gereja wajib melakukan semua daya agar keenam elemen ini bisa bertumbuh. Hanya dengan demikian orang-orang Kristen bisa menjadi contoh ditengah dunia. Sekarang mari kita telusuri mulai dari poin pertama. Di dalam bagian pertama yang Paulus soroti adalah iman di dalam Kristus. Hal ini penting karena prinsip pertumbuhan Kristen di mulai dari iman kepada Kristus. Ini tidak bisa diganggu gugat.
Iman merupakan basis dari semua cara berpikir kita dan kehidupan kita. Di dalam bidang apapun kita memulainya dengan iman. Misalnya, seorang ilmuwan sejati dimulai dengan iman bukan rasio. Ketika kita mempelajari baik ilmu pengetahuan maupun filsafat kita akan mulai dengan paradigma. Paradigma di sini istilah lain untuk iman. Pengertian paradigma adalah satu set kepercayaan yang dipegang pertama menjadi hipotesa untuk melakukan segala sesuatu. Hipotesa ini sendiri belum dibuktikan kebenarannya. Tidak ada satu ilmu pengetahuan yang tidak mulai dengan iman. Fakta membuktikan kita memulai sesuatu dengan iman. Sejak dibangku sekolah kita mulai dengan iman, misalnya 2 + 2 = 4 kita percaya tanpa ragu. Apa yang guru kita katakan kita percaya tanpa kita menguji dan membuktikan kebenarannya. Celakanya ditengah dunia ini kita berdiri di atas iman yang diterpa oleh filsafat postmodern yang bersifat relatif. Apa yang aku percaya dengan yang kamu percaya, dua hal yang berbeda. Iman ini bersifat subyektif. Celakanya kondisi ini bukan hanya dialami oleh orang-orang diluar Kekristenan.
Hal ini terjadi juga di dalam Kekristenan. Itu sebabnya kita perlu mengerti iman dengan benar. Di dalam Ef 1:15, Paulus membicarakan konsep iman yang menyeluruh. Hari ini kita akan menelusuri sedikit demi sedikit dalam kitab Efesus ini. Pertama, Paulus mengatakan, "iman sejati adalah iman yang harus terkait dengan Kristus (ay. 15). Jika kita bandingkan dengan Ef 4:13, maka tujuan hidup kita adalah sampai kita semua telah mencapai kepenuhan iman. Iman di sini merupakan satu proses dari titik awal hingga titik akhir. Di sini Paulus menuntut kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah. Kaitan antara iman dengan pengertian yang benar tentang Kristus merupakan dua hal yang tidak bisa dilepaskan. Pengertian iman jika tidak kembali kepada Kristus yang sejati berarti bukan iman Kristen. Di dalam Roma 1, membicarakan bahwa hidup Kristen dimulai dari iman menuju kepada iman (Rm 1:16-17). Di sini prinsip kebenaran Allah dimulai dari iman menuju kepada iman. Di dalam Why. 2, jemaat Efesus dipuji karena mereka tidak sembarangan mempermainkan dan menjual iman mereka ketika rasul-rasul palsu mencoba mempengaruhi mereka. Hanya sayang kasih mereka kemudian luntur. Kedua, iman bukan sekedar iman yang kembali kepada Kristus dan pengenalan yang sejati kepada Kristus. Yang kedua, iman harus mencapai integritas iman. Iman yang sejati haruslah iman yang mempengaruhi seluruh pikiran dan hidup kita. Ketika kita mendengar firman Tuhan seringkali timbul benturan. Benturan ini merupakan benturan iman. Kita hanya melihat fenomena terbenturnya konsep tetapi sebenarnya terbenturnya akar. Ketika hal ini terjadi kita mengalami konflik. Akibatnya Iman menjadi iman yang tidak bersatu.
Iman hanya bersifat permukaan dan iman tidak menggarap persatuan yang sejati. Padahal dalam ayat ini, Yesus menuntut kesatuan iman. Iman sejati harus terimplementasi secara integritas dan inilah yang dituntut dari kita setiap orang Kristen. Kita hidup ditengah-tengah situasi relatif dan subyektif. Dan ini sangat berpengaruh di dalam Kekristenan sendiri. Jika imanku dengan imanmu berbeda, lalu bagaimana? Tidak usah ribut-ribut yang penting kita bersatu. Disini terjadi penggabungan namun bukan integrasi yang sejati. Di sini kelihatannya bersatu namun belum mencapai kesatuan iman yang sesungguhnya. Belum kembali kepada pengenalan Kristus yang sejati. Paulus tegas sekali dalam hal ini. Pengetahuan iman tentang Kristus harus dibereskan. Masalahnya, siapa yang melakukan? Di dalam Ef 4:11-12 jawabannya jelas bahwa setiap orang Kristen harus menggarap imannya. Pendeta, penginjil, pengajar, semua Tuhan berikan untuk memperlengkapi jemaat Tuhan. Gereja yang sejati adalah Gereja yang mendidik setiap jemaat untuk belajar firman Tuhan dengan baik. Gereja yang tidak mendidik setiap jemaat untuk belajar firman dengan baik berarti Gereja itu lumpuh. Tugas mengerti firman Tuhan dengan baik adalah tugas jemaat. Gereja Reformed Injili berdiri menegakkan firman Tuhan dan kita tidak main-main. Tuhan menugaskan kita untuk memperlengkapi diri supaya kita bisa menjadi alat Tuhan di dalam pembangunan tubuh Kristus. Setiap orang Kristen harus mencapai kesatuan iman. Setiap orang Kristen harus mendapatkan pengetahuan yang benar tentang anak Allah. Setiap orang Kristen harus mencapai kedewasaan penuh dan mencapai kepenuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Ini yang dituntut dalam Efesus 4. Ketiga, Iman sejati bukan sekedar diintegrasikan tetapi iman sejati harus bertahan di dalam penderitaan dan kesengsaraan. Ditengah-tengah berbagai macam terpaan badai dan berbagai iming-iming kemanisan dunia yang berdosa.
Disinilah Kekristenan diuji dalam dua hal. (1) Dengan penderitaan dan kerelaan kita untuk berkorban demi Kristus. Ini membuktikan seberapa jauh kita mengenal Kristus (bnd II tim 1:12). Iman kita kepada Dia menyebabkan kita berani untuk menderita semuanya ini. II Tim 3:12 mengatakan, "Memang setiap orang yang mau beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya. "Ajaran mengenai penderitaan ini berulang kali diajarkan dalam PB. (2) Barang siapa mempunyai pengetahuan iman yang sejati di dalam Kristus, dia tidak mudah dijatuhkan di dalam berbagai- bagai pencobaan dan iming-iming dunia ini. Hari ini banyak orang Kristen dijatuhkan oleh berbagai iming-iming dunia, misalnya oleh materialisme. Seberapa jauh pengenalan kita kepada Kristus sejauh itu jugalah kita bisa melatih dan mendidik iman kita untuk tetap bertahan dan tidak mudah dipancing dengan berbagai macam pancingan dunia ini. Iman yang sejati adalah iman yang terbentuk menjadi satu keutuhan yang saling mengikat satu sama lain. Dan ini dibuktikan di dalam praktika hidup kita ditengah pencobaan dan tipuan dunia baik melalui kekerasan maupun melalui pancingan manis. Jika ini terjadi berarti iman kita sedang bertumbuh menuju kesempurnaan yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman. Orang benar akan hidup oleh iman.?
Pengertian Iman
Dalam pengertian umum, iman memang diartikan percaya. Tapi tidak semua percaya bisa dikatakan iman. Alkitab sudah memberikan pengertian yang cukup jelas, tentang percaya yang bagaimana yang disebut iman.
Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. (Roma 10:17)
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. (Ibrani 11:1)
Dari kedua ayat ini kita bisa memerincikan pengertian tentang iman, sebagai berikut:
· Kita mendapatkan iman karena Allah berbicara kepada kita melalui Firman-Nya.
· Iman mengandung unsur berharap, meskipun tidak semua harapan itu iman.
· Kita berharap berdasarkan Firman Tuhan, bukan berdasarkan hasil analisa atau perhitungan manusia. Kalau Allah berbicara kepada kita, meskipun tidak ada dasar untuk berharap, tapi kita tetap berharap dan percaya, inilah yang disebut iman. Misalnya, seorang siswa yang yakin bahwa dia akan lulus ujian karena memang selama ini dia juara kelas terus, ini bukanlah iman. Itu memang wajar demikian. Juga, seorang yang yakin bahwa tahun depan dia akan bisa membeli sebuah mobil, karena setiap bulan dia menabung uang yang cukup, inipun juga bukan iman.
· Yang kita harapkan tersebut belum terjadi atau tidak kelihatan (Roma 8:24-25). Bukan juga karena mendapat info lebih awal.
Inti Iman Kristen
Dari semua kebenaran firman Tuhan yang kita imani, ada kebenaran yang merupakan inti dari iman seorang Kristen. Inti dari kebenaran ini ada di I Korintus 15:3-4, ialah:
· bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,
· bahwa Ia telah dikuburkan,
· dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;
Ini merupakan inti dari iman seorang Kristen, tanpa iman akan hal ini maka iman terhadap hal-hal yang lain tidaklah ada gunanya.
Contoh iman dari Abraham
Abraham disebut oleh Alkitab sebagai Bapak orang beriman. Kita perlu mempelajari bagaimana dia bisa disebut demikian, dan bagaimana kita bisa menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Abraham mendapatkan janji dari Tuhan bahwa dia akan mempunyai keturunan yang banyak dan mendapatkan tanah yaitu Kanaan (Kejadian 12:1-3). Saat itu Abraham berumur 75 tahun dan istrinya berumur 74 tahun.
Abraham percaya kepada janji Allah itu. Dia meninggalkan tanah leluhurnya di Urkasdim dan menuju tanah Kanaan. Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? "Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." (Roma 4:3) Mengapa Abraham percaya? Apakah karena ada dasar untuk berharap? Tidak! Saat itu Abraham sudah tua dan rahim dari istrinyapun sudah tertutup. Tapi Alkitab mencatat:
Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah nanti banyak keturunanmu." Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia tidak mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya, sebagai kebenaran. (Roma 4:18- 22)
Iman Abraham terbukti dari tindakan dan ketekunannya. Abraham bertindak dengan meninggalkan tanah leluhurnya dan menuju tanah yang dijanjikan Allah. Abraham mendapatkan anak saat ia berumur 100 tahun. Selama 25 tahun dia menantikan janji Allah dengan tekun.
Namun Alkitab juga mencatat tindakan Abraham yang tidak berkenan kepada Allah. Selama menunggu janji Allah tersebut, Abraham sempat meragukan kemampuan Allah. Dia tahu bahwa Allah menjanjikan anak kepada dia. Tapi istri dia (Sarah) rahimnya sudah tertutup, secara akal sudah tidak bisa mempunyai anak lagi. Dari pemikiran inilah dia berusaha untuk "menolong" Allah. Atas nasihat istrinya, Abraham mengawini hambanya, yaitu Hagar. Dan mempunyai seorang anak yaitu Ismael. Dari tindakan inilah Abraham berpikir dia bisa "menyelamatkan" rencana Allah. Padahal rencana Allah tetap bahwa anak perjanjian itu haruslah berasal dari Sarah. Tindakan Abraham yang berusaha "menyelamatkan" rencana Allah ini, justru mengakibatkan bencana di kemudian hari.
Bagaimana iman bisa bertumbuh?
Kalau kita baca Alkitab, ada empat hal yang merupakan kehidupan dasar seorang Kristen. Keempat hal tersebut yaitu: doa, firman, bersekutu dan bersaksi. Keempat kegiatan ini harus dilakukan dengan seimbang. Tidak boleh ada salah satu jari yang tidak ada atau kurang. Sampai kapanpun kita tetap harus melakukan ke-empat kehidupan dasar kekristenan ini. Meskipun kerohanian kita sudah matang dan jabatan kerohanian kita sudah tinggi, ke-empat hal ini tetaplah harus kita jalankan sebagai kehidupan sehari-hari. Akan terjadi kepincangan dalam hidup kalau ada yang tidak seimbang dari keempat kegiatan ini. (Untuk pembahasan lebih jauh, bacalah buku "Pelayanan dalam Gereja" bab "Kewajiban orang Kristen dan Karunia Roh.")
Mempraktekkan iman kita
Kita memang perlu bertumbuh dalam kemampuan berpikir, merencanakan dan memanajemen. Tapi sebagai orang Kristen, harus ada sesuatu yang lain dari hanya sekedar kemampuan otak saja. Kita harus mempraktekkan iman kita dalam kehidupan sehari-hari. Justru iman kita butuhkan karena ada hal-hal yang tidak bisa dicapai secara akal. Saat inilah kita membutuhkan iman. Kita perlu untuk melakukan hal-hal yang di luar kemampuan kita, tapi yang Allah suruhkan untuk kita lakukan. Itulah fungsinya iman. Kalau kita hanya melakukan sesuatu di batas kemampuan kita saja, yah, kita tidaklah membutuhkan iman.
Salah satu hal utama yang membuat iman kita tidak bertumbuh yaitu: "Kita memilih untuk tinggal dalam posisi aman." Kalau kita mau melatih iman kita, kita harus berani untuk melakukan tindakan beresiko tapi yang diperintahkan Tuhan. Kalau kita bertindak dengan iman, memang akan ada resiko untuk malu, dicemooh, dikucilkan, dikata-katai orang lain dsb.
Salah satu hal yang banyak dicatat dalam Alkitab, yaitu kita perlu untuk mengatakan iman kita sebelum hal itu terjadi. Ini memang mengandung resiko, tapi itulah latihan beriman. Kalau kita "beriman" setelah peristiwa itu sudah terjadi, itu bukanlah iman yang sebenarnya. Justru untuk melatih iman kita, kita harus berani mengucapkan iman yang Tuhan berikan kepada kita, sebelum hal itu terjadi.
Oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.
Nats : Efesus 1: 15-23
Seorang Kristen sejati bukan seorang yang statis dan juga bukan orang yang sempurna. Seorang Kristen sejati adalah seorang yang terus berproses. Dari realita menuju ideal yang Tuhan inginkan. Memahami proses antara realita di sini dengan ideal di sana kita perlu mengerti elemen-elemen pertumbuhan. Hal ini dibicarakan oleh Paulus dalam Ef 1:15-23. Di dalam Ef 1:15-23 ini, kita menemukan enam elemen yang menjadi dasar pertumbuhan. Keenam elemen ini ialah: pertama Iman di dalam Kristus (ay. 15); kedua, Kasih terhadap semua orang kudus (ay. 15); ketiga Roh hikmat (ay. 17); keempat Wahyu (ay. 17); kelima Pengharapan di dalam panggilan Kristus (ay. 18); keenam Kuasa Kebangkitan Kristus (ay. 19).
Keenam hal ini harus berproses di dalam hidup kita. Jika keenam elemen ini bertumbuh dengan baik, itu membuktikan Gereja tersebut sukses. Penilaian Allah tentang kriteria kesuksesan Kristen berbeda dengan penilaian manusia. Kesuksesan Gereja menurut pandangan manusia seringkali diukur secara mekanis dengan kriteria yang bisa diukur dan secara fenomena. Ini terjadi karena kita seringkali dibentuk oleh format dunia. Contoh, ketika Saul ditolak oleh Tuhan, maka Tuhan mengutus Samuel kerumah Isai untuk mengurapi salah satu anak Isai menjadi raja. Ketika Samuel melihat anak-anak Isai, kita melihat justru apa yang dinilai oleh Samuel berbeda dengan penilaian Tuhan. Samuel melihat apa yang kelihatan sedangkan Tuhan melihat hati manusia.
Bagi Samuel Daud tidak cocok menjadi raja tetapi itulah yang Tuhan pilih. Jadi prinsip kesuksesan Kristen adalah kembalinya seseorang di dalam proses yang Tuhan kehendaki. Kesuksesan Kristen tergantung pada proses pertumbuhan dari keenam elemen yang Paulus bicarakan dalam Ef 1:15-23. Bertumbuh dalam iman, kasih, hikmat, wahyu, pengharapan, dan di dalam kuasa kebangkitan. Keenam elemen ini harus bertumbuh di dalam hati kita. Inilah tanda dari seorang Kristen sejati. Oleh sebab itu Gereja wajib melakukan semua daya agar keenam elemen ini bisa bertumbuh. Hanya dengan demikian orang-orang Kristen bisa menjadi contoh ditengah dunia. Sekarang mari kita telusuri mulai dari poin pertama. Di dalam bagian pertama yang Paulus soroti adalah iman di dalam Kristus. Hal ini penting karena prinsip pertumbuhan Kristen di mulai dari iman kepada Kristus. Ini tidak bisa diganggu gugat.
Iman merupakan basis dari semua cara berpikir kita dan kehidupan kita. Di dalam bidang apapun kita memulainya dengan iman. Misalnya, seorang ilmuwan sejati dimulai dengan iman bukan rasio. Ketika kita mempelajari baik ilmu pengetahuan maupun filsafat kita akan mulai dengan paradigma. Paradigma di sini istilah lain untuk iman. Pengertian paradigma adalah satu set kepercayaan yang dipegang pertama menjadi hipotesa untuk melakukan segala sesuatu. Hipotesa ini sendiri belum dibuktikan kebenarannya. Tidak ada satu ilmu pengetahuan yang tidak mulai dengan iman. Fakta membuktikan kita memulai sesuatu dengan iman. Sejak dibangku sekolah kita mulai dengan iman, misalnya 2 + 2 = 4 kita percaya tanpa ragu. Apa yang guru kita katakan kita percaya tanpa kita menguji dan membuktikan kebenarannya. Celakanya ditengah dunia ini kita berdiri di atas iman yang diterpa oleh filsafat postmodern yang bersifat relatif. Apa yang aku percaya dengan yang kamu percaya, dua hal yang berbeda. Iman ini bersifat subyektif. Celakanya kondisi ini bukan hanya dialami oleh orang-orang diluar Kekristenan.
Hal ini terjadi juga di dalam Kekristenan. Itu sebabnya kita perlu mengerti iman dengan benar. Di dalam Ef 1:15, Paulus membicarakan konsep iman yang menyeluruh. Hari ini kita akan menelusuri sedikit demi sedikit dalam kitab Efesus ini. Pertama, Paulus mengatakan, "iman sejati adalah iman yang harus terkait dengan Kristus (ay. 15). Jika kita bandingkan dengan Ef 4:13, maka tujuan hidup kita adalah sampai kita semua telah mencapai kepenuhan iman. Iman di sini merupakan satu proses dari titik awal hingga titik akhir. Di sini Paulus menuntut kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah. Kaitan antara iman dengan pengertian yang benar tentang Kristus merupakan dua hal yang tidak bisa dilepaskan. Pengertian iman jika tidak kembali kepada Kristus yang sejati berarti bukan iman Kristen. Di dalam Roma 1, membicarakan bahwa hidup Kristen dimulai dari iman menuju kepada iman (Rm 1:16-17). Di sini prinsip kebenaran Allah dimulai dari iman menuju kepada iman. Di dalam Why. 2, jemaat Efesus dipuji karena mereka tidak sembarangan mempermainkan dan menjual iman mereka ketika rasul-rasul palsu mencoba mempengaruhi mereka. Hanya sayang kasih mereka kemudian luntur. Kedua, iman bukan sekedar iman yang kembali kepada Kristus dan pengenalan yang sejati kepada Kristus. Yang kedua, iman harus mencapai integritas iman. Iman yang sejati haruslah iman yang mempengaruhi seluruh pikiran dan hidup kita. Ketika kita mendengar firman Tuhan seringkali timbul benturan. Benturan ini merupakan benturan iman. Kita hanya melihat fenomena terbenturnya konsep tetapi sebenarnya terbenturnya akar. Ketika hal ini terjadi kita mengalami konflik. Akibatnya Iman menjadi iman yang tidak bersatu.
Iman hanya bersifat permukaan dan iman tidak menggarap persatuan yang sejati. Padahal dalam ayat ini, Yesus menuntut kesatuan iman. Iman sejati harus terimplementasi secara integritas dan inilah yang dituntut dari kita setiap orang Kristen. Kita hidup ditengah-tengah situasi relatif dan subyektif. Dan ini sangat berpengaruh di dalam Kekristenan sendiri. Jika imanku dengan imanmu berbeda, lalu bagaimana? Tidak usah ribut-ribut yang penting kita bersatu. Disini terjadi penggabungan namun bukan integrasi yang sejati. Di sini kelihatannya bersatu namun belum mencapai kesatuan iman yang sesungguhnya. Belum kembali kepada pengenalan Kristus yang sejati. Paulus tegas sekali dalam hal ini. Pengetahuan iman tentang Kristus harus dibereskan. Masalahnya, siapa yang melakukan? Di dalam Ef 4:11-12 jawabannya jelas bahwa setiap orang Kristen harus menggarap imannya. Pendeta, penginjil, pengajar, semua Tuhan berikan untuk memperlengkapi jemaat Tuhan. Gereja yang sejati adalah Gereja yang mendidik setiap jemaat untuk belajar firman Tuhan dengan baik. Gereja yang tidak mendidik setiap jemaat untuk belajar firman dengan baik berarti Gereja itu lumpuh. Tugas mengerti firman Tuhan dengan baik adalah tugas jemaat. Gereja Reformed Injili berdiri menegakkan firman Tuhan dan kita tidak main-main. Tuhan menugaskan kita untuk memperlengkapi diri supaya kita bisa menjadi alat Tuhan di dalam pembangunan tubuh Kristus. Setiap orang Kristen harus mencapai kesatuan iman. Setiap orang Kristen harus mendapatkan pengetahuan yang benar tentang anak Allah. Setiap orang Kristen harus mencapai kedewasaan penuh dan mencapai kepenuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Ini yang dituntut dalam Efesus 4. Ketiga, Iman sejati bukan sekedar diintegrasikan tetapi iman sejati harus bertahan di dalam penderitaan dan kesengsaraan. Ditengah-tengah berbagai macam terpaan badai dan berbagai iming-iming kemanisan dunia yang berdosa.
Disinilah Kekristenan diuji dalam dua hal. (1) Dengan penderitaan dan kerelaan kita untuk berkorban demi Kristus. Ini membuktikan seberapa jauh kita mengenal Kristus (bnd II tim 1:12). Iman kita kepada Dia menyebabkan kita berani untuk menderita semuanya ini. II Tim 3:12 mengatakan, "Memang setiap orang yang mau beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya. "Ajaran mengenai penderitaan ini berulang kali diajarkan dalam PB. (2) Barang siapa mempunyai pengetahuan iman yang sejati di dalam Kristus, dia tidak mudah dijatuhkan di dalam berbagai- bagai pencobaan dan iming-iming dunia ini. Hari ini banyak orang Kristen dijatuhkan oleh berbagai iming-iming dunia, misalnya oleh materialisme. Seberapa jauh pengenalan kita kepada Kristus sejauh itu jugalah kita bisa melatih dan mendidik iman kita untuk tetap bertahan dan tidak mudah dipancing dengan berbagai macam pancingan dunia ini. Iman yang sejati adalah iman yang terbentuk menjadi satu keutuhan yang saling mengikat satu sama lain. Dan ini dibuktikan di dalam praktika hidup kita ditengah pencobaan dan tipuan dunia baik melalui kekerasan maupun melalui pancingan manis. Jika ini terjadi berarti iman kita sedang bertumbuh menuju kesempurnaan yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman. Orang benar akan hidup oleh iman.?
Pengertian Iman
Dalam pengertian umum, iman memang diartikan percaya. Tapi tidak semua percaya bisa dikatakan iman. Alkitab sudah memberikan pengertian yang cukup jelas, tentang percaya yang bagaimana yang disebut iman.
Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. (Roma 10:17)
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. (Ibrani 11:1)
Dari kedua ayat ini kita bisa memerincikan pengertian tentang iman, sebagai berikut:
· Kita mendapatkan iman karena Allah berbicara kepada kita melalui Firman-Nya.
· Iman mengandung unsur berharap, meskipun tidak semua harapan itu iman.
