Selasa, 23 Agustus 2011
PENGAJARAN AGAMA KRISTEN DALAM ALKITAB
I. Pengajaran Menurut Alkitab
Pengajaran merupakan topik yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah kehidupan manusia. Secara sederhana, pengajaran dapat diartikan sebagai sebuah proses belajar-mengajar, memberikan dan menghasilkan pengetahuan dan keahlian. Sementara itu Samuel Sijabat mengutip definisi dari Ensiklopedi Pendidikan mengatakan bahwa pendidikan dapat diartikan “semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuannya, pengalamannya, kecakapannya, serta ketrampilannya kepada generasi muda sebagai usaha menyiapkannya agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmaniah maupun rohaniah.1
Dengan pengertian di atas, maka setiap orang atau masyarakat pasti terlibat di dalam Pengajaran baik itu formal maupun informal. Itulah sebabnya, Pengajaran atau pendidikan tetap menjadi topik yang sangat penting untuk dibahas.
Dalam tulisan ini, penulis secara khusus akan membahas pandangan Alkitab tentang pentingnya pengajaran. Namun, mengingat luasnya masalah pengajaran, dan Alkitab yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru maka penulis merasa perlu membatasi pembahasan dalam bab ini. Dalam pembahanan pengajaran penulis akan memfokuskan pada pandangan Alkitab (Perjanjian Lama) tentang pentingnya Pengajaran atau pendidikan anak berdasarkan Ulangan 6:4-9. dan Dalam Perjanjian baru, yaitu pengajaran Tuhan Yesus, Pengajarana rasul Paulus dan pengajaran Jemaat yang mula-mula.
A. Pengajaran Agama Dalam Perjanjial Lama
Perjanjian Lama adalah Firman Allah yang merupakan dasar dan otoritas tertinggi bagi konsep, prinsip dan prilaku manusia. (2 Timotius 3:15-16). Disamping itu, Perjanjian Lama juga sangat memperhatikan pentingnya pendidikan anak. Perintah untuk memperhatikan pentingnya pendidikan anak diberikan Allah sendiri sejak zaman Abraham (Kejadian 18:19), dilanjutkan pada zaman Musa (Keluaran 12:26-27) dan dipertegas kembali dalam Ulangan 4:9 ; 6:1-9; 11:18-21 yang selanjutnya juga menjadi perhatian orang-orang bijak (Amsal 1:8; 22:6; 29:17; Pengkhotbah 12:1). Dengan demikian, sangatlah tepat jika Perjanjian Lama, dijadikan dasar untuk memahami pentingnya pendidikan anak. Salah satu bagian Perjanjian Lama yang perlu dijadikan dasar untuk memahami pentingnya pendidikan pengajaran anak adalah Ulangan 6:4-9.
1. Latar belakang
Untuk lebih memahami pengajaran Agama dalam perjanjian Lama, kita harus lebih dahulu mengetahui latar belajang dalam pengajaran tsb, yaitu seperti berikut ini:
a. Bangsa Yahudi
Bangsa yang penuh misteri, kecil tapi kuat, sedikit tapi menyebar ke seluruh dunia, menyebar tapi kemurniannya terjaga, kadang tidak bertanah air dan tak punya raja, tapi selalu menonjol dan memberi pengaruh kuat kepada dunia. Dianiaya, tapi bertahan bahkan berkelimpahan. Bangsa yang memiliki identitas yang kuat.
b. Agama Yahudi
Penganut agama Yudaisme yang mementingkan ketaatan kepada Hukum Agama agar dijalankan dengan penuh ketekunan. Kemurnian pengajarannya dijaga dari generasi ke generasi berikutnya untuk memberi dasar yang teguh bagi setiap tingkah laku dan tindakan. Hukum agama sering diaplikasikan secara harafiah.
c. Budaya Yahudi
Yang paling mengesankan dalam budaya Yahudi adalah perhatiannya pada pendidikan. Pendidikan menjadi bagian yang paling utama dan terpenting dalam budaya Yahudi. Semua bidang budaya diarahkan untuk menjadi tempat dimana mereka mendidik generasi muda, yang kelak akan memberi pengaruh yang besar. Obyek utama dalam pendidikan mereka adalah mempelajari Hukum Taurat.
2. Prinsip Pengajaran Dalam perjanjian Lama
a. Seluruh kebenaran adalah kebenaran Allah.
Kej. 1:1 -- Segala sesuatu telah dijadikan oleh Allah dengan tujuan supaya manusia mengenal Allah dan berhubungan dengan-Nya. Cara Allah menyatakan diri adalah dengan:
- Wahyu Umum : Supaya orang menyadari dan mengakui keberadaan Allah melalui alam, sejarah, hati nurani manusia.
- Wahyu Khusus : Supaya manusia menerima keselamatan dari Allah. Allah berinkarnasi menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus.
b. Menurut konsep Yahudi tidak ada perbedaan nilai antara duniawi dan rohani, semuanya ada dalam wilayah Tuhan. Itu sebabnya orang Yahudi percaya bahwa "seluruh hidup adalah suci".
c. Pendidikan berpusatkan pada Allah.
Fokus utama dalam pendidikan Yahudi adalah: Yehova (Hab. 2:10 -- kegagalan campur tangan Allah adalah kegagalan bangsa.) Bagi anak Yahudi tidak ada buku lain yang memiliki keharusan untuk dipelajari selain Alkitab (Taurat) untuk menjadi pegangan dan pelajaran tentang Allah dan karya-Nya
d. Pendidikan adalah kegiatan utama dan diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam Kitab Talmud dikatakan kalau ingin menghancurkan bangsa Yahudi, kita harus membinasakan guru-gurunya. Bangsa Yahudi adalah bangsa pertama yang memiliki sistem pendidikan Nasional (Ula. 6:4-9) Pendidikan mereka tidak hanya secara teori, tetapi menjadi kegiatan sehari-hari dalam cara hidup dan keagamaannya. Contoh: Kitab Imamat yang mengajarkan semua tata cara hidup dan beragama.
e. Tempat Pendidikan Anak Bangsa Yahudi
Pendidikan anak Yahudi bermula di rumah. Berpangkal dari peranan seorang ibu Yahudi. Tugas kewajiban ibu adalah untuk menjaga kelangsungan hidup rumah tangga yang juga terkait erat dengan tugas rohani mendidik anak-anaknya, khususnya ketika masih balita. Jauh- jauh hari sebelum anak berhubungan dengan dunia luar, anak terlebih dahulu mendapat pendidikan dari ibunya sehingga sesudah menginjak usia remaja/pemuda ia sudah mempunyai dasar yang benar.
3. Pentingnya Pengajaran Dalam Perjanjian Lama
Melalui Ulangan 6:4-9 ini kita dapat menemukan beberapa prinsip penting yang mendasari pentingnya pendidikan anak.
1. Pendidikan Harus Berkaitan Dengan “[m;v.” = Syema”( 6:4).
Ayat 4 diawali dengan kata perintah “ dengarlah ([m;v = syema)”. Kata “syema dengarlah)” sudah muncul dalam Ulangan 5:1 sebagai pengantar dari bagian yang berbicara mengenai 10 hukum Allah. Dalam tradisi Yudaisme Ulangan 6:4 ini menjadi suatu pengakuan iman yang wajib diucapkan tiap pagi dan tiap malam (bnd. ayat 7) . Perintah “syema” ini berkaitan erat dengan pernyataan “pengakuan bahwa Allah itu Esa” yang merupakan kebenaran yang fundamental bagi agama Israel dan sikap mereka kepada Allah.9 Kata “esa (dx\a,=ekhad)” yang dikaitkan dengan perintah “syema” bukan hanya mengatakan tentang “keunikan” Allah tetapi juga “kesatuan (unity)” Allah.10 Secara lengkap instruksi syema berbunyi : Dengarlah, hai orang Israel : Tuhan itu Allah yang Esa ! Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. “Ini menyatakan bahwa Allah tidak dapat dibandingkan dengan apapun. Hanya Dia satunya-satunya Allah yang berdaulat dan harus menjadi satu-satunya obyek ibadah, ketaatan dan kasih dari umat-Nya. Oleh karena Allah adalah Esa, maka Israel harus mengasihi Yahweh sebagai Allahnya dengan sepenuh hati, jiwa dan kekuatannya.11 “Syema ([m;v.)” adalah inti dari instruksi agama yang diberikan di dalam rumah. Bersama dengan “syema” anak-anak diajarkan perintah untuk hidup yang benar dan merupakan tanggung jawab ayah untuk menjelaskan makna dari perintah-perintah itu dengan menceritakan sejarah bangsa Israel. (Ulangan 6:20-25).12 Syema merupakan ungkapan keyakinan iman (kredo) yang harus diperhatikan dan dilakukan dengan serius. Sementara itu, Von Rad mengatakan bahwa “syema” dalam Ulangan 6: 4 dapat disebut sebagai dogma fundamental dari Perjanjian Lama yang disebut oleh Tuhan Yesus sebagai yang paling penting dari semua hukum.13 Tujuan utama pendidikan dalam Perjanjian Lama adalah membawa bangsa Israel beserta seluruh keturunannya mengenal Allah dan mengasihi-Nya serta hidup benar dihadapan-Nya.
Sebagaimana dikatakan Andrew Hill bahwa kehidupan bangsa Isarel tidak lepas dari pengenalan dan ketaatanya kepada hukum Allah. Itulah sebabnya salah satu mandat penting bangsa Isarel adalah pendidikan yang bertujuan dengan rajin mengajarkan anak-anak mereka agar mengasihi Allah dan mengenal serta mentaati 10 hukum Allah dan segala peraturannya.14 Pola pendidikan dengan instruksi “syema” ini mengajar seluruh bangsa Israel beserta keturunannya supaya mengetahui dan mengakui bahwa hanya ada “satu Allah” yang patut disembah yaitu “Allah Yahweh”; Allah Yang Esa dan Allah yang telah mengikat perjanjian dengan Abraham dan keturunannnya. Allah ingin bangsa Israel beserta segala keturunannya hanya menyembah dan mengasihi Dia; tidak ada yang lain. Seluruh tujuan pendidikan Israel ialah menjadikan mereka hidup kudus dan menerapkan ajaran agama dalam kehidupan praktis.
2. Pendidikan Harus Diberikan Dengan Bertanggung Jawab. (ayat 7)
Begitu pentingnya instruksi “syema” bagi kehidupan bangsa Israel, maka hal itu harus dilakukan dengan serius. Keseriusan dalam melakukan dan mengajarkan “syema” dapat dilihat dari beberapa metode yang harus dilakukan.
a. “ Harus Diajarkan Secara Berulang-ulang “!nv=syanan”
Kata “!nv=syanan” dapat diartikan sebagai “mengajarkan kata-kata yang penting dengan tekun/berulang-ulang/dengan sejelas mungkin”.15 Sementara itu J. I. Packer, mengatakan bahwa frase “mengajarkan berulang-ulang” berasal dari sebuah kata Ibrani yang biasanya mengacu kepada hal menajamkan sebuah alat atau mengasah sebuah pisau. Apa yang dilakukan batu asah untuk mata pisau , demikian pula pendidikan untuk anak.16 Itulah sebabnya NIV menterjemahkan “impress them on your children.17 Sedangkan LAI menterjemahkan dengan “ mengajarkannya berulang-ulang”. Penekanan pentingnya mengajarkan dengan mengulang bertujuan agar mereka dapat mengingat, memahami dengan jelas dan melakukannya.
b. “Harus Diajarkan Dalam Setiap Kesempatan”
Keseriusan di dalam mengajarkan “syema” selain diulang-ulang juga harus dilaksanakan setiap waktu dan disetiap tempat. Kalimat,” membicarakannya apabila engkau duduk dirumahmu, dalam perjalanan, berbaring maupun bangun” menunjukkan betapa seriusnya pengajaran “syema” ini. Dalam hal ini tepatlah yang dikatakan Robert R. Boehlke bahwa ruang lingkup pendidikan Yahudi, bukan satu usaha sambilan saja, yang hanya dilaksanakan dalam salah satu sudut kehidupan saja, melainkan bagian inti dari kehidupan sehari-hari yang lazim dilakukan.18 Dimanapun ada kesempatan maka “syema” harus di ajarkan.
c. Harus Diajarkan Dengan Prinsip Keteladanan (ayat 16-19)
Selain mengajar dengan berulang-ulang, orang tua dituntut untuk melakukan terlebih dahulu apa yang Tuhan inginkan (Ulangan 6: 16-19). Pada bagian ini Musa menyampaikan kepada orang tua bahwa ada dua cara dasar untuk mengajar anak mereka yakni instruksi yang bersifat formal (mengajar) dan informal. Melalui instruksi formal mereka harus mengajar tentang kebenaran. Sedangkan melalui instruksi informal mereka mengajar dengan menjadi teladan dalam menjalankan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari. Keduanya sama pentingnya. Namun, bagian ini lebih menekankan pada instruksi informal atau gaya hidup sekari-hari.19 Orang tua harus mengajar dengan menjadi teladan yang baik di dalam kehidupannya sehari-hari. Tujuan dari metode pendidikan seperti ini adalah untuk mengajar bangsa Israel beserta keturunannya agar sungguh-sungguh mengingat karya dan perintah Tuhan. Tuhan menginginkan agar mereka sungguh-sungguh mengasihi-Nya dengan segenap hati, jiwa dan kekuatannya, secara khusus ketika mereka memasuki Kanaan20 (Ulangan 6:12-25). Melalui metode pendidikan dengan instruksi “syema” ini menunjukkan bahwa Allah sangat memperhatikan tentang pentingnya pendidikan dan bagaimana proses pendidikan itu dapat diberikan dengan benar dan bertanggung jawab.