· Kita berharap berdasarkan Firman Tuhan, bukan berdasarkan hasil analisa atau perhitungan manusia. Kalau Allah berbicara kepada kita, meskipun tidak ada dasar untuk berharap, tapi kita tetap berharap dan percaya, inilah yang disebut iman. Misalnya, seorang siswa yang yakin bahwa dia akan lulus ujian karena memang selama ini dia juara kelas terus, ini bukanlah iman. Itu memang wajar demikian. Juga, seorang yang yakin bahwa tahun depan dia akan bisa membeli sebuah mobil, karena setiap bulan dia menabung uang yang cukup, inipun juga bukan iman.
· Yang kita harapkan tersebut belum terjadi atau tidak kelihatan (Roma 8:24-25). Bukan juga karena mendapat info lebih awal.
Inti Iman Kristen
Dari semua kebenaran firman Tuhan yang kita imani, ada kebenaran yang merupakan inti dari iman seorang Kristen. Inti dari kebenaran ini ada di I Korintus 15:3-4, ialah:
· bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,
· bahwa Ia telah dikuburkan,
· dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;
Ini merupakan inti dari iman seorang Kristen, tanpa iman akan hal ini maka iman terhadap hal-hal yang lain tidaklah ada gunanya.
Contoh iman dari Abraham
Abraham disebut oleh Alkitab sebagai Bapak orang beriman. Kita perlu mempelajari bagaimana dia bisa disebut demikian, dan bagaimana kita bisa menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Abraham mendapatkan janji dari Tuhan bahwa dia akan mempunyai keturunan yang banyak dan mendapatkan tanah yaitu Kanaan (Kejadian 12:1-3). Saat itu Abraham berumur 75 tahun dan istrinya berumur 74 tahun.
Abraham percaya kepada janji Allah itu. Dia meninggalkan tanah leluhurnya di Urkasdim dan menuju tanah Kanaan. Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? "Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." (Roma 4:3) Mengapa Abraham percaya? Apakah karena ada dasar untuk berharap? Tidak! Saat itu Abraham sudah tua dan rahim dari istrinyapun sudah tertutup. Tapi Alkitab mencatat:
Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah nanti banyak keturunanmu." Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia tidak mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya, sebagai kebenaran. (Roma 4:18- 22)
Iman Abraham terbukti dari tindakan dan ketekunannya. Abraham bertindak dengan meninggalkan tanah leluhurnya dan menuju tanah yang dijanjikan Allah. Abraham mendapatkan anak saat ia berumur 100 tahun. Selama 25 tahun dia menantikan janji Allah dengan tekun.
Namun Alkitab juga mencatat tindakan Abraham yang tidak berkenan kepada Allah. Selama menunggu janji Allah tersebut, Abraham sempat meragukan kemampuan Allah. Dia tahu bahwa Allah menjanjikan anak kepada dia. Tapi istri dia (Sarah) rahimnya sudah tertutup, secara akal sudah tidak bisa mempunyai anak lagi. Dari pemikiran inilah dia berusaha untuk "menolong" Allah. Atas nasihat istrinya, Abraham mengawini hambanya, yaitu Hagar. Dan mempunyai seorang anak yaitu Ismael. Dari tindakan inilah Abraham berpikir dia bisa "menyelamatkan" rencana Allah. Padahal rencana Allah tetap bahwa anak perjanjian itu haruslah berasal dari Sarah. Tindakan Abraham yang berusaha "menyelamatkan" rencana Allah ini, justru mengakibatkan bencana di kemudian hari.
Bagaimana iman bisa bertumbuh?
Kalau kita baca Alkitab, ada empat hal yang merupakan kehidupan dasar seorang Kristen. Keempat hal tersebut yaitu: doa, firman, bersekutu dan bersaksi. Keempat kegiatan ini harus dilakukan dengan seimbang. Tidak boleh ada salah satu jari yang tidak ada atau kurang. Sampai kapanpun kita tetap harus melakukan ke-empat kehidupan dasar kekristenan ini. Meskipun kerohanian kita sudah matang dan jabatan kerohanian kita sudah tinggi, ke-empat hal ini tetaplah harus kita jalankan sebagai kehidupan sehari-hari. Akan terjadi kepincangan dalam hidup kalau ada yang tidak seimbang dari keempat kegiatan ini. (Untuk pembahasan lebih jauh, bacalah buku "Pelayanan dalam Gereja" bab "Kewajiban orang Kristen dan Karunia Roh.")
Mempraktekkan iman kita
Kita memang perlu bertumbuh dalam kemampuan berpikir, merencanakan dan memanajemen. Tapi sebagai orang Kristen, harus ada sesuatu yang lain dari hanya sekedar kemampuan otak saja. Kita harus mempraktekkan iman kita dalam kehidupan sehari-hari. Justru iman kita butuhkan karena ada hal-hal yang tidak bisa dicapai secara akal. Saat inilah kita membutuhkan iman. Kita perlu untuk melakukan hal-hal yang di luar kemampuan kita, tapi yang Allah suruhkan untuk kita lakukan. Itulah fungsinya iman. Kalau kita hanya melakukan sesuatu di batas kemampuan kita saja, yah, kita tidaklah membutuhkan iman.
Salah satu hal utama yang membuat iman kita tidak bertumbuh yaitu: "Kita memilih untuk tinggal dalam posisi aman." Kalau kita mau melatih iman kita, kita harus berani untuk melakukan tindakan beresiko tapi yang diperintahkan Tuhan. Kalau kita bertindak dengan iman, memang akan ada resiko untuk malu, dicemooh, dikucilkan, dikata-katai orang lain dsb.
Salah satu hal yang banyak dicatat dalam Alkitab, yaitu kita perlu untuk mengatakan iman kita sebelum hal itu terjadi. Ini memang mengandung resiko, tapi itulah latihan beriman. Kalau kita "beriman" setelah peristiwa itu sudah terjadi, itu bukanlah iman yang sebenarnya. Justru untuk melatih iman kita, kita harus berani mengucapkan iman yang Tuhan berikan kepada kita, sebelum hal itu terjadi.
Kata Pengantar
Bagi orang-orang Kristen yang tinggal di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia, Alkitab merupakan sesuatu yang mudah dan murah untuk dimiliki. Namun, kenyataan tersebut tidak berlaku di semua tempat di Indonesia. Di beberapa daerah di Indonesia, masih banyak arang Kristen yang kesulitan memperoleh Alkitab. Kalaupun ada, mahal harganya.
Sekalipun orang-orang Kristen di kota-kota besar telah dibekali dan membekali diri dengan Alkitab, tidak semuanya telah sungguh-sungguh membaca Alkitabnya. Padahal kesempatan ia memiliki Alkitab sendiri sangatlah besar, dibandingkan saudara-saudaranya di daerah yang lain.
Ada banyak faktor penyebab mengapa orang-orang Kristen di kota-kota besar tidak membaca Alkitabnya secara rutin. Ada faktor kemalasan. Ada yang beralasan sibuk dengan kegiatan sehari-hari. Ada juga yang beralasan tidak tahu cara membaca Alkitab dengan benar. Ada juga yang mengalami kesulitan dalam memahami berita Alkitab dari masa lalu untuk diterapkan pada masa kini. Dan sejumlah alasan lainnya.
Pada kesempntan kali ini, Buletin Pembinaan akan membahas tentang Saat Teduh. Topik ini sengaja dipilih untuk membekali warga jemaat dengan pengetahuan praktis untuk melakukan saat teduh, baik secara pribadi maupun berkelompok. Selain itu, diharapkan warga jemaat termotivasi untuk melakukan saat teduh secara rutin.
Pengertian dasar saat teduh
Jika ditinjau dari segi makna kata, maka istilah "saat teduh" menunjuk pada segi waktu dan juga suasana atau keadaan. Saat teduh adalah masa di mana suasana/keadaan yang terjadi bersifat teduh dan tenang. Dengan pengertian tersebut, tentu ada banyak saat teduh dalam hidup kita. Misalnya: sebelum tidur di malam hari, sewaktu bangun pagi-pagi sekali, sewaktu sendirian di rumah peristirahatan, setelah mendengarkan kotbah dalam kebaktian Minggu dsb.
Pada perkembangan selanjutnya, istilah "saat teduh" itu dipakai untuk menunjuk pada waktu di mana orang Kristen menenangkan diri dalam masa yang teduh dan tenang untuk membaca Alkitab dan merenungkannya. Beberapa puluh tahun yang lalu, banyak orang Kristen yang memakai buku renungan berjudul "Saat Teduh" sebagai alat bantu merenungkan Firman Tuhan. Oleh karena itu, banyak orang yang kini menyebut Saat Teduh terhadap tindakan membaca, merenungkan isi Alkitab dan berdoa.
Jadi, dapat dikatakan bahwa Saat Teduh itu adalah kegiatan orang percaya dalam membaca, merenungkan Firman Tuhan don berdoa yang dilakukan dalam masa yang suasananya teduh dan tenang.
Mengapa bersaat teduh?
Barangkali ada yang bertanya,"Mengapa saya harus bersaat teduh?" Sekilas; mungkin pertanyaan itu terdengar bodoh. Tetapi, pertanyaan itu baik untuk ditanyakan dan dipertanyakan. Mengapa? Karena banyak orang yang saat ini masih membeo. Melakukan apa yang disuruhkan orang kepadanya tanpa bersikap kritis dan yang parah adalah ketika ia tidak tahu untuk apa ia melakukannya.
Pertanyaan itu baik, karena mendorong kita untuk mencari tahu alasan mengapa orang Kristen harus bersaat teduh. Alasan pertama adalah bahwa kita harus bersyukur kalau sampai dengan saat ini, kita masih memiliki kesempatan untuk memiliki Alkitab sendiri. Ada banyak orang Kristen yang tidak bisa membeli Alkitab. Bahkan ada juga banyak orang Kristen yang harus sembunyi-semburryi dalam mencari dan membaca Alkitab (mis: orang Kristen di Republik Rakyat China).
Alasan kedua, kita harus bersyukur bahwa Alkitab pada masa kini ditulis dalam bahasa yang kita mengerti. Bahkan, kini tersedia banyak terjemnhan Alkitab ke dalam berbagai bahasa yang dapat kita manfaatkan untuk memperkaya pembacaan kita terhadap Firman Tuhan. Bukan berarti sejak dulunya sudah begitu. Dulu, Alkitab hanya boleh dibaca oleh para pastor dan ditulis dalam Bahasa Latin, yang tidak populer di kalangan umat kebanyakan.
Martin Luther, seorang tokoh reformator, menilai situasi tersebut tidaklah sehat. Oleh karera itu, ia coba menerjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Jerman, sehingga Firman Tuhan itu bisa dibaca, dikenal dan juga dilakukan oleh umat. Upayanya itu diikuti oleh yang Iainnya, sehingga kini muncul Alkitab dalam berbagai bahasn. Alkitab menjadi dekat dengan manusia, karena ia ditulis dalam bahasa yang bisa kita mengerti. Bukankah itu adalah anugerah?
Alasan ketiga, karena Alkitab itu memiliki banyak fungsi yang baik untuk membekali kehidupan orang percaya, terutama ketika saat ini problematika kehidupnn yang kita hadapi bertambah luas dan kompleks. Dalam 2 Tim. 3:16, diungkapkan beberapa fungsi dari Alkitab, yaitu:
o Mengajar. Apa yang diajarkan oleh Alkitab? Tentu saja kita dapat belajar tentnng Allah yang menyatakan diri, karya dan kehendak-Nya sampai saat ini kepada umat manusia. Kita pun dapat belajar tentang respon manusia, baik yang positif maupun negatif, terhadap Allahnya.
o Menyatakan kesalahan Di dalam Alkitab terdapat kebenaran yang sifatnya universal dan kekal. Oleh karena itu, dengan membaca yang benar (Alkitab), maka kita dapat tahu apa yang salah.
o Memperbaiki kelakuan. Dengan mengetahui apa yang salah, maka kita diajak untuk memperbaiki kelakuan kita Tidak hanya kelakuan bahkan, tetapi juga pola pikir dan tutur kata kita juga.
o Mendidik orang dalam kebenaran. Ini adalah fungsi yang tidak kalah pentingnya. Sebagai orang percaya, kita diharapkan untuk setia pada kebenaran dan karenanya berupaya untuk hidup dalam kebenaran itu. Alkitab dapat menolong kita untuk mengenal kebenaran dan mendidik kita untuk setia pada kebenaran.
Saat teduh pribadi dan kelompok
Berdasarkan pengertian di atas, maka saat teduh pada dasarnyan dapat kita lakukan secara pribadi ataupun berkelompok. Tentu saja itu dilakukan berdasarkan kebutuhan. Bagi mereka yang belum berkeluarga, tentu bersaat teduh dilakukan secara pribadi. Kalaupun dilakukan secara berkelompok, ia dapat melakukannya bersama orang tua atau teman-temannya.
Ada juga orang yang bersaat teduh secara berkelompok, misalnya: bersama keluarga, kelompok tumbuh bersama, teman-teman sekantor, dsb. Bersaat teduh secara berkelompok memiliki nilai lebih dibandingkan saat teduh pribadi, karena di dalamnya, kita bisa saling berbagi tentang Firman Tuhan, pengalaman hidup dsb., sehingga hal itu dapat saling memperkaya. Bukan berarti saat teduh pribadi itu nilainya kurang. Tidak. la tetap berharga untuk dilakukan.
Bagi mereka yang telah berkeluarga, sangatlah baik jika saat teduh dilakukan secara berkelompok. Selain nilai lebih di atas, saat teduh keluarga juga dapat mempererat ikatan kekeluargaan dan kebersamaan di antara sesama anggota keluarga. Di situlah wadah dan kesempatan kita dapat saling berkomunikasi, menguatkan dan juga bertumbuh.
Waktu dalam bersaat teduh
Sebenarnya tidak ade waktu yang paling baik dalam bersaat teduh, karena pada dasarnya kita dapat membaca dan merenungkan Firman Tuhan kapan saja. Sekalipun demikian, pemilihan waktu yang tepat akan sangat menentukan proses saat teduh yang kita lakukan.
Kalau begitu, kapan waktu yang tepat itu? Tentu itu tergantung dari diri kita masing-masing. Yang penting, ada suasana teduh dan tenang saat kita bersaat teduh. Suasana yang demikian akan sangat menolong kita untuk berkonsentrasi dan mendapat sesuatu dari Firman yang kita baca (bnd. Mat. 6:6).
Dalam Mrk. 1:35, dikisahkan tentang Tuhan Yesus yang berdoa pada pagi-pagi sekali sewaktu hari masih gelap. Tempat yang dipilih pun adalah tempat yang tenang. Di situlah Ia dapat berkonsentrasi dalam bersaat teduh untuk mendapatkan kekuatan spiritual guna melanjutkan karya-Nya di dunia.
Bukan berarti bahwa kita harus bersaat teduh pada pagi-pagi sekali, sama seperti Tuhan Yesus. Bagaimana dengan mereka yang harus pergi ke kantor pagi-pngi sekali? Kapan waktu mereka bersaat teduh? Lagipula, Tuhan Yesus juga biasa berdoa pada malam hari, saat suasananya mendukung (lih. Mat. 14:23).
Oleh karena itu, yang penting bukan kapannya, tetapi waktu yang tepat; tepat karena ada suasana teduh dan tenang, tepat karena kita bisa dengan sungguh-sungguh membaca Alkitab untuk mencari tahu apa kehendak-Nya bagi kita, tepat karena kondisi fisik kita masih memungkinkan untuk berdoa kepada-Nya.
Kalau waktu yang tepat itu adalah pagi hari, ya... lakukanlah pada pagi hari. Kalau waktu yang tepat itu adalah malam hari, sebelum tidur, ya... lakukanlah pada malam hari. Yang penting, kita tetap melakukan saat teduh di waktu yang tepat.
Tempat bersaat teduh
Sejalan dengan pembahasan di atas tentang waktu dalam bersaat teduh, maka tidak ada tempat yang paling baik dalam bersaat teduh. Dalam Alkitab, Tuhan Yesus berkali-kali berdoa di sebuah bukit, di tempat yang sunyi (bnd. Mat. 14:23; Mrk. b:46; Luk. 6:12). Mengapa bukit menjadi tempat favorit-Nya? Yang pasti, bukit dipilih bukan karena tempat itu lebih tinggi dan karenanya lebih dekat ke sorga atau dengan kata lain doanya lebih cepat didengar oleh Allah Bapa.
Tempat itu dipilih karena menyediakan suasana yang teduh dan tenang. Suasana itu adalah prasyarat bagi saat teduh yang baik dan berkualitas.
Lagipula, dalam kesempatan yang lain, Tuhan Yesus menyuruh para pendengar-Nya untuk berdoa di kamar yang terkunci (Mat. 6:6). Di balik pengajaran itu, sebenarnya terkandung pemahaman bahwa saat teduh itu harus dilakukan dalam suasana yang teduh, tenang, serta bukan dalam semangat untuk memamerkan kepada orang lain bahwa diri kita adalah orang yang saleh, yang ditun jukkan dengan seringnya berdoa (bersaat teduh).
Jadi, dapat dikatakan bahwa tempat yang baik dalam bersaat teduh adalah tempat yang menyediakan suasana teduh dan tenang. Oleh karena itu, kita tidak terikat pada kamar di rumah kita. Kita juga bisa bersaat teduh di villa saat retreat pribadi misalnya. Hal yang penting adalah bahwa tempat itu haruslah mendukung kita bersoat teduh secara berkualitas.
Langkah-langkah praktis dalam bersaat teduh
Sebenarnya, ada sejumlah langkah praktis untuk melakukan saat teduh, misalnya: diawali dan diakhiri dengan nyanyian. Tetapi secara umum, bersaat teduh dapat dilakukan dengan langkah demikian:
a. Berdoalah. Sebelum kita membaca dan merenungkan Firman Tuhan, diharapkan kita berdoa terlebih dahulu. Kita berdoa supaya Roh Kudus memberi penerangan kepada kita, sehingga bagian Alkitab yang kita baca sungguh-sungguh memberi arti dan makna bagi hidup kita. Kita pun dimampukan untuk memahami berita Alkitab dari masa lalu untuk diterapkan pada masa kini. Jadi, untuk memahami isi Alkitab diperlukan bantuan Allah sendiri, tidak bisa dan tidak boleh bergantung pada pengertian diri sendiri.
b. Bacalah. Ada baiknya, kita memiliki daftar bacaan harian. Saat ini, ada daftar bacaan harian yang diterbitkan oleh LAI selama setahun (biasanya juga dicantumkan dalam warta jemaat mingguan). Atau, kalau kita tidak mempunyainya, kita dapat memanfaatkan daftar bacaan yang tertera dalam buku renungan yang biasa kita pakai (spt: Saat Teduh, Renungan Harian, Santapan Harian, dsb.). Jika kita sudah tahu bagian Alkitab mana yang harus kita baca, maka kita dapat segera membacanya. Dalam membaca Aikitab, tentu kita tidak boleh tergesa-gesa, sehingga kita tidak bisa menangkap maknanya. Membaca Alkitab tidak sama seperti membaca buku komik, yang dapat dibaca sekilas saja.
c. Renungkanlah. Seusai kita membaca Alkitab, ada baiknya kita merenungkan terlebih dahulu hal-hal di bawah ini. Ada baiknya kita tidak langsung membaca buku renungan yang kita punyai. Buku itu hanya menolong kita saja. Oleh karena itu, yang penting adalah proses pemaknaan secara pribadi terhadsp teks Alkitab yang kita baca. Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dapat menolong kita untuk merenungkan teks Alkitab itu secara pribadi, yaitu:
o Apa saja yang kubaca. ada peristiwa apa? Hal apa yang menarik? Siapa yang menjadi tokoh atau pusat berita? Adakah kaitan dengan ayat atau perikop sebelumnya?
o Apa pesan yang Allah sampaikan kepadaku melalui nas tadi. adakah janji terungkap di sana? Apakah Allah memberi peringatan dalam ayat itu? Adakah teladan yang bisa kita pelajari? Dst.
o Apa responku adakah hal-hal spesifik dalam hidupku kini yang disoroti oleh pesan Firman Tuhan tsb.? Apa responku terhadap firman itu agar menjadi bagian dari hidupku?
d. Bandingkanlah hasil perenungan pribadi kita dengan buku renungan yang kita miliki. Kalau ternyata hasilnya berbeda, jangan kecil hati. Bukan berarti kita salah dalam memahami pesan Firman Tuhan. Perbedaan itu justru memperkaya pemahaman yang bisa kita dapat dari teks Alkitab yang dibaca. Lagipula, setiap orang dewasa harus memiliki perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan melalui Alkitab yang ia baca. Dan pengalaman perjumpaannya itu adalah sahih.
e. Berdoalah kembali di akhir perenungan kita. Kita berdoa supaya pesan Firman Tuhan itu dapat terus kita ingat dan lakukan. Kita pun boleh mendoakan berbagai hal lainnya, spt: kegiatan di sepanjang hari yang akan kita lalui (kalau saat teduh dilakukan pagi hari); kegiatan yang sudah kita lakukan (pada malam hari); keluarga yang kita kasihi dsb.
f. Periksalah apakah kita sudah melakukan pesan Firman Tuhan itu dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita bersaat teduh di pagi hari, maka kita dapat memeriksa diri kita pada malam harinya. Jika kita bersaat teduh di malam hari, maka kita dapat memeriksa diri pada keesokan malamnya saat kita bersaat teduh kembali. Langkah ini menjadi penting, sebagai proses evaluasi diri dan juga mengingatkan kita untuk terus termotivasi melakukan dan memberlakukan Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Catatan penutup
Bersaat teduh bukanlah sebuah tindakan yang sekali jadi, yang dengannya kita dapat langsung mengerti apa kehendak Tuhan bagi kita. Ia adalah proses yang harus kita lakukan secara berkesinambungan. Oleh karena itu, bersaat teduh sebaiknya dilakukan secara kontinyu, sehingga dengan demikian kita semakin akrab dengan Alkitab dan yang lebih penting adalah kita menjadi peka akan apa yang menjadi kehendak-Nya untuk kita lakukan dan berlakukan. Soli Deo Gloria (= segala kemuliaan hanya bagi Allah)
ELEMEN-ELEMEN IMAN KRISTEN
Oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.
Nats : Efesus 1: 15-23
Seorang Kristen sejati bukan seorang yang statis dan juga bukan orang yang sempurna. Seorang Kristen sejati adalah seorang yang terus berproses. Dari realita menuju ideal yang Tuhan inginkan. Memahami proses antara realita di sini dengan ideal di sana kita perlu mengerti elemen-elemen pertumbuhan. Hal ini dibicarakan oleh Paulus dalam Ef 1:15-23. Di dalam Ef 1:15-23 ini, kita menemukan enam elemen yang menjadi dasar pertumbuhan. Keenam elemen ini ialah: pertama Iman di dalam Kristus (ay. 15); kedua, Kasih terhadap semua orang kudus (ay. 15); ketiga Roh hikmat (ay. 17); keempat Wahyu (ay. 17); kelima Pengharapan di dalam panggilan Kristus (ay. 18); keenam Kuasa Kebangkitan Kristus (ay. 19).
Keenam hal ini harus berproses di dalam hidup kita. Jika keenam elemen ini bertumbuh dengan baik, itu membuktikan Gereja tersebut sukses. Penilaian Allah tentang kriteria kesuksesan Kristen berbeda dengan penilaian manusia. Kesuksesan Gereja menurut pandangan manusia seringkali diukur secara mekanis dengan kriteria yang bisa diukur dan secara fenomena. Ini terjadi karena kita seringkali dibentuk oleh format dunia. Contoh, ketika Saul ditolak oleh Tuhan, maka Tuhan mengutus Samuel kerumah Isai untuk mengurapi salah satu anak Isai menjadi raja. Ketika Samuel melihat anak-anak Isai, kita melihat justru apa yang dinilai oleh Samuel berbeda dengan penilaian Tuhan. Samuel melihat apa yang kelihatan sedangkan Tuhan melihat hati manusia.
Bagi Samuel Daud tidak cocok menjadi raja tetapi itulah yang Tuhan pilih. Jadi prinsip kesuksesan Kristen adalah kembalinya seseorang di dalam proses yang Tuhan kehendaki. Kesuksesan Kristen tergantung pada proses pertumbuhan dari keenam elemen yang Paulus bicarakan dalam Ef 1:15-23. Bertumbuh dalam iman, kasih, hikmat, wahyu, pengharapan, dan di dalam kuasa kebangkitan. Keenam elemen ini harus bertumbuh di dalam hati kita. Inilah tanda dari seorang Kristen sejati. Oleh sebab itu Gereja wajib melakukan semua daya agar keenam elemen ini bisa bertumbuh. Hanya dengan demikian orang-orang Kristen bisa menjadi contoh ditengah dunia. Sekarang mari kita telusuri mulai dari poin pertama. Di dalam bagian pertama yang Paulus soroti adalah iman di dalam Kristus. Hal ini penting karena prinsip pertumbuhan Kristen di mulai dari iman kepada Kristus. Ini tidak bisa diganggu gugat.
Iman merupakan basis dari semua cara berpikir kita dan kehidupan kita. Di dalam bidang apapun kita memulainya dengan iman. Misalnya, seorang ilmuwan sejati dimulai dengan iman bukan rasio. Ketika kita mempelajari baik ilmu pengetahuan maupun filsafat kita akan mulai dengan paradigma. Paradigma di sini istilah lain untuk iman. Pengertian paradigma adalah satu set kepercayaan yang dipegang pertama menjadi hipotesa untuk melakukan segala sesuatu. Hipotesa ini sendiri belum dibuktikan kebenarannya. Tidak ada satu ilmu pengetahuan yang tidak mulai dengan iman. Fakta membuktikan kita memulai sesuatu dengan iman. Sejak dibangku sekolah kita mulai dengan iman, misalnya 2 + 2 = 4 kita percaya tanpa ragu. Apa yang guru kita katakan kita percaya tanpa kita menguji dan membuktikan kebenarannya. Celakanya ditengah dunia ini kita berdiri di atas iman yang diterpa oleh filsafat postmodern yang bersifat relatif. Apa yang aku percaya dengan yang kamu percaya, dua hal yang berbeda. Iman ini bersifat subyektif. Celakanya kondisi ini bukan hanya dialami oleh orang-orang diluar Kekristenan.
Hal ini terjadi juga di dalam Kekristenan. Itu sebabnya kita perlu mengerti iman dengan benar. Di dalam Ef 1:15, Paulus membicarakan konsep iman yang menyeluruh. Hari ini kita akan menelusuri sedikit demi sedikit dalam kitab Efesus ini. Pertama, Paulus mengatakan, "iman sejati adalah iman yang harus terkait dengan Kristus (ay. 15). Jika kita bandingkan dengan Ef 4:13, maka tujuan hidup kita adalah sampai kita semua telah mencapai kepenuhan iman. Iman di sini merupakan satu proses dari titik awal hingga titik akhir. Di sini Paulus menuntut kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah. Kaitan antara iman dengan pengertian yang benar tentang Kristus merupakan dua hal yang tidak bisa dilepaskan. Pengertian iman jika tidak kembali kepada Kristus yang sejati berarti bukan iman Kristen. Di dalam Roma 1, membicarakan bahwa hidup Kristen dimulai dari iman menuju kepada iman (Rm 1:16-17). Di sini prinsip kebenaran Allah dimulai dari iman menuju kepada iman. Di dalam Why. 2, jemaat Efesus dipuji karena mereka tidak sembarangan mempermainkan dan menjual iman mereka ketika rasul-rasul palsu mencoba mempengaruhi mereka. Hanya sayang kasih mereka kemudian luntur. Kedua, iman bukan sekedar iman yang kembali kepada Kristus dan pengenalan yang sejati kepada Kristus. Yang kedua, iman harus mencapai integritas iman. Iman yang sejati haruslah iman yang mempengaruhi seluruh pikiran dan hidup kita. Ketika kita mendengar firman Tuhan seringkali timbul benturan. Benturan ini merupakan benturan iman. Kita hanya melihat fenomena terbenturnya konsep tetapi sebenarnya terbenturnya akar. Ketika hal ini terjadi kita mengalami konflik. Akibatnya Iman menjadi iman yang tidak bersatu.
Iman hanya bersifat permukaan dan iman tidak menggarap persatuan yang sejati. Padahal dalam ayat ini, Yesus menuntut kesatuan iman. Iman sejati harus terimplementasi secara integritas dan inilah yang dituntut dari kita setiap orang Kristen. Kita hidup ditengah-tengah situasi relatif dan subyektif. Dan ini sangat berpengaruh di dalam Kekristenan sendiri. Jika imanku dengan imanmu berbeda, lalu bagaimana? Tidak usah ribut-ribut yang penting kita bersatu. Disini terjadi penggabungan namun bukan integrasi yang sejati. Di sini kelihatannya bersatu namun belum mencapai kesatuan iman yang sesungguhnya. Belum kembali kepada pengenalan Kristus yang sejati. Paulus tegas sekali dalam hal ini. Pengetahuan iman tentang Kristus harus dibereskan. Masalahnya, siapa yang melakukan? Di dalam Ef 4:11-12 jawabannya jelas bahwa setiap orang Kristen harus menggarap imannya. Pendeta, penginjil, pengajar, semua Tuhan berikan untuk memperlengkapi jemaat Tuhan. Gereja yang sejati adalah Gereja yang mendidik setiap jemaat untuk belajar firman Tuhan dengan baik. Gereja yang tidak mendidik setiap jemaat untuk belajar firman dengan baik berarti Gereja itu lumpuh. Tugas mengerti firman Tuhan dengan baik adalah tugas jemaat. Gereja Reformed Injili berdiri menegakkan firman Tuhan dan kita tidak main-main. Tuhan menugaskan kita untuk memperlengkapi diri supaya kita bisa menjadi alat Tuhan di dalam pembangunan tubuh Kristus. Setiap orang Kristen harus mencapai kesatuan iman. Setiap orang Kristen harus mendapatkan pengetahuan yang benar tentang anak Allah. Setiap orang Kristen harus mencapai kedewasaan penuh dan mencapai kepenuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Ini yang dituntut dalam Efesus 4. Ketiga, Iman sejati bukan sekedar diintegrasikan tetapi iman sejati harus bertahan di dalam penderitaan dan kesengsaraan. Ditengah-tengah berbagai macam terpaan badai dan berbagai iming-iming kemanisan dunia yang berdosa.
Disinilah Kekristenan diuji dalam dua hal. (1) Dengan penderitaan dan kerelaan kita untuk berkorban demi Kristus. Ini membuktikan seberapa jauh kita mengenal Kristus (bnd II tim 1:12). Iman kita kepada Dia menyebabkan kita berani untuk menderita semuanya ini. II Tim 3:12 mengatakan, "Memang setiap orang yang mau beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya. "Ajaran mengenai penderitaan ini berulang kali diajarkan dalam PB. (2) Barang siapa mempunyai pengetahuan iman yang sejati di dalam Kristus, dia tidak mudah dijatuhkan di dalam berbagai- bagai pencobaan dan iming-iming dunia ini. Hari ini banyak orang Kristen dijatuhkan oleh berbagai iming-iming dunia, misalnya oleh materialisme. Seberapa jauh pengenalan kita kepada Kristus sejauh itu jugalah kita bisa melatih dan mendidik iman kita untuk tetap bertahan dan tidak mudah dipancing dengan berbagai macam pancingan dunia ini. Iman yang sejati adalah iman yang terbentuk menjadi satu keutuhan yang saling mengikat satu sama lain. Dan ini dibuktikan di dalam praktika hidup kita ditengah pencobaan dan tipuan dunia baik melalui kekerasan maupun melalui pancingan manis. Jika ini terjadi berarti iman kita sedang bertumbuh menuju kesempurnaan yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman. Orang benar akan hidup oleh iman.?
Pengertian Iman
Dalam pengertian umum, iman memang diartikan percaya. Tapi tidak semua percaya bisa dikatakan iman. Alkitab sudah memberikan pengertian yang cukup jelas, tentang percaya yang bagaimana yang disebut iman.
Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. (Roma 10:17)
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. (Ibrani 11:1)
Dari kedua ayat ini kita bisa memerincikan pengertian tentang iman, sebagai berikut:
· Kita mendapatkan iman karena Allah berbicara kepada kita melalui Firman-Nya.
· Iman mengandung unsur berharap, meskipun tidak semua harapan itu iman.
· Kita berharap berdasarkan Firman Tuhan, bukan berdasarkan hasil analisa atau perhitungan manusia. Kalau Allah berbicara kepada kita, meskipun tidak ada dasar untuk berharap, tapi kita tetap berharap dan percaya, inilah yang disebut iman. Misalnya, seorang siswa yang yakin bahwa dia akan lulus ujian karena memang selama ini dia juara kelas terus, ini bukanlah iman. Itu memang wajar demikian. Juga, seorang yang yakin bahwa tahun depan dia akan bisa membeli sebuah mobil, karena setiap bulan dia menabung uang yang cukup, inipun juga bukan iman.
· Yang kita harapkan tersebut belum terjadi atau tidak kelihatan (Roma 8:24-25). Bukan juga karena mendapat info lebih awal.
Inti Iman Kristen
Dari semua kebenaran firman Tuhan yang kita imani, ada kebenaran yang merupakan inti dari iman seorang Kristen. Inti dari kebenaran ini ada di I Korintus 15:3-4, ialah:
· bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,
· bahwa Ia telah dikuburkan,
· dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;
Ini merupakan inti dari iman seorang Kristen, tanpa iman akan hal ini maka iman terhadap hal-hal yang lain tidaklah ada gunanya.
Contoh iman dari Abraham
Abraham disebut oleh Alkitab sebagai Bapak orang beriman. Kita perlu mempelajari bagaimana dia bisa disebut demikian, dan bagaimana kita bisa menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Abraham mendapatkan janji dari Tuhan bahwa dia akan mempunyai keturunan yang banyak dan mendapatkan tanah yaitu Kanaan (Kejadian 12:1-3). Saat itu Abraham berumur 75 tahun dan istrinya berumur 74 tahun.
Abraham percaya kepada janji Allah itu. Dia meninggalkan tanah leluhurnya di Urkasdim dan menuju tanah Kanaan. Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? "Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." (Roma 4:3) Mengapa Abraham percaya? Apakah karena ada dasar untuk berharap? Tidak! Saat itu Abraham sudah tua dan rahim dari istrinyapun sudah tertutup. Tapi Alkitab mencatat:
Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah nanti banyak keturunanmu." Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia tidak mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya, sebagai kebenaran. (Roma 4:18- 22)
Iman Abraham terbukti dari tindakan dan ketekunannya. Abraham bertindak dengan meninggalkan tanah leluhurnya dan menuju tanah yang dijanjikan Allah. Abraham mendapatkan anak saat ia berumur 100 tahun. Selama 25 tahun dia menantikan janji Allah dengan tekun.
Namun Alkitab juga mencatat tindakan Abraham yang tidak berkenan kepada Allah. Selama menunggu janji Allah tersebut, Abraham sempat meragukan kemampuan Allah. Dia tahu bahwa Allah menjanjikan anak kepada dia. Tapi istri dia (Sarah) rahimnya sudah tertutup, secara akal sudah tidak bisa mempunyai anak lagi. Dari pemikiran inilah dia berusaha untuk "menolong" Allah. Atas nasihat istrinya, Abraham mengawini hambanya, yaitu Hagar. Dan mempunyai seorang anak yaitu Ismael. Dari tindakan inilah Abraham berpikir dia bisa "menyelamatkan" rencana Allah. Padahal rencana Allah tetap bahwa anak perjanjian itu haruslah berasal dari Sarah. Tindakan Abraham yang berusaha "menyelamatkan" rencana Allah ini, justru mengakibatkan bencana di kemudian hari.
Bagaimana iman bisa bertumbuh?
Kalau kita baca Alkitab, ada empat hal yang merupakan kehidupan dasar seorang Kristen. Keempat hal tersebut yaitu: doa, firman, bersekutu dan bersaksi. Keempat kegiatan ini harus dilakukan dengan seimbang. Tidak boleh ada salah satu jari yang tidak ada atau kurang. Sampai kapanpun kita tetap harus melakukan ke-empat kehidupan dasar kekristenan ini. Meskipun kerohanian kita sudah matang dan jabatan kerohanian kita sudah tinggi, ke-empat hal ini tetaplah harus kita jalankan sebagai kehidupan sehari-hari. Akan terjadi kepincangan dalam hidup kalau ada yang tidak seimbang dari keempat kegiatan ini. (Untuk pembahasan lebih jauh, bacalah buku "Pelayanan dalam Gereja" bab "Kewajiban orang Kristen dan Karunia Roh.")
Mempraktekkan iman kita
Kita memang perlu bertumbuh dalam kemampuan berpikir, merencanakan dan memanajemen. Tapi sebagai orang Kristen, harus ada sesuatu yang lain dari hanya sekedar kemampuan otak saja. Kita harus mempraktekkan iman kita dalam kehidupan sehari-hari. Justru iman kita butuhkan karena ada hal-hal yang tidak bisa dicapai secara akal. Saat inilah kita membutuhkan iman. Kita perlu untuk melakukan hal-hal yang di luar kemampuan kita, tapi yang Allah suruhkan untuk kita lakukan. Itulah fungsinya iman. Kalau kita hanya melakukan sesuatu di batas kemampuan kita saja, yah, kita tidaklah membutuhkan iman.
Salah satu hal utama yang membuat iman kita tidak bertumbuh yaitu: "Kita memilih untuk tinggal dalam posisi aman." Kalau kita mau melatih iman kita, kita harus berani untuk melakukan tindakan beresiko tapi yang diperintahkan Tuhan. Kalau kita bertindak dengan iman, memang akan ada resiko untuk malu, dicemooh, dikucilkan, dikata-katai orang lain dsb.
Salah satu hal yang banyak dicatat dalam Alkitab, yaitu kita perlu untuk mengatakan iman kita sebelum hal itu terjadi. Ini memang mengandung resiko, tapi itulah latihan beriman. Kalau kita "beriman" setelah peristiwa itu sudah terjadi, itu bukanlah iman yang sebenarnya. Justru untuk melatih iman kita, kita harus berani mengucapkan iman yang Tuhan berikan kepada kita, sebelum hal itu terjadi.
TUGAS GURU KRISTEN
Berbicara tentang "guru Kristen", selalu ada dua hal penting yang patut menjadi perhatian utama kita dalam pembicaraan berikut ini. Pertama, mengenai kedudukan guru sebagai pribadi Kristen. Bagaimana sepatutnya ia memahami dan mengembangkan statusnya sebagai orang Kristen? Kedua, mengenai tugasnya sebagai pendidik dan pengajar. Apakah peranannya sebagai guru dalam melaksanakan tugas keguruan? Bagaimana ia sepatutnya mengemban tugasnya sebagai guru berdasarkan iman Kristiani yang dianutnya?
Bertumbuh di dalam Kristus
Perkara yang sangat penting dikembangkan oleh seorang guru Kristen adalah pengenalan mengenai jati dirinya sendiri sebagai orang Kristen. Kita memahami bahwa orang Kristen adalah "orang yang memberikan dirinya secara penuh kepada Yesus Kristus" (lihat Kis 11:26). Orang Kristen ialah orang yang percaya dan menyambut sepenuhnya kedudukan dan peran Yesus sebagai Tuhan, Juruselamat dan Raja atas kehidupannya. Pembukaan diri ini sebenarnya dimungkinkan oleh kuasa Allah sendiri, sebagai pekerjaan Allah Roh Kudus yang membuat seseorang memberi respons positif terhadap berita Injil (lihat Roma 1:16-17; 1 Kor 15:3-5). Dengan membuka diri, Roh Kudus berkenan hadir ke dalam hidup dan mendiami diri orang percaya. Dengan demikian, nyatalah permulaan orientasi hidup baru, perubahan hidup, pengertian rohani baru, kuasa dan dinamika hidup baru (Yoh 3:3,5; Roma 8:9-11; 2 Korintus 3:17-18; 5:17).
Kemudian sebagai orang Kristen, guru terpanggil untuk bertumbuh ke arah pengenalan yang semakin mendalam dan lengkap tentang pribadi Yesus Kristus (bandingkan dengan Kolose 2:6-7; Galatia 2:19-20). Pengenalan tentang pribadi Yesus ini akan memungkinkan dia untuk semakin memahami kehendak Allah. Karena Yesus sendiri adalah jalan, kebenaran, dan hidup, membawa orang kepada pengenalan yang sejati akan karya Allah (Yoh 1:18; 14:6). Sebab, Yesus menyatakan dengan tegas bahwa di luar Dia, orang tidak dapat melakukan hal yang benar bagi kemuliaan Allah (Yoh 15:4,5,16). Di samping itu, hanya melalui persekutuan dengan Dialah, seorang guru Kristen semakin menemukan kebenaran yang sesungguhnya. Dan kebenaran yang dinyatakan Allah kepada setiap orang percaya menyangkut segi kognitif (intelek-pemikiran), segi moral, etis, serta spiritual. Selanjutnya kebenaran yang harus dikejar oleh guru Kristen adalah kebenaran realitis, yaitu yang nyata dalam kehidupan. Kebenaran yang demikian akan berupaya membebaskan manusia seutuhnya (bandingkan dengan Yohanes 8:31-32; 17:17).
Masalah mengikut Yesus tidak saja terbatas kepada bagaimana kita dapat lebih memahami dan mengerti apa yang dilakukan Yesus bagi pengampunan dosa, dan jaminan kehidupan yang akan datang harus diteladaninya dalam kehidupan sehari-hari dan dalam pelaksanaan tugas keguruan. Howard G. Hendriks (Gangel and Hendriks, 1988), mengemukakan bahwa sedikitnya ada enam segi kehidupan Yesus yang senantiasa mengagumkan, yang perlu diteladani oleh seorang guru Kristen.
1. Dalam segi kepribadian, Yesus memperlihatkan kesesuaian antara ucapan dengan perbuatan. Ia pun menuntut kesesuaian itu terjadi dalam diri murid-muridNya.
2. PengajaranNya sederhana, realistis, tidak mengambang. AjaranNya selalu sederhana dalam arti menyinggung perkara-perkara hidup sehari-hari.
3. Ia sangat relasional, dalam arti mementingkan hubungan antar pribadi yang harmonis.
4. Isi beritaNya bersumber dari Dia yang mengutusNya (Mat 11:27; Yoh 5:19). Selain tetap relevan bagi pendengarNya, ajaran Yesus bersifat otoratif dan efektif (Mat 7:28,29).
5. Motivasi kerjaNya adalah kasih (Yoh 1:14; Flp 2:5-11). Ia menerima orang sebagaimana adanya, serta mendorong mereka untuk berserah kepada Allah.
6. MetodeNya bervariasi, namun sangat kreatif. Ia bertanya dan bercerita. Ia melibatkan orang untuk memikirkan masalah yang diajukan. Selain itu, Ia mengenal orang yang dilayaniNya, tingkat perkembangan serta rohani mereka. (The Christian Educator's Handbook on Teaching (halaman 13-29), Victor Books, 1988)
Seorang guru Kristen juga perlu menyadari bahwa peranan Roh Kudus bukan hanya berlangsung dalam rangka pendewasaan iman dan peningkatan kualitas atau kesadaran akan kesucian hidup, tetapi juga di dalam rangka mengemban profesi sehari-hari. Roh Kudus ingin menyatakan kuasa dan kehadiranNya di dalam diri dan melalui orang. Karena itulah guru bidang studi apapun tetap memerlukan kehadiran Roh Kudus di dalam hidup dan pekerjaannya. Bukan karena mengajar agama Kristen atau memimpin kelompok pemahaman Alkitab, seorang guru membutuhkan kehadiran dan bimbingan Roh Kudus. Roh Kudus juga menyatakan sifatNya melalui gerak-gerik dan gaya mengajar dari guru. Selanjutnya sifat-sifat yang dipancarkanNya dapat menjadi dinamika hidup dalam hubungan antar pribadi yang menyegarkan dan membangun. Sifat-sifat itu pulalah yang diharapkan mewarnai dan membentuk etos kerja seorang guru sebagai pengajar dan pendidik.
Seorang guru, sebagai pengajar iman Kristen, sudah tentu sangat memerlukan ketergantungan terhadap kuasa, urapan dan kehadiran Roh Kudus. Sebab Dialah yang sanggup membuka mata hati orang untuk memahami kebenaran (bandingkan dengan Efesus 3:16,17,18). Ia pula akan memberikan ide-ide baru dalam masa persiapan, dan bahkan sementara guru melakukan tugas mengajarnya (interaksi belajar-mengajar). Ia memberikan semangat atau entusiasme (Yun: en theos). Ia mampu meyakinkan dan menyadarkan para pendengarnya. Ia membuat interaksi di antara sesama anggota dalam kelompok belajar dinamis sehingga terasa hangat dan bermakna (Yoh 16:11-13; 1 Yoh 2:20,27; 3:24; 1 Kor 2:14). Karena itulah seperti dikemukakan oleh Paulus, orang percaya harus selalu mau dipimpin dan dipenuhi Roh Kudus (Ef 5:18; Gal 5:16,18,25). Melalui kegiatannya, guru dapat mendorong terjadinya suasana ibadah, yang menimbulkan kekaguman dan kemuliaan Allah. Roh itulah yang membawa guru dan peserta didiknya beribadah dalam roh dan kebenaran (bandingkan dengan Yohanes 4:24).
Sumber:
· Menjadi Guru Profesional Sebuah Perspektif Kristiani, B. Samuel Sidjabat, M.Th., Ed.D., , halaman 35 - 38, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1993.
Bertumbuh di dalam Kristus
Perkara yang sangat penting dikembangkan oleh seorang guru Kristen adalah pengenalan mengenai jati dirinya sendiri sebagai orang Kristen. Kita memahami bahwa orang Kristen adalah "orang yang memberikan dirinya secara penuh kepada Yesus Kristus" (lihat Kis 11:26). Orang Kristen ialah orang yang percaya dan menyambut sepenuhnya kedudukan dan peran Yesus sebagai Tuhan, Juruselamat dan Raja atas kehidupannya. Pembukaan diri ini sebenarnya dimungkinkan oleh kuasa Allah sendiri, sebagai pekerjaan Allah Roh Kudus yang membuat seseorang memberi respons positif terhadap berita Injil (lihat Roma 1:16-17; 1 Kor 15:3-5). Dengan membuka diri, Roh Kudus berkenan hadir ke dalam hidup dan mendiami diri orang percaya. Dengan demikian, nyatalah permulaan orientasi hidup baru, perubahan hidup, pengertian rohani baru, kuasa dan dinamika hidup baru (Yoh 3:3,5; Roma 8:9-11; 2 Korintus 3:17-18; 5:17).
Kemudian sebagai orang Kristen, guru terpanggil untuk bertumbuh ke arah pengenalan yang semakin mendalam dan lengkap tentang pribadi Yesus Kristus (bandingkan dengan Kolose 2:6-7; Galatia 2:19-20). Pengenalan tentang pribadi Yesus ini akan memungkinkan dia untuk semakin memahami kehendak Allah. Karena Yesus sendiri adalah jalan, kebenaran, dan hidup, membawa orang kepada pengenalan yang sejati akan karya Allah (Yoh 1:18; 14:6). Sebab, Yesus menyatakan dengan tegas bahwa di luar Dia, orang tidak dapat melakukan hal yang benar bagi kemuliaan Allah (Yoh 15:4,5,16). Di samping itu, hanya melalui persekutuan dengan Dialah, seorang guru Kristen semakin menemukan kebenaran yang sesungguhnya. Dan kebenaran yang dinyatakan Allah kepada setiap orang percaya menyangkut segi kognitif (intelek-pemikiran), segi moral, etis, serta spiritual. Selanjutnya kebenaran yang harus dikejar oleh guru Kristen adalah kebenaran realitis, yaitu yang nyata dalam kehidupan. Kebenaran yang demikian akan berupaya membebaskan manusia seutuhnya (bandingkan dengan Yohanes 8:31-32; 17:17).
Masalah mengikut Yesus tidak saja terbatas kepada bagaimana kita dapat lebih memahami dan mengerti apa yang dilakukan Yesus bagi pengampunan dosa, dan jaminan kehidupan yang akan datang harus diteladaninya dalam kehidupan sehari-hari dan dalam pelaksanaan tugas keguruan. Howard G. Hendriks (Gangel and Hendriks, 1988), mengemukakan bahwa sedikitnya ada enam segi kehidupan Yesus yang senantiasa mengagumkan, yang perlu diteladani oleh seorang guru Kristen.