3. Pendidikan Harus Diberikan Sejak Anak-anak (6:7; 20-25)
Dalam bagian ini ada 2 kali penekanan pentingnya pendidikan diberikan kepada anak-anak. Dalam ayat 7 perintah “syema” harus diberikan kepada “anak-anak” mereka yaitu dengan “mengajarkannya berulang-ulang”. Hal ini ditekankan kembali dalam ayat 20-21 agar orang tua siap mengajarkan tentang siapakah Allah dan karya-Nya bagi bangsa Israel kepada anak-anak mereka. Sejak awal masa anak-anak , seorang anak laki-laki telah belajar sejarah Israel. Anak-anak belajar bahwa bangsa Israel telah mengikat perjanjian dengan Allah, Perjanjian itu menempatkan batasan-batasan tertentu pada mereka. Mereka mempunyai tanggung jawab terhadap Allah karena Allah telah menebus mereka.
Pendidikan iman kepercayaan mereka dalam hubungan dengan Allah Yahweh menjadi hal yang sangat penting untuk diajarkan dan dilakukan. Pada hakekatnya seorang ayah Israel bertanggung jawab atas pendidikan anak-anaknya; tetapi para ibu juga memainkan peranan yang amat penting, terutama sampai anak mereka mencapai usia lima tahuan. Selama tahun-tahun pertumbuhan itu, sang ibu seharusnya membentuk masa depan anak-anaknya, baik laki-laki maupun perempuan.21 Ini menunjukkan bahwa Allah bukan hanya memerintahkan pentingnya orang tua Israel mengajarkan kepada anak-anak mereka hidup mengasihi-Nya tetapi juga memperhatikan pentingnya masa anak-anak. Allah menginginkan agar anak-anak belajar bahwa bangsa Israel telah mengikat perjanjian dengan Dia. Sebagai bangsa yang terikat perjanjian dengan Allah, maka mereka harus hidup bertanggung jawab kepada Allah dan mengasihi Allah karena Ia telah menebus mereka. Dalam perkembangannya, pentingnya pendidikan sejak anak-anak ini dikaitkan dengan pengaruhnya terhadap masa depan mereka (bnd. Amsal 22:6).
Dalam kehidupan bangsa Israel kehidupan mereka sangat ditentukan oleh hubungan dan sikap mereka terhadap Allah. Sebagai umat Allah maka berhasil tidaknya kehidupan mereka sangat ditentukan oleh ketaatan mereka kepada Allah. Jika mereka taat akan mendapatkan berkat,jika tidak taat akan mendapatkan kutuk. Realita ini nampak dengan jelas di sepanjang perjalanan bangsa Israel yang telah diungkapkan dalam Perjanjian Lama. Itulah sebabnya, pendidikan yang diberikan kepada anak-anak selalu mencakup pelajaran agama dan dilengkapi dengan pelatihan dalam berbagai ketrampilan yang akan mereka perlukan dalam kehidupan sehari-hari.
4. Pendidikan Adalah Tanggung Jawab Orang Tua (ayat 7)
Kalimat dalam ayat 7 “haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu” dan dalam ayat 21 “maka haruslah engkau menjawab anakmu..” menunjukkan bahwa orang tua memiliki tugas dan tanggung jawab dalam pendidikan anak-anak mereka. Oleh karena perintah ini berkiatan dengan instruksi syema, maka orang tua pertama-tama bertanggung jawab atas pendidikan rohani anak-anak mereka. Ini merupakan tugas yang sangat mendasar dan penting untuk dilakukan orang tua kepada anak-anaknya. Orang tua dianggap yang paling bertangung jawab dalam pendidikan anak-anak oleh karena mereka adalah orang yang terdekat.
Sebagaimana dikatakan oleh J. I. Packer bahwa Allah memakai manusia untuk mengajarkan Taurat kepada bangsa Israel—seperti Musa, para imam dan para nabi. Murid-murid mereka adalah orang dewasa dari bangsa Israel, yang kemudian mereka bertanggung jawab untuk meneruskan kepada anak-anak mereka.Sebagian besar pendidikan dilakukan oleh orang tua, tidak ada ruang kelas atau kurikulum yang tersusun.
Peran orang tua yang pada mulanya mendidik anak-anak dalam bidang agama berkembang dengan mengikut sertakan pendidikan dalam bidang ketrampilan-ketrampilan khusus. Anak-anak Israel juga diajarkan keahlian-keahlian yang mereka perlukan agar menjadi orang yang berhasil di dalam komunitasnya.
Bangsa Israel adalah sebuah masyarakat petani; banyak hikmat praktis yang diturunkan dari ayah kepada anak-anak laki-laki adalah mengenai bertani. Selain itu, para ayah juga bertanggung jawab untuk mengajar anak laki-lakinya sebuah kejuruan dan ketrampilan. Misalnya, apabila sang ayah adalah tukang periuk, ia mengajar ketrampilan itu kepada anak laki-laki. Sementara anak laki-laki belajar ketrampilan ini, anak-anak perempuan belajar membakar roti, memintal dan menenun di bawah pengawasan ibunya. (Keluaran 35:25-26; band. II Samuel13:8). Apabila tidak ada anak laki-laki dalam keluarga, anak-anak perempuan mungkin harus belajar pekerjaan ayahnya Kejadian29:6; Keluaran 2:1625 Secara khusus, anak laki-laki Yahudi disamping membaca Kitab Suci , juga mendapat pelajaran tatakrama, musik, cara bertempur, dan pengetahuan praktis lainnya.26
Pola pengajaran atau pendidikan semacam ini merupakan bagian penting dalam sepanjang zaman Alkitab. Peranan orang tua terus menjadi hal yang penting meskipun pendidikan formal sudah ada. Ini membawa kita kepada pemahaman bahwa Allah sangat memperhatikan pentingnya pendidikan anak dan pentingnya peranan orang tua dalam pendidikan anak. Allah memilih keluarga untuk menjadi tempat berlangsungnya proses pembentukan diri anak. Dalam hal ini tepatlah yang dikatakan Gary J. Oliver mengatakan bahwa Ulangan 6 merupakan bagian Alkitab yang menjelaskan bahwa Allah merancang keluarga sebagai wadah untuk mengajarkan (malalui pendidikan formal) dan menunjukkan (melalui teladan hidup) realitas pribadi Allah yang hidup.
B. Pengajaran Agama Menurut Perjanjian baru
1. Pengajaran Agama
Apabila kita hendak menyelidiki soal Pengajaran agama dalam hubungan Perjanjian Baru, tentu saja pertama-tama dan khususnya kita harus mengarahkan pandangan kita yaitu:
a. Pengajaran Tuhan Yesus
Di samping jabatan-Nya sebagai Penebus dan Pembebas, Tuhan Yesus juga menjadi seorang Guru yang agung. Keahlian-Nya sebagai seorang guru umumnya diperhatikan dan dipuji oleh rakyat Yahudi; mereka dengan sendirinya menyebut Dia "Rabbi". Ini tentu suatu gelar kehormatan, yang menyatakan betapa Ia disegani dan dikagumi oleh-orang sebangsanya sebagai seorang pengajar yang mahir dalam segala soal ilmu keTuhanan. Sebab Ia mengajar mereka "sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat yang biasa mengajar mereka" (Mat 7:29).
Tuhan Yesus mengajar di mana saja: di atas bukit, dari dalam perahu, di sisi orang sakit, di tepi sumur, di rumah yang sederhana dan di rumah orang kaya, di depan pembesar-pembesar agama dan pemerintah, bahkan sampai di kayu palang sekalipun. Tuhan Yesus tidak memerlukan sekolah atau gedung tertentu. Tiap-tiap keadaan dan pertemuan dipergunakan-Nya untuk memberitakan Firman Allah.
Tuhan Yesus dalam pengajaran-Nya tidak terikat pula pada waktu tertentu. Siang-malam, pada setiap saat Ia bersedia menerangkan jalan keselamatan dan Kerajaan Sorga yang telah datang itu kepada siapa saja yang ingin belajar kepada-Nya. Sedangkan yang menjadi tujuan pengajaran Tuhan Yesus itu bukanlah untuk membahas berbagai pokok agama dan susila secara ilmiah atau secara teori saja, melainkan untuk melayani tiap manusia yang datang kepada-Nya. Setiap orang itu dikenal-Nya, dan dipahami-Nya masalah yang dipergumulkan orang itu. Untuk lebih jelasnya akan dikemukan lebih rinci dalam pembahanan berikutnya, yaitu tentang pengajaran Tuhan Yesus dalam Keempat Injil. Baik itu materi, cara atau metode, tujuan pengajaran maupun sisitimatika pengajaranNya.
Cara mengajar-Nya sangat istimewa pula. Biasa-Nya Tuhan Yesus tidak membentangkan sesuatu ajaran dengan menyuruh orang mempercayai itu, tetapi Ia mendorong mereka berpikir sendiri dan menarik kesimpulannya sendiri atas apa yang telah dijelaskan-Nya kepada mereka. Ia tak selalu mencapai hasil-Nya, karena sering kali para pendengar-Nya mengeraskan hati, tetapi tentu Ia senantiasa menyatakan Diri sebagai seorang Guru yang tak ada taranya, karena Ia sendiri adalah Kebenaran.
Banyak metode yang dipakai-Nya, dan segala metode itu masih penting dan perlu dipelajari oleh segala guru agama masa kini. Adakalanya Tuhan Yesus bercerita. Sering Ia memakai perumpamaan. Acap pula Ia mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang kemudian menjadi bahan pengajaran-Nya. Kadang-kadang suatu percakapan biasa berkembang menjadi pengajaran yang indah. Tetapi bukan dengan perkataan-Nya saja Tuhan Yesus mengajar. Tapi juga dengan mempraktekkan apa yang dimaksudkan-Nya, seperti tatkala Ia memeluk anak-anak dan memberkati mereka, itu menjadi teguran pada murid-Nya, atau ketika Ia membasuh kaki mereka untuk mengajar mereka supaya rendah hati.
Bahkan seluruh kehidupan Tuhan Yesus sendiri merupakan pengajaran sampai saat yang terakhir, karena justru dalam sengsara dan kematian-Nya Ia mengajar kita tentang satu-satunya jalan keselamatan bagi manusia yang berdosa. Di atas bukit Golgota, Ia menyuguhkan segala pengajaran-Nya dengan pengorbanan diri-Nya sendiri.
b. Pengajaran Rasul Paulus
Rasul Paulus juga seorang guru yang ulung. Ia benar-benar tokoh penting di lapangan pendidikan agama. Paulus sendiri dididik untuk menjadi seorang rabbi bagi bangsanya. Ia mahir dalam pengetahuan akan Taurat, dan ia dilatih untuk mengajar orang lain tentang agama kaum Yahudi.
Setelah Yesus memasuki hidupnya, Paulus menjadi seorang hamba Tuhan yang terdorong oleh hasrat yang berapi-api untuk memashurkan nama Tuhan Yesus itu. Ke mana pun Paulus pergi, segala kesempatan dipergunakannya untuk mengajar orang Yahudi dan kaum kafir tentang kehidupan bahagia yang terdapat dalam Injil Yesus Kristus. Paulus berkhotbah di hadapan imam-imam dan rabi-rabi Yahudi, dan di hadapan rakyat jelata di segala kota dan desa yang dikunjunginya. Ia mengajar raja-raja dan wali-wali negeri, orang cendekiawan dan kaum budak, orang laki-laki dan kaum wanita, orang Asia, orang Yunani, orang Romawi, singkat kata, segala golongan manusia telah ditemuinya pada perjalanannya yang banyak dan panjang itu.
Paulus berkeyakinan kuat dan beriman teguh. Selalu ia siap sedia untuk bertukar pikiran, mengajar, menegur dan mengajak. Pasti ia seorang ahli pidato yang besar bakatnya. Meskipun tidak tampan raut muka dan perawakannya, tetapi khotbahnya penuh semangat dan isinya jelas, sehingga membuat kagum pendengarnya. Kadang banyak orang merasa sangat tersinggung, tetapi banyak pula yang segera ditawan oleh kuasa bahasanya.
Paulus mengajar di rumah-rumah tempat ia menumpang, di gedung-gedung yang disewanya, di lorong-lorong kota atau di padang-padang, di atas loteng dan dalam bengkelnya, di pasar dan dalam kumpulan kaum filsuf. Tak ada tempat yang dianggapnya kurang layak untuk menyampaikan beritanya tentang Juruselamat dunia.
Rasul Paulus juga banyak mengajar melalui surat-surat. Segala soal dan kesulitan yang muncul dalam jemaat-jemaat yang didirikannya itu, ataupun yang timbul di antara kaum Kristen yang belum dikunjunginya, semua itu dipakainya untuk menguraikan pokok-pokok kepercayaan atau kesusilaan Kristen yang bersangkutan dengan hal itu. Kebiasaannya itu sungguh menguntungkan seluruh umat Kristen di kemudian hari. Bukankah surat-surat Paulus itu sampai sekarang merupakan pengajaran yang tak ternilai harganya bagi sekalian orang Kristen di segala tempat?
c. Pengajaran jemaat yang mula-mula
Sejak mulai berdirinya, jemaat Kristen telah menjunjung pengajaran agama. Seperti diketahui, orang-orang Kristen muda itu mula-mula masih berpaut kepada adat agama Yahudi, tetapi lambat laun mereka mengembangkan perkumpulannya sendiri. Di dalam perkumpulan itu mereka berdoa, berbicara tentang pengajaran dan perbuatan-perbuatan Tuhan Yesus Kristus, makan sehidangan dan merayakan Perjamuan Suci. Mereka yakin bahwa sejak turunnya Roh Kudus jemaat mereka merupakan Israel baru. Yesus Kristus telah menciptakan Israel baru itu dengan Roh-Nya sendiri. Sekarang mereka berdiri dalam dunia ini dengan keadaan baru dan dengan tugas yang baru pula.
Akibatnya ialah mereka mulai berkhotbah dan mengajar, supaya banyak orang lain juga dapat percaya pada Yesus sebagai Penebus dan Tuhan. Segala orang yang bertobat dan mau bergabung dengan jemaat Kristen itu, dididik dengan seksama. Di dalam dan di luar kebaktian, mereka belajar tentang Diri dan pekerjaan Juruselamat itu, dan lagi tentang panggilan dan tugas seorang Kristen dalam dunia ini. Jemaat-jemaat muda itu mempelajari nubuat-nubuat para nabi zaman dulu mengenai Yesus Kristus, dan mereka asyik membaca surat-surat yang diterimanya dari rasul Paulus dan pemimpin gereja lain. Mereka menganggap dirinya sebagai suatu persekutuan suci, seperti Israel dulu, tetapi dengan mengaku Yesus Kristus selaku Raja, Nabi dan Imam satu- satunya.
Kerajinan dan kesetiaan Israel dalam menjalankan pendidikan agama diturutinya pula, hanya perbedaannya sekarang, Taurat bukan lagi menjadi dasar dan pusat pendidikan itu, melainkan Yesus Kristus. Dengan demikian jemaat purba itu mengajarkan agama Kristen di dalam rumah-rumahnya, kepada tetangganya, di dalam kebaktian dan kumpulannya, bahkan kepada siapa saja yang suka mendengarkan berita kesukaan yang mereka siarkan.
2. Prinsip-Prinsip Pengajaran Tuhan Yesus
Perjanjian Baru memuat banyak prinsip yang dipakai Tuhan Yesus dalam mendidik murid-murid-Nya. Semua prinsip Tuhan Yesus dalam pengajaranNya masih sangat cocok untuk diterapkan pada pendidikan Kristen untuk anak-anak didik zaman ini.
Beberapa prinsip yang Tuhan Yesus pengajaranNya yaitu :
a. Tuhan Yesus mengajar melalui hidup dan perbuatan-Nya.
Segala kelakuan-Nya sesuai dengan kehendak Allah dan menyatakan kasih dan kebenaran Allah kepada murid-murid-Nya. Tiap orang yang datang kepada-Nya mendapat perhatian-Nya. Dengan penuh kasih Ia menolong yang memerlukan pertolongan-Nya. Ia tidak segan melawan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Contoh yang konkrit dalam hidup seorang guru selalu lebih mengesankan daripada segala kata yang diucapkannya.
b. Tuhan Yesus memakai pengalaman pendengar-pendengar-Nya untuk mengajar mereka.
Sebagai dasar untuk ajaran yang baru, Ia menyebut hal-hal yang lazim dialami tiap orang, peristiwa-peristiwa dari hidup sehari- hari yang pasti akan dimengerti oleh setiap pendengar-Nya. Umpamanya menanam benih (Matius 13:1-9), memasang lampu (Matius 5:15-16), mencari sesuatu yang hilang (Lukas 15:1-10). Hal-hal seperti itu dapat dimengerti, dan juga akan mengingatkan mereka kepada ajaran itu tiap kali mereka melakukannya lagi.
c. Tuhan Yesus terkadang menunjukkan obyek-obyek yang konkrit untuk dilihat.
Ia memakai mata uang (Matius 12:13-17), burung di udara dan bunga-bungaan di padang (Matius 6:25-34) yang kelihatan di mana- mana sehingga akan mengingatkan pendengar-Nya akan ajaran-Nya tiap kali mereka melihat barang itu kelak.
d. Tuhan Yesus memakai cerita yang tepat dan sederhana untuk mengajar.
Cerita-cerita berupa perumpamaan dan perbandingan yang sangat mengesankan dipakai-Nya utuk memikat perhatian orang dan menekankan kebenaran. Cerita-cerita itu sering dipakai-Nya untuk menjawab pertanyaan dan pendengar-Nya diajak berpikir sendiri mengenai maksud dan arti cerita itu (misalnya Lukas 10:25-37 dan 12:13-21). Cerita yang mengesankan tak akan terlupakan, sehingga ajaran yang terdapat di dalamnya makin mendalam bagi pendengarnya.
e. Tuhan Yesus menyatakan motif-motif yang kuat untuk menerima ajaran-Nya.
Tiap manusia cenderung menaruh perhatian besar pada kepentingan dirinya sendiri. Apa saja yang akan menolongnya untuk mencapai tujuannya, akan menarik perhatiannya. Tuhan Yesus selalu menunjukkan hubungan antara ajaran yang diberikan-Nya dengan kebutuhan yang sedang digumuli oleh para pendengar-Nya (misalnya Matius 11:28-29 dan Yohanes 11:25-26). Tetapi perhatikanlah: Persaingan atau harapan untuk memperoleh sesuatu yang berharga dalam dunia materi tak pernah dipakai-Nya sebagai motif untuk menerima ajaran-Nya.
f. Tuhan Yesus selalu mengaktifkan pendengar-pendengar-Nya
Ia mengajak mereka bersoal-jawab; Ia mengajukan kepada mereka pertanyaan-pertanyaan yang mendorong mereka untuk berpikir menemukan jawaban yang tepat. Ia memberikan kesempatan untuk berbuat sesuatu; murid-murid diajak memberi makan orang banyak (Matius 14:16-19). Mereka ditugaskan pergi meneruskan ajaran yang telah disampaikan-Nya kepada mereka (Lukas 10:1-9). Kita belajar jauh lebih banyak lewat apa yang kita lakukan daripada yang hanya kita dengarkan.
g. Tuhan Yesus selalu memberikan kepada pendengar-Nya tanggung jawab untuk mengambil keputusan secara pribadi.
Dengan jelas Ia menunjukkan akibat dari pilihan yang tepat dan yang tidak tepat. Tanggung jawab untuk memilih diserahkan sepenuhnya pada tiap pendengar-Nya. Ia tidak menyuruh mereka menghafalkan apa yang dikatakan-Nya dan taat secara mutlak tanpa berpikir. Sebaliknya, Ia mendorong mereka untuk berpikir sendiri dan mengambil keputusan dengan penuh kesadaran mengenai akibat pilihannya, yakin untuk mengikuti-Nya atau tidak. Ketaatan yang dipaksakan atau dilakukan tanpa pikir bukanlah ketaatan sejati. Keputusan yang sah ialah keputusan yang diambil dengan penuh pengertian dan kerelaan.
3. Pentingnya Pengajaran Dalam Perjanjian Baru
Dari uraian yang pendek ini kita dapat segera menarik kesimpulan bahwa agama Kristen itu adalah suatu agama yang sangat mementingkan pendidikan Agama. Agama kita yakini dan segenap penganutnya sekali- kali tak boleh melupakan perbuatan-perbuatan yang Mahabesar, yang telah dilakukan Tuhan Allah bagi mereka di dalam Yesus Kristus. Anggota-anggota Gereja, baik orang dewasa maupun anak-anak kecil, semuanya wajib mempelajari pekerjaan Tuhan yang telah mendatangkan keselamatan itu. Peristiwa-peristiwa yang agung itu harus diajarkan, diterangkan dan dipercaya, sehingga setiap orang yang mengakui Yesus Kristus sebagai Juruselamat, meninggalkan manusia lamanya dan dan menjadi ciptaan baru di dalam Dia. Jika itu dilakukan, maka Gereja Kristen di dunia ini akan menjadi suatu terang, yang dapat menunjukkan jalan keselamatan kepada banyak orang lain pula.
Sejak zaman Perjanjian Baru, jemaat Kristen sangat mementingkan pendidikan pengajaran agama. Tugas mengajar itu memang diserahkan khusus kepada kaum guru yang telah mempunyai karunia dan latihan istimewa untuk pekerjaan yang mulia itu, tetapi seluruh jemaat tetap mendukung dan mendoakan mereka. Mulai dari abad pertama tarikh Masehi, pendidikan agama Kristen menyiapkan orang untuk masuk ke dalam persekutuan jemaat Kristus, dan setelah disambut dalam jemaat itu mereka dididik terus supaya dapat semakin berakar dalam pengetahuan dan pengenalan yang mendalam tentang Yesus Kristus, Kepala Gereja itu.
II. Unsur-unsur Dalam Pengajaran
Setelah kita memahami Pengajaran atau pendidikan dalam Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru, mengenai prinsip maupun pentingnya suatu pengajaran atau pendidikan, maka dalam pembahasan berikut adalah hal-hal praktis yang harus ada dalam pembelajaran itu sendiri yaitu unsur-unsur yang ada dalam proses pembelajaran
Salah satu pertanyaan penting dalam pendidikan atau pengajaran apapun, termasuk PAK adalah bagaimana seharusnya Pengajaran dirancang agar perseta didik belajar apa yang seharusnya dipelajari? Pertanyaan itu menyentuh perihal, Sistimatika Pengajaran, Metode-metode Pengajaran, Kulikulum dan tujuan Pengajaran.
Mengingat pembahasan dalam skripsi ini hanya dibatasi mengenai pengajaran Tuhan Yesus dalam keempat Injil, maka hal-hal penting, yang akan penulis kemukakan di sini adalah hal-hal yang berhubunga dengan pengajaran Tuhan Yesus, yaitu antara lain:
A. Sistimatika Pengajaran
Dalam sejarah, Yesus tidak mempunyai sistimatika atau susunan pengajaran yang tetap atau yang tidak berubah-ubah. Ia tidak terikat kepada suatu tata cara. Sebaliknya Ia ahli dalam memakai berbagai hal yang berhubungan dengan Pengajaran. Ia mengubah jalan pengajaranNya, tujuan yang hendak dicapaiNya, dan metode yang dipakaiNya. Ia menggunakan sistim atau cara apa saja yang dipandangNya paling cocok pada saat itu.
Salah satu contoh yang sangat mendekati untuk menjelaskan bagaimana Yesus sebagai Guru Agung dalam pengajaran secara sistematis, yaitu ketika Ia mengajar kepada wanita Samaria di sumur Yakub (Yohanes 4).
Dalam Yohanes 4, kita menemukan pengajaran Tuhan Yesus yang melukiskan tentang langkah-langkah yang biasanya terdapat dalam penyampaian pelajaran.
a. Pendahuluan
Setiap kegiatan pembelajaran harus mempunyai suatu permulaan ataun pedahuluan. Pedahuluan adalah susunan pengajaran yang penting. Berhasil atau gagalnya suatu pengajaran sangat bergantung kepada pembukaan atau pembelajaran itu dimulai.
Yang dimaksud dengan pendahuluan atau permulaan ialah bagian yang menarik perhatian anak didik kepada materi pelajaran saat itu. Pengajaran tidak akan dapat berlangsung secara efektif tanpa suatu pedahuluan yang baik. Seorang guru tidak dapat belajar jika murid-murid tidak menaruh perhatian kepada pokok pelajaran. Hal yang penting, yang harus diperhatikan dalam pendahuluan adalah membangkitkan perhatian murid, agar pikirannya ditunjukkan kepada pelajaran yang akan disampaikan.
Untuk lebih jelaskan memahami pedahuluan dalam pengajaran, baiklah kita melihat contoh Tuhan Yesus dalam memulai suatu pengajranNya yang dicatat oleh Yohanes dalam Yohanes 4 :1-7. Tuhan Yesus pandai sekali menemukan titik kontak itu. Baik berhadapan dengan murid-muridNya maupun dengan orang-orang yang membenciNya, Ia senantiasa mengadakan atau menjalin hubungan terlebih dahulu, terutama dengan pikiran dan perasaan mereka.
Keadaan saat itu bagi Yesus sebenarnya sangat sulit untuk mengajar, Banyak rintangan yang menghadangNya. Tengah hari, hari panas Yesus baru saja melakukan suatu perjalanan yang cukup jauh. Ia lelah, kepanasan, kotor, haus dan lapar. Keadaan fifikNya benar-benar tidak memungkinkan untuk mengadakan suatu pengajaran/ percakapan. Wanita itu hendak menimba air, ia pun mungkin kepanasan dan terburu-buru. Tidak siap untuk menerima pengajaran. Dan lagi pula kedua orang tu asing satu sama lain. Artinya tidak saling kenal. Dalam hal kesucian mereka juga berbeda. Seperi langit dan bumi. Yesus seorang tidak berdosa, sedangkan wanita itu berdosa, tuna susila. Di dunia timur perbedaan jenis kelamin merupakan suatu rintangan yang besar dalam pergaulan. Disamping itu, ia seorang Yahudi, dan wanita itu seorang Samaria. Kedua bangsa itu saling bermusuhan.
Singkat cerita, keadaan pada waktu itu benar-benar tidak memungkinkan bagi Yesus untuk menemukan titik kontak dengan wanita itu. Tetapi Yesus berhasil dalam pengajranNya. Permintaan akan air itu ternyata tidak dapat ditolak oleh wanita itu walaupun ia sibuk, berprasangka dan berdosa. Permintaan Yesus mendapat sambutan yang luar biasa. Hal itu sungguh suatu keberhasilan yang mengagumkan.
Contoh-contoh pengajaran Tuhan Yesus yang dimulai dengan suatu pedahuluan, akan kita temukan dalam keempat Injil, yaitu waktu kotbah di Bukit, dengan perumpamaan, tanya jawab dan sebagainya, yang akan dibahas secara tersendiri dalam bab berikut.
b. Pengembangan isi
Setelah pikiran murid-murid diarahkan kapada materi pelajaran pada hari itu, memotivasi serta pemberian pentujuk-pentunjuk pembelajaran berikutnya, maka tugas guru berikutnya adalah menguraikan, menjelaskan dan memahamkan pelajaran itu dalam diri murid-murid.
Hal-hal penting dalam pengembangan pembelajaran setelah murid dipersdiapkan, mengalami sesuatu dan merasa puas dan siap untuk mengikuti pelajaran , maka pertama, bahan harus dipersiapkan sedemikian rupa sesuai dengan tingkat pengetahuan murid. Kedua, kalau tidak ada faktor-faktor yang istimewa, maka pengulangan materi atau hahana sangat baik, karena apa yang diuilang-ulang akan menjadi suatu kebiasaan. Ketiga, Pengajaran kita harus esuai dngan kebutuhan hidup murid dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku secara umum.