1. Dalam segi kepribadian, Yesus memperlihatkan kesesuaian antara ucapan dengan perbuatan. Ia pun menuntut kesesuaian itu terjadi dalam diri murid-muridNya.
2. PengajaranNya sederhana, realistis, tidak mengambang. AjaranNya selalu sederhana dalam arti menyinggung perkara-perkara hidup sehari-hari.
3. Ia sangat relasional, dalam arti mementingkan hubungan antar pribadi yang harmonis.
4. Isi beritaNya bersumber dari Dia yang mengutusNya (Mat 11:27; Yoh 5:19). Selain tetap relevan bagi pendengarNya, ajaran Yesus bersifat otoratif dan efektif (Mat 7:28,29).
5. Motivasi kerjaNya adalah kasih (Yoh 1:14; Flp 2:5-11). Ia menerima orang sebagaimana adanya, serta mendorong mereka untuk berserah kepada Allah.
6. MetodeNya bervariasi, namun sangat kreatif. Ia bertanya dan bercerita. Ia melibatkan orang untuk memikirkan masalah yang diajukan. Selain itu, Ia mengenal orang yang dilayaniNya, tingkat perkembangan serta rohani mereka. (The Christian Educator's Handbook on Teaching (halaman 13-29), Victor Books, 1988)
Seorang guru Kristen juga perlu menyadari bahwa peranan Roh Kudus bukan hanya berlangsung dalam rangka pendewasaan iman dan peningkatan kualitas atau kesadaran akan kesucian hidup, tetapi juga di dalam rangka mengemban profesi sehari-hari. Roh Kudus ingin menyatakan kuasa dan kehadiranNya di dalam diri dan melalui orang. Karena itulah guru bidang studi apapun tetap memerlukan kehadiran Roh Kudus di dalam hidup dan pekerjaannya. Bukan karena mengajar agama Kristen atau memimpin kelompok pemahaman Alkitab, seorang guru membutuhkan kehadiran dan bimbingan Roh Kudus. Roh Kudus juga menyatakan sifatNya melalui gerak-gerik dan gaya mengajar dari guru. Selanjutnya sifat-sifat yang dipancarkanNya dapat menjadi dinamika hidup dalam hubungan antar pribadi yang menyegarkan dan membangun. Sifat-sifat itu pulalah yang diharapkan mewarnai dan membentuk etos kerja seorang guru sebagai pengajar dan pendidik.
Seorang guru, sebagai pengajar iman Kristen, sudah tentu sangat memerlukan ketergantungan terhadap kuasa, urapan dan kehadiran Roh Kudus. Sebab Dialah yang sanggup membuka mata hati orang untuk memahami kebenaran (bandingkan dengan Efesus 3:16,17,18). Ia pula akan memberikan ide-ide baru dalam masa persiapan, dan bahkan sementara guru melakukan tugas mengajarnya (interaksi belajar-mengajar). Ia memberikan semangat atau entusiasme (Yun: en theos). Ia mampu meyakinkan dan menyadarkan para pendengarnya. Ia membuat interaksi di antara sesama anggota dalam kelompok belajar dinamis sehingga terasa hangat dan bermakna (Yoh 16:11-13; 1 Yoh 2:20,27; 3:24; 1 Kor 2:14). Karena itulah seperti dikemukakan oleh Paulus, orang percaya harus selalu mau dipimpin dan dipenuhi Roh Kudus (Ef 5:18; Gal 5:16,18,25). Melalui kegiatannya, guru dapat mendorong terjadinya suasana ibadah, yang menimbulkan kekaguman dan kemuliaan Allah. Roh itulah yang membawa guru dan peserta didiknya beribadah dalam roh dan kebenaran (bandingkan dengan Yohanes 4:24).
Sumber:
· Menjadi Guru Profesional Sebuah Perspektif Kristiani, B. Samuel Sidjabat, M.Th., Ed.D., , halaman 35 - 38, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1993.
Bahan Kotbah : Ucapan Syukur Mendatangkan Berkat
UCAPAN SYUKUR MENDATANGKAN BERKAT
Bacaan : 2 Taw. 7: 11-22
Pendahuluan
Maka saya mengangkat tema : Ucapan Syukur. (karena banyak yang harus disyukuri) diucapkan. Syukur. Namun berdasarkan pengalaman yang dilakukan Raja Salomo, ketika dia tidak hanya mengucapkan, tetapi melakukan atau dengan tindakan nyata ( 2 Taw. 7 : 5; dan ayat 8) kemudian Pasal 9: 22 Raja Salomo melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat) dalam ucapan syukur tersebut, maka Tema itu menjadi lengkap, yaitu:
Mengucap Syukur mendapatkan Berkat.
Dimana rahasianya kalau ucapan syukur itu bisa mendatangkan berkat. Bakkan berkat yang melimbah dan juga hikmat.
Mengucap syukur mendapatkan berkat.
Apakah yang dilakukan Raja Salomo dalam ucapan syukurnya?
Apakah Usaha Salomo, sehingga ucapan syukur itu dapat mendatangkan berkat?
Apakah berkat yang diterima Raja Salomo?
Ucapan Syukur dapat mendapatkan berkat, yaitu apabila:
Disertai dengan Pengorbanan atau persembahan
Disertai dengan Ibadah atau perayaan
Disertai dengan usaha.
TetaP tinggal.
Untuk mendapatkan berkat dalam pengucapan syukur, Salomo memberikan persembahan:
Ayat 5 = 20 ribu Ekor Lembu sapi 8jt X 20 = 160.000.000.000.-
120 ribu ekor kambing domba 1 rb X 120 =
120.000.000.000,-
280.000.000.000,-
Setiap hari, setiap hari sabat dan raya tertentu. Selalu ada korban persembahan. Ayat 13 pasal 8
kedua : menurut ayat 8, dan pada waktu itu juga salomo mengadakan perayaan Pondok daun selama 7 Hari.
Dan ketika menurut pasal 8, memperkuat kota-kota, dan satu hal yang salomo lalukan, yaitu tidak memeperalat orang Israel. Ayat 9: Tetapi orang Israel tidak ada yang dijadikan budak oleh Salomo untuk pekerjaannya.
(Yeremia 29 : 7): Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah ksejahteraanmu”
Apakah berkat yang diterima Salomo?
ayat 66 – Berkusacita dan bergembira
ayat 2 Tuhan menampakan diri
120 talenta emas
sangat banyak remah-remah
Batu permata yang mahal-mahal
Pasal 9: 1 dalam 1 tahun 666 talenta emas.
Dan dalam 2 s/d 28 adalah daftar kekayaan Salomo, yang diringkat menjadi 1 kalimat, yaitu :
Pasal 9: 22 Raja Salomo melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat).
Kekayaan dan Hikmat.
Kesaksian Jemaat GSJA.
Bapak-ibu jemaat yang berbahagia dan telah bersyukur. Yang perlu kita renungkan adalah ucapan syukur yang bagaimana yang sudah kita lakukan? Sehingga benar-benar mendatangkan berkat. Sudahkan dengan berkorban, dengan memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Mengucap syukur, tentu bukan hanya mengucap, tetapi Allah menghendaki disertai dengan tindakan nyata.
Prinsip Alkitab : Berilah maka kamu akan diberi,
Carilah, maka kamu akan mendapat
Dan dalam Tuhan, jerih payahmu tidak sia-sia.
Matius 6:33: mendahulukan Tuhan diatas segala-galanya, semuanya akan ditambahkan kepadamu.
Masilah dalam kita mengucap syukur, kita barengi dengan korban atau persembahan.Bukan hanya tubuh sebagai persembahan yang hiduip, yang kudus dan yang berknan kepada Tuhan, tetapi rupiah-rupiah yang Tuhan percyakan kepada kita semua.
Pelayanan menbutuhkan persmbahan saudara. Untuk memperkuat jemaat/ gereja. Uluran tangan saudara sangat berarti.
Pesan Natal
MEMBERKATI UNTUK MENERIMA BERKAT
Bacaan: I Pet. 3:8-9
Nat. : Mazm. 126: 5-6
” Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan
menuai dengan bersorai-sorai. Orang yang berjalan maju dengan
menangis sambil menabur, pasti pulang sambil membawa berkas-
berkatnya”
Pendahuluan
Penulis I Petrus adalah Petrus, Rasul Yesus Kristus (1 Pet.1:1). Yang menarik dan perlu ditekankan adalah tentang nama Petrus. Nama ini (Petrus ini) begitu penting dalam surat I dan I Petrus). Dalam Surat II Petrus ( II Pet. 1:1) ditulis demikian: ”Dari Simon, Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus”.
Bapak Ibu Saudaraku Mahasiswa yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus.
Nama ”Simon” adalah nama lama Petrus, yang mengacu kepada manusia lama dan ”Petrus” menyatakan manusia Petrus yang sudah dilahirkan kembali dan rohani, tidak seperti nama kefas atau simon, yang menyatakan manusia alamiah berdasarkan kelahirannya ( Yoh 1:42; Mat. 16:17-18). Sedangkan HAMBA, hamba Yesus Kristus, yang hanya ditulis dalam II Pet. 1:1, menyatakan bahwa Petrus adalah rasul Yesus Kristus yang setia. Hamba hanya menjalankan apa yang ditugaskan atau dikehendaki oleh tuanya. Dan Rasul Petrus mendapatkan sebutan itu didepan nama barunya, Simon petrus hamba dan rasul Yesus Kristus.
Yang kedua, yang tidak kalah penting untuk kita ketahui adalah penulisan 1 dan 2 Petrus. Ini sangat penting karena akan lebih memaknai dan menjadi begitu berarti ketika kita diperhadapkan dengan tema NATAL tahun ini yaitu : MEMBERKATI untuk MENERIMA BERKAT ( 1 Petr, 3:8-9).
Bapak, Ibu dan saudaraku Mahasiswa, yang dikasihi Tuhan Yesus.
Surat 1 Petrus ditulis tahun 64 SM yaitu 5 tahun sebelum surat II Petrus atau 5 tahun sebelum Petrus mati sahit karena kesetiaan sebagai seroang rasul Yesus Kristus. Boleh jadi pesan : I Petrus 3:8-9, merupakan kata terakhir atau kata perpisahan, sebagai suatu pesan yang harus dilakukan orang setiap orang percaya pada saat itu. Lihat.............” Dan Akhirnya, Hendaklah kamu semua...” dan Hendaklah kamu memberkati. Dan terjemahan asli Bahasa Yunani ”Hendaklah kamu memberkati” merupakan petunjuk waktu dalam, Bahasa Yunaninya berarti: selalu memberkati. Artinya dalam keadaan apapun, temasuk pada saat resesi, kekuarangan dan masalah Orang Kristen harus selalu memberkati, selalu menabur, selalu memberi pertolongan kepada siapapun dan kapanpun.
Bapak, Ibu dan saudaraku mahasiswa yang saya kasihi di alam Tuhan Yesus Kristus!!!
Memberkati dengan apa, atau memberi dengan apa? Itu yang selalu dan selalu menjadi alasan untuk kita tidak dapat memberkati oang lain.
Tertolong karena Menolong, Diberkati karena Memberkati
Dua orang pendaki gunung berjalan pulang dari puncak gunung karena cuaca sangat buruk dan dingin. Di tengah jalan, ketika mereka hampir tidak dapat lagi bertahan, tiba-tiba mereka menemukan seorang pria lain yang tergeletak sendirian—hampir mati kedinginan.
Pria yang satu terus berjalan karena ia berpikir bahwa tidak mungkin ia menghabiskan sisa tenaganya untuk menolong orang tersebut. Ia sendiri saja sudah hampir mati.
Sebaliknya, pria yang satunya lagi dengan susah payah meggendong orang tersebut di punggungnya. Tentu saja hal itu membuatnya tertinggal jauh di belakang temannya yang berjalan tanpa beban.
Setelah beberapa jam terus berjalan, pria yang menggendong itu menemukan temannya telah lebih dahulu berjalan turun gunung tanpa beban. Apa yang terjadi? Temannya itu telah mati kedinginan. Frostbite.
Pria kedua yang menolong orang tersebut justru bertahan dengan selamat sampai ke kaki gunung. Mengapa? Kok bisa?
Karena sesungguhnya pertolongan yang diberikannyalah yang membuatnya selamat. Dengan menggendong pria sekarat itu di punggungnya, ia mendapatkan panas tubuh dari pria yang digendongnya itu. Ia tertolong karena menolong.
Upah Memberkati.
Apakah upahnya orang yang memberi atau yang memberkati?
Contoh Janda Di Sarfat (dipelihara sampai musin hujan tiba (3,5 tahun)
Contoh Ishak (mendapat 100 X lipat)
Kesaksian.
Benarlah perkataan ini : ”Orang dunia boleh resesi, namun anak-anak Tuhan resepsi”. Sementara bisnis-binsis dunia menciut, bahkan banyak yang tumbang, karena gelombang krisis finansial yang terjadi di Amerika, tetapi Tuhan sedang mempersiapkan kita untuk mengalami perluasan di tahun 2009, tahun samekh teth ini.
Bapak, Ibu Sdrku Mahasiswa yang dikasihi Tuhan Yesus.
Tuhan sanggup melimpahkan segala kasih karunia dan hikmat supaya kita senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu, sehingga kita berkelimpahan dalam perbagai perbuatan baik. Krisis ekonomi global dampaknya banyak orang yang di PHK, sehingga jumlah pengangguran meningkat dan orang miskin bertambah. Inilah kesempaan yang Tuhan berikan bagi kita untuk mempraktekkan kebajikan atau perbuatan baik itu dengan memberikan atau memberkati orang lain.
Tidak hanya melepaskan berkat dalam perkataan dan perbuatan baik, tetapi juga memberkati dalam hal keuangan. Secara mata jasmani, terasa berat apalagi di masa resesi sekarang ini, namun justru saat yang sulit seperti ini adalah pintu yang terbuka lebar untuk menabur.
Lihat Ishak, pendaki Gunung, Janda Disarfat. Justru saat-saat mereka tidak mampu secara fisik, ekonomi, ketika mereka harus bergumul untuk hidupnya, antara hidup dan mati (bahkan hampir mati). mereka ditantang untuk memberkati, memberi pertolongan. Dan ketika mereka melakukannya..........apa yang mereka dapatkan. Diberkati dengan luar biasa.
Aplikasi:
Bapak, Ibu Sdr. Benar Nats Firman Tuhan ini ” ....................(Maz. 126: 5-6)
Inilah janji pemulihan yang Tuhan berikan bagi saudara dan saya di tahun yang baru 2009. Namun janji ini menyatakan kepada kita, bahwa kita perlu menabur terbelih dahulu, sekalipun disertai dengan cucuran air mata. sebab pada akhirnya kita akan menuai dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkatnya.
Bapak, Ibu Sdrku Mahasiswa,
Tahun 2009 adalah tahun Samekh Teth, dalam kalender Yahudi tahun 5769, memiliki arti profetis sebagai waktu umat Tuhan berbuah-buah. Teth berarti rahim, artinya inilah waktunya untuk kita menerima sukacita besar setelah menderita mengandung. Apa yang tidak pernah didengar, yang tidak pernah dilihat, yang tidak pernah timbul dalam hati akan dilahirkan oleh orang-orang yang mengasihi Tuhan. Sama seperti seorang ibu yang sedang dalam proses melahirkan. Mereka merasa kesakitan yang sangat amat, namun setelah anak yang dikandungnya dilahirkan, maka lenyaplah seluruh kesakitannya dan sukacita yang tidak terkatakan akan meliputi, memenuhi hatinya.
Demikian juga sewaktu kita melahirkan berkat Tuhan, melepaskan berkat yang Tuhan sudah berikan bagi kita, maka masa-masa sulit saat dimana kita menabur sebelumnya tergantikan dengan sukacita yang melimpah dalam hati kita.
Bapak, Ibu Saudraku Mahasiswa, persiapkanlah diri kita untuk memasuki tahun yang baru 2009, dengan meresponi dengan baik Firman Tuhan pada perayaan Natal kita hari ini. Bukan hanya menjadi pedengar, namun menjadi pelaku Firman. Marilah kita memberkati dan menyenangkan hati Tuhan Yesus yang sudah menyelamatkan nyawa kita, yaitu dengan perkataan, perbuatan dan juga dengan pemberian yang berupa harta yang kita punyai, bagi sesama dan bagi Tuhan Yesus.
Sebab kita tidak membawa apa-apa ke dalam dunia. Dan pada akhirnya akan kita tingal semua. Oleh sebab itu harus kita katakan: Inilah yang kupunya, hati sbagai hamba, yang mau taat dan setia padamu Bapa. Kemana kan kubawa hati yang menyembah, Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Salatiga, 8 Desember 2009
Natal Tanpa Yesus (Christmas without Christ)
Bacaan : Lukas 12: 1-5
Nast : Lukas 12: 5:
“ Aku akan menunjukkan kepadamu siapa yang harus kamu takuti”
Pendahuluan
Peringatan khusus bagi murid-murid!!!
Apa yang sebenarnya terjadi?
Dalam ayat 5, Yesus mengatakan Aku. ”Aku akan menunjukkan kepadamu siapa kamu harus takuti”.
Bapa, Ibu Sdr yang dikasihi Tuhan Yesus!!
Allah adalah satu-satunya yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh manusia di Gehana. Perkataan ini menyiratkan bahwa rasul yang diutus oleh Tuhan tidak tahan menderita penganiayaan. Mereka akan didisiplin oleh Allah. Dididiplin ini akan terjadi pada zaman yang akan datang, setelah penghakiman pada tahta pengadilan Kristus, ketika kaum beriman menerima pahala atau penghukuman (2 Kor. 5: 10 dan Wahyu 22:12)
Natal Tanpa Yesus
Bapak, Ibu Sdr. Ini terjadi!!!
Sebuah survey yang diadakan pada tahun 2002 menemukan sebuah fakta yang ironis mengenai perayaan natal dalam media televisi pada masa modern ini. National Religious Broadcasters (Lembaga Penyiaran Tayangan Religius Nasional) di Amerika menganalisa 48.000 jam program seputar natal pada Desember 2002 lalu. Hasilnya adalah bahwa 90% tayangan seputar natal tersebut sama sekali tidak memiliki sangkut paut dengan hal kerohanian. Ada juga sekitar 7% tayangan bernuansa rohani, tetapi sama sekali tidak menyinggung langsung mengenai Tuhan Yesus yang lahir. Sisanya menunjukkan bahwa hanya 3% program televisi bertema natal yang memfokuskan tema pada Tuhan Yesus. Hanya 3%! Betapa ironis. Lalu, dimanakah Tuhan Yesus dalam 97% tayangan bertema natal lainnya? Entahlah.
Mengapa demikian?
Yang jelas, telah sangat nyata bahwa sesungguhnya banyak orang merayakan natal hanya sebagai sebuah perayaan, kesenangan, momen nostalgia, masa liburan yang menyenangkan. Natal dilewatkan sebagai sebuah masa bersenang-senang. Banyak orang menikmati natal tanpa Tuhan Yesus. Tanpa merasa perlu tahu atau merenungkan kembali kelahiran bayi natal. Natal tanpa Tuhan Yesus, itulah ironisnya yang banyak terjadi dewasa ini. Ada ketakutan yang mendalam, kalau mereka terlalu menyolok. Takut kehilangan pamor, keuntungan secara Finansialnya menurun dan takut tidak mengikuti perkembangan zaman. Maka apa yang terjadi?
Ironis!! Amerika:
Yerusalem Kecil
Kota musik dan Kota Alkitab
Perintah yang besar.
dll yang bagus-bagu dan hebat-hebat dari Amerika.
Tetapi ini kenyataan.
Organisasi Gallup yang terpandang ini telah mengumpulkan pendapat umum orang Amerika mengenai ribuan topik selama puluhan tahun. Dalam bidang Agama, jejak pendapat menunjukkan bahwa orang Amerika pada umumnya menggambarkan diri mereka sebagai orang yang beragama, dan mayoritas mengidentifikasikan dirinya sebagai orang Kristen.
Tetapi pendapat umum itu juga memperlihatkan bahwa orang-orang (termasuk mereka yang mengganggap dirinya orang Kristen) herannya tidak mengindahkan Alkitab, tidak mengenal tokoh-tokoh penting dan pengajaran Alkitab.
Perbedaan ini menjadi jelas dalam pengumpulan pendapat selama puluhan tahun. Ya, orang Amerika itu (atau mengaku) beragama. Tidak, mereka tidak tahu banyak tentang Alkitab.
Apa yang terjadi dengan mereka saat ini? Apa kata Alkitab?
Pahala atau penghukuman yang mereka terima?
Bagaimana dengan kita yang akan mempersiapkan Natal?
Dimanakah Yesus akan kita tempatkan? Itu yang akan membuat NATAL itu menjadi berkat bagi kita dan semua. Amin.
Berani Bermimpi
Apa yang bisa dilakukan seorang pemuda untuk mendapatkan sebuah rumah tanpa memiliki pekerjaan yang baik dan keuangan yang buruk?
Kyle MacDonald, seorang pemuda dengan kondisi seperti itu, suatu hari sampai pada sebuah rencana yang tidak pernah dipikirkan oleh siapapun sebelumnya. Ide gilanya adalah mengubah satu klip kertas berwarna merah menjadi sebuah rumah permanen bagi dirinya. Mungkinkah? Mungkin, sebab ia berhasil melakukannya.
Pertama ia memasukkan foto klip kertas merahnya dan mulai mencari orang yang ingin bertukar barang dengannya. Pertama sekali, ia berhasil menukar klip kertas merahnya dengan sebuah pena berbentuk ikan. Kemudian, ia menukar pena bentuk ikan itu dengan sebuah gagang pintu. Gagang pintu kemudian ditukar dengan sebuah perapian sederhana. Perapian itu ditukarnya dengan generator elektrik. Generator itu ditukarnya lagi dengan tanda minuman alkohol Budweiser dan sedrum bir—yang kemudian ditukarnya dengan mobil salju. Dan tepat setahun dan 14 pertukaran via internet kemudian, ia menukar sebuah peran pembantu di sebuah film Hollywood dengan sebuah rumah di Kanada.
Kisah nyata Kyle ini dituliskannya dalam sebuah buku berjudul, “One Red Paperclip”. Bukunya sekarang sedang dibuat menjadi film. Ketenaran, banyak uang, sebuah buku, sebuah film dan sebuah rumah—semua Kyle dapatkan hanya dengan modal sebuah klip kertas merah dan “iman”-nya.
Sungguh sulit dipercaya memang. Terdengar terlalu berlebihan mungkin. Tetapi saya percaya iman percaya kita akan sebuah kebangunan dan perubahan adalah serupa dengan klip kertas merah tersebut. Tuhan Yesus berkata jika kita memiliki iman sebesar biji sesawi, maka kita akan mampu memindahkan gunung (Mat. 17:20). Biji sesawi sangat kecil, masih lebih kecil dari klip kertas merah tersebut. Tetapi Tuhan Yesus berkata jika saja kita memiliki iman dan berani bermimpi sebesar apapun bagi Tuhan, “Tidak ada yang mustahil bagimu!”.
Bersukacita adalah Sebuah Pilihan
14 Mei 1988, semua koran lokal di Kentucky memberitakan mengenai sebuah kecelakaan bus yang hebat dimana 24 anak-anak dan 3 orang dewasa meninggal dunia. Kecelakaan itu disebut sebagai “kecelakaan terburuk akibat pengemudi mabuk di dalam sejarah Kentucky”. Yang menyedihkan lagi adalah kenyataan bahwa bus itu membawa sekelompok anak-anak muda dari Gereja Sidang Jemaat Allah setempat.
Seorang saksi yang selamat dari kecelakaan itu mengisahkan tentang apa yang terjadi dalam kecelakaan yang mengerikan itu. Seorang korban bernama Chuck Kytta adalah seorang pengerja gereja dalam pelayanan kaum muda. Chuck duduk persis di belakang supir ketika kecelakaan terjadi, tepat di atas tangki bahan bakar. Tidak heran jika hanya dalam hitungan sepersekian detik ketika tabrakan terjadi, sekujur tubuh Chuck langsung menyala terbakar api. Api itu begitu hebat melalap dirinya yang tidak langsung meninggal seketika.