Sebelum menyampaikan pelajaran hendaknya pelajaran itu direncanakan terlebih dahulu sebaik-baiknya. Metode maupun media atu alat peraga yang akan dipakai disesuikan dangan materi dan sarana yang ada. Kesatuan pengajaran harus disesuaikan dengan tujuan-tujuan yang terlah ditetapkan, baiak dalam catur wulan, semester maupun tahunan. Menyusun soal dan menyamapaikan pelajaran dengan cara yang menarik, sehingga semua murid dapat mengikuti pelajaran dengan penuh perhatian.
Sesuai pembahanan Skripsi ini adalah Pengajaran Tuhan Yesus, khususnya melalui keempat Injil, maka cara mengembangkan isi, merencanakan, dan melaksanakan pembelajaran, dapat melihat apa yang telah dilakukan Yesus sebagai Guru Agung, khususnya dalam PengajaranNya kepada wanita samaria (Yohanes 4:7-26).
Adapun contoh lain tentang cara Tuhan Yesus mengembangkan sebuah pelajaran masih banyak lagi. Pemakaian metode diskusi, kita lihat dalam contoh diatas,. Metode ceramah dipakaidalam kotbah di Bukit (Matiu 5-7); Metode cerita seperti yang disaksikann oleh Lukas (dalam Lukas 15); dengan alat peraga, seperti menaruh seorang anak kecil di tengah-tengah mereka yang diajar. Demontrasi, seperti ketika Yesus menjawab Yohanes Pembaptis dengan menunjukkan pa ayang sedang Ia lakukan. Pertanyaan, sepertimpada waktui Ia bertanya tentang asal usul pembaptisan. Dan metode drama seperti dalam pembaptisan dan Perjamuan kudus. Dan masih banyak lagi cara-cara Tuhan yesus dalam mengembangkan pembelajaran, dengan metode, media maupoun alat peraga. Tuhan Yesus tidak berhenti mengajar sebelum muri-muridNya memahami dangan jelas dan yakin akan apa yang diajarkanNya.
c. Kesimpulan dan penerapan
Ini merupakan tahap akhir dari susunan atau sistimatika dalam setiap pengajaran. Susunan pengajaran belum dianggap selesai jika belum ada kesimpulan dan penerapan. Hal ini memberikann kesempatan kepada mudir-murid untuk melihat pelajaran itu secara keseluruhan, mengulang bagian-bagian yang penting, memberi penekanan / pemperjelas materi serta menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pembalajaran, penting sekali mengambil kesimpulan dari fakta dan kebenaran Alkitab yang dipelajari, sehingga dapat menerapkannya dalam kehidupan anak-anak pada zaman sekarang. Karena pelajaran yang kita berikan harus bersifat praktis dan sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang terjadi sekarang ini.
Hal-hal praktis yang Yesus simpulkan dalam pembelajaranNya misalnya, ketika seorang ahli taurat mengajukan pertanyaan kepada Yesus, dibuatNya suatu penerapan yang khas dan praktis. Setelah disimpulkan atau ditegaskan perlunya mengasihi sesama manusia sepeti dirinya sendiri dan dikisahkan hal orang samaria yang murah hati sebagai contoh kasih kepada sesamanya. Ia bertanya kepada alhi taurat, Siapakah di antara ketiga orang itu yang mempunyai hati mengasihi bagi sesamanya?. Dan ketika ahli Taurat itu menjawab bahwa orang Samaria itulah yang berhati mengasihi, maka berkatalah Yesus: Pergilan, dan perbuatlah demikian ! (Lukas 10:37). Hal serupa juga dilakukan Yesus dalam pengajaranNya kepada orang muda yang kaya (Markus 10: 21)
Dalam rangkaian pembelajaran itu Yesus bukan saja menyingkapkan intisari pelajaran itu, tetapi menerapkan juga. Dan Guru Agung itu senantiasa mengemukakan intisari pengajaranNya.
Sebelum kita akhiri dalam pembalasan ini, baiklah kita tambahkan dengan menguji hasil suatu pembelajaran atau lazin kita sebut Evaluasi atau penilaian. Sebab ini merupakan bagian dari kegiatan mengajar. Ada beberapa macam cara pengujian atau penialain (evaluasi) setelah pembelajaran berlangsung, yaitu secara lisan maupun tertulis.
Kita menyadari bahwa sekalipun nampaknya Yesus tidak banyak menggunakan ujian atau evaluasi setelah pengajaranNya selesai, namun Ia juga mencari jalan untuk mengetahui hasil pembelajaranNya. Salah satu contoh bagaimana Yesus menguji murid-muridNya yang sudah menerima pengajaranNya, seperti dicatat oleh Matius (Matis 18: 16) . „Demikian : Tetapi apa katamu, siapakan Aku ini? Ini menunjukkan bahwa Yesus juga memperhatikan hasil pengajaranNya. Dan kita juga mengentahui bahwa Ia menerima laporan tentang perjalanan pengutusan Injil ke-70 muridNya, ketika mereka kembali (Lukas 10:17).
Dalam setiap pembelajaran, hendaknya kita juga menguji atau mengadakan evaluasi, supaya kita mengetahui apakah pengajaran ktia menolong kehidupan murid-murid.
B. Materi Pembelajaran
Ada beberapa sumber umum yang diambil sebagai bahan atau materi dalam setiap pembelajaran Agama, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Sumber-sumber itu dapat dijabarkan menjadi beberapa bagian atau pokok bahasan. Semua itu bersumber dari pengajaran-pengajaran serta pengalaman perjalanan umat Tuhan dalam jaman Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.
Mengenai materi pembelajaran Agama, oleh Homrighausen, dalam Buku Pendidikan Agama Kristen, disebut sebagai obyek-obyek PAK.1 Adapun Obyek-obyek dasar PAK yang paling asasi yang diselenggarakan oleh Gereja-gereja Protestan antara lain:
1. Memperkenalkan Allah
2. Mempertemukan para pelajar dengan juruselamat dunia, yaitu Yesus Kristus
3. Pengenalan dan pengalaman akan Roh Kudus
4. Mndidik anak untuk menjadi anggota gereja
5. Menjadi warga negara yang baik
6. Pandangan Hidup Kristen
7. Warisan Agama Kristen.
Sedangkan Obyek PAK, bahan atau materi pengajaran Dalam Gereja Liberal di Amerika Serikat 2 adalah sbb:
1. Memberikan murid-murid perasaan penghargaan terhadap diri sendiri.
2. Membuat mereka menjadi warga yang bertanggung jawab
3. Supaya mereka belajar menghargai duni ini
4. Supaya mereka dapat membedakan n ilai-nilai yang baik dan yang jahat.
5. Supaya mereka dapat menghubungkan pengalaman-pengalaman mereka sendiri
dengan Filsafat hidup Kristen
6. Supaya mereka menjadi orang yang dapat dipercaya
7. Supaya amereka belajar bekerja sama dan tolong menolong
8. Supaya mereka selalu mengejar kebenaran
9. Supaya mereka bersikap negafit terhadap peristiwa –peristiwa yang terjadi
sekelilingnya, dan terhadap perkembangan sejarah umumnya.
10. Supaya mereka suka turut merayakan hari-hari raya Kristen dlam roh
persekutuan Kristen.
C. Cara atau metode pembelajaran
Salah satu pertanyaan penting dalam pendidikan atau pengajaran apapun, termasuk PAK adalah bagaimana seharusnya dirancang agas perseta didik belajar apa yang seharusnya dipelajari?
D. Tujuan Pengajaran
1. Penuntun Guru PAK Sekolah Minggu dan Sekolah Dasar: 1 dan 2, Dr. Leatha Humes da
Ny. A. Lieke Simanjuntak, , halaman 23 - 24, PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1988.
PEMAHAMAN TENTANG KEPRIBADIAN MANUSIA
A. PENDAHULUAN
Kepribadian sangat menentukan kebahagiaan seseorang. Sebab kebahagiaan seseorang sangat tergantung oleh penerimaan lingkungan social terhadap dirinya, dan penerimaan sosial ini sangat ditentukan oleh kepribadiaannya. Kepribadian seseorang dapat dikenal melalui sifat-sifat yang khas pada dirinya. Kepribadian juga dapat dilihat dari keturunan keluarga tertentu, hidup di daerah tertentu, memiliki riwayat hidup tertentu. Kepribadian berkembang sesuai dengan irama pembawaan dari rahim ibunya, kemudian dimodifikasi oleh pengaruh pengaruh dari lingkungan serta melalui pendidikan formal.
Dalam tulisan ini, kami berusaha menyampaikan beberapa definisi tetang kepribadian, baik secara umum maupun melalui pendekatan-pendekatan secara psikologi; kemudian teori-teori kepribadiaan, perkembangan keprinadian, beberapa tipe kepribadian, faktor-faktor yang membentuk kepribadian seseorang dan kepribadian menurut iman Kristen.
Mengingat bahwa kepribadian adalah sangat kompleks sudah dapat dipastikan bahwa makalah kami banyak kekurangan, karena banyak hal penting yang terlewatkan dalam pembahasan kami, maka kelompok kami mengharapkan saran dan masukan yang akan kami terima dengan senang hati. Semoga makalah yang kami sajikan walau sangat terbatas ini dapat berguna untuk menambah wawasan dalam mata kuliah Psikologi Umum.
B. DEFINISI TENTANG KEPRIBADIAN
1. KEPRIBADIAN SECARA UMUM
“Personality” atau kepribadian berasal dari kata “persona”, kata persona merujuk pada topeng yang biasa digunakan para pemain sandiwara di zaman Romawi. Secara umum kepribadiaan menunjuk pada bagaimana individu tampil dan menimbulkan kesan bagi individu lainnya.
2. KEPRIBADIAN MENURUT PSIKOLOGI
Kami akan menyajikan dari berbagai definisi yang diberikan oleh beberapa tokoh psikologi, antara lain:
a. Gordon Allport merumuskan kepribadian sebagai “sesuatu” yang terdapat dalam diri individu yang membimbing dan memberi arah kepada seluruh tinggak laku individu yang bersangkutan. Allport menekankan bahwa kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis dari sistem psikofisik individu yang menentukan tingkah laku dan pikiran individu secara khas.
b. Sigmud Freud mandang kepribadian sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga sistem yaitu Id, Ego, dan Superego.
c. Paul D. Meier, M.D, kepribadian adalah pola prilaku, pemikiran, dan perasaan yang melekat pada diri seseorang secara konsisten dalam situasi dan waktu.
Dari beberapa definisi tentang kepribadian di atas, pada hemat kami, bahwa kepribadian adalah sesuatu yang ada pada setiap individu, dari masa kanak-kanak sampai dewasa yang mencirikan seseorang tersebut dengan orang lain. Tidak ada seorangpun yang memiliki kepribadian, watak, tabiat maupun karakter yang sama. Misalnya tentang prilaku, pemikiran, perasaan, ego maupun superego setiap individu berbeda. Kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis sesuai dengan perkembangan individu yang akan mengarahkan dirinya kepada tingkah laku dan pikiran individu secara khas.
C. HAKEKAT KEPRIBADIAN
Unsur-unsur pokok kepribadian itu sebagai organisasi yang bersifat dinamis dan unik. Agar kita dapat memahami hakekat kepribadian dengan cukup menyeluruh, perlu kita perhatikan.
a. Kepribadian Sebagai Organisasi.
Kepribadian diartikan sebagai kumpulan watak yang berbeda-beda, yang digerakan oleh suatu motif atau kekuatan pendorong yang menentukan cara penyesuaian yang dipilih seseorang. Organisasi watak kepribadian selalu konsisten dan hanya dapat berubah secara pelan-pelan. Orang yang normal dan sehat, organisasi watak-wataknya mempunyai pola teratur dan terpadu, sedang orang yang tidak sehat atau abnormal, memperliharkan disorganisasi pada tingkat yang berbeda-beda.
Konsep diri dan watak merupakan komponen utama dari kepribadian. Konsep diri adalah intinya sedangkan watak adalah yang dipadukan dan dipengaruhi oleh konsep diri tersebut. Orang yang mempunyai konsep diri positif akan mengembangkan watak-watak seperti: percaya diri, realistis, mempunyai harga diri, dsb. Sebaliknya, orang yang konsep dirinya negative akan merasa rendah diri, tidak mampu, mudah tersinggung, dsb.
b. Kepribadian adalah Dinamis
Istilah dinamis menujuk hakekat kepribadian yang berubah dan menekankan bahwa perubahan tersebut dapat terjadi dalam kualitas perilaku seseorang. Dalam dinamika kepribadian terdapat dua aspek, aspek pertama mengacu pada interaksi antara watak-watak kepribadian, sedang aspek kedua mengacu pada ekspresi watak-watak kepribadian dalam bentuk perilaku pada proses penyesuaian terhadap tekanan-tekanan lingkungan. Karena kepribadian adalah dinamis, maka konflik antara motif-motif menjadi sangat penting, sebab orang mengembangkan cara-cara penyesuaian terhadap konflik-konflik tersebut secara khas dan konsisten.
c. Kepribadian adalah Unik
Tidak ada dua orang yang memiliki kepribadian yang sama, meskipun mereka itu anak kembar dan dibesarkan bersama-sama sekalipun. Kepribadian unik karena setiap orang merupakan perwujudan kombinasi gen yang berbeda, maka setiap orang mempunyai temperamen biologis yang unik, berbeda dari yang lain.
Bronson (1966) menyebutkan keunikan kepribadian tersebut sebagai “gaya hidup”. Gaya hidup ini merupakan perpaduan antara sikap, watak, dan sebutan yang memberikan ciri khas pada interaksi seseorang.
Dua orang yang memiliki watak sama akan berbeda kadarnya. Misalnya saja, dua orang yang sama-sama mempunyai watak baik hati, mereka akan mengungkapkan kebaikan hati mereka dengan cara yang berbeda, bahkan mungkin motivasinya pun berbeda pula.
D. TEORI TENTANG KEPRIBADIAN
Beberapa pendekatan tentang teori kepribadian diantaranya:
a. Teori Watak
Hippocrates (400 S.M) dan Galen (150 M), mengelompokan orang kedalam empat tipe kepribadian, yaitu: sanguinis (lincah periang, tidak stabil), koleris (mudah marah), melankolis (pesimistis), dan plegmatis (lamban suka murung).
Kretschmer (1925) dan Sheldon (1954), mengelompokan tiga tipe kepribadian atas dasar bentuk tubuh. Orang yang pendek gemuk (endomorph) mudah bergaul, releks, dan tenang; orang yang tinggi kurus (ectomorph) pandai menguasai diri dan menyenangi kesunyian; orang yang kekar berotot (mesomorph) suka akan aktivitas fisik, kurang berperasaan, dan menyukai keramaian.
Jung (1944), ada dua tipe kepribadian atas dasar ciri psikologisnya, yaitu: introvert (cenderung untuk menutup diri, pemalu, dan suka bekerja sendirian) dan ekstravert (terbuka, mudah bergaul dan menyukai pekerjaan yang berhubungan dengan orang lain).
b. Teori Psikoanalitik
Menurut Freud kepribadian terdiri dari tiga sistem yaitu: id, ego, dan superego. Id adalah sumber asli dari kepribadiaan, yang sudah ada sejak bayi lahir. Ego dan Superego baru berkembang kemudian. Ego bekerja atas dasar prinsip kenyataan. Jadi ego membawa peran eksekutif dari kepribadian, egolah yang mengambil keputusan degan pertimbangan dunia nyata. Superego yaitu representasi nilai-nilai dan norma-norma moral masyarakat di dalam batin seperti yang diajarkan kepada anak oleh orangtuanya. Jadi superego berfungsi semacam suara hati.
c. Teori Belajar Sosial
Teori ini berpusat pada pola perilaku yang dipelajari oleh seseorang dalam menghadapi lingkungannya. Perbedaan perilaku setiap individu merupakan akibat dari perbedaan kondisi belajar yang ditemui oleh masing-masing individu.
Teori belajar sosial tidak menekankan pada bagaimana bentuk kepribadian seseorang, tetapi pada apa yang dilakukan oleh seseorang dalam kaitannya dengan kondisi pada saat ia melakukan hal tersebut. Teori belajar sosial memandang situasi sebagai penentu penting bagi perilaku. Tindakan seseorang dalam situasi tertentu tergantung pada kekhasan situasi tersebut.
d. Teori Humanistik
Abraham Maslow berpendapat, konsep yang paling penting dalam teori kepribadian humanistik adalah konsep diri (self-concept) atau gambaran diri (self-image). Didalam konsep diri tersebut termasuk kesadaran tentang “siapakah diriku” dan “apa yang dapat aku lakukaan?”. Jadi konsep diri hanya perasaan kita terhadap diri kita sendiri, atau bagaimana kita melihat diri kita sendiri. Konsep diri mempengaruhi perilaku dan pandangan seseorang terhadap dunia. Sedangkan Rogers berpendapat bahwa kekuatan dasar yang menggerakan organisme manusia adalah aktualisasi diri atau perwujudan diri, yaitu kecenderungan untuk mewujudkan diri seoptimal mungkin atau sesempurna mungkin.
E. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMBENTUK KEPRIBADIAN
Faktor-faktor yang membentuk Kepribadian
a. Faktor keturunan
Faktor keturunan (biologis) berpengaruh langsung dalam pembentukan kepribadian seseorang. Beberapa factor biologis yang penting seperti system syaraf, watak, seksual dan kelainan biologis, seperti penyakit-penyakit tertentu.
b.Faktor lingkungan fisik (geografis)
Meliputi iklim dan bentuk muka bumi atau topografi setempat, serta sumber-sumber alam, Faktor lingkungan fisik (geografis) ini mempengaruhi lahirnya budaya yang berbeda pada masing-masing masyarakat.
d. Faktor lingkungan social
1) Faktor keluarga, dimulai sejak bayi yaitu berhubungan dengan orangtua dan saudaranya
2) Lingkungan masyarakat yang beraneka ragam. Suatu warna yang harus ditegaskan dapat saja dianggap tidak perlu oleh anggota masyarakat lainnya.
d. Faktor kebudayaan yang berbeda-beda
Perbedaan kebudayaan dalam setiap masyarakat dapat mempengaruhi kepribadian seseorang misalnya kebudayaan di daerah pantai, pegunungang, kebudayaan petani, kebudayaan kota.
F. PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
1. Perkembangan kepribadian menurut Gardener Murphy
Perkembangan kepribadian dalam pandangan Gardener Murphy : merupakan tahap-tahapdinamis, berubah-ubah yang terdiri dari fase keseluruhan (tanpa differensiasi), kemudianfase diferensiasi dan fase integrasi yaitu fungsi yang sudah mengalami diferensiasidiitegrasikan dalam satu unit yang berkoordinasi. Fase keseluruhan merupakan watakumum yang mendominasi seperti pemarah, pemberani, semangat, penipu, pembelajar,petualang. Dalam perkembangan berikutnya terdiferensiasi misalnya pemberani yangmemilki semangat pembelajar, penipu yang memiliki darah seni. fase integrasi yaitufungsi yang sudah mengalami diferensiasi diitegrasikan dalam satu unit yangberkoordinasi biasanya di atas 40 tahun kepribadiannya menjadi mantap dan cenderung menetap
2. Perkembangan kepribadian menurut Sigmund Freud
Perkembangan manusia dalam psikoanalitik merupakan suatu gambaran yang sangat teliti
dari proses perkembangan psikososial dan psikoseksual, mulai dari lahir sampai dewasa.Dalam teori Freud setiap manusia harus melewati serangkaian tahap perkembangan dalamproses menjadi dewasa. Tahap-tahap ini sangat penting bagi pembentukan sifat-sifatkepribadian yang bersifat menetap.
Menurut Freud, kepribadian orang terbentuk pada usia sekitar 5-6 tahun yaitu:
(1) tahap oral,
Mouth rule (menghisap, menggigit, mengunyah), Lima mode pada tahap oral yang masing-masing membentuk suatu prototipe karakteristik kepribadian tertentu di kemudian hari, yaitu mode : mengambil, memeluk, menggigit, meludah dan membungkam.Mengambil : menjadi petunjuk tingkah laku rakus, Memeluk : menjadi petunjuk dalammengambil keputusan dan tingkah laku keras kepala. Menggigit : menjadi petunjuktingkah laku destruktif; sarkasme, sinis & mendominasi, Meludah : prototipe tingkah laku reject, Membungkam: tingkah laku reject, introvert
(2) tahap anal: 1-3 tahun,
Akhir tahap oral bayi dianggap telah dapat membentuk kerangka kasar kepribadian,meliputi : sikap, mekanisme untuk memenuhi tuntutan id dan realita, dan ketertarikanpada suatu aktivitas atau objek. Kebutuhan menyangkut pemuasan anak terhadap kontrolmengenai hal-hal yang menyangkut anal (mis: bagaimana anak mengontrol keinginanuntuk BAK dan bagaimana beradaptasi dengan toilet. Tujuan tahap ini : terpenuhinyapemuasan anak dengan tidak berlebihan akan membentuk self control yang adekuat
(3) tahap phalic: 3-6 tahun,
Solusi permasalahan pada fase oral & anal membentuk pola kerangka yang mendasartahap berikutnya yaitu phalik. Pada tahap ini kesenangan dan permasalahan berpusat sekitar alat kelamin. Stimulasi pada alat genital menimbulkan dorongan biologis,dorongan dikurangi timbul kepuasan. Permasalah yang timbul : oedipus compleks
(4) tahap laten: 6-12 tahun,
Periode lambat , dimana desakan seksual mengendur. Sebaiknya digunakan untuk mencari keterampilan kognitif/pengetahuan dan mengasimilasi nilai-nilai budaya. Pada periode ini ego & superego terus dikembangkan
(5) tahap genital: 12-18 tahun
Dorongan/impuls-impuls menguat lagi dengan drastis. Pecapaian ego ideal sudah tercapai pada tahap ini
(6) tahap dewasa, yang terbagi dewasa awal, usia setengah baya dan usia senja.
Konsep psikolanalisis menekankan pengaruh masa lalu (masa kecil) terhadap perjalananmanusia. Walaupun banyak para ahli yang mengkritik, namun dalam beberapa hal konsepini sesuai dengan konsep pembinaan dini bagi anak-anak dalam pembentukan moral individual. Dalam sistem pembinaan akhlak individual, mereka menganjurkan agar keluarga dapat melatih dan membiasakan anak-anaknya agar dapat tumbuh berkembang sesuai dengan norma agama dan sosial. Norma-norma ini tidak bisa datang sendiri, akan tetapimelalui proses interaksi yang panjang dari dalam lingkungannya. Bila sebuah keluarga mampu memberikan bimbingan yang baik, maka kelak anak itu diharapkan akan tumbuh menjadi manusia yang baik.
G. TIPE –TIPE KEPRIBADIAN
1. Kepribadian Sanguinis (popular, ekstrovert, optimis)
Dari segi emosi :
- Kepribadian yang menarik
- Suka bicara, suka berserita
- Menghidupkan pesta
- Rasa humornya tinggi
- Ingatannya kuat untuk warna
- Secara fisik memukau pendengar
- Emosional dan demonstrative
- Antusian dan ekspresif
- Periang dan penuh semangat
- Penuh rasa ingin tahu
- Berhati tulus
- Cenderung berpikir kehidupan sekarang (jarang ttg masa depan)
- Selalu kekanak-kanakan
Dalam pekerjaan:
- sekarelawan untuk tugas
- kreatif dan inovatif
- Punya energi antusiasme
Sebagai teman:
- Mudah berteman
- Suka dipuji
- Tampak menyenangkan
- Dicemburui orang lain
- Bukan pendendam
- Cepat meminta maaf
- Mencegah saat membosankan
- Suka kegiatan spontan
Kelemahan:
- Terlalu banyak bicara (bicaralah seperlunya, to the point komentarnya)
- Egois (perasalah terhadap perasaan orang lain, belajarlah mendengarkan)
- Mudah lupa (belajar catat sesuatu agar tidak lupa)
- Kurang disiplin
- Kurang dewasa
2. Kepribadian melankolis (Introvert, pemikir)
Emosi :
- Mendalam dan penuh pemikiran
- Analitis
- Serius dan tekun
- Cenderung jenius
- Berbakat kreatif
- Artistic/musical
- Silosofis dan puitis
- Menghargai keindahan
- Perasa terhadap orang lain
- Suka berkorban
- Penuh kesadaran
- Idealis
Dalam pekerjaan:
- berorientasi jadwal
- perfectionis
- gigih dan cermat
- teratur dan rapi
- ekonomis
- melihat masalah
- mendapat pemecahan kreatif
- suka diagram, grafik dan daftar
- tertip dan terorganisasi
Sebagai teman :
- Hati2 dalam berteman
- Menghindari perhatian
- Setia dan berbakti
- Mau mendengarkan keluhan
- Bisa memecahkan masalah orang lain
- Sangat memperhatikan orang lain
- Mudah terharu
- Mencari teman hidup ideal
Kelemahan :
- Mudah tertekan (sadarlah tidak ada orang yang suka berwajah muram, jangan mudah sakit
hati, postif thinking) .
- Jangan jadi musuh diri sendiri
- Suka menunda2 pekerjaan
- Tuntutan yang tidak realistis (jangan terlalu berkhayal, lihat kemampuan)
3. Kepribadian koleris (ekstrovert, optimis)
Emosi :
- Berbakat pemimpin
- Dinamis, aktif
- Sangat memerlukan perubahan
- Harus memperbaiki kesalahan
- Berkemauan kuat dan tegas
- Tidak emosional dalam bertindak
- Tidak mudah patah semangat
- Bebas dan mandiri
- Memancarkan keyakinan
- Bisa menjalankan apa saja
Dalam pekerjaan :
- Berorientasi target
- Melihat seluruh gambaran
- Terorganisasi dengan baik
- Mencari pemecahan praktis
- Bergerak untuk cepat bertindak
- Menekankan pada hasil
- Berkembang karena saingan
Sebagai teman :
- tidak terlalu butuh teman
- mau bekerja untuk kegiatan
- unggul dalam keadaan darurat
- biasanya selalu benar
Kelemahan :
- Pekerja keras
- Harus terkendali (Jangan menyepelekan orang lain)
- Kurang tahu menangani orang lain (Latih kesabaran, jangan sok berkuasa)
- Akui kesalahan, jangan ngotot kalao sudah tahu salah (Belajar minta maaf)
4. Kepribadian Phlegmatis (Introvert, pengamat)
Emosi :
- Kepribadian rendah hati
- Mudah bergaul dan santai
- Diam dan tenang
- Sabar
- Hidupnya konsisten
- Menyembunyikan emosi
Dalam pekerjaan :
- Cakap dan mantap
- Punya kemampuan administrative
- Menjadi penengah masalah
- Menghindari konflik
- Baik dibawah tekanan
Sebagai teman :
- Mudah bergaul
- Menyenangkan
- Tidak suka menyinggung
- Pendengar yang baik
- Punya banyak teman
- Punya belas kasihan dan perhatian yang tinggi
Kelemahan :
- Kurang eksis (seperti tidakada walaupun kerap hadir, melawan perubahan, tampaknya seperti orang malas, terlampau tenang, seperti tidak punya pendirian)
H. KEPRIBADIAN MENURUT IMAN KRISTEN
Berbicara tentang kepribadian menurut iman Kristen atau kepribadian sesuai dengan Alkitab merupakan pembahasan yang sangat luas dan kompleks, karena hal ini merupakan tugas dan fungsi akhir dari tujuan pendidikan Kristen, sebagaimana Rasul Paulus maksudkan, yaitu :“…..sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala”. (Efesus 4: 13-15).