Yang luar biasa adalah, saksi itu berkata, ketika Chuck tersadar bahwa pakaian dan tubuhnya sudah dilalap api, Chuck memandang ke langit-langit dan berkata dengan nyaring, “Jesus, I’m coming home!” (Tuhan Yesus, aku pulang!). Beberapa anak lain yang selamat bahkan bersaksi bahwa Chuck tersenyum ketika api itu perlahan melahap tubuhnya.
Bayangkan kejadian itu. Chuck yang tubuhnya sudah menyala dilalap api, begitu menderita dan begitu sakit panas pastinya, namun justru begitu terfokus pada Tuhan. Begitu nampak bersukacita. Ia tersenyum. Ia sudah memilih untuk bersukacita pada akhir hidupnya yang tragis.
Ninie Hammon adalah seorang eksekutif editor harian The Southeast Outlook di Louisville, Kentucky; namun pada 1988, ia hanyalah wartawan di sebuah perusahaan koran kecil. Ninie Hammon yang menuliskan kesaksian itu begitu sulit percaya. Bertahun-tahun kemudian Ninie menulis, “Saya bukanlah seorang Kristen pada tahun 1988 itu, karena itu saya sama sekali tidak habis pikir apa yang sesungguhnya Chuck lakukan. Ia seorang pemuda biasa yang sering dipanggil “Banana (pisang)”—berdiri dengan tubuh dilahap api menjelang kematiannya, tetapi dia tersenyum?”
Bagaimanapun Ninie mencoba, ia tidak dapat menghapuskan bayangan peristiwa itu dari benaknya. Dua tahun mencari penjelasan, pada akhirnya Ia bertobat dan menjadi Kristen, setelah Ia menemukan bahwa Tuhan Yesuslah satu-satunya alasan dimana kesukacitaan semustahil itu bisa terjadi.
Sukacita adalah pilihan untuk dilakukan. Bukan rasa yang harus dicari.
Hati Memberi
Pada tahun 1884, seorang gadis kecil bernama Hattie May Wiatt berdiri dan menangis di luar pintu gereja baptis kecil di Philadelphia, Pennsylvania. Ia berusia 8 tahun dan ingin ikut Sekolah Minggu, tetapi gerejanya kecil dan penuh sesak. Ia menangis dan terpaksa berjalan pulang ke rumah tanpa dapat masuk ke gereja itu.
Ketika itu Russell Conwell, seorang pendeta perang sipil datang dan menggendong Hattie yang masih menangis dan mendudukannya di sudut ruangan yang gelap. Sejak itu, setiap kali Russell melihat Hattie, Ia berjanji akan membuat ruang SM yang lebih besar supaya teman-teman Hattie juga beroleh tempat dan kesempatan untuk mendengar tentang Tuhan Yesus.
Dua tahun kemudian, Hattie meninggal dunia. Seseorang mengangkat tubuhnya yang kurus dari tempat tidur dan menemukan sebuah dompet yang kusut. Di dalam dompetnya terselip uang 57 sen dan sebuah kertas catatan bertuliskan, “Uang ini untuk membangun gereja menjadi lebih besar supaya anak-anak dapat datang ke Sekolah Minggu.” Dengan menangis sambil membaca catatan itu, Russell berdiri di hadapan jemaatnya dan menantang mereka untuk memberi agar dapat membangun gedung SM yang besar.
Respon yang luar biasa terjadi, jemaat mulai tergerak untuk memberi karena begitu tersentuh dengan hati Hattie yang begitu tulus dan memberi bagi Tuhan. Begitu dimulai pengumpulan dana tersebut, segera dalam waktu singkat terkumpullah uang dengan berlimpah—sampai akhirnya mereka tidak hanya dapat membangun sebuah gedung Sekolah Minggu yang besar, tetapi juga gedung gereja yang baru yang lebih besar, klinik kesehatan masyarakat, ruang kursus dan ruang penggembalaan.
Tahun 1912, Russell Conwell berkhotbah tentang berkat Allah yang terus melimpah karena uang 57 sen pemberian Hattie. Nama gereja diubah menjadi Temple Baptist Church. Kliniknya terus bertumbuh dan saat ini menjadi rumah sakit terbesar di Philadelphia yang melayani ribuan pasien setiap tahun. Ruang kursusnya berubah menjadi Temple University yang juga kini menjadi universitas terbesar di Pennsylvania.
Selalu Bersyukur
Suatu kali ada seorang raja yang senang sekali berburu jauh dari kerajaannya. Dalam setiap perjalanan berburu, ia selalu didampingi oleh penasihat dan pengawalnya. Suatu hari dalam sebuah perburuan, entah bagaimana, sang raja mengalami kecelakaan yang mengakibatkan jari kelingking kirinya terputus karena anak panah. Sang raja merasa begitu sakit dan jengkel luar biasa walaupun hal itu terjadi karena kelalaiannya sendiri. Untuk menenangkan hati sang raja, si penasihat berkata pelan kepadanya, “Sudahlah Raja, tentu ada maksud yang baik dari segala peristiwa buruk. Bersyukurlah setidaknya Raja tidak mengalami bencana yang mengancam nyawa Raja.” Mendengar hal itu, bukannya tenang, sang raja justru begitu marah dan memerintahkan si penasihat untuk di penjara. “Lihatlah, apa yang baik bagimu jika engkau dipenjara.”
Maka raja pun kemudian mendapatkan seorang penasihat baru untuk mendampinginya. Setelah lewat beberapa masa, raja pun kemudian berangkat berburu lagi dengan didampingi oleh penasihat baru dan para pengawalnya. Kali itu pun terjadi hal yang mengerikan. Sang raja dan rombongannya tanpa sadar memasuki sebuah wilayah perkampungan suku asing. Dalam pertempuran, seluruh pengawal terbunuh sehingga raja dan penasihat pun tertangkap.
Tak disangka, suku asing itu memiliki ritual kepercayaan mempersembahkan orang-orang asing bagi dewa yang mereka sembah dengan cara dibakar hidup-hidup. Maka disiapkanlah sebuah upacara untuk mempersembahkan sang raja dan si penasihat. Begitu ketakutanlah sang raja dan penasihatnya mengetahui hal itu. Namun, ketika segala sesuatunya sudah siap, seluruh anggota suku sudah siap, pembakaran sudah siap; beberapa orang suku asing itu mengetahui bahwa salah satu dari orang yang akan mereka persembahkan tidak memiliki jari yang lengkap. Lalu mereka pun melepaskan sang raja, dan hanya membakar si penasihat.
Singkat cerita, sang raja sampai pulang ke kerajaannya dengan begitu bersyukur. Ia teringat dengan perkataan penasihatnya yang dipenjara, dan menyuruhnya dilepaskan. Raja bahkan memberikan jabatan penasihat itu kembali padanya. Sang raja tersenyum dan berkata, “Benar apa yang kau katakan. Dulu aku begitu marah kehilangan satu jariku, namun sekarang aku tahu bahwa sepatutnya bersyukur untuk hal itu. Jika saja aku tidak kehilangan jariku, aku pasti sudah mati.” Si penasihat menjawab, “Terima kasih Baginda telah memenjarakan hamba selama ini.” Raja kaget dan bertanya, “Apa maksudmu?” “Jika saja Baginda tidak memenjarakan hamba, maka pastilah hamba yang sudah mati dibakar oleh suku asing itu.”
Tertolong karena Menolong, Diberkati karena Memberkati
Dua orang pendaki gunung berjalan pulang dari puncak gunung karena cuaca sangat buruk dan dingin. Di tengah jalan, ketika mereka hampir tidak dapat lagi bertahan, tiba-tiba mereka menemukan seorang pria lain yang tergeletak sendirian—hampir mati kedinginan.
Pria yang satu terus berjalan karena ia berpikir bahwa tidak mungkin ia menghabiskan sisa tenaganya untuk menolong orang tersebut. Ia sendiri saja sudah hampir mati.
Sebaliknya, pria yang satunya lagi dengan susah payah meggendong orang tersebut di punggungnya. Tentu saja hal itu membuatnya tertinggal jauh di belakang temannya yang berjalan tanpa beban.
Setelah beberapa jam terus berjalan, pria yang menggendong itu menemukan temannya telah lebih dahulu berjalan turun gunung tanpa beban. Apa yang terjadi? Temannya itu telah mati kedinginan. Frostbite.
Pria kedua yang menolong orang tersebut justru bertahan dengan selamat sampai ke kaki gunung. Mengapa? Kok bisa?
Karena sesungguhnya pertolongan yang diberikannyalah yang membuatnya selamat. Dengan menggendong pria sekarat itu di punggungnya, ia mendapatkan panas tubuh dari pria yang digendongnya itu. Ia tertolong karena menolong.
Merindukan Perubahan
Majalah Time Asia edisi 5 Agustus 2002 merupakan edisi yang sangat menarik. Topik utama edisi itu tertulis sangat menonjol pada covernya, “Changing Faces”, dengan foto seorang wajah seorang wanita yang dikelilingi oleh bermacam peralatan bedah—gunting, pisau kecil, pisau iris, dsb. “Changing Faces” atau Mengubah Wajah, itulah topik utama edisi itu—mengulas secara detil mengenai tren operasi plastik atau operasi kecantikan di Asia.
Hasil penyelidikan Time menunjukkan betapa banyaknya orang—baik pria maupun wanita—yang berkonsultasi kepada dokter atau ahli kecantikan untuk memperbaiki penampilan fisiknya. Operasi kecantikan di Asia menjadi booming pada tahun-tahun belakangan ini.
· Di Taiwan saja ada sekitar satu juta prosedur operasi kecantikan yang dilakukan pada tahun 2001.
· Di Korea, para ahli bedah memperkirakan sedikitnya satu dari sepuluh orang dewasa menerima operasi perbaikan penampilan fisik
· Masyarakat Jepang menghabiskan sedikitnya 100 juta dolar US setahun untuk memperbaiki penampilan
· Indonesia (pada tahun 2002) hanya memiliki 43 ahli bedah plastik yang berlisensi atau yang diakui, namun di ibukota Jakarta saja sedikitnya terjadi 400 prosedur operasi ilegal untuk memperbaiki penampilan dengan menggunakan silikon.
· Yang lebih hebat lagi… Thailand. Pemerintah Thailand saat ini mendukung adanya tur bagi kaum wisatawan untuk melihat dan mencoba operasi plastik. Ada tur khusus untuk itu!
Satu kalimat dalam artikel itu sangat menarik perhatian. “What we won’t do for beauty”—apa yang tidak akan kita lakukan demi kecantikan? Di Asia dan di seluruh dunia semua orang berupaya untuk mendapatkan penampilan terbaiknya.
Setiap kita selalu berusaha membeli baju yang bagus untuk kita kenakan, kita menggunakan shampo ini, sabun itu, odol pemutih gigi ini, parfum itu, lipstik ini, bedak itu, dst… hanya dengan satu tujuan.. menutupi “kekurangan” atau “kejelekan” kita. Kita ingin menjadi “manusia baru” yang lebih cantik, lebih gagah, lebih tampan, lebih menarik; namun sesungguhnya tidak ada yang dapat kita lakukan untuk mengubah “diri” kita dalam natur dan keberadaan dasarnya. Kita hanya menutupi permukaan luar diri kita saja. Tidak lebih.
MENDENGAR DAN BERDIAM DIRI
TERLETAK KEKUATAN, PERTOLONGAN DAN BERKAT
Bacaan : Yesaya 41: 1-7
Nats. : Yesaya 51: 3:
“Sebab Tuhan menghibur Sion, menghibur segala reruntuhannya. Ia membuat padang gurunnya menjadi taman eden, dan padang belantaranya menjadi taman Tuhan. Disitu terdapat kegirangan dan sukacita, nyanyian syukur dan lagu yang merdu”
Mengapa,
Apakah Allah tidak mendengar? Apakah Allah salah?
I. Pendahuluan
Ilustrasi :Tuhankah yang Salah?
Pada suatu hari dengan wajah cemas seorang suami berkunjung ke dokter keluarga dan berkata, “Pak Dokter, saya kuatir istri saya mulai tuli pendengarannya.” Dokter bertanya bagaimana ia mengetahui bahwa istrinya mulai tuli, jawabnya, “Akhir-akhir ini jika saya panggil atau berbicara kepadanya ia sering tidak menyahut.”
Lalu si dokter pun menasehatinya, “Coba anda pulang dan test apakah ia benar-benar tuli. Caranya berbicaralah kepadanya dari jarak 5 meter, 3 meter, 2 meter hingga berdiri di sampingnya. Setelah itu kita akan mengetahui hasilnya.”
Si suami lalu pulang ke rumah, menemukan istrinya sedang memasak di dapur. Dari jarak 5 meter ia bertanya, “Bu, malam ini kita masak apa?” Tidak ada jawaban. Lalu ia mendekat dan bertanya lagi, “Bu, malam ini kita makan apa?” Tidak ada jawaban. Ia makin mendekat sekitar 2 meter, bertanya lagi dan masih tidak respon. Ia melangkah lagi mendekat, tinggal berjarak satu meter, “Bu, malam ini kita makan apa?” Ia begitu sedih merasa istrinya sama sekali tidak mendengarkannya. Akhir ia berdiri tepat di samping istrinya dan berteriak, “Bu, malam ini kita makan apa?”
Sang istri berbalik, menatapnya sebentar dengan muka aneh, lalu berkata lantang sekali, “Untuk kelima kalinya kukatakan kepadamu! Nanti kita makan ayam goreng!”
Dalam hidup ini kita mungkin mudah berpikir bahwa Tuhan Allah itu tidak mendengarkan kita, tidak terlalu peduli pada kita, hanya menuntut dan menuntut kita mengerjakan kehendakNya.
Dalam bacaan kita tadi, setelah bangsa Israel mendengar Firman Allah dan berdiam diri untuk berdoa, maka ada 5 bahkan lebih berkat Allah yang diberikan: Mari kita liat sama-sama, dan saya rindu, berkat Allah itu juga menjadi bagian kita. Yaitu apabila kita mau.......
II. Pembahasan.
” Mendengar dan berdiam diri” Ayat 3, ayat 1:
Dengan mendengar dan berdiam diri bangsa Israel:
ayat 1 Mendapat kekuatan baru
ayat 2 Mendapat kemenangan yang luar biasa:
- Pedangnya membuat musuhnya seperti debu
- Panahnya membuat mrk seperti jerami yg tertiup
Ayat 3 membuat berhasil, walaupun jalan iku belum pernah dilaluinya.
Seperti pohon yang ditanam ditepi aliran air, Yeremia 17:7-8, Oleh Pemazmur, semua yang dilakukannya berhasil. (Maz. 1:3)
Ayat 4 Tuhan tetap menjadi Tuhan mereka. Yosua 24: 20, Berbalik dari Tuhan, Tuhan akan melakukan yang tidak baik.
ayat 6 dan 7 Menjadi berkat bagi orang lain.
- Yang seorang menolong yang lain,
- Tukang besi menguatkan hati tukang emas.
III. Kesimpulan,
Dalam hidup ini kita mungkin mudah berpikir bahwa Tuhan Allah itu tidak mendengarkan kita, tidak terlalu peduli pada kita, hanya menuntut dan menuntut kita mengerjakan kehendakNya. Padahal kita merasa Tuhan tidak memberikan kepada kita kekuatan. Kita pikir Tuhanlah yang salah karena tidak memberikan kita kekuatan. Padahal, sesungguhnya kitalah yang terlalu jauh dari Tuhan. Telinga rohani kitalah yang bermasalah. Mata rohani kitalah yang dibutakan oleh dosa.
Oleh sebab itu, dengarkanlah FirmanNya, dan berdiam diri untuk berdoa, maka kekuatan , dan berkat akan mengalir dalam kehidupan kita, walaupun kelihatannya mustahil. Bagaimana bisa tukang besi, bisa menasehati hati tukang emas, kalau bukan karena berkat Allah yang memampukan mereka, karena mendengar dan berdiam diri untuk berdoa.
Bagaimana jalan yang belum dilalui bisa membawanya berhasil? Karena Tangan Tuhan yang terulur.
Masilah kita mendengar, dan berdiam diri. Kita menyerahkan segala beban dan persoalan hidup ini kepada Tuhan .
IV. Penguatan:
Yesaya 51: 3:
“Sebab Tuhan menghibur Sion, menghibur segala reruntuhannya. Ia membuat padang gurunnya menjadi taman eden, dan padang belantaranya menjadi taman Tuhan. Disitu terdapat kegirangan dan sukacita, nyanyian syukur dan lagu yang merdu”
Renungan:
CERDIK SEPERTI ULAR
DAN
TULUS SEPERTI MERPATI
Bacaan : Matius 10:16-20
Nast. : Matius 11:28
”Marilah kepadaKu semua yang letih lesu dan
berbenan berat, Aku akan membri kelegaan kepadamu”
Pendahuluan
Banyak orang tahu pepatah Alkitab ini ”Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati”. Bahkan kadang kita menggunakan pepatah ini sebagai alasan untuk membenarkan suatu tindakan yang kita lakukan.
CERDIK SEPERTI ULAR DAN TULUS SEPERTI MERPATI
Apa artinya semua ini?
Apa yang ada dibalik pepatah itu?
Apakah nilai dari pepatah itu? dan
Bagaimana pepatah itu dapat membekali seseorang, khususnya dalam setiap pelayanannya?
Pembahasan:
Cerdik seperti ular......
Ular menurut Kej. 3:1, adalah binatang yang paling cerdik dari segala binatang darat yang dijadikan Tuhan Allah. Maka saya yakin, Tuhan Yesus tidak salah. Dia Tuhan. Tuhan Yesus memakai ular sebagai referensi, contoh dalam hal kecerdikan, kecerdasan, kepandaian untuk memenangkan suatu kejahatan, karana kecerdikan ular:
Mampu berganti kulit secara periodik.. Menghilangkan pengaruh-pengaruh buruk yang memempel ditubuhnya dan diganti dengan yang baru dari dalam didinya, sehingga tetap sehat luar dan dalam (Jasmania dan rohaninya) Ular dipakai sbg lambang kesehatan
Kemapuan untuk mendeteksi mangsa dengan penglihatan infra merah dan penciuman yang sangat tajam. Ular peka terhadap segala kemungkina yang akan mengancam keselamatan dirinya tahu kelemahan-kelemahan musuh.
Ular tahu tempat-tempat yang aman
.
Tulus seperti Merpati
Merpati atau burung dara tulus:
Anatomi, merpati tidak mempunyai empedu.
(Dalam hatinya tidak memiliki sumber atau akar kepahitan. Hatinya murni.). Tidak ada kepalsuan sedikitpun. Tidak menyimpan benih-benih kepahitan.
Mampu terbang berkilao-kilaometer jauhnya, tetapi kembali
keempat asalnya dibesarkan. Sebagai lambang PT
Pos, karena dapat diamdalkan dlm tugasnya.
Merpati bertanggung jawab. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, bukan hanya untuk kesenangannya sendiri, tetapi mau memabagi. Lambang kedamaian. Merpati juga sebagai lambang kehadiran Roh Kudus.
Dalam kehidupan kekristenan, khususnya ketika diperhadapkan dengan masalah-masalah dalam pelayanan, Pepatah ini harus diterapkan, bahkan Tuhan Yesus tekankan : “Hendaklah......:
Hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.
Dalam menghadapi permasalahan kita harus memilki hati yang tulus, murni (seperti merpati) Tidak memiliki akar kepahitan dalam hati kita. Dan harus cerdik, cerdas, pandai (seperti ular) dapat menguasai keadaan dan memenangkannya dengan intelektual, talenta , kemulian, dan Kuasa Roh Kudus.
Rasanya dengan hal-hal yang saya sampaikan di atas tidak salah, jika Yesus menghendaki kita cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati dalam segala hal. Dalam bahasa kerennya. ”pake hikmat” dalam segala hal. Ingat berkat dari hikmat dalam Amsal 3: 16. Tangan kanan: umur panjang, tangan kiri kekayaan dan kehormatan.
Sampai disini mungkin belum cukup. Kenyataan yang kita hadapi di tempat pelayanan, ada perbagai masalah. Dan banyak masalah, yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan kecerdikan dan ketulusan hati. malah semakin banyak. Tetapi ini kesempatan. Sebagai suatu kesempatan untuk bersaksi (Lukas 21:13).
Aplikasi:
Terus bagaimana? Akan menyerah atau mengadakan pembelaan, dengan perlawanan?
Apakah artinya cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati, dalam kontek Yesus Sebagai Gembala yang mengutus kita sebagai domba ke tengah srigala (Matius 10: 16).
Sedikitnya tiga hal yang harus kita pahami dan kita percaya:
Pertama, Domba tidak diutus sendirian, tetapi berjalan bersama Gembala (Matius 28: 19-20) .........”Aku akan menyertai kamu sampai kesudahan jaman”. Sebelum Tuhan Yesus meninggalkan murid-muridNya, Ia berkata: “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku akan datang kemali kepadamu (Yoh. 14: 18) Dan Ia mengutus Peniolong yang lain, yaitu Roh Kudusyang dicurahkan pada hari pentakusta.
Kedua, Ketika srigala datang mengancam kita. Sebagai domba harus cerdik seperti ular, berlindung pada Sang Gembala. Mencari tempat yang aman. Balas kejahatan dengan kebaikan. Kita tidak membalas dengan kejahatan.
Ketiga, datanglah kepada Tuhan Yesus dengan ketulusan hati seperti merpati yang tahu jalan kembali kepada asalnya, yaitu Tuhan, Gembala kita yang Agung. Seperti ular yang tahu tempat-tempat yang aman.
Penutup:
Kita datang kepada Tuhan Yesus dengan percaya sepenuhnya, bahwa hanya Dia yang sanggup melindungi kita dari segala kejahatan. Dan kita akan mendapat ketenangan. Tuhan Yesus berkata:
” Marilah kepadaKu semua yang letih lesu dan berbenan berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikulahkuk yang Kupasang, dan belajarlah kepadaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati, dan jiwamu akan mendapatkan ketenangan”.(Matius 11: 28-29).
Semarang, 19-22 Oktober 2009
Diklat Guru PAK SD TK Lanjut
Teriring Salam dan Doa
T.SKM
Sumber:
Alkitab
Mana Surgawi Juli 2009, No. 136 thn XII, Minggu 5 Juli 2009
Mana Surgawi September 2009 No. 139, Thn XII, Rabu, 30 September 2009
Internet; http// Forumkristen.com/komonitas/index php?topic=1509.0, Mey 05, 2008.
Konkordansi Alkitab , BPK-Kanisius 1978
Lingkungan social dan Pengalaman.
Kompetensi Penulis.
KETAATAN YANG MEMBAWA BERKAT
Bacaan : Lukas 5:1-11
Nats. Luk. 5: 5
“ ……….Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa. Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga “Ketaatan yang seperti apa yang mendatangkan atau membawa berkat:
Ayat 3:
Mau memberi, walaupun, merkipun. Biarpun.
Mau berkorban tanpa pamrih sedikitpun.
Taat Ayat 5:
Mengapa simon melakukan apa yang dikatakan Yesus?
Di dalam alkitab kita tidak menemukan jawaban, tetapi jawaban petrus ayat 5, mengadung beberapa pengertian yang sangat dalam. Mungkin kita setuju: Mungkin karena keputusasaan......Sepanjang malam kami bekerja keras. Kami, tetapi karena engkau...... Aku (SIMON) yang ambil sikap/ keputusan.
Dalam buku Guncangan Ekonomi Dahsyat: Kita temukan beberapa kebenaran yang sebenarnya. Siapapun tidak akan melakukan tindakan sekonyol simon.
Nama simon, dalam bahasa Ibrani nama simon bermakna : mendengarkan dan akar katanya berarti mendengarkan dengan penuh perhatian. Seorang pendengar yang baik. Bahkan Sinom bukan hanya seorang pendengar yang baik, tetapi pelaku Firman (Yak. 1:25)
Prinsip yang lain, perkataan harus disertai perbuatan. Ikan-ikan dalam jumlah yang banyak tidak muncul begitu saja dalam perahu. Sbg tanggapan Petrus, harus mendayung perahu ketengah, melempar jala, dan menarik jala yang berat.