Mengapa kita mendirikan Sekolah Kristen? Mengapa ada Sekolah Minggu? Mengapa ada guru-guru agama Kristen dan guru-guru Sekolah Minggu? Justru kita sebagai seorang Kristen, selain memberikan hidup kepada orang-orang yang kita didik, kita mengharapkan mereka memiliki hidup di dalam didirinya yang sudah dilahirkan kembali. Mereka juga membentuk karakter atau kepribadian di luar. Kepribadian seseorang merupakan pekerjaan Roh Kudus melalui Firman yang kita beritakan atau kabarkan; melalui Injil yang kita tegakkan sebagai pusat iman, kita ‘melahirkan’ mereka melalui kuasa Injil dan Firman oleh Roh Kudus di dalam kuasa Allah. Maka sebagai akhir tujuan pendidikan Kristen, mereka memiliki kepribadian atau karakter Kristus. Apakah Karakter atau kepribadian Kristen?
Untuk mengetahui kepribadian Kristen atau kepribadian sesuai dengan Alkitab, maka kita harus belajar dari Tuhan Yesus sebagai Guru Agung kita. Dia bukan hanya mengajar, sebagaimana dilakukan oleh Ahli Taurat dan orang Farisi, tetapi Dia mengajar dengan penuh hikmat kuasa seperti disaksikan oleh Matius, "Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka. (Matius 7:28-29). Sebagai hasil pengajaranNya, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia (Matius 8:1).
Beberapa kepribadian Kristen yang dicontohkan dan dilakukan Yesus Kristus sebagai Guru dan Juruselamat antara lain:
1. Lemah Lembut dan Rendah Hati (Matius 11: 29)
2. Melayani dan memberi (Matius 20: 28).
3. Mengasihi musuh dan semua orang (Matius 5:46)
4. Sabar dan mau mengampuni (Kolose 3:13)
5. Taat (Filipi 2: 8).
6. Kebaikkan. Kemurahan, kesetiaan, penguasaan diri dll (Galatia 5:22-23)
Pembentukan karakter atau kepribadian Kristen membutuhkan kasih yang sungguh-sungguh, keadilan yang tegas, bijaksana untuk mengatur keduanya dan kebajian serta keberanian untuk meneruskan seluruh kehidupannya.
I. PENUTUP
Dari Pembahasan pemahaman tentang kepribadian seseorang di atas maka sampailah kepada suatu kesimpulan, bahwa kepribadian adalah sesuatu yang ada pada setiap individu, dari masa kanak-kanak sampai dewasa yang mencirikan seseorang tersebut dengan orang lain. Tidak ada seorangpun yang memiliki kepribadian, watak, tabiat maupun karakter yang sama. Oleh sebab itu kita mengenal tipe-tipe kepribadian. Ada yang menyebut 4 (empat) tipe, delapan (8), maupun sembilan dan seterusnya. Kelemahan maupun kekuatan dari tipe-tipe yangt dimiliki oleh seseorang. Pokoknya tentang kepribadian sangat luas dan kompleks, yang tidak mungkin selesai dibahas hanya secara sepintas.
Hal penting yang harus kita perhatian bahwa kepribadian seseorang ditentukan oleh beberapa faktor serta sesuai dengan perkembangan-perkembangan individu. Kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis sesuai dengan perkembangan individu yang akan mengarahkan dirinya kepada tingkah laku dan pikiran individu secara khas. Kepriadian seseorang sangat dominan oleh siapa dan bagaimana dalam membentuknya, serta lingkungannya.
DAFTAR PUSTAKA
Paul D. Meier, MD; Frank B, Minirth, M.D dkk, Pengantar Perikologi dan Konseling Kristen 2, Yogjakarta: Andi 2005
M.S. Hadisubroto, M.A, Mengembangkan Kepribadian Anak Balita Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1997
Everett L Worthington, Ketika Seorang Berkata Tolonglah saya, Bandung: Yayasan Kalam Hidup 2000
W. Stanley Heath, Prikologi Yang Sebenarnya , Yogjakarta: Andi 1995
Gary R.Colins, Konseling Kristen Yang Efektif , Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara, 1994
Alkitab
Akses Internet
PEMAHAMAN PEBINAAN ANAK SEKOLAH MINGGU DAN HASIL PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN
Untuk memahami sejauh mana korelasi atau hubungan antara Pembinaan Anak Sekolah Minggu yang dilakukan oleh orang-orang percaya (gereja), dengan hasil pembelajaran Pendidikan Agama Kristen, khususnya di sekolah Dasar, perlu pemahaman Pembinaan Anak sekolah Minggu yang seperti apa, maupun pelaksanaan Pembelajaran PAK di sekolah Dasar.
Mengingat pembahasan dalam skripsi ini hanya ingin melihat sejauh mana Peran atau pengaruh pembinaan Sekolah Minggu terhadap hasil belajar Pendidikan Agama Kristen, maka pertama-tama kita harus mengetahui apa itu sekolah minggu dengan segala dasar teologis menurut Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Visi dan misi, ujuan serta pelaksanaan Sekolah Minggu.
Sedangkan untuk mengetahui hasil dari Pembelajarn PAK sebagai dampak dari Pembinaan Sekolah minggu, kita perlu mengetahui batasan Pendidkikan Agama Kristen, mengingat PAK cakupannya sangat luas Oleh sebab itu dalam pembahasan ini penyusun hanya mengemukanan secara singkat mengenai hakekat, tujuan dasar dan pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen di sekolah Dasar.
Kita tidak bisa menutup mata terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam pembelajaran PAK di sekolah.. Sebab memang tidak bisa dipungkiri bahwa beberapa faktor itu menentukan hasuil belajar PAK di sekolah. Bukan hanya Pembinaan Sekolah minggu, yang dilakukan di gereja saja, tetapi kita melihat lebih jauh lagi pengaruh-pengaruh yang muncul dari lingkungan, misalnya keluarga, masyarakat dan sekolah itu sendiri, sehubunan dengan SDM (Kompetensi Guru PAK), sarana dan prasarana yang ada di sekolah untuk menunjang proses pembelajaran PAK.
2.1. Pembinaan Anak Sekolah Minggu
2.1.1. Pengertian Sekolah Minggu
Sekolah Minggu merupakan salah satu bentuk pembinaan bagi warga
Gereja (PWG) yang banyaka itu. Sebagian besar Gereja mengadakan pembinaan anak jemaat. Bentuknya, bermacam-macam. Salah satu yang dikenal di kalangan gereja atau orang-orang percaya adalah Sekolah Minggu.
Hampir semua Gereja ada Pembinaan anak-anak. Ada yang menamakan
Kebaktian Anak, ada yang menamakannya Sekolah Minggu. Masing-masing tentu memiliki latar belakang dan alasan . Biasanya yang melih istilah Kebaktian Anak beralasan bahwa kegiatan ini sama seperti kebaktian umum yang diadakan setiap hari Minggu. Karena pesertanya anak-anak, maka sebut saja dengan kebakaktian Anak. Di dalamnya anak beribadah, berbakti kepada Tuhan; ada unsur-unsur liturgi yang dipakai, seperti nyanyian, doa, pemberitaan Firman, persembahan.
Sedankgna yang memakai istilah Sekolah Minggu, mengatakan bahwa secara historis ada keterkaitan antara kegiatan untuk anak dengan Sekolah Minggu yang diadakan oleh Raikes di Inggris pada tahun 1970-an, yakni semangat penginjilan bagi buruh anak-anak melalui ”sekolah”: baca tulis dan etika. Lebih lanjut, isitilah Sekolah juga dapat menunjukkan unsur-unsur perndidikan yang dipakai, misalnya murid, guru, materi /bahan pelajaran, proses belajar mengajar dengan tujuan yang jelas dan operasional, yang semuanya termasuk bagian dari kurikulum. 1
Dari dua istilah yang juga dipakai oleh gereja dalam Pembinaan Anak. Baik itu yang memakai istilah Kebaktian Anak maupun Sekolah Minggu, menyusun menyimpulkan, kedua-duanya bisa diterima, karena maksud dan tujuan sama, yaitu pembinaan Anak-anak. Dan dilaksanakan setiap hari Minggu.
Meskipun sebagian besar hamba Tuhan, guru Sekolah Minggu tahu bahwa mengajar, membina, mendidik adalah bagian tugas yang paling utama dari seorang guru, namun banyak guru yang tidak memberikan perhatian dan waktu yang cukup, serta pemikiran yang serius dalam membina, mengajar dan mendidik anak-anak. Mengapa? Hal ini disebabkan karena sebagian guru masih belum tahu jelas apa artinya mengajar, juga karena sebagian guru mempunyai anggapan yang keliru tentang mengajar.
Contoh: ada guru-guru Sekolah Minggu yang merasa bahwa ia telah mengajar dengan baik karena ia dapat membuat anak-anak di kelasnya senang dan tidak bosan diajar olehnya. Ada juga guru Sekolah Minggu yang mengira bahwa dengan memberikan banyak pengetahuan Alkitab kepada anak ia telah mengajar dengan baik.
1 Homrighausen, Pndidikan Agama Kristen (Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2005) hlm. 33-34
Oleh karena itu pembahasan berikut ini akan menolong guru Sekolah Minggu untuk mengerti dengan lebih baik apa artinya mengajar, membina dan mendidik Anak Sekolah Minggu dan pengaruhnya terhadap Hasil pendidikan Agama Kristen di Sekolah.
2.1.1 Apa Arti "Mengajar"
Seluruh konsep mengajar dalam Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB) melibatkan tiga aspek paling penting bagi anak didiknya: Pertama, Mendengar ajaran-ajaran /nasehat-nasehat yang diberikan oleh orang tua/ orang yang lebih bijaksana. Dalam konteks bangsa Yahudi ajaran-ajaran itu berasal dari Firman Allah yang mereka dengar turun menurun dari nenek moyang mereka. Sedangkan fokus ajaran/ nasehat itu adalah untuk pembentukan karakter yang saleh (godly life) dan takut akan Allah (Ulangan 31:12-13).
Kedua, merenungkan supaya apa yang didengar di atas, diproses di dalam hati anak untuk menjadi pengalaman hidup yang transformasional, yang membawa kepada perubahan hidup (Roma 12:2).
Ketiga, Hidup dalam komunitas orang percaya (Efesus 3:15-18), sehingga pengajaran berlangsung dalam konteks hubungan pribadi antara:
=> Tuhan dan guru - guru dan anak - anak dan Tuhan <=
Gereja adalah komunitas orang percaya dimana orang dewasa dan anak-anak, sebagai saudara-saudara seiman, bersama-sama hidup dan bertumbuh. Oleh karena itu gereja yang sehat akan menjadi tempat yang kondusif bagi keberhasilan guru Sekolah Minggu dalam mengajar.
Pengajaran yang diberikan oleh guru untuk diterima oleh anak didik, dan tujuan yang ingin dicapai dalam mengajar menjadi faktor yang sangat membedakan antara guru Sekolah Minggu dan guru umum biasa. Oleh karena itu tugas guru Sekolah Minggu lebih dari sekedar mengajarkan pengetahuan Alkitab atau mengajarkan bagaimana hidup yang bermoral. Guru Sekolah Minggu mengajarkan suatu kehidupan yang guru sendiri telah teladani dari Tuhan Yesus Kristus, karena proses pengajaran terjadi dalam konteks hubungan pribadi dengan Allah, dan dari sana mengalir kuasa yang mentransformasi kehidupan anak didik untuk menjadi hidup yang terus menerus diperbarui menjadi semakin seperti Kristus.
2.1.2. Apa yang Perlu Diajarkan?
Melihat bahwa apa yang diajarkan dapat memberi dampak kepada transformasi hidup anak-anak Sekolah Minggu, maka sangat penting kita membahas apa yang guru harus ajarkan kepada anak-anak Sekolah Minggu?
Mengajar anak sangat berbeda dengan mengajar orang dewasa. Pada orang dewasa, pada umumnya telah terbentuk cara berpikir dan pandangan/prinsip-prinsip hidup yang sudah mapan (permanen) dan hal itu sering kali sulit untuk diubah. Tetapi mengajar anak adalah seperti mengisi botol yang masih kosong, masih banyak hal yang dapat diisi dalam pikiran anak, dan belum terbentuk pola pikir dan pandangan-pandangan tertentu secara permanen. Oleh karena itu guru Sekolah Minggu mempunyai banyak kesempatan emas untuk membangun suatu dasar yang kuat dan benar bagi kehidupan rohani anak-anak Sekolah Minggu melalui apa yang diajarkannya.
Pertama-tama yang harus diajarkan adalah Alkitab, Karena Alkitab adalah suimber utama dalam mengajar. Memberikan pengajaran yang sesuai dengan
Alkitab sangat penting supaya anak belajar mengenal Allah dengan benar. Guru harus belajar untuk senantiasa setia pada Alkitab, biasakan untuk menjadikan Alkitab sebagai buku sumber yang paling utama dalam mengajar. Pokok-pokok kebenaran yang diajarkan guru Sekolah Minggu harus didukung oleh kebenaran dari ayat-ayat Firman Tuhan.
Berikut ini adalah beberapa materi dasar yang guru perlu pelajari sehingga dapat menjadi pedoman penting dalam mengatur pokok-pokok materi yang perlu diajarkan kepada anak-anak Sekolah Minggu:
Mengajarkan anak tentang gambaran yang benar mengenai Allah. Pokok-pokok penting yang tercakup di dalamnya:
Sifat-sifat Allah
Karya Allah
Firman Allah/Alkitab
Hukum-hukum Allah
Rencana/Kehendak Allah
Mengajarkan anak tentang gambaran yang benar mengenai Manusia. Pokok-pokok penting yang tercakup di dalamnya:
Penciptaan Manusia
Kejatuhan Manusia dalam Dosa
Hukuman Allah atas Manusia Berdosa
Rencana Keselamatan Allah untuk Manusia
Manusia sebagai Ciptaan Baru yang lahir dari Allah
Mengajarkan anak tentang gambaran yang benar mengenai Alam.
Penciptaan Alam Semesta
Pemeliharaan Allah atas Alam
Kutukan Allah atas Alam setelah Kejatuhan Manusia dalam dosa
2.1.2. Pembinaan Anak Menurut Perjanjian Lama
Perjanjian Lama adalah Firman Allah yang merupakan dasar dan otoritas tertinggi bagi konsep, prinsip dan prilaku manusia. (2 Timotius 3:15-16; Kel. 13:8). Disamping itu, Perjanjian Lama juga sangat memperhatikan pentingnya pendidikan anak. Perintah untuk memperhatikan pentingnya pendidikan anak diberikan Allah sendiri sejak zaman Abraham (Kejadian 18:19), dilanjutkan pada zaman Musa (Keluaran 12:26-27) dan dipertegas kembali dalam Ulangan 4:9 ; 6:1-9; 11:18-21 yang selanjutnya juga menjadi perhatian orang-orang bijak (Amsal 1:8; 22:6; 29:17; Pengkhotbah 12:1). Dengan demikian, sangatlah tepat jika Perjanjian Lama, dijadikan dasar untuk memahami pentingnya pendidikan anak. Salah satu bagian Perjanjian Lama yang perlu dijadikan dasar untuk memahami pentingnya pendidikan pengajaran anak adalah Ulangan 6:4-9.
Menurut Ulangan 6: 7, bahwa pertama-tama pendidikan Agama adalah tangung jawab orang tua. Kalimat dalam ayat 7 “haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu” dan dalam ayat 21 “maka haruslah engkau menjawab anakmu..” menunjukkan bahwa orang tua memiliki tugas dan tanggung jawab dalam pendidikan anak-anak mereka. Oleh karena perintah ini berkiatan dengan instruksi syema, maka orang tua pertama-tama bertanggung jawab atas pendidikan rohani anak-anak mereka. Ini merupakan tugas yang sangat mendasar dan penting untuk dilakukan orang tua kepada anak-anaknya. Orang tua dianggap yang paling bertangung jawab dalam pendidikan anak-anak oleh karena mereka adalah orang yang terdekat.
Sebagaimana dikatakan oleh J. I. Packer bahwa Allah memakai manusia untuk mengajarkan Taurat kepada bangsa Israel—seperti Musa, para imam dan para nabi. Murid-murid mereka adalah orang dewasa dari bangsa Israel, yang kemudian mereka bertanggung jawab untuk meneruskan kepada anak-anak mereka.Sebagian besar pendidikan dilakukan oleh orang tua, tidak ada ruang kelas atau kurikulum yang tersusun.
Melalui pembahasan ini, dapat disimpulkan bahwa Allah sangat mementingkan pendidikan anak dan peranan serta tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak-anak mereka dengan benar. Pembinaan yang dimaksud dalam Kitab Perjanjian Lama (Ulangan 6 : 4-9) secara umum dilakukan secara informal, yaitu oleh keluarga-keluarga (orang tua). Sedangkan tujuan pembinaan itu sendiri sebagaimana tersurat dalam
2.1.3. Pengajaran Anak menurut Perjanjian Baru
Di samping jabatan-Nya sebagai Penebus dan Pembebas, Tuhan Yesus juga menjadi seorang Guru yang Agung. Keahlian-Nya sebagai seorang guru umumnya diperhatikan dan dipuji oleh rakyat Yahudi; mereka dengan sendirinya menyebut Dia "Rabbi". Ini tentu suatu gelar kehormatan, yang menyatakan betapa Ia disegani dan dikagumi oleh orang sebangsanya sebagai seorang pengajar yang mahir dalam segala soal ilmu keTuhanan. Sebab Ia mengajar mereka "sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat yang biasa mengajar mereka" (Mat 7:29).
Tuhan Yesus mengajar di mana saja: di atas bukit, dari dalam perahu, di sisi orang sakit, di tepi sumur, di rumah yang sederhana dan di rumah orang kaya, di depan pembesar-pembesar agama dan pemerintah, bahkan sampai di kayu palang sekalipun. Tuhan Yesus tidak memerlukan sekolah atau gedung tertentu. Tiap-tiap keadaan dan pertemuan dipergunakan-Nya untuk memberitakan Firman Allah.
Tuhan Yesus dalam pengajaran-Nya tidak terikat pula pada waktu tertentu. Siang-malam, pada setiap saat Ia bersedia menerangkan jalan keselamatan dan Kerajaan Sorga yang telah datang itu kepada siapa saja yang ingin belajar kepada-Nya. Sedangkan yang menjadi tujuan pengajaran Tuhan Yesus itu bukanlah untuk membahas berbagai pokok agama dan susila secara ilmiah atau secara teori saja, melainkan untuk melayani tiap manusia yang datang kepada-Nya. Setiap orang itu dikenal-Nya, dan dipahami-Nya masalah yang dipergumulkan orang itu.
Cara mengajar-Nya sangat istimewa pula. Biasa-Nya Tuhan Yesus tidak membentangkan sesuatu ajaran dengan menyuruh orang mempercayai itu, tetapi Ia mendorong mereka berpikir sendiri dan menarik kesimpulannya sendiri atas apa yang telah dijelaskan-Nya kepada mereka. Ia tak selalu mencapai hasil-Nya, karena sering kali para pendengar-Nya mengeraskan hati, tetapi tentu Ia senantiasa menyatakan Diri sebagai seorang Guru yang tak ada taranya, karena Ia sendiri adalah Kebenaran.
Banyak metode yang dipakai-Nya, dan segala metode itu masih penting dan perlu dipelajari oleh segala guru agama masa kini. Adakalanya Tuhan Yesus bercerita. Sering Ia memakai perumpamaan. Acap pula Ia mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang kemudian menjadi bahan pengajaran-Nya. Kadang-kadang suatu percakapan biasa berkembang menjadi pengajaran yang indah. Tetapi bukan dengan perkataan-Nya saja Tuhan Yesus mengajar. Tapi juga dengan mempraktekkan apa yang dimaksudkan-Nya, seperti tatkala Ia memeluk anak-anak dan memberkati mereka, itu menjadi teguran pada murid-Nya, atau ketika Ia membasuh kaki mereka untuk mengajar mereka supaya rendah hati.
Untuk lebih jelasnya, pengajaran Anak menurut Perjanjian Baru, kita perhatikan dua bagian Firman Tuhan dalam Perjanjian Baru, sebagai dasar Pengajaran kepada anak-anak.
Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu- Inilah suatu perintah yang penmting, speertti yang nyata dari jjanji ini „Supaya kamu berbahagia dan panjang umummu di buimi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anaka-anakmu, teta[pi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasehat Tuhan ‚(Efesus 6: 1-4)
„Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-muridNya memarahi orang-orang itu. Ketika Yesus melihat halm itu, Ia marah dan berkata kepada mereka : „Biarlah anak-anak itu datang kepadaKu, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang –orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya. Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tanganNya atas mereka Ia memberkati mereka“ (Markus 10:13-16).
Dalam menasehati anak-anak dan para orang tua, rasul Paulus terlebih dahulu menanggulangi anak-anak, karena pada umumnya kesulitan datang dari anak-anak. „Hai anak-anak.......(ayat 1). Paulus menegaskan bahwa dalam mentaati orang tua,, harus di dalam Tuhan, artinya harus bersatu dengan Tuhan, buikan dengan diri sendiri. Juga bukan menurut konsep alamiah, tetapi menurut Firman Tuhan. Menghormati orang tua bjuga bukan hanya benar, tetapi juga adil bagi anak-anak.
Menurut tafsir Kitab perjanjian baru, khusus pada surat Efesus pasal 6 ini, Menghormati berbeda dengan mentaati. Mentaati adalah suatu tindakan, sedangkan menghormati adalah suatu sikap.1. Kemungkinan anak mentaati orang tua, tetapi tidak menghormati. Paulus mengharapkan semua anak perlu belajar mentaati orang tua mereka, juga menghormati mereka.
Oleh sebab itu ketika anak-anak datang kepada Yesus, Ia menjamahnya (ayat 13). Ini berarti anak-anak tidak diremehkan dan tidak ditolakNya. Anak adalah bagian dari obyek pelayanan. Anak-anak penting untuk diajar dan dibina orang orang desawa, supaya mencapai kedewasaan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah (Efesus 4: 13).
Visi dan Misi Sekoklah Minggu
Visi dan Misi dirumuskan berdasarkan Pengajaran Agama, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Demikian juga Visi dan Misi Sekolah Minggu berdasarkan pada pandangan Alkitab (Perjanjian Lama) tentang pentingnya Pengajaran atau pendidikan anak berdasarkan Ulangan 6:4-9. dan Dalam Perjanjian baru, yaitu pengajaran Tuhan Yesus, Pengajaran rasul Paulus dan pengajaran Jemaat yang mula-mula.
Sebuah Visi adalah sesuatu yang hendak dicapai dalam suatu organisasi, sedangkan Misi adalah hal-hal yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan. Apakah Visi dan misi Sekiolah Minggu?
Ayat berikut ini akan menolong dalam merumuskan suatu visi dan Misi sekolah minggu, “ Biarkah anak-anak itu datang kepadaKu, jangan menghalang-halangi mereka,sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah” ( Markus 10:14, Mat. 19:14 dan Lukas 18:16).
Jadi apapun yang dikerjakan atau dilaksanakan dalam Sekolah Minggu, adalah membawa anak-anak itu datang kepada Yesus. Bagaimana caranya, dengan Pengajaran, pendidikan dan pembinaan yang terus menerus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga bukan lagi anak-anak yang diombang ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan (Efesus 4:12- 14.
2.1.4. Tujuan Sekolah Minggu.
Menurut Homrighausen, Dalam Buku Pendidikan Agama Kristen, dirumuskan
bahwa tujuan Pendidikan Agama Kristen kepada anak-anak dalam sekolah minggu, antara lain:
Pertama, Supaya mereka mengenal Allah sebagai pencipta dan pemerintah seluruh alam ini, dan yesus Kristus sebagai Penebus, pemimpin dan penolong mereka. Kedua, Supaya mereka mengertiakanmkedudukan dan panggilan mereka selalu anggota-anggota Gereja Tuhan, dan sukaa turut bekerja bagi perkembangan gereja di bumi ini. Ketiga, Supaya meeka mengasihi sesamanya oleh karena Tuhan telaha mengasihi mereka sendiri. Keempat, supaya meerka insaf akan dosanya dfan selalu mau bertobat pula, minta ampun dan pembearuan hidup pada Tuhan. Dan yang kelima, supaya mereka suka belajar terus menerus berita Alkitab,, suka mengambil bagian dalam kebaktian jemaat, dan suka melayani Tuhan di segala lapangan hidup.1
2.1.5. Pelaksanaan Sekolah Minggu
Hampir semua Gereja ada Pembinaan anak-anak. Ada yang menamakan
Kebaktian Anak, ada yang menamakannya Sekolah Minggu. Masing-masing tentu memiliki latar belakang dan alasan . Biasanya yang melih istilah Kebaktian Anak beralasan bahwa kegiatan ini sama seperti kebaktian umum yang diadakan setiap hari Minggu. Karena pesertanya anak-anak, maka sebut saja dengan kebakaktian Anak. Di dalamnya anak beriobadah, berbnakti kepada Tuhan; ada unsur-unsur liturgi yang dipakai, seperti nyanyian, doa, pemberitaan Firman, persembahan.
Sedankgna yang memakai istilah Sekolah Minggu, belasanan bahwa secara historis ada keterkaitan antara kegiatan untuk anak dengan Sekolah Minggu yang diadakan oleh Raikes di Inggris pada tahun 1970-an, yakni semangat penginjilan bagi buruh anak-anak melalui ”sekolah”: baca tulis dan etika. Lebih lanjut, isitilah Sekolah
1 Homrighausen, Pndidikan Agama Kristen (Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2005) hlm. 33-34
juga dapat menunjukkan unsur-unsur perndidikan yang dipakai, misalnya murid, guru, materi /bahan pelajaran, proses belajar mengajar dengan tujuan yang jelas dan operasional, yang semuanya termasuk bagian dari kurikulum. 1
Dari dua istilah yang juga dipakai oleh gereja dalam Pembinaan Anak. Baik itu yang memakai istilah Kebaktian Anak maupun Sekolah Minggu, menyusun menyimpulkan, kedua-duanya bisa diterima, karena maksud dan tujuan sama, yaitu pembinaan Anak-anak. Dan dilaksanakan setiap hari Minggu.
2.1.6. Sekolah Minggu sebagai tempat Pendidikan Agama Kristen
Setelah dibahas panjang lebar di muka, maka sampai pada kesimpulan, bahwa
sekolah minggu adalah sebagai tempat pendidikan Agama Kristen. Adapun pelaksanaannya diserahkan kepada masing-masing gereja, sesuai dengan SDM (Sumber Daya Manusia), yaitu guru , anak Sekolah Minggu, sarana dan prasarana yang ada.
2.2. Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen
2.2.1. Hakekat Pendidikan Agama Kristen
Dalam Buku Strategi PAK di Indonesia, Eka Dharma Putra berpendapat :
“Pendidikan Agama Kristen adalah Pembinaan warga Gereja oleh gereja yang mencakup semua tingkat usia , dan semua kategori profesi, agar mereka bertumbuh di dalam pengsahan dan penghayatan iman kristiani mereka, dan semakin dimampuikan untuk hidup di dalam terang iman ditengah-tengah konteks kehidupan sehari-hari “1
1. Andar Ismail, Ajalah Mereka Melakukan, Kumpulan Karangan Seputar Pendidikan Agama Kristen (BKP Gunung Mulia, Jakarta, 2004) hlm.126-127.
2. Eka Dharma Putra, Ph.D, Strategi PAK di Indonesia (Jakarta, Gunung
Mulia 1989) Ham 120
Sedangkan Homrighausen, dalam Buku Pendidikan Agama Kristen, menekankan arti PAK yang sebenarnya, yaitu :
“Mengajar adalah suatu usaha yang ditujukkan kepada pribadi tia-tiap pelajar. Meskipun pengajaran itu diberikan serentak kepada sejumlah orang bersamaa-sama, tetapi maksudnya ialah supaya masing-masing pelajar akan menyambut dan menyambut pengajaran itu secara perseorangan. Inilah arti yang sedalam-dalamnya Dari PAK, bahwa dengan menerima pendidikan itu, segala pelajar, muda dan tua, memasuki persekutuan iman yang hidup dengan Tuhan sendiri, dan oleh dan dalam Dia mereka terhisab pula pada persekutuan jemaatNya yang mengakui dan mempermuliakan NamaNya di segala waktu dan tempat”1
Dari dua pengertian yang dikemukakan dua tokoh Pendidikan Agama
Kristen diatas, dapat penulis simpulkan, bahwa pengertian Pendidikan Agama Kristen, yaitu suatu usaha Gereja atau orang-orang percaya dalam rangka pembinaan warga jemaat tua maupun muda, supaya bertumbuh ke dalam pengenalan akan Allah, sehingga memiliki persekutuan secara pribadi dengan Allah sebagai Tuhan dan juruselamatnya, serta hidup sesuai dengan keyakinannya.