Ukuran Danau sekitar 166 kilometer persegi dan dalamnya 46 meter, panjang (Utara selatan) 23 kilometer, sedangkan lebar (timur barat )11 Kilometer. Waktu yang sangat tidak tepat. Disaat lelah, dan tertekan, harus mendayung 10 kilometer
Penentu waktu yang salah, tempat yang salah dan penasehat yang salah.
Waktu = pagi, bahkan sudah mau siang
Tempat = Tengah danau (Disiang hari ikan berada di tepi atau pinggir Danau. Mencari tempat yang hangat dan makanan.
Orang = Tukang kayu.
Hasilnya?
Ketika Simon merelakan apa yang dia punya, walaupun dalam kesusahan, kekurangan dan keputusasaan. Apa yang dia berikan? Perahunya untuk dipakai Yesus mengajar. Sisa tenaganya, mendayung perahu lagi walaupun hanya dekat.
Tuhan Yesus mengetahui pergumulan petrus, Ia peduli terhadap masalah yang dihadapi Simon..........
Ketaatan Simon membawa berkat yang luar biasa. Bukan hanya berkat jasmani (ikan) , tetapi terlebih Dia dipercaya untuk menjadi salah satu ”Penjalan manusia”. Hamba Tuhan. Dan hanya Simon yang diberi kedudukan khusus dalam pelayanan, yaitu menggembalakan kawanan Domba. Tuhan Yesus berkata, karena Petrus mengasihi Allah, ” Gembalakanlah domba-dombaKu”
Petrus memilih yang tepat, Ia meninggalkan jalanya dan mengikut Dia. Panggilan yang paling mulia, menjadi saksi Kristus. Menjadi pelayan Allah.
Bapak, Ibu saudara ingin diberkati Tuhan? Langkah awal........Berilah. Tuhan Yesus berkata Berilah, maka kamu akan diberi.. kedua, Taat, bukan karena, sebab, ataupun supaya. Tetapi taat walaupun, meskipun, biarpun.......
Memasuki bulan Desember, Allah menguji iman kita. Pendengaran kita. Apakah kita mau menjadi pendengar yang baik. Pendengar yang penuh perhatian, yang pada akhirnya mau memberi, walaupun, meskipun, biarpun..... hasilnya kita belum tahu. Seperti kepada Simon, hal yang sama akan terjadi kepada kita. Ia mengerti, Ia peduli dan Dia pasti memberkati. ”Sebab kamu tahu, bhawa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia. Amin.
Teguran Tuhan
Ayub 5: 17-18
Sesungguhnya berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolakddikan yang Mahakuasa. Jkarena Dialah yang melukai, tetapi juga yang membebat; dia yang memukuli, tetapi yang tanganNya menyembuhkan pula.
Ibrani 11: 11
Memang tiaptiap ganjaran pada waktu dibewrikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita, Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebnaran yang memberikan damai kepada ereka yang dilatihnya.
I Raja-raja 19: 9-10 ; Apakah kerjamu di sini hai Elia?
SATU MENIT YANG MENGUBAH HIDUP
Bacaan : Matius 9: 35-38
Nast. : Amsal 27: 22-24
Kenallah baik-baik keadaan kambing dombamu, perhatikan kawanan hewanmu!! Karena harta benda tidaklah abadi, Apakah mahkota akan turun-temurun?
Pendahuluan
Ilustrasi /crita :Satu menit yang merubah hidup
Mengapa satu menit bisa mengubah hidup?
Pembahasan:
Firman Tuhan berkata: Amsal 27 :22-24:
Kalau mengenali permasalahan yang dihadapi
” Sekalipun engkau menumbuk orang bodoh dalam lesung, dengan alu bersama-sama gandum, kebodohannya tidak akan lenyap daripadanya. Oleh sebab itu ayat 23; Kenalilah baik-baik, mengetahui permasalahan yan dihadapi dan baru semua jurus dipakai.
Kalau mempunyai satu keyakinan atau satu cara pandang yang baru, yaitu :
a. Harta benda tidak abadi
b. Hahkota/ jabatan, kekuasaan/ kesuksesan dll itu tidakm turun temurun.
Menciptakan suatu hubungan yang baik.
Bapak, ibu yang dikasihi Tuhan Yesus. Bagaimana caranya supaya bisa mempunyai hubungan yang baik dengan orang lain, mengenal permasalahan yang mereka hadapi dan lebih-lebih dapat memiliki pandangan atau pikiran dan keyakinan, bahwa harta benda, tidak abadi dan jabatan atau kekuataan itu turun-temurun atau bisa diwariskan?
Mari kita lihat, Injil Matius 9: 23-38.
Apa yang dilakukan Yesus?
Berkeliling ke semua kota dan desa
Mengajar dan
Memberitakan Injil
Melenyakpan kelelahan (jemu, bosa, putus asa, tidak berdaya secara rohani, juga ekonomi) banyaknya masalah yang dihadapi, menjadi sangat lelah baik tubuh dan jiwa/ roh)
Kesimpulan:
Berkeliling ke semua kota dan desa, bisa mendapatkan atua tahu pemasalahan jemaat atau domba-dombanya yang sebenarnya:
Dalam ayat 36, setelah Yesus berkeliling: Melihat orang banyak itu tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan kepada meeka. Mengapa? Karena lelah dan terlancar seperti domba yang tidak bergembala.
Inilah tugas Bapak, Ibu dan saya. Untuk mengajar dan memberitakan Injil, diperlukan tindakan, yaitu berkelilin, melihat langsung, men jadi hubungan yang baik, mengenali mereka dan kita harus yakin bahwa harta benda tidak abadi dan mahkiota atau jabatan tidak bisa kita turunkan atawariskan.
Warisan yang paling berharga adalah iman. Melalui mengajaran dan pemberitaan Injil, iman akan muncul. Seperti tertulis dalam Roma 10: 17, Iman timbul dari perdengaran dan pendengaran oleh Firman Kristus. Supaya mereka medengar maka harus ada yang mau dipanggil dan diutus. Siapa?
Sekali lagi. Bukan orang yang diluar sana, Pendeta, Guru Injil. Tetapi kita semua. Kita harus mewariskan Iman kepada siapapun.
Tuhan Yesus berkata,, apa artinya memiliki semua, kalau jiwanya binasa? Karena tidak percaya tidak mempunyai iman?
Yohanes 3: 16, .........Barang siapa percaya kepadaNya, tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.
Mereka bisa dirubah....... kalau ada hubungan yang baik dengan mereka, kita mengenali mereka dan mereka sudah tahu jika harta benda tidak abadi (tidak dibawa mati) dan Mahkota, jabatan, kekuasaan tidak dapat diturunkan atau wariskan.
Bukan satu tahun, satu bulan, satu hari, satu jam........tetapi bisa jadi hanya satu menit. Mengapa tidak?
PELAYANAN MERUPAKAN SETAPAK MENUJU MAKNA YANG SEBENARNYA
Bacaan : II Tim 1 : 6- 14
Nats.` : II Tim 1:9 : „Dialah yang menyelamatkan kita dan
memangil kita dengan panggilan kudus, .......“
Pendahuluan
Surat II Tim. ditulis dari penjara di Roma pada masa tahanan yang ke-2, yaitu pada tahun 65. Kali ini keadaan di tempat tahanan lebih berat dibandingkan masa tahanan yang pertama tahun 60-62, karena pada masa itu ia diperkenankan tinggal dirumah kontrakannya sendiri (sbg tanahan luar). Tetapi pada masa tahanan ke-2 ia benar-benar berada dalam penjara (1:8), bahkan Ia dibelenggu (1:16) dan diperlakukan sebagai seorang penjahat (2:9).Paulus sudah menjalani persidangan pertama, dan Paulus menduga akan dihukum mati dalam waktu dekat (4:6). Semua teman-temannya sudah meninggalkan Paulus, kecuali Lukas.
Bapak, Ibu Sdr yang dikasihi Tuhan Yesus....
Dalam masa kesepian dan firasat kematian, Paulus amat merindukan kedatangan Timotius pada saat-saat terakhir hidupnya. Kerinduan akan Timotius serta anjuran kepadanya untuk setia dalam pelayanannya merupakan motif-motif utama dari penulisan II Tim.
(Paulus tidak jadi hukum mati. Sekali lagi ia dbebaskan, lalu ia pergi ke Spanyol (th 66). Ketika masih di Spanyol atau sekembalinya di Roma, Paulus dihukum mati (tahun 66/67).
Diselamatkan, dipanggil dan diperintahkan untuk melayani!!!!
Bapak, Ibu sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,
Pelayanan merupakan setapak atau selangkah menuju makna yang sebenarnya,................
Alkitab bercerita tentang 4 Pengemis buta (2 Raja-raja 7).
Mengapa melayani?
Diselamatkan untuk melayani Allah (2 Tim 1:9)
Alkitab mengatakan: ” Dialah yang menyelamatkan kita dan memilih kita untuk pekerrjaanNya yang kudus, bukan karena kita layak, melainkan karena itulah yang telah dikaruniakanNya”
Allah menebus kita, supaya kita bisa melakukan ”pekerjaan kudusNya”. Kita tidak diselamatkan oleh pelayanan, tetapi Kita diselematkan untuk untuk pelayanan.
Bapak, Ibu sdr yang dikasihi Tuhan Yesus, Dalam Kerajaan Allah,kita memiliki sebuah tempat, sebuah tujuan, sebuah peran, sebuah fungsi untukdilaksanakan. Ini memberi arti dan nilai yang luar biasa kpada hidup kita.
Yesus harus mengorbankan nyawaNya sendiri untuk membeli keselamatan kita. Alkitab mengingatkan kita: “Allah telah membeli kamu dengan harga yang sangat mahal. Kaena itu muliakanlah Allah dengan tubuhMu” (I Kor. 6:20). Lebih lanjut Rasul Paulus mengatakan kepada jemaat di Roma, supaya mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan....”
Bapak, Ibu, Sdr yang dikasihi Tuhan Yesus, ....
Istilah lain dalam bahasa Inggris untuk “melayani Allah” yang salah dimengerti oleh banyak orang adalah kata MINISTRI (Pelayanan sbg pendeta). Tetapi Allah berkata setiap anggota keluarga-Nya merupakan seorang pelayan (Ministri). Di dalam Alkitab, kata hamta (Servant) dan pelayan (Ministri) adalah sinonim, seperti hanya service dan ministry.
Jika kita seorang Kristen, kita merupakan seorang pelayan (ministry) dan kita melayani (service atau pun Ministry).
Contoh : Ibu Mertua Petrus.....Bangun dan mulai melayani Yesus....
Dipanggil untuk melayani
Alkitab mengatakan: Allah menyelamatkan kita dan memanggil kita supaya menjadi umatNyaa sendiri, Ia melakukan itu bukan berdasarkan apa yang ktia kerjakan, melainkan berasarkan rencanaNya sendiri ..(Fil.3: 14), dan Rasul petrus menambahkan...kamu dipilih untuk memberitakan sifat-sifat mulia Allah, yang memanggilmu...(I Pertus 2: 9).
Diperintahkan Untuk melayani (Mat. 20:28)
Bagi orang Kristen, Pelayanan bukan pilihan, sesuatu untuk dimaksukan ke dalam jadwal kita jika bisa menyediakan waktu. Pelayanan adalah inti kehidupan Kristen. Yesus datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk “melayani” dan “memberi”.
Bapak, Ibu Sdr yang dikasihi Tuhan Yesus....
Melayani dan memberi, dua kata kerja tersebut seharusnya menjadi ciri kehidupan kita. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kedewasaan rohani sendiri tidak pernah merupakan tujuan. Kedewasaan adalah untuk pelayanan!!! Kita bertumbuh untuk memberi. Tidak cukup kita hanya belajar dan belajar saja. Kita harus bertindak berdasarkan apa yang kta tahu dan menjalankan apa yang kita katakan , kita percaya. Belajar tanpa pelayanan menyebabkan kebekuan rohani.
Bapak, Ibu Sdr....yang dikasihi Tuhan Yesus...
Perbandingan lama. Antara Laut Gelelia dan laut mati masih berlaku.
Kesimpulan
Bapak, Ibu Sdr yang dikasihi Tuhan Yesus...
Pada akhri hidup kita di bumi akan berdiri dihadapan Allah dan Dia akan mengewaluasi seberapa baik kita melayani orang lain dengan kehidupan Kita. Alkitab berkata : “ Demikian setiap orang diantara kita akan memberi pertanggungjawaban tenang dirinya sendiri kepada Allah (Roma 14:12).
Bapak, Ibu Sdr.....
Suatu hari Allah akan membandingkan berapa banyak waktu dan tenaga yang kita gunakan untuk diri kita sendiri dangan apa yang kita berikan untuk melayani orang lain. Pada saat tersebut semua alasan kita untuk keegoisan kita akan terdegar hampa: ..........(apa kira-kira yang akan kita katakans ebagai alasan untuk tidak melayani orang lain?.....
Untuk semua alasan....Allah akan menjawab: “maaf, jawaban Saudara keliru..... Aku menyelamatkan, memanggilmu dan memerintahkanmu untuk menjalani kehidupan pelayanan.
Baak, Ibu Sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,
Alkitab memperingatkan orang-orang yang tidak percaya, : ‘Dia akan menumpahkan amarah dan murkaNya atas mereka yang hidup bagi dirinya mereka sendiri (Roma 2:8). Tetapi bagi orang Kristen itu akan berarti kehilangan upah kekal.
Kita hanya sepenuhnya hidup, bila kita menolong orang lain. Tuhan Yesus berkata:”Jika kamu mempertahankan nawanya, kamu akan kehilanga nyawanya. Jika kalian kehilangan nyawa demi Aku dan demi berita kesukaan, kalian akan dapat menikmati hidup. (Markus 8:35).
Bapak, Ibu Sdr.... kebenaran ini begitu penting,sehigga diulangi sampai 5 kali dalam Kitab-kita Injil. Jika kita tidak melayani, keberadaan Saudara tidak berarti. Pelayanan merupakan jalan setapak untuk makna selanjutnya. Karena kehidupan dimaksudkan untuk pelayanan. Amin. Tuhan Yesus memberkati Pelayanankita.
Untuk kaum Aktivis
GBI Ebenheser – Maranata, 26 Juni 2009
Bacaan : 2 Taw. 7: 11-22
Pendahuluan
Maka saya mengangkat tema : Ucapan Syukur. (karena banyak yang harus disyukuri) diucapkan. Syukur. Namun berdasarkan pengalaman yang dilakukan Raja Salomo, ketika dia tidak hanya mengucapkan, tetapi melakukan atau dengan tindakan nyata ( 2 Taw. 7 : 5; dan ayat 8) kemudian Pasal 9: 22 Raja Salomo melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat) dalam ucapan syukur tersebut, maka Tema itu menjadi lengkap, yaitu:
Mengucap Syukur mendapatkan Berkat.
Dimana rahasianya kalau ucapan syukur itu bisa mendatangkan berkat. Bakkan berkat yang melimbah dan juga hikmat.
Mengucap syukur mendapatkan berkat.
Apakah yang dilakukan Raja Salomo dalam ucapan syukurnya?
Apakah Usaha Salomo, sehingga ucapan syukur itu dapat mendatangkan berkat?
Apakah berkat yang diterima Raja Salomo?
Ucapan Syukur dapat mendapatkan berkat, yaitu apabila:
Disertai dengan Pengorbanan atau persembahan
Disertai dengan Ibadah atau perayaan
Disertai dengan usaha.
TetaP tinggal.
Untuk mendapatkan berkat dalam pengucapan syukur, Salomo memberikan persembahan:
Ayat 5 = 20 ribu Ekor Lembu sapi 8jt X 20 = 160.000.000.000.-
120 ribu ekor kambing domba 1 rb X 120 =
120.000.000.000,-
280.000.000.000,-
Setiap hari, setiap hari sabat dan raya tertentu. Selalu ada korban persembahan. Ayat 13 pasal 8
kedua : menurut ayat 8, dan pada waktu itu juga salomo mengadakan perayaan Pondok daun selama 7 Hari.
Dan ketika menurut pasal 8, memperkuat kota-kota, dan satu hal yang salomo lalukan, yaitu tidak memeperalat orang Israel. Ayat 9: Tetapi orang Israel tidak ada yang dijadikan budak oleh Salomo untuk pekerjaannya.
(Yeremia 29 : 7): Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah ksejahteraanmu”
Apakah berkat yang diterima Salomo?
ayat 66 – Berkusacita dan bergembira
ayat 2 Tuhan menampakan diri
120 talenta emas
sangat banyak remah-remah
Batu permata yang mahal-mahal
Pasal 9: 1 dalam 1 tahun 666 talenta emas.
Dan dalam 2 s/d 28 adalah daftar kekayaan Salomo, yang diringkat menjadi 1 kalimat, yaitu :
Pasal 9: 22 Raja Salomo melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat).
Kekayaan dan Hikmat.
Kesaksian Jemaat GSJA.
Bapak-ibu jemaat yang berbahagia dan telah bersyukur. Yang perlu kita renungkan adalah ucapan syukur yang bagaimana yang sudah kita lakukan? Sehingga benar-benar mendatangkan berkat. Sudahkan dengan berkorban, dengan memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Mengucap syukur, tentu bukan hanya mengucap, tetapi Allah menghendaki disertai dengan tindakan nyata.
Prinsip Alkitab : Berilah maka kamu akan diberi,
Carilah, maka kamu akan mendapat
Dan dalam Tuhan, jerih payahmu tidak sia-sia.
Matius 6:33: mendahulukan Tuhan diatas segala-galanya, semuanya akan ditambahkan kepadamu.
Masilah dalam kita mengucap syukur, kita barengi dengan korban atau persembahan.Bukan hanya tubuh sebagai persembahan yang hiduip, yang kudus dan yang berknan kepada Tuhan, tetapi rupiah-rupiah yang Tuhan percyakan kepada kita semua.
Pelayanan menbutuhkan persmbahan saudara. Untuk memperkuat jemaat/ gereja. Uluran tangan saudara sangat berarti.
Pesan Natal
MEMBERKATI UNTUK MENERIMA BERKAT
Bacaan: I Pet. 3:8-9
Nat. : Mazm. 126: 5-6
” Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan
menuai dengan bersorai-sorai. Orang yang berjalan maju dengan
menangis sambil menabur, pasti pulang sambil membawa berkas-
berkatnya”
Pendahuluan
Penulis I Petrus adalah Petrus, Rasul Yesus Kristus (1 Pet.1:1). Yang menarik dan perlu ditekankan adalah tentang nama Petrus. Nama ini (Petrus ini) begitu penting dalam surat I dan I Petrus). Dalam Surat II Petrus ( II Pet. 1:1) ditulis demikian: ”Dari Simon, Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus”.
Bapak Ibu Saudaraku Mahasiswa yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus.
Nama ”Simon” adalah nama lama Petrus, yang mengacu kepada manusia lama dan ”Petrus” menyatakan manusia Petrus yang sudah dilahirkan kembali dan rohani, tidak seperti nama kefas atau simon, yang menyatakan manusia alamiah berdasarkan kelahirannya ( Yoh 1:42; Mat. 16:17-18). Sedangkan HAMBA, hamba Yesus Kristus, yang hanya ditulis dalam II Pet. 1:1, menyatakan bahwa Petrus adalah rasul Yesus Kristus yang setia. Hamba hanya menjalankan apa yang ditugaskan atau dikehendaki oleh tuanya. Dan Rasul Petrus mendapatkan sebutan itu didepan nama barunya, Simon petrus hamba dan rasul Yesus Kristus.
Yang kedua, yang tidak kalah penting untuk kita ketahui adalah penulisan 1 dan 2 Petrus. Ini sangat penting karena akan lebih memaknai dan menjadi begitu berarti ketika kita diperhadapkan dengan tema NATAL tahun ini yaitu : MEMBERKATI untuk MENERIMA BERKAT ( 1 Petr, 3:8-9).
Bapak, Ibu dan saudaraku Mahasiswa, yang dikasihi Tuhan Yesus.
Surat 1 Petrus ditulis tahun 64 SM yaitu 5 tahun sebelum surat II Petrus atau 5 tahun sebelum Petrus mati sahit karena kesetiaan sebagai seroang rasul Yesus Kristus. Boleh jadi pesan : I Petrus 3:8-9, merupakan kata terakhir atau kata perpisahan, sebagai suatu pesan yang harus dilakukan orang setiap orang percaya pada saat itu. Lihat.............” Dan Akhirnya, Hendaklah kamu semua...” dan Hendaklah kamu memberkati. Dan terjemahan asli Bahasa Yunani ”Hendaklah kamu memberkati” merupakan petunjuk waktu dalam, Bahasa Yunaninya berarti: selalu memberkati. Artinya dalam keadaan apapun, temasuk pada saat resesi, kekuarangan dan masalah Orang Kristen harus selalu memberkati, selalu menabur, selalu memberi pertolongan kepada siapapun dan kapanpun.
Bapak, Ibu dan saudaraku mahasiswa yang saya kasihi di alam Tuhan Yesus Kristus!!!
Memberkati dengan apa, atau memberi dengan apa? Itu yang selalu dan selalu menjadi alasan untuk kita tidak dapat memberkati oang lain.
Tertolong karena Menolong, Diberkati karena Memberkati
Dua orang pendaki gunung berjalan pulang dari puncak gunung karena cuaca sangat buruk dan dingin. Di tengah jalan, ketika mereka hampir tidak dapat lagi bertahan, tiba-tiba mereka menemukan seorang pria lain yang tergeletak sendirian—hampir mati kedinginan.
Pria yang satu terus berjalan karena ia berpikir bahwa tidak mungkin ia menghabiskan sisa tenaganya untuk menolong orang tersebut. Ia sendiri saja sudah hampir mati.
Sebaliknya, pria yang satunya lagi dengan susah payah meggendong orang tersebut di punggungnya. Tentu saja hal itu membuatnya tertinggal jauh di belakang temannya yang berjalan tanpa beban.
Setelah beberapa jam terus berjalan, pria yang menggendong itu menemukan temannya telah lebih dahulu berjalan turun gunung tanpa beban. Apa yang terjadi? Temannya itu telah mati kedinginan. Frostbite.
Pria kedua yang menolong orang tersebut justru bertahan dengan selamat sampai ke kaki gunung. Mengapa? Kok bisa?
Karena sesungguhnya pertolongan yang diberikannyalah yang membuatnya selamat. Dengan menggendong pria sekarat itu di punggungnya, ia mendapatkan panas tubuh dari pria yang digendongnya itu. Ia tertolong karena menolong.
Upah Memberkati.
Apakah upahnya orang yang memberi atau yang memberkati?
Contoh Janda Di Sarfat (dipelihara sampai musin hujan tiba (3,5 tahun)
Contoh Ishak (mendapat 100 X lipat)
Kesaksian.
Benarlah perkataan ini : ”Orang dunia boleh resesi, namun anak-anak Tuhan resepsi”. Sementara bisnis-binsis dunia menciut, bahkan banyak yang tumbang, karena gelombang krisis finansial yang terjadi di Amerika, tetapi Tuhan sedang mempersiapkan kita untuk mengalami perluasan di tahun 2009, tahun samekh teth ini.
Bapak, Ibu Sdrku Mahasiswa yang dikasihi Tuhan Yesus.
Tuhan sanggup melimpahkan segala kasih karunia dan hikmat supaya kita senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu, sehingga kita berkelimpahan dalam perbagai perbuatan baik. Krisis ekonomi global dampaknya banyak orang yang di PHK, sehingga jumlah pengangguran meningkat dan orang miskin bertambah. Inilah kesempaan yang Tuhan berikan bagi kita untuk mempraktekkan kebajikan atau perbuatan baik itu dengan memberikan atau memberkati orang lain.
Tidak hanya melepaskan berkat dalam perkataan dan perbuatan baik, tetapi juga memberkati dalam hal keuangan. Secara mata jasmani, terasa berat apalagi di masa resesi sekarang ini, namun justru saat yang sulit seperti ini adalah pintu yang terbuka lebar untuk menabur.
Lihat Ishak, pendaki Gunung, Janda Disarfat. Justru saat-saat mereka tidak mampu secara fisik, ekonomi, ketika mereka harus bergumul untuk hidupnya, antara hidup dan mati (bahkan hampir mati). mereka ditantang untuk memberkati, memberi pertolongan. Dan ketika mereka melakukannya..........apa yang mereka dapatkan. Diberkati dengan luar biasa.