2.2.2. Tujuan Pendidikan Agama Kristen
Mengenai tujuan pembelajaran Agama Kristen , oleh Homrighausen, dalam Buku Pendidikan Agama Kristen, disebut sebagai obyek-obyek PAK.1 Adapun Obyek-obyek dasar PAK yang paling asasi yang diselengggarakan oleh Gereja-gereja Protestan antara lain:
1. Memperkenalkan Allah
2. Mempertemukan para pelajar dengan juruselamat dunia, yaitu Yesus Kristus
1. Homrighausen, Pendidikan Agama Kristen ( Jakarta BPK Gunung Mulia, 2004) Hal 25-26.
3. Pengenalan dan pengalaman akan Roh Kudus
4. Mndidik anak untuk menjadi anggota gereja
5. Menjadi warga negara yang baik
6. Pandangan Hidup Kristen
7. Warisan Agama Kristen.
Sedangkan Obyek PAK, bahan atau materi pengajaran Dalam Gereja Liberal di Amerika Serikat 2 adalah sbb:
1. Memberikan murid-murid perasaan penghargaan terhadap diri sendiri.
2. Membuat mereka menjadi warga yang bertanggung jawab
3. Supaya mereka belajar menghargai duni ini
4. Supaya mereka dapat membedakan n ilai-nilai yang baik dan yang jahat.
5. Supaya mereka dapat menghubungkan pengalaman-pengalaman mereka
sendiri dengan Filsafat hidup Kristen
6. Supaya mereka menjadi orang yang dapat dipercaya
7. Supaya amereka belajar bekerja sama dan tolong menolong
8. Supaya mereka selalu mengejar kebenaran
9. Supaya mereka bersikap negafit terhadap peristiwa –peristiwa yang terjadi
sekelilingnya, dan terhadap perkembangan sejarah umumnya.
10. Supaya mereka suka turut merayakan hari-hari raya Kristen dlam roh
persekutuan Kristen.
1. Homrighausen, Pendidikan Agama Kristen ( Jakarta BPK Gunung Mulia, 2004) Hal 32-33
2.2.2. Dasar Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen
Yang menjadi dasar Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen adalah Alkitab
Firman Allah yang terdapat dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, sebagaimana dikemukanan di atas. Judowibowo Poerwowidagdo, dalam Buku Ajarlah Mereka melakukan, mengatakan bahwa : ”Sebagai orang-orang beriman kepada Tuhan Allah, kita tentu juga mencari dasar-dasar Firman Tuhan di dalam hal ini, karena hal ini menyangkut kehidupan bersamaa umat manusia atau kehidupaan yang meliputi relasi atau huhungan antar sesama”. 1
Perjanjian Lama adalah Firman Allah yang merupakan dasar dan otoritas tertinggi bagi konsep, prinsip dan prilaku manusia. (2 Timotius 3:15-16). Disamping itu, Perjanjian Lama juga sangat memperhatikan pentingnya pendidikan anak. Perintah untuk memperhatikan pentingnya pendidikan anak diberikan Allah sendiri sejak zaman Abraham (Kejadian 18:19), dilanjutkan pada zaman Musa (Keluaran 12:26-27) dan dipertegas kembali dalam Ulangan 4:9 ; 6:1-9; 11:18-21 yang selanjutnya juga menjadi perhatian orang-orang bijak (Amsal 1:8; 22:6; 29:17; Pengkhotbah 12:1). Dengan demikian, sangatlah tepat jika Perjanjian Lama, dijadikan dasar untuk memahami pentingnya pendidikan anak. Salah satu bagian Perjanjian Lama yang perlu dijadikan dasar untuk memahami pentingnya pendidikan pengajaran anak adalah Ulangan 6:4-9.
Jadi Pembelajaran Agama di mana pun dan kapan pun, yang menjadi dasar adalah Firman Tuhan, yang terdapat dalam Kitab Perjanjian Lama mupun Perjanjian Baru. Sedangkan Guru atau pengajar, seperti yang telah ditetapkan oleh Allah (Ef. 4: 11).
1 Judowibowo Poerwowidagdo, Buku Ajarlah Mereka Melakukan (BKP Gunung Mulia, Jakarta, 2004) hlm.113.
2.2.3. Pelaksnaan Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Dasar
Pelaksanaan Pendidikan, termasuk salah satunya adalah Pendidikan Agama Kristen berdasarkan : Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dapat dilaksanakan di satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah secara baik, perlu menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tentang Pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. 1
Pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Dasar berdasrkan pada struktur Kurikulum KBK- KTSP tahun 2006, yaitu sebagai berikut:
Struktur Kurikulum SD Negeri meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama 6 tahun mulai kelas I sd. kelas VI , yang memuat 8 Mata Pelajaran ditambah Muatan Lokal dan Pengembangan Diri.
Pendekatan Pembelajaran Kelas I, II dan III menggunakan pendekatan tematis sedangkan untuk Kelas IV, V dan VI tetap mengacu kepada pengajaran permata pelajaran.
Pada komponen Mata Pelajaran kelas IV, V dan VI ada penambahan 4 jam pelajaran yaitu:
1. Muatan Lokal ditambah 2 jam pelajaran
2. Mata pelajaran Matematika ditambah 2 jam pelajaran
Untuk lebih jelas dapat dilihat pada struktur Kurikulum berikut :
KOMPONEN KELAS DAN ALOKASI WAKTU
I II III IV, V, VI
A. Mata Pelajaran
1. Pendidikan Agama
PENDEKATAN
TEMATIS 3
2. Pendidikan Kewarganegaraan 2
3. Bahasa Indonesia 5
4. Matematika 6
5. I P A 4
6. I P S 4
7. Seni Budaya dan Ketrampilan 4
8. Pendidikan jasmani, Olahraga dan Kesenian 4
B. Muatan lokal 4
C. Pengembangan Diri 2*
JUMLAH 26 27 28 36
Pendidikan Agama Kristen du Sekolah adalah salah satu bentuk Pendidikan Agama Kristen di samping Katekisasi Sidi, Sekolah Minggu, Pembinaan Warga Gereja (PWG) dsb. Oleh sebab itu pelaksanaannya pun diatur sedemikian rupa, sehingga dapat memberi pengaruh dan manfaat yang besar bagi pertumbuham iman anak-anak.
2.2.5. Faktor-faktor yang mempebngaruhi Hasil Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi Hasil Belajar di Sekolah
Pendidikan Agama Kristen di sekolah antara lain, Lingkungan keluarga, Gereja, Masyarakat dan sekolah itu sendiri.
Pada pembahasan faktor yang mempengaruhi belajar, khususnya hasil pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di sekolah, antara lain adalah pembinaan yang dilakukan oleh Gereja, yaitu melalui Sekolah Minggu. Uraian lebih lanjut akan di bahas secara khusus dalam pembahasan berikut.
Namun, sekolah minggu tidak dapat dijadikan satu-satunya tempat pembinaan rohani bagi anak-anak. Selain keterbatasan waktu ibadah, sekolah minggu bukanlah tempat di mana anak paling banyak menghabiskan waktunya. Justru di tengah keluargalah anak paling banyak menghabiskan waktu. Oleh karena itu, keberadaan keluarga sebagai tempat pembinaan rohani yang ideal bagi anak mutlak dibutuhkan.
Anak yang berasal dari keluarga yang sudah mengenal Yesus tentu akan menerima pendidikan rohani mengenai kebenaran firman Tuhan dari orang tuanya. Namun, yang menjadi masalah ialah anak-anak yang justru berasal dari keluarga yang belum mengenal kebenaran dan keselamatan di dalam Yesus. Mereka tidak dapat menikmati pembinaan rohani dari keluarganya. Oleh karena itu, tanggung jawab besar justru diemban sekolah minggu. Mau tidak mau pihak sekolah minggu harus sepenuhnya mengemban pembinaan rohani anak tersebut. Hal inilah yang menuntut para pelayan sekolah minggu untuk mengetahui latar belakang rohani keluarga murid-muridnya dengan jelas.
2.2.6. Sistim penilaian Pendidikan Agama Kristen
Penilaian dalam pendidikan hal yang tidak dapat dipisahkan dengan sistem pendidikan yang ada di negara kita, alat untuk mengetahui apakah peserta didik sudah mengusai materi, bahan ajar atau kompetensi yang telah ditentukan alat ukur yang dipergunakan adalah penilaian, penilaian dalam kurikulum yang berlaku sekarang yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sangat berbeda dengan penilaian yang berlaku dalam kurikulum 1994.
Penilaian dalam kurikulum dalam kurikulum 1994 media utama yang dipergunakan adalah media tulis, sehingga yang terukur hanyalah pengetahuan koknitif yang mementingkan kecerdasan otak saja, para guru pendidikan Agama Kristen tahu bahwa hanya pengetahuan agama saja tidak dapat orang terselamatkan, yang dapat terselamatkan adalah orang yang karena pertolongan Roh Kudus menerima Tuhan Yesus sebagai Juru selamat yang dibuktikan dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari - hari.
Sedangkan dalam KBK dan KTSP aspek koknitif, afektif dan psikomotorik harus terukur, sehingga apa yang menjadi kemampuan anak dapat diketahui secara benar, cara peniliannya pun menggunakan berbagai media yang antara lain; unjuk kerja, penugasan, hasil kerja, portofolio, penilaian sikap dan tes tulis ( Tim Kurikulum Dinas Propinsi Jawa Tengah, 2006). Sehingga nilai yang diperoleh peserta didik betul – betul mencerminkan kompetensi yang ia miliki, terlebih pendidikan agama penilaian sikap, unjuk kerja dan hasil kerja adalah sangat penting bagi pertumbuhan iman peserta didik.
Proses pembelajaran dalam KTSP tidak harus didalam kelas, namun perlu pembelajaran di luar kelas, sehingga penilaian dengan media tulis, kurang dimungkinkan, maka perlu media yang lain.
1. Cara Penilaian
a. Lihat dan pahami betul kompetensi dalam Kurikulum
b. Alat penilian sesuiakan dengan kompetensi yang akan dicapai
c. Ketika penilaian berlangsung pertimbangkan kondisi peserta didik
d. Petunjuk pelasanaan jelas, menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
e. Kreteria penyekoran jelas
f. Gunakan berbagai cara dan alat untuk menilai kompetensi
g. Laksanakan rangkuman aktivitas penilaian melalaui: pemberian tugas, pr, ulangan, pengamatan dan lain sebagainya.
2. Penilaian unjuk Kerja
Pengamatan terhadap aktivitas siswa sebagaimana terjadi ( unjuk kerja, tingkah laku, interaksi).
Penilaian ini cocok untuk:
a. Penyajian lisan, ketrampilan berbicara, menyampaikan renungan, memuji nama Tuhan, berdiskusi.
b. Pemecahan masalah dalam kelompok
c. Partisipasi dalam diskusi
d. Memainkan alat musik
e. Membacakan puisi
f. Ketrampilan dalam menghafal atau membuka Kitab Suci
MANFAAT MEDIA
MANFAAT MEDIA
Secara umum manfaat media pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran lebih afektif dan efisien. Sedangkan secara lebih khusus manfaat media pembelajaran adalah:
1. Penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan
Dengan bantuan media pembelajaran, penafsiran yang berbeda antar guru dapat dihindari dan dapat mengurangi terjadinya kesenjangan informasi diantara siswa dimanapun berada.
2. Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik
Media dapat menampilkan informasi melalui suara, gambar, gerakan dan warna, baik secara alami maupun manipulasi, sehingga membantu guru untuk menciptakan suasana belajar menjadi lebih hidup, tidak monoton dan tidak membosankan.
3. Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif
Dengan media akan terjadinya komukasi dua arah secara aktif, sedangkan tanpa media guru cenderung bicara satu arah.
4. Efisiensi dalam waktu dan tenaga
Dengan media tujuan belajar akan lebih mudah tercapai secara maksimal dengan waktu dan tenaga seminimal mungkin. Guru tidak harus menjelaskan materi ajaran secara berulang-ulang, sebab dengan sekali sajian menggunakan media, siswa akan lebih mudah memahami pelajaran.
5. Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa
Media pembelajaran dapat membantu siswa menyerap materi belajar lebih mandalam dan utuh. Bila dengan mendengar informasi verbal dari guru saja, siswa kurang memahami pelajaran, tetapi jika diperkaya dengan kegiatan melihat, menyentuh, merasakan dan mengalami sendiri melalui media pemahaman siswa akan lebih baik.
6. Media memungkinkan proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja
Media pembelajaran dapat dirangsang sedemikian rupa sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar dengan lebih leluasa dimanapun dan kapanpun tanpa tergantung seorang guru.Perlu kita sadari waktu belajar di sekolah sangat terbatas dan waktu terbanyak justru di luar lingkungan sekolah.
7. Media dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar
Proses pembelajaran menjadi lebih menarik sehingga mendorong siswa untuk mencintai ilmu pengetahuan dan gemar mencari sendiri sumber-sumber ilmu pengetahuan.
8. Mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif
Guru dapat berbagi peran dengan media sehingga banyak mamiliki waktu untuk memberi perhatian pada aspek-aspek edukatif lainnya, seperti membantu kesulitan belajar siswa, pembentukan kepribadian, memotivasi belajar, dan lain-lain.
Langganan:
Postingan (Atom)