Aplikasi:
Bapak, Ibu Sdr. Benar Nats Firman Tuhan ini ” ....................(Maz. 126: 5-6)
Inilah janji pemulihan yang Tuhan berikan bagi saudara dan saya di tahun yang baru 2009. Namun janji ini menyatakan kepada kita, bahwa kita perlu menabur terbelih dahulu, sekalipun disertai dengan cucuran air mata. sebab pada akhirnya kita akan menuai dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkatnya.
Bapak, Ibu Sdrku Mahasiswa,
Tahun 2009 adalah tahun Samekh Teth, dalam kalender Yahudi tahun 5769, memiliki arti profetis sebagai waktu umat Tuhan berbuah-buah. Teth berarti rahim, artinya inilah waktunya untuk kita menerima sukacita besar setelah menderita mengandung. Apa yang tidak pernah didengar, yang tidak pernah dilihat, yang tidak pernah timbul dalam hati akan dilahirkan oleh orang-orang yang mengasihi Tuhan. Sama seperti seorang ibu yang sedang dalam proses melahirkan. Mereka merasa kesakitan yang sangat amat, namun setelah anak yang dikandungnya dilahirkan, maka lenyaplah seluruh kesakitannya dan sukacita yang tidak terkatakan akan meliputi, memenuhi hatinya.
Demikian juga sewaktu kita melahirkan berkat Tuhan, melepaskan berkat yang Tuhan sudah berikan bagi kita, maka masa-masa sulit saat dimana kita menabur sebelumnya tergantikan dengan sukacita yang melimpah dalam hati kita.
Bapak, Ibu Saudraku Mahasiswa, persiapkanlah diri kita untuk memasuki tahun yang baru 2009, dengan meresponi dengan baik Firman Tuhan pada perayaan Natal kita hari ini. Bukan hanya menjadi pedengar, namun menjadi pelaku Firman. Marilah kita memberkati dan menyenangkan hati Tuhan Yesus yang sudah menyelamatkan nyawa kita, yaitu dengan perkataan, perbuatan dan juga dengan pemberian yang berupa harta yang kita punyai, bagi sesama dan bagi Tuhan Yesus.
Sebab kita tidak membawa apa-apa ke dalam dunia. Dan pada akhirnya akan kita tingal semua. Oleh sebab itu harus kita katakan: Inilah yang kupunya, hati sbagai hamba, yang mau taat dan setia padamu Bapa. Kemana kan kubawa hati yang menyembah, Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Salatiga, 8 Desember 2009
Natal Tanpa Yesus (Christmas without Christ)
Bacaan : Lukas 12: 1-5
Nast : Lukas 12: 5:
“ Aku akan menunjukkan kepadamu siapa yang harus kamu takuti”
Pendahuluan
Peringatan khusus bagi murid-murid!!!
Apa yang sebenarnya terjadi?
Dalam ayat 5, Yesus mengatakan Aku. ”Aku akan menunjukkan kepadamu siapa kamu harus takuti”.
Bapa, Ibu Sdr yang dikasihi Tuhan Yesus!!
Allah adalah satu-satunya yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh manusia di Gehana. Perkataan ini menyiratkan bahwa rasul yang diutus oleh Tuhan tidak tahan menderita penganiayaan. Mereka akan didisiplin oleh Allah. Dididiplin ini akan terjadi pada zaman yang akan datang, setelah penghakiman pada tahta pengadilan Kristus, ketika kaum beriman menerima pahala atau penghukuman (2 Kor. 5: 10 dan Wahyu 22:12)
Natal Tanpa Yesus
Bapak, Ibu Sdr. Ini terjadi!!!
Sebuah survey yang diadakan pada tahun 2002 menemukan sebuah fakta yang ironis mengenai perayaan natal dalam media televisi pada masa modern ini. National Religious Broadcasters (Lembaga Penyiaran Tayangan Religius Nasional) di Amerika menganalisa 48.000 jam program seputar natal pada Desember 2002 lalu. Hasilnya adalah bahwa 90% tayangan seputar natal tersebut sama sekali tidak memiliki sangkut paut dengan hal kerohanian. Ada juga sekitar 7% tayangan bernuansa rohani, tetapi sama sekali tidak menyinggung langsung mengenai Tuhan Yesus yang lahir. Sisanya menunjukkan bahwa hanya 3% program televisi bertema natal yang memfokuskan tema pada Tuhan Yesus. Hanya 3%! Betapa ironis. Lalu, dimanakah Tuhan Yesus dalam 97% tayangan bertema natal lainnya? Entahlah.
Mengapa demikian?
Yang jelas, telah sangat nyata bahwa sesungguhnya banyak orang merayakan natal hanya sebagai sebuah perayaan, kesenangan, momen nostalgia, masa liburan yang menyenangkan. Natal dilewatkan sebagai sebuah masa bersenang-senang. Banyak orang menikmati natal tanpa Tuhan Yesus. Tanpa merasa perlu tahu atau merenungkan kembali kelahiran bayi natal. Natal tanpa Tuhan Yesus, itulah ironisnya yang banyak terjadi dewasa ini. Ada ketakutan yang mendalam, kalau mereka terlalu menyolok. Takut kehilangan pamor, keuntungan secara Finansialnya menurun dan takut tidak mengikuti perkembangan zaman. Maka apa yang terjadi?
Ironis!! Amerika:
Yerusalem Kecil
Kota musik dan Kota Alkitab
Perintah yang besar.
dll yang bagus-bagu dan hebat-hebat dari Amerika.
Tetapi ini kenyataan.
Organisasi Gallup yang terpandang ini telah mengumpulkan pendapat umum orang Amerika mengenai ribuan topik selama puluhan tahun. Dalam bidang Agama, jejak pendapat menunjukkan bahwa orang Amerika pada umumnya menggambarkan diri mereka sebagai orang yang beragama, dan mayoritas mengidentifikasikan dirinya sebagai orang Kristen.
Tetapi pendapat umum itu juga memperlihatkan bahwa orang-orang (termasuk mereka yang mengganggap dirinya orang Kristen) herannya tidak mengindahkan Alkitab, tidak mengenal tokoh-tokoh penting dan pengajaran Alkitab.
Perbedaan ini menjadi jelas dalam pengumpulan pendapat selama puluhan tahun. Ya, orang Amerika itu (atau mengaku) beragama. Tidak, mereka tidak tahu banyak tentang Alkitab.
Apa yang terjadi dengan mereka saat ini? Apa kata Alkitab?
Pahala atau penghukuman yang mereka terima?
Bagaimana dengan kita yang akan mempersiapkan Natal?
Dimanakah Yesus akan kita tempatkan? Itu yang akan membuat NATAL itu menjadi berkat bagi kita dan semua. Amin.
Berani Bermimpi
Apa yang bisa dilakukan seorang pemuda untuk mendapatkan sebuah rumah tanpa memiliki pekerjaan yang baik dan keuangan yang buruk?
Kyle MacDonald, seorang pemuda dengan kondisi seperti itu, suatu hari sampai pada sebuah rencana yang tidak pernah dipikirkan oleh siapapun sebelumnya. Ide gilanya adalah mengubah satu klip kertas berwarna merah menjadi sebuah rumah permanen bagi dirinya. Mungkinkah? Mungkin, sebab ia berhasil melakukannya.
Pertama ia memasukkan foto klip kertas merahnya dan mulai mencari orang yang ingin bertukar barang dengannya. Pertama sekali, ia berhasil menukar klip kertas merahnya dengan sebuah pena berbentuk ikan. Kemudian, ia menukar pena bentuk ikan itu dengan sebuah gagang pintu. Gagang pintu kemudian ditukar dengan sebuah perapian sederhana. Perapian itu ditukarnya dengan generator elektrik. Generator itu ditukarnya lagi dengan tanda minuman alkohol Budweiser dan sedrum bir—yang kemudian ditukarnya dengan mobil salju. Dan tepat setahun dan 14 pertukaran via internet kemudian, ia menukar sebuah peran pembantu di sebuah film Hollywood dengan sebuah rumah di Kanada.
Kisah nyata Kyle ini dituliskannya dalam sebuah buku berjudul, “One Red Paperclip”. Bukunya sekarang sedang dibuat menjadi film. Ketenaran, banyak uang, sebuah buku, sebuah film dan sebuah rumah—semua Kyle dapatkan hanya dengan modal sebuah klip kertas merah dan “iman”-nya.
Sungguh sulit dipercaya memang. Terdengar terlalu berlebihan mungkin. Tetapi saya percaya iman percaya kita akan sebuah kebangunan dan perubahan adalah serupa dengan klip kertas merah tersebut. Tuhan Yesus berkata jika kita memiliki iman sebesar biji sesawi, maka kita akan mampu memindahkan gunung (Mat. 17:20). Biji sesawi sangat kecil, masih lebih kecil dari klip kertas merah tersebut. Tetapi Tuhan Yesus berkata jika saja kita memiliki iman dan berani bermimpi sebesar apapun bagi Tuhan, “Tidak ada yang mustahil bagimu!”.
Bersukacita adalah Sebuah Pilihan
14 Mei 1988, semua koran lokal di Kentucky memberitakan mengenai sebuah kecelakaan bus yang hebat dimana 24 anak-anak dan 3 orang dewasa meninggal dunia. Kecelakaan itu disebut sebagai “kecelakaan terburuk akibat pengemudi mabuk di dalam sejarah Kentucky”. Yang menyedihkan lagi adalah kenyataan bahwa bus itu membawa sekelompok anak-anak muda dari Gereja Sidang Jemaat Allah setempat.
Seorang saksi yang selamat dari kecelakaan itu mengisahkan tentang apa yang terjadi dalam kecelakaan yang mengerikan itu. Seorang korban bernama Chuck Kytta adalah seorang pengerja gereja dalam pelayanan kaum muda. Chuck duduk persis di belakang supir ketika kecelakaan terjadi, tepat di atas tangki bahan bakar. Tidak heran jika hanya dalam hitungan sepersekian detik ketika tabrakan terjadi, sekujur tubuh Chuck langsung menyala terbakar api. Api itu begitu hebat melalap dirinya yang tidak langsung meninggal seketika.
Yang luar biasa adalah, saksi itu berkata, ketika Chuck tersadar bahwa pakaian dan tubuhnya sudah dilalap api, Chuck memandang ke langit-langit dan berkata dengan nyaring, “Jesus, I’m coming home!” (Tuhan Yesus, aku pulang!). Beberapa anak lain yang selamat bahkan bersaksi bahwa Chuck tersenyum ketika api itu perlahan melahap tubuhnya.
Bayangkan kejadian itu. Chuck yang tubuhnya sudah menyala dilalap api, begitu menderita dan begitu sakit panas pastinya, namun justru begitu terfokus pada Tuhan. Begitu nampak bersukacita. Ia tersenyum. Ia sudah memilih untuk bersukacita pada akhir hidupnya yang tragis.
Ninie Hammon adalah seorang eksekutif editor harian The Southeast Outlook di Louisville, Kentucky; namun pada 1988, ia hanyalah wartawan di sebuah perusahaan koran kecil. Ninie Hammon yang menuliskan kesaksian itu begitu sulit percaya. Bertahun-tahun kemudian Ninie menulis, “Saya bukanlah seorang Kristen pada tahun 1988 itu, karena itu saya sama sekali tidak habis pikir apa yang sesungguhnya Chuck lakukan. Ia seorang pemuda biasa yang sering dipanggil “Banana (pisang)”—berdiri dengan tubuh dilahap api menjelang kematiannya, tetapi dia tersenyum?”
Bagaimanapun Ninie mencoba, ia tidak dapat menghapuskan bayangan peristiwa itu dari benaknya. Dua tahun mencari penjelasan, pada akhirnya Ia bertobat dan menjadi Kristen, setelah Ia menemukan bahwa Tuhan Yesuslah satu-satunya alasan dimana kesukacitaan semustahil itu bisa terjadi.
Sukacita adalah pilihan untuk dilakukan. Bukan rasa yang harus dicari.
Hati Memberi
Pada tahun 1884, seorang gadis kecil bernama Hattie May Wiatt berdiri dan menangis di luar pintu gereja baptis kecil di Philadelphia, Pennsylvania. Ia berusia 8 tahun dan ingin ikut Sekolah Minggu, tetapi gerejanya kecil dan penuh sesak. Ia menangis dan terpaksa berjalan pulang ke rumah tanpa dapat masuk ke gereja itu.
Ketika itu Russell Conwell, seorang pendeta perang sipil datang dan menggendong Hattie yang masih menangis dan mendudukannya di sudut ruangan yang gelap. Sejak itu, setiap kali Russell melihat Hattie, Ia berjanji akan membuat ruang SM yang lebih besar supaya teman-teman Hattie juga beroleh tempat dan kesempatan untuk mendengar tentang Tuhan Yesus.
Dua tahun kemudian, Hattie meninggal dunia. Seseorang mengangkat tubuhnya yang kurus dari tempat tidur dan menemukan sebuah dompet yang kusut. Di dalam dompetnya terselip uang 57 sen dan sebuah kertas catatan bertuliskan, “Uang ini untuk membangun gereja menjadi lebih besar supaya anak-anak dapat datang ke Sekolah Minggu.” Dengan menangis sambil membaca catatan itu, Russell berdiri di hadapan jemaatnya dan menantang mereka untuk memberi agar dapat membangun gedung SM yang besar.
Respon yang luar biasa terjadi, jemaat mulai tergerak untuk memberi karena begitu tersentuh dengan hati Hattie yang begitu tulus dan memberi bagi Tuhan. Begitu dimulai pengumpulan dana tersebut, segera dalam waktu singkat terkumpullah uang dengan berlimpah—sampai akhirnya mereka tidak hanya dapat membangun sebuah gedung Sekolah Minggu yang besar, tetapi juga gedung gereja yang baru yang lebih besar, klinik kesehatan masyarakat, ruang kursus dan ruang penggembalaan.
Tahun 1912, Russell Conwell berkhotbah tentang berkat Allah yang terus melimpah karena uang 57 sen pemberian Hattie. Nama gereja diubah menjadi Temple Baptist Church. Kliniknya terus bertumbuh dan saat ini menjadi rumah sakit terbesar di Philadelphia yang melayani ribuan pasien setiap tahun. Ruang kursusnya berubah menjadi Temple University yang juga kini menjadi universitas terbesar di Pennsylvania.
Selalu Bersyukur
Suatu kali ada seorang raja yang senang sekali berburu jauh dari kerajaannya. Dalam setiap perjalanan berburu, ia selalu didampingi oleh penasihat dan pengawalnya. Suatu hari dalam sebuah perburuan, entah bagaimana, sang raja mengalami kecelakaan yang mengakibatkan jari kelingking kirinya terputus karena anak panah. Sang raja merasa begitu sakit dan jengkel luar biasa walaupun hal itu terjadi karena kelalaiannya sendiri. Untuk menenangkan hati sang raja, si penasihat berkata pelan kepadanya, “Sudahlah Raja, tentu ada maksud yang baik dari segala peristiwa buruk. Bersyukurlah setidaknya Raja tidak mengalami bencana yang mengancam nyawa Raja.” Mendengar hal itu, bukannya tenang, sang raja justru begitu marah dan memerintahkan si penasihat untuk di penjara. “Lihatlah, apa yang baik bagimu jika engkau dipenjara.”
Maka raja pun kemudian mendapatkan seorang penasihat baru untuk mendampinginya. Setelah lewat beberapa masa, raja pun kemudian berangkat berburu lagi dengan didampingi oleh penasihat baru dan para pengawalnya. Kali itu pun terjadi hal yang mengerikan. Sang raja dan rombongannya tanpa sadar memasuki sebuah wilayah perkampungan suku asing. Dalam pertempuran, seluruh pengawal terbunuh sehingga raja dan penasihat pun tertangkap.
Tak disangka, suku asing itu memiliki ritual kepercayaan mempersembahkan orang-orang asing bagi dewa yang mereka sembah dengan cara dibakar hidup-hidup. Maka disiapkanlah sebuah upacara untuk mempersembahkan sang raja dan si penasihat. Begitu ketakutanlah sang raja dan penasihatnya mengetahui hal itu. Namun, ketika segala sesuatunya sudah siap, seluruh anggota suku sudah siap, pembakaran sudah siap; beberapa orang suku asing itu mengetahui bahwa salah satu dari orang yang akan mereka persembahkan tidak memiliki jari yang lengkap. Lalu mereka pun melepaskan sang raja, dan hanya membakar si penasihat.
Singkat cerita, sang raja sampai pulang ke kerajaannya dengan begitu bersyukur. Ia teringat dengan perkataan penasihatnya yang dipenjara, dan menyuruhnya dilepaskan. Raja bahkan memberikan jabatan penasihat itu kembali padanya. Sang raja tersenyum dan berkata, “Benar apa yang kau katakan. Dulu aku begitu marah kehilangan satu jariku, namun sekarang aku tahu bahwa sepatutnya bersyukur untuk hal itu. Jika saja aku tidak kehilangan jariku, aku pasti sudah mati.” Si penasihat menjawab, “Terima kasih Baginda telah memenjarakan hamba selama ini.” Raja kaget dan bertanya, “Apa maksudmu?” “Jika saja Baginda tidak memenjarakan hamba, maka pastilah hamba yang sudah mati dibakar oleh suku asing itu.”
Tertolong karena Menolong, Diberkati karena Memberkati
Dua orang pendaki gunung berjalan pulang dari puncak gunung karena cuaca sangat buruk dan dingin. Di tengah jalan, ketika mereka hampir tidak dapat lagi bertahan, tiba-tiba mereka menemukan seorang pria lain yang tergeletak sendirian—hampir mati kedinginan.
Pria yang satu terus berjalan karena ia berpikir bahwa tidak mungkin ia menghabiskan sisa tenaganya untuk menolong orang tersebut. Ia sendiri saja sudah hampir mati.
Sebaliknya, pria yang satunya lagi dengan susah payah meggendong orang tersebut di punggungnya. Tentu saja hal itu membuatnya tertinggal jauh di belakang temannya yang berjalan tanpa beban.
Setelah beberapa jam terus berjalan, pria yang menggendong itu menemukan temannya telah lebih dahulu berjalan turun gunung tanpa beban. Apa yang terjadi? Temannya itu telah mati kedinginan. Frostbite.
Pria kedua yang menolong orang tersebut justru bertahan dengan selamat sampai ke kaki gunung. Mengapa? Kok bisa?
Karena sesungguhnya pertolongan yang diberikannyalah yang membuatnya selamat. Dengan menggendong pria sekarat itu di punggungnya, ia mendapatkan panas tubuh dari pria yang digendongnya itu. Ia tertolong karena menolong.
Merindukan Perubahan
Majalah Time Asia edisi 5 Agustus 2002 merupakan edisi yang sangat menarik. Topik utama edisi itu tertulis sangat menonjol pada covernya, “Changing Faces”, dengan foto seorang wajah seorang wanita yang dikelilingi oleh bermacam peralatan bedah—gunting, pisau kecil, pisau iris, dsb. “Changing Faces” atau Mengubah Wajah, itulah topik utama edisi itu—mengulas secara detil mengenai tren operasi plastik atau operasi kecantikan di Asia.
Hasil penyelidikan Time menunjukkan betapa banyaknya orang—baik pria maupun wanita—yang berkonsultasi kepada dokter atau ahli kecantikan untuk memperbaiki penampilan fisiknya. Operasi kecantikan di Asia menjadi booming pada tahun-tahun belakangan ini.
· Di Taiwan saja ada sekitar satu juta prosedur operasi kecantikan yang dilakukan pada tahun 2001.
· Di Korea, para ahli bedah memperkirakan sedikitnya satu dari sepuluh orang dewasa menerima operasi perbaikan penampilan fisik
· Masyarakat Jepang menghabiskan sedikitnya 100 juta dolar US setahun untuk memperbaiki penampilan
· Indonesia (pada tahun 2002) hanya memiliki 43 ahli bedah plastik yang berlisensi atau yang diakui, namun di ibukota Jakarta saja sedikitnya terjadi 400 prosedur operasi ilegal untuk memperbaiki penampilan dengan menggunakan silikon.
· Yang lebih hebat lagi… Thailand. Pemerintah Thailand saat ini mendukung adanya tur bagi kaum wisatawan untuk melihat dan mencoba operasi plastik. Ada tur khusus untuk itu!
Satu kalimat dalam artikel itu sangat menarik perhatian. “What we won’t do for beauty”—apa yang tidak akan kita lakukan demi kecantikan? Di Asia dan di seluruh dunia semua orang berupaya untuk mendapatkan penampilan terbaiknya.
Setiap kita selalu berusaha membeli baju yang bagus untuk kita kenakan, kita menggunakan shampo ini, sabun itu, odol pemutih gigi ini, parfum itu, lipstik ini, bedak itu, dst… hanya dengan satu tujuan.. menutupi “kekurangan” atau “kejelekan” kita. Kita ingin menjadi “manusia baru” yang lebih cantik, lebih gagah, lebih tampan, lebih menarik; namun sesungguhnya tidak ada yang dapat kita lakukan untuk mengubah “diri” kita dalam natur dan keberadaan dasarnya. Kita hanya menutupi permukaan luar diri kita saja. Tidak lebih.
MENDENGAR DAN BERDIAM DIRI
TERLETAK KEKUATAN, PERTOLONGAN DAN BERKAT
Bacaan : Yesaya 41: 1-7
Nats. : Yesaya 51: 3:
“Sebab Tuhan menghibur Sion, menghibur segala reruntuhannya. Ia membuat padang gurunnya menjadi taman eden, dan padang belantaranya menjadi taman Tuhan. Disitu terdapat kegirangan dan sukacita, nyanyian syukur dan lagu yang merdu”
Mengapa,
Apakah Allah tidak mendengar? Apakah Allah salah?
I. Pendahuluan
Ilustrasi :Tuhankah yang Salah?
Pada suatu hari dengan wajah cemas seorang suami berkunjung ke dokter keluarga dan berkata, “Pak Dokter, saya kuatir istri saya mulai tuli pendengarannya.” Dokter bertanya bagaimana ia mengetahui bahwa istrinya mulai tuli, jawabnya, “Akhir-akhir ini jika saya panggil atau berbicara kepadanya ia sering tidak menyahut.”
Lalu si dokter pun menasehatinya, “Coba anda pulang dan test apakah ia benar-benar tuli. Caranya berbicaralah kepadanya dari jarak 5 meter, 3 meter, 2 meter hingga berdiri di sampingnya. Setelah itu kita akan mengetahui hasilnya.”
Si suami lalu pulang ke rumah, menemukan istrinya sedang memasak di dapur. Dari jarak 5 meter ia bertanya, “Bu, malam ini kita masak apa?” Tidak ada jawaban. Lalu ia mendekat dan bertanya lagi, “Bu, malam ini kita makan apa?” Tidak ada jawaban. Ia makin mendekat sekitar 2 meter, bertanya lagi dan masih tidak respon. Ia melangkah lagi mendekat, tinggal berjarak satu meter, “Bu, malam ini kita makan apa?” Ia begitu sedih merasa istrinya sama sekali tidak mendengarkannya. Akhir ia berdiri tepat di samping istrinya dan berteriak, “Bu, malam ini kita makan apa?”
Sang istri berbalik, menatapnya sebentar dengan muka aneh, lalu berkata lantang sekali, “Untuk kelima kalinya kukatakan kepadamu! Nanti kita makan ayam goreng!”
Dalam hidup ini kita mungkin mudah berpikir bahwa Tuhan Allah itu tidak mendengarkan kita, tidak terlalu peduli pada kita, hanya menuntut dan menuntut kita mengerjakan kehendakNya.
Dalam bacaan kita tadi, setelah bangsa Israel mendengar Firman Allah dan berdiam diri untuk berdoa, maka ada 5 bahkan lebih berkat Allah yang diberikan: Mari kita liat sama-sama, dan saya rindu, berkat Allah itu juga menjadi bagian kita. Yaitu apabila kita mau.......
II. Pembahasan.
” Mendengar dan berdiam diri” Ayat 3, ayat 1:
Dengan mendengar dan berdiam diri bangsa Israel:
ayat 1 Mendapat kekuatan baru
ayat 2 Mendapat kemenangan yang luar biasa:
- Pedangnya membuat musuhnya seperti debu
- Panahnya membuat mrk seperti jerami yg tertiup
Ayat 3 membuat berhasil, walaupun jalan iku belum pernah dilaluinya.
Seperti pohon yang ditanam ditepi aliran air, Yeremia 17:7-8, Oleh Pemazmur, semua yang dilakukannya berhasil. (Maz. 1:3)
Ayat 4 Tuhan tetap menjadi Tuhan mereka. Yosua 24: 20, Berbalik dari Tuhan, Tuhan akan melakukan yang tidak baik.
ayat 6 dan 7 Menjadi berkat bagi orang lain.
- Yang seorang menolong yang lain,
- Tukang besi menguatkan hati tukang emas.
III. Kesimpulan,
Dalam hidup ini kita mungkin mudah berpikir bahwa Tuhan Allah itu tidak mendengarkan kita, tidak terlalu peduli pada kita, hanya menuntut dan menuntut kita mengerjakan kehendakNya. Padahal kita merasa Tuhan tidak memberikan kepada kita kekuatan. Kita pikir Tuhanlah yang salah karena tidak memberikan kita kekuatan. Padahal, sesungguhnya kitalah yang terlalu jauh dari Tuhan. Telinga rohani kitalah yang bermasalah. Mata rohani kitalah yang dibutakan oleh dosa.
Oleh sebab itu, dengarkanlah FirmanNya, dan berdiam diri untuk berdoa, maka kekuatan , dan berkat akan mengalir dalam kehidupan kita, walaupun kelihatannya mustahil. Bagaimana bisa tukang besi, bisa menasehati hati tukang emas, kalau bukan karena berkat Allah yang memampukan mereka, karena mendengar dan berdiam diri untuk berdoa.
Bagaimana jalan yang belum dilalui bisa membawanya berhasil? Karena Tangan Tuhan yang terulur.
Masilah kita mendengar, dan berdiam diri. Kita menyerahkan segala beban dan persoalan hidup ini kepada Tuhan .
IV. Penguatan:
Yesaya 51: 3:
“Sebab Tuhan menghibur Sion, menghibur segala reruntuhannya. Ia membuat padang gurunnya menjadi taman eden, dan padang belantaranya menjadi taman Tuhan. Disitu terdapat kegirangan dan sukacita, nyanyian syukur dan lagu yang merdu”
Renungan:
CERDIK SEPERTI ULAR
DAN
TULUS SEPERTI MERPATI
Bacaan : Matius 10:16-20
Nast. : Matius 11:28
”Marilah kepadaKu semua yang letih lesu dan
berbenan berat, Aku akan membri kelegaan kepadamu”
Pendahuluan
Banyak orang tahu pepatah Alkitab ini ”Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati”. Bahkan kadang kita menggunakan pepatah ini sebagai alasan untuk membenarkan suatu tindakan yang kita lakukan.
CERDIK SEPERTI ULAR DAN TULUS SEPERTI MERPATI
Apa artinya semua ini?
Apa yang ada dibalik pepatah itu?
Apakah nilai dari pepatah itu? dan
Bagaimana pepatah itu dapat membekali seseorang, khususnya dalam setiap pelayanannya?
Pembahasan:
Cerdik seperti ular......
Ular menurut Kej. 3:1, adalah binatang yang paling cerdik dari segala binatang darat yang dijadikan Tuhan Allah. Maka saya yakin, Tuhan Yesus tidak salah. Dia Tuhan. Tuhan Yesus memakai ular sebagai referensi, contoh dalam hal kecerdikan, kecerdasan, kepandaian untuk memenangkan suatu kejahatan, karana kecerdikan ular:
Mampu berganti kulit secara periodik.. Menghilangkan pengaruh-pengaruh buruk yang memempel ditubuhnya dan diganti dengan yang baru dari dalam didinya, sehingga tetap sehat luar dan dalam (Jasmania dan rohaninya) Ular dipakai sbg lambang kesehatan
Kemapuan untuk mendeteksi mangsa dengan penglihatan infra merah dan penciuman yang sangat tajam. Ular peka terhadap segala kemungkina yang akan mengancam keselamatan dirinya tahu kelemahan-kelemahan musuh.
Ular tahu tempat-tempat yang aman
.
Tulus seperti Merpati
Merpati atau burung dara tulus:
Anatomi, merpati tidak mempunyai empedu.
(Dalam hatinya tidak memiliki sumber atau akar kepahitan. Hatinya murni.). Tidak ada kepalsuan sedikitpun. Tidak menyimpan benih-benih kepahitan.
Mampu terbang berkilao-kilaometer jauhnya, tetapi kembali
keempat asalnya dibesarkan. Sebagai lambang PT
Pos, karena dapat diamdalkan dlm tugasnya.
Merpati bertanggung jawab. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, bukan hanya untuk kesenangannya sendiri, tetapi mau memabagi. Lambang kedamaian. Merpati juga sebagai lambang kehadiran Roh Kudus.
Dalam kehidupan kekristenan, khususnya ketika diperhadapkan dengan masalah-masalah dalam pelayanan, Pepatah ini harus diterapkan, bahkan Tuhan Yesus tekankan : “Hendaklah......:
Hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.
Dalam menghadapi permasalahan kita harus memilki hati yang tulus, murni (seperti merpati) Tidak memiliki akar kepahitan dalam hati kita. Dan harus cerdik, cerdas, pandai (seperti ular) dapat menguasai keadaan dan memenangkannya dengan intelektual, talenta , kemulian, dan Kuasa Roh Kudus.
Rasanya dengan hal-hal yang saya sampaikan di atas tidak salah, jika Yesus menghendaki kita cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati dalam segala hal. Dalam bahasa kerennya. ”pake hikmat” dalam segala hal. Ingat berkat dari hikmat dalam Amsal 3: 16. Tangan kanan: umur panjang, tangan kiri kekayaan dan kehormatan.
Sampai disini mungkin belum cukup. Kenyataan yang kita hadapi di tempat pelayanan, ada perbagai masalah. Dan banyak masalah, yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan kecerdikan dan ketulusan hati. malah semakin banyak. Tetapi ini kesempatan. Sebagai suatu kesempatan untuk bersaksi (Lukas 21:13).
Aplikasi:
Terus bagaimana? Akan menyerah atau mengadakan pembelaan, dengan perlawanan?
Apakah artinya cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati, dalam kontek Yesus Sebagai Gembala yang mengutus kita sebagai domba ke tengah srigala (Matius 10: 16).
Sedikitnya tiga hal yang harus kita pahami dan kita percaya:
Pertama, Domba tidak diutus sendirian, tetapi berjalan bersama Gembala (Matius 28: 19-20) .........”Aku akan menyertai kamu sampai kesudahan jaman”. Sebelum Tuhan Yesus meninggalkan murid-muridNya, Ia berkata: “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku akan datang kemali kepadamu (Yoh. 14: 18) Dan Ia mengutus Peniolong yang lain, yaitu Roh Kudusyang dicurahkan pada hari pentakusta.
Kedua, Ketika srigala datang mengancam kita. Sebagai domba harus cerdik seperti ular, berlindung pada Sang Gembala. Mencari tempat yang aman. Balas kejahatan dengan kebaikan. Kita tidak membalas dengan kejahatan.
Ketiga, datanglah kepada Tuhan Yesus dengan ketulusan hati seperti merpati yang tahu jalan kembali kepada asalnya, yaitu Tuhan, Gembala kita yang Agung. Seperti ular yang tahu tempat-tempat yang aman.
Penutup:
Kita datang kepada Tuhan Yesus dengan percaya sepenuhnya, bahwa hanya Dia yang sanggup melindungi kita dari segala kejahatan. Dan kita akan mendapat ketenangan. Tuhan Yesus berkata:
” Marilah kepadaKu semua yang letih lesu dan berbenan berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikulahkuk yang Kupasang, dan belajarlah kepadaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati, dan jiwamu akan mendapatkan ketenangan”.(Matius 11: 28-29).
Semarang, 19-22 Oktober 2009
Diklat Guru PAK SD TK Lanjut
Teriring Salam dan Doa
T.SKM
Sumber:
Alkitab
Mana Surgawi Juli 2009, No. 136 thn XII, Minggu 5 Juli 2009
Mana Surgawi September 2009 No. 139, Thn XII, Rabu, 30 September 2009
Internet; http// Forumkristen.com/komonitas/index php?topic=1509.0, Mey 05, 2008.
Konkordansi Alkitab , BPK-Kanisius 1978
Lingkungan social dan Pengalaman.
Kompetensi Penulis.
KETAATAN YANG MEMBAWA BERKAT
Bacaan : Lukas 5:1-11
Nats. Luk. 5: 5
“ ……….Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa. Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga “Ketaatan yang seperti apa yang mendatangkan atau membawa berkat:
Ayat 3:
Mau memberi, walaupun, merkipun. Biarpun.
Mau berkorban tanpa pamrih sedikitpun.
Taat Ayat 5:
Mengapa simon melakukan apa yang dikatakan Yesus?
Di dalam alkitab kita tidak menemukan jawaban, tetapi jawaban petrus ayat 5, mengadung beberapa pengertian yang sangat dalam. Mungkin kita setuju: Mungkin karena keputusasaan......Sepanjang malam kami bekerja keras. Kami, tetapi karena engkau...... Aku (SIMON) yang ambil sikap/ keputusan.
Dalam buku Guncangan Ekonomi Dahsyat: Kita temukan beberapa kebenaran yang sebenarnya. Siapapun tidak akan melakukan tindakan sekonyol simon.
Nama simon, dalam bahasa Ibrani nama simon bermakna : mendengarkan dan akar katanya berarti mendengarkan dengan penuh perhatian. Seorang pendengar yang baik. Bahkan Sinom bukan hanya seorang pendengar yang baik, tetapi pelaku Firman (Yak. 1:25)
Prinsip yang lain, perkataan harus disertai perbuatan. Ikan-ikan dalam jumlah yang banyak tidak muncul begitu saja dalam perahu. Sbg tanggapan Petrus, harus mendayung perahu ketengah, melempar jala, dan menarik jala yang berat.
Ukuran Danau sekitar 166 kilometer persegi dan dalamnya 46 meter, panjang (Utara selatan) 23 kilometer, sedangkan lebar (timur barat )11 Kilometer. Waktu yang sangat tidak tepat. Disaat lelah, dan tertekan, harus mendayung 10 kilometer
Penentu waktu yang salah, tempat yang salah dan penasehat yang salah.
Waktu = pagi, bahkan sudah mau siang
Tempat = Tengah danau (Disiang hari ikan berada di tepi atau pinggir Danau. Mencari tempat yang hangat dan makanan.
Orang = Tukang kayu.
Hasilnya?
Ketika Simon merelakan apa yang dia punya, walaupun dalam kesusahan, kekurangan dan keputusasaan. Apa yang dia berikan? Perahunya untuk dipakai Yesus mengajar. Sisa tenaganya, mendayung perahu lagi walaupun hanya dekat.
Tuhan Yesus mengetahui pergumulan petrus, Ia peduli terhadap masalah yang dihadapi Simon..........
Ketaatan Simon membawa berkat yang luar biasa. Bukan hanya berkat jasmani (ikan) , tetapi terlebih Dia dipercaya untuk menjadi salah satu ”Penjalan manusia”. Hamba Tuhan. Dan hanya Simon yang diberi kedudukan khusus dalam pelayanan, yaitu menggembalakan kawanan Domba. Tuhan Yesus berkata, karena Petrus mengasihi Allah, ” Gembalakanlah domba-dombaKu”
Petrus memilih yang tepat, Ia meninggalkan jalanya dan mengikut Dia. Panggilan yang paling mulia, menjadi saksi Kristus. Menjadi pelayan Allah.
Bapak, Ibu saudara ingin diberkati Tuhan? Langkah awal........Berilah. Tuhan Yesus berkata Berilah, maka kamu akan diberi.. kedua, Taat, bukan karena, sebab, ataupun supaya. Tetapi taat walaupun, meskipun, biarpun.......
Memasuki bulan Desember, Allah menguji iman kita. Pendengaran kita. Apakah kita mau menjadi pendengar yang baik. Pendengar yang penuh perhatian, yang pada akhirnya mau memberi, walaupun, meskipun, biarpun..... hasilnya kita belum tahu. Seperti kepada Simon, hal yang sama akan terjadi kepada kita. Ia mengerti, Ia peduli dan Dia pasti memberkati. ”Sebab kamu tahu, bhawa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia. Amin.
Teguran Tuhan
Ayub 5: 17-18
Sesungguhnya berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolakddikan yang Mahakuasa. Jkarena Dialah yang melukai, tetapi juga yang membebat; dia yang memukuli, tetapi yang tanganNya menyembuhkan pula.
Ibrani 11: 11
Memang tiaptiap ganjaran pada waktu dibewrikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita, Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebnaran yang memberikan damai kepada ereka yang dilatihnya.
I Raja-raja 19: 9-10 ; Apakah kerjamu di sini hai Elia?
SATU MENIT YANG MENGUBAH HIDUP
Bacaan : Matius 9: 35-38
Nast. : Amsal 27: 22-24
Kenallah baik-baik keadaan kambing dombamu, perhatikan kawanan hewanmu!! Karena harta benda tidaklah abadi, Apakah mahkota akan turun-temurun?
Pendahuluan
Ilustrasi /crita :Satu menit yang merubah hidup
Mengapa satu menit bisa mengubah hidup?
Pembahasan:
Firman Tuhan berkata: Amsal 27 :22-24:
Kalau mengenali permasalahan yang dihadapi
” Sekalipun engkau menumbuk orang bodoh dalam lesung, dengan alu bersama-sama gandum, kebodohannya tidak akan lenyap daripadanya. Oleh sebab itu ayat 23; Kenalilah baik-baik, mengetahui permasalahan yan dihadapi dan baru semua jurus dipakai.
Kalau mempunyai satu keyakinan atau satu cara pandang yang baru, yaitu :
a. Harta benda tidak abadi
b. Hahkota/ jabatan, kekuasaan/ kesuksesan dll itu tidakm turun temurun.
Menciptakan suatu hubungan yang baik.
Bapak, ibu yang dikasihi Tuhan Yesus. Bagaimana caranya supaya bisa mempunyai hubungan yang baik dengan orang lain, mengenal permasalahan yang mereka hadapi dan lebih-lebih dapat memiliki pandangan atau pikiran dan keyakinan, bahwa harta benda, tidak abadi dan jabatan atau kekuataan itu turun-temurun atau bisa diwariskan?
Mari kita lihat, Injil Matius 9: 23-38.
Apa yang dilakukan Yesus?
Berkeliling ke semua kota dan desa
Mengajar dan
Memberitakan Injil
Melenyakpan kelelahan (jemu, bosa, putus asa, tidak berdaya secara rohani, juga ekonomi) banyaknya masalah yang dihadapi, menjadi sangat lelah baik tubuh dan jiwa/ roh)
Kesimpulan:
Berkeliling ke semua kota dan desa, bisa mendapatkan atua tahu pemasalahan jemaat atau domba-dombanya yang sebenarnya:
Dalam ayat 36, setelah Yesus berkeliling: Melihat orang banyak itu tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan kepada meeka. Mengapa? Karena lelah dan terlancar seperti domba yang tidak bergembala.
Inilah tugas Bapak, Ibu dan saya. Untuk mengajar dan memberitakan Injil, diperlukan tindakan, yaitu berkelilin, melihat langsung, men jadi hubungan yang baik, mengenali mereka dan kita harus yakin bahwa harta benda tidak abadi dan mahkiota atau jabatan tidak bisa kita turunkan atawariskan.
Warisan yang paling berharga adalah iman. Melalui mengajaran dan pemberitaan Injil, iman akan muncul. Seperti tertulis dalam Roma 10: 17, Iman timbul dari perdengaran dan pendengaran oleh Firman Kristus. Supaya mereka medengar maka harus ada yang mau dipanggil dan diutus. Siapa?
Sekali lagi. Bukan orang yang diluar sana, Pendeta, Guru Injil. Tetapi kita semua. Kita harus mewariskan Iman kepada siapapun.
Tuhan Yesus berkata,, apa artinya memiliki semua, kalau jiwanya binasa? Karena tidak percaya tidak mempunyai iman?
Yohanes 3: 16, .........Barang siapa percaya kepadaNya, tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.
Mereka bisa dirubah....... kalau ada hubungan yang baik dengan mereka, kita mengenali mereka dan mereka sudah tahu jika harta benda tidak abadi (tidak dibawa mati) dan Mahkota, jabatan, kekuasaan tidak dapat diturunkan atau wariskan.
Bukan satu tahun, satu bulan, satu hari, satu jam........tetapi bisa jadi hanya satu menit. Mengapa tidak?
PELAYANAN MERUPAKAN SETAPAK MENUJU MAKNA YANG SEBENARNYA
Bacaan : II Tim 1 : 6- 14
Nats.` : II Tim 1:9 : „Dialah yang menyelamatkan kita dan
memangil kita dengan panggilan kudus, .......“
Pendahuluan
Surat II Tim. ditulis dari penjara di Roma pada masa tahanan yang ke-2, yaitu pada tahun 65. Kali ini keadaan di tempat tahanan lebih berat dibandingkan masa tahanan yang pertama tahun 60-62, karena pada masa itu ia diperkenankan tinggal dirumah kontrakannya sendiri (sbg tanahan luar). Tetapi pada masa tahanan ke-2 ia benar-benar berada dalam penjara (1:8), bahkan Ia dibelenggu (1:16) dan diperlakukan sebagai seorang penjahat (2:9).Paulus sudah menjalani persidangan pertama, dan Paulus menduga akan dihukum mati dalam waktu dekat (4:6). Semua teman-temannya sudah meninggalkan Paulus, kecuali Lukas.
Bapak, Ibu Sdr yang dikasihi Tuhan Yesus....
Dalam masa kesepian dan firasat kematian, Paulus amat merindukan kedatangan Timotius pada saat-saat terakhir hidupnya. Kerinduan akan Timotius serta anjuran kepadanya untuk setia dalam pelayanannya merupakan motif-motif utama dari penulisan II Tim.
(Paulus tidak jadi hukum mati. Sekali lagi ia dbebaskan, lalu ia pergi ke Spanyol (th 66). Ketika masih di Spanyol atau sekembalinya di Roma, Paulus dihukum mati (tahun 66/67).
Diselamatkan, dipanggil dan diperintahkan untuk melayani!!!!
Bapak, Ibu sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,
Pelayanan merupakan setapak atau selangkah menuju makna yang sebenarnya,................
Alkitab bercerita tentang 4 Pengemis buta (2 Raja-raja 7).
Mengapa melayani?
Diselamatkan untuk melayani Allah (2 Tim 1:9)
Alkitab mengatakan: ” Dialah yang menyelamatkan kita dan memilih kita untuk pekerrjaanNya yang kudus, bukan karena kita layak, melainkan karena itulah yang telah dikaruniakanNya”
Allah menebus kita, supaya kita bisa melakukan ”pekerjaan kudusNya”. Kita tidak diselamatkan oleh pelayanan, tetapi Kita diselematkan untuk untuk pelayanan.
Bapak, Ibu sdr yang dikasihi Tuhan Yesus, Dalam Kerajaan Allah,kita memiliki sebuah tempat, sebuah tujuan, sebuah peran, sebuah fungsi untukdilaksanakan. Ini memberi arti dan nilai yang luar biasa kpada hidup kita.
Yesus harus mengorbankan nyawaNya sendiri untuk membeli keselamatan kita. Alkitab mengingatkan kita: “Allah telah membeli kamu dengan harga yang sangat mahal. Kaena itu muliakanlah Allah dengan tubuhMu” (I Kor. 6:20). Lebih lanjut Rasul Paulus mengatakan kepada jemaat di Roma, supaya mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan....”
Bapak, Ibu, Sdr yang dikasihi Tuhan Yesus, ....
Istilah lain dalam bahasa Inggris untuk “melayani Allah” yang salah dimengerti oleh banyak orang adalah kata MINISTRI (Pelayanan sbg pendeta). Tetapi Allah berkata setiap anggota keluarga-Nya merupakan seorang pelayan (Ministri). Di dalam Alkitab, kata hamta (Servant) dan pelayan (Ministri) adalah sinonim, seperti hanya service dan ministry.
Jika kita seorang Kristen, kita merupakan seorang pelayan (ministry) dan kita melayani (service atau pun Ministry).
Contoh : Ibu Mertua Petrus.....Bangun dan mulai melayani Yesus....
Dipanggil untuk melayani
Alkitab mengatakan: Allah menyelamatkan kita dan memanggil kita supaya menjadi umatNyaa sendiri, Ia melakukan itu bukan berdasarkan apa yang ktia kerjakan, melainkan berasarkan rencanaNya sendiri ..(Fil.3: 14), dan Rasul petrus menambahkan...kamu dipilih untuk memberitakan sifat-sifat mulia Allah, yang memanggilmu...(I Pertus 2: 9).
Diperintahkan Untuk melayani (Mat. 20:28)
Bagi orang Kristen, Pelayanan bukan pilihan, sesuatu untuk dimaksukan ke dalam jadwal kita jika bisa menyediakan waktu. Pelayanan adalah inti kehidupan Kristen. Yesus datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk “melayani” dan “memberi”.
Bapak, Ibu Sdr yang dikasihi Tuhan Yesus....
Melayani dan memberi, dua kata kerja tersebut seharusnya menjadi ciri kehidupan kita. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kedewasaan rohani sendiri tidak pernah merupakan tujuan. Kedewasaan adalah untuk pelayanan!!! Kita bertumbuh untuk memberi. Tidak cukup kita hanya belajar dan belajar saja. Kita harus bertindak berdasarkan apa yang kta tahu dan menjalankan apa yang kita katakan , kita percaya. Belajar tanpa pelayanan menyebabkan kebekuan rohani.
Bapak, Ibu Sdr....yang dikasihi Tuhan Yesus...
Perbandingan lama. Antara Laut Gelelia dan laut mati masih berlaku.
Kesimpulan
Bapak, Ibu Sdr yang dikasihi Tuhan Yesus...
Pada akhri hidup kita di bumi akan berdiri dihadapan Allah dan Dia akan mengewaluasi seberapa baik kita melayani orang lain dengan kehidupan Kita. Alkitab berkata : “ Demikian setiap orang diantara kita akan memberi pertanggungjawaban tenang dirinya sendiri kepada Allah (Roma 14:12).
Bapak, Ibu Sdr.....
Suatu hari Allah akan membandingkan berapa banyak waktu dan tenaga yang kita gunakan untuk diri kita sendiri dangan apa yang kita berikan untuk melayani orang lain. Pada saat tersebut semua alasan kita untuk keegoisan kita akan terdegar hampa: ..........(apa kira-kira yang akan kita katakans ebagai alasan untuk tidak melayani orang lain?.....
Untuk semua alasan....Allah akan menjawab: “maaf, jawaban Saudara keliru..... Aku menyelamatkan, memanggilmu dan memerintahkanmu untuk menjalani kehidupan pelayanan.
Baak, Ibu Sdr yang dikasihi Tuhan Yesus,
Alkitab memperingatkan orang-orang yang tidak percaya, : ‘Dia akan menumpahkan amarah dan murkaNya atas mereka yang hidup bagi dirinya mereka sendiri (Roma 2:8). Tetapi bagi orang Kristen itu akan berarti kehilangan upah kekal.
Kita hanya sepenuhnya hidup, bila kita menolong orang lain. Tuhan Yesus berkata:”Jika kamu mempertahankan nawanya, kamu akan kehilanga nyawanya. Jika kalian kehilangan nyawa demi Aku dan demi berita kesukaan, kalian akan dapat menikmati hidup. (Markus 8:35).
Bapak, Ibu Sdr.... kebenaran ini begitu penting,sehigga diulangi sampai 5 kali dalam Kitab-kita Injil. Jika kita tidak melayani, keberadaan Saudara tidak berarti. Pelayanan merupakan jalan setapak untuk makna selanjutnya. Karena kehidupan dimaksudkan untuk pelayanan. Amin. Tuhan Yesus memberkati Pelayanankita.
Untuk kaum Aktivis
GBI Ebenheser – Maranata, 26 Juni 2009
Langganan:
Postingan (Atom